Selasa, 31 Oktober 2017

PK IPPNU MA Sultan Agung Sosialisasi Penghijauan

Pati, Kawit An Nur Slawi. Sedikitnya 50 anggota komisariat IPPNU Madrasah Aliyah Sultan Agung mendaki gunung Kendeng di desa Sukolilo kecamatan Sukolilo. Mereka mencoba menindalanjuti laporan masyarakat terkait kerusakan tanaman di gunung Kendeng, Rabu (19/2).

Sampai di puncak, mereka kaget. Karena, pegunungan Kendeng yang tampak hijau dipandang dari jauh ternyata hampir semua area puncaknya gundul. Minimnya penyerapan air pada gunung terutama Kendeng menjadi penyebab utama banjir.

PK IPPNU MA Sultan Agung Sosialisasi Penghijauan (Sumber Gambar : Nu Online)
PK IPPNU MA Sultan Agung Sosialisasi Penghijauan (Sumber Gambar : Nu Online)

PK IPPNU MA Sultan Agung Sosialisasi Penghijauan

Masyarakat menengarai lahan-lahan di atas gunung yang dahulunya tumbuh subur dengan berbagai varian pohon mulai dari randu, mahoni, sampai jati telah berubah menjadi tanaman jagung. Mereka lalu bertemu dan berdiskusi langsung dengan para petani yang sedang membersihkan lahan pascapanen Jagung.

Kawit An Nur Slawi

“Kami tanami jagung karena lebih menghasilkan daripada ditanami pohon jati atau mahoni,” ungkap Sudirjo, salah satu petani yang diajak diskusi.

“Pemerintah kesulitan untuk mengarahkan warga agar mengganti tanaman mereka. Pasalnya lahan yang ditanami merupakan milik mereka sendiri,” kata Mandor Hutan Sukolilo Abdul Rohman.

Kawit An Nur Slawi

Dulu pernah diberi bantuan bibit pohon jati dan mahoni, tetapi warga tidak mau menanamnya. Karena lahannya hanya ditanami tanaman yang menghasilkan secara langsung agar bisa mengisi periuk-periuk mereka. Alhasil bibit-bibit bantuan itu pun sia-sia.

Dengan menjelajah pegunungan Kendeng pelajar IPPNU Komisariat MA Sultan Agung dapat melihat secara langsung kondisi pegunungannya dan dapat permasalahan yang dialami warga.

“saya sangat antusias melakukan pendakian ini karena bisa melihat secara langsung dan berdiskusi dengan warga mengapa mereka menanami lahannya dengan tanaman jagung,” kata Mega Sabrina selaku anggota IPPNU Komisariat MA Sultan Agung. (Masula/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sholawat, Hadits Kawit An Nur Slawi

Ke Tebuireng, Sinta Nuriyah Tahlilan dan Tabur Bunga

Jombang, Kawit An Nur Slawi. Ada sejumlah kegiatan yang dilakukan Ny Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid selama di Jombang, Jawa Timur. Ia memungkasi aktivitas selama di kota santri tersebut dengan melakukan tahlilan di Pondok Pesantrean Tebuireng.

Didampingi pengurus Pesantren Tebuireng Jombang, ia melakukan tahlilan dan dilanjutkan dengan menaburkan bunga di pemakaman mendiang suaminya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mertuanya KH Wahid Hasyim serta KH Hasyim Asyari pada Ahad (21/12).

Ke Tebuireng, Sinta Nuriyah Tahlilan dan Tabur Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke Tebuireng, Sinta Nuriyah Tahlilan dan Tabur Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke Tebuireng, Sinta Nuriyah Tahlilan dan Tabur Bunga

Tampak mendampinginya KH Lukman Hakiem, serta KH Choliq Kariem atau Gus Hakam yang juga pengurus di pesantren legendaris tersebut. Dan sejumlah pasukan pengamanan presiden (Paspampres) dan Polisi Militer yang mengawal kunjungannya.

Kawit An Nur Slawi

"Tidak biasanya beliau dikawal seketat ini," kata Teuku Azwani, salah seorang pengurus pesantren. Demikian juga, tidak ada pemberitahuan sebelumnya dari rombongan kepada pesantren, lanjutnya. ?

Kawit An Nur Slawi

Dengan dipimpin Gus Hakam, Ibu Sinta terlihat khusyuk membacakan kalimat tahlil. Sejumlah rombongan yang juga mengiringi turut larut dalam tahlilan ini. "Usai tahlil, Bu Sinta menaburkan bunga di pusara Gus Dur yang dilanjut ke Kiai Wahid Hasyim dan Hadratus Syaikh," kata Azwani.

Usai acara tabur bunga, salah seorang rombongan menandaskan bahwa bulan Desember merupakan waktu yang istimewa bagi Ibu Sinta. "Desember merupakan bulan penting dalam konteks mengenang Gus Dur," tandas Aan Anshori yang menemaninnya di area pemakaman. Dia berharap spirit perjuangan Gus Dur bisa diteruskan generasi berikutnya, lanjut Aan yang juga aktivis Gusdurian ini.

Dari makam, Sinta masih menyempatkan silaturahim ke rumah Gus Hakam karena istrinya sedang sakit. Setelah itu, ia meneruskan perjalanan ke bandara Juanda Surabaya karena ada acara lain di Jakarta. (Syaifullah/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaSantri, IMNU Kawit An Nur Slawi

Sambut HUT RI, GP Ansor Depok Kuatkan Komitmen Kader terhadap NKRI

Depok, Kawit An Nur Slawi

Dalam rangka menyambut peringatan hari ulang tahun (HUT) RI ke-71, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Depok, Jawa Barat, membekali kader dengan penguatan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sambut HUT RI, GP Ansor Depok Kuatkan Komitmen Kader terhadap NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut HUT RI, GP Ansor Depok Kuatkan Komitmen Kader terhadap NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut HUT RI, GP Ansor Depok Kuatkan Komitmen Kader terhadap NKRI

Ketua GP Ansor Kota Depok Abdul Kodir menjelaskan, melalui Pelatihan Kepemimpinan Dasar, sebanyak 50 pengurus dan anggota di Kecamatan Beji dibekali degan materi ke-NU-an, Aswaja, penguatan ideologi NKRI melalui wawasan kebangsaan, bela negara, ideologi Pancasila dan lainnya.

"Kita bekali dengan penguatan ideologi kenegaraan untuk menangkal ideologi baru yang masuk. Bagi kita NKRI sudah final dan harga mati. Ini juga bagian dari refleksi menyambut kemerdekaan RI pada 17 Agustus, " ujarnya seusai acara di Pesantren Mutiara Bangsa, Kukusan, Beji, Ahad (14/8).

Kawit An Nur Slawi

Kodir menegaskan, dengan masuknya paham radikal, ekstremis yang saat ini masuk ke Indonesia dan gencar di masyarakat menjadi ancaman bagi Negara. Untuk itu, lanjutnya, pihaknya membentengi dengan wawasan kenegaraan dan Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

Kawit An Nur Slawi

"Ini bagian dari penanaman nilai Aswaja, pemahaman? tentang menjaga keutuhan NKRI serta penguatan ideologi? kenegaraan untuk menangkal paham radikal dam ekstrem. Sekarang? ini kan bukan perang fisik lagi, tapi model yang lain. Untuk itu, kita perkuat kader dengan pembekalan dan pelatihan. Dengan ber-Ansor ya sama? dengan bernegara, menjaga NU sama saja membela Negara," paparnya.

Pihaknya menggelar kegiatan tersebut bagian dari roadshow di 11 Kecamatan dan untuk Beji merupakan kecamatan ke-5. Setiap Ahad menggelar kegiatan serupa dengan keliling di tiap Kecamatan. Sebagai Narasumber dari Wasekjen PP GP Ansor Yudistira, KH Syihabudin Ahmad dan lainnya.? "Kita ingin munculkan kader andal, memiliki pemahaman utuh tentang? Aswaja, jauh dari paham radikalisme dan? tumbuhnya cinta tanah air. Kita juga ingin, merdeka dari keterjajahan ekonomi, budaya, sosial dan bisa mandiri, " harapnya. (Aan Humaidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Khutbah, Ulama, Pesantren Kawit An Nur Slawi

Ternyata Olahraga sebagian dari Iman

Pada buku “Dongeng Enteng ti Pasantren,” Rahmatullah Ading Afandie atau biasa disingkat RAF menceritakan bagaimana pentingnya olahraga. Tidak main-main, menurut dia, berdasarkan ucapan ajengan (istilah kiai di Sunda), menyebut olahraga sebagai bagian dari iman. ?





Ternyata Olahraga sebagian dari Iman (Sumber Gambar : Nu Online)
Ternyata Olahraga sebagian dari Iman (Sumber Gambar : Nu Online)

Ternyata Olahraga sebagian dari Iman

"Ari olahraga teh, eta sabagian tina iman. Ku Gusti Allah urang teh dipaparin badan. Tah eta badan teh ku urang kudu diriksa, sangkan sehat. Salian ti ku dahar, ngariksa badan teh kudu ku olah-raga, sangkan sehat." (halaman 45). (Olahraga itu sebagian dari iman. Allah telah memberi kita badan. Pemberian itu harus dijaga supaya sehat. Selain dengan makan, badan harus dijaga dengan olahraga agar sehat).

Makanya pada buku tersebut dikisahkan, ajengan turut serta dalam permainan sepak bola bersama santrinya. Ia memakai sarung yang digulung lebih atas dari biasanya sehingga kelihatan celana sontognya (celana) yang panjangnya sampai ke betis, biasa digunakan di pesantren-pesantren Sunda.

Pernah aejengan tersebut bermain sepak bola. Pada sebuah insiden, ia tersungkur hingga ke pinggir lapangan oleh pemain lawan, yaitu santrinya sendiri. Ajengan sampai menderita sakit beberapa hari.?

Kawit An Nur Slawi

Santri yang melakukan tindakan itu dimarahi santri senior. Bahkan isteri ajengan sampai mendatangi santri tersebut dan memarahinya. Lalu bola milik santri itu disitanya. Ajengan juga sempat marah kepada pelaku.?

Kawit An Nur Slawi

Tapi beberapa hari kemudian, Ajengan meminta maaf kepada pelaku. Menurutnya, dia dan santri itu sama-sama pemain di lapangan. Dan itulah risikonya ketika bermain sepak bola. (halaman 44)





“Malah basa tas ngaji, Ajengan kungsi mundut hampura ka Si Atok. Saurna, ‘Atok hampura ana, harita make ngambek, padahal ana oge nyaho, yen anta harita teu ngahaja ngadupak ana.’" (Selepas mengaji, Ajengan meminta maaf kepada Si Atok (santri yang menjatuhkannya saat bermain sepak bola). Ajengan berkata, ‘Mohon maaf ya, waktu itu saya sempat marah. Padahal saya tahu, kamu tidak sengaja melakukannya).”

Dari peristiwa itu, RAF menilai seorang ajengan itu sportif.?

Tentang olahraga, menurut ajengan tersebut bermanfaat dalam dua hal. “Saur Ajengan keneh, ari maen-bal teh saenyana mah, ngalatih lahir jeung batin. Lahirna atuh badan jadi sehat, batinna atuh pikiran jadi cageur. (halaman 45).

Menurut RAF, pikiran ajengan semacam itu seperti perkataan ahli-ahli olahraga modern. Hanya berbeda kalimat dan cara menyampaikan sementara maksudnya adalah "mens sana in corpore sano" (jiwa yang sehat berada pada badan yang sehat). (halaman 45).

Padahal ajengan tersebut, sebagaimana dikisahkan pada bagian buku tersebut tidak mengenyam perguruan tinggi. RAF menjelaskan profil ajengan seperti berikut:?

