Senin, 15 Desember 2008

Siapa Sebenarnya Sekte Wahabi?

Sidoarjo, Kawit An Nur Slawi. Wahabi merupakan sebutan bagi pengikut ajaran Muhammad bin Abdul Wahab (w.1793 M), seorang tokoh yang diklaim oleh pengikutnya sebagai pemurni tauhid, lahir di kampung Uyainah, Najd, 70 km arah barat laut kota Riyadh, Arab Saudi sekarang. Tapi akhir-akhir ini bermuculan bantahan dari sebagian orang bahwa penisbatan Wahhabiyah (Wahabi) kepada Muhammad bin Abdul Wahab itu tidak benar.

Demikian disampaikan A. Ma’ruf Asrori dalam bedah buku “Rekam Jejak Radikalisme Salafi Wahabi; Sejarah, Doktrin, dan Akidah” di Masjid Agung Kota Sidoarjo yang deselenggarakan LPPQ Al-Karim Jawa Timur dalam Pengajian Ramadhan bersama LDNU, LTMNU dan LTNNU PCNU Sidoarjo, Ahad (13/7).

Siapa Sebenarnya Sekte Wahabi? (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapa Sebenarnya Sekte Wahabi? (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapa Sebenarnya Sekte Wahabi?

Bantahan mereka beralasan bahwa tokoh yang disebut itu bernama Muhammad bin Abdul Wahab, mestinya menjadi ”Muhammadiyah” bukan Wahabi, karena namanya Muhammad, sedang nama Wahab adalah nama ayahnya, Abdul Wahab.

“Kata mereka, Wahabi itu dinisbatkan kepada Abdul Wahhab bin bin Rustum yang memang khawarij. Inilah tipu daya untuk menghindari sorotan buruk dari kaum Muslimin yang telah menyaksikan sejarah kelam Wahabi di masa lampau maupun sekarang ini,” ungkap Ma’ruf Asrori dari Penerbit Khalista Surabaya sambil mengutip isi buku.

Lanjut Ma’ruf, di dalam buku yang sedang dibedah ini telah membeberkan bawa banyak ulama Wahabi sendiri mengakui penisbatan Wahhabiyah (Wahabi) bagi pengikut Muhammad bin Abdul Wahab, bahkan membangga-banggakannya. Istilah Wahhabiyah memang disematkan oleh kaum Muslimin yang menentang dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab.

Kawit An Nur Slawi

Laqab atau julukan ini diambil dari nama ayahnya Abdul Wahab, dan nisbat seperti ini sudah masyhur di kalangan Arab. Seperti pengikut Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i disebut Syafi’iyah, laqab yang dinisbatkan dari nama kakeknya, Idris asy-Syafi’i. Pengikut Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal disebut Hanabilah, nisbat kepada nama kakeknya Hanbal dan semisalnya. Maka nisbat Wahhabiyah bukan suatu penyematan atau pengistilahan asing apalagi salah, namun sudah masyhur bagi kalangan orang Arab.

Penulis buku Ust. Achmad Imron R. lebih detil lagi memaparkan bukti-bukti secara panjang lebar sejarah kemunculan sekte Wahabi sebagai tanduk setan dari timur beserta ajaran-ajarannya berdasarkan hadits-hadits sahih dan rujukan buku yang ditulis oleh kaum Wahabi sendiri serta kitab-kitab bantahan atasnya dari ulama ahlussunnah wal Jama’ah.

Dalam menjelaskan hadits shahih tentang fitnah tanduk setan yang akan muncul dari timur, Achnad Imron menguraikan berbagai bukti ilmiah, bahwa Wahabi itulah perwujudannya. Selain itu, ia juga menyertakan komentar ulama mu’tabar dari berbagai ahli disiplin ilmu; ahli tafsir, hadits, fikih, nahwu, dan buldan, serta kesaksian yang ada dalam kitab-kitab sejarah.

Kawit An Nur Slawi

Penulis pun menguraikan konsep tauhid Wahabi yang menjadi dasar konflik dengan mayoritas kaum muslimin serta bantahannya. Sebagaimana diketahui, pembagian tauhid versi Wahabi yang diada-adakan menjadi sebab merenggangnya keharmonisan umat Islam, serta memunculkan pemahaman takfir, tasyrik, tabdi’ dan tadhlil kepada mayoritas umat Islam, bahkan kepada ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah. (Ama/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Jadwal Kajian, Kajian Sunnah, Nahdlatul Ulama Kawit An Nur Slawi

Minggu, 07 Desember 2008

Lombok Tengah Tuan Rumah LSN 2017 Region Nusa Tenggara I

Mataram, Kawit An Nur Slawi. Tahun ketiga pelaksanaan Liga santri Nasional (LSN) 2017 Regional Nusa Tenggara I sudah ditetapkan yaitu akan diselenggarakan di Kabupaten Lombok Tengah, NTB sebagai tuan rumah.

