Jumat, 28 Desember 2012

LD PBNU Adakan Ngaji Bareng Kang Said

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Pada momen Ramdhan ini, Lembaga Dakwah PBNU berkesempatan mengadakan ngaji bareng dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj atau Kang Said. Kegiatan ini dilaksnakan, Jumat (30/6) lalu di Ma’had Tahfidzul Qur’an Nurani Ciganjur, Jakarta Selatan pimpinan KH Ilyas Marwal.?

LD PBNU Adakan Ngaji Bareng Kang Said (Sumber Gambar : Nu Online)
LD PBNU Adakan Ngaji Bareng Kang Said (Sumber Gambar : Nu Online)

LD PBNU Adakan Ngaji Bareng Kang Said

Dalam kegiatan bertajuk Islam Nusantara, Menebar Rahmat Meneguhkan Tasamuh ini, Sekretaris LD PBNU KH Nurul Yaqin Ishaq berharap bahwa kegiatan ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan, mengembangkan wawasan keagamaan, dan memperkokoh ukhuwah di antara umat muslim.

“Kesempatan ini sangat berharga karena semua hadir bisa berdialog langsung secara terbuka dengan Kang Said, termasuk isu-isu yang berkembang saat ini,” ujar Nurul Yaqin.

Menurutnya, secara umum Kang Said menjelaskan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan persoalan kegamaan seperti aqidah, fiqih, Islam Nusantara, soal kepemimpinan yang adil, manhaj pendidikan NU, sumber amaliyah NU, dan lain sebagainya.

Hadir dalam kesempatan ini di antaranya, pimpinan pondok pesantren dari beberapa daerah, para Asatidz Jabodetabek, FKPP DKI Jakarta, FUHAB Jakarta, tokoh masyarakat dan alim ulama Ciganjur, dan beberapa pengurus LD PBNU. (Fathoni)?

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Santri, Sholawat, Pesantren Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 22 Desember 2012

Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU

Dalam struktur organisasi jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) pernah dikenal adanya Majelis Konsol (baca: konsul). Berbeda dari model kepengurusan Pengurus Wilayah (PW) pada struktural NU saat ini yang diadakan pada sebuah provinsi, Majelis Konsul diadakan pada daerah yang dipandang perlu oleh Pengurus Besar NU untuk didirikan.

Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU (1985) mencatat Majelis Konsul mulai diadakan sejak Muktamar NU ke-12 di Malang tahun 1937: “Pada Muktamar Malang ini juga dibentuk 9 konsul. Kesembilan konsulat itu: Banyumas, Menes, Kudus, Cirebon, Malang, Magelang, Madura, Surabaya dan Pasuruan.”

Dalam AD/PRT (Anggaran Dasar dan? Peraturan Rumah Tangga) NU saat itu disebutkan, fungsi Majelis Konsul salah satunya untuk mempermudah komunikasi antara PB dengan cabang-cabang, baik intruksi dari PBNU ke cabang maupun suara-suara dari cabang yang hendak disampaikan ke PB.

Konsul ini juga bertanggung jawab terhadap perkembangan cabang-cabang yang dibawahinya.

Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU

Sebagai gambaran mengenai Majelis Konsul ini, pada sekitar tahun 1939 menjelang pelaksanaan Muktamar NU? ke-14 di Magelang, terdapat kepengurusan Majelis Konsul NU Daerah Jawa Tengah bagian Selatan yang berkedudukan di Sokaraja, disingkat menjadi Konsul NU Daerah Banyumas.

Konsul NU Banyumas ini mengoordinasi “tjabang-tjabang” antara lain: 1. Banyumas (berkedudukan di Sokaraja), 2. Purwokerto, 3. Purbalingga (Kecamatan Kartanegara), 4. Cilacap (Kawedanan Kroya), 5. Banjarnegara (Kawedanan Mandiraja), 6. Temanggung (Parakan), 7. Purworejo, 8. Kebumen, 9. Wonosobo, 10. Yogyakarta, dan 11. Karanganyar (Kawedanan Pejagoan).

Majelis Konsul ini diisi oleh beberapa pengurus dan dipimpin oleh seorang konsul yang didamping sekretaris dan bendahara konsul. Dalam melaksanakan tugasnya, Majelis Konsul ini juga dibantu oleh Komisaris Daerah yang berada di lingkup sebuah karesidenan.

Kawit An Nur Slawi

Format struktur kedudukan Majelis Konsul ini sempat berubah di zaman pendudukan Jepang, ketika pemimpin saat itu, Saiko Shikikan? (panglima tertinggi), menetapkan Undang-Undang No. 27 tentang Aturan Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 28 tentang Aturan Pemerintahan? Syu? dan? Tokubetsu Syi.

Kawit An Nur Slawi

Bentuk Pemerintahan? Syu? (setingkat Karesidenan pada zaman Pemerintah Hindia Belanda) dan Jawa dibagi menjadi 17 Syu. Pergantian tata pemerintahan ini, juga membuat PBNU mengubah struktur Majelis Konsul, dari semula membawahi di atas tingkat karesidenan, menjadi setingkat karesidenan (Syu). (Ajie Najmuddin)

Sumber terkait:

- Choirul, Anam. 1985. Pertumbuhan dan Perkembangan NU. Jatayu. Solo.

- Aboebakar, Atjeh. 2015. Sejarah Hidup K.H. A. Wahid Hasjim. Pustaka Tebuireng. Jombang.

- Saifuddin, Zuhri. 2013. Berangkat dari Pesantren. LKiS. Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Olahraga Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 15 Desember 2012

Islam: Pengertian Sebuah Penafsiran

Oleh KH Abdurrahman Wahid. --Para santri yakin bahwa kekuasaan menjatuhkan azab dan memberikan pahala atas sebuah perbuatan, berada di tangan Allah Swt. Dalam hal ini, berlaku sebuah adagium yang didasarkan atas kitab suci al-Qur’ân dan Hadits Nabi Saw. Adagium itu berbunyi: “memberikan pengampunan dan menurunkan siksa kepada siapapun adalah otoritas Allah (yaghfiru liman yasya’ wa yu‘adzibu man yasyâ).” Dalam hal ini, kendali atas keadaan sepenuhnya berada di tangan Allah Swt.

Dalam konteks ini pula, sebuah pengertian baru haruslah dipertimbangkan: sampai di manakah peranan negara dalam menjatuhkan hukuman, sebagai salah satu bentuk siksaan. Dapatkah negara atas nama Allah memberikan hukuman sebagai bagian dari siksa di dunia? Sudahkah manusia terbebas dari siksa neraka, jikalau ia telah menjalani hukuman negara? Kalau belum, berarti ada penggandaan (dubbleleren) antara negara sebagai wakil Allah dan kekuasaan Allah sendiri untuk menetapkan hukuman. Bukankah justru hal ini bertentangan dengan hadits Nabi Saw: “Idra’ul hudud bis-syubuhat. (Jangan berlakukan hukum hadd ketika permasalahan tidak jelas).” Dari hadis ini dapat difahami, bahwa hendaknya hakim jangan menjatuhkan hukuman mati jika ia ragu-ragu, benarkah si terdakwa nyata-nyata bersalah? Jelas dari hadits itu pula memberikan pengertian bahwa kekuasaan negara ada batasnya, sedangkan kekuasaan Allah tidak dapat dibatasi.

Islam: Pengertian Sebuah Penafsiran (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam: Pengertian Sebuah Penafsiran (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam: Pengertian Sebuah Penafsiran

Dari pengertian yang sangat sederhana ini, kita sudah dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya tidak dapat sebuah negara disebut sebagai negara Islam, tanpa harus memperkosa hal-hal yang menjadi kewajiban negara secara wajar. Jadi, dalam masalah azab dan pahala pun kita langsung terkait dengan pertanyaan adakah negara agama atau tidak? Jawaban yang salah akan berakibat pada konsep yang salah pula dalam hubungan antara agama dan negara. Hal inilah yang memerlukan perenungan mendalam dari kita dalam menanggapi pendapat bahwa diperlukan sebuah negara Islam, kalau memang diinginkan berdiri negara teokratis itu, bagi bangsa kita yang majemuk.

Kawit An Nur Slawi

***

Memang benar, diperlukan pemikiran yang mendalam tentang konsepsi yang jelas dalam hubungan antara negara dan agama, jika diinginkan keselamatan kita sebagai bangsa yang majemuk terpelihara di kawasan ini. Kalau belum apa-apa kita sudah menyuarakan adanya negara Islam, tanpa adanya konsepsi yang jelas tentang hal itu sendiri, berarti telah dilakukan sebuah perbuatan yang gegabah dan sembrono. Bukankah sikap demikian justru harus dijauhi oleh kaum muslimin dalam mencari hubungan antara agama dan negara? Apalagi jika ditemukan motif-motif lain dalam mendirikan sebuah negara agama, seperti adanya keinginan untuk berkuasa sendiri bagi partai-partai politik Islam, yang melihat bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai “kekalahan” dalam pertarungan politik di tingkat nasional.

Kawit An Nur Slawi

Dengan demikian gagasaan federalisme, yang menganggap gagasan NKRI bertentangan dengan keinginan berbagai propinsi untuk lebih independen dari pemerintah pusat, dapat dinilai sebagai aspirasi-aspirasi separatis. Sebenarnya propinsi hanya menghendaki pengambilan keputusan tentang penerimaan dan pengeluaran uang harus lebih banyak dilakukan di daerah dari pada di pusat. Jadi dengan demikian, yang diingini adalah fungsi federal dari pemerintahan, bukannya separatisme Indonesia untuk menjadi 7 (tujuh) negara atau republik federatif. Kalau ada orang-orang yang menghendaki Indonesia dalam bentuk federatif menjadi tujuh republik, maka pendapat itu adalah merupakan suara minoritas yang sangat kecil, yang tidak perlu mendapatkan perhatian besar.

Cara yang terbaik untuk mengetahui benar tidaknya bahwa yang menghendaki bentuk RI sebagai republik federatif, –yang bertentangan dengan gagasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), adalah suara minoritas yang demikian kecil, dapat diketahui melalui pemilihan umum. Dan jika hal itu dilakukan dengan pengawasan internasional, maka akan menghasilkan mayoritas suara bagi partai-partai politik yang hanya menginginkan perampingan kekuasaan pemerintah pusat, dalam hal penunjukkan kepala daerah oleh DPRD setempat maupun penetapan anggaran penerimaan dan belanja yang berpusat pada daerah, dan bukannya pada pemerintah pusat.

***

Karena ketidakmampuan memahami hal ini, maka para eksponen konsep negara federal sebenarnya harus menjelaskan bahwa gagasan mereka tidak berarti menjadikan RI terkepingkeping menjadi sekian negara yang masing-masing berdaulat. Bahkan negara unitaris seperti Jepang dan Perancis-pun memberikan kedaulatan penuh kepada propinsi/negara bagian untuk melaksanakan pemilihan kepala daerah dan menetapkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) masing- masing. Bahkan kepolisiannya pun ditetapkan dan diatur oleh pemerintah daerah setempat. Jadi, independensi daerah dari pusat tidaklah berarti hilangnya kesatuan negara —yang berarti, watak negara kesatuan dapat saja menampung aspirasi-aspirasi federal. Singkatnya, negara federal bukanlah negara federatif.

Langkanya penjelasan seperti ini telah menerbitkan kesalahpahaman sangat besar antara partai-partai politik yang mempertahankan NKRI dan menentang negara federal di satu pihak, dan eksponen gagasan negara federal yang mencurigai NKRI. Kedua-duanya memiliki baik legitimasi maupun kepentingan masing-masing tentang konsep negara yang dikehendaki. Sangatlah tragis untuk melihat kecurigaan yang satu terhadap yang lain dalam hal ini, dan lebih-lebih untuk menyifati gagasan NKRI sebagai gagasan nasionalistik, dan gagasan negara federal sebagai sebuah pandangan Islam. Jadi, satu sama lain saling menyalahkan, padahal kedua-duanya saling menyepakati perlunya sebuah negara yang satu, dengan watak federal dalam artian independensi seperti yang dimaksudkan diatas.

