Jumat, 31 Juli 2015

Safari Ramadhan di Pringsewu Diiringi Khotmil Qur’an

Pringsewu, Kawit An Nur Slawi. Suasana berbeda nampak terlihat dari Kegiatan Safari Ramadhan Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu yang digelar tahun ini. Kegiatan tahunan di setiap Ramadhan kali ini nampak khidmah dan sejuk seiring lantunan ayat Quran yang dibaca oleh para jamaah.

Safari Ramadhan di Pringsewu Diiringi Khotmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Safari Ramadhan di Pringsewu Diiringi Khotmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Safari Ramadhan di Pringsewu Diiringi Khotmil Qur’an

Sebelum Acara Safari dilaksanakan, setiap desa di Kecamatan yang mengadakan acara tersebut mengirimkan 30 jamaah yang akan menghatamkan Al-Qur’an. Kegiatan ini merupakan kegiatan kolaborasi antara MUI Kabupaten Pringsewu dan Tim Penggerak PKK Kabupaten Pringsewu.

Kegiatan pertama pada Safari yang dilaksanakan di Masjid Al-Muttaqin Kedaung Kecamatan Pardasuka, Kamis (9/6) tersebut diikuti oleh lebih kurang 500 orang jamaah yang terdiri dari Ibu Ibu Muslimat dan Pengurus MUI Kecamatan Pardasuka.

Dalam Kegiatan tersebut, Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pringsewu Ibu Nurrohmah Sujadi nampak langsung memandu Jamaah serta ikut membaca dan menghatamkan 1 juz Al Quran yang sudah diberikan.

Kawit An Nur Slawi

Menurut KH Hambali, kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memohon barakah dan ridho dari Allah SWT agar cita cita Pringsewu yang Agamis dapat benar benar terealisasi di Kabupaten dengan Motto Bersenyum Manis tersebut.

"Kita akan laksanakan kegiatan Tahtimul Quran di sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Pringsewu mengiringi Kegiatan Safari Ramadhan Pemda. Semoga Allah memberkahi kegiatan ini dan memberkahi Kabupaten Pringsewu," harap KH Hambali yang juga sesepuh JQH NU Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi IMNU, Cerita, Makam Kawit An Nur Slawi

Jumat, 10 Juli 2015

HPN Canangkan Program Pembangunan Desa

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) berkomitmen turut membangun desa-desa di Indonesia yang hingga kini dinilai masih jauh dari idaman. Tekad ini diwujudkan melalui kerja sama antara HPN dan Yayasan Absindo Desa Emas yang fokus dalam bidang pemberdayaan desa.

HPN Canangkan Program Pembangunan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
HPN Canangkan Program Pembangunan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

HPN Canangkan Program Pembangunan Desa

Kesepakatan kerja sama ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Ketua Umum HPN Abdul Kholik dan Ketua Yayasan Absindo Desa Emas Aries Mufti di Auditorium Lantai 5 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu (30/11). Kedua lembaga ini berharap masing-masing pihak bisa saling melengkapi dengan potensi yang dimiliki.

Abdul Kholik menilai, kesenjangan antara kaum kaya dan miskin masih tinggi di Indonesia. Hal itu tergambar dengan melihat perbedaan yang tajam antara kondisi kota dan desa, meskipun warga kota tak selalu kaya begitu juga sebaliknya.

Kawit An Nur Slawi

Ia menyinggung soal makin langkanya lapangan pekerjaan di desa-desa. Sektor pertanian makin banyak ditinggalkan seiring dengan kian tidak menjanjikannya keuntungan yang didapat dari komoditas perdamaian. HPN ingin warga NU yang mayoritas berada di desa-desa mendapatkan peluang untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Kawit An Nur Slawi

“HPN tak bisa membantu Nahdliyin untuk menjadi kaya. Yang bisa kita lakukan adalah memberi kesempatan yang equal,” ujarnya dalam forum yang dirangkai dengan diskusi terbatas tentang tetang pemberdayaan ekonomi desa itu.

Sementara Aries dalam kesempatan itu berbagi pengalamannya di forum internasional Global Saemaul Undong di Korea Selatan, yang diikuti berbagai negara seperti China, Thailand, Malaysia, dan Jepang. Ia juga pernah berkunjung langsung ke desa terkaya di dunia, Huaxi di China.