Hal ini disampaikan oleh Koordinator Region (Koreg) Nusa Tenggara I HM. Jamhur didampingi Ketua Panitia Pelaksana Murakip Usman Khotib, Senin (3/7) di Mataram.

Untuk sosialisasi, menurutnya, akan dilaksanakan secara internal panitia pelaksana penyelenggara. Dimana secara administrasi SK Panitia Pelaksana sudah diterbitkan oleh Panitia Pusat LSN 2017.

Lombok Tengah Tuan Rumah LSN 2017 Region Nusa Tenggara I (Sumber Gambar : Nu Online)
Lombok Tengah Tuan Rumah LSN 2017 Region Nusa Tenggara I (Sumber Gambar : Nu Online)

Lombok Tengah Tuan Rumah LSN 2017 Region Nusa Tenggara I

"Penyelenggaraan tahun ini harus lebih sukses sesuai harapan kita bersama," kata Jamhur.

Pihak panitia harus punya target untuk menyukseskan LSN tahun ini, menurutnya hal itulah pentingnya merapatkan barisan. Untuk pelaksanaan yang sudah ditetapkan di Lombok Tengah hal ini juga menjadi syiar terutama mengenai olahraga sepak bola di kalangan para santri.

Dua tahun sebelumnya penyelenggaraan LSN dilaksanakan di Lombok Barat tahun 2015 dan Mataram tahun 2016, untuk tahun ini giliran Lombok Tengah jadi tuan rumah.

Kawit An Nur Slawi

LSN Region Nusa Tenggara I akan digelar di Stadion Bundar Praya Loteng, tahapan sosialisasi dan pendaftaran dilaksanakan pada 1-31 Juli 2017, tim yang akan bertarung yaitu 32 Pondok Pesantren berasal dari empat kabupaten yakni Lombok Barat, Mataram, Lombok Utara, dan Lombok Tengah. (Hadi/Fathoni)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Anti Hoax, Kiai Kawit An Nur Slawi

Selasa, 04 November 2008

Kiai Muchith: NU Tolak Khilafah Islamiyah atas Dasar yang Jelas

Jember, Kawit An Nur Slawi

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muchith Muzadi menegaskan, NU menolak gagasan dan sistem Khilafah Islamiyah (Pemerintahan Islam) karena memiliki pendirian dan dasar yang jelas, bukan dipengaruhi kelompok liberal, imperialis atau kapitalis.



Kiai Muchith: NU Tolak Khilafah Islamiyah atas Dasar yang Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Muchith: NU Tolak Khilafah Islamiyah atas Dasar yang Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Muchith: NU Tolak Khilafah Islamiyah atas Dasar yang Jelas

“NU memiliki khittah (landasan) sendiri. NU tidak memaksakan syariat Islam dalam sebuah negara, apalagi dengan cara kekerasan. Berbeda dengan kelompok liberal yang menolak syariat agama dalam bentuk apapun,” terang Kiai Muchith, begitu panggilan akrabnya, kepada Kawit An Nur Slawi di Jember, Jawa Timur, Selasa (21/8).

Namun demikian, tambahnya, NU tidak berarti menerima liberalisme dan imperialisme. Penolakannya pun bukan atas pengaruh kelompok Islam fundamentalis. NU sejak awal memang berjuang menegakkan akhlakul karimah dan keadilan sosial yang banyak dilanggar kaum liberal-kapitalis.

Kawit An Nur Slawi

Menurutnya, walaupun NU sebagai ormas Islam yang dengan sendirinya memperjuangkan berlakunya syariat Islam, tetapi NU memiliki perbedaan dengan kelompok lain. “Jadi, kita mandiri dalam berpikir dan bertindak,” ujar Kiai Muchith yang juga kakak kandung Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi.