Dari sinilah kita menjadi tahu, bangsa kita telah kekehilangan komunikasi dan sosialisasi mengenai kedua hal di atas. Kita lalu curiga antara satu terhadap yang lain. Kecurigaan itu telah menjadikan kehidupan politik kita sebagai bangsa menjadi sangat labil. Tidak stabilnya sistem politik itu menjadi penyebab dari krisis multi-dimensional yang kita alami sekarang ini. Jadi, bukankah ketidakmampuan komunikasi dan sosialisasi politik tersebut dapat dinilai sebagai azab dari Allah bagi bangsa kita?

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute).

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Habib, Pesantren, Internasional Kawit An Nur Slawi

Rabu, 05 Desember 2012

Beri Hadiah Al-Fatihah kepada Guru, Resep Hafal Qur’an Siswi Madrasah Ini

Brebes, Kawit An Nur Slawi. Bagi Siswa MTs Assalafiyah Sitanggal Larangan Brebes Novita Nur Fajriyah ada resep mudah untuk menghafal Al Quran, yakni member hadrah atau hadiah kepada Nabi Muhammad SAW, orang tua dan juga guru pengajarnya. Dengan selalu memberi hadrah sebelum menghafal, diyakini dapat membantu penghafalan selanjutnya.

Novi, sebagai Juara 1 Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) Pelajar 2017 cabang Tanfidz 1 Juz ini merasa tidak hafal quran, tetapi bisa mengingat huruf demi huruf, ayat demi ayat saat diuji dewan hakim adalah atas pertolongan Allah SWT. Karena sesungguhnya, Allah yang menurunkan Al Quran maka Dia-lah yang menjaganya. 

Beri Hadiah Al-Fatihah kepada Guru, Resep Hafal Qur’an Siswi Madrasah Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Beri Hadiah Al-Fatihah kepada Guru, Resep Hafal Qur’an Siswi Madrasah Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Beri Hadiah Al-Fatihah kepada Guru, Resep Hafal Qur’an Siswi Madrasah Ini

“Alhamdulillah, saya diberi ingatan yang tajam untuk menghafal Quran,” tutur Novita Nur Fajriyah ketika berbincang dengan di ruang Kepala Madrasah, Kamis (2/11).

Siswa Kelas 9 A MTs Assalafiyah Sitanggal, Larangan, Brebes, Jawa Tengah ini belajar menghafal Quran sejak SD kelas 4. Di di rumahnya Dukuh Penjalin Banyu, Desa Kedawon, Larangan Brebes ada Kiai yang mengajarinya. Sehingga ketika masuk MTs Assalafiyah dilanjutkan hingga menguasai 1 Juz Ama. 

“Selain Juz Ama, saya juga sudah bisa menghafal 8 Surat, antara lain Surat Yasin, Arrahman, Al Waqiah, Al Mulk, Muhammad, As Sajadah,” ungkap gadis kelahiran Brebes 27 November 2002.

Kawit An Nur Slawi

Untuk menghafal, lanjut Novi, dengan kiat selain berkonsentrasi penuh, memberi hadrah kepada Nabi, Tabiit, Tabiin, Tabiit Tabiin, para guru, juga dengan menelateni ayat demi ayat. “Mulanya dengan tiga ayat-tiga ayat, terus di ulang dari awal lagi kalau sudah hafal ditiga ayat berikutnya,” tuturnya.

Anak pasangan Ahmad Zaenuri dan Supriyati ini nderes (mengulang) terus hingga hafal setiap bada Maghrib dan bada Subuh.

Novi juga menjadi juara 1 hafalan bacaan sholat dan keagamaan di ajang MAPSI saat duduk di SD. Dia pun meraih juara 3 MTQ Cabang tilawah tingkat Kabupaten Brebes yang digelar SMK Nurul Islam Larangan beberapa waktu lalu. Di sekolah, Novi juga menempati rangking pertama parelel dari 6 kelas. 

Dengan bimbingan Hj Zajilah, Novi bertekad meraih juara pertama pada ajang MTQ Pelajar cabang Tahfidz di tingkat Provinsi yang akan digelar pada 15 November mendatang. “Insya Allah saya bertekad meraih yang terbaik, meskipun banyak aral yang melintang dihadapan,” pungkas Novi yang bercita cita menjadi dokter.

Kawit An Nur Slawi

Kepala MTs Assalafiyah Sitanggal Larangan H Muhammad Ihsan menambahkan, di Madrasah ada muatan local Tahfidz sejak 7 tahun yang lalu. Untuk kelas 7 dan 8 bisa hafal 1 Juz Ama. Dan ketika naik kelas 9 hafal surat-surat lainnya. Kini tercatat ada 90 siswa yang tahfidz dari 600 siswa yang mendiami MTs Assalafiyah. 

“Tahun depan, tidak hanya Juz Ama yang dihafal tetapi juga juz lainnya,” tambahnya. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Daerah, Ahlussunnah Kawit An Nur Slawi

Selasa, 23 Oktober 2012

Benahi Organisasi, IPNU Probolinggo Silaturahim ke Lembaga Pendidikan

Probolinggo, Kawit An Nur Slawi. Sebagai upaya membenahi organisasi yang sempat vakum karena adanya pergantian pengurus, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Probolinggo bersilaturahim kepada semua lembaga pendidikan yang ada di Kota Probolinggo.

“Kebetulan setelah pergantian pengurus, banyak PAC (Pimpinan Anak Cabang) dan Pimpinan Komisariat (PK) yang tidak aktif. Tujuan kami mendatangi lembaga pendidikan adalah ingin menghidupkan kembali organisasi. Alhamdulillah disambut baik dan positif oleh lembaga,” kata Ketua PC IPNU Kota Probolinggo Anton, Ahad (25/12).

Benahi Organisasi, IPNU Probolinggo Silaturahim ke Lembaga Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Benahi Organisasi, IPNU Probolinggo Silaturahim ke Lembaga Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Benahi Organisasi, IPNU Probolinggo Silaturahim ke Lembaga Pendidikan

Selain itu jelas Anton, pihaknya juga melakukan turba (turun ke bawah) kepada pengurus PK yang ada di Kota Probolinggo. Dimana tujuannya agar segenap kader dan pengurus selalu bisa menjaga silaturahim dan mengayomi para pelajar NU, khususnya yang ada di tingkat komisariat.

“Bagaimanapun juga, keberadaan komisariat ini sangat dibutuhkan dalam upaya keberlangsungan roda organisasi. Sebab organisasi akan berjalan dengan baik apabila di dukung oleh semua pengurus di semua tingkatan,” jelasnya.

Kawit An Nur Slawi

Menurut Anton, selain untuk menyerap aspirasi para pelajar NU, turba ini dimaksudkan untuk merapatkan barisan atas gencarnya serangan budaya di luar NU. Sehingga pelajar NU bisa tetap berpegang teguh pada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Kami menyadari, generasi muda khususnya pelajar merupakan sasaran utama orang di luar NU untuk menanamkan pahamnya. Kalau tidak dibentengi dengan baik, maka kami khawatir keberlangsungan generasi muda NU akan terancam,” terangnya.

Kawit An Nur Slawi

Anton menambahkan, turba ini juga dapat menjadi wadah untuk mendekatkan pengurus cabang dengan komisariat. Selain itu juga untuk mengetahui dari dekat kegiatan yang dilakukan pelajar NU di masing-masing lembaga pendidikan.

“Melalui kegiatan turba ini kami mengharapkan adanya peningkatan kesadaran pengurus untuk berorganisasi dengan baik bahwa NU itu adalah organisasi yang dijalankan untuk kepentingan Nahdliyin. Dengan demikian semua program IPNU bisa berjalan sesuai dengan kebutuhan pelajar NU,” harapnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Aswaja, Pendidikan, AlaNu Kawit An Nur Slawi

Senin, 15 Oktober 2012

107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara

Malang, Kawit An Nur Slawi. Sejumlah akademisi menyerukan pentingnya Islam moderat untuk masa depan kedamaian di Indonesia. Seruan ini didukung oleh Petisi ratusan akademisi dari 107 PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam) dari berbagai kawasan di Indonesia, yang bertemu pada Seminar Nasional dan Call for Paper "Menyemai Militansi Akademisi Berbasis Keilmuan Aswaja" di Universitas Islam Malang, Rabu (17/5).

Seminar ini menandai deklarasi Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Asdanu) yang diikuti dosen-dosen Aswaja dari 107 perguruan tinggi. Asdanu merupakan Asosiasi Dosen Aswaja,? yang diinisiasi oleh Universitas Islam Malang (Unisma), Universitas Islam Raden Rahmat Malang (UNIRA), Universitas Hasyim Asyari Jombang (Unhasy), Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha), Inistitut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto, Universitas NU Sidoarjo, dan Universitas Sunan Giri.

107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara

Hadir pada forum ini, Prof Dr KH Tholhah Hasan (Ketua Dewan Pembina Unisma, Mustasyar PBNU), Prof Dr Abdurrahman Masud (Puslitbang Kementrian Agama), Prof Dr Masykuri (Rektor Unisma), Marsudi Nurwahid (Jurnalis), beberapa rektor perguruan tinggi, serta ratusan dosen-peneliti dari berbagai kampus.

Kawit An Nur Slawi

KH Tholhah Hasan mengungkapkan pentingnya akademisi berpikiran terbuka dan berwawasan luas. Khususnya, tentang perbedaan pemaknaan Ahlussunnah wal Jamaah. "Saya pernah berbincang dengan beberapa pimpinan Islam radikal, ISIS dan FPI. Semuanya mengaku bagian dari Ahlussunnah wal Jamaah. Maka, kita harus jeli dan tegas tentang ideologi aswaja," ungkap Kiai Tolhah.

Kawit An Nur Slawi

Kiai Tolhah menambahkan, bahwa peneliti dan dosen yang memiliki konsentrasi di bidang keislaman harus memahami isu-isu pluralisme lintas madzhab. "Di dalam aswaja, ada perbedaan-perbedaan yang harus dipahami. Antara madzhab Syafii, Maliki, Hanbali dan Hanafi, ada perbedaan-perbedaan mendasar. Harus ada pemahaman pluralis, ini yang harus dilakukan," tegas Kiai Tolhah.

"Aswaja yang dikembangkan Kiai Indonesia, yang kemudian menjadi NU adalah Aswaja yang paling moderat dan toleran,” sambung Menteri Agama era Presiden Gus Dur ini.

Rektor Unisma, Masykuri mengungkapkan, ada dinamika di perguruan tinggi terkait dengan gerakan keislaman. "Saya melakukan riset mendalam di beberapa kampus umum, ada potensi radikal terutama dari mahasiswa yang kuliah di jurusan sains. Sebagian dari mereka membentuk gerakan politik untuk berkontestasi pada kepemimpinan Indonesia masa depan," jelas Masykuri.

Dalam pandangan Masyukri, tindakan pemerintah melarang organisasi radikal sudah tepat. "Langkah Pemerintah melarang HTI sudah tepat, agar tidak mengancam masa depan dan kesatuan Indonesia," ungkap Masykuri.

