Kamis, 31 Agustus 2017

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Rombongan Kementerian Agama Malaysia mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat, Selasa (15/5) pagi. Rombongan yang berjumlah 29 orang ini, disambut baik oleh sejumlah Ketua Umum PBNU dan beberapa pengurus tanfidziyah. Kedua pihak saling mengabarkan kondisi sosial-keagamaan di masing-masing negara.

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia

Dalam kesempatan ? tersebut, Iqbal Sullam, Ketua PBNU sempat mengenalkan profil singkat NU, badan otonom dan lembaga-lembaga yang ada di bawahnya. Pesantren dan madrasah yang menjadi kantong intelektual dan tata nilai moral-kultural NU, masuk dalam profil NU.

Kedua pihak sepakat untuk mewaspadai gerakan-gerakan keagamaan yang ekstrem, terlebih lagi menggunakan kekerasan sebagai bentuk saluran aspirasinya. Masing-masing pihak, tidak menyetujui segala bentuk kekerasan atas nama apapun dan untuk tujuan apapun.

Kawit An Nur Slawi

PBNU menyatakan akan menerapkan, bentuk dakwah yang cocok dengan lokal setempat. “Dengan demikian, NU mengedepankan tawasuth, tasamuh, dan tawazun. Tiga istilah ini mungkin berbeda penyebutannya di Malaysia,” papar Iqbal Sullam disertai anggukan rombongan tamu.

Kawit An Nur Slawi

Kedamaian dan persaudaraan bisa terjadi karena NU mendahulukan dan mementingkan 3 persaudaraan. Ketiganya adalah persaudaraan sesama muslim, persaudaraan se-tanah air, dan persaudaraan kemanusiaan. Karenanya, NU menjadi besar disebabkan oleh kalangan ulama yang mengorganisir dirinya dan menyatu dengan masyarakatnya.?

“Kalau di Timur Tengah juga banyak ulama-ulama, namun tidak bisa menyelasikan konflik. Sedangkan kami di Indonesia mampu meredam konflik hingga tuntas,” ungkap Said Aqil Siroj, Ketum PBNU di hadapan tamunya.

Mayjen Dato Seri Jamil Khir bin Baharom, Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Agama) Malaysia, mengungkapkan pihaknya sepakat dengan paparan dari PBNU.

“Kita bangsa Malaysia juga sangat menghargai perbedaan seperti juga Nahdlatul Ulama. Dan kita bangsa Malaysia juga bagian dari persekawanan dengan Nahdlatul Ulama,” katanya.

Di akhir pertemuan, kedua pihak saling memberikan cendera mata. Pemberian cendera mata adalah bukti sambutan baik PBNU akan kunjungan pihak Kementrian Agama Malaysia. Pertemuan keduanya sempat diliput oleh pers Malaysia dan pers dalam negeri Indonesia.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Syariah, Nahdlatul Ulama Kawit An Nur Slawi

Selasa, 29 Agustus 2017

Siap Fasilitasi, Bupati Dorong PBNU Dirikan Perguruan Tinggi di Rembang

Rembang, Kawit An Nur Slawi

Bupati Rembang H Adul Hafidz mendorong Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk mendirikan perguruan tinggi di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pihaknya mengaku siap memfasilitasi lahan jika memang dibituhkan. Lain dari itu, Hafidz juga menyatakan siap membantu pada proses pembangunannya.

Siap Fasilitasi, Bupati Dorong PBNU Dirikan Perguruan Tinggi di Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)
Siap Fasilitasi, Bupati Dorong PBNU Dirikan Perguruan Tinggi di Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)

Siap Fasilitasi, Bupati Dorong PBNU Dirikan Perguruan Tinggi di Rembang

"Saya dulu pernah dijanjeni (dijanjikan) Pak Aqil Siroj (Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj) akan membangun satu perguruan tinggi NU di Rembang," katanya pada pembukaan Bahtsul Masaail yang digelar oleh PWNU Jawa Tengah di Pondok Pesantren Raudlatut Tholibien Kelurahan Leteh, Rembang, Senin (01/04) pagi.

Di hadapan perwakilan pengurus PBNU dan PWNU Jateng, Bupati yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang itu mengatakan sangat berharap ada sebuah perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Kabupaten Rembang.

Kawit An Nur Slawi

Hafidz juga bercerita, di beberapa kegiatan yang ia hadiri, ada kegiatan kelompok di luar NU yang meniru kegiatan warga Nahdliyin. Mereka yang merupaka kelompok garis keras itu, katanya, juga mengadakan tahlil.

Tak sampai di situ saja, Hafid menyebut di lembaga pendidikan yang mereka dirikan pun ada juga putra-putri warga NU yang ikut masuk. Bahkan, Bupati membeberkan, ada juga keluarga tokoh NU yang ikut menjadi tenaga pendidik di yayasan pendidikan kelompok garis keras.

Kawit An Nur Slawi

"Setiap ada acara pasti saya diundang, mereka juga mengadakan kegiatan seperti NU, jika NU tahlil mereka juga tahlil, jika NU shalawatan mereka juga shalawatan, dan seterusnya. Ini yang perlu diwaspadai," jelasnya. (Ahmad Asmui/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pendidikan Kawit An Nur Slawi

Senin, 28 Agustus 2017

PBNU Jadi Tujuan Peziarah Wali Songo

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Jika umumnya kantor instansi pemerintah atau organisasi menjadi tempat kesibukan para pegawai atau pengurusnya menjalankan roda kelembagaan, maka ada fungsi tambahan untuk kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

PBNU Jadi Tujuan Peziarah Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Jadi Tujuan Peziarah Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Jadi Tujuan Peziarah Wali Songo

Selain sebagai sekretariat para pengurus menunaikan kegiatan kelembagaan NU di tingkat pusat, kantor yang terletak di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, ini juga menjadi tujuan singgah para peziarah Wali Songo.

Seperti yang terjadi Rabu (1/5) siang ini. Sekitar 70 peserta ziarah Wali Songo asal Kraton, Mojo, Kediri, Jawa Timur, berbondong ke kantor PBNU bersama satu bus. Mereka yang terdiri dari laki-laki dan perempuan ini menggelar safari religi di bawah koordinasi pengurus ranting Muslimat setempat.

”Seumur hidup saya baru pertama kali ini datang ke kantor PBNU. Saya diajak ibu Hj Anisiyah (Ketua Ranting Muslimat, red). Semua urusan beliau yang nangani,” kata Abdul Ghani, salah satu peserta rombongan.

Ghani menjelaskan, rombongan bus bertolak dari daerah asal sejak Senin pagi. Sebelum ke kantor PBNU, rekan-rekannya telah berziarah ke makam Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, makam kramat di Banten, dan sejumlah tempat lainnya.

Kawit An Nur Slawi

Peserta ziarah tersebut disambut sejumlah pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dan pengurus Fatayat NU. Kunjungan dengan maksud silaturahim ini bukan pengalaman pertama bagi PBNU. Sebelumnya, rombongan peziarah Wali Songo dari beberapa daerah juga menyempatkan sowan ke kantor PBNU.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ubudiyah, Pertandingan Kawit An Nur Slawi

Minggu, 27 Agustus 2017

Kukuhkan Tim Fasilitator, Kawal Kaderisasi IPNU-IPPNU

Jepara, Kawit An Nur Slawi. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU kabupaten Jepara mengukuhkan Tim Fasilitator Kaderisasi yang berlangsung di Gedung Muslimat NU Ranting Robayan kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Ahad (30/8) kemarin.

Tim Fasilitator yang diketuai Zainal Muttaqin ini merupakan tim yang berjumlah 14 personil yang tugas dan fungsinya mengorganisir dan memfasilitasi pendidikan dan pelatihan kader IPNU-IPPNU di setiap tingkatan.

Kukuhkan Tim Fasilitator, Kawal Kaderisasi IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kukuhkan Tim Fasilitator, Kawal Kaderisasi IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kukuhkan Tim Fasilitator, Kawal Kaderisasi IPNU-IPPNU

Setiap jenjang kaderisasi mulai Makesta, Lakmud dan Lakut tidak lepas dari sumbangsih Tim Kaderisasi. “Visi dari tim ini untuk menyukseskan kaderisasi di semua tingkatan,” kata M. Khoironi, Ketua IPNU Jepara.

Kawit An Nur Slawi

Untuk misinya urai Khoironi merumuskan dan menerapkan strategi kaderisasi, melakukan pendampingan dan pengawalan dalam setiap jenjang pendidikan dan pelatihan kader serta memfasilitasi dalam setiap pendidikan baik Makesta, Lakmud dan Lakut.

Pihaknya berharap tim yang sudah dikukuhkan solid dan menjalankan amanah yang diberikan. “Ini adalah tahun kaderisasi. Harapan kami tim bisa mengawal proses kaderisasi  di semua tingkatan dengan maksimal,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Warta Kawit An Nur Slawi

Pergunu Imbau Guru Aktif Berikan Pemahaman tentang Radikalisme

Bandung, Kawit An Nur Slawi

Teror bom di Sarinah, Jl Thamrin Jakarta Pusat, Kamis (14/15/2016) merupakan pukulan berat bagi bangsa Indonesia. Tragedi Teror tersebut menelan 7 korban jiwa dan 24 korban luka-luka.?

Persatuan Guru NU (Pergunu) Jawa Barat menyatakan keprihatinannya atas tragedi teror tersebut. Pergunu juga mengimbau guru-guru untuk ikut berperan aktif dalam menangkal terorisme dengan memberikan pemahaman yang jelas kepada peserta didik agar mereka tidak meniru aksi terorisme, bahwa terorisme tidak identik dengan Islam, karena Islam tidak mengajarkan kekerasan.?

Pergunu Imbau Guru Aktif Berikan Pemahaman tentang Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Imbau Guru Aktif Berikan Pemahaman tentang Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Imbau Guru Aktif Berikan Pemahaman tentang Radikalisme

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Pergunu Jawa Barat Saepuloh di Ruang Pergunu Jawa Barat Lantai 2 Kantor PWNU Jawa Barat Jl Terusan Galunggung No 09, Bandung, Jumat, (15/1).