Kawit An Nur Slawi

Kiai Muchith menyarankan agar seluruh jajaran PBNU lebih kompak dan tidak bergerak sendiri-sendiri menghadapi ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila. Ancaman itu, katanya, semakin nyata, terutama setelah Hizbut Tahrir Indonesia cukup terang-terangan mengkampanyekan pendirian Khilafah Islamiyah di Indonesia.

Ia juga meminta PBNU agar memberikan tuntunan yang jelas dan gamblang pada warga Nahdliyin di lapisan bawah sekalipun tentang bahaya tersebut berikut upaya menghadapinya. Karena kelompok itulah yang menjadi sasaran fundamentalisme dan liberalisme. “Sementara, mereka tidak tahu asal-usul dan bahayanya,” tandasnya.

“Apalagi kalangan muda yang dinamis, kalau tidak diselematkan akan terjerumus pada fundamentalisme maupun liberalisme yang ‘dijajakan’ ke berbagai sekolah dan pesantren atas nama Hak Asasi Manusia, demokrasi, pluralisme, gender dan lingkungan hidup,” tambah Kiai Muchith.

Langkah Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi berbicara langsung dengan para pengurus ranting beberapa waktu lalu, menurutnya, langkah yang sangat strategis. “Tetapi, langkah itu perlu disertai istilah atau idiom yang lebih jelas dan mudah dipahami, agar pengetahuan yang disampaikan bisa menjadi pegangan dan modal dari gerakan para ulama tingkat ranting dalam memperjuangkan agama, bangsa dan negara ini. (amm)Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pahlawan, Aswaja, Budaya Kawit An Nur Slawi

Minggu, 24 Agustus 2008

Potensi Radikalisme di Tangerang Dinilai Tinggi

Kota Tangerang, Kawit An Nur Slawi

Potensi radikalisme di Kota Tangerang cukup tinggi. Survei yang dilakukan dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Tangerang, Banten, menyebutkan, 50 persen pelajar di Kota Tangerang setuju dengan negara Islam.

Potensi Radikalisme di Tangerang Dinilai Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Potensi Radikalisme di Tangerang Dinilai Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Potensi Radikalisme di Tangerang Dinilai Tinggi

Demikian disampaikan Muhammad Sarbini dalam Seminar Kebangsaan bertema “Nilai-nilai Kebangsaan dalam Menangkal Ideologi Radikalisme” di Aula STISNU Tangerang, Kamis (16/6) sore.

“Kami juga menemukan hasil yang mencengangkan. Tujuh puluh empat persen dari hasil survei pelajar di Kota Tangerang berpotensi pada radikalisme,” paparnya.

Kawit An Nur Slawi

Di samping itu Kombes Pol Ir H Hamli mengatakan, tindakan radikal dan terorisme sebanyak 45 persen itu dimotori ideologi agama.

“Sebagai warga NU harus berperan aktif dalam penyelamatan negara. Nilai-nilai kebangsaan sudah ada dalam beberap prinsip NU,” jelas Alumni PMII ITS.

Kawit An Nur Slawi

Acara ini disertai dengan deklarasi angkatan muda Nahdlatul Ulama pengawal Pancasila dan NKRI. Wakil Ketua Bidang Akademik Muhammad Qustulani menjelaskan, STISNU berkomitmen untuk mengimplementasikan nilai-nilai Aswaja dan Islam Nusantara dalam mendidik kader-kadernya.

“Kami berkomitmen untuk menyiapkan kader NU yang siap mengawal NKRI. Kami juga memberikan beasiswa kepada kader-kader NU yang kuliah di sini,” tegas alumni UIN Syarif Hidayatullah tersebut. (Suhendra/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nahdlatul, Hadits Kawit An Nur Slawi

Minggu, 20 Juli 2008

Awali Ramadhan, Tunggu Sidang Itsbat

Pringsewu, Kawit An Nur Slawi. Katib Syuriyah PCNU Pringsewu Lampung, KH Munawwir, mengimbau warga menunggu hasil sidang itsbat Kementerian Agama bersama NU dan ormas Islam lainnya dalam mengawali bulan suci Ramadhan 1436 H.

Demikian disampaikannya dalam Ngaji Ahad atau Jihad pagi (7/6). Kegiatan ini rutin dilaksanakan di Gedung NU Pringsewu Lampung.

Awali Ramadhan, Tunggu Sidang Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)
Awali Ramadhan, Tunggu Sidang Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)

Awali Ramadhan, Tunggu Sidang Itsbat

Menurutnya dalam mengawali puasa bulan Ramadhan yang sebentar lagi tiba, seluruh umat Islam seharusnya ikut memantau melalui media cetak dan elektronik proses rukyatul hilal yang dilakukan oleh NU dan Kementerian Agama RI.