Ratusan dosen-peneliti yang tergabung dalam Asdanu mendeklarasikan dan mengkampanyekan Islam moderat dalam riset-riset ilmiah dan pengajaran di kampus. (Yusuf Suharto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaNu Kawit An Nur Slawi

Selasa, 02 Oktober 2012

Greg Barton Berharap Muktamar Lahirkan Sosok seperti Gus Dur

Surabaya, Kawit An Nur Slawi . Prof Greg Barton, pengamat NU dari Australia, pengajar di Monash University Australia, dan penulis buku Biografi Gus Dur berharap besar pada Muktamar ke-33 NU di Jombang akan melahirkan sosok tokoh seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pernyataan itu disampaikannya sesaat setelah acara seminar Internasional di GreenSA Juanda, Rabu (1/7).

Gus Dur dikenal sebagai seorang putra kiai dari Pesantren Tebuireng, kakeknya adalah pendiri Nahdlatul Ulama. "Itulah kalau kita melihat sekilas tentang Gus Dur," kata Greg Barton.

Greg Barton Berharap Muktamar Lahirkan Sosok seperti Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Greg Barton Berharap Muktamar Lahirkan Sosok seperti Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Greg Barton Berharap Muktamar Lahirkan Sosok seperti Gus Dur

Dunia mengakui kalau Gus Dur adalah pemimpin yang memiliki kharisma dan intelektual yang tinggi. "Saat ini tidak ada tokoh seperti Gus Dur, seorang pemikir yang lahir dari NU," lanjutnya.

Kawit An Nur Slawi

Nahdlatul Ulama dikenal sejak tahun 1984 pasca Muktamar NU ke-27 di Situbondo sampai ke pelosok dunia. Semua itu tidak lepas dari kepemimpinan KH Ahmad Siddiq dan Gus Dur yang mampu mengubah NU kembali ke khittah 1926. 

"Saya yakin 10 atau 20 tahun lagi akan lahir tokoh seperti Gus Dur, semua itu ada pada generasi muda NU," jelas pria pengagum Gus Dur itu.

Kawit An Nur Slawi

Pengganti Gus Dur, imbuhnya, akan muncul lebih cepat jika Muktamar nanti disemarakkan oleh pemuda yang penuh dengan optimisme. Kalau tidak, maka ada indikasi lamanya sosok Gus Dur muncul kepermukaan. (Rofii Boenawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Warta, Pahlawan, Syariah Kawit An Nur Slawi

Selasa, 21 Agustus 2012

Ansor Solo Raya Tingkatkan Wawasan Kebangsaan

Solo, Kawit An Nur Slawi. Bertempat di Aula Asrama Haji Donohudan 50 Gerakan Pemuda (GP) Ansor Solo Raya, Kamis (29/8) mengikuti kegiatan Peningkatan Wawasan Kebangsaan dengan menghadirkan pembicara Kompol Tumiran Kasi Binmas Polda Jateng.  

Dalam paparan selama lebih dari satu jam bapak tiga anak ini banyak memberikan gambaran kebangsaan terkini dan memberikan sharing berbagai solusi atau alternatif-alternatif mengenai bangsa Indonesia ke arah yang menjadi lebih baik terutama bagi GP Ansor. 

Ansor Solo Raya Tingkatkan Wawasan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Solo Raya Tingkatkan Wawasan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Solo Raya Tingkatkan Wawasan Kebangsaan

Selain itu, Tumiran berpesan kepada GP Ansor juga ikut berpran aktif dalam pencegahan keamanan, ketertiban di masyarakat. Karena hal tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat saja, justru diharapkan peran serta masyarakat secara aktif bersama dan bermusyawarah demi terciptanya masyarakat yang harmonis dan yang kondusif.

“Kami berharap dari pertemuan ini agar generasi muda terutama Ansor dapat menatap masa depan kebangsaan Indonesia memiliki jati diri yang positif dan menatap ke arah yang lebih baik,” pintanya. 

Kawit An Nur Slawi

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Mashri 

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Cerita Kawit An Nur Slawi

Kamis, 09 Agustus 2012

Tuntut Kasus Salim Kancil Tuntas, PMII Unas Sambangi Komnas HAM

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Universitas Nasional (PMII UNAS) mendatangi Kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Senin (12/10). Mereka mengajukan sejumlah rekomendasi tertulis kepada Komnas HAM terkait kasus Salim Kancil.

Tuntut Kasus Salim Kancil Tuntas, PMII Unas Sambangi Komnas HAM (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuntut Kasus Salim Kancil Tuntas, PMII Unas Sambangi Komnas HAM (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuntut Kasus Salim Kancil Tuntas, PMII Unas Sambangi Komnas HAM

Mereka prihatin atas pelanggaran HAM yang menimpa aktivis Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-Awar Lumajang tersebut, yang meninggal mengenaskan usai menolak penambangan pasir besi di desanya.

"Ya, kami bersama sahabat-sahabati PMII Unas sengaja datang ke kantor Komnas HAM untuk memberikan rekomendasi terkait kasus yang menimpa mendiang Salim Kancil. Intinya, kami berharap agar kasus ini tuntas," kata Koordinator Aksi Cici Mulia, Senin, (12/10).

Kawit An Nur Slawi

Beberapa aktivis PMII Unas sebelumnya melakukan kajian diskusi terlebih dahulu sebelum memberikan rekomendasi. Mereka langsung diterima oleh Komisioner Komnas HAM Imdadun Rahmat.

"Saya sangat senang karena adanya partisipasi dari sahabat-sahabat aktivis PMII Unas untuk memantau dan mengawal masalah HAM, ini juga mensupport kami," kata Imdad saat menyambut kunjungan tamu dari Unas.

Kawit An Nur Slawi

Komnas HAM, lanjut Imdad, sudah bergerak dengan membentuk tim khusus untuk menuntaskan kasus Salim Kancil tersebut.

"Kami turun langsung. Kasus ini wajib tuntas. Rekomendasi dari PMII Unas segera akan kita tindaklanjuti," tutupnya.

Ketua Majelis Pembina Komisariat PMII Unas Rohim Hidayatullah menyatakan optimis atas kesungguhan Komnas HAM dalam menuntaskan kasus ini.

"PMII Unas percaya kepada Komnas HAM, dan kita akan terus menyoroti perkembangan kasus ini," kata Rohim. (Dani Rao/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kiai Kawit An Nur Slawi

Rabu, 11 Juli 2012

Lewat Pentas PAI, Kemenag Rawat Keberagaman dan Mantapkan Keberagamaan

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Kementerian Agama RI melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) menggelar Pentas Keterampilan dan Seni PAI pada 9-14 Oktober 2017. Penyelenggaraan Pentas PAI yang ke-8 ini mengambil tempat di Provinsi Aceh dengan mengangkat tema Merawat Keberagaman, Memantapkan Keberagamaan. 

Lewat Pentas PAI, Kemenag Rawat Keberagaman dan Mantapkan Keberagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Pentas PAI, Kemenag Rawat Keberagaman dan Mantapkan Keberagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Pentas PAI, Kemenag Rawat Keberagaman dan Mantapkan Keberagamaan

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin menyatakan, tema yang diangkat kali dalam Pentas PAI menunjukkan bahwa identitas keberagaman bangsa Indonesia harus terus dijaga dengan memupuk paham keagamaan yang menghargai terhadap sesama.

“Karena dengan beragama yang kuat, manusia bisa merawat keberagaman,” ujar Kamaruddin dalam jumpa pers, Jumat (6/10) di Kantor Kementerian Agama Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar ini mengharapkan, sejumlah cabang keterampilan dan seni yang dilombakan dalam Pentas PAI mampu memperkuat sisi spiritual sekaligus sisi sosial anak didik.

Kawit An Nur Slawi

Sementara itu, Direktur Pendidikan Agama Islam Imam Safei menerangkan, merawat keberagaman dan memantapkan keberagamaan anak didik adalah tanggung jawab bersama. Hal ini berangkat dari kesadaran menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

“Semakin mantap dan tinggi kualitas keagamaan, maka akan terwujud kehidupan harmonis dalam masyarakat yang majemuk,” jelas Imam Safei dalam kesempatan yang sama.

Pentas PAI ini akan diikuti oleh sekitar 1.200 siswa yang berasal dari SD, SMP, SMA, dan SMK dari 34 provinsi yang akan berkompetisi merebutkan prestasi tertinggi di bidang Pendidikan Agama Islam.

Kegiatan yang akan dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ini melombakan sejumlah bidang yaitu Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Pidato PAI, Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), Lomba Cerdas Cermat PAI, Lomba Kaligrafi Islam, Lomba Nasyid, Lomba Debat PAI, dan Lomba Kreasi Busana. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi AlaNu, Ubudiyah Kawit An Nur Slawi

Kamis, 14 Juni 2012

Peringati Muharram Gelar Kampanye Membaca

Semarang, Kawit An Nur Slawi. Sciena Madani bersama Lazis Nusantara menggelar kampanye Gerakan Sadar Membaca di kawasan car free day jalan Pahlwan, Semarang, Ahad (26/10). Dengan slogan “Sedekah Buku 1 Orang 1 Buku”, dua lembaga ini mengajak masyarakat untuk perhatian terhadap dunia membaca.

Peringati Muharram Gelar Kampanye Membaca (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Muharram Gelar Kampanye Membaca (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Muharram Gelar Kampanye Membaca

Sejumlah kegiatan dalam kampanye ini diisi pelbagai aktivitas seperti pembagian ? aksesoris, berbagi buku gratis, mewarnai dan pembacaan puisi yang dibacakan secara spontanitas dikeramaian car free day.

Pengurus Lazis Nusantara Agus Munif mengatakan, kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati tahun baru Hijriyah yang dimaknai dengan kegiatan membaca baik membaca diri maupun membaca lingkungan.

Kawit An Nur Slawi

“Dengan demikian kita dapat mengoreksi diri sendiri dan menyadari peran kehidupan sosial kemasyarakatan,” kata Agus.

Kawit An Nur Slawi

Senada dengan Agus, pengasuh Sciena Madani Ninik Ambarwati menyebutkan kampanye membaca ini menjadi upaya penyadaran akan pentingnya saling berbagi dan memahami.

“Kami menerima sedekah buku seperti yang kami kampanyekan 1 orang 1 buku,” imbuhnya. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Sunnah, Santri, Humor Islam Kawit An Nur Slawi

Selasa, 05 Juni 2012

Hukum Jual Kulit Hewan Kurban

Sebagian masyarakat Indonesia belakangan ini banyak yang menjual kulit dan kepala hewan kurban. Motifnya beraneka ragam. Ada yang karena berada di daerah dengan tingkat kemampuan perekonomian tinggi sehingga jumlah hewan kurban di daerahnya sangat banyak. Karena saking banyaknya daging, mereka tidak punya banyak waktu untuk mengurus kulit dan kepala hewan kurban.

Atau mungkin ada sebagian yang mempunyai motif ingin menghemat biaya operasional sehingga kulit dan kepala dijual untuk kemudian hasil penjualannya selain dibuat untuk biaya operasional, juga bisa dibuat membayar tukang jagal.

Hukum Jual Kulit Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Jual Kulit Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Jual Kulit Hewan Kurban

Imam Nawawi mengatakan, berbagai macam teks redaksional dalam madzhab Syafii menyatakan bahwa menjual hewan kurban yang meliputi daging, kulit, tanduk, dan rambut, semunya dilarang. Begitu pula menjadikannya sebagai upah para penjagal.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

Artinya, “Beragam redaksi tekstual madzhab Syafii dan para pengikutnya mengatakan, tidak boleh menjual apapun dari hadiah (al-hadyu) haji maupun kurban baik berupa nadzar atau yang sunah. (Pelarangan itu) baik berupa daging, lemak, tanduk, rambut dan sebagainya.