“Ajengan tidak pernah sekolah, tak pernah mendapat didikan universitas. Tapi aku yakin, ajengan yang tinggal di kampung itu orang pintar, orang yang otodidak. Caranya dia mengajar, meski dia tidak mendapatkannya dari buku, tapi mudah dimengerti. Meski sering membentak, tapi disegani santri-santrinya. Malahan jadi payung bagi orang-orang kampungnya. Penemuannya asli, bukan dari buku orang lain. Meski begitu, tetap dalam dan mengandung kebenaran. Luas pemikirannya, luhur penemuannya. Singkatnya, bukan orang mentah. Tidak banyak sekarang juga aku menemukan orang seperti ajengan. Pedoman dia, “Tafakur sejam, lebih berguna daripada shalat berjumpalitan enam puluh hari tanpa tafakur.” (halaman 8).

Sekadar diketahui, buku “Dongeng Enteng dar Pesantren” merupakan kumpulan cerpen yang ditulis Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis.?

Buku tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, buku tersebut merupakan cerpen otobiografis dan dapat digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang.?

Pada tahun 1976, RAF muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong. (Abdullah Alawi)

? ?

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Syariah, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Senin, 30 Oktober 2017

Santri Qothrotul Falah Luncurkan Buku Perdananya

Lebak, Kawit An Nur Slawi. Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur, Lebak, Banten yang tergabung dalam Halqah Santri Triple Ing Community (Triping.Com) meluncurkan buku perdananya, Selasa (13/5), di Masjid Agung al-A’raf Rangkasbitung, Lebak.

Santri Qothrotul Falah Luncurkan Buku Perdananya (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Qothrotul Falah Luncurkan Buku Perdananya (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Qothrotul Falah Luncurkan Buku Perdananya

Hadir sebagai peserta, antara lain, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah, KH. Achmad Syatibi Hambali, unsur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Lebak, unsur kepala SMP/MTs/SMA/MA Kab. Lebak, OKP, perwakilan pesantren, para santri, pelajar dan sebagainya.

Buku bunga rampai yang diberi judul Renungan Santri: Esai-esai Seputar Problematika Remaja ini ditulis oleh 14 santri Kelas XI dan XII SMA Qothrotul Falah. Buku yang diterbitkan pada April 2014 ini menjadi produk kedua Pustaka Qi Falah, setelah sebelumnya pada 2013 diterbitkan buku Konsultasi Maya: 40 Tanya Jawab Agama karya Pimpinan Pondok Pesantren Qothrotul Falah.

Kawit An Nur Slawi

Dalam sambutannya, pihak penerbit Pustaka Qi Falah menyatakan, pada masa kini pesantren melebarkan sayap dakwahnya. “Jika selama ini pesantren hanya berdakwah melalui mimbar, kini harus mulai melebarkan sayap dengan berdakwah melalui lembar dan layar. Lembar maksudnya dengan membuat karya buku dan layar melalui film,” jelas Pemimpin Pustaka Qi Falah, Nurul H. Maarif.

Hal sama disampaikan Pimpinan Pesantren Qothrotul Falah, KH. Achmad Syatibi Hambali. Menurutnya, santri-santri harus memiliki kemampuan yang baik dalam bidang tulis-menulis. “Saya memang nggak bisa menulis. Tapi anak-anak saya, para santri, tentu saja tidak boleh seperti saya. Mereka harus pandai menulis, sehingga ilmunya bisa tersebar lebih luas lagi,” ujarnya.

Kawit An Nur Slawi

Di dalam buku ini, para santri belia ini mencoba memotret realitas sosial yang terjadi di kalangan mereka sendiri. “Persoalan utama yang menjadi sorotan adalah perilaku negatif di kalangan remaja,” ujar M. Eman Sulaeman, santri yang menulis artikel Hantu Narkoba.

Misalnya, mereka mencoba menyoroti perilaku berpacaran secara bebas, berbusana yang tidak sesuai kaidah agama, perilaku konsumtif narkoba, penurunan relijiusitas, kekerasan atau tawuran, merokok, dan sebagainya. “Ini fakta yang ada. Insya Allah kami tidak hanya mengritisi persoalan itu, namun mencoba mencari solusinya,” ujar Hayatun Nufus, santri yang menulis artikel Penurunan Relijiusitas Remaja.

Kehadiran buku ini diharapkan akan menjadi pemicu bagi kreatifitas santri khususnya dan remaja umumnya untuk lebih giat lagi dalam belajar dan menulis. Masa remaja adalah masa yang terlalu sayang untuk disia-siakan begitu saja. “Saya rela kesempatan hura-hura di masa muda saya hilang untuk tujuan meraih masa depan yang terbaik,” ujar Cahyati, santri yang menulis artikel Mendekati Ilahi Melalui Seni.

Inilah sedikit sumbangsih aktivis Tripleng Ing Community (Triping.Com) untuk rekan-rekan remajanya. Triple Ing itu sendiri kependekan dari reading, writing dan speaking. “Ini forum kecil yang anggotanya diwajibkan untuk membaca, menulis dan berbicara. Tentu saja dengan keuletan ilmiah dan referensi yang memadai,” jelas Pembina Triple Ing Communitu, Nurul H. Maarif.

“Melalui forum ini, kami ingin membibit santri yang intelek dalam arti sesungguhnya,” sambungnya. (Nurul Huda/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Fragmen, Hadits Kawit An Nur Slawi

Kemenag Dorong Islam Indonesia sebagai Kiblat Kajian Islam Dunia.

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Kementerian Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam menyelenggarakan Student Mobility Program (SM-PRO) Tahun 2015. Sebanyak 27 mahasiswa terbaik sudah terpilih dan akan diberangkatkan ke Australia pada Kamis (17/12).

Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin meminta ? peserta SM-PRO 2015 dapat menjadi agen yang mengabarkan potensi Islam Indonesia ke Australia dan negara manapun di dunia.?

Kemenag Dorong Islam Indonesia sebagai Kiblat Kajian Islam Dunia. (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Dorong Islam Indonesia sebagai Kiblat Kajian Islam Dunia. (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Dorong Islam Indonesia sebagai Kiblat Kajian Islam Dunia.

“Student Mobility Program ini dapat menjadi saluran penting bagi aktivitas kemahasiswaan yang positif di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam,” tegas Dirjen saat bertemu peserta Predeparture Orientation ? SM-PRO 2015 yang dilaksanakan Subdit Kelembagaan Direktorat Diktis, di Denpasar, Rabu (16/12) sebagaimana dikutip dari klaman kemenag.go.id.

Kawit An Nur Slawi

Dalam arahannya Guru Besar hadits UIN Alaudddin Makassar itu kembali menekankan pentingnya Islam Indonesia sebagai kiblat kajian Islam dunia. Menurutnya, ada banyak alasan kenapa dunia harus belajar Islam ke Indonesia. Pertama, Indonesia adalah the most moslem countries in the world. Kedua, Islam Indonesia dikenal moderat dan demokratis, damai, dan menghargai perbedaan (diversity).?

Kawit An Nur Slawi

“Islam dan demokrasi bertemu, compatible,” terangnya.?

“Ketiga, Indonesia memiliki modal sosial-kultural yang banyak, antara lain lembaga pendidikan Islam yang jenis dan jumlahnya terbanyak di dunia,” tambahnya bersemangat.

Kamaruddin Amin mengapresiasi pelaksanaan SM-PRO dan menilai program rintisan ini penting untuk dilanjutkan sebagai salah satu program unggulan Ditjen Pendis. ? Direktorat Diktis telah melakukan seleksi yang sangat ketat terhadap 2000 lebih calon pendaftar SM-PRO 2015. Dari jumlah tersebut, setelah dilakukan wawancara kemampuan bahasa dan akademik, diperoleh 27 mahasiswa terbaik yang hari ini ikut Predeparture.?

Menurut Mastuki, penanggung jawab kegiatan sekaligus Kasubdit Kelembagaan Diktis, 27 orang mahasiswa S1 ini akan mengikuti student camp and leadership training serta cultural benchmark di Perth, Australia selama 8 hari.

“Ada yang menarik bahwa peserta SMPRO 2015 ini adalah mahasiswa S1 dari perguruan tinggi Islam dengan jurusan/prodi yang beragam. Ada yang jurusan tafsir/hadits, tarbiyah, dakwah, hubungan internasional, dan pendidikan Bahasa Inggris. Artinya, kemampuan Bahasa Inggris dan akademik merata di seluruh program studi dan jurusan di PTKI. Apalagi di antara peserta ada yang hafidz Al-Qur’an 30 juz, pinter bahasa Arab, dan talenta lainnya,” papar Mastuki di sela-sela Predeparture yang dilaksanakan di Hotel Eden Kuta Bali.

Peserta yang mengikuti SM-PRO 2015 berasal dari berbagai PTKI negeri dan swasta. Tersebar dari Aceh, Makassar, Watampone, Bandung, Medan, Palembang, Jakarta, Jogja, Surabaya, Malang dan Semarang. Mereka take off ke Perth kamis sore, (16/12) dan langsung menuju Curtin University untuk mengikuti berbagai kegiatan sampai 23 Desember 2015. Pendamping kegiatan ini dihandle oleh Jarot Wahyudi (UIN Jogja) dan Yeni Ratnayuningsih (UIN Jakarta). Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hikmah, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Minggu, 29 Oktober 2017

Atraksi Silat dan Barongsai Pukau Pelepasan Siswa MTs Ma’arif NU

Blitar, Kawit An Nur Slawi?

Kesenian barongsai,mewarnai suasana pelepasan MTs Ma’arif NU Udanawu,Blitar. Acara berlangsung Sabtu (21/5) pagi di halaman Kampus MTs Ma’arif di Jl. KH Zaid 100 Udanawu.

Kesenian khas Tionghoa itu disajikan oleh para siswa MTs milik NU itu yang tergabung dalam tim Pencak Silat Porsigal (Pendidikan Olah Raga Silat Indah Garuda Loncat).

Atraksi Silat dan Barongsai Pukau Pelepasan Siswa MTs Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Atraksi Silat dan Barongsai Pukau Pelepasan Siswa MTs Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Atraksi Silat dan Barongsai Pukau Pelepasan Siswa MTs Ma’arif NU

Atraksi tersebut menarik decak kagum undangan yang hadir pada wisuda 261 siswa-siswi tersebut. Apalagi diramu dengan teknik-teknik jurus pencak silat yang rapi,handal, dan bermutu oleh 22 siswa yang sudah mahir dalam bela diri tersebut.

“Memang tahun ini kita tambah dengan atraksi barongsai agar penampilan tim beladiri lebih atraktif lagi,“ ungkap Fafik Nurul Huda salah satu guru di MTs Ma’arif Udanawu.

Kawit An Nur Slawi

Menurut ? Fafik,di sekolahannya memang beberapa kegiatan diajarkan, mulai dari jami’atul quro, drum band, pencak silat, wushu, drama, pramuka, puisi, rebana, orkes, band, dan kursus-kursus bahasa. ? Semua kegiatan itu setiap pelepasan siswa ditampilkan siswa mewakili kegiatan mereka.?

“Makanya dalam acara tadi, semua kegiatan ditampilkan,“ katanya.

Kepala Sekolah MTs Ma’arif Mohammad Haidar Mirza pada kesempatan itu juga mengatakan bahwa setiap moment khusus beberapa kegiatan siswanya pasti ditampilkan. Misalnya ketika acara pelepasan siswa, peringatan Maulid Nabi, pawai tahun baru Hijriah dan lainnya.?

Kawit An Nur Slawi

“Nampaknya kegiatan ekstrakurikuler ini yang banyak di minati siswa.Khususnya drum band dan pencak silat,“ kata Haidar Mirza.

Ia menjelaskan, bahwa siswa MTs Ma’arif yang dilepas tadi ada 261 siswa dari 872 siswa yang ada. Tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya seluruh siswa kelas 9 lulus 100 persen.

Alhamdulillah seluruh siswa kelas 9 tetap lulus 100 persen,“ ungkap guru lulusan Pondok Pesantren Gontor itu.

Haidar juga menjelaskan,bahwa sekolahnya akan terus mempertahankan tradisi dan kegiatan yang sudah berjalan. Hal itu dilakukan guna menambah minat dan bakat siswanya.