Kawit An Nur Slawi

"Awal puasa Ramadhan tahun ini diperkirakan jatuh pada hari Kamis 18 Juni 2015. Ini ada kemungkinan berbeda antara Hasil Keputusan Sidang Itsbat dengan Ormas keagamaan tertentu yang sudah mengumumkan awal Ramadhan terlebih dahulu " terangnya.

Namun menurutnya, sebagai umat Islam yang memiliki Ulul Amri yaitu Pemerintah, hendaknya dalam mengawali puasa Ramadhan sesuai dengan hasil keputusan pemerintah melalui sidang Itsbat.

Menurutnya Sidang Itsbat merupakan sidang yang sangat ideal dalam menentukan awal bulan Ramadhan. Hal ini dikarenakan didalam sidang Itsbat melibatkan berbagai unsur ormas keagamaan di Indonesia dan juga menggunakan berbagai macam metode mulai dari rukyah sampai dengan hisab.

Kawit An Nur Slawi

"Dari komposisi ini sudah jelaslah kalau hasil sidang itsbat dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik dan dapat dipertanggungjawabkan kemaslahatannya bagi umat," tegasnya.

Selain itu, Munawwir juga mengajak kepada seluruh umat Islam untuk dapat memanfaatkan Bulan Ramadhan dengan semaksimal mungkin. " Isi kegiatan kegiatan yang bermanfaat dan tingkatkan kualitas serta kuantitas Ibadah dibulan ramadhan seperti Baca Quran, Shalat malam dan bersedekah " ajaknya. Dengan maksimalnya Ibadah di Bulan Ramadhan kali ini diharapkan fadilah bulan puasa dapat diraih dan akhirnya segala dosa yang telah dilakukan sebelum Ramadhan akan diampuni.

Ditemui setelah kegiatan Jihad Pagi, Sekretaris LTN NU Pringsewu M. Mustanir mengatakan, dalam rangka memberikan panduan waktu Bulan Ramadhan 1436 H, pihaknya sudah mencetak Jadwal Imsakiyyah Bulan Ramadhan 1436 H. Menurutnya Jadwal Imsakiyyah ini merupakan hasil dari Winhisab Lajnah Falakiyah PWNU Provinsi Lampung.

"Jadwal ini kami distribusikan ke Masjid dan Musholla dan juga ke setiap Pengurus MWC sampai dengan Ranting NU di Kabupaten Pringsewu dan perlu diingat bahwa keputusan Awal 1 Ramadhan tetap mengacu kepada hasil keputusan sidang itsbat pemerintah," terangnya. (Muhammad Faizin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Daerah, AlaNu Kawit An Nur Slawi

Senin, 12 Mei 2008

Kang Said Diharapkan Kawal Perubahan dari Pesantren

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang dikukuhkan sebagai Tokoh Perubahan oleh salah satu media cetak nasional pada 30 April 2013 lalu diharapkan dapat mengawal perubahan dari pesantren, seperti dalam slogannya menjelang Muktamar NU di Makassar, yakni “Kembali ke Pesantren”.

Kang Said Diharapkan Kawal Perubahan dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Diharapkan Kawal Perubahan dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Diharapkan Kawal Perubahan dari Pesantren

Rais Syuriyah PBNU KH Saifuddin Amsir berpendapat, gelar Tokoh Perubahan bagi Kang Said ini patut dijadikan landasan pacu untuk semakin bersemangat dalam mengawal perubahan, dan perubahan ini mestinya dapat dimulai dari pesantren.

“Kembali ke Pesantren” sebagaimana dijadikan maskot Kang Said menjelang Muktamar di Makassar, perlu dikuatkan kembali, kata Kiai Saifuddin Amsir kepada Kawit An Nur Slawi usai menggelar pengajian kitab hadis Riyadlush Shalihin di Masjid Ath-Thahariyah, Kelurahan Pisangan Timur, Kecamatan Pulo Gadung, Jum’at (10/5) malam lalu.?

Kawit An Nur Slawi

“Bagaimana pun, pesantren adalah basis utama Nahdliyin. Jadi, secara logika, gelar ini justru menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi NU untuk mewujudkan perubahan itu. Harapan saya, Kiai Said benar-benar memberdayakan pesantren,” tegas ulama Betawi ini.

Bagi Abuya, sapaan akrab Kiai Amsir, semangat perubahan telah diilhami oleh al-Qur’an. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu mau merubah dirinya sendiri. Di dalam hadits, dijelaskan barangsiapa melihat kemungkaran (ketidakberesan), maka gunakan kekuasaan atau pengaruhnya untuk mengubahnya.?

Kawit An Nur Slawi

Dalam sejarah perubahan NU, lanjut dosen Ushuluddin UIN Jakarta ini, yang paling fenomenal adalah Munas Alim Ulama NU 1983 dan Muktamar NU ke-27 di Situbondo 1984. Sejarah mencatat, hasil Muktamar tersebut mendukung asas tunggal Pancasila. Melalui serangkaian diskusi mendalam yang dipimpin oleh KH Achmad Siddiq dan Gus Dur, akhirnya muktamirin bisa menerima Pancasila sebagai asas organisasi.

“Muktamar ini kan dilaksanakan di pesantren Asembagus pimpinan Kiai As’ad. Jadi, pesantren memang luar biasa pengaruhnya bagi bangsa ini. Meski saya waktu itu belum pengurus PBNU, tapi saya memimpin delegasi dari Jakarta,” pungkasnya.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ali Musthofa Asrori

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sejarah, Olahraga Kawit An Nur Slawi

Senin, 03 Maret 2008

Ulama Diminta Bimbing Eks Gafatar

Subang, Kawit An Nur Slawi

Setelah menjalani pembinaan di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Dinas Sosial Kabupaten Subang bersama Kepolisian setempat menjemput eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Subang dalam empat tahap.

"Mereka dipulangkan ke tempat asalnya masing-masing di beberapa kecamatan yang ada di Subang," ungkap Kepala Satuan Bimbingan Masyarakat Polres Subang, AKP. H Sarjono usai mengikuti Rapat Reboan PCNU setempat, Rabu (17/2).

Ulama Diminta Bimbing Eks Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Diminta Bimbing Eks Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Diminta Bimbing Eks Gafatar

Sebelum dipulangkan ke tempat asal, kata dia, para eks anggota Gafatar yang berjumlah 44 orang ini tidak langsung dipulangkan ke tempat asalnya karena mereka akan kembali mendapatkan pembinaan.

Kawit An Nur Slawi

Ditambahkan, mereka punya kepercayaan yang cukup kuat sehingga mesti diberi pemahaman secara kontinyu agar mereka benar-benar bisa meninggalkan kepercayaan yang ada di Gafatar.

Kawit An Nur Slawi

"Saya sudah memberikan nama dan alamatnya kepada para kiai, diharapkan agar para ulama, kiai dan ustadz terdekat dapat membimbing dan memberi pencerahan kepada eks Gafatar ini supaya mereka tidak kembali lagi ke ajaran Gafatar atau sejenisnya," papar Polisi yang juga jadi pengurus PCNU Subang ini.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan hidup, kata dia, para mantan anggota Gafatar ini sudah diarahkan untuk berbisnis seperti berdagang dan bertani. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Doa, RMI NU Kawit An Nur Slawi

Selasa, 22 Januari 2008

Dari Dai NU di Macau: Selamat Idul Fitri!

Tak terasa hampir satu bulan saya melalui Ramadhan di Macau. Betapa saya pun merasakan kerinduan akan tanah air, terutama keluarga. Bagaimana dengan teman-teman BMI di Macau yang harus melalui waktu lebih lama, bisa bertahun-tahun berpisah dari keluarga di tanah air? Pastilah keriunduan itu lebih berat lagi. Akan tetapi hal itu tetap harus disyukuri.

"Ustad, mohon doanya. Besok saya mau mudik," pesan salah satu jamaah kepada saya.?

Bisa mudik ke tanah air pada Idul Fitri, hanya bisa dilakukan oleh sedikit dari BMI di Macau. Tentu saja mayoritas dari mereka merayakan Idul Fitri di sini. Mereka ? yang ingin pulang ke tanah air harus menunggu jatah libur, karena ada perjanjian kontrak yang harus dipenuhi.?

Dari Dai NU di Macau: Selamat Idul Fitri! (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Dai NU di Macau: Selamat Idul Fitri! (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Dai NU di Macau: Selamat Idul Fitri!