Dan juga dilarang menjadikan kulit dan sebagainya itu untuk upah bagi tukang jagal. Akan tetapi (yang diperbolehkan) adalah seorang yang berkurban dan orang yang berhadiah menyedekahkannya atau juga boleh mengambilnya dengan dimanfaatkan barangnya seperti dibuat untuk kantung air atau timba, muzah (sejenis sepatu) dan sebagainya. (Lihat Imam Nawawi, Al-Majmu, Maktabah Al-Irsyad, juz 8, halaman 397).

Jika terpaksa tidak ada yang mau memakan kulit tersebut, bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain seperti dibuat terbang, bedug, dan lain sebagainya. Itupun jika tidak dari kurban nadzar. Kalau kurban nadzar atau kurban wajib harus diberikan ke orang lain sebagaimana diungkapkan oleh Imam As-Syarbini dalam kitab Al-Iqna.

Menyikapi hal ini, panitia bisa memotong-motong kulit tersebut lalu dicampur dengan daging sehingga semuanya terdistribusikan kepada masyarakat. Bagi orang yang kurang mampu, kulit bisa dimanfaatkan untuk konsumsi lebih.

Bukan tanpa risiko, akibat dari menjual kulit dan kepala hewan sebagaimana yang berlaku, bisa menjadikan kurban tersebut tidak sah. Artinya, hewan yang disembelih pada hari raya kurban hanya menjadi sembelihan biasa, orang yang berkurban tidak mendapat fadlilah pahala berkurban sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

? ? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Barangsiapa yang menjual kulit kurbannya, maka tidak ada kurban bagi dirinya. Artinya dia tidak mendapat pahala yang dijanjikan kepada orang yang berkurban atas pengorbanannya,” (HR Hakim dalam kitab Faidhul Qadir, Maktabah Syamilah, juz 6, halaman 121).

Apabila sudah terlanjur, karena jual belinya tidak sah, maka perlu ditelaah lebih lanjut. Apabila pembeli adalah orang yang sebenarnya tidak berhak menerima kurban, pembeli seperti ini harus mengembalikan lagi daging yang telah ia beli, uang juga ditarik. Jika terlanjur dimakan, ia harus membelikan daging pengganti untuk kemudian dikembalikan.

Sedangkan jika yang membeli adalah orang yang sebenarnya berhak, ia cukup dikembalikan uangnya dan daging yang ia terima merupakan daging sedekah.

Sebagaimana orang yang berkurban, begitu pula penerima daging kurban juga tidak boleh menjual kembali daging yang telah ia terima apabila penerima ini adalah orang yang termasuk kategori kaya. Orang kaya mempunyai kedudukan sama dengan orang yang berqurban karena ia sama-sama mendapat tuntutan untuk berkurban.

Oleh karena ia sama kedudukannya, walaupun yang ia terima sudah berupa daging, ia tidak boleh menjualnya kembali kepada orang lain. Ia hanya boleh mengonsumsi atau membagikan kembali kepada orang lain.

Berbeda dengan orang miskin. Sebab ia tidak mendapat tuntutan sebagaimana orang kaya, jika ia mendapat daging kurban, boleh menjual kepada orang lain. Keterangan ini diungkapkan oleh Habib Abdurrahman Baalawi sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bagi orang fakir boleh menggunakan (tasharruf) daging kurban yang ia terima meskipun untuk semisal menjualnya kepada pembeli, karena itu sudah menjadi miliknya atas barang yang ia terima. Berbeda dengan orang kaya. Ia tidak boleh melakukan semisal menjualnya, namun hanya boleh mentasharufkan pada daging yang telah dihadiahkan kepada dia untuk semacam dimakan, sedekah, sajian tamu meskipun kepada tamu orang kaya. Karena misinya, dia orang kaya mempunyai posisi seperti orang yang berqurban pada dirinya sendiri. Demikianlah yang dikatakan dalam kitab At-Tuhfah dan An-Nihayah. (Lihat Bughyatul Mustarsyidin, Darul Fikr, halaman 423).

Kesimpulan dari penjelasan di atas, hewan kurban yang meliputi daging, kulit dan tanduk semuanya tidak diperbolehkan untuk dijual. Apabila dijual, orang yang berkurban tidak mendapatkan pahalanya. Sedangkan penerima daging juga tidak boleh menjual daging atau kulit yang ia terima kecuali penerima tersebut merupakan orang fakir.

Adapun masalah operasional panitia, jika mengambil jalan paling selamat tanpa hilah transaksional adalah dengan cara bagi siapa saja yang ingin berkurban melalui panitia, diwajibkan menyerahkan sejumlah uang untuk biaya operasional termasuk membayar tukang jagal, biaya plastik dan sebagainya.

Tukang jagal juga berhak menerima qurban sebagaimana biasa, namun bukan atas nama mereka sebagai tukang jagal, tetapi sebagai mustahiq. Jadi jika atas nama mustahiq, sudah semestinya ia mendapatkan jatah sebagaimana lazimnya, tidak lebih.

Daging yang diberikan atas nama mustahiq ini diterimakan setelah mereka para penjagal sudah menerima upah jagal. Ini jalan yang paling hati-hati. Wallahu alam. (Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Warta, News, Halaqoh Kawit An Nur Slawi

Jumat, 18 Mei 2012

Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng

Jepara, Kawit An Nur Slawi. Satu grup di Facebook yang berjuluk Ngomong Politik (Ngompol) Jepara tidak ketinggalan memperingati 1000 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Melalui jejaring Facebook, mereka mengkoordinir anggota untuk menziarahi makam Gus Dur di komplek pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu-Ahad (6-7/10).?

Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng

Selain makam Gus Dur rombongan yang berjumlah puluhan orang juga menziarahi Sultan Hadirin, Raden Abdul Jalil (Jepara), Sayyid Jafar Shadiq (Sunan Kudus), Maulana Ibrahim Asmara Qandi (Ayah Sunan Ampel) dan Raden Rahmat (Sunan Ampel).?

Kawit An Nur Slawi

Badiul Hadi, ketua panitia sekaligus deputi direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jepara didampingi Ahmad N Huda mengatakan kegiatan dilaksanakan dalam rangka memperingati 1000 hari Gus Dur. ? ?

“Atas nama panitia kami mohon maaf karena pada saat hari H banyak yang membatalkan diri sehingga beberapa kursi tidak terisi,” paparnya.?

Kawit An Nur Slawi

H Abdul Kohar penggagas kegiatan mengungkapkan perjalanan ziarah sepenuhnya ditanggung H Abdul Wachid, mantan wakil ketua PP LPPNU. “Waktu itu beliau tanya agenda peringatan 1000 hari Gus Dur di Jepara kemudian saya share di grup Ngompol alhasil ziarah disepakati,” ungkapnya.?

Setelah disepakati, tambah ketua Kadin Jepara, H Wachid mem-back-up ongkos perjalanan menuju Jawa Timur. Biaya yang lain lanjutnya ditanggung penumpang sendiri.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam?

Kontributor: Syaiful Mustaqim ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Bahtsul Masail, PonPes, Ahlussunnah Kawit An Nur Slawi

Kamis, 10 Mei 2012

NU Subang Bangkit dari "Ashabul Kahfi"

NU Subang pernah dijuluki NU “ashabul kahfi”. Maksudnya, tertidur dalam waktu lama. Julukan itu  muncul dari pengurusnya sendiri. Kemudian pada tahun 2008, tampil pengasuh Pesantren At-Tawazun, KH Muasyfiq Amrullah sebagai ketua, setelah digelar konfercab.

Program pertama yang dilakukan kiai asal Banten dan santri KH Syukron Ma’mun, tersebut tidak muluk-muluk. Ia hanya mengajak  pengurus untuk bertemu tiap minggu. Digagaslah majelis reboan, majelis tempat bertemu antara syuriyah dan tanfidziyah.

Pada perkembangan selanjutnya, majelis tersebut diikuti banom, lajnah, dan lembaga NU Subang. Bahkan MWC-MWC. Dari majelis reboan ini muncul beragam kegiatan.

Majelis ini sebenarnya tidak serius-serius amat. Memang diformat demikian. Kadang pengurus bermain bulu tangkis, atau main pingpong di aula gedung PCNU Subang yang memang luas. Kadang juga ngaliwet (memasak nasi khas pesantren Sunda). Yang datang pun selalu berganti. Hanya pengurus inti yang istikomah datang.  

NU Subang Bangkit dari Ashabul Kahfi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Subang Bangkit dari Ashabul Kahfi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Subang Bangkit dari "Ashabul Kahfi"

Majelis yang hampir berjalan lima tahun tersebut menampakkan hasilnya. Sesuai penilaian pengurus sendiri, NU Subang bangkit.

Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana NU Subang berjalan, berikut perbincangan Abdullah Alawi dari Kawit An Nur Slawi dengan Ketua PCNU Subang, KH Muasyfiq Amrullah, selepas majelis raboan di kantor PCNU Subang, Rabu, (21/11) lalu.

Kawit An Nur Slawi

Bagaimana NU Subang sekarang? Pak Kiai bisa bercerita tentang kegiatan, cita-cita, pesantren atau warga Nahdliyin.

Kegiatan, yang tadinya kata orang-orang, NU Subang itu terpuruk, saya juga tidak mengerti terpuruknya seperti apa, tapi ini penilaian juga seperti itu. ya, kita mencoba bangkit perlahan-lahan. Alhamdulilllah sekarang ini, sudah dianggap sudah bangkit-lah, betapa pun belum samppai puncaknya. Kegiatan-kegiatan yang kita lakukan, di NU itu secara periodik kita lakukan sebulan sekali, itu dengan jalur yaumul ijtima. Yaumul ijtima’ yang kita lakukan itu berbagai macam kegiatan, antara lain misalnya dengan bahsul masail. Bahsul masail ini kita lakukan berpindah-pindah dari satu MWC ke MWC . awal-awal kita lakukan per bulan. Kemudian kita lakukan dua bulan karena faktornya satu dan lain hal.                                                

Dilaksanakan di kantor-kantor MWC?

Tidak. Pokoknya di lingkungan satu MWC. Biasanya di masjid dan pesantren-pesantren. Yang sudah kita lakukan antara lain di pesantren Al-Istiqomah di Cisalak, pesantren Al-Hidayah di Pagaden Barat, di Pantura pesantren Assalafiyah, di SMP NU Gofarona, pesantren At-Tawazun. Sisanya di masjid-masjid.

Kawit An Nur Slawi

Biasanya yang dibahas dalam bahsul masail itu apa?

Yang kita bahasa adalah permasalahan-permasalah kemasyarakatan yang langsung dirasakan masyarakat kita. Antara lain di masyarakat NU Subang itu ada semacam kegiatan arisan hajatan yang kata orang ini disebut “andilan”, terus menyangkut banyak TKW. Uang yang dkirimkan ke orang tuanya itu sebenarnya hak siapa? Banyak. Karena saking banyaknya saya lupa.

Itu didokumentasikan?

Insya Allah kita dokumentasikan. Nanti dalam konferensi, kita akan bundel dan akan kita bagikan. Ini lho hasil LBM kita pada masa periode ini. Ada sekitar antara 10 sampai 15 persoalan. Kadang-kadang kita ajukan satu masalah, dalam satu pertemuan itu nggak habis.

Biasanya dihadiri berapa orang?

Minimal dihadiri seratus orang. Pada waktu tertentu, dibarengkan dengan tabligh akbar. Biasanya kita gabungan dengan Muslimat. Biasanya ibu-ibu lebih semarak. Itu mereka yang mendominasi.

Kegiatan gabungan, bisa dihadiri berapa orang?

