Minggu, 28 Juni 2015

Pesantren Al-Hidayah Doa Bersama di Ujung Tahun

Grobogan, Kawit An Nur Slawi. Pondok Pesantren Al-Hidayah Desa Selo, Grobogan, Jawa Tengah menggelar istighosah. Kegiatan tersebut sebagai doa penghujung tahun 2013. Kegiatan yang berlangsung di pesantren tersebut pada Rabu (25/12).

Pesantren Al-Hidayah Doa Bersama di Ujung Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Hidayah Doa Bersama di Ujung Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Hidayah Doa Bersama di Ujung Tahun

Rangkaian doa istighosah sama persis dengan kalimat yang biasa dilantunkan KH. Asrori Al-Ishaqi, pemimpin jamaah Al-Khidmah, Kedinding, Jawa Timur.

“Istighasah yang dibacakan adalah istighasah karya Kiai Asrori Kedinding,” ujar Pengurus Pondok Al-hidayah, Darul Ulum, (25/12).

Kawit An Nur Slawi

Istighasah tersebut dipimpin langsung pengasuh pondok pesantren Al-Hidayah, KH Imron Hasani. Disamping istighosah, ia juga menyampaikan taushiyah kepada para hadirin.

Kawit An Nur Slawi

Kegiatan tersebut bertujuan memohon kepada Allah supaya selamat dari berbagai cobaan. Selain itu, bertujuan untuk menjalin ukhuwah islamiyyah di antara warga.

Peserta yang hadir bukan hanya dari santri Al-hidayah dan warga sekitar saja, namun warga dari desa lain yakni Gatak, Gentan, Ngantru dan Ngrukem.

Doa bersama menjadi acara penutup diantara beberapa rangkaian acara dan dilanjutkan saling bersalaman satu dengan yang lain dengan harapan dosa-dosa sesama muslim dapat gugur dan dapat diampuni. (Asnawi Lathif/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pertandingan Kawit An Nur Slawi

Rabu, 24 Juni 2015

PKPT IPNU-IPPNU Unsuri Gelar Unsuri Bersholawat

Sidoarjo, Kawit An Nur Slawi. Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU-IPPNU Universitas Sunan Giri (Unsuri) Sidoarjo, Jawa Timur menggelar acara Unsuri Bersholawat. Acara tersebut digelar di aula Rektorat Unsuri, Ahad (10/1) lalu dan diikuti oleh ratusan mahasiswa Unsuri, perwakilan PAC IPNU-IPPNU se-Sidoarjo, dan PMII Unsuri.

"Unsuri bersholawat ini dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhamad SAW. Dengan adanya Unsuri bersholawat, semoga prestasi kami selalu didampingi berkah bulan maulid dan mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW. Semoga semangat dalam menyiarkan sholawat agar menyholawatkan masyarakat dan memasyarakatkan sholawat," kata ketua PKPT IPNU Unsuri, M Asrori Bahiruddin.

PKPT IPNU-IPPNU Unsuri Gelar Unsuri Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)
PKPT IPNU-IPPNU Unsuri Gelar Unsuri Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)

PKPT IPNU-IPPNU Unsuri Gelar Unsuri Bersholawat

Ketua PKPT IPPNU Unsuri Imroatul Mufidah menambahakan, dengan adanya Unsuri bersholawat ini, diharapkan mampu menanamkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.?

Kawit An Nur Slawi

"Semoga PKPT IPNU-IPPNU Unsuri lebih maju dari sebelumnya dan untuk semuanya semakin cinta kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW," harap Mufidah.

Kawit An Nur Slawi

Rektor Unsuri Sidoarjo, H Soenarjo mengapresiasi atas terselenggaranya acara tersebut. Pihaknya meminta kepada IPNU-IPPNU untuk terus melakukan kegiatan yang bersifat positif terutama bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. "Teruskan kegiatan semacam ini," ucapnya singkat. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Quote, Internasional Kawit An Nur Slawi

Rabu, 10 Juni 2015

Hadapi PP 109, ISNU Kudus Gelar Ngaji Kretek

Kudus, Kawit An Nur Slawi. Akhir abad ke-IX, H. Jamhari, warga Kudus, dengan sesadar diri bereksperimen membuat lintingan klobot berisi tembakau dan cengkeh untuk diisapnya. Ini bukan untuk dikomersilkan, melainkan demi mengobati penyakit yang dideritanya saat itu, batuk asma.

Hadapi PP 109, ISNU Kudus Gelar Ngaji Kretek (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi PP 109, ISNU Kudus Gelar Ngaji Kretek (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi PP 109, ISNU Kudus Gelar Ngaji Kretek

Rupanya eksperimen ini berhasil, dan H. Jamhari sembuh. Lalu terkenallah rokok obat itu sampai ke para tetangga, hingga masyarakat luas. Hingga sekarang rokok itu bernama rokok kretek, karena saat dinikmati rokok itu keluar bunyi “kretek-kretek”. Ini rokok khas Nusantara, bukan yang lain.

Ironis, jika kini pemerintah justeru melegalkan peraturan tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi Kesehatan. Apalagi, kini perusahaan rokok menjadi salah satu tombak perekonomian di Nusantara. Di Kudus, industri rokok menjadi penopang ekonomi hampir dari separuh warganya.

Kawit An Nur Slawi

Menghadapi hal ini, Jumat (8/8) kemarin, Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kudus mengadakan workshop “Ngaji Kretek” di hotel Home Kudus. Pengajian ini mengusung tema “Kretek; dari Diskriminasi hingga Telikungan Kepitalisme Global”.

Narasumber dalam Ngaji Kretek ini adalah Djoko Herryanto (Devisi Riset dan Development PT. Djarum), Zamhuri (Deputi Riset Masyarakat Pemangku Kepentingan Kretek Indonesia/MPKKI), Hasan Aoni Aziz (Gappri), H. Ahmad Faiz, LC. MA. (Dosen Selcuk Univeristy, Konya, Turki).

Kawit An Nur Slawi

Acara ini membahas kontroversi rokok dari berbagai ranah yang melingkupinya. Antara lain segenap anasir kebudayaan yang ada, sejak politik ekonomi, tradisi, agama, sejarah. Pembahasan juga diarahkan pada kesejahteraan warga NU.

“Hampir separuh dari warga Kudus memenuhi kebutuhan hidupnya dari perusahaan rokok, dan mereka itu mayoritas adalah warga NU. Jadi permasalahan tentang rokok ini memang sudah menjadi tugas NU dan Banomnya. Kita menyayangkan PP 109 bukan untuk membela para pengusaha rokok, melainkan untuk membela rakyat buruh,” ujar Zamhari.

Menurutnya, rokok menjadi produk Nusantara yang paling diurus oleh banyak pihak karena di dalamnya mengandung banyak peluang.

“Lihatlah, Nusantara sebagai salah satu penghasil sekaligus penikmat tembakau terbesar di dunia, tidak kemudian mengalami angka kematian tinggi bersebab penyakit yang katanya bersumber dari tembakau itu. H. Jamhari membuktikan, rokok sebagai obat. Berarti perusahaan farmasi juga berkepetingan merebut pasar tembakau dari pabrik rokok. Tembakau punya potensi uang yang besar. Ia punya harga yang mahal. Satu-satunya produk kita yang begitu banyak diurus oleh pelbagai pihak ya rokok, sebab ada banyak kepentingan politik di sana. Politik ekonomi, utamanya, sebagai ganti dari lakon imperialisme,” penulis buku Republik Kretek; dari Kudus untuk Dunia (2013) ini bertutur.

Acara Ngaji Kretek dihadiri oleh para aktivis mahasiswa, persatuan pengusaha rokok, politisi, akademisi, pegiat sosial, serta segenap pengurus banom NU Kudus.[Istahiyya/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hikmah Kawit An Nur Slawi