“Islam juga tidak mengajarkan umatnya untuk menebar teror dan melakukan perbuatan yang buruk dan keji,” jelasnya.

Selain itu, imbuhnya, Orang tua harus lebih memperhatikan pergaluan dan aktivitas anaknya, baik di rumah dan lingkungan sekitar. Jangan sampai anaknya ikut dan aktif dalam kegiatan golongan-golongan yang berpaham radikal. Serta orang tua harus senantiasa memperhatikan perilaku anaknya, sehingga jika ada perilaku yang menyimpang agar segera dapat diluruskan dan atau berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. (Red: Fathoni)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Pertandingan, AlaSantri Kawit An Nur Slawi

Jumat, 25 Agustus 2017

Pemuda NU Berperan Baik di Pemilukada Waykanan

Waykanan, Kawit An Nur Slawi. Gerakan Pemuda Ansor adalah anak sulung Nahdlatul Ulama (NU). Menuju pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah 9 Desember 2015, PC GP Ansor Waykanan Lampung berpartisipasi mensukseskan pesta demokrasi yang akan dilakukan serentak tersebut.

Di Waykanan, Pemilukada diikuti Bustami Zainudin dan Adinata (Adin Bustami) diusung PDI Perjuangan, Gerindra, PKB, dan Nasdem, serta Raden Adipati Surya dan Edward Anthony (Berani) diusung Demokrat, PAN, Hanura dan PKS.

Pemuda NU Berperan Baik di Pemilukada Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda NU Berperan Baik di Pemilukada Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda NU Berperan Baik di Pemilukada Waykanan

"Foto selfie anti golput, tolak politik uang, dan seruan-seruan pada masyarakat untuk nyoblos saya rasa merupakan peran cukup baik organisasi kepemudaan dalam mensosialisasikan pemilihan kepala daerah," ujar Koordinator Relawan Demokrasi Waykanan Anton Heri, di Blambangan Umpu, Jumat (4/12).

Kawit An Nur Slawi

Warga Kecamatan Negeri Agung yang pada 2013-2015 menjadi Ketua Keluarga Besar Mahasiswa Kabupaten Waykanan itu menegaskan, ikhtiar Gerakan Pemuda Ansor berdampak positif sehubungan mengajak masyarakat mengggunakan hak pilihnya pada Rabu, 9 Desember 2015.

Kawit An Nur Slawi

“Itu penting karena mengajak masyarakat tidak golput, tahu dan sadar akan pentingnya menggunakan suara mereka," ujar Presiden BEM FH Universitas Bandar Lampung 2013-2014 itu pula.

Senada Anton Heri, Mahmud, warga Dusun Sumber Agung, Kampung Negeri Baru Kecamatan Blambangan Umpu menilai, partisipasi Pemuda Ansor dalam Pilkada sangat baik, bagus dan membawa dampak positif serta sangat diperlukan.

"Kalau bisa semua organisasi kepemudaan yang ada di Waykanan ini berpartisipasi memajukan daerah, salah satunya dengan berpartisipasi mensukseskan Pemilukada ini," paparnya.

Sebagaimana Mahmud, Neliyati, warga Kampung Baradatu juga berharap organisasi kepemudaan di Waykanan layak berpartisipasi aktif dalam mensosialisasikan pemilu damai dan memberikan maslahat terhadap masyarakat. "Kegiatan-kegiatan GP Ansor terkait Pilkada bagus dan positif sekali," kata Neli.

Dalam sejumlah acara, Gerakan Pemuda Ansor di daerah berada di Selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Provinsi Sumatera Selatab itu mengajak masyarakat untuk tidak golput serta menolak politik uang. (Disisi Saidi Fatah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Sunnah, AlaSantri, Internasional Kawit An Nur Slawi

Mempertanyakan Kadar Iman Koruptor

Oleh Munandar Harits Wicaksono



Dalam perbincangan ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai doktrin agama, kita akan disuguhi tiga konsep fundamental. Konsep ini diajarkan Tuhan melalui hadis yang tidak biasa. Ya, dikatakan demikian karena hadis pada umumnya disampaikan melalui proses dialog bersama sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW.? Akan tetapi, hadis yang dimaksud di sini adalah hadis yang disampaikan dengan proses dialog antara Muhammad S.A.W dengan Jibril A.S di hadapan khalayak umum. Inilah yang jarang sekali ditemui.

Mempertanyakan Kadar Iman Koruptor (Sumber Gambar : Nu Online)
Mempertanyakan Kadar Iman Koruptor (Sumber Gambar : Nu Online)

Mempertanyakan Kadar Iman Koruptor

Konsep yang dimaksud adalah iman, islam dan ihsan. Ketiganya tentu tak asing lagi di benak kita bersama. Mengingat sudah menjadi umum, para penceramah masa kini berbondong-bondong mengutip potongan hadis tersebut agar ceramahnya semakin bernilai. Entah bernilai agama atau harta benda.

Kawit An Nur Slawi

Islam sebagaimana maklum, adalah representasi dari kelima rukunnya yang hampir kesemuanya mencakup perbuatan kasat mata. Ucapan kalimat syahadat, misalkan, ia dikerjakan cukup dengan mulut saja tanpa mempertimbangkan bobot hati pengucapnya.

Adapun iman dan ihsan, keduanya merupakan sebuah representasi dari perbuatan hati manusia. Iman adalah konsep kepercayaan terhadap hal-hal yang tak kasat mata. Mencakup di dalamnya kepercayaan akan eksistensi Tuhan, malaikat-Nya, ketetapan-Nya, dan 3 rukun lainnya yang sedemikian masyhur di kalangan umat Islam.

Kawit An Nur Slawi

Ketiga konsep tersebut tentulah memiliki relasi dan kesinambungan satu sama lain demi terciptanya output yang baik sebagaimana mestinya. Namun, relasi ini jarang sekali disentuh oleh penceramah-penceramah Islam masa kini. Padahal, tentu tidak ada faedah penyebutannya jikalau ketiga konsep itu tidak berkesinambungan satu sama lain.

Lantas di mana letak relasi dari ketiganya? Jawabannya berkumpul pada titik keimanan itu sendiri. Iman, sebagaimana definisi paham Asy’ariyah dan Maturidiyah yang begitu dominan di Indonesia adalah kepercayaan yang beriringan dengan perbuatan. Entah itu ikrar secara? lisan maupun perbuatan anggota badan. Hal ini mengakibatkan rukun Islam yang lima turut andil dalam eksistensi iman dalam diri seorang Muslim. Pun halnya dengan ihsan, ia adalah konsep merasa diawasi oleh Tuhan di dalam ibadah. Lagi-lagi ia merupakan akibat dari keberadaan iman dalam diri kita.

Definisi ini dinilai cukup adil dan mengambil jalan tengah dari dua kubu lain yang saling berseberangan pendapat. Khawarij mendefinisikannya secara mutlak bahwa pelaku dosa besar dianggap kafir dan tidak diterima keimanannya. Adapun Murji’ah, berseberangan total dengan kubu khawarij dan menangguhkan pelaku dosa besar atas keimanan mereka. Bagi mereka, perbuatan manusia sama sekali tidak membahayakan keimanannya. Definisi yang adil inilah yang sekiranya sesuai dengan amanat Tuhan dalam sebuah firmanNya: “dan seperti itulah kami jadikan kalian umat penengah...”

Maka, manakala seorang Muslim melakukan sebuah perbuatan yang nyata-nyata menyelisihi aturan Tuhan, perlulah kiranya untuk dipertanyakan akan kadar keimanannya. Seorang koruptor yang mengakui eksistensi Tuhan, mengakui konsep muraqabatullah (selalu dalam pengawasan tuhan) namun mengambil hak orang lain, menyelewengkan anggaran demi kepentingan pribadi dan golongan tertentu, patutlah sekiranya mereformasi kepercayaan hatinya akan segala hal gaib yang telah sedemikian jelas.

Memang, bila merujuk pada kamus besar bahasa Indonesia, koruptor didefinisikan secara khusus sebagai orang yang telah menyelewengkan uang negara maupun perusahannya. Namun, dalam ranah kajian ushul fiqih kita akan menemui sebuah kalimat yang didefinisikan secara khusus dapat dipalingkan terhadap definisi umum manakala ditemui qarinah. Qarinah atau indikasi inilah yang dapat ditemui dalam diri kita sampai saat ini. Sikap menyeleweng misalkan. Bukankah sampai saat ini kita masih menyelewengkan nikmat Tuhan yang telah diamanatkan sedemikian rupa? Maka, sinkronkanlah kepercayaan dam perbuatanmu duhai para koruptor kecil.

* Penulis adalah alumnus MAPK MAN 1 Surakarta, saat ini tercatat sebagai mahasiswa universitas Al-ahqoff, Hadramaut Yaman. Dapat dihubungi melalui akun Twiter @Munandar1



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Tegal, Ahlussunnah, Doa Kawit An Nur Slawi

Kamis, 24 Agustus 2017

Komisariat IPPNU Tarbiyatul Banin adakan Training Jurnalistik

Pati, Kawit An Nur Slawi. Komisariat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Madrasah Aliyah Tarbiyatul Banin Pekalongan, Winong, Pati, Jawa Tengah mengadakan training jurnalistik pada Kamis (10/7).

Komisariat IPPNU Tarbiyatul Banin adakan Training Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Komisariat IPPNU Tarbiyatul Banin adakan Training Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Komisariat IPPNU Tarbiyatul Banin adakan Training Jurnalistik

Kegiatan bertema “Menuju Jurnalis yang Profesional” ini dijadikan ajang mencetak kader-kader penulis di tingkatan generasi muda NU. Bertempat di auditorium lantai dua madrasah tersebut peserta mendengarkan materi penulisan, layout dan grafis serta menulis fiksi dan nonfiksi.

ara peserta mendapatkan materi dari narasumber yang berkompeten yaitu Muhammad Nur Effendi (Suara Merdeka), Beni Dewa, Muh. Syamsul Hadi dan Mukhamad Zulfa (kontributor NU online).

