Rabu, 03 Januari 2018

Tokoh Lintas Agama Bersatu Cegah Stanting

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Para tokoh agama menyampaikan pesan-pesan bagaimana pencegah stanting dalam forum Dialog Nasional Lintas Agama Cegah Stanting di Hotel Aryaduta Jakarta, Selasa-Rabu, 14-15 November 2017.

Dalam dialog yang difasilitasi IMA World Health tersebut, para tokoh juga membahas problem penanganan stanting dan pengalaman yang pernah dilakukan di lapangan.

Tokoh Lintas Agama Bersatu Cegah Stanting (Sumber Gambar : Nu Online)
Tokoh Lintas Agama Bersatu Cegah Stanting (Sumber Gambar : Nu Online)

Tokoh Lintas Agama Bersatu Cegah Stanting

Pelibatan tokoh agama dalam pencegahan stanting, dinilai sangat efektif pada kultur masyarakat Indonesia.

"Diharapkan, para tokoh agama dan organisasi keagamaan akan lebih banyak terlibat lagi dalam ajakan cegah stanting demi masa depan anak negeri," ujar M Ridwan Hasan, team leader Ima World Health.

Kawit An Nur Slawi

Ia menekankan bangsa Indonesia akan kehilangan generasi yang cerdas, jika stanting tidak ditangani dengan serius.

"Saat ini, hampir sembilan juta, atau lebih dari sepertiga balita di Indonesia terkena stanting. Di Asia Tenggara, hanya Laos, Kamboja, dan Timor Leste yang memiliki angka stanting lebih tinggi dari Indonesia,"  Ridwan menambahkan.

Di Indonesia, lima provinsi dengan angka stunting tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (51,73 %), Sulawesi Barat (48 %), Nusa Tenggara Barat (45,26 %), Kalimantan Selatan (44,24 %), dan Lampung (42,63 %),

Dalam kesmepatan tersebut juga disampaikan Fatayat NU telah mencanangkan Barisan Nasional Cegah Stanting, sementara Nasyiatul Aisyiyah mengukuhkan Keluarga Muda Tangguh Nasyiah serta upaya pembekalan kader dan jejaringnya.

Selain itu telah tercatat pula kolaborasi antara Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) bersama organisasi berbasis Islam: Fatayat dan keluarga besar Nadhlatul Ulama; Nasyiatul Aisyiyah dan keluarga besar Muhammadiyah, serta Pelkesi dan jejaring denominasi Kristen. 

Kawit An Nur Slawi

Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat prevalensi stunting pada balita yang tinggi yaitu 37,2% (Riskesdas 2013). Namun untuk menanggulangi itu, Indonesia juga telah menunjukkan komitmen sungguh-sungguh dengan bergabung dalam Scaling Up Nutrition (SUN) Movement serta menerbitkan Peraturan Presiden No. 42 tahun 2013 perihal Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi.

Dalam semangat kerja percepatan itu, Pemerintah Indonesia telah mencanangkan beragam upaya, di antaranya Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dan Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM) untuk Cegah Stunting.

Semua upaya itu dilaksanakan melalui pendekatan kerja dengan banyak pihak (pemerintah, swasta dan masyarakat), multitingkat (nasional, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa dan rumah tangga) dan multisektor. 

Salah satu hal menarik mengemuka dalam upaya bersama itu adalah peran tokoh agama, tokoh masyarakat serta lembaga agama dalam pendidikan internal kelembagaan, publik serta advokasi kebijakan. Mitra LSM di sebelas kabupaten telah memfasilitasi sesi pembekalan tokoh agama dan tokoh masyarakat. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sejarah, Amalan Kawit An Nur Slawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar