Sabtu, 21 Januari 2012

Hasyim: Media Massa Lebih Kuasa dari Parpol

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Media massa berhak dan bebas untuk memilih dan menyajikan informasi sesuai dengan kode etik jusrnalistik dan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia, namun tetap harus menjalankan tugas penting yakni menjaga keutuhan dan keselamatan bangsa.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi saat memberikan pengantar singkat pada acara sarasehan bersama Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Mohammad Nuh dan para pelaku media massa Indonesia di gedung PBNU Jakarta, Rabu (5/12) pagi. Sarasehan bertajuk "Menakar Plus Minus Media Massa Indonesia."

Ketua Umum PBNU menyatakan, media massa memiliki kekuatan yang luar biasa dalam mengendalikan opini dan bahkan membentuk perilaku masyarakat. "Bahkan bisa dikatakan media masa itu lebih berkuasa dibanding partai politik," katanya.

Hasyim: Media Massa Lebih Kuasa dari Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: Media Massa Lebih Kuasa dari Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: Media Massa Lebih Kuasa dari Parpol

Pada kesempatan itu Kiai Hasyim mempertanyakan soal rating siaran televisi yang dinilainya tidak fair dan penuh teka-teki. Padahal rating berhubungan erat dengan jadwal penayangan iklan dan pengaturan jam tayang.

"Yang terjadi, tayangan yang baik-baik malah ratingnya rendah. Maka perlu ditegaskan rating ini makhluk apa dan cara mendapatkannya bagaimana," katanya.

Kawit An Nur Slawi

Sarasaehan itu menurut Kiai Hasyim diadakan sebagai salah satu pertanggungjawaban sekaligus peran Nahdlatul Ulama dalam menyikapi persoalan kebangsaan.

Menkominfo Mohammad Nuh mengatakan sarasehan bersama para pelaku media itu merupakan inisiatif yang sangat cerdas dan strategis.

"PBNU punya satu sensitifitas tinggi mengenai media Indonesia. Bukan untuk siapa-siapa tapi untuk generasi bangsa di masa depan," katanya.

Dikatakan Menkominfo, NU Mempunyai energi yang sangat besar berupa cita-cita dan ideologi yang menjadikan tetap eksis dalam menyikapi berbagai persoalan kebangsaan. "Dengan inisiatif seperti ini saya yakin NU bisa memberikan kontribusi yang sangat besar," katanya.

Kawit An Nur Slawi

Pada kesempatan itu diadakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PBNU dengan Radio Rebublik Indoneisa (RRI) mengenai kerjasama dalam hal penyiaran acara pedesaan di RRI. MoU ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan Direktur Utama RRI Parni Hadi, disaksikan oleh Menkominfo Mohamad Nuh. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Syariah, Halaqoh Kawit An Nur Slawi

Jumat, 13 Januari 2012

Soal Pilpres, PBNU Tegaskan Netral

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, kembali menegaskan bahwa NU netral dalam pemilihan presiden mendatang. NU tidak akan mendukung salah satu kandidat calon presiden dan wakil presiden.

Soal Pilpres, PBNU Tegaskan Netral (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Pilpres, PBNU Tegaskan Netral (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Pilpres, PBNU Tegaskan Netral

"NU bukan partai politik, jadi tidak akan terlibat aksi dukung-mendukung," kata Kiai Said di Jakarta, Selasa (29/4). Penegasan netralitas ini disampaikan setelah beredar kabar dukungan NU ke kandidat calon presiden tertentu, seiring dengan banyaknya aksi silaturahim politisi ke PBNU.

Dengan netralitas tersebut, Kiai Said mengaku memberikan kebebasan kepada Nahdliyin untuk menentukan pilihannya. Termasuk jika ada kader NU yang menginginkan maju dalam pemilihan presiden dan wakil presiden, pilihan ke mana berkoalisi diserahkan sepenuhnya kepada yang bersangkutan. "Saya tidak menyebut nama ke mana dukungan warga NU mestinya diberikan," tambahnya.

Kawit An Nur Slawi

Meski demikian NU sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar ingin memberikan arahan kepada rakyat Indonesia pada umumnya dan umat Islam khususnya, terkait kriteria pemimpin yang layak dipilih. Kriteria itu sendiri seperti tertuang dalam kitab al-Ahkam ash-Shulthoniyah karya Imam Mawardi yang sudah banyak dikaji di pesantren-pesantren.

"Kriteria pemimpin islami pertama adalah berilmu, cerdas (alim). Kedua adalah berani, tegas (syuja), dan ketiga adil (adil)," kata Kang Said, demikian Kiai Said disapa di kesehariannya.

Kawit An Nur Slawi

Kriteria keempat pemimpin islami, lanjut Kang Said, adalah jujur dan sederhana (zuhud). Sementara kriteria terakhir adalah mampu secara fisik (salim al-jism). "Kalau ada calon pemimpin yang bisa memenuhi lima kriteria itu, dia sudah islami, meskipun diusung oleh partai yang tidak berbasis massa Islam," pungkanya. (Samsul Hadi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Tegal, Pendidikan Kawit An Nur Slawi

Pagar Nusa Tak Pernah Keluarkan SK Pagar Nusa Tanjungsari

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Pengurus Cabang NU (PCNU) dan organisasi pencak silat NU, Pagar Nusa Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, memastikan pemasangan spanduk yang mengatasnamakan Pagar Nusa pada Muktamar Khilafah 2013 Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah praktik ilegal.

”Kami belum pernah mengeluarkan SK (surat keputusan) atau melantik PAC (Pimpinan Anak Cabang) di kecamatan manapun di Kabupaten Sumedang,” kata Ketua Pimpinan Cabang Pagar Nusa Sumedang Sumpena Saripudin saat dihubungi Kawit An Nur Slawi Selasa (11/6).

Pagar Nusa Tak Pernah Keluarkan SK Pagar Nusa Tanjungsari (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Tak Pernah Keluarkan SK Pagar Nusa Tanjungsari (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Tak Pernah Keluarkan SK Pagar Nusa Tanjungsari

Seperti dikutip mediaumat.com, seseorang bernama Asep Wahyu mengaku sebagai Ketua Pagar Nusa Kecamatan Tanjungsari dan secara sengaja memasang spanduk bertuliskan ”Cadu Mundur Pantang Mulang, Pagar Nusa, Wilayah Tanjungsari-Sumedang, Siap Mengawal Tegaknya Syariah dan Khilafah”. Asep mengklaim kehadirannya bersama spanduk berlogo resmi Pagar Nusa itu atas sepengetahuan dan melalui koordinasi dengan pengurus Pagar Nusa Sumedang dan Jawa Barat.

Saat dikonfirmasi, Sumpena mengatakan sama sekali tak mengenal Asep Wahyu. Dia menegaskan nama tersebut tak ada dalam daftar kepengurusan NU di posisi atau tingkatan manapun. ”Nulisnya saja pakai kata ’wilayah Tanjungsari’ padahal harusnya ’PAC Pagar Nusa Tanjungsari’. Berarti dia enggak paham,” imbuhnya.

Sumpena berjanji akan membubarkan organisasi yang mengatasnamakan Pagar Nusa itu jika ada, karena dianggap telah melakuan pelanggaran berat asas organisasi.

Menurut Ketua PCNU Sumedang Sa’dullah, sejumlah aktivis HTI di tingkat kabupaten, bahkan Jawa Barat, memang banyak di kawasan Tanjungsari dan kecamatan sebelahnya, Jatinangor. Nama Asep Wahyu dinilai asing dan tak pernah ia jumpai, baik dalam kepengurusan atau kegiatan-kegiatan NU.

Kawit An Nur Slawi

Sa’dullah mengimbau seluruh pengurus NU di lembaga, lajnah, dan badan otonom, di semua tingkatan dapat berkoordinasi secara solid agar kasus pemalsuan serupa tidak terulang kembali. Sebagai langkah klarifikasi, sambungnya, PCNU Sumedang akan mengeluaran pernyataan resmi di sejumlah koran lokal.

Kawit An Nur Slawi

Ketua Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jawa Barat KH Ubaidillah Ruhiyat juga mengaku tidak tahu-menahu soal pencatutan nama Pagar Nusa pada spanduk yang dipasang di tribun stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, 2 Juni lalu itu. Spanduk tersebut juga tertangkap kamera dalam siaran tunda Muktamar Khilafah 2013? oleh TVRI? pada 6 Juni, 07.00-08.00 WIB.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pendidikan, Lomba Kawit An Nur Slawi

Kamis, 12 Januari 2012

NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan

Sumedang, Kawit An Nur Slawi - Pengurus Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Kabupaten Sumedang memberikan penyuluhan hukum berkaitan dengan penyalahgunaan narkotika, HIV/AIDS, dan sosialisasi undang-undang tindak pidana ringan (tipiring). Mereka bertujuan untuk menggugah kesadaran hukum terutama di kalangan pelajar di Sumedang.

Acara yang bertempat di Gedung Islamic Center Sumedang ini dihadiri seribu pelajar yang mewakili sekolah-sekolah setingkat SMA yang ada di Sumedang.

NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan

Ketua LPBHNU Sumedang Jandri Ginting sebagai penggagas kegiatan ini mengatakan bahwa penyuluhan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Harlah Ke-93 NU. Sasaran dari kegiatan penyuluhan ini adalah pelajar. Para pelajar biasanya ingin mencoba dan menikmati hal-hal baru.

Para pelajar sekarang dijadikan objek pemasaran narkoba. Sebab itu NU tertantang untuk mengingatkan bahaya narkoba kepada kaum pelajar dengan cara mengadakan kegiatan ini.

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

“Para pelajar sekarang banyak yang terjerat pidana ringan. Hal itu mungkin disebabkan karena ketidaktahuan mereka tentang undang-undang tindak pidana ringan (tipiring). Dalam kesempatan penyuluhan ini disosialisasikan juga tentang undang-undang tipiring,” tandas Jandri.

Kegiatan ini dibuka oleh Ketua NU Sumedang H Sadulloh dan Sekda Kabupaten Sumedang H Zaenal Alimin.

H Sadulloh mengatakan bahwa NU Sumedang siap memerangi narkoba. Ketika seseorang mengonsumsi narkoba, akan muncul kejahatan-kejahatan lain yang diakibatkan oleh narkoba tersebut.

“Gara-gara orang mengonsumsi narkoba, orang tersebut bisa membunuh, mencuri, memerkosa, dan berbuat kejahatan lainnya. Karena itu stop narkoba dari sekarang,” kata H Sadulloh.

Sementara Zainal Alimin berpesan agar berhati dengan pikiran karena pikiran bisa menjadikan perkataan. Perkatan bisa memunculkan perbuatan yang membuatnya menjadi terbiasa. “Mari berpikir positif dan jauhi narkoba supaya nasib kita menjadi orang-orang yang baik.” (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Olahraga, Pertandingan, Tegal Kawit An Nur Slawi