Kawit An Nur Slawi

Walaupun dalam suasana bulan Ramadhan semangat rekan-rekanita untuk menggelar training dihadiri puluhan anggota majalah Spektra dan rekan-rekanita di bawah naungan MA Tarbyatul Banin.

Kawit An Nur Slawi

Pelatihan dibuka langsung oleh kepala sekolah Drs. Ah. Adib Al-Arif M. Ag. Ia berpesan bahwa pelatihan yang diadakan ini bukan hanya pengajaran namun harus ada praktik.

Lebih lanjut, ia mengatakan, harus ada target yang harus dilaksanakan setelah adanya training. Serta komunikasi antar-pengelola majalah Spektra harus lebih massif dan intensif. Dengan demikian majalah yang telah terbit dua kali ini ke depan harus lebih baik.

“Pelatihan ini merupakan bagian dari pengkaderan majalah Spektra”, ungkap Winda selaku ketua panitia pelaksana. Hal lain yang ingin kami peroleh dari training ini adalah pengembangan wawasan penulisan dan keredaksian.

Training ini rencananya tidak hanya teori saja yang akan dilaksanakan. Pada siang hari peserta nanti akan diajak untuk melaksanakan praktik yang dipandu langsung oleh narasumber. Selain itu acara ini akan diakhiri dengan buka bersama. (Mukhamad Zulfa/Abdullah Alawi)

?

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Halaqoh, Fragmen Kawit An Nur Slawi

Dua Pesan dari Sesepuh Buntet Pesantren

Buntet, Kawit An Nur Slawi. Sesepuh Pondok Pesantren Buntet KH Nahduddin Royandi Abbas dalam sambutannya pada puncak acara haul almarhumin sesepuh wan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Sabtu (15/4/2017) menyampaikan dua pesan, yakni ikhlas dan jujur.

“Saya selalu berwasiat kepada pesantren, saya selalu berusaha untuk pesantren, saya selalu sangat mengharapkan agar pesantren supaya tetap ikhlas, jujur,” ujar putra bungsu KH Abbas Abdul Jamil itu.

Dua Pesan dari Sesepuh Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Pesan dari Sesepuh Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Pesan dari Sesepuh Buntet Pesantren

Kiai yang sejak tahun 1958 tinggal di London, Inggris, itu beralasan bahwa santri harus menjadi contoh.

“Karena kita di pesantren ini menjadi contoh, karena kita di pesantren ini harus bisa dilihat, harus memperlihatkan, harus bisa mencontohkan, bahwa pendidikan pesantren itu dimulai dan dijalankan untuk jujur untuk ikhlas yang sebesar-besarnya,” kata kiai kelahiran 1935 itu.

Kawit An Nur Slawi

Hal ini pun disampaikan kepada para alumni yang tergabung dalam Forum Silaturahim Buntet Pesantren Cirebon (Forsila BPC) Jakarta Raya saat sowan kepadanya, Jumat, (14/4/2017).

“Kalau kita ikhlas dan jujur, sebentar saja Indonesia akan makmur,” ujarnya. ( M Syakir Niamillah/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Nahdlatul Kawit An Nur Slawi

Rabu, 23 Agustus 2017

Gus Mus: Ketika NU Sedang "Sariawan"

Orasi KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) pada saat peluncuran Komik “NU You Know? Cikal Bakal dan Kelahiran” di Museum NU, Ahad (17/9) lalu, agaknya menjadi ruang refleksi bagi perjalanan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di tanah air ini. Inilah catatan yang tersisa di perhelatan yang dihadiri Ketua Tim Kerja Museum NU H Choirul Anam dan penyair asal Madura D Zawawi Imron, dan lain-lain.

Gus Mus yang juga Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan kritikan cukup tajam kepada NU yang disindirnya sedang mengalami “sariawan”, karena suaranya tidak banyak terdengar.

“Saya sekarang prihatin, bagaimana NU yang begini besar, suaranya kalah dengan FPI (Front Pembela Islam). NU besar, tapi hanya gajah kertas,” katanya Gus Mus.

Gus Mus: Ketika NU Sedang Sariawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Ketika NU Sedang Sariawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Ketika NU Sedang "Sariawan"

Menurut dia, sebetulnya kalau NU kuat, tidak akan kalah dalam percaturan politik nasional saat ini. Menurut dia, jumlah warga NU yang mencapai 50 juta hingga 60 juta itu merupakan kekuatan yang sangat besar dan seharusnya diperhitungkan. “Siapa yang mau meremehkan organisasi dengan anggota 60 juta ini? Tapi syaratnya harus solid. Sekarang NU ada di mana? Jumlah 60 juta itu jauh lebih besar dari penduduk Malaysia,” katanya.

Saat ini, ujarnya, banyak bangsa berharap besar terhadap peran NU. Suatu ketika ia bertemu orang Jepang yang mengharapkan NU akan menjadi penetral dalam perang dahsyat antara George W Bush (Presiden Amerika Serikat, representasi Barat) dengan terorisme pimpinan Osama Bin Laden.

“Tapi kemudian orang Jepang itu bilang, sayangnya NU ini lemah. Dalam hati saya, orang Jepang kok tahu ya, padahal kami gak sadar. Dasar orang kita, saat saya ceritakan masalah ini ke teman-teman, malah tanya, gimana caranya mengajukan proposal,” katanya tertawa.

Dikatakannya dalam percaturan sejarah Indonesia, NU selalu mengambil peran besar meskipun hanya sebagai ‘Satpam’. Ia mencontohkan peran NU dalam melawan penjajah Belanda maupun Jepang serta dalam penumpasan G30S/ PKI.

Kawit An Nur Slawi

“Tapi dasar Gus Dur (mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurahman Wahid), ketika masalah ini saya sampaikan, dia malah bilang, apa Satpam itu tidak mulia? Apalagi menjadi Satpamnya Indonesia. Ya sudah, tidak bisa diskusi lagi,” katanya.

Pada kesempatan itu Gus Mus yang dikenal sebagai sastrawan juga mengritik munculnya orang-orang NU yang telah menganut paham-paham yang keluar dari tradisi ke-NU-annya.

“Ada orang NU yang sudah lupa NU. Mungkin karena kelemahannya itu, NU mudah disusupi. Tahu-tahu ada orang NU yang sangat kenceng melebihi Wahabi. Di NU itu sangat terasa, kalau tidak Amerika, ya Taliban,” katanya.

Menurut dia, kondisi NU seperti itu harus dipikirkan oleh anak-anak muda NU, khususnya di Jawa Timur karena sejarah berdirinya NU itu memang di daerah tersebut. “NU bukan lagi berbicara kepentingan pribadi, tapi nasional. Orang NU itu adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan Indonesia. Beda dengan Dr Azahari (tokoh teroris) yang tidak peduli meskipun ada orang Indonesia mati,” katanya. (selesai/Arief Hidayat)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pesantren Kawit An Nur Slawi

Mudharat Perda Miras Menurut Katib PCNU Surabaya

Surabaya, Kawit An Nur Slawi

Wakil Katib PCNU Surabaya Ustadz Maruf Khozin angkat bicara soal isu yang tengah ramai dibicarakan oleh masyarakat Surabaya. Beberapa hari yang lalu, DPRD Surabaya tengah membahas soal peraturan daerah tentang pendistribusian Minuman keras (Miras) dan Minuman beralkohol (Mihol).

Dalam pandangan Dewan Pakar Aswaja NU Center Jawa Timur itu menilai, ulama nahdliyin terus memperjuangkan ruh ajaran Islam ke dalam kehidupan sehari hari. "Miras dalam literatur kitab kuning masuk dalam ranah Hudud atau pidana yang hukum dan praktiknya sudah ada sejak masa sahabat," jelas Ustadz Maruf kepada Kawit An Nur Slawi.

Mudharat Perda Miras Menurut Katib PCNU Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mudharat Perda Miras Menurut Katib PCNU Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mudharat Perda Miras Menurut Katib PCNU Surabaya

Dalam fiqih, orang yang meminum khamr atau minuman yang memabukkan dihukum cambuk sebanyak 80 kali. "Tidak hanya itu, para ulama sering menyampaikan bahwa kejahatan lain seperti zina, mencuri, membunuh, dan kejahatan lain justru berawal dari mimuman memabukkan ini," jelas Pengasuh Rubrik Kajian Aswaja di Majalah NU Aula itu.

Selain itu, dalam Islam memiliki konsep maslahat. Maslahat ini diantara fungsinya adalah menjaga akal. "Jika pemerintah mengesahkan produksi dan distribusi miras, maka sama halnya menghilangkan maslahat dan mendatangkan mudharat," tegasnya.

Sedangkan dalam kaidah fiqih mengatakan Kebijakan pemerintah kepada rakyatnya harus didasarkan pada aspek maslahat. (Rof Maulana/Fathoni)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Aswaja, Sholawat, Meme Islam Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

Senin, 21 Agustus 2017

Paling Sah Kelola Zakat, LAZISNU Harus Terus Dikembangkan

Jombang, Kawit An Nur Slawi. Semua lembaga Nahdlatul Ulama (NU) bergerak secara sosial dan keagamaan. Beberapa lembaga untuk peningkatan kesejahteraan warga yaitu Lembaga Perekonomian NU (LPNU), Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LPPNU), Lembaga Kesejahteraan Keluarga NU (LKKNU), Lembaga Kesehatan NU (LKNU) dan Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh NU (Lazisnu).

Paling Sah Kelola Zakat, LAZISNU Harus Terus Dikembangkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Paling Sah Kelola Zakat, LAZISNU Harus Terus Dikembangkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Paling Sah Kelola Zakat, LAZISNU Harus Terus Dikembangkan

Namun di antara sejumlah lembaga tersebut, menurut Sekretaris Umum PCNU Jombang H Muslimin Abdillah, hanya LAZISNU yang selama ini konsisten memaksimalkan perannya sebagai jembatan kesejahteraan masyarakat. Terutama dalam bidang pengelolaan zakat, infaq dan shodaqoh.