”Selain kegiatan belajar mengajar harian, pendidikan ekstrakurikuler yang bisa menunjang ketrampilan siswa akan kami pertahankan,” tambahnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Blitar,H Moh. Zamrodji ? juga ikut memberikan tausiah pada kesempatan itu. Ia juga sangat menyanjung tampilan para siswa tersebut. ?

“Kami sangat bangga dengan para siswa. Selain mendalami ilmu agama, mereka juga aktif belajar dan menekuni kegiatan ekstra sehingga bisa tampil dengan baik saat ini dan menjadi juara dimana-mana,” katanya.

Menurutnya kader NU ke depan harus memiliki banyak kreatifitas sehingga tidak kuper dan ketinggalan jaman. Anak-anak NU harus terus maju. Lulus MTs saja tidak cukup. Harus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi.?

”Sekolah ke mana saja boleh. Asal jangan ninggalkan sekolah agama, ” jelasnya. (Imam Kusnin Ahmad/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kiai Kawit An Nur Slawi

Inilah Juara Kompetisi Film Pendek Dokumenter NU

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Rapat Dewan Juri Kompetisi Film Pendek Dokumenter Muktamar NU ke-33 2015 di kantor PBNU (23/7) memutuskan tiga pemeneng dari 15 judul film yang masuk nominasi. Ke-15 nominator itu diperas dari 69 judul film yang mengikuti kompetisi.

Rapat dihadiri Beby Hasibuan (anggota Dewan Juri), Bowo Leksono (anggota Dewan Juri), dan Nurman Hakim (anggota Dewan Juri), dan panitia penyelenggara Hamzah Sahal, Dimas Jayasrana, dan Ragil Priyo Atmojo. Rapat memutuskan bahwa tiga film berhak memenangi hadiah total 45 juta. Berikut ini pemenangnya.

Inilah Juara Kompetisi Film Pendek Dokumenter NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Juara Kompetisi Film Pendek Dokumenter NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Juara Kompetisi Film Pendek Dokumenter NU

Film Bulan Sabit di Kampung Naga karya sutradara M. Iskandar Tri Gunawan menjadi juara pertama dan berhak menerima hadiah 20 juta. Film berdurasi 19 menit 52 detik ini diproduksi tahun 2015. Film ini mengungkap Islam pembawa misi rahmatan lil ‘alamin, bukan hanya ‘rahmatan lil muslimin’. Semangat menjadi rahmat bagi semesta alam ini bisa mewujud di lingkungan Pondok Pesantren Kauman yang terletak di Pecinan kota Lasem-Rembang. Interaksi multikultur yang berlangsung lama ini telah membangun kesadaran akan pentingnya dialog antarpihak.

Kawit An Nur Slawi

Untuk juara kedua dengan hadiah 15 juta juri memilih film berjudul Dalae sutradara Arziqi Mahlil & Munzir dari Aceh. Film ini menceritakan pemuda di desa berusaha melestarikan yang tumbuh dan berkembang Dalail di Aceh. Sebaliknya dengan pemuda kota.

Kawit An Nur Slawi

Sementara itu film berjudul Al Ghoriib besutan Sutradara Vedy Santoso diputuskan sebagai pemenang ketiga. Film berdurasi 29 menit 10 detik tahun produksi 2015 berhak mendapatkan Rp 10 juta. Film ini mengisahkan Dr. Katrin Bandel, mualaf asal Jerman yang memilih dan menjalani kehidupan nyantri di Pondok.

Hamzah Sahal, koordinator tim kreatif Muktamar ke-33 NU, mengatakan dewan juri memilih tiga film di atas sebagai juara karena cukup menarik secara ide, cukup matang dalam eksekusi gagasan, cukup dalam teknis penyajian.

“Dan tak kalah pentingnya adalah mampu menghadirkan ‘Islam Nusantara’ dalam karyanya. Ttiga karya tersebut cukup mewakili nilai-nilai yang ingin kita syiarkan ke khalayak ramai,” terang Hamzah Sahal.

Sementara itu, salah satu anggota juri Nurman Hakim, mengungkapkan rasa puasnya atas kompetisi ini. Kompetisi ini, kata Nurman, dari segi materi cukup beragam dan mengerti subjek yang diceritakan.

“Secara umum, 15 judul film nominator dari 69 film peserta kompetisi memuaskan dewan juri. Idenya segar, menjangkau daerah-daerah yang selama ini minim terungkap dalam film. Dan saya senang lagi karena banyak dari kaum santri usia muda yang ikut kompetisi ini,” jelas Nurman yang alumni pesantren Futuhiyah-Mranggen, Demak, Jawa Tengah.

Dimas Jayasrasa yang mengelola kompetisi film ini menambahkan, NU dan pesantren, hampir dibilang tidak ada dalam peta perfilman Indonesia. Dengan kompetisi ini, kata Dimas, NU masuk peta. “Jika ini dilakukan secara istiqomah, NU akan punya kontribusi besar dalam dinamika seni dan budaya, khususnya sinematografi,” tambah Dimas. (Red:Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi RMI NU, Lomba, Humor Islam Kawit An Nur Slawi

Kunjungi PBNU, Syeikh Kaftaro Tawarkan Beasiswa

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Syeikh Salahuddin Ahmad Kaftaro, Ketua Perguruan Syekh Ahmad Kaftaro di Damaskus dalam kunjungannya ke PBNU menawarkan sejumlah beasiswa bagi para nahdliyyin untuk belajar di Suriah.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menjelaskan sejauh ini memang belum ditentukan jurusan apa yang nantinya dapat dimasuki berapa banyak mahasiswa yang nantinya akan dikirimkan.

Kunjungi PBNU, Syeikh Kaftaro Tawarkan Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi PBNU, Syeikh Kaftaro Tawarkan Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi PBNU, Syeikh Kaftaro Tawarkan Beasiswa

Sebelumnya PBNU telah mengirimkan 13 orang mahasiswa untuk belajar di Damascus University dan Perguruan Kaftaro. Mereka berangkat akhir tahun lalu. Meskipun negeri tersebut rawan konflik, minat mahasiswa dari kalangan NU Indonesia untuk belajar disana cukup besar. Sejumlah anak kiai pemilik pesantren menjadi bagian dari rombongan mahasiswa tersebut.

Masalah lain yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah mengenai ajaran Islam transnasional yang telah menglobal dan menimbulkan pengaruh dimana-mana. Jika tidak diwaspadai, gerakan tersebut bisa menimbulkan dampak negatif karena tidak seusai dengan kultur setempat.

Kunjungan Syeikh Kaftaro ke Indonesia untuk menghadiri konferensi ulama untuk rekonsiliasi sunni-syiah di Irak. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Irak, para ulama di Suriah memiliki peran yang besar dalam menciptakan perdamaian disana. (mkf)

Kawit An Nur Slawi



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Makam, Budaya, Santri Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 28 Oktober 2017

Gus Mus Minta Rakyat Maafkan Koruptor yang Insyaf

Temanggung, Kawit An Nur Slawi. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatul Tholibien Rembang KH Mustofa Bisri (Gus Mus) mengajak rakyat untuk memaafkan pejabat yang insyaf dan mengakui telah melakukan korupsi serta secara terbuka berani meminta maaf.

"Kalau ada pejabat yang korupsi, berani mengakui melalui pers bahwa dirinya telah menggunakan uang rakyat untuk diri sendiri, maka saya akan mengajak kyai seluruh Indonesia untuk mengajak seluruh rakyat memberikan maaf kepada pejabat itu," katanya di Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (26/4), saat Pengajian Akbar "Doa untuk Negeri dan Taubat Nasional".

Ia meminta rakyat mengikhlaskan uang yang telah dikorupsi pejabat yang mau berani mengakui perbuatannya itu. Sikap seperti ini, katanya, demi masa depan kehidupan Bangsa Indonesia yang lebih baik.

Gus Mus Minta Rakyat Maafkan Koruptor yang Insyaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Minta Rakyat Maafkan Koruptor yang Insyaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Minta Rakyat Maafkan Koruptor yang Insyaf

Ia mencontohkan, jika pejabat yang korupsi Rp10 miliar sudah berani mengakui bahwa uang rakyat sebesar lima miliar rupiah telah dikembalikan ke kas negara dan sisanya telah digunakan untuk kepentingan sendiri dan keluarganya maka pejabat itu patut mendapat maaf dari rakyat.

Ajakan tersebut disampaikan Mustasyar PBNU itu karena proses peradilan di Indonesia yang sulit untuk menghukum terdakwa koruptor. Gus Mus juga menyatakan pemberantasan tindak pidana korupsi harus dilakukan mulai dari para petinggi.

Kawit An Nur Slawi

"Karena ada kalangan yang tergantung atasannya, kalau atasannya korupsi bawahannya ’nyopet’, kalau atasannya menjarah pabrik bawahannya mencuri toko, kalau atasannya membabati hutan bawahannya mencuri kayu hutan," katanya di hadapan ribuan massa di Alun-Alun Kota Temanggung, di antara Gunung Sumbing dengan Sindoro itu.

Pada kesempatan itu ia juga mengatakan bahwa pemimpin yang baik tidak hanya melayani kelompoknya tetapi melayani seluruh masyarakat.(ant/win)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Humor Islam Kawit An Nur Slawi

Stan Pameran Silatnas Ayo Mondok Mirip Masjid Jinggo ala Tiongkok

Pasuruan, Kawit An Nur Slawi - Bentuk stan pameran pada acara Silaturrahim Nasional (Silatnas) Gerakan Ayo Mondok 2016 yang diinisiasi PP Rabithah Maahid Islamiyah NU kali ini terlihat mirip dengan masjid Jinggo yang bergaya Tiongkok. Di atas bangunan stan terlihat tulisan berlafal “Allah”. Silatnas sendiri berlokasi di area Taman Chandra Wilwatikta Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jumat-Ahad (13-15/5).

Ketua panitia lokal KH Ahmad Taufik (Gus Taufik) mengatakan, "Itu temanya Masjid Jinggo, salah masjid Pandaan yang dibangun oleh Pemkab Pasuruan.”

Stan Pameran Silatnas Ayo Mondok Mirip Masjid Jinggo ala Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)
Stan Pameran Silatnas Ayo Mondok Mirip Masjid Jinggo ala Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)

Stan Pameran Silatnas Ayo Mondok Mirip Masjid Jinggo ala Tiongkok

Pemkab Pasuruan beberapa tahun lalu membangun masjid dengan arsitektur bergaya China, karena untuk mengabadikan penyebaran Islam di tanah Jawa melalui berapa jinggo yang pernah datang ke Pasuruan. “karena pasukannya, orang-orang pernah ikut memperkuat Islam di Pasuruan," kata Gus Taufik di sela kegiatan pembukaan diskusi terbatas, Sabtu (14/5) siang.

Kawit An Nur Slawi

Jasa mereka kemudian diabadikan menjadi Masjid Jinggo. Untuk itu pihak panitia mengambil inspirasi pameran itu dari Masjid Jinggo.

Kawit An Nur Slawi

Ia menjelaskan, pameran tersebut diikuti 70 stan yang terdiri atas 50 stan berbagai pegawai kecamatan dan dinas-dinas di Pemkab Pasuruan. Sementara 20 stan lainnya diisi oleh komunitas Nahdlatul Ulama.

"Masjid Jinggo ini merupakan ikon masyarakat Pandaan," terangnya.

Terlihat mulai awal Silatnas dibuka suasana pameran waktu itu ramai didatangi pengunjung dari berbagai daerah yang ingin melihat-lihat atau membeli produk-produk unggulan kreativitas mereka. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hikmah, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Kamis, 26 Oktober 2017

Ramadhan Momen Tingkatkan Kepekaan Sosial

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Bulan Ramadhan bagi kaum muslimin menjadi momen penting. Tak terkecuali para aktivis perempuan yang tergabung dalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Targetnya, momentum Ramadhan ini mampu meningkatkan kepekaan sosial.

Hal tersebut dikatakan Ketua Bidang Agama Kowani, Khalilah, kepada Kawit An Nur Slawi menjelang penutupan ‘Kowani Fair 2017 dan Pasar Murah Pangan’ yang dihelat di gedung SMESCO Jakarta, Ahad (4/6) lalu.