Insya Allah kalau dihitung, di atas seribu sampai 2000 orang. Antara itu saja, nggak pernah lebih. Cara menghitungnya dengan konsumsi. Ludes ribuan.  Itu kegiatan-kegitan yang kita lakukan. Selain itu, juga latihan-atihan antara lain mengadakan pelatihan kaderisasi dan kepemimpinan. Rencananya akan diadakan lagi. Pelatihan jurnalistik pesantren, pelatihhan kader khotib dan mubaligh, pelatihan perekonomian pemberdayaan umat. Terus pelatihan hukum karena banyak kiai-kiai itu mendapat sumbangan, tiba-tiba dia terkait dengan kasus korupsi. Nah, makanya itu mereka diinformasikan supaya tidak buta hukum. Itu barangkali beberapa kegiatan.

Kemudian juga yang tidak berhenti ini majelis reboan. Reboan merupakan kegiatan rutin kita ada gak ada rapat, pokoknya Rabu kumpul jalan terus. Tujuannya, satu, konsolidasi, informasi dan juga dalam rangka penguatan-penguatan.

Reboan  itu bertemunya antara syuriyah dengan tanfidiziyah atau bagaimana?

Iya Syuriyah –tanfidziyah. Kadang-kadang MWC datang. Mereka tahu, reboan itu ada kita. Kadang-kadang kegitan ringan aja. Kalau tidak ada, ya main bulu tangkis (di kantor PCNU Subang bisa dijadikan lapangan bullu tangkis, kadang-kadang pingpong atau ngaliwet) tapi itu dilaksanakan setelah ada ada obrolan-obrolaln khusus. Kita tidak terlalu serius. Beberapa poin kita bahas.

Faktor apa yang menyebabkan NU Subang bisa melakukan itu?

Di Subang itu, NU mayoritas. Jadi, kegiatan disini tak lepas dari kegiatan ke-NU-an. Dan ketika kegiatan itu jalan sendiri-sendiri, maka tentu mereka membutuhkansemcam imam. Ini barangkali salah satu potensi antara lain adalah kita mempunyai kulutur-kultur ke-NU-an. Sehingga tentunya ada peran imam dibutuhkan. Ibaratnya, mereka itu siap dibakar. Potensinya sudah ada. Butuh pemantiknya saja. Ya imam tadi. Tapi kalau tidak kita pantik, ya tidak akan menyala. Cukup butuh korek, sebatang tentu sudah menyala, tinggal nyalakan pemantiknya saja. Itu barangkali yang menyebabkan kenapa NU Subang bangkit. Bukan hanya sekadar faktor kepemimpinan.

Supaya lebih terasa di masyarakat, ada tidak program yang tidak hanya melulu keagamaan?   

Selama ini, kita belum. Tetapi dalam bidang perekonomian sedang kita rintis; seperti pelatihan pemberdayaan umat yang melibatkan banyak unsur. Bukan hanya dari pihak NU saja. Saya rasa itu berbicara riil, bagaimana mereka mengelola perekonomian. Bagaimana kita membekali mereka berekonomi secara kecil-kecilaan dulu. Ini salah satu kegiatan diluar atau non-keagamaan. Begitu barangkali. Baru itu yang kita lakukan.

Kalau kaderisasi, atau mengenalkan NU kepada anak-anak muda?

Sudah. Melalui Lakpesdam kita mengadakan kaderisasi kepemimpinan. Itu melibatkan tenaga-tenaga muda. Bukan hanya dari MWC-MWC, tapi dari banom-banom khususnya Ansor, ada IPNU, IPPNU. Termasuk di dalamnya PMII. Mereka sangat antusias kalau dilibatkan. Merasa ingin memeriahkan.

Kendala NU di Subang dan bagaimana penaggulangannya?

Di Subang itu ada 3 NU. Ada NU sejati, NU pedati, dan NU merpati.  NU Sejati itu NU yang benar-benar. Ada atau tidak adanya “menyan”, dia tetap bersemangat.

Menyan itu apa?

Bahan bakar hahaha. Semangatnya tetap NU. Meskipun dia jauh, ketika dikontak, ya semangat betul. Betul-betul ruh ikhlasnya demi NU. Betul-betul tanpa pamrih. Yang penting NU itu hidup. Kemudian ada NU yang pedati. Dia itu NU, tapi kalau tidak didorong-dorong nggak mau. Tapi kalau sudah didorong-dorong, sudah keringatan, baru mau. Ada juga NU merpati. Merpati itu akan datang kalau dilempari sesuatu. Itulah dua NU terakhir kendala kita. Jadi, artinya mereka itu semangat ber-NU, kalau ada “syaiun-syaiun”. Masih ada, tapi bukan mayoritas ya.

Kalau dipersenkan, komposisinya bagaimana?

Ya muga-muga 30, 30, 30 lah…hahaha. Itu yang pertama ya, berbicara kendala. Kendala yang kedua NU itu mempunyai sejarah bahwa NU memiliki hubungan “biologis” dengan partai politik. Di satu sisi kita ingin menjalankan khittah sesuai hasil muktamar, tapi disisi lain kita selalu “digoyang” oleh parpol tadi.

Digoyang itu maksudnya?

Dalam artian mereka menarik kita agar kita juga ikut di dalamnya. Meskipun kita sudah bilang bahwa NU netral. Tidak sedikit ada yang marah itu. Tapi dalam sisi lain, kita misalnya, merapat ke salah satu mereka, yang lain membenci kita. Padahal saya secara pribadi dan rekan pengurus, inginnya betul-betul khittah itu dilaksanakan. Karena terus terang, orang NU di Subang ini bermcam-macam partai kan

Kendala yang ketiga, kendala dari segi geografis. Luas Subang ini menyulitkan kita untuk bertemu secara periodik. Ada 30 MWC di ujung utara dan selatan. Sehingga ada saja dari mereka yang malas bertemu. Barangkali ada kendala lain Pak Agus boleh menambahkan.

 Musfik menunjuk Pak Agus Syarifuddin Wakil Ketua PCNU Subang untuk angkat bicara jugaPak Agus tertawa sambil menjawab, “Kalau saya tak ada kendala. Ini kan perjuangan. Kalau ada pun, dinikmati aja,” jawabnya sambil tersenyum.

Kiai Muasyfiq kembali berbicara: Saya juga ingin bercerita pesantren. Pesantren itu itu potensi. Pesantren di Subang itu 99,99 persen itu NU. Artinya sumber kepemimpinan kharismatik itu bisa didapat dari pimpinan-pimpinan pondok. Sosialisasi-sosialisasi kegiatan NU juga melalui pesantren. Ini faktor yang memudahkan. Serta tokoh-tokoh pemuka agama di Subang itu mayoritas NU. Jadi itu berpotensi sekali untuk menggerakkan masyarakat.

Tapi yang tidak kalah pentingnya, kendala itu adalah “mang dana”. Dana itu, kadang-kadang kita punya semangat tinggi, tapi dana itu susah. Tapi itu tidak kendala utama. Sehingga ada beberapa program terhambat persoalan dana.

Untuk menyiasati persoalan-persoalan itu bagaimana?

Saya rasa menyiasati kalau pada 3 NU tadi yang pedati dan merpati, kita mengadakan pendekatan-pendekatan, diberikan pemahaman ABCD, sehingga mereka tumbuh semangat untuk menghidupkan NU. Usaha-usaha semacam itu, saya katakan perlu kontinuitas dan intens. Persoalan yang kedua dengan khusunya keuangan. Kita mencari donatur yang teruji ke-NU-annya. Kemarin-kemarin itu kegiatan Alhamdulillah ditalangi bendahara. Tapi tak hanya dia, tapi rekan-rekan pengurus juga.

Oh ya, kita punya tema atau motto di NU Subang untuk periode kita ini. NU semakin dikenal, dicintai dan dibutuhkan. 

Kalau bicara hubungan, bagaimana hubungan NU dengan pemerintah, ormas lain atau bahkan dengan kalangan nonmuslim?

Hubugan antara NU dan yang lain Alhamdulillah tak ada kendala. Misalnya antara NU dan pemerintah itu saling membutuhkan. Kita butuh mereka, mereka juga butuh kita. Salin tolong-menolong dalam kebaikan dengan mereka. Hubungan simbiosis mutualisme. Dengan ormas-ormas lain juga terjaga hubungan yang baik. Kita pernah misalnya bersatu dan berunjuk rasa dalam menolak Perda miras. Selama ini tidak ada semacam gesekan. Kalau ada pun ada di bawah, itu persoalan amaliyah ubudiyah. Tapi itu bukan faktor organisasinya, tapi faktor amaliyah. Tapi meskipun begitu tetap kita advokasi karena mereka secara kultural mereka beribadah seperti NU. Lalu hubungan dengan Kristen atau dengan agama lain, Ansor pernah berjaga-jaga ketika mereka Natalan. Paling itu aja. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Anti Hoax, Makam Kawit An Nur Slawi

Kamis, 03 Mei 2012

Hadratussyaikh, 70 Tahun Sudah Kau Tinggalkan Kami

Bulan Ramadhan salah satu bulan yang istimewa dalam Islam. Di dalamnya Allah SWT memberikan rahmat dan karuniaNya secara berlipat ganda, pintu maaf dibuka secara lebar, doa para makhluk mustajabah dalam bulan suci ini. Umat Islam menunggu-nunggu hadirnya bulan suci ini dan berharap mereka dapat secara penuh bermunajat kepada Allah SWT dengan rangkaian ibadah yang dijalankan.

Namun tak banyak yang tahu bahwa dalam bulan Ramadhan terdapat peristiwa bersejarah sekaligus peristiwa yang sangat menyedihkan khususnya bagi warga Nahdlatul Ulama. Peristiwa itu ialah kembalinya Sang Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyaikh ? Hasyim Asy’ari kepada sang pemilik kehidupan abadi, Allah subhanahu wata’ala.

Tepat pada waktu sepertiga malam terakhir, atau sekitar pukul 03. 00 WIB, tanggal 7 Ramadhan 1366 H bertepatan dengan 21 Juli 1947 pendiri NU itu wafat. Tidak seperti ulama agung lainnya, wafatnya KH Hasyim Asy’ari hampir tidak dijumpai peringatan haulnya. Hal itu memang selaras dengan keinginan beliau yang tak mau hari wafatnya diperingati secara khusus, bukti bahwa kezuhudannya tidak mengada-ada. Beliau enggan jasa-jasanya disebut dan dipuja-puja sesama manusia.

Walaupun beliau enggan untuk dipuja-puja namun apa salahnya ketika bangsa Indonesia menyanjung beliau karena kiprahnya yang sangat besar dalam agama maupun dalam menjaga dan memerdekakan bangsa Indonesia. Mungkin sudah ribuan, bahkan jutaan pujian yang diitujukan kepadanya. Hadratussyaikh adalah manusia dengan nilai kemanfaatan yang tinggi bagi umat manusia.

Hadratussyaikh, 70 Tahun Sudah Kau Tinggalkan Kami (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadratussyaikh, 70 Tahun Sudah Kau Tinggalkan Kami (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadratussyaikh, 70 Tahun Sudah Kau Tinggalkan Kami

Capaian kemanfaatan dalam hal agama tak lepas dari latar belakang beliau sebagai seorang kiai, ulama yang mendidik ribuan santrinya. ? Ditambah lagi karya-karya monumental Hadratussyaikh seperti Kitab An-Nurul-Mubin fi Mahabbati Sayidial Mursalin yang berisi biografi dan akhlaq suci Baginda Nabi Muhammad SAW, kitab Risalah fi Ta’kidil Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah yang memuat anjuran untuk mengikuti manhaj para imam empat, kitab Arba’ina Hadistan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahadlatul Ulama berupa kodifikasi 40 hadist sebagai pedoman warga Nahdlatul Ulama dan masih banyak lagi karya-karya beliau yang sangat lezat dinikmati dalam khasanah keilmuan agama Islam.