"Yang bergerak untuk kesejahteraan warga NU tersebut hanya LAZISNU yang memiliki legitimasi untuk menarik, mencari, dan mengumpulkan dana dari warga masyarakat," katanya kepada Kawit An Nur Slawi, Ahad (26/6).

Kawit An Nur Slawi

Menurutnya, peran LAZISNU sangat penting untuk terus dikembangkan demi menfasilitasi kebutuhan masyarakat. Selain itu, membangun kepercayaan masyarakat tentu tidak kalah penting dalam mengelola dana atau barang yang akan disalurkan kepada yang berhak atau kepentingan umat.

"Tidak ada lembaga, selain LAZISNU yang secara sah dan ditugaskan secara khusus untuk menarik dan mengumpulkan dana dan barang dari warga masyarakat," tuturnya.

Kawit An Nur Slawi

Karena itu, lanjut Cak Muslimin, sapaan akrabnya melalui LAZISNU, NU bisa memanfaatkan dana zakat, infaq dan shodaqoh untuk menguatkan dan memberdayakan warga yang tergolong dalam delapan ashnaf (kelompok) penerima (mustahiq), sehingga bisa menjadi lebih sejahtera.

Selama bulan Ramadhan ini pengurus LAZISNU Jombang menggelar sejumlah aksi sosialnya di berbagai tempat. Di antaranya bedah musholla, santunan anak yatim dan janda, pemberian zakat, infaq dan shodaqoh. Aksi tersebut masih terus digelar hingga sekarang.

“Demikian itu, pada prinsipnya menciptakan kesejahteraan ini merupakan salah satu? tujuan NU didirikan,” pungkas Muslimin. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Tokoh, Anti Hoax, Cerita Kawit An Nur Slawi

Arisan Qurban Apakah Termasuk Qurban Nadzar?

Assalamualaikum. Di lingkungan kami ada arisan bulanan untuk qurban yang setiap tahunnya dibelikan seekor sapi untuk tujuh orang. Pertanyaan saya: Apakah qurban dengan sistem arisan yang seperti ini termasuk qurban nadzar yang mana kita tidak boleh memakan dagingnya? (Nurgianto, Lampung Barat).

Wa’alaikumsalam wa rahamatullah wa barakatuh. Saudara penanya yang terhormat Menyembelih hewan qurban merupakan salah satu anjuran yang sangat ditekankan oleh ajaran Islam terhadap pemeluknya yang berkecukupan serta ada kelebihan rizki pada saat yang ditentukan, yakni bulan Dzulhijjah mulai tanggal 10 sampai dengan tanggal 13.

Bahkan imam Malik berpendapat bahwa menyembelih hewan Qurban bagi mereka yang berkecukupan hukumnya adalah wajib. Pendapat ini mengacu pada salah satu firman Allah:

Arisan Qurban Apakah Termasuk Qurban Nadzar? (Sumber Gambar : Nu Online)
Arisan Qurban Apakah Termasuk Qurban Nadzar? (Sumber Gambar : Nu Online)

Arisan Qurban Apakah Termasuk Qurban Nadzar?

? ? ?. Artinya: maka shalatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah hewan qurban. (Al-Kautsar ayat 2).

Saudara Nurgianto yang dimuliakan Allah. Anjuran untuk berqurban yang oleh madzhab Syafii dihukumi sunnat ini sekarang mulai mendapatkan sambutan serta apresiasi yang cukup menyenangkan di tengah kehidupan masyarakat mengingat subtansi qurban adalah semangat berbagi demi perbaikan gizi di kalangan kaum muslimin. Oleh karena itu tidak sedikit diantara mereka yang menghimpun dana dengan cara mengadakan arisan demi melaksanakan ibadah yang mulia ini.

Kawit An Nur Slawi

Dalam forum halaqah yang diselenggarakan oleh sebuah pesantren di Rembang pada tahun 1997, permasalahan ini pernah dibahas dengan keputusan bahwa qurban yang dilaksanakan oleh seseorang karena arisan tidak otomatis dihukumi sebagai nadzar. Dengan demikian qurban tidak menjadi qurban wajib. Salah satu rujukan yang digunakan adalah Hasyiyah Sulaiman Jamal Ju V Hal. 251 karya Sulaiman bin Umar bin Manshur al-‘Azili al-Azhari:

?-? ? ?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kawit An Nur Slawi

Artinya; kesimpulan yang ada dalam kitab ar-Raudh menjelaskan bahwasannya hewan (yang dibeli) tidak otomatis menjadi hewan sembelihan (qurban) berdasarkan transaksi dan niat semata. Dengan demikian, hewan dapat diketahui statusnya (sebagai hewan qurban atau yang lain) dengan ungkapan pemiliknya setelah jual beli dilakukan.

Saudara penanya yang kami hormati, dari rujukan ini, dapat kita pahami bahwa hewan dapat berstatus sebagai hewan qurban nadzar manakala si pemilik memang mengungkapkan niatnya secara jelas, dan bukan karena menanggapi sebuah pertanyaan dari orang lain.

Mudah-mudahan jawaban ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin. (Maftukhan)

 

Informasi program qurban dan donor darah LAZISNU dapat dilihat diklik di link berikut ini. (Red)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Anti Hoax, Ulama, Pertandingan Kawit An Nur Slawi

Minggu, 20 Agustus 2017

Wayangan Blitar Ki Sukron Suwondo

Blitar, Kawit An Nur Slawi. Ki Haji Sukron Suwondo sempat mementaskan wayang kulit dalam rangka peringatan hari lahir (Harlah) ke-87 NU di Kabupaten Blitar tahun lalu.

Dalang Kondang asal Sanankulon Blitar ini bisa dibilang teman dekat Ki Entus, karena Entus sering pinjam alat Ki Sukron Suwondo kalau lagi ndalang di sekitar Blitar. Ki Sukron Suwondo, kini menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) milik NU Kabupaten Blitar.

Wayangan Blitar Ki Sukron Suwondo (Sumber Gambar : Nu Online)
Wayangan Blitar Ki Sukron Suwondo (Sumber Gambar : Nu Online)

Wayangan Blitar Ki Sukron Suwondo

Di Blitar selain Ki Haji  Sukron Suwondo, ada Ki Syudrun. Dalang wali asal Desa Krenceng, Nglegok ini pun sudah melegenda. Ia sering tampil di layar kaca baik lokal maupun nasional.

Kawit An Nur Slawi

H Mohammad Nawir, seorang tokoh NU kabupaten Blitar kepada Kawit An Nur Slawi, Rabu (2/1) mengatakan, para seniman perlu mendapat perhatian serius dari NU. Menurutnya, pola dakwah melalui jalur seni di wilayah Blitar masih sangat perlu dilakukan.

Kawit An Nur Slawi

“Dakwah melalui seni masih diperlukan. Khususnya di wilayah Blitar ini. Ya.. idep-idep nguri-nguri polanya Walisongo,’’ tandasnya.

“NU Blitar ingin  memfasilitasi dan memberi perlindungan HKI (Hak Kekayaan Intelektual) atas berbagai karya seni para seniman  NU,’’ ujar Nawir.

Selain itu, NU akan mendokumentasikan karya-karya seni para intelektual, ulama dan seniman NU. Serta mengembangkan dan mempromosikan kesenian religi baik gagasan, karya dan pelaksanaannya. 

“NU Blitar juga akan membuat  data base yang memuat nama-nama seniman NU, karya-karya, sejarah dan prestasinya,’’ tandasnya.

“Preiode lalu. Kita sudah mendata semua seniman NU di Blitar. Ternyata jumlahnya ratusan. Yang khusus dalang aja ada 60 orang lebih. Salah satunya ada yang mantan Komandan Banser Blitar,’’ tambah Nawir, yang kini juga menjadi anggota KPUD Kabupaten Blitar ini.

Yang tidak kalah pentingnya, lanjut Nawir, NU akan menjadikan pesantren sebagai pusat pengembangan seni dan budaya melalui penyelenggaraan berbagai pelatihan, festival dan event keseniaan di pesantren.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Imam Kusnin

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaNu, Cerita, Ahlussunnah Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 19 Agustus 2017

Ahyar Abduh Buka Lomba Hadrah dan Pentas Seni Religi

Mataram, Kawit An Nur Slawi

Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh, membuka Lomba Hadrah dan Pentas Seni Religi yang menjadi rangkaian Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul Ulama (NU) 2017, di Lapangan Karang Genteng, Mataram, Selasa (21/11).

Dalam kesempatan itu, hadir Pimpinan Pesantren Darul Hikmah Pagutan, TGH. Abdul Hamid; Sekretaris Panitia Daerah Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017; H. Marinah Hardy bersama panitia dan ribuan warga Kota Mataram.

Ahyar Abduh Buka Lomba Hadrah dan Pentas Seni Religi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahyar Abduh Buka Lomba Hadrah dan Pentas Seni Religi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahyar Abduh Buka Lomba Hadrah dan Pentas Seni Religi

Dalam sambutannya sesaat sebelum membuka acara, Ahyar menegaskan keseriusan Kota Mataram yang dipimpinnya untuk menjamu tak kurang dari 1.500 tamu selama rangkaian kegiatannya di Mataram.

Demi melayani peserta Munas Alim Ulama dan Konbes NU ini, Ahyar menegaskan, Pemkot Mataram telah menyiapkan anggaran tak kurang dari Rp 2 miliar. Meski berkorban anggaran yang cukup besar, Ahyar menegaskan hal itu tak sebanding dengan keberkahan dan manfaat ekonomis yang dirasakan semua pihak atas kegiatan ini.

Kawit An Nur Slawi

Ahyar meyakini, kehadiran para alim ulama di Mataram tentu akan membawa keberkahan.

“Bayangkan, besok yang akan datang ini tidak kurang dari 1.500. Ini suatu keberkahan yang besar karena alim ulama itu akan berkumpul di Mataram,” ujarnya.