Ramadhan Momen Tingkatkan Kepekaan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Momen Tingkatkan Kepekaan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Momen Tingkatkan Kepekaan Sosial

“Terutama disparitas sosial yang tinggi seperti disampaikan dua narasumber diskusi, yakni Kepala Balitbang Diklat Kemenag, Abdurrahman Mas’ud dan Dirjen Penanganan Fakir Miskin Kemensos, Andi ZA Dulung barusan,” kata aktivis gender yang juga aktif di PP Fatayat NU ini.

Ia menjelaskan, program santunan 300-an anak yatim piatu dan dhuafa yang dikemas dalam acara buka bersama ini sudah dilaksanakan bidang agama Kowani selama dua tahun terakhir. Persisnya selama periode kepengurusan 2014-2019 ini sudah tiga kali Ramadhan.

Kawit An Nur Slawi

“Untuk santunan anak yatim, ada lebih dari dari 300 anak selama empat hari. 50 anak per hari. Nah, sekarang terbanyak, 150 anak. Yang 100 bantuan dari Kowani. Nah, hari ini yang 200 anak itu bantuan Kemensos. Per itemnya 150 ribu. Tentu buat anak-anak ini sangat membantu,” ungkapnya.

Namun gelaran santunan tahun ini berbeda lantaran dibarengkan dengan ‘Kowani Fair’ yang digelar di bulan Ramadhan. “Maka bidang agama Kowani turut serta memeriahkan kegiatan ini dengan cara memindahkan santunan di forum ini. Alhamdulillah para pengurus terketuk hatinya menyalurkan infaq melalui bidang agama,” ujarnya terharu.

?

Ia mengaku program tersebut tepat sasaran karena melibatkan banyak pelaku ekonomi. Sejumlah stand buat UKM-UKM di bawah organisasi binaan Kowani pun dibuka untuk memamerkan produknya kepada masyarakat. Harapannya, produk-produk mereka dapat diterima khalayak dan bisa meningkatkan perekonomian perempuan.

Kawit An Nur Slawi

Khalilah sekilas menceritakan paparan kedua narasumber yang luar biasa. Keduanya memaparkan realitas kehidupan masyarakat perempuan dan tantangannya melalui riset.

?

“Prof Mas’ud mendorong ibu-ibu agar bisa mengakses UU JPH agar produk-produk mereka bisa bersertifikasi halal. Sementara Pak Dirjen menyebut banyak program yang bisa diakses oleh anggota Kowani di Kementerian, tinggal bagaimana program tersebut disinergikan ke depan,” paparnya.

Menurut dia, sinergi tersebut merupakan upaya mempercepat kerja sama pemerintah dengan organisasi masyarakat agar sinergis, sehingga ketimpangan dan kesenjangan sosial yang semakin tinggi bisa teratasi. “Intinya, ini bentuk partisipasi Kowani,” tandas Khalilah.

Kowani, kata dia, memiliki organisasi anggota yang berpartisipasi mengutus anak yatimnya. “Jadi diambil dari Fatayat NU, Wanita PUI, PWKI, Aisiyah, Al-Hidayah, Perwanas, Panca Marga, dan Salimah,” ungkapnya.

Sebagai utusan Fatayat untuk Kowani, selama perhelatan acara yang dihelat empat hari, Kamis-Ahad (1-4/6), Khalilah pun mengundang para penceramah seperti Gus Reza, Ketum PP Fatayat NU Anggia Ermarini, dan Ketua Forum Daiyah (FORDA) Fatayat NU, Dewi Ani Anggraini.

?

“Karena dari Fatayat, untuk setiap acara saya berusaha selalu ada yang mengaji dan membaca sholawat. Itu hal baru di Kowani. Meski waktunya terbatas, diusahakan tetap menggaungkan sholawat,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ubudiyah, Nusantara Kawit An Nur Slawi

Lazisnu Jateng Targetkan 1.000 Kotak ZIS untuk Hamba Allah

Semarang, Kawit An Nur Slawi - Lembaga Amil Zakat, Infaq, Shadaqah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (Lazisnu Jateng) tahun 2016 ini menargetkan bisa menambah 1.000 kotak dalam program fundraising (penghimpunan dana) melalui metode manual. Kotak ZIS yang didesain khusus dari bahan acrylic tranparan, itu akan disebar di Kota Semarang dan sekitarnya sebagai sarana syiar sekaligus menghimpun dana dari masyarakat.

Sampai Februari ini sudah ada 500 kotak ZIS yang disebar dalam program uji coba sejak 2015 lalu. Sekretaris? Lazisnu Jateng Zainuddin Zein mengatakan, penghimpunan dana melalui transfer rekening sudah berjalan sukses, dan akan terus ditingkatkan target penerimaannya. Para donatur melalui jalur rekening ini tercatat nama dan alamatnya dan bisa diketahui jumlah setorannya.

Lazisnu Jateng Targetkan 1.000 Kotak ZIS untuk Hamba Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lazisnu Jateng Targetkan 1.000 Kotak ZIS untuk Hamba Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lazisnu Jateng Targetkan 1.000 Kotak ZIS untuk Hamba Allah

Sedangkan masyarakat banyak yang ingin zakat atau beramal tanpa tercatat. Mereka menyumbang tanpa memberitahu identitasnya. Baik orang NU sendiri, orang yang simpati pada NU, atau orang yang percaya kepada NU dan menitipkan uangnya. Keberadaan kotak Lazisnu menjadi penting dan harus terus ditingkatkan jumlah dan persebarannya.

Kawit An Nur Slawi

"Menghimpun zakat, infaq dan shadaqah melalui kotak itu penting dan harus ditingkatkan. Karena kotak itu untuk syiar dan menampung dana dari orang yang ingin menyumbang tanpa diketahui identitasnya," tuturnya saat mengisi Diklat Kaderisasi Amil Zakat yang digelar lembaganya di gedung PWNU Jateng, Jl Dr Cipto Mangunkusumo 180 Semarang, Ahad (14/2).

Kawit An Nur Slawi

Diklat diikuti 20 orang yang telah lolos seleksi, dari 25 pendaftar, terutama dari para mahasiswa. Dalam acara yang dibuka Ketua PWNU Jateng Abu Hapsin dan diberi pengarahkan oleh Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh tersebut, Ketua Lazisnu Jateng H Muhammad Mahsun menjelaskan, peserta diklat akan dijadikan duta zakat untuk menyukseskan program penyebaran seribu kotak ZIS tersebut. Hasilnya akan dievaluasi dalam dua bulan setelah program dijalankan.

"Anda adalah Duta Zakat Jawa Tengah. Tenaga-tenaga muda yang masih fresh seperti Anda, akan langsung terjun action di lapangan. Targetnya adalah mendistribusikan 1000 kotak dan mengontrolnya di tahun ini," paparnya.

Ketua Panitia Diklat M Kholidul Adib menambahkan, diklat tersebut berisi materi yang sifatnya praktis, untuk langsung dilaksanakan di lapangan. Tugas pertama untuk mereka adalah menjemput zakat di tempat para muzaki baik muzaki individu maupun kelembagaan.

Abu Hapsin mengharapkan Lazisnu mengelola dengan serius untuk menghimpun dana dari masyarakat, khususnya dari warga NU untuk disalurkan kepada para mustahiq. Tujuannya jelas, membantu mengentaskan kemiskinan dan pengangguran di Jawa Tengah. (Ichwan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaSantri Kawit An Nur Slawi

Rabu, 25 Oktober 2017

GP Ansor Pringsewu Santuni Yatim di Pesantren Madarijul Ulum

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Pengurus harian GP Ansor Pringsewu sukses menggelar roadshow Hari Santri di pesantren Al-Hidayah Keputran kecamatan Sukoharjo. Kini mereka kembali menggelar roadshow ke-2 di pesantren Madarijul Ulum, Pujodadi kecamatan Pardasuka, Jumat (23/10) sore. Di putaran kedua ini, mereka fokus pada program santunan.

GP Ansor Pringsewu Santuni Yatim di Pesantren Madarijul Ulum (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pringsewu Santuni Yatim di Pesantren Madarijul Ulum (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pringsewu Santuni Yatim di Pesantren Madarijul Ulum

"Masih dalam rangka memperingati dan memeriahkan Hari Santri, sesuai agenda kami, sore ini giliran kecamatan Pardasuka. Jika kemarin ada Donor Darah Santri, pada roadshow ke-2 ini kami fokuskan pada santunan anak yatim dan pemberian bingkisan untuk santri," kata Wakil Ketua GP Ansor Pringsewu M Fathul Arifin.

Sementara untuk kegiatan Donor Darah Santri tidak dapat dilakukan di pesantren Madarijul Ulum ini, karena dari tim Dinas Kesehatan Pringsewu berhalangan hadir. Untuk itu mereka juga mohon maaf kepada seluruh santri di sini.

Kawit An Nur Slawi

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Sekretaris GP Ansor Pringsewu Henudin yang ikut mendampingi dalam kegiatan tersebut.

"Memang seharusnya ada Donor Darah, tetapi kami menggantinya dengan pemberian bingkisan untuk santri, dan mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi mereka," jelas Henudin.

Kawit An Nur Slawi

Pada perjalanan berikutnya kami akan mengadakan kegiatan serupa di Ambarawa pada Sabtu (24/10). “Kami sedang mengupayakan agar tim Dinkes besok bisa hadir sehingga kegiatan Donor Darah Santri dapat dilakukan," imbuhnya.

Pengasuh pesantren Madarijul Ulum KH Santibi mengungkapkan terima kasih dan mendukung penuh kegiatan seperti ini kendati kegiatan donor darah tidak jadi digelar di pesantrennya ini.

"Saya sangat berterima kasih kepada GP Ansor Pringsewu yang telah menyelenggarakan kegiatan ini di pesantren Madarijul Ulum, mudah-mudahan kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan dan bisa bermanfaat bagi umat," tambahnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Makam, Hikmah Kawit An Nur Slawi

Berkah Ramadhan, 33 TKI via Damaskus Dipulangkan ke Indonesia

Jakarta, Kawit An Nur Slawi - Kedutaan Besar Republik Indonesia di Damaskus melakukan pemulangan (repatriasi) WNI/TKI gelombang ke-275 terhadap 33 (tiga puluh tiga) orang WNI/TKW ke Indonesia via Bandara Beirut, Libanon, Kamis (9/6). Para TKW yang direpatriasi tersebut sebagian besar berasal dari Jawa Barat. Sisanya berasal dari Jateng, Jatim, dan NTB.

Mereka berhasil dipulangkan setelah segala permasalahan dan hak-haknya dengan majikan diselesaikan. Repatriasi kali ini didampingi oleh Staf KBRI Damaskus Amiruddin Thamrin.

Berkah Ramadhan, 33 TKI via Damaskus Dipulangkan ke Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkah Ramadhan, 33 TKI via Damaskus Dipulangkan ke Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkah Ramadhan, 33 TKI via Damaskus Dipulangkan ke Indonesia

Dengan keberangkatan sebanyak 33 WNI/TKW ini, saat ini di shelter KBRI Damaskus masih terdapat 21 WNI yang diduga kuat korban perdagangan manusia.

Kawit An Nur Slawi

Duta Besar RI di Damaskus Djoko Harjanto menegaskan bahwa pemulangan atau repatriasi WNI ini merupakan program yang telah berlangsung sejak tahun 2011. Repatriasi dilakukan karena situasi keamanan di Suriah masih sangat mengkhawatirkan dan tidak mungkin memperpanjang kontrak kerja mereka.

Program pemulangan ini juga dilakukan karena pemerintah RI mengambil kebijakan berupa penghentian secara permanen pengiriman tenaga kerja untuk sektor perorangan ke seluruh negara di Timur Tengah.