Hadratussyaikh juga pendiri organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama, organisasi perjuangan yang didirikan atas dasar kecintaan kepada Allah SWT. Organisasi yang beliau dirikan mendapat restu dari Syaikhona Kholil Bangkalan dan Habib Hasyim bin Yahya. Berkat kegigihan KH Hasyim Asy’ari, NU menjadi pendorong dalam perkembangan syiar agama islam pada saat itu.

Selanjutnya capaian kemanfaatan yang telah diraih Hadratussyaikh yaitu jiwa kesatria beliau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jiwa Ksatria Hadratussyaikh sangat kuat. Hal ini tak lepas dari leluhurnya, dari jalur Ibu beliau merupakan keturunan Prabu Brawijaya VI. Sementara sang ayah dari keturunan Jaka Tingkir, Raja Kerajaan Pajang. Jiwa ksatriaannya diimplimentasikan dalam peristiwa heroik resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 yang menyeru segenap bangsa Indonesia untuk berperang melawan penjajahan yang kini resolusi jihad dijadikan manifestasi sikap nasionalisme ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kawit An Nur Slawi

Implimentasi lain dari jiwa ksatria beliau yang berbuah kemanfaatan yaitu keberanian Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari untuk masuk dalam dunia birokrasi pemerintah penjajah untuk membawa kepentingan umat Islam dan segenap rakyat Indonesia agar tidak terzalimi oleh kebijakan pemerintah penjajah, walau pada awalnya menuai perdebatan karena Hadratussyaikh dianggap pro terhadap pemerintah penjajah. ? Faktanya, perjuangan beliau membuahkan hasil, yakni lunaknya pemerintah penjajah terhadap rakyat pribumi.

Kawit An Nur Slawi

Hadratussyaikh juga menjadi rujukan kaum pergerakan seperti Ir Soekarno, Bung Tomo, dan Jenderal Sudirman. Para tokoh pejuang ini tak sungkan meminta nasihat langkah dan kodisi perjuangan yang mereka lakukan. Ditambah lagi dasar negara Indonesia berupa Pancasila juga bagian dari ijtihad beliau yang diwakilkan oleh KH Wahid Hasyim sebagi tim perumus Pancasila. Dari sebagian kecil kiprah Beliau yang penulis sampaikan merupakan wujud nyata perjuangannya untuk memerdekakan Bangsa Indonesia. Karena dengan merdekanya bangsa Indonesia akan terwujud keamanan negara yang berimbas kenyamanan umat Islam dalam menjalankan peribadatan.

Akhirnya, 70 tahun sudah (7 Ramadhan 1366 H – 7 Ramadhan 1436 H) Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari meninggalkan dunia ini. Seyogianya estafet perjuangannya terus dilaksanakan, perjuangan dalam kehidupan agama melalui pelaksanaan risalah Allah SWT yang diturunkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam hal berbangsa dan bernegara perjuangan yang dapat dilakukan yaitu menumbuhkan rasa nasionalisme di dalam setiap diri kita, dengan semangat nasionalisme yang nyata akan terwujud kedaulatan dalam segala sendi yang mengakibatkan kemerdekaan Indonesia yang abadi. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan untuk meniru segenap perjuangan beliau dalam segala sendi kehidupan.

?

Muhammad Nur Rohman, Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi News Kawit An Nur Slawi

Minggu, 29 April 2012

Majalah Auleea Manggung di Grand City Super Mall Surabaya

Surabaya, Kawit An Nur Slawi. Sejumlah kiat harus dilakukan dalam mengenalkan media kepada khalayak, termasuk di pertokoan modern atau mal. Ini dilakukan juga dalam rangka meluaskan pasar bagi kalangan kelas menengah dan atas.

Hal ini juga yang dilakukan majalah keluarga muslimah "Auleea" dengan terlibat sebagai mitra media kegiatan Indonesia Moslem Fashion Expo and Islamic Tourism 2015 di salah satu mall kenamaan, Grand City Super Mall Surabaya, Jawa Timur.  

Majalah Auleea Manggung di Grand City Super Mall Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Auleea Manggung di Grand City Super Mall Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Auleea Manggung di Grand City Super Mall Surabaya

Wakil Pemimpin Umum Majalah Auleea Mochamad Jamil menyatakan, media yang berada di bawah menejemen PT Aula Media NU ini terpanggil untuk tampil pada kegiatan tersebut sebagai sarana promosi dan eksistensi diri. "Karena Auleea adalah media baru, maka sudah selayaknya lebih intensif menyapa calon pelanggan dan ingin mentahbiskan keberadaannya di sejumlah kegiatan bernuansa islami," katanya kepada Kawit An Nur Slawi, Selasa (4/2) malam.

Kawit An Nur Slawi

Pak Jamil, sapaan akrabnya, menandaskan dengan kerap hadir pada kegiatan bernuansa agama seperti ini, maka Auleea dapat semakin dikenal masyarakat. "Kegiatan juga mampu mengukuhkan keberadaan Auleea di tengah persaingan media cetak di tanah air," katanya.

Bersama dengan media kenamaan seperti Jawa Pos, TV9, Sindo TV, RCTI, Metro TV, MNC TV, Suara Surabaya, Majalah Auleea menjadi salah satu media partner bagi kegiatan yang berlangsung sejak Selasa (4/2) hingga Ahad (8/2) tersebut. Di samping itu, ada sejumlah perusahaan lain yang ikut berpartisipasi di antaranya YDSF, Wardah, Mangga serta Persada.

Kawit An Nur Slawi

"Bulan Februari ini Majalah Auleea memang baru memasuki cetakan ke delapan, karenanya menyapa pelanggan lama dan menjaring calon pelanggan baru adalah sebuah hal yang tidak dapat ditawar," ungkapnya. Pada saat yang bersamaan, menjaga kepercayaan klien yang selama ini bermitra juga sangat penting, lanjutnya.

Karena besarnya manfaat yang akan diraih dalam keikutsertaan even seperti ini, maka menejemen Auleea terus berupaya hadir dan berpartisipasi. "Hasil yang akan dipetik bisa sekaligus yakni dengan penambahan pelanggan dan klien iklan, juga dapat dalam waktu yang lebih panjang," terang Pak Jamil.

Pada kegiatan yang berlangsung sejak jam 09.00 hingga 21.00 WIB ini tidak hanya Majalah Auleea yang dipajang serta ditawarkan kepada pengunjung salah satu mall kenamaan di Surabaya ini, juga Majalah Aula. "Karena antara Aula dan Auleea berada dalam satu menejemen," katanya.

Masih cukup waktu untuk bisa hadir pada acara ini. Selama kegiatan berlangsung, ada berbagai acara pendukung seperti talk show kecantikan, lomba fashion, panggung hiburan, pameran produk dari sejumlah mitra serta puncaknya adalah pemilihan hijaber yang dilangsungkan Ahad, (8/2) malam. Apalagi yang dijadualkan hadir saat puncak acara adalah artis kenamaan, Dewi Sandra. Berminat? Silakan hadir. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ahlussunnah, Hadits Kawit An Nur Slawi

Rabu, 04 April 2012

Posisi Duduk dan Bacaan Makmum Masbuk saat Imam Tasyahud Akhir

Assalamu alaikum wr. wb.

Redaksi bahtsul masail Kawit An Nur Slawi. Jika kita shalat masbuk saat imam sudah tasyahud akhir, apakah posisi duduk kita mengikuti imam dan bacaan doa tasyahud kita juga mengikuti tayahud akhir? Demikian pertanyaan ini saya sampaikan. Mohon jawabannya. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Samsudin).

Posisi Duduk dan Bacaan Makmum Masbuk saat Imam Tasyahud Akhir (Sumber Gambar : Nu Online)
Posisi Duduk dan Bacaan Makmum Masbuk saat Imam Tasyahud Akhir (Sumber Gambar : Nu Online)

Posisi Duduk dan Bacaan Makmum Masbuk saat Imam Tasyahud Akhir

Jawaban

Assalamu alaikum wr. wb.

Pembaca yang kami hormati, semoga kita senantiasa diberi rahmat dan taufiq oleh Allah SWT. Shalat berjamaah memiliki keistimewaan dan pahala melebihi shalat sendiri sebagaiamna dijelaskan oleh beberapa hadits Nabi. Secara teknis ada beberapa hal yang penting diketahui agar pelaksanaan shalat jamaah sesuai tuntunan syari’at, termasuk fenomena makmum masbuk.

Kawit An Nur Slawi

Makmum masbuk adalah makmum yang tidak menemui durasi waktu yang cukup untuk membaca Surat Al-Fatihah bersama imam sesuai standar bacaan sedang, berlaku baik pada rakaat pertama atau rakaat lain. Makmum masbuk adalah kebalikan dari makmum muwafiq sebagai keterangan Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Yang demikian tersebut berlaku untuk makmum muwafiq, yaitu makmum yang yang menemui durasi waktu membaca al-Fatihah bersama Imam sesuai dengan standar bacaan sedang, bukan bacaannya Imam dan makmum sendiri menurut pendapat al-aujah (yang kuat). Adapun masbuk yaitu orang yang tidak menemui kriteria yang disebutkan dalam makmum muwafiq sesuai dugaannya, baik di rakaat pertama atau lainnya,” (Lihat Al-Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin, Busyra al-Karim Bisyarhi Masailit Ta’lim, Jeddah, Darul Minhaj, cetakan pertama, 2004 M, halaman 354-355).

Mengenai posisi duduk masbuk saat menemui imam di tasyahud akhir sebagaimana ditanyakan oleh penanya di atas, anjurannya adalah dengan memakai posisi duduk iftirasy (duduk dengan meletakan pantat di atas mata kaki kiri sedangkan kaki kanan ditegakkan dengan menghadapkan ujung jari ke arah kiblat) atau yang lebih dikenal dengan posisi duduk tasyahud awal. Ia tidak disunahkan mengikuti imamnya dengan melakukan duduk tawarruk (posisi duduk dengan bersandar pada pantat di mana kaki kanan menekan alas dengan bertumpu pada jemari, sementara kaki kiri berada di bawah kaki kanan) atau yang kita kenal dengan posisi duduk tasyahud akhir.

Syekh Abu Bakr bin Muhammad Syatha mengatakan:

Kawit An Nur Slawi

? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ?) ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Disunahkan duduk tawarruk dalam duduk tasyahud akhir, yaitu duduk yang diiringi salam, maka makmum masbuk tidak dianjurkan duduk tawarruk saat tasyahud akhirnya imam, karena tasyahudnya masbuk tidak diiringi salam. Anjuran baginya adalah duduk iftirasy sebab duduk iftirasy adalah posisi duduknya orang yang bersiap melakukan gerakan shalat berikutnya. Iftirasy disunahkan untuk setiap duduk yang diiringi oleh gerakan sebab posisi tersebut lebih memudahkan untuk orang yang shalat. Sementara posisi duduk tawarruk adalah posisi duduknya orang yang berdiam tenang,” (Syekh Abu Bakr bin Muhammad Syatha, I’anatut Thalibin, Libanon, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cetakan ketiga, 2007 M, juz I, halaman 296).

Adapun bacaan yang dianjurkan bagi makmum masbuk adalah membaca bacaan tasyahud akhir sebagaimana imamnya, meliputi bacaan tasyahud, membaca shalawat kepada Nabi dan keluarganya serta doa tasyahud akhir.