Ia menegaskan, ulama dan kiai-kiai sepuh tersebut akan berkumpul membahas berbagai hal yang menyangkut kondisi kebangsaan, dan kondisi umat.

“Karena itulah, Pemerintah Kota Mataram memberikan dukungan sepenuhnya. Mempersiapkan diri sedemikian rupa untuk menyambut tamu-tamu mulia kita,” tegasnya.

Kawit An Nur Slawi

Selama ini, Ahyar bersyukur karena Kota Mataram selalu dipercaya menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai kegiatan nasional. Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan tersebut, menurutnya telah memberikan citra yang baik dan membawa manfaat bagi masyarakat Kota Mataram.

Karenanya, ketika menjadi tuan rumah untuk pelbagai kegiatan itu, pihaknya selalu mengusung tekad meraih Tri Sukses. Sukses penyelenggaraan, sukses pencitraan dan sukses ekonomi. Berkat kegiatan-kegiatan itu pula, Kota Mataram berhasil mencatatkan kemajuan yang menggembirakan. Salah satunya, adalah dengan kenaikan PAD yang jauh melampaui daerah-daerah lain di NTB.

Saat ini, sebut Ahyar, PAD Kota Mataram berada di angka Rp 350 miliar. Angka ini menurutnya adalah yang tertinggi diantara kabupaten/kota di NTB.

“Dan (sumber) pendapatan yang besar itu dari pariwisata, jasa perdagangan, perhotelan. Itu semua karena tamu-tamu kita senang datang ke Kota Mataram,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Panitia Daerah Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017, H. Marinah Hardy, menjelaskan Lomba Hadrah dan Pentas Seni Religi yang digelar di Lapangan Karang Genteng, Mataram itu sebagai pencerminan tema besar, Memperkokoh Nilai Kebangsaan Melalui Gerakan Deradikalisasi Dan Penguatan Ekonomi.

Kegiatan ini diharapkan bisa memberikan manfaat ekonomis sekaligus mendorong tumbuhnya aktivitas positif dari masyarakat setempat.

“Hajatan ini menjadi bagian agenda penting dari NU minimal dalam upaya kita memenuhi hajatan agar generasi kita, pada saat kegiatan ini bisa kita dorong untuk melakukan aktivitas yang bersifat religius, positif dan konstruktif. Di samping itu, juga ada unsur hiburan,” tegasnya.

Marinah juga menyerukan kepDari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Habib Kawit An Nur Slawi

Persiapan Pemda Lombok Barat Sambut Munas Konbes NU 2017

Lombok Barat, Kawit An Nur Slawi. Pemerintah Kabupaten Lombok Barat terus berbenah menyiapkan perhelatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas Konbes NU) yang diagendakan berlangsung di? Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat 23-26 November mendatang.?

Persiapan Pemda Lombok Barat Sambut Munas Konbes NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Persiapan Pemda Lombok Barat Sambut Munas Konbes NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Persiapan Pemda Lombok Barat Sambut Munas Konbes NU 2017

Hal tersebut disampaikan Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid sata memimpin rapat persiapan bersama panitia daerah di Ruang Rapat Jayengrane, Kantor Bupati Lombok Barat, Selasa (07/11)?

Lalu Winengan, Sekretaris Nahdatul Ulama (NU) Provinsi NTB, Winengan selaku ketua panita menjelaskan, gelaran berskala nasional itu akan dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo di Islamic Center Mataram.?

"Rencananya, untuk penutupan akan digelar di Pondok Pesantren Darul Quran Bengkel, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat. Kita harapkan Wakil Presiden yang hadir menutup," jelasnya.

Kawit An Nur Slawi

?

Dalam pertemuan itu, dirinya berharap kepada Pemkab Lombok Barat untuk dapat membantu secara maksimal. Dikatakannya, bantuan diharapkan seperti sarana prasarana termasuk kelengkapan tempat penginapan di masing-masing pondok.?

Di Lombok Barat, rencananya ada dua pondok pesantren yang menjadi tempat berlangsungnya kegiatan Munas, yaitu Pondok Pesantren Al-Halimy Sesela; dan Darul Quran Bengkel. Masing-masing pesantren akan menampung 100 orang peserta.

Kawit An Nur Slawi

Menanggapi hal itu, Bupati H. Fauzan Khalid mengatakan akan melakukan kajian bersama jajarannya.

"Kami akan adakan rapat dulu dengan asisten dan jajaran. Nanti kita informasikan, kemudian kita tinjau lokasi. Terkait pengamanan kita adakan rapat dengan Polres," jelas Fauzan.

Sementara itu, Sekretaris panitia H. Marinah Hadi menyampaikan, panitia juga sudah menyiapkan agenda kegiatan pra-acara.?

"Pada tanggal 22 November, panitia akan melaksanakan sunantan massal, kemudian ada pawai yang dimulai dari Islamic Center Mataram dan berakhir di depan Pendopo Gubernur NTB. Selanjutnya ada pasar murah atau bazar di lokasi pembukaan di Islamic Center," papar Marinah. (Hadi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Quote Kawit An Nur Slawi

Pesantren Al Falakiyyah Pagentongan Jadi Titik Awal Roadshow Santri of The Year 2017

Bogor, Kawit An Nur Slawi. Panitia penyelenggara Santri of The Year 2017 yang digagas Islam Nusantara Center (INC) melakukan sosialisasi di Pesantren Al Falakiyyah Pagentongan Bogor pada Rabu (31/08). Pesantren ini menjadi tempat pertama sosialisasi Santri of The Year 2017.

Menurut ketua panitia, Zainal Abidin, tujuan dari diadakannya agenda sosialisasi adalah agar mereka yang ada di pesantren dan madrasah juga ikut berpartisipasi dalam pagelaran penghargaan ini.?

Pesantren Al Falakiyyah Pagentongan Jadi Titik Awal Roadshow Santri of The Year 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al Falakiyyah Pagentongan Jadi Titik Awal Roadshow Santri of The Year 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al Falakiyyah Pagentongan Jadi Titik Awal Roadshow Santri of The Year 2017

"Santri harus terlibat, karena ajang penghargaan ini diadakan untuk memperingati Hari Santri Nasional," ujar Abidin.

Abidin menambahkan, generasi santri saat ini harus memiliki pengetahuan dan kesadaran akan perjuangan ulama dan santri terdahulu. Baik dalam hal perjuangan menimba ilmu maupun perjuangan mengusir penjajah.?

"Sehingga dapat memompa semangat belajar mereka (santri saat ini)," ucapnya.

Kawit An Nur Slawi

Sementara, pihak pesantren menyambut baik sosialisasi tersebut dan terlihat begitu antusias. Hal itu disebabkan karena pendiri Pesantren Al Falakiyah, KH Falak Pagentongan, adalah seorang pejuang. Selain itu, banyak juga ulama-santri yang ikut berjuang dalam merebut kemerdekaan dari tanah Bogor.?

Rencananya, sosialisasi Road to Santri of The Year 2017 akan dilaksanakan di berbagai pesantren dan madrasah di Jabodetabek, Jawa Tengah dan Jawa Timur. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Berita, Makam, Internasional Kawit An Nur Slawi

Rabu, 16 Agustus 2017

Peringatan Seratus Hari Buya Ja’far Dihadiri Ribuan Pengunjung

Cirebon, Kawit An Nur Slawi. Halaman rumah yang menyambung dengan pelataran sebuah masjid yang diberi nama Al-Jadid sudah tampak penuh sesak oleh ribuan orang yang mulai berdatangan seusai Salat Tarawih. Malam tersebut merupakan malam peringatan 100 hari meninggalnya  Buya KH Ja’far Aqiel Siroj, pengasuh Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Rabu (16/7).

Setelah tamu undangan dari beberapa pesantren di Cirebon telah hadir ke atas serambi rumah yang diposisikan sebagai panggung sederhana, acara pertama langsung dibuka dengan pembacaan tahlil oleh KH Niamillah Aqil, adik bungsu mendiang Buya Ja’far. Setelah itu, sambutan keluarga disampaikan oleh KH Mustofa Aqil,  sekaligus mengutarakan prakata atas nama pengasuh Pesantren Kempek Cirebon pasca meninggalnya Buya Ja’far.

Peringatan Seratus Hari Buya Ja’far Dihadiri Ribuan Pengunjung (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringatan Seratus Hari Buya Ja’far Dihadiri Ribuan Pengunjung (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringatan Seratus Hari Buya Ja’far Dihadiri Ribuan Pengunjung

Dalam sambutannya, Kiai Mustofa memohon doa dari para santri dan tamu undangan agar Pesantren Kempek dapat terus berada di garis perjuangan yang secara istiqamah dicontohkan oleh almarhum.

Kawit An Nur Slawi

“Mudah-mudahan para penerus pesantren ini mampu merawat dan mengingat-ingat kembali tujuan didirikannya pesantren ini. Bukan hanya enak-enak merasakan manfaat dari peninggalan dan perjuangan Buya Ja’far,” ungkap Kiai Mustofa.

Selain itu, melalui acara ini juga Kiai Mustofa meminta kepada santri dan masyarakat agar berkenan untuk mendoakan kedamaian dan ketentraman bangsa usai pemilihan presiden pekan lalu.

Kawit An Nur Slawi

“Doa para santri, orang-orang NU, kiai dan pesantren akan menjadi sangat penting di tengah hiruk-pikuk dan panasnya suhu perpolitikan Indonesia sekarang ini,” ungkap Kiai yang juga Katib Syuriah PBNU ini.

Dari jajaran tamu undangan, tampak perwakilan tokoh sepuh dari Pesantren Babakan, Gedongan, Buntet, Arjawinangun, Tegalgubug dan beberapa pesantren lain di Cirebon. Acara peringatan seratus hari ini ditutup dengan taushiyah dan doa dari KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU. (Sobih Adnan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Islam Kawit An Nur Slawi

Selasa, 15 Agustus 2017

KH Subhan Makmun: Saat Mudik, Waspadai Peredaran Narkoba

Brebes,Kawit An Nur Slawi. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Subhan Makmun mengajak kepada tokoh agama? dan tokoh? masyarakat? untuk mewaspadai mengalirnya peredaran gelap narkoba di desa-desa saat mudik dan pasca-Lebaran. Urusan mudik, jangan sampai memberi kesempatan pada mereka yang mau berbuat jahat.