Sementara Pejabat Protokol Konsuler sekaligus Pejabat Ekonomi Makhya Suminar menambahkan bahwa sebanyak lima dari 33 WNI/TKW yang dipulangkan ini diduga kuat adalah korban perdagangan orang (TPPO) yang dikirim pascamoratorium penghentian penempatan TKI ke Suriah pada tahun 2011. Indikasi utamanya adalah tidak adanya perjanjian kerja atau kontrak kerja, yang antara lain harus menyebutkan negara tujuan, besarnya gaji, dan masa berlakunya kontrak/perjanjian kerja.

Kawit An Nur Slawi

“Dengan keberkahan bulan Ramadhan mudah-mudahan segala urusan repatriasi WNI/TKW berjalan lancar dan diharapkan tidak ada lagi masuknya TKW illegal ke Suriah, sehingga program repatriasi ini dapat segera selesai,” ujar Makhya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Berita, Sejarah, Habib Kawit An Nur Slawi

Selasa, 24 Oktober 2017

Kampret, Antum!

Di beranda mesjid itu, Budi dan Yamin duduk sambil memandang taman yang terhalang pagar kawat setinggi orang dewasa. Masjid sudah sepi karena Ashar memang hampir berakhir.

Tak biasanya, di taman, sore itu sepi. Mungkin karena sebelumnya hujan mengguyur kota kecil itu sehingga orang-orang malas keluar. Hanya pohon-pohon cemara dan palem tampak basah, tanah basah, bunga-bunga dan rerumputan basah. Dan jalanan tembok yang membelah taman kelihatan licin. Bangku-bangku tembok kelihatan lengang dan basah.  

Kampret, Antum! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kampret, Antum! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kampret, Antum!

Tapi kemudian taman didatangi beberapa anak sekolah yang malas pulang. Tak jelas apa yang mereka lakukan. Mereka duduk-duduk di bangku taman. Di bangku lain, beralaskan koran, duduk seorang pria dengan seorang perempuan. Keduanya duduk berdekatan, bersinggungan tanpa jarak. Mereka masih muda, yang laki kira-kira berumur 25 tahun dan perempuan lebih muda tiga tahun.

Kawit An Nur Slawi

Sementara di sebrang taman, sebuah bus melaju tersendat-sendat, kemudian berhenti di depan sebuah halte dimana berjajar para calon penumpang. Kemudian pengemis, pengamen, pedagang asongan berlari berlomba masuk bus, barangkali ada rezeki tersisa yang bisa mereka kais. Kondektur merengut, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Angkot ngetem di depan halte, merayu penumpang yang tersisa. Beberapa tukang becak lewat, mengayuh bersimbah keringat. Pengemis melintas terseok-seok meiminta sedekah kepada penghuni halte yang terkantuk-kantuk.

Kawit An Nur Slawi

“Coba Antum lihat kedua orang itu!” kata Yamin sambil menunjuk ke satu arah.

“Yang mana?” tanya Budi.

“Tuh… di bangku taman itu.”

Ternyata telunjuk itu mengarah kepada pria dan perempuan yang duduk tanpa jarak itu.

“Oh, iya. Orang yang lagi pacaran itu?”

Yamin mengangguk.

“Antum ingat petuah ustad Abu Yusuf pada halaqah kemarin?”

“Iya. Memangnya kenapa?”

“Kata ustad Abu Yusuf, pacaran itu tidak ada dalam Islam. Yang ada itu khitbah dan menikah. Pacaran itu haaa…ram hukumnya,” kata Yamin memberi tekanan pada pada kata haram.

Yamin sudah lama mengikuti halaqah-halaqah yang sering diadakan di masjid itu. Sedangkan Budi baru dua kali. Yaminlah yang mengajaknya. Dan Budi tertarik.

Mendengar kata-kata Yamin, Budi mengangguk-angguk, sambil menunggu kata-kata temannya itu.

“Di halaqah beberapa waktu lalu, ustad Abu Yusuf pernah mengutip hadis Nabi yang artinya kira-kira begini, “Jika kamu melihat kemunkaran, hentikanlah dengan tanganmu. Kalau kamu tak mampu dengan tanganmu, lakukanlah dengan lisanmu. Kalau kamu tak mampu dengan kedua itu, lakukanlah dengan hatimu. Dan yang terakhir itu adalah selemah-lemahnya iman…”

Budi kembali mengangguk-angguk. Dia mendapat pelajaran baru. Tapi dalam benaknya, berpikir keras kemana arah yang dimaksudkan Yamin dengan apa yang ditunjuknya.

Yamin masih memandang dua orang di taman itu dengan tatapan jengah. Keduanya kelihatan mulai berpegangan tangan. Kepala perempuan itu menyender ke pundak laki-laki. Sesekali mereka kelihatan tertawa lepas. Yamin hanya menggeleng kepala.

“Kalau Antum kira-kira termasuk dalam golongan mana, Bud?”

“Maksud Antum? Ana kurang paham.”

“Pacaran itu kan haram.”

“Ya. Kalau itu, ana paham.”

“Sedangkan Antum mendengar hadis Nabi yang ana bacakan tadi.”

Budi mengangguk-angguk. Tapi kelihatan mukanya masih mengisyaratkan ketidakmengertian.

“Lebih jelasnya begini, pacaran itu tidak ada dalam Islam. Berarti pacaran itu haram. Yang haram itu munkar. Ada hadis Nabi tadi yang kalau kita melihat kemunkaran di hadapan mata kita, kita harus mencegahnya. Pertama, dengan tangan, maksud dengan tangan, ya menghentikan mereka berpacaran. Yang kedua, menghentikan dengan ucapan atau menasihati. Dan yang ketiga, kita inkar dalam hati atau mendoakan supaya mereka mendapat hidayah dari Allah. Tapi itu selemah-lemahnya iman. Antum tergolong orang yang kuat iman atau yang lemah iman?”

Budi mulai mengerti sekarang. Ia tersenyum. Tapi sebentar, karena darahnya menggelegak di dada. Tangannya tia-tiba saja gatal. Dan bibirnya terasa bergerak-gerak hendak berkata.

“Ana orang yang imannya kuat,” kata Budi dengan semangat.

Yamin sumringah. Kepalanya mengangguk-angguk.

“Nah, sekarang Antum buktikan kata-kata Antum itu! Ana akan mendampingimu.”

Lalu bangkitlah kedua orang itu. Bajunya yang putih berkibar-kibar dihembus angin senja yang lembab. Celananya yang tidak sampai ke mata kaki ikut berkibar. Mereka hendak mencegah kemunkaran di hadapan mereka. Anak jalanan yang pontang-panting mengejar bus yang akan meratapkan suaranya, tukang asongan yang yang berlari, tukang becak bersimbah keringat, pengemis yang tertatih-tatih, kemacetan lalu lintas, dan senja yang berhias pelangi tak jadi perhatian keduanya.

“Mas, Mbak, eh…assalamua’laikum,” kata Budi hampir lupa mengucapkan salam yang sekarang biasa ia ucapkan ketika bertemu dan berpisah dengan siapa pun. mungkin karena dia terlalu fokus untuk membuktikan kadar imannya yang kuat.

“Waalaikumsalam,” kata dua orang itu hampir berbarengan, tapi suara yang perempuan hampir tidak kedengaran. Keduanya kelihatan terperengah karena di hadapan mereka telah berdiri dua orang yang sama sekali tidak dikenal. Tangan mereka yang sedang berpegangan itu terlepas seketika.

“Mas ini muslim kan?”

“Ya.”

“Dan Mbak berjilbab ini muslimah kan?”

“I…iya,” kata perempuan itu tergagap. Dia mungkin heran kerudung yang dipakainya ternyata tidak menjadi bukti bagi kedua orang di hadapannya, bahwa dia muslimah.

“Mas, Mbak,…” kata Budi masih tetap sambil berdiri. Sementara laki-laki dan perempuan itu masih duduk melongo, “pacaran itu tidak ada dalam Islam. Yang ada itu hanyalah khitbah dan menikah. Berarti pacaran itu ha…ram hukumnya. Mas, Mbak tahu kan, sesuatu yang haram itu, kalau dikerjakan mendapat siksa, kalau ditinggalkan mendapatkan pahala. Siksa itu di neraka yang abadi dan pahala di surga yang abadi. Mas dan Mbak ini mau surga atau neraka?” tanya Budi dengan lancar.

Jakun yang menempel di tenggorokan pria itu sekarang kelihatan bergerak-gerak seperti katak yang hendak meloncat. Bibirnya bergetar. Ia seperti  mau berkata, tapi tak sempat karena orang di hadapannya kembali bicara.

“Ya, kalau begini caranya Mas dan Mbak ini hendak menginginkan neraka. Ya, kan?” kata Budi sambil melirik ke Yamin.

Yamin tersenyum tenang sambil mengangguk.

Muka pria di samping perempuan itu sekarang seperti kepiting rebus. Telinganya semerah cabai. Katak di tenggorokannya benar-benar hendak meloncat. Dia berdiri. Perempuan yang masih terduduk itu meraih tangannya, tapi ia menepis tanpa menoleh.

“Kampret, Antum…! Siapa yang pacaran? Ngomong soal neraka dan sorga lagi. Emangnya sorga dan neraka milik Embahmu? Ini isteri gua tahu…! Mau apa lu, Kampret…!”

 

ABDULLAH ALAWI, Sukabumi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Tegal Kawit An Nur Slawi

Senin, 23 Oktober 2017

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi

Kunjungan Raja Saudi Arabia Salman bin Abdul Aziz mendapat perhatian luar biasa. Jarang-jarang lawatan sebuah kepala negara mendapat perhatian yang sangat luas dari masyarakat. Persiapan yang istimewa dilakukan untuk kenyamanan Sang Raja. Lift Masjid Istiqlal dipasang baru, demikian juga toiletnya. Di DPR beraneka-ragam bunga didatangkan agar gedung wakil rakyat ini tampak indah dalam menyambut khadimul haramain. Televisi melakukan siaran langsung acara kenegaraan yang dihadiri sang Raja sedangkan media cetak atau daring mengupas berbagai sisi, baik hubungan Indonesia dan Saudi Arabia dari masa ke masa atau tentang figur Raja Salman dan keluarganya.?

Pemerintah berharap kunjungan tersebut tidak sebatas seremoni. Ada harapan lebih besar agar terjalin hubungan yang lebih erat dan kerja sama ekonomi yang menguntungkan kedua belah pihak. Perdagangan Indonesia dengan Saudi cukup erat, terutama terkait dengan impor minyak mengingat Indonesia saat ini sudah mengimpor bersih untuk memenuhi kebutuhan minyak buminya. Total ekspor Indonesia ke Arab Saudi mencapai 1,33 miliar dolar sedangkan impor kita mencapai 2,73 miliar dolar. 2,02 miliarnya berupa produk minyak. Publik, melalui analisis terhadap konten yang diperbincangkan di media sosial, publik menginginkan hubungan yang lebih erat mengingat dua negara ini penduduknya mayoritas Muslim. Apalagi di Arab Saudi terdapat Masjidil Haram dan Masjid Madinah, dua tempat yang paling dihormati umat Islam. Sebagai saudara yang diberkahi kekayaan dari sononya, tanpa perlu bekerja keras, Saudi diharapkan memberi bantuan maksimal atas saudara sesama Muslim yang tidak seberuntung dia. ?

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Kekecewaan Jokowi pada Raja Saudi

Sayangnya, harapan terhadap kerja sama yang lebih erat ini kurang membawa hasil. Presiden ? Joko Widodo dalam sambutannya di Pesantren Buntet Cirebon (13/4) secara terbuka menyatakan kekecewaannya atas komitmen investasi Saudi Arabia yang hanya sebesar Rp89 triliun (US$6 miliar), sementara China mendapatkan kucuran dana sebesar Rp870 triliun (US$65 miliar) bahkan Malaysia yang negaranya lebih kecil dari Indonesia mendapat lebih banyak, yaitu sebesar Rp 92,8 triliun atau setara dengan US$7 miliar.