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi menegaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .? ? .? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Makmum masbuk yang menemui dua rakaat dari shalat empat rakaat, maka ia dianjurkan membaca tasyahud bersama imam sesuai bacaan tasyahud akhirnya imam, yang bagi masbuk merupakan tasyahud awal. Maka, sunah bagi masbuk tersebut membaca doa di dalamnya termasuk membaca shalawat kepada keluarga Nabi. Apakah bacaan tasyahud akhir yang lain juga berlaku hukum yang sama atau masbuk tidak perlu membacanya karena tergolong memindah rukun qauli? Pendapat yang dipegang Imam Ar-Ramli adalah sunah membaca bacaan tasyahud akhir yang lain, bahkan sunah bagi masbuk untuk membaca doa, termasuk bershalawat untuk keluarga Nabi sebagaimana keterangan dalam Hasyiyah Ali Syibramalisi komentar atas kitab Nihayah karya Imam Ar-Ramli. Yang demikian tersebut berdasarkan kaidah bahwa makmum mengikuti bacaan yang disunahkan dibaca oleh imamnya, sementara dalam kondisi tasyahud akhir ini, imam sunah membaca bacaan tasyahud ini, berbeda dengan persoalan makmum muwafiq saat tasyahud awal sebagaimana keterangan yang telah lewat,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi alal Iqna’, Libanon, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cetakan kelima, 2005 M, juz II, halaman 209).

Simpulannya, makmum masbuk sebagaimana yang ditanyakan di atas posisi duduknya adalah duduk tasyahud awal (iftirasy), tidak mengikuti duduk tawarruknya imam. Sedangkan mengenai anjuran yang dibaca adalah bacaan tasyahud akhir dengan mengikuti imamnya.

Demikianlah jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga dapat dipahami dengan baik. Kritik dan saran selalu kami harapkan untuk kebaikan bersama.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,  

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

(M Mubasysyarum Bih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Syariah Kawit An Nur Slawi

Minggu, 01 April 2012

PWNU DIY Adakan Konvensi Anggota DPD RI

Yogyakarta, Kawit An Nur Slawi. Keberadaan warga Nahdliyyin di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) cukup besar, menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI) warga Nahdliyyin di DIY sebanyak 60 persen. 

Dengan posisi seperti itu, layak jika NU memiliki perwakilan di lembaga-lembaga strategis dalam pemerintahan untuk memperjuangkan suara masyarakat. Begitu juga dengan harapan memiliki perwakilan di tingkat Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari warga Nahdlatul Ulama (NU).

PWNU DIY Adakan Konvensi Anggota DPD RI (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU DIY Adakan Konvensi Anggota DPD RI (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU DIY Adakan Konvensi Anggota DPD RI

Menanggapi keinginan warga NU DIY melalui Pengurus Cabang yang menghendaki adanya proses pemilihan calon anggota DPD RI yang diusulkan dari warga NU. Maka, untuk menjembatani hal itu Pengurus Wilayah Nahdlatu Ulama (PWNU) DIY mengadakan Konvensi Penjaringan Calon Anggota DPD RI Periode 2014-2019 Dari Kader NU di Kantor PWNU DIY Jl MT Haryono, pada Ahad (17/3) siang.

Kawit An Nur Slawi

Masyhuri selaku panitia pelaksana mengatakan bahwa memikirkan NU di masa depan adalah sesuatu yang menjadi miliki bersama. 

Kawit An Nur Slawi

“Pelaksanaan konvensi sudah dibuka sejak tanggal 11-14 Maret 2013. Selama empat hari pendaftaran terdapat tiga calon yang mendaftar, yakni HA Hafidz Asrom, HA Taufiqurrahman, dan H Fairus Ahmad,” tuturnya dalam sambutan.

Dari ketiga bakal calon itu ternyata tidak ada satupun yang dinyatakan lolos oleh panitia. Hal ini perlu diambil hikmah dan perlu dipikirkan bersama oleh segenap warga Nahdliyyin, terutama PWNU. 

Merespon hal itu jajaran PWNU DIY mengadakan musyawarah untuk mencari solusi terbaik.

Dari usulan-usulan pengurus cabang dari rapat selama dua malam, diambil yang terbaik yakni semua calon diluluskan sekalipun tidak memenuhi persyaratan.

Konvensi ini dihadiri dari berbagai macam kalangan, di antaranya partisipan pengurus Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-DIY, Majelis Wakil Cabang (MWC) se-DIY. Turut Hadir juga, jajaran Rais Syuriyah PWNU DIY dan Ketua Tanfidziyah PWNU DIY.

KH Asyhari Abta memberikan arahan sekaligus membuka acara konvensi yang juga dihadiri pengurus Badan Otonom (Banom) PWNU DIY. 

“Dari tiga calon tersebut, PWNU hanya merestui dua calon untuk maju menjadi calon DPD RI. Dengan dua calon itu, diharapkan bisa mengelola konflik dengan baik, artinya jangan sampai menimbulkan gesekan-gesekan antara dua tim sukses maupun antara pemilih,” harap KH Asyhari Abta.

Harapan PWNU dalam menghadapi konvensi ini dapat melaksanakan dengan jiwa penuh ketakwaan. Ia menjelaskan bahwa jangan ada tendensi lain, kecuali tendensi dalam rangka berlakunya program-program NU dengan memiliki dua calon DPD itu. Selanjutnya, kepentingan jam’iyah harus lebih diutamakan.

“Bersaing boleh, tapi bersaing yang sehat, bersaing dengan akhlaqul karimah. Kemudian jangan sampai menggunakan permainan kotor, misalnya money politic,” pesannya.

Namun, di luar dugaan, dari pihak H Fairus Ahmad ternyata mengundurkan diri saat diberikan waktu untuk menyampaikan visi misinya sehingga, dua calon yang direstui PWNU sudah terpilih tanpa pemilihan. 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Rokhim, Hendra

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Fragmen Kawit An Nur Slawi

Senin, 26 Maret 2012

28 Ribu Orang Ikuti Jalan Sehat NU Klaten

Klaten, Kawit An Nur Slawi. "Aku Bangga Menjadi Warga NU!" Tulisan tersebut terpampang di kaos yang dikenakan peserta kegiatan Jalan Sehat yang diselenggarakan PCNU Klaten di Stadion Trikoyo Klaten, Ahad (1/2).

28 Ribu Orang Ikuti Jalan Sehat NU Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)
28 Ribu Orang Ikuti Jalan Sehat NU Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)

28 Ribu Orang Ikuti Jalan Sehat NU Klaten

Menurut seksi acara panitia Jalan Sehat, Ahmad Saifuddin, kegiatan yang diikuti sekitar 28.000 peserta ini digelar untuk memperingati Hari Lahir (Harlah) NU ke-89.

“Dengan jumlah yang menembus angka 28.000 lebih, event jalan sehat ini menjadi event terbesar di Klaten selama ini,” terang ketua IPNU Klaten itu.

Kawit An Nur Slawi

Ketua PCNU Klaten Mujiburrohman menambahkan, melalui kegiatan ini diharapkan PCNU Klaten mampu memiliki gambaran dan database jumlah warga NU di masing-masing MWCNU dan Pengurus Ranting NU.

Kawit An Nur Slawi

“Data ini selanjutnya akan ditindaklanjuti dalam bentuk pembuatan Kartanu,” ungkap dia.

Pantauan Kawit An Nur Slawi, jumlah peserta yang membludak membuat panitia kegiatan melakukan start beberapa kali untuk tiap rombongan. Beberapa tokoh yang hadir antara lain Bupati Klaten, Puteri Gus Dur Alissa Wahid dan para pengurus NU Klaten ikut memberangkatkan para peserta.

Kegiatan jalan sehat ini juga diramaikan dengan bazar dari LAZISNU, LPPNU, dan LKNU yang hasilnya akan digunakan untuk membuat agenda yang bermanfaat bagi umat.

Di akhir acara, panitia membagikan sejumlah doorprize, seperti smartphone, mesin cuci, dana pendidikan, seepda gunung, kulkas, TV, serta grandprize 3 paket umroh dan 3 sepeda motor. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi IMNU, Budaya, Pemurnian Aqidah Kawit An Nur Slawi

Kamis, 22 Maret 2012

Puasa itu Tameng Jiwa dan Zakat Raga

Demak, Kawit An Nur Slawi. Nilai puasa di sisi Allah sangat bergantung pada niat, tujuan, dan kualitasnya. Semakin ia berkualitas, semakin tinggi nilainya di sisi-Nya. Begitu pula sebaliknya puasa yang kualitasnya sekadar menahan lapar dan dahaga, ia tidak bernilai apa-apa di sisi Allah.

Selain sebagai pemenuhan rukun Islam yang kedua, puasa juga merupakan sarana membentengi jiwa dari berbagai hal yang merugikannya. Puasa adalah tameng. Tameng yang kuat akan mampu menghalau godaan hawa nafsu.

Puasa itu Tameng Jiwa dan Zakat Raga (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa itu Tameng Jiwa dan Zakat Raga (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa itu Tameng Jiwa dan Zakat Raga

Ash-shaumu Junnatun (puasa itu ibarat tameng), yang namanaya tameng harus yang kuat, terbuat dari baja biar tidak tembus peluru,” ujar KH Zainal Arifin Maksum (Gus Zen), Pengasuh Pesantren Fahul Huda Karangggawang Sidorejo, Sayung, Demak, Jateng, di aula pesantren setempat, Selasa (9/7) pada acara khataman kitab Shahih Bukhari dalam kajian Ramadlan.

Kawit An Nur Slawi

Selain sebagai tameng, lanjut Gus Zen, puasa juga merupakan implementasi zakat raga. Menurutnya, puasa selain bisa mengekang nafsu seseorang juga bisa sebagai pembersih dirinya bagaikan dermawan mengeluarkan sebagian hartanya untuk fakir miskin.

Likulli syaiin? zakatun, wa zakatul jasadi ash-shaumu (segala sesuatu itu ada zakatnya dan zakatnya badan itu puasa,” imbuhnya.

Kawit An Nur Slawi

Selama 20 hari di bulan Ramadhan tahun ini, Pesantren Fathul Huda mengaji beberapa kitab yang diasuh oleh keluarga kiai dan dewan guru pesantren setempat. Di antaranya KH Zaenal Arifin Makshum mengaji Shahih Bukhari 4 juz, Gus Luthfinnajib mengaji Riyadhush Shalihin, dan Nyai Hj Khiyarotun Nisa Zen mengaji Faraidhul Bahiyyah, dan masih kitab-kitab rujukan NU lainnya. (A Shiddiq Sugiarto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pemurnian Aqidah, RMI NU Kawit An Nur Slawi

Rabu, 29 Februari 2012

Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI

Yogyakarta, Kawit An Nur Slawi. Pada acara perhelatan Konferwil Fatayat NU DIY ke-XI, Sabtu-Ahad (25/26), paduan suara dari MTs Binaul Ummah membakar semangat nasionalisme dan semangat ke-NU-an peserta yang hadir. Ada tiga lagu yang ditampilkan oleh paduan suara MTs Binaul Ummah yakni Mars Syubbanul Wathon, Mars Fatayat dan Syi’ir NU.?

Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI (Sumber Gambar : Nu Online)
Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI (Sumber Gambar : Nu Online)

Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI

“Indonesia negeriku, engkau panji martabatku, siapa datang mengancammu kan binasa di bawah dulimu. Siapa datang mengancammu kan binasa di bawah dulimu!, demikian salah satu lirik Mars Syubbanul Wathon karya Kiai Wahab Hasbullah yang menggetarkan arena Konferwil Fatayat ke-XI.?

Selain menyanyikan lagu bernafaskan nasionalisme, mereka juga menyanyikan syi’ir NU yang secara tidak langsung memberikan pengetahuan kepada para peserta yang hadir tentang NU dalam acara pembukaan Konferwil Fatayat tersebut.?

Tahun 26 laire NU. Ijo-ijo benderane NU. Gambar jagad simbole NU. Bintang songo lambange NU,” ujar mereka kompak.?