KH Subhan Makmun: Saat Mudik, Waspadai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Subhan Makmun: Saat Mudik, Waspadai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Subhan Makmun: Saat Mudik, Waspadai Peredaran Narkoba

“Mudik, bisa saja dimanfaatkan oleh para pengedar untuk membawa narkoba ke desa-desa,” demikian peringatan KH Subhan saat mengisi mauidlatul hasanah pada buka puasa bersama Pemkab Brebes dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat di Pendopo Bupati Brebes, Kamis (30/6).

Pengasuh Pondok Pesanteren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes ini menceritakan,? para penjahat penghilang generasi ini selalu memanfaatkan celah kelalaian kita. “Ada saja, celah sekecil apa pun dimanfaatkan para penjahat generasi ini untuk melumatnya,” kata Kiai kharismatik di Brebes ini.

Kawit An Nur Slawi

Narkoba yang merupakan telor emasnya setan, kata kiai, jangan sampai merenggut generasi muda. Dan banteng yang paling kokoh adalah keharmonisan dan perhatian orang tua, termasuk juga para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama menjaganya.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengaku senang dengan bertemunya para ulama dan umara dalam majelis buka puasa bersama. Silaturahim ini mudah-mudahan bisa menambah keberkahan dan membuka pintu rejeki serta memanjangkan umur.

Kawit An Nur Slawi

Idza mengakui, peran ulama dan tokoh masyarakat sangat besar dalam turut membangun daerah. Terutama dalam pembangunan sumber daya manusia. Terbukti, dengan lebih dari 200 pondok pesanteren yang tumbuh maju di Brebes, menjadikan Brebes aman, damai dan sejahtera.

Lewat pesanteren pula, kata dia, Brebes bisa terkenal tidak hanya bawang merah dan telor asinnya. “Banyak anak-anak dari luar daerah seperti sumatera, Kalimantan, Jawa Barat dan daerah-daerah lain di Indonesia menjadi santri mukim di Brebes,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati membagikan 600 bingkisan lebaran untuk para? tokoh agama (toga) dan tokoh masyarakat (tomas). Bingkisan dibagikan sebagai pertanda perekat silaturahmi antara pemerintah, toga dan tomas.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Bupati Brebes Narjo SH, Sekda Brebes Emasthoni Ezah SH MH, Forkopimda, Anggota DPRD Brebes, Rais Syuriyah PC NU Brebes KH Aminudin Mashudi, Ketua Tanfidziyah PCNU Brebes KH Athoillah Syatori, Ketua PD Muhammadiyah Brebes Joko Mulyanto, Toga dan tomas se Kabupaten Brebes dan Camat, serta undangan lainnya. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Ulama Kawit An Nur Slawi

Senin, 14 Agustus 2017

Fikrah Nahdliyah dalam “Kepungan”

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Upaya Nahdlatul Ulama (NU) untuk mengembangkan fikrah nahdliyah atau pokok-pokok pemikiran ke-NU-an mengalami banyak kendala. Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Hasyim Muzadi menjelaskan bahwa fikrah nahdliyah tersebut sedang berada dalam “kepungan” berbagai macam ideologi dan pemikiran lain.

Karenanya, menurut Doktor Kehormatan bidang Peradaban Islam itu, pemikiran khas NU yang terdapat dalam fikrah nahdliyah itu masih memerlukan kajian yang lebih mendalam hingga kemudian menjadi ‘matang’ dan siap disosialisasikan, baik secara tertulis maupun lisan kepada masyarakat.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang Jawa Timur, itu mengatakan, sekarang, tantangan yang dihadapi NU di antaranya faktor regenerasi. NU yang telah melewati masa tiga generasi, menurutnya, penurunan perhatian pada masalah yang idealis. “Ini telah mengakibatkan ketidakpedulian dan ketidaktahuan terhadap NU,” ujarnya pada Halaqah Pemberdayaan Syuriah, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Fikrah Nahdliyah dalam “Kepungan” (Sumber Gambar : Nu Online)
Fikrah Nahdliyah dalam “Kepungan” (Sumber Gambar : Nu Online)

Fikrah Nahdliyah dalam “Kepungan”

Faktor berikutnya adalah semangat kebebasan atau liberalisasi pemikiran. Menurutnya, faktor tersebut berperan besar dalam melahirkan kelompok-kelompok tertentu yang sekaligus menjadi tantangan bagi NU. Di antaranya, kelompok radikal keagamaan (tasyaddud fiddien), baik pemikiran (tatorruf fiqri) maupun tindakan (tatorruf haroki).

“Ini sebagian besar dipicu oleh masuknya pemikiran internasionalisme Islam (persatuan umat Islam yang berada di bawah satu kepemimpinan tunggal, Red) yang umumnya berasal dari Timur Tengah. Tujuannya untuk menerapkan syariat Islam di Indonesia sesuai dengan negara yang ia datangi,” papar Hasyim.

Kelompok tersebut, kata Hasyim, memiliki ciri tidak menghormati perbedaan kondisi kenegaraan dan sosial politiknya serta keragaman budaya setempat. Mereka hanya mengambil alih atau menerapkan ulang suatu metodologi atau paham tanpa menghargai kebudayaan setempat.

Kawit An Nur Slawi

Hasyim mengungkapkan, wujud daripada internasionalisme Islam itu ada beberapa hal, “Pertama yang bernuansa Wahabiyah (penganut paham Wahabi). Ini meliputi fikriyah (pemikiran) dan harakiyah (gerakan). Kedua gerakan politik yang tidak seimbang dengan agama tetapi menggunakan tema agama,” tandasnya.

Menurut Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars itu, kelompok tasyaddud ketiga adalah lemahnya gerakan tawassuth (moderasi). Mereka menganggap tawassuth dan i’tidal (konsistensi) adalah tawakkuf (jumud) sehingga memunculkan radikalisme, reaktif, bukan konsepetual.

“Di sisi lain, liberalisasi pemikiran dalam agama menggunakan ukuran-ukuran Barat, sehingga posisi-posisi fikih diganti masolihul mursalah (kaidah mengenai kemaslahatan) yang tanpa manhaj (metode). Maka lahirlah hermeneutika (penafsiran) dengan ukuran-ukuran ammah (masyarakat) yang tidak seimbang antara pemikiran dengan maslahah (kesejahteraan) hidup,” urai Hasyim.

Menurutnya, semua hal itu secara sistemik merupakan gerakan yang mendunia. Namun, para penganutnya di Indonesia dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu mereka yang memang merupakan bagian dari gerakan global, tetapi ada juga yang sekedar ikut-ikutan karena khawatir kalau dianggap tidak maju. Sebaliknya, yang terjadi adalah terlalu maju.

Kawit An Nur Slawi

Aliran tersebut tidak kecil pengaruhnya karena langsung mengancam pemikiran, termasuk budaya. Mereka secara perlahan tapi pasti akan menggantikan hampir seluruh norma agama.

“Saya ambil contoh, orang sudah tidak lagi berpikir; bersinggungan dengan lain jenis dalam keadaan berdesak-desakan, batal atau tidak, dan tak lagi berpikir bersalaman itu mukhtalaf (masih diperdebatkan) atau tidak karena sudah lebih dari itu. Dan ini sebenarnya disebabkan liberalisasi pemikiran, tetapi juga budaya,” tegasnya.

Saat ini upaya mengontrol terhadap pikiran sudah tidak bisa dilakukan dengan alasan bahwa pikiran adalah sesuatu yang tidak bisa dikontrol dan diatur perundangan sehingga pakem menjadi hilang.

“Akhirnya Ahmadiyah yang ekstrim (zindik), yang setengah mbah suro (kebatinan, red), ini tumbuh subur di tengah tarik menarik antara tatorruf yamani (ekstrim kanan) yang tasyaddud (keras) dengan tatorruf yasari (ektrim kiri) yang tasyahul (menyepelekan hukum),” jelas Hasyim. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Islam, Doa Kawit An Nur Slawi

Kebangkitan Generasi Cyber Nahdlatul Ulama

Oleh Faisol Ramdhoni

--Sudah menjadi pengakuan umum bahwa di dalam diri Nahdlatul Ulama (NU) terdapat banyak keunikan sehingga ia menjadi perbincangan yang sangat menarik banyak kalangan. Keunikan NU  bisa ditemukan dari bagaimana bisa NU yang tidak didesain dan diorganisasi secara canggih bisa memliki massa terbanyak dan bisa eksis sampai sekarang. Sementara, dari sisi lain, potensi dan pergerakan kader-kader mudanya seringkali membuat publik terkejut. Di balik penobatannya sebagi bagian dari organisasi tradisional ternyata dalam pergerakannya kader-kader muda NU mampu menunjukkan dirinya tidaklah kampungan,bahkan lebih modern dari kelompok yang selama ini dinobatkan sebagai kaum modernis.

