Rabu, 20 April 2016

Kabar Duka: Ketua Fatayat NU Bulu Rembang Wafat

Rembang, Kawit An Nur Slawi

Suasana duka menyelimuti warga Nahdlatul ulama Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, Jawa Timur, Senin? (25/7) siang ini. Ketua Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU setempat, Ismah Mailani meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan di depan Polsek Kecamatan Sulang dalam perjalaan menuju kota Rembang.

Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Bulu KH Syarkowi menyampaikan kebenaran berita duka tersebut. Ia meminta doa kepada segenap warga NU di manapun berada untuk membacakan surat al-Fatihah untuk almarhumah.

Kabar Duka: Ketua Fatayat NU Bulu Rembang Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kabar Duka: Ketua Fatayat NU Bulu Rembang Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kabar Duka: Ketua Fatayat NU Bulu Rembang Wafat

"Iya Mas, ketua terpilih Fatayat NU meninggal saat kecelakaan di dekat Polsek Sulang saat perjalanan ke Rembang,” ujarnya.

Kawit An Nur Slawi

Ismah kembali terpilih pada Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Fatayat NU Kecamatan Bulu yang digelar bersamaan dengan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Terpadu bersama Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor setempat pada Sabtu (23/7) di Balai Desa Desa Ngulaan, Kecamatan Bulu, Rembang.

Kawit An Nur Slawi

Ismah kembali dipilih yang kedua kalinya secara aklamasi oleh seluruh kader Fatayat NU dengan harapan meneruskan program kerja yang belum terselesaikan. (Baca: Ansor dan Fatayat Bulu Gelar Kaderisasi Terpadu)

Terkait rekam jejak memimpin, Hartimunta Coba Wijarwati, rekan satu pengurusan di Fatayat NU Kecamatan Bulu Sabtu kemarin di lokasi Konferancab menyampaikan, Ismah merupakan sosok yang dinilai cukup berhasil membawa Fatayat NU. Kiprahnya di Cabang pun sudah tidak diragukan lagi.

Perempuan yang lahir pada tahun 1977 ini meninggalkan dua orang anak usia 14 tahun dan 8 tahun. Semoga sahabat Ismah Mailani khusnul khatimah. Al-Fatihah. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Syariah, Cerita Kawit An Nur Slawi

Senin, 04 April 2016

Dari Petani, Jadi Pedagang Peci

Tegal, Kawit An Nur Slawi 

Ramadhan 1433 H berjalan beberapa hari. Seperti biasa, kawasan Ruko Slawi yang merupakan pusat perbelanjaan masyarakat Tegal dipadati para pedagang tiban. Salah satu favorit para pedagang adalah peci atau kopiah yang menjadi sarana ibadah umat Islam di bulan Ramadhan.

Dari Petani, Jadi Pedagang Peci (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Petani, Jadi Pedagang Peci (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Petani, Jadi Pedagang Peci

Pantauan Kawit An Nur Slawi dari H-1 Ramadhan, pedagang peci tiban itu sudah memenuhi kawasan Ruko Slawi, dan biasanya pedagang-pedagang itu akan berakhir hingga H+ 3 hari raya Idul Fitri. Mereka hanya menggelar dagangannya diatas tanah dengan alas seadanya.

“Saya sudah biasa dagang di sini tiap datangnya bulan Ramadhan,” kata salah satu pedagang Mughni (41) warga Adiwerna  saat di temui Kawit An Nur Slawi sambil menunggu pembeli, Rabu (25/7) .

Kawit An Nur Slawi

Mughni yang setiap hari beraktifitas sebagai petani itu merubah profesinya secara musiman. “Kalau musim puasa saya jualan mas, pekerjaan di rumah saya tinggal dulu. Kalau saya tetap bertani kan terlalu berat  karena sedang puasa. Lagipula hasilnya juga lumayan bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup walaupun tidak terlalu banyak," jelasnya.

Kawit An Nur Slawi

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal, Ustadz Sono Sugiarto, membenarkan, banyak warga beralih profesi di bulan Ramadhan.

“Tidak masalah. Yang penting masih halal dan bisa bermanfaat. Apalagi yang dijualnya merupakan sarana ibadah, seperti peci tadi, ini juga mulia. Jadi tidak salah apa yang lakukan mereka,” tuturnya 

“Ini kan juga merupakan berkah Ramadhan,” lanjut Ustadz Sono. Namun, ia mengingatkan, para pedagang juga harus senantiasa menjaga puasa mereka agar tetap bersih dan terpelihara secara baik. 

“Jangan sampai membohongi para pembeli. Ada pedagang mengatakan ‘Ini dari sananya juga tidak boleh segitu,’ padahal itu bohong. Hal-hal yang demikian harus dihindari,” pintanya 

Redaktur   : A. Khoirul Anam

Kontibutor: Abdul Muiz        

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nusantara, Anti Hoax Kawit An Nur Slawi

Minggu, 03 April 2016

Akhiri Pelatihan jurnalistik, Siswa SMK Walisongo Kunjungi Pabrik Plastik

Jepara, Kawit An Nur Slawi. Pelatihan jurnalistik SMK Walisongo kecamatan Pecangaan, Jepara yang dimulai Kamis (13/11) berakhir Jum’at (14/11). Menutup pelatihan ini, peserta yang berjumlah 25 siswa ini mengunjungi salah satu pabrik plastik di kecamatan setempat.