Demikianlah salah satu perjuangan untuk memperoleh nafkah bagi keluarga di tanah air. Mbak Romlah asal Jombang, misalnya. Ia sudah sejak 2004 bekerja di Macau, membiayai adik-adiknya hingga menikah; dan sekarang sedang menyicil membangun rumah.?

Idul Fitri serentak pada 1 Syawal. Namun tidak serentak bisa merasakan kehangatan berkumpul dan bercengkrama dengan keluarga. Secara hakikat, kembali kepada fitri bukan suatu yang bisa diperoleh oleh semua orang. Namun, semua bisa berlebaran sebagaimana istilah yang akrab di Indonesia.

Kawit An Nur Slawi

?

Syawal berarti meningkat. Dengannya diharapkan ada peningkatan dalam aspek-aspek kehidupan kita. Kehidupan bukan hanya di dunia, karena sebagai orang yang beriman kehidupan itu satu kesatuan antara kehidupan dunia dan akhirat.?

Jumat (23/6) siang, saya mengunjungi landmark kota, Macau Tower atau Tourre De Macau. Walau luas kotanya kecil, namun turis tak pernah berhenti mengunjunginya.?

Macau Tower empat meter lebih tinggi dari Menara Eiffel di Paris. Dari atas kita bisa melihat secara utuh wajah kota yang dipenuhi oleh apartemen, hotel dan casino. Laut serta daratan Tiongkok seperti Zuhai juga dapat tertangkap mata. Tak ketinggalan gedung beton dan perbukitannya.

Kawit An Nur Slawi

Saya termenung, saat kembali ke fitri sebetulnya ? bukan menjadi seseorang yang merasa tinggi karena kembali suci. Orang yang membersihkan dan menyucikan diri justru semakin berhati-hati dalam berucap dan bersikap. Karena kesucian bukan hanya berarti benar, namun juga baik. Tak cukup sampai situ, ia juga perlu bagus atau indah.

?

Orang yang merasa tinggi akan mudah merendahkan dan meremehkan. Sesungguhnya Islam ialah agama yang memiliki nilai-nilai yang tinggi secara kualitas. Tetapi, ketinggian itu sejatinya tergambar dalam akhlak, bukan dalam penampakan lahiriyah saja apalagi perasaannya. Sebab tinggi hati atau sombong akan membuat seseorang justru terperosok dalam tindakan yang bodoh dan mengantar pada keburukan.

Untuk menaiki lift di Macau Tower, kita harus mengantri. Siang itu saya pergi bersama dengan Ustad Muhandis dan Mbak Romlah. Mbak Romlah yang sudah saya ceritakan sekilas di atas, juga sempat mendapat sepeda dari Pak Jokowi, saat Presiden RI itu mengunjungi Hong Kong beberapa waktu lalu.

"Bismillahirrahmanirrahim," bisik saya.?

Lift melaju kencang ke atas meninggalkan permukaan bumi. Saat itu saya memikirkan, semakin suci seseorang, semakin tinggi pula derajatnya. Kesucian diri dijaga dan dipelihara, tanpa kenal batas waktu. Perjuangannya hingga akhir nafas. Itu sebabnya, menurut saya hari kemenangan bukanlan slogan yang tepat untuk mendeskripsikan Hari Raya Idul Fitri.

Salah satu sifat yang lahir dari kesucian kalbu ialah tawadhu. Dalam Shahih Muslim yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda, "Tidaklah berkurang harta yang disedekahkan, tidaklah yang memaafkan melainkan bertambah kemuliaannya, dan tidaklah yang bertawadhu karena Allah kecuali Allah akan meninggikannya."

?

Dalam kitab Al Minhaj Syarah Shahih Muslim juga disebutkan, ketinggian derajat bisa jadi diperolehnya di dunia serta di dalam pandangan manusia, bisa juga mengantarnya mendapat kedudukan yang tinggi di akhirat. Namun, dengan izin Allah ada juga yang keduanya diperoleh secara bersamaan.?

Malam takbiran nanti saya dijadwalkan berada di Hong Kong. Tak lupa saya ucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” dari ketinggian 338 meter di atas Macau Tower untuk masyarakat tanah air terutama keluarga di rumah.

?

Minal Aidin Wal Faizin, Mohon maaf lahir dan bathin, tabbalallahu minna wa minkum kullu amin wa antum bi khair.

Saepuloh, anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau. Kegiatan ini bekerjasama dengan LAZISNU.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pondok Pesantren Kawit An Nur Slawi