Banyak di antara Muslim Indonesia tampaknya terbuai dengan Saudi Arabia karena sentimen keislaman. Seolah-olah Saudi akan membawa sesuatu yang sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia, sementara di sisi lain, mereka menyatakan ketidaknyamanan dengan China karena stigma ideologi yang dianut oleh negeri tersebut, dan karena penguasaan ekonomi Indonesia oleh etnis Tionghoa yang dari sisi jumlah adalah minoritas.

Lho, ternyata Saudi lebih memilih menanamkan uangnya kepada China daripada Indonesia yang sesama Muslim. Inilah yang tak banyak disadari oleh sebagian Muslim Indonesia yang menempatkan Saudi sebagai patron, sebagai bentuk ideal dalam berislam. Bahwa membantu sesama Muslim adalah di atas segalanya. Faktanya, dana-dana petrodolar yang mereka miliki lebih banyak diinvestasikan di negara-negara Barat daripada negara Muslim.

Saudi berpikir pragmatis dalam melakukan investasi, di mana dana tersebut. Kurang ada kesadaran untuk melakukan kebijakan afirmatif untuk mendukung sesama negara Muslim, sementara di sisi lain ingin disebut sebagai pemimpin bagi negara-negara Muslim. Perilaku yang sama juga dilakukan negara-negara Timur Tengah terhadap dana-dana minyak yang mereka miliki terhadap kebijakan investasinya. Pada rentang 2010-2015, nilai investasi negeri yang dipimpin oleh dinasti Saudi itu hanya US$34 juta atau hanyaa 0,02 persen dari total investasi asing yang mengalir ke Indonesia selama kurun waktu lima tahun itu. Pada 2016, realisasi investasi hanya US$900.000 atau sekitar Rp11,9 miliar.

Kawit An Nur Slawi

Jika pendekatannya adalah pragmatis bahwa uang tidak memiliki agama, Indonesia juga tidak bisa mengharapkan kucuran investasi karena sentimen sebagai sesama Muslim. Indonesia harus memperbaiki iklim investasinya, hambatan-hambatan terhadap investasi seperti korupsi yang masih menggurita, birokrasi yang bertele-tele, infrastruktur yang masih belum memadai, dan hal-hal lain harus diperhatikan. Dengan demikian, siapa saja akan datang karena adanya potensi keuntungan yang akan diperoleh.?

Kita memang gampang terbuai dengan kata-kata indah yang menggugah emosi kita. Sejarah perjalanan bangsa telah membuktikan, dahulu kita mendukung Jepang masuk ke Nusantara karena mereka memakai sentimen sebagai saudara tua. Faktanya, penjajahan yang hanya berlangsung selama tiga setengah tahun ini menimbulkan penderitaan yang tak terkira. Indonesia, jika ingin maju, tidak bisa mengharapkan negara atau bangsa lain untuk menolong. Kita yang harus memacu diri kita sendiri untuk memperbaiki apa yang kurang. Kita, berhubungan dengan bangsa lain dalam posisi yang setara, bukan menghamba. Bahkan kalau bisa, menolong negara-negara lain yang selama ini kurang berdaya. Dan itu hanya bisa dicapai jika kita kuat, kita berdaya, dan kita memiliki sesuatu yang bisa menjadi nilai tawar kepada bangsa lain. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Quote Kawit An Nur Slawi

Curah Hujan Tinggi, GP Ansor Jawa Barat Minta Seluruh Kader Siaga

Bandung, Kawit An Nur Slawi - GP Ansor Jabar meminta segenap kepengurusan di tingkat cabang, anak cabang, dan ranting GP Ansor untuk meningkatkan kewaspadaanatas kemungkinan bencana alam mengingat curah hujan yang tinggi belakangan ini. GP Ansor Jabar meminta mereka untuk mengadakan komunikasi dan koordinasi intensif.

GP Ansor Jabar melihat sebagian besar daerah di Jawa Barat memiliki potensi rawan bencana, baik banjir, longsor, maupun angin puting beliung.

Curah Hujan Tinggi, GP Ansor Jawa Barat Minta Seluruh Kader Siaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Curah Hujan Tinggi, GP Ansor Jawa Barat Minta Seluruh Kader Siaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Curah Hujan Tinggi, GP Ansor Jawa Barat Minta Seluruh Kader Siaga

Berdasarkan data Badan Geologi pada beberapa waktu lalu, dari 174 bencana gerakan tanah di Indonesia pada 2016, sebanyak 87 kasus terjadi di Jawa Barat. Berbagai kejadian bencana yang terjadi di musim penghujan seringkali mengakibatkan kerugian yang sangat besar baik materi bahkan korban nyawa manusia.

Pada beberapa daerah di Jawa Barat bencana sudah mulai menghampiri seperti banjir di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bekasi, dan Karawang. Demikian pula beberapa titik longsor terjadi di Kabupaten Bandung Barat.

Kawit An Nur Slawi

GP Ansor Jawa Barat memerintahkan seluruh kader untuk siaga atas kemungkinan terjadinya bencana alam di daerahnya masing-masing. Mereka meminta kader Ansor di Jabar menjalin silaturahmi dan koordinasi dengan segenap komponen masyarakat dan pemerintah setempat dalam rangka mengantisipasi kemingkinan terjadinya bencana alam.

Kawit An Nur Slawi

Kader Ansor di Jabar diminta terlibat aktif untuk selalu menjaga dan merawat lingkungan dengan baik seperti membersihkan kotoran sampah, melakukan reboisasai dan konservasi, tidak melakukan perusakan terhadap alam. Sebab memelihara lingkungan hidup merupakan perintah suci agama Islam.

kader Ansor juga diimbau untuk terlibat dalam penangananan bencana alam di daerah masing-masing baik perbaikan infrastruktur layanan publik maupun evakuasi korban bencana.

GP Ansor Jabar meminta pengurus Ansor meningkatkan kegiatan majelis dzikir Rijalul Ansor pada semua tingkatan untuk berdzikir, shalawat, dan bermunajat kepada Allah SWT, memohon lindungan dan keselamatan.

GP Ansor Jabar mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum terkait untuk serius menegakkan hukum lingkungan hidup secara tegas dan konsekuen. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Daerah Kawit An Nur Slawi

Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari

Mendung menggantung di atas langit Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Masih pagi, matahari masih belum di tempat tertingginya, tapi jalan menuju makam terkenal, makam Syekh Arsyad Al-Banjari sudah ramai dikunjungi peziarah.

Mungkin karena hari Sabtu, maka banyak pengunjung dari luar kota -setidaknya itu yang terlihat dari sejumlah plat kendaraan yang beriringan bersama kami menuju makam.

Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari

Makam terletak di Desa Kalampaian, sekitar 35 menit berkendara angkot dari pasar Martapura. Menuju makam mesti melewati jalan kecil tidak terlalu lebar, peminta dan pedagang bunga untuk peziarah. Sepanjang jalan juga akan berpapasan dengan perkampungan, kebun limau dan “pehumaan”—sebutan lain bagi hamparan sawah.

Saat hidup, Mohammad Arsyad adalah ulama berpengaruh tak hanya di Kalimantan, namun juga di Asia Tenggara.

Kawit An Nur Slawi

Ihya’ul Mawat : Revolusi Agama dan Pangan

Kawit An Nur Slawi

Setelah 35 tahun belajar di Makkah dan Madinah, sekembalinya ke Tanah Air di Kalimantan Selatan, Sultan Banjar memberikan lahan yang diubah menjadi pusat pendidikan pesantren. Kini tanah tersebut menjadi kampung yang dikenal sebagai kampung Dalam Pagar. Tak jauh dari dalam pagar, Arsyad bersama-sama warga juga membangun saluran irigasi pertanian yang dikenal sebagai Sungai Tuan.

Konon Sungai Tuan yang kini tumbuh menjadi perkampungan ini dibuat Sang Syekh dengan cara menggoreskan tongkatnya sepanjang 8 kilometer dari hulu ke hilir, karena “karomah” yang melekat padanya, goresan tersebut “maujud” menjadi sungai yang berfungsi sebagai irigasi mengaliri tiap-tiap sawah dan kebun limau warga hingga saat ini.

Sungai Tuan dan Dalam Pagar, saling berdekatan jaraknya, dengan berkendara motor, dapat menyusuri kedua kampung yang saling terhubung satu sama lain ini, lebih mudah.

Inilah konsep “khas” Islam pesantren yang menyatukan kawasan masyarakat dengan kawasan pendidikan Islam. Bukti bahwa ideologi Islam pesantren yang karib dan intim dengan masyarakatnya. Bukti bahwa ulama dan santri adalah anak kandung rakyat, seperti .

Sebagai ulama dan santri yang merupakan anak kandung rakyat Kalimantan, Syekh Mohammad Arsyad Albanjari paham benar tentang problem yang dihadapi sehari-hari oleh rakyatnya. Tak hanya membangun irigasi pertanian, dalam kitab karyanya yang terkenal, “Sabilal Muhtadin” juga memberikan perhatian pada permasalahan ternak dan hasil bumi atau pertanian, bahkan terdapat bab khusus terkait zakat pertanian .

Revolusi agama dan pertanian ini dinamai Syekh Mohammad Arsyad Albanjari dengan gerakan “ihya’ul mawat” , gerakan menghidupkan lahan-lahan yang non-produktif/ lahan terlantar. Kesuksesan gerakan ini melekat, hingga sekarang, kawasan-kawasan ini adalah pemasok utama buah limau di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Ikatan terhadap Tanah & Air

“Rumah kita adalah sekolah pesantren ini dan santri adalah anak-anak kita ”

---Tuan guru Abdurrasyid, Pendiri Madrasah Wathaniyah, Kandangan, 1931--

“Agama tak bisa ditegakkan di ruang hampa tanpa tanah dan air, karena itulah mencintai agama berarti mencintai tanah dan air, kehilangan tanah berarti kehilangan agama dan sejarah”

---KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU, pada lawatan Bulan Februari 2013 di Samarinda—

Karena mencintai agama (Dalam Pagar) lah, para ulama dan santri Syikh Arsyad Albanjari juga mencintai pertanian mereka (Sungai Tuan). Kehilangan lahan pertanian dan pangan berarti juga kehilangan agama. Begitulah kira-kira jika ingin melukiskan hubungan antara perkampungan pesantren Dalam Pagar dan perkampungan pertanian Sungai Tuan, ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Karena mencintai agama sekaligus mencintai Tanah-Air pula, para ulama dan santri yang dipimpin oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, mengeluarkan Resolusi Jihad, agar umat Islam dan kekuatan pesantren melawan dan mengusir Belanda lewat peristiwa heroik 10 november 1945 lampau.

Sebagai anak kandung rakyat Kalimantan, Syekh Arsyad paham betul bagaimana medan perjuangan yang ia sedang hadapi. Ia bahkan diberikan julukan “Tuan Haji Besar” oleh Belanda karena pengetahuan dan pengasaannya yang komplit atas hampir semua disiplin ilmu, salah satunya adalah ilmu falak (Astronomi) dan ilmu hidrologi.

Penguasaannya atas astronomi atau ilmu falak terlihat dari salah satu buku karangannya yang berjudul Kitab Ilmu Falak dan prestasinya dalam membetulkan arah kiblat sebuah masjid di Betawi.

Kemudian penguasaannya atas ilmu hidrologi dapat dijumpai dalam karyanya yang terkenal, Sabilal Muhtadin, sebuah kitab fikih yang 40 persen dari isinya membahas secara rinci tentang air dan hidrologi yang tersebar diberbagai bab .

Pengetahuannya atas air dan hidrologi konon pernah diuji oleh belanda, saat ia bersama Syekh Abdusshomad Al-Palembangi ditangkap selama 3 hari, 3 malam oleh Belanda di Batavia, karena gerak gerik yang mencurigakan . Syekh Arsyad terbukti mampu menghitung kedalaman air sungai bahkan air laut. Pengetahuan ini pula yang ia terapkan dalam pembangunan irigasi pertanian sungai tuan.

Sebagai anak Kalimantan, negeri yang dijuluki sebagai negeri seribu sungai, menjadi latar belakang pemikiran “ekologi” Syekh Arsyad Albanjari yang menyebabkan pembahasan dan pengetahuannya mengenai air dan hidrologi sebegitu dalamnya dan menjadi perhatiannya dalam kitab Sabilal Muhtadin.