Waka Kesiswaan Irbab Aulia Amri mengatakan, kunjungan ini bertujuan mengetahui proses pembuatan plastik yang lokasinya tak jauh dari SMK ini.

Akhiri Pelatihan jurnalistik, Siswa SMK Walisongo Kunjungi Pabrik Plastik (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhiri Pelatihan jurnalistik, Siswa SMK Walisongo Kunjungi Pabrik Plastik (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhiri Pelatihan jurnalistik, Siswa SMK Walisongo Kunjungi Pabrik Plastik

“Kebetulan lokasinya dekat dengan SMK, namun anak-anak belum pernah ke pabrik ini. Makanya kami mengajak mereka ke sini,” terangnya.

Kawit An Nur Slawi

Ketua jurnalistik SMK Walisongo Nailis Setiowati menyatakan, kegiatan dilaksanakan untuk memberi bekal siswa yang ikut ekstra kurikuler jurnalistik. “Kami berharap materi dan praktik yang sudah kami dapatkan bisa menjadi bekal untuk mengarungi mengelola media sekolah,” harapnya.

Selama dua hari peserta menerima materi pengenalan jurnalistik, manajemen redaksi, menulis opini, sastra dan lay out. Pemateri yang menyampaikan materi antara lain novelis Kartika Catur Pelita, salah seorang guru Budi Ismail, dan Femi Noviyanti wartawan media lokal. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Jadwal Kajian, Habib, Khutbah Kawit An Nur Slawi

Jumat, 01 April 2016

Workshop Baca Tulis Al-Quran Perkenalkan Metode FTL

Pringsewu, Kawit An Nur Slawi. Dalam rangka memperkenalkan Metode baru dalam membaca dan menulis Al-Quran di Kabupaten Pringsewu, Pesarungsewu (Persatuan Guru Ngaji Pringsewu) menggelar Workshop Baca Tulis Al-Quran Metode Follow the Line (FTL).

Kegiatan yang menghadirkan Jamiyyatul Quro wal Huffadz (JQH) Jawa Timur ini bertempat di kantor PCNU Kabupaten Pringsewu belum lama ini.

Workshop Baca Tulis Al-Quran Perkenalkan Metode FTL (Sumber Gambar : Nu Online)
Workshop Baca Tulis Al-Quran Perkenalkan Metode FTL (Sumber Gambar : Nu Online)

Workshop Baca Tulis Al-Quran Perkenalkan Metode FTL

Menurut Ketua Panitia, Syaiful Anwar, kegiatan ini diikuti oleh 246 peserta yang terdiri dari utusan PAUD 1 orang, SD 110 orang, TPQ 16 orang dan utusan Masjid dan Musholla 19 orang.

Kawit An Nur Slawi

Nampak hadir dalam Workshop tersebut segenap Pengurus Pesarungsewu dan Pengurus PCNU Kabupaten Pringsewu.

Acara ini di buka oleh KH. Sujadi Saddad (Mustasyar PCNU Pringsewu) yang juga merupakan Bupati kabupaten Pringsewu.

Kawit An Nur Slawi

Dalam pengarahannya, Kiai Saddad menyampaikan pentingnya pendidikan Al-Quran sejak dini sehingga tidak akan ditemukan lagi Buta Aksara Al-Quran.

Sementara, narasumber dari JQH Jawa Timur KH. Choiruddin Abdul Qodir, SH, dan KH. Muhammad Muhyddin MS memaparkan materi yang meliputi: Wawasan & Visi misi Gerakan Baca Tulis Al-Quran, Metoda Baca Tulis Al-Quran Tartila Bil Qolam ( Follow The Line ), Psikologi pendidikan untuk anak usia dini, Manajemen Pembelajaran Untuk PAUD , TK , SD, MI dan TPQ, Bermain Cerita dan Menyanyi (BCM).

Menurut Kiai Choiruddin, metode FTL lebih mengedepankan praktek dari pada sekedar teori, karena dengan praktek akan mempercepat kemampuan menulis.

Dengan metode ini pula, katanya, "kemampuan motorik, pemahaman atas karakteristik hurup arab, ritme penulisan serta batasan-batasan penulisan yang jika di teorikan akan semakin rumit dan memakan waktu.

"Namun dengan metode FTL kemampuan menulis khot Arab akan mengalir secara alami sehingga hasilnya lebih cepat, rapi, indah dan yang lebih utama akan tertanam dalam diri sang penulis," terangnya.

Pihaknya menambahkan bahwa Metode FTL telah melalui uji coba penerapan pada beberapa sekolah secara acak di Tengerang, Samarinda, Jombang, Mojokerto, Aceh dan Jakarta, termasuk siswa siswi tuna wicara di Jawa Timur.

Dari hasil uji coba sekaligus sosialisasi tersebut diambil kesimpulan bahwa progam ini bisa diterapkan pada siswa / semua kalangan. Bahkan proses uji dan sosialisasi ini mendapat rekor MURI atas keberhasilan 600 siswa sekolah dasar menyelesaikan khatam menulis Al-Quran 30 juz dalam waktu 10 menit di Tangerang, dan menulis mushaf oleh 604 Muallaf di TMII Jakarta pada tanggal 1 Muharram 1433H.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Muhammad Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Santri, Sholawat, Khutbah Kawit An Nur Slawi