Huaxi, kata anggota Komisi Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) ini, bisa menjadi contoh ideal bagi strategi pembangunan desa. Sebanyak 361 kepala keluarga yang semula dalam kondisi sangat miskin mengalami kemajuan signifikan setelah mereka bangkit dan bergotong royong membangun koperasi atau sejenis usaha bersama.

Hadir pula Dianta Sebayang, dosen Universitas Negeri Jakarta, yang berbicara tentang UMKM. Menurutnya, saat ini 90 persen usaha di Indonesia masuk kategori UMKM, dan mayoritas ada di desa utamanya di sektor pertanian. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Olahraga, Bahtsul Masail, Quote Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 04 Juli 2015

Jalan Panjang Terbentuknya "IPNU Putri"

Solo, Kawit An Nur Slawi. Pada tulisan sebelumnya, lahirnya organisasi yang sekarang bernama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) ini berawal dari gagasan hasil diskusi para pelajar putri di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta.

Gagasan ini menjadi semakin matang dengan diusulkannya pembentukan sebuah tim kecil oleh Ahmad Mustahal Masyhud, ketua IPNU cabang Surakarta saat itu, yang juga secara rajin memantau perkembangan gagasan nahdliyyat muda tersebut untuk membuat draf resolusi pendirian IPNU Putri.

Jalan Panjang Terbentuknya IPNU Putri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan Panjang Terbentuknya IPNU Putri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan Panjang Terbentuknya "IPNU Putri"

Tim yang diketuai Nihayah dan sekretaris Atikah Murtadlo ini menyusun draf resolusi di kediaman Haji Alwi di daerah Sememen-Kauman-Surakarta dan memutuskan untuk memberitahukan adanya rencana resolusi tersebut kepada PP IPNU yang ? berkedudukan di Yogyakarta.

Kawit An Nur Slawi

Tim juga menetapkan dua orang anggotanya yaitu Umroh Machfudzoh dan Lathifah Hasyim sebagai utusan untuk menemui PP IPNU di Yogyakarta. ? Selanjutnya utusan tersebut berangkat ke Yogyakarta dan diterima langsung oleh Ketua Umum PP IPNU, M. Tolchah Mansoer.

Dalam pertemuannya, Umroh menyampaikan permintaan tim resolusi IPNU Putri agar PP IPNU dapat menyertakan cabang-cabang yang memiliki pelajar-pelajar putri untuk menjadi peserta/wakil putri pada Kongres I IPNU di Malang. Selanjutnya disepakati pula dalam pertemuan tersebut bahwa peserta putri yang akan hadir di Malang nantinya dinamakan IPNU Putri.

Kawit An Nur Slawi

Dalam Kongres di Malang, yang dilaksanakan pada tanggal 28 Februari - 5 Maret 1955, ternyata keberadaan IPNU putri masih diperdebatkan secara alot. Rencana semula yang menyatakan bahwa keberadaan IPNU putri secara administratif menjadi departemen dalam organisasi IPNU. Namun, hasil pembicaraan dengan pengurus PP IPNU telah membentuk semacam kesan eksklusifitas IPNU hanya untuk pelajar putra.

Melihat hasil tersebut, pada hari kedua kongres, peserta putri yang terdiri dari lima utusan daerah (Yogyakarta, Surakarta, Malang, Lumajang dan Kediri) terus melakukan konsultasi dengan jajaran teras Badan Otonom NU yang menangani pembinaan organisasi pelajar yakni PB Ma’arif (KH. Syukri Ghozali) dan PP Muslimat (Mahmudah Mawardi).

Dari pembicaraan tersebut menghasilkan keputusan yakni IPNU putri secara organisatoris dan secara administratif terpisah dari IPNU. Untuk menjalankan roda organisasi dan upaya pembentukan-pembentukan cabang selanjutnya ditetapkan sebagai ketua yaitu Umroh Mahfudhoh dan sekretaris Syamsiyah Mutholib.

Maka, sejak tanggal 2 Maret 1955 M/ 8 Rajab 1374 H, yang kemudian diperingati sebagai hari kelahirannya, organisasi pelajar putri NU itu resmi berdiri. Sedangkan Pengurus Pusat (PP) IPNU putri pada saat itu berkedudukan di Surakarta, Jawa Tengah. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Sumber: Wawancara terpisah dengan Umroh M., Nihayah Ahmad Siddiq, dan Mahmudah Nachrowi/ KMNU Mesir.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Budaya Kawit An Nur Slawi