Karena kecintaannya pada tanah dan air, aktivitas ber”huma” atau bertani memiliki nilai ibadah, ikatan dan perlakuan atas tanah bukan semata fungsi ekonomis guna memenuhi kebutuhan makan dan minum melalui ladang dan sawah, akan tetapi juga fungsi spiritual dan bernilai ibadah.

Tasawuf dan Tantangan Kapitalisme Pertambangan di Kalimantan

Kini 70 persen dari 3,7 Juta luas Provinsi Kalimantan Selatan telah dikapling oleh Pertambangan Batubara, JATAM dan Walhi kalsel mencatat bahwa otonomi daerah membawa dampak buruk, salah satunya adalah obral perizinan tambang oleh pemerintah setingkat kabupaten dan kota akibat dari desentralisasi kewenangan. Kapitalisme dengan bentuk maskapai modal, perusahaan pertambangan kini semakin mudah melakukan negosiasi langsung dengan pemerintah daerah dan masyarakat, Walhi dan JATAM mencatat ada 625 ijin usaha pertambangan? kini dibumi Kalimantan Selatan.? ? ?

Masyarakat terbagi dua, yang pro dengan jual-beli tanah oleh perusahaan dan yang kontra jual-beli lahan. Pragmatisme menjalar cepat pada masyarakat, ikatan sosial menipis, konflik lahan atau konflik agraria merebak pada kampung-kampung dengan kawasan perkebunan dan pertambangan, bahkan konflik terjadi antar keluarga sendiri.

Pragmatisme membuat ikatan masyarakat mudah menjual tanah atau lahannya, ikatan atas tanah memudar drastis, hubungan terhadap tanah hanya sebagai hubungan ekonomis, seperti yang disabdakan kapitalisme.

Bumi Kalimantan memang tak bisa dipisahkan dari daya tarik sumber daya alamnya, seperti batubara. Jauh sebelum saat ini, kapitalisme yang bercokol dalam bentuk kolonialisme dan imperialisme VOC – Belanda sudah pernah datang beberapa dekade yang lampau.

Di Kalimantan Selatan, belanda melalui gubernurnya di Kalimantan, Neuwenhuyzen berhasil menjalankan politik adu domba (devide et impera) di Kesultanan Banjar, Mereka berhasil “memprovokasi” Sultan Tamjidullah untuk mendapatkan kekuasaan secara tidak sah dan memberikan konsesi pertambangan batubara pertama dalam sejarah Kalimantan, yaitu pertambangan batubara oranje nassau di pengaron dekat martapura . ?

Sejak interaksi pertamanya dengan Belanda di Batavia, Syekh Mohammad Arsyad Albanjari paham benar taktik belanda yang menggunakan “godaan materi dan kekuasaan”, selain karena ia dan sahabat karibnya Abdusshomad al-Palembangi yang memilih melanjutkan dan menambah belajar tasawuf pada mursyid terkenal Syekh Samman Almadani di Madinah, 5 tahun lagi setelah 30 tahun sebelumnya belajar di Kota Mekkah.

Tasawuf-lah yang membuat pandangan ulama Kalimantan ini menjadi anti-kolonial, dalam sebuah catatan, bahkan sahabat Arsyad Albanjari, Abdusshomad Al-Palembangi disebut sebagai yang paling anti-kolonial dengan menulis sebuah tulisan berjudul ; Nashihatul Muslimin wa Tadzkiratul Mukminin fi Fadha’il Jihad wa Karamatul Mujahidin Fisabilillah, sebuah naskah tentang pentingnya jihad melawan kolonialisme asing .

Mereka berdua ini adalah murid langsung dari Syekh Samman al Madani, sumber utama gerakan Tharekat Sammaniyah yang “masyhur” dikenal sebagai tarekat yang menginspirasi berbagai gerakan perlawanan atas kolonialisme Belanda di Nusantara . ?

Berkembangnya Tarekat Sammaniyah di Kalimantan Selatan berkaitan dengan pengisian mental pejuang dalam melawan penjajah. Seperti juga yang ditemukan di Banten melalui Nawawi al Bantani yang hidup satu abad sesudah Abdusshomad Al-Palembangi, Nawawi sempat berguru kepada murid-murid Abdusshomad al Palembangi? ? di Sulawesi Selatan tarekat ini dikenal dengan nama Tharekat Khalwatiyah Salman.

Di Banjar, Kalimantan Selatan, ada dua tokoh yang disebut-sebut bagian dari “jaringan” tarekat ini yaitu Muhammad Nafis AlBanjari dan Syaikh Muhammad Arsyad Albanjari.

Nafis AlBanjari—walaupun tidak langsung berguru dengan Syekh Samman, namun ia mengarang kitab yang sangat berkaitan dengan konsep Sammaniyah, berjudul Ad Durrun Nafis .

Tahun 1998 dulu, Tuan Guru Zaini Abdul Ghani yang biasa dikenal sebagai Guru IJAI menyelenggarakan haulan Syekh Samman yang ke 230 di kampung kelahiran Syekh Arsyad AlBanjari. Haulan dimulai dengan shalat maghrib, maulud, manakib, qasidah, tahlilan dan doa, saat itu sempat dilantunkan lima kasidah Syekh Samman selama 50 menit di selenggarakan di kompleks pengajian Musholla Ar-Raudhah, Sekumpul, Martapura, Kalimantan Selatan.

Ada sebuah konsep penting yang diajarkan oleh guru-guru pesantren yang ajarannya bersumber dari Syekh Arsyad Albanjari dan dari konsep tasawuf, yaitu ; “Alim dulu hanyar sugih”, “menjadi alim dulu baru menjadi kaya”,--ini adalah konsep meletakkan materi atau capital dibawah pengetahuan agama. Konsep ini relevan saat ini ketika laju “pragmatisme” melalui godaan menjual tanah dan lahan pada kepentingan asing atau Kapitalisme.

Karena kini banyak kawasan pertanian dan pangan yang direbut oleh pertambangan batubara, begitu juga di Kalimantan, menghancurkan lahan pertanian berarti juga menghancurkan “ideologi pesantren” yang sudah lama memilih pertanian sebagai “ideologi ekonominya”. ?

MERAH JOHANSYAH ISMAIL, adalah anggota Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSDA) Dan Pengkampanye Nasional Energi, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM).

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Cerita, Nahdlatul Ulama Kawit An Nur Slawi

Minggu, 22 Oktober 2017

Salafi Libya Hancurkan Makam Suci Tokoh Sufi

Zlitan, Kawit An Nur Slawi. Kelompok konservatif meledakkan satu makam tokoh Sufi Abad Ke-15 dan membakar satu perpustakaan di Kota Zlitan, Libya, kata seorang pejabat militer, Sabtu (25/8).



Salafi Libya Hancurkan Makam Suci Tokoh Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)
Salafi Libya Hancurkan Makam Suci Tokoh Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)

Salafi Libya Hancurkan Makam Suci Tokoh Sufi

Serangan paling akhir terhadap berbagai tempat yang dicap sebagai musyrik di wilayah tersebut oleh sebagian kelompok.

Para penyerang, Jumat (24/8), menggunakan bom dan buldozer untuk menghancurkan kompleks yang dipandang suci yang meliputi makam Abdel Salam al-Asmar dan memusnahkan ribuan buku di Perpustakaan Masjid Asmari, kata beberapa saksi mata dan pejabat Dewan Militer Zlitan Omar Ali.

Kawit An Nur Slawi

Kubu fanatik, banyak di antara mereka jadi berani karena aksi perlawanan Arab Spring, telah mengincar sejumlah tempat milik masyarakat Sufi di Libya, Mesir dan Mali dalam satu tahun belakangan.

Kawit An Nur Slawi

Serangan tersebut juga telah mengingatkan orang mengenai peledakan pada 2001 oleh Taliban terhadap patung Buddha di Bamiyan, Afghanistan tengah.

Serangan Jumat terjadi setelah dua hari bentrokan antara faksi suku di Zlitan, yang menewaskan dua orang dan melukai 18 orang lagi, demikian perhitungan Dewan Militer.

"Kaum Salafi memanfaatkan kenyataan bahwa pejabat keamanan sedang sibuk meredakan bentrokan dan mereka menghancurkan tempat suci," kata Ali kepada Reuters, Ahad pagi. Ia merujuk kepada kelompok konservatif yang memandang banyak tempat suci kaum Sufi sebagai musyrik.

Redaktur : Mukafi Niam

Sumber   : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Berita, Warta Kawit An Nur Slawi

Perkuat Organisasi, IPPNU- IPNU Yogya “Turba”

Yogyakarta, Kawit An Nur Slawi. Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dan PW Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Daerah Istimewa Yogyakarta memperkuat organisasi dengan silaturahim ke Pimpinan Cabang atau tingkat kabupaten.

Perkuat Organisasi, IPPNU- IPNU Yogya “Turba” (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Organisasi, IPPNU- IPNU Yogya “Turba” (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Organisasi, IPPNU- IPNU Yogya “Turba”

Setelah berhasil melaksanakan silaturahmi dengan program turun ke bawah atau turba ke PC IPNU-IPPNU Kota Yogyakarta, Sleman, serta Gunung Kidul, Pimpinan Wilayah berencana melaksanakan kembali ke Cabang Bantul pada 27 Juli nanti. 

Hal ini disampaikan Maya Rokhanah, salah satu pengurus PW IPPNU DIY di Yogyakarta pada Senin sore (15/7). 

Kawit An Nur Slawi

Ia mengatakan, turba tersebut, sebagaimana yang telah dilakukan, tidak hanya akan dihadiri oleh PW IPNU-IPPNU. Akan tetapi para PC IPNU-IPPNU juga turut hadir. 

Selain untuk mempererat tali silaturahim, turba ini juga dimaksudkan untuk saling sharing seputar pelaksanaan program kerja di PC terkait, kendalanya di lapangan serta jalan keluar dari permasalahan tersebut. 

Kawit An Nur Slawi

“Pertama, kita silaturahim. Terus membantu kesulitan-kesulitan PC melaksanakan programnya, mengetahui program apa yang sedang berlangsung, trus program apa yang akan dilakukan,” ungkap perempuan yang akrab disapa Maya kepada Kawit An Nur Slawi.

Pihaknya juga menuturkan, terkait dengan format acara turba ini sepenuhnya diserahkan pada PC terkait. “Itu tergantung kreatifitas PC masing-masing,” ujarnya. 

Ia menambahkan, setiap PC diberi kebebasan untuk membuat acara turba di PC-nya tampak semenarik mungkin. “Kalau sebelumnya, di PC Sleman, ngadain lomba masak. Kalau PC Kota (Kota Yogyakarta, red.) tahlilan, atau shalawatan gitu,” tandasnya.  

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor: Nur Hasanatul Hafshaniyah 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian, Tokoh Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 21 Oktober 2017

Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila

Bulan Juni adalah bulannya Bung Karno. Sang Proklamator lahir di tanggal 6 Juni dan wafat 21 Juni. 1 Juni juga menjadi Hari Lahir Pancasila, yang ditandai dengan pidato bersejarah Bung Karno di depan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang isinya menjadi cikal-bakal Pancasila.

Di samping itu, bulan Juni 2017 ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, di mana merupakan bulan suci Islam yang pada tanggal 17 Ramadhan menjadi hari diturunkannya Al-Quran (Nuzulul Qur’an). Dalam kalender hijriyah, di bulan Ramadhan ini pula Kemerdekaan RI tercapai, yakni tepatnya 9 Ramadhan 1364 H.

Momentum istimewa bagi Indonesia dan Islam ini dimanfaatkan tokoh muda nahdliyin yang sekaligus Wakil Bupati Trenggalek, Muchamad Nur Arifin untuk me-launching buku baru sekaligus buku perdananya yang berjudul “Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran” diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Arifin merupakan Pengurus Lesbumi PBNU dan Ketua Bidang Kominfo Ansor Jawa Timur.

Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila

Dalam bukunya ini, Arifin mengupas tuntas pemikiran Bung Karno tentang nilai-nilai dasar ideologi keindonesiaan. Namun berbeda dengan buku tentang Bung Karno yang lainnya, buku ini menggunakan perspektif tafsir Al Quran. Secara khusus buku ini memotret pemikiran Bung Karno tentang kebangsaan dan keislaman dalam bingkai ayat-ayat Al Quran. Ini kekhasan yang jarang kita temukan dalam buku-buku tentang pemikiran Bung Karno yang lainnya.

Buku ini dengan tegas menampilkan sosok Bung Karno yang nasionalis sekaligus religius. Pada diri dan pemikiran Bung Karno terkonvergensi keindonesiaan sekaligus keislaman. Bagi Bung Karno, bertuhan itu sekaligus berindonesia, dan berindonesia itu sekaligus berislam. Jadi, tak ada pengkotak-kotakan atas semua itu. Semuanya bersinergi membentuk sebuah filosofi, visi, dan nilai-nilai bersama. Semua nilai itu tercakup dalam Pancasila.

Kawit An Nur Slawi

?

Oleh karena itu, menurut Prof. Mahfud M.D, buku ini penting untuk menjelaskan kepada publik tentang keislaman gagasan-gagasan Bung Karno. “Sebab masih banyak yang salah paham seakan-akan Bung Karno adalah tokoh yang sangat sekular yang tak peduli pada agama. Padahal, pandangan dan langkah-langkahnya sangat agamis,” tuturnya.

Buku ini hadir pada saat yang tepat: saat keislaman dan keindonesiaan dipertentangkan, Pancasila versus Khilafah. Di tengah maraknya kalangan hingga ormas muslim radikal yang mempertentangkan Pancasila dan Islam sembari menawarkan gagasan khilafah atau syariat Islam bagi negeri ini.?

Buku ini menyuntikkan kembali kesadaran tentang betapa berharganya nilai-nilai kebangsaan dan keislaman kita. Bahwa semua itu sudah tuntas dirumuskan oleh para founding fathers kita. Tak ada lagi dikotomi antara Indonesia dan Islam. Keduanya lebur, sinergis, sekaligus beyond, seperti yang bisa kita lihat pada figur Bung Karno.

Kawit An Nur Slawi

?

Oleh karena itu, komentar Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, “buku ini lahir pada waktu yang tepat untuk menjelaskan kepada rakyat Indonesia bahwa asas-asas bangsa ini, terutama Pancasila selaras dan koheren dengan pesan-pesan Al-Quran dan nilai-nilai Islam.”

Dalam satu subbab khusus, buku ini juga mengupas tentang titik temu Bung Karno dan Nahdlatul Ulama (NU): ijtihad kebangsaan Bung Karno bertemu dengan ijtihad keislaman NU di “terminal” bernama Pancasila. Sesuatu yang disebut oleh penulis buku ini sebagai sinergi yang apik: tokoh besar nasionalis bertemu dengan ormas besar religius dalam sebuah gagasan yang menyatukan kedua latar belakangnya tersebut, yakni nasionalisme-religius. Perpaduan yang memberikan kontribusi tak ternilai bagi Indonesia.

Identitas buku:

Judul : Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran

Penulis : Muchamad Nur Arifin

Penerbit : Mizan

Terbit : Juni, 2017

Peresensi: Husen Jafar, peneliti dan esais, mengeloka komunitas @SejarahRI.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Lomba Kawit An Nur Slawi

Lantik Muslimat NU Bulukumba, Majdah Serukan Bahaya Narkoba

Bulukumba, Kawit An Nur Slawi - Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat NU Sulawesi Selatan Majdah Agus Arifin Numang melantik Pengurus Muslimat NU Kabupaten Bulukumba masa khidmah 2016-2021 yang diketuai oleh Hj Kustigawati di Aula Kemenag Bulukumba, Sabtu (19/1). Kegiatan ini dirangkai dengan deklarasi laskar antinarkoba yang diikuti seluruh kader Muslimat NU, kader IPNU Takalar, kader IPPNU, dan badan otonom NU lainnya.

Ketua PCNU Bulukumba Tjamiruddin mengucapkan selamat kepada pengurus Muslimat NU Bulukumba.

Lantik Muslimat NU Bulukumba, Majdah Serukan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Lantik Muslimat NU Bulukumba, Majdah Serukan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Lantik Muslimat NU Bulukumba, Majdah Serukan Bahaya Narkoba

"Kami juga mengingatkan pengurus Muslimat NU untuk senantiasa menyebarkan nilai-nilai Islam Ahusunnah wal Jamaah Annahdliah dan tetap menjadi partner pemerintah dalam melaksanakan program-program pemerintah,” kata Tjamiruddin.

Kepala Kemenag Bulukumba Muh Rasbi mengapresiasi program-program Muslimat NU khususnya dalam rangka memerangi narkoba.

Kawit An Nur Slawi

"Ke depan kami harap Muslimat NU tetap bersinergi dengan Kemenag Bulukumba dan bersama-sama menyebarkan nilai-nilai Islam Rahmatan lil Alamin," tambahnya.

Ketua Muslimat NU Sulsel Majdah Agus Arifin Numang mengatakan, "Kita harus bersatu memerangi narkoba karena saat ini narkoba merupakan salah satu sarana untuk menghancurkan sebuah bangsa dan negara, tidak lagi melalui senjata, tetapi menghancurkan generasinya."

Kawit An Nur Slawi

Tampak hadir Ketua MUI Bulukumba, Dandim Bulukumba, Polres Bulukumba, Ketua DPRD Bulukumba, Para Kepala KUA sekabupaten Bulukumba, pengurus pimpinan anak cabang/ranting, dan ketua badan otonom NU Bulukumba. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Internasional Kawit An Nur Slawi

Jumat, 20 Oktober 2017

Hukum Waris Beda Agama

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Mohon maaf sebelumnya, saya Achmad Ashrofi mahasiswa di UIN Yogyakarta mau tanya mengenai fenomena kewarisan beda agama. Negeri kita yang sangat beragam ini saya kira memunyai potensi untuk terjadinya fenomena seperti ini di dalam sebuah keluarga, terutama bagi saudara-saudari yang memunyai anggota keluarga yang nonmuslim.

Lalu bagaimana solusi NU dari bahtsul masail mengenai kewarisan keluarga semacam ini. Apakah tetap jika anaknya yang berbeda agama tidak mendapat apa-apa karena ada mawaniul waris? Lalu bagaimana jika konsep seperti ini diberi solusi berupa wasiat wajibah seperti yang ada di dalam Kompilasi Hukum Islam dan yang dianut oleh Hukum Keluarga Filiphina, bagaimana menurut NU, bolehkah dengan jalan wasiat wajibah? Mohon sekali jawabannya sebagai perwakilan dari aspirasi NU. Terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ahmad Ashrofi)

Hukum Waris Beda Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Waris Beda Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Waris Beda Agama

Jawaban

Kawit An Nur Slawi

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Setidaknya ada dua hal yang diajukan kepada kami. Pertama menyangkut kewarisan beda agama. Kedua menyangkut wasiat wajibah. Pertama ingin kami tegaskan bahwa apa yang akan kami kemukakan bukanlah pandangan NU secara resmi, tetapi ini merupakan pandangan pribadi penulis.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa salah satu hal yang bisa menghalangi kewarisan adalah perbedaan agama antara pihak yang mewariskan dan ahli waris. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dikatakan.

Kawit An Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Orang muslim tidak bisa wewarisi orang kafir (begitu juga sebaliknya) orang kafir tidak bisa mewarisi  orang muslim,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sampai di sini sebenarnya tidak ada persoalan. Apabila seorang muslim meninggal dunia dan ada ahli warisnya yang nonmuslim, semua ulama sepakat bahwa pihak ahli waris nonmuslim tidak bisa mendapatkan warisan sebab ia berbeda keyakinan.

Lantas, bagaimana jika ahli warisnya adalah muslim misalnya bapaknya kafir sedangkan anaknya muslim. Apakah anaknya itu bisa mendapatkan warisan dari bapaknya? Dengan mengacu pada bunyi hadits di atas mayoritas ulama berpendapat seorang muslim tetap tidak bisa mewarisi harta orang kafir. Ini artinya, jika bapaknya kafir sedang anaknya muslim, si anak tetap tidak bisa mewarisi harta bapaknya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Para ulama telah sepakat bahwa orang kafir tidak bisa mewarisi harta orang muslim. Begitu juga menurut mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi setelahnya berpendapat bahwa orang muslim tidak bisa mewarisi harta orang kafir.”

Pandangan mayoritas ulama yang menyatakan bahwa muslim tidak bisa mewarisi harta nonmuslim mengandaikan ada pandangan dari minoritas ulama yang memperbolehkannya. Menurut keterangan yang dikemukakan Muhyidin Syaraf An-Nawawi, di antara yang memperbolehkan adalah Mu’adz bin Jabal, Mu’awiyah, Sa’id bin Musayyab, dan Masruq. Namun pandangan kelompok ini menurut Imam An-Nawawi bukanlah pandangan yang sahih.

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sekelompok ulama memperbolehkan orang muslim mewarisi harta orang kafir. Ini adalah pandangan Mu`adz bin Jabal, Mu’awiyah, Said bin Musayyab, Masruq, dan lainnya. Begitu juga diriwayatkan dari Abid Darda`, Asy-Sya’bi, Az-Zuhri, An-Nakha’I, dan selainnya yang bertentangan dengan pandangan kelompok ulama yang memperbolehkan orang muslim mewarisi harta orang kafir. Dan yang sahih adalah riwayat mereka sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Mereka (ulama yang membolehkan) berdalil dengan hadits al-islam ya’lu wala yu’la ‘alaih. Sedangkan dalil mayoritas ulama adalah hadits sahih yang sangat jelas (hadits yang kami sebutkan di atas, penerjemah).”

Dalam pandangan Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, hadits al-Islam ya’lu wala yu’la ‘alaih tidak bisa sertamerta dijadikan landasan tentang kebolehan muslim mewarisi harta nonmuslim. Sebab, yang dimaksud hadits tersebut adalah bicara mengenai keunggulan Islam dibanding dengan yang lain, bukan bicara soal kewarisan. Pandangan mereka jelas mengabaikan hadits la yaritsul muslimul kafir. Lantas bagaimana hadits ini bisa diabaikan? Jawaban yang tersedia adalah kemungkinan hadits ini tidak sampai kepada mereka.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Hadits al-Islam ya’lu wala yu’la ‘alaih tidak bisa dijadikan sebagai hujjah (tentang kebolehan muslim mewarisi harta nonmuslim). Sebab yang dimaksudkan hadits tersebut adalah membincang keutamaan Islam dibanding yang lain dan tidak menyinggung soal kewarisan. Lantas bagaimana bisa hadits la yaritsul muslimul kafira diabaikan dalam masalah ini? Bisa jadi hadits ini tidak sampai kepada mereka yang membolehkan.”

Berangkat dari penjelasan di atas, semakin gamlang bahwa perbedaan agama menjadi penghalang mendapatkan harta warisan. Para ulama telah sepakat muslim tidak bisa mewariskan hartanya kepada nonmuslim.

Namun kasus sebaliknya yaitu muslim mewarisi harta nonmuslim, para ulama berbeda pendapat. Menurut mayoritas ulama seorang muslim tidak bisa mewarisi harta nonmuslim. Sedang menurut minoritas ulama diperbolehkan, meskipun pendapat ini dianggap sebagai pendapat yang lemah (marjuh).

Mengenai soal al-washiyyah al-wajibah dalam pandangan kami secara pribadi bisa saja dipertimbangankan sebagai solusi atas persoalan yang ada. Namun hal ini perlu kajian lebih lanjut dari para pakar.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami, orang yang mengalami problem kewarisan beda agama harus menyelesaikannya secara baik-baik. Jangan sampai menimbulkan persoalan besar dalam keluarga. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq

Wassalamu alaikum wr.wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Warta, Meme Islam, RMI NU Kawit An Nur Slawi