Pada Era 90-an, bila dibanding dengan kaum muda Islam lain, anak-anak muda NU boleh jadi merupakan komunitas paling agresif di belantara wacana pemikiran Islam di Tanah Air. Tatkala ruang kebebasan publik terbuka lebar, berbagai pemikiran mereka usung dari yang paling kiri (marxis) sampai yang paling kanan (liberal).Pengamat Islam dari Belanda, Martin van Bruinessen (1994), pernah memuji kaum muda NU sebagai anak-anak yang paling dinamis dalam perdebatan intelektual. Ini berbeda dengan anak-anak Islam modernis yang lebih dipengaruhi kaum fundamentalis seperti Sayyid Qutb dan Abu Ala Maududi. Pandangan yang lebih optimistik tentang kaum muda NU dikemukakan Nurcholish Madjid. Menurut dia, anak-anak NU yang mulai sekolah pada 1970-an, yang jumlahnya cukup banyak itu, akan menjadi sarjana pada 1990-an. Di situ Nurcholish berharap akan terjadi keseimbangan baru Islam Indonesia khususnya antara NU dan Muhammadiyah

Kebangkitan Generasi Cyber Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebangkitan Generasi Cyber Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebangkitan Generasi Cyber Nahdlatul Ulama

Bisa dikatakan bahwa di masa-masa tersebut telah terjadi kebangkitan intelektual di kalangan muda NU. Kebangkitan intelektual ini  berlangsung secara serempak sebagai sebuah gerakan. Artinya, tidak individual, tetapi merujuk suatu gerakan yang dikerjakan bersama dalam berbagai enclave yang tersebar di sejumlah wilayah. Ciri lain dari fenomena kebangkitan intelektual muda NU adalah penegasan identitas diri yang tampak menonjol. Nyaris semua unsur yang bukan merupakan identitas ke-NU-an dipangkas. Atribut-atribut yang biasa melekat pada kelompok yang biasa disebut Islam modernis, misalnya, akan mereka tolak.

Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, dimana anak-anak muda NU lebih banyak memfokuskan diri pada produksi wacana dalam rangka kritisisme dan upaya membentengi diri dari wacana dan pemikiran yang lahir di luar NU. Di era sekarang, tanpa harus menanggalkan pergulatan pemikirannya, mulai muncul kesadaran baru akan arti penting penguasaan informasi teknologi sebagai bagian dari strategi pegerakannya. Kesadaran ini muncul karena didoroang oleh kebutuhan media massa alternatif yang mengarahkan umat pada pemahaman islam yang moderat dan toleran mutlak dibutuhkan di Indonesia. Pengembangan media berbasis teknologi informasi menjadi arah baru gerakan anak-anak muda NU untuk membentengi diri dari gempuran media-media penyebar islam keras.

Persis dengan ciri fenomena fase kebangkitan intelektual, pemanfaatan media teknologi informasi oleh anak-anak muda NU digunakan sebagai sarana penyebaran pemikiran yang menegaskan identitas diri sekaligus filterisasi masuknya pemikiran-pemikiran yang lahir bukan dari rahim NU. Di samping itu, kesadaran ini kemudian menjelma menjadi gerakan kolefktif yang menyebar ke anak-anak muda NU di berbagai daerah. Walhasil, ratusan situs Aswaja yang dirintis dan dikelola anak-anak muda NU bermunculan baik atas nama pesantren, majelis,pribadi, dan komunitas. Sebut saja misalnya: Muslimedia News,Cyber  Dakwah, Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah, Buya Yahya, Kyai Jawab, Islamuna, Sufi News, Islam Net, Santri News, Sarkub / Thariqah Sarkubiyah, Suara Muslim,Pesantren Virtual dan masih banyak lagi, adalah nama-nama situs yang ramai dikunjungi selain situs Kawit An Nur Slawi.

Kawit An Nur Slawi

Tidah hanya berhenti pada pembuatan situs-situs website, inovasi anak-anak muda NU di bidang pengelolaan dakwah berbasis IT pun semakin canggih. Bila selama ini kita masih awam dengan kehadiran radio dan televisi di dunia maya, maka anak-anak muda NU telah membukakan alam pikir kita semua. Puluhan Radio dan Televisi streaming pun tercipta di daerah-daerah seperti; Radio Aswaja FM Ponorogo, Radio Sarkub, Radio Madu FM, TV Aswaja, TV Ahbabul Mustofo Solo dan lainnya digunakan untuk  meluaskan dakwah islam ala NU. Berita,ceramah, kajian kitab dan kajian ala pesantren bisa kita dengar dan tonton layaknya di radio dan televisi biasanya.

Melihat fenomena ini maka tidaklah salah jika dikatakan bahwa di dalam tubuh NU telah terjadi fase kebangkitan generasi Cyber. Sebuah generasi yang telah memberikan pencerahan pada strategi dakwah tradisional. Sebuah generasi yang bisa dengan cepat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa harus melupakan basis tradisinya. Sebuah generasi yang tak kenal lelah berjuang merawat nilai dan ajaran para kyai/ulama NU di dunia maya.

Kawit An Nur Slawi

Merekalah, para santri yang selama ini dicap sebagai kaum sarungan,ndeso, tradisional dan dinilai gagap teknologi ternyata mampu menunjukkan kemampuannya yang amat  mumpuni dalam penguasaan IT. Di tangan para santri-santri inilah, kajian kitab klasik yang selama ini hanya bisa dinikmati oleh segilintir orang dari bilik-bilik pesantren kini bisa dibaca dan dinikmati oleh masyarakat dunia dengan mudah. Di tangan para santri-santri inilah, ketakutan pada ancaman gerusan budaya karena pemanfaatan media IT mampu disulap menjadi sebuah kekuatan media alternatif yang transformatif dalam penyebaran Islam yang selaras dengan kultur Indonesia.

Lebih mencengangkan lagi, ternyata eksistensi generasi cyber di NU tidak hanya menorehkan prestasi di bidang pengawalan ajaran keagamaan yang moderat dan toleran saja. Di bidang pengawalan proses demokratisasi di Indonesia, kader muda NU mampu menunjukkan dirinya sebagai garda terdepan. Adalah Ainun Najib, seorang kader muda NU jebolan pesantren dan madrasah di Gresik , yang  membuat situs http://www.kawalpemilu.org menjadi situs yang banyak mendapatkan pujian dan paling kesohor selama pelaksanaan pilpres 2014 di Indonesia. Media berbasis IT ini diakui oleh banyak pihak sebagai situs yang mampu menyajikan data paling akurat dalam mengawal perolehan suara selama pemilu. Satu lagi, anak muda NU,yakni K-San dengan situs http://seeyoukey.com/pilpres2014 semakin menancapkan eksistensi generasi cyber NU dalam pengawalan proses demokratisasi di republik ini. Keduanya hadir memberikan inspirasi bahwa santri-santri di seluruh Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata lagi di era Cyber saat ini. Para Santri siap “berperang” melawan serangan-serangan cyber yang berniat melenyapkan ajaran Islam Rahmatan lil Alamin dalam mengawal keutuhan NKRI. Bravo Generasi Cyber NU!!!

Faisol Ramdhoni, Ketua Lakpesdam NU Sampang. Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Budaya, RMI NU Kawit An Nur Slawi

Minggu, 13 Agustus 2017

Doa Nabi Ibrahim Membangun Rumah Tangga

Kudus, Kawit An Nur Slawi - Untuk membangun rumah tangga, tidak hanya memerlukan kesiapan fisik dan mental semata. Apalagi terkait rizki sangat? membutuhkan suatu ikhtiar dan dorongan doa. Terkait hal itu, Mustasyar PBNU KH.Syaroni dalam pengajian Tafsir Al-Quran di masjid Al-Aqsha Menara Kudus Rabu (15/6) pagi memberikan sebuah amalan doa membangun rumah tangga.

?

Dikatakan, ketika membangun rumah tangga sebaiknya mengamalkan bacaan doa Nabi Ibrahim yang tertuang pada Al-Quran Surat Ibrahim ayat 37. Bunyinya, rabbana inni askantu min dzurriyatii biwaadin ghoiri dzi zarin inda baitikal harami, rabbana liyuqimush sholata fajal if-idatam minannasI tahwii ilaihim warzuqhum minats tsamaraati laallahum yasykuruun.

Doa Nabi Ibrahim Membangun Rumah Tangga (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Nabi Ibrahim Membangun Rumah Tangga (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Nabi Ibrahim Membangun Rumah Tangga

?

"Doa Nabi Ibrohim ini dibaca sebanyak 313 kali dalam setiap waktu dengan maksud supaya diberi kelapangan rizki oleh Allah. Bila dilakukan berdua, jumlah tersebut dibagi dua membacanya. Bila dibaca berjamaah 313 orang, cukup dibaca satu kali. Kalau sendirian ya 313 kali bacanya," ujar Mbah Syaroni, sapaan akrab kiai sepuh kharismatik asli Kudus ini.

?

Mbah Syaroni menjelaskan doa Nabi Ibrahim ini sangat mujarab. Buktinya, kota Makkah yang kering tanpa adanya pepohonan, masih banyak tersedia ragam buah-buahan yang hingga sekarang bisa dinikmati jamaah haji yang datang.

Kawit An Nur Slawi

?

"Semua ini berkat Nabi Ibrahim yang memohon rizki kepada Allah untuk penduduk Makkah dengan bacaan dalam ayat tersebut," imbuhnya dalam bahasa Jawa.

Kawit An Nur Slawi

Pada kesempatan itu, Mbah Syaroni mengingatkan selepas ibadah jangan lupa mengangkat berdoa. Caranya,? terang dia, awali membaca rabbana taqobbal minna innaka antas samiiul alim. Harapannya, meminta agar ibadah kita diterima Allah

?

"Sebab amal utama menurut sayyidina Ali itu ibadah yang diterima. Karenanya, utamakan membaca doa? rabbana taqobbal minna innaka antas samiiul aliim ini usai beribadah," jelas Mba Syaroni ini.

?

Pengajian Tafsir Alquran di Masjid al-Aqsha Menara Kudus rutin dilaksanakan setiap hari selepas subuh selama bulan Ramadhan. Pada hari keempat pada rabu pagi (15/6) tadi melanjutkan Surat Al-Baqarah surat 125-130 masih menjelaskan kisah perjuangan Nabi Ibrahim di kota Makkah.(Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Berita Kawit An Nur Slawi

Meneguhkan Kedaulatan Pangan Indonesia

Oleh Ahmad Naufa Kh. F.

Isu ketahanan dan kedaulatan pangan secara umum tidak menjadi wacana utama yang banyak dibicarakan atau diperjuangkan baik kalangan mahasiswa, pejabat ataupun politisi. Meski demikian, ketahanan pangan adalah isu yang layak mendapat perhatian dikalangan luas, utamanya mahasiswa sebagai kaum pendobrak. Mengapa pangan? Karena pangan merupakan kebutuhan primer (dloruri) yang dibutuhkan seleuruh elemen masyarakat Indonesia.

Secara definitif, makna "ketahanan" dengan "kedaulatan" itu berbeda. Secara sederhana, misalnya, jika ada sebuah keluarga yang kehabisan beras lalu menutupinya dengan membeli di pasar atau hutang kepada tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sudah dikatakan memiliki "ketahanan" pangan. Meski demikian, keluarga itu belum bisa dikatakan "berdaulat". Lebih dari itu, kedaulatan pangan adalah upaya yang sistematis untuk menentukan, kebijakan dan kebutuhan pangan secara merdeka atas keluarganya sendiri, seperti menanam padi sendiri, membeli dengan keluarga sendiri dan membuat harga sendiri. Dalam konteks ini adalah Indonesia yang terjadi hari ini masih berkutat pada "ketahanan" pangan, belum memiliki "kedaulatan" pangan.

Meneguhkan Kedaulatan Pangan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneguhkan Kedaulatan Pangan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneguhkan Kedaulatan Pangan Indonesia

Ironis memang, Indonesia yang begini subur dengan laut dan alamnya yang melimpah ruah masih terbelenggu dalam berbagai hal. Negeri yang disebut "penggalan sorga" ini begitu seksi dan diperebutkan banyak orang untuk mengambil sumber daya alamnya yang memang belum bisa dan mungkin tak ada niat untuk bisa mengelola alamnya sendiri. Berbagai perusahaan asing tertancap disini, dengan profit sharing yang tak masuk akal. Kue pembangunan pun hanya dijadikan rayahan orang-orang yang miskin nasionalisme dan pragmatis. Rakyat kecillah yang menjadi korban kebiadaban rezim dan system dengan segala problematikanya.

Mantan Menteri Perekonomian Kwik Kian Gie mencatat, 92 persen perusahaan dan aset-aset negara yang didapat melalui alam, sudah dikuasai dan dikendalikan oleh asing. Juga penelitian Michael Backman (1995) tentang kapitalisasi pasar dari 300 konglomerat Indonesia, Backman menemukan 73 persen total kapitalisasi pasar dimiliki oleh etnis Tionghoa. Belum lagi pasar yang dikendalikan konglomerat-konglomerat penghisap keringat rakyat yang memiskinkan petani dan pedagang kecil tumbuh subur dengan panglimanya para wakil rakyat yang dengan seenaknya mengamandemen undang-undang sesuai pesanan. Bagaimana mungkin ekonomi kerakyatan dan kedaulatan pangan dapat ditegakkan?

Islam sebagai Pendobrak

Islam sebagai ideologi hendaknya juga memiliki signifikansi sebagai pendobrak sosio-kultural. Perlawanan dan penghapusan terhadap ketidakadilan sebenarnya secara substansi bukan barang baru. Islam yang dibawa nabi pada zaman klasik sudah membuktikan bagaimana ia tumbuh sebagai ideologi yang membebaskan dari dikotomi ekonomi, ketimpangan sosial dan penyembelihan hak-hak asasi manusia. Ajaran Islam jelas, “Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, air dan api" dalam hal ini termasuk pula Emas, Gas, Energi, dan Batubara adalah untuk kemakmuran rakyat. Namun pada faktanya, asset-aset tersebut lari keluar dan memiskinkan penduduk pribumi. Kini, hanya untuk membeli segelas air putih, kita harus membeli ke Barat.

Kawit An Nur Slawi

Tahu dan tempe sebagai hal yang paling membantu peningkatan gizi kaum menengah kebawah harus import dengan membunuh petani kedelai. Kebaikan tuhan memberi laut yang luas disia-siakan dan dikufuri dengan impor garam yang juga membunuh petani. Jutaan hektar ladang sawah dengan kerja gigih petani dari pagi sampai sore hari harus diinjak-injak kartel yang tak bertanggungjawab. Setiap butir nasi yang kita makan sungguh sebuah proses panjang yang menyangkut jutaan orang. Media yang dipesan konglomerat dengan bantuan pejabat miskin nasionalisme untuk membuat opini publik bahwa pangan serba kekurangan, membuat kebijakan impor digulirkan. Tentu dengan tangan panjang dan antek-antek kapitalisme global yang mengepung Senayan.

Lalu, dalam konteks Indonesia, bagaimana arah gerakan kita yang masih minim pengetahuan tentang hukum dan ekonomi secara makro? "Untuk mengatasi dan mengamankan undang-undang, anda tak butuh ahli ekonomi. Anda tak butuh ahli tata-bahasa. Yang anda butuhkan hanyalah berpikir logis dan kemauan kuat dan keberanian untuk berdaulat, dengan mengamankan undang-undang dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat" kata Prof Maksum, Ketua PBNU, guru besar pertanian UGM.

Kawit An Nur Slawi

Sebagai contoh, dalam amandemen UUD 1945 Pasal 33 Ayat 3 berbunyi: "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Ayat 4: “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan, kemajuan, dan kesatuan ekonomi nasional. Ayat 5: "Ketentuan lebih lanjut mengenai pasal ini diatur dalam Undang-Undang.”

Dengan amandemen ini muncul berbagai Undang-Undang prokapitalis yang merugikan negara dan menyengsarakan rakyat. Pasal 33 Ayat 3 secara otomatis, telah di-nasikh ayat 4 yang merupakan pesanan asing dengan corong para wakil rakyat yang menggadaikan negerinya. Perubahan ini, bisa dilogika dan dinalar secara awam. Meski sudah diuji materikan oleh beberapa pihak yang masih peduli kedaulatan NKRI, utamanya PBNU, antek-antek asing selalu saja merubah dan mempermainkan kata dan kucing-kucingan.

Selain itu ada beberapa UU liberal pesanan asing yang membunuh kedaulatan rakyat seperti: UU Migas (No 22 Th 2001), UU BUMN (No 19 Th 2003), UU SD AIR (No 7 Th 2004), UU Perikanan(No 31 Th 2004), UU Pen. Modal (No 25 Th 2007), UU Kewilayahan (No 27 Th 2007), UU Minerba (No 4 Th 2009), UU Tenaga Listrik(No 30 Th 2009), UU Cagar Budaya (No 11 Th 2010), UU. Mata Uang ( No 7 Th 2011), UU. OJK (No 21 Th 2011) UU Pertanahan (No 2 Th 2012).

Inilah tugas dan proyek besar mahasiswa, sebagai generasi muda dan pemilik sah masa depan bangsa ini. Dasar teologis sudah jelas, saatnya kita berpikir 10-20 tahun kedepan, bagaimana bisa memiliki kedaulatan pangan; menentukan sendiri, memproduksi sendiri dan menikmati sendiri potensi alam untuk kemakmuran rakyat yang merupakan amanat undang-undang dasar 1945. Saatnya membuka mata, wacana, cakrawala dan berbuat hal-hal yang kongkrit. Mahasiswa dan generasi muda Indonesia jangan justru terjebak pada pragmatisme politik dan wacana kampus yang menyesatkan. Hal-hal yang tak penting dan lebay. Mahasiswa harus segera berbenah diri, menganalisa kawan dan lawan dan berpikir cerdas untuk melakukan perubahan. Karena, selain kepada mahasiswa dan generasi muda, kemana akan lagi nasib masa depan bangsa ini diserahkan?

?

Ahmad Naufa Khoirul Faizun, Wakil Ketua PW IPNU Jateng, Santri Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sejarah, Ubudiyah Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 12 Agustus 2017

Ulama Mancanegara Tertarik Belajar NU

Kudus, Kawit An Nur Slawi. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali menyatakan, ulama negara Afghanistan dan Malaysia sangat tertarik belajar ajaran dan tradisi Nadlatul Ulama. Terutama pada sikap NU yang tasamuh, tawasuth, tawazun, dan musyawarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita harus bangga menjadi NU karena banyak ulama luar seperti Afghanistan maupun Malaysia berdatangan ke Indonesia untuk mengetahui ajaran, tradisi, dan peranan NU membentuk dan mengawal Indonesia,” katanya dalam acara Halaqoh Pondok pesantren yang dilaksanakan Pesantren Luhur Wahid Hasyim Semaranag di Hotel Abbas Kudus, Jawa Tengah, Ahad (22/9).

Ulama Mancanegara Tertarik Belajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Mancanegara Tertarik Belajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Mancanegara Tertarik Belajar NU

Di depan ratusan santri dari berbagai pesantren Kudus, Jepara dan Demak ini, As’ad lebih banyak menceritakan kedatangan ulama Afghanistan yang mengunjungi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta belum lama ini. ? Dikatakannya, para ulama Afghanistan sangat kagum terhadap tradisi pesantren yang melatih dan mendidik langsung para santri untuk selalu dzikir, tawadhu, berakhlakul karimah, dan takut dosa.

Kawit An Nur Slawi

“Kekaguman mereka terlihat saat kita ajak mengunjungi pesantren di ? Yogyakarta. Bahkan mereka sangat histeris mendapat sambuatan dengan tradisi NU Dzibaan dan istighosahan,” ujarnya.

Saat mengunjungi Museum NU di Surabaya, ulama Afghanistan melihat isi surat Komite Hijaz yang dikirim kepada Kerajaan Arab Saudi. Mereka, tutur As’ad, merasa berhutang budi pada ulama (NU) Indonesia karena surat tersebut, Masjidil haram bebas menjalankan mazhab apapun.

Kawit An Nur Slawi

“Ini artinya sejarah itu penting jangan sampai hilang. Oleh karenanya orang NU selain tahu akidah maupun syariah, harus selalu menjaga sejarah dan tradisinya,” tegas As’ad.

As’ad menerangkan, hubungan antara kebangsaan dan keagamaan itu satu kesatuan yang tidak perlu dipertentangkan. Ia mencontohkan, Mbah Wahab Hasbullah pada tahun 1916 membentuk organisasi bernama Nahdlatul Wathan untuk menumbuhkan semangat keislaman dan nasionalisme.

Di akhir ceramahnya