Pelatih paduan suara sekaligus guru di MTs Binaul Ummah, Heri Kiswanto mengungkapkan bahwa hanya butuh waktu latihan selama tiga minggu dan delapan kali tatap muka.?

Kawit An Nur Slawi

“Sebenarnya siswa memiliki potensi yang bagus dalam hal seni olah suara. Saya berharap ke depan, para siswa diberikan ruang lebih banyak untuk belajar musik,” tegas Heri.?

Sebagai pelatih, Heri juga menegaskan kagum dengan lagu Syubbanul Wathan.?

Kawit An Nur Slawi

“Lagu Syubbanul Wathan bukan sekadar lagu biasa. Lagu tersebut termasuk lagu yang memiliki ruh yang dapat menggetarkan dan membangkitkan kembali jiwa nasionalisme kaum santri, baik itu yang menyanyikan maupun yang mendengarkan lagu itu,” tandas Heri.?

Penampilan paduan suara MTs Binaul Ummah yang menyanyikan lagu bernapaskan nasionalisme mendapatkan apresiasi yang luas dari tamu undangan dan peserta yang hadir. (Nur Rokhim/Mukafi Niam)?



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Halaqoh Kawit An Nur Slawi

Senin, 20 Februari 2012

Silakan Datang, tapi Masyarakat Indonesia Tak Suka

Lamongan, Kawit An Nur Slawi. Pengurus Besar Mahdlatul Ulama (PBNU) mengingatkan Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush soal ketidaksenangan rakyat Indonesia. ”George Bush silakan datang, akan tetapi masyarakat Indonesia tidak menyukai kedatangnya dan itu harus direspon secara baik oleh Amerika,” ungkap KH Said Aqil Siradj, Ketua PBNU usai menghadiri acara halal-bi halal yang diselenggarakan Pengurus Cabang (PC) NU Lamongan di Ponpes Darul Mustaqhisin, Lamongan, Jawa Timur, Senin (13/11) kemarin.

Lebih lanjut, dikatakan Kang Said—demikian panggilan akrabnya--PBNU telah berupaya mengingatkan orang nomer satu di AS tersebut akan kehadirannnya di Indonesia 20 Nopember mendatang . ”Pak Hasyim (Muzadi-Red) akan menyampaikan pernyataan resminya menjelang kedatangan Bush. Namun intinya tetap, yakni sebagai tamu silakan saja datang ke Indonesia, akan tetapi perlu diketahui kalau masyarakat Indonesia tidak menyukai kedatangannya” ujarnya.

Silakan Datang, tapi Masyarakat Indonesia Tak Suka (Sumber Gambar : Nu Online)
Silakan Datang, tapi Masyarakat Indonesia Tak Suka (Sumber Gambar : Nu Online)

Silakan Datang, tapi Masyarakat Indonesia Tak Suka

Dalam sambutannya, Kang Said mengingatkan akan tantangan NU ke depan tidaklah ringan. ”Apalagi dengan bermunculannya berbagai aliran yang mempergunakan nama Islam yang jelas-jelas berusaha mengaburkan ajaran Islam seperti merebaknya aliran salawiyah,” ungkapnya.

Di samping itu ia mengingatkan NU hendaknya saat ini dapat menjadi pengayom, pelindung dan penyelamat umat lain, tambahnya.

Sementara itu H Soejono, wakil sekretaris Pengurus Wilayah (PW) NU Jawa Timur mengingatkan agar warga NU tidak mengungkit-ungkit kembali kasus serta sikap yang diambil PWNU Jawa Timur soal penetapan Hari Raya Idul Fitri 1427 H beberapa waktu lalu yang berbeda dengan ketetapan PBNU.

Kawit An Nur Slawi

”PWNU dan PBNU menganggap kasus ini sudah selesai dan meminta warga NU Jawa Timur untuk tidak ngudhal-udhal (mengungkit-ungkit-Red) masalah ini lagi,” ungkapnya.

Acara halal-bihalal PCNU Lamongan sendiri berlangsung semarak, karena dihadiri ribuan warga nahdiyyin, dari Pengurus Ranting (PR) sampai Majelis Wakil Cabang (MWC) serta badan otonom di bawah NU se-Lamongan yang memadati lapangan Masjid Pondok Pesantren Darul Mustaqisin. Di antara yang hadir, para kiai sepuh NU, seperti, KH Ilyas Mawardi, KH Suudi Karim, KH Masud Maj’nar (Gus Ud) serta beberapa kiai lainnya.

Di samping itu ada anggota DPR-RI Taufiqurraham Saleh, H Makkin Abbas Ketua DPRD Lamongan, serta Pj Ketua Tanfidziyah PCNU Lamongan KH Abdullah Maun. (hrb/ais)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Budaya, AlaNu, Tokoh Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 18 Februari 2012

Sambut Tahun Baru Hijriah, Ratusan Nahdliyin Probolinggo Shalat Tasbih

Probolinggo, Kawit An Nur Slawi. Dalam rangka menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1439 Hijriyah, ratusan Nahdliyin di Kabupaten Probolinggo melakukan sholat Tasbih berjamaah di Masjid Bin Aminuddin di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Rabu (20/9) malam.

Sambut Tahun Baru Hijriah, Ratusan Nahdliyin Probolinggo Shalat Tasbih (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Tahun Baru Hijriah, Ratusan Nahdliyin Probolinggo Shalat Tasbih (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Tahun Baru Hijriah, Ratusan Nahdliyin Probolinggo Shalat Tasbih

Sholat Tasbih ini digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo bersama pengurus PCNU (Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan) serta Pondok Pesantren Hati Kraksaan.

Kegiatan ini dihadiri Pengasuh Pondok Pesantren Hati sekaligus Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Probolinggo Nadda Lubis serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo.

Hadir pula sejumlah jajaran pengurus syuriyah dan tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan. Serta sejumlah pengurus Gapensi dan Kepala Desa/Lurah se-Kecamatan Kraksaan.

Sholat Tasbih yang dipimpin imam KH Miftahul Huda ini diawali dengan sholat Isya berjamaah. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tentang tata cara dan fadhilah dari sholat Tasbih.

Kawit An Nur Slawi

 

Dalam sambutannya KH Miftahul Huda menyampaikan bahwa sholat Tasbih ini merupakan anjuran dari Rasulullah SAW yang harus selalu dilakukan setiap hari, seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali dan sekali dalam hidup. “Jangan sampai tidak pernah melakukan sholat Tasbih selama hidup di dunia,” katanya.

Kawit An Nur Slawi

Menurut Kiai Huda, dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menyebutkan bahwa dengan melakukan sholat Tasbih maka Allah akan mengampuni dosa-dosa baik awal maupun akhir, dosa yang baru maupun lama, disengaja atau tidak dan terang-terangan atau sembunyi.

“Disamping bisa menghapus dosa awal dan akhir, gerakan dari sholat Tasbih juga mampu membuat orang yang melakukannya sehat wal afiat. Sehingga banyak sekali fadhilah dari melakukan sholat Tasbih,” tegasnya.

Sementara H Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa kegiatan sholat Tasbih ini dilakukan dengan niatan semata-mata untuk mencari ridho dari Allah SWT. Hal ini merupakan salah satu syiar karena selama ini umat Islam terjebak dalam perayaan tahun baru masehi. 

“Biasanya, tahun baru 1 Januari itu dirayakan dengan sangat meriah sekali. Kita selaku umat Islam terjebak didalam. Sehingga begitu saya menjadi Ketua DPRD tahun 1999 silam, saya mengawali peringatan Tahun Baru Hijriyah dengan melakukan pawai obor. Sebenarnya Islam itu mayoritas, tetapi terkadang terjebak dengan budaya  di luar Islam,” katanya.

Menurut Hasan, sholat Tasbih ini sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk menghapus dulu kita mulai dari awal hingga akhir, baik sengaja maupun tidak disengaja serta baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

“Ke depan saya atas nama Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan berniat akan membudayakan sholat Tasbih di Masjid Bin Aminuddin. Saya akan berusaha istiqomah setiap bulan melaksanakan sholat Tasbih pada malam Kamis Wage. Semoga kita mampu mengamalkannya dengan baik,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut Hasan Aminuddin juga mengajak seluruh jamaah untuk berdoa bersama-sama yang ditujukan kepada saudara muslim Rohingya yang ada di Rakhine State, Myanmar. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Fragmen, Olahraga, Berita Kawit An Nur Slawi

Rabu, 08 Februari 2012

Perempuan dan Perpres Umar bin Khattab RA

Konon, dalam riwayat Abdullah bin Mish‘ab, Amirul Mukminin Sayyidina Umar bin Khattab RA susah tidur. Jumlah perjaka tua atau jomblo kawakan membludak. Mereka telat kawin bahkan luput karena standar mahar begitu tinggi. Tambah lagi upacara tetek-bengek adat perkawinan yang rumit dan tentu nambah ongkos.

Sayyidina Umar RA berinisiatif mengeluarkan Perpres terkait mahar. Amirul mukminin yang sangat power full ini menetapkan batas maksimal mahar calon mempelai pria untuk calon mempelai wanita pada angka 40 uqiyah mas (1 uqiyah setara 28 gram).

Perempuan dan Perpres Umar bin Khattab RA (Sumber Gambar : Nu Online)
Perempuan dan Perpres Umar bin Khattab RA (Sumber Gambar : Nu Online)

Perempuan dan Perpres Umar bin Khattab RA

“Pokoknya jangan lebih dari 40 uqiyah mas sekalipun mempelai wanitanya adalah gadis turunan bangsawan seperti anak gadis Yazid bin Hushain (pemuka adat Bani Harits). Kalau sampai ketahuan ada yang bayar kelebihan, saya beslah lebihannya untuk nambah kas negara,” kata Sayyidina Umar RA.

Kawit An Nur Slawi

Para hulubalang istana hingga aparat desa dan khotib-khotib Jumat bekerja keras. Mereka ingin memastikan Perpres itu sampai ke lapisan masyarakat paling bawah. Walhasil, mereka ingin Perpres ini diketahui dengan merata. Sementara Sayyidina Umar bin Khattab bisa bernafas lega, dan tidur nyenyak.

Tanpa diduga seorang wanita memaksa untuk bertemu.

Kawit An Nur Slawi

“Yang mulia. Apa kagak salah?” kata wanita tersebut menggugat Perpres Sayyidina Umar RA.

“Masalahnya di mana?” kata Sayyidina Umar RA bingung.

“Yang benar saja kalau bikin peraturan? Peraturan yang mulia buat berbenturan dengan kitab suci kita,” katanya. Ia kemudian membaca Surat An-Nisa ayat 20 yang artinya “Sedangkan kalian telah memberikan harta yang banyak kepada salah seorang di antara mereka, maka janganlah kalian mengambil kembali sedikitpun pemberian tersebut.

Usai membaca ayat tersebut, ia meninggalkan Amirul Mukminin yang tinggal dalam keadaan jengkel.

Wajah Sayyidina Umar RA berubah merah. Semua suara seakan masuk ke telinganya. Hatinya berbisik, “Itukan ayat soal lain, soal larangan seorang suami mengambil mahar yang pernah diberikan kepada istri lamanya sebelum diceraikan, lalu diberikan kepada calon istri baru.”

“Susah ngomong dengan perempuan. Maunya menang sendiri. Kaum laki-laki sampai kiamat pun akan salah terus,” kata Sayyidina Umar RA geleng-geleng kepala mengalah lalu berpaling. (Alhafiz K)

*) Dikutip dari Akhbaruz Zhiraf wal Mutamajinin karya Ibnul Jauzi. Judul dibuat oleh pengutip.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hadits, Pendidikan Kawit An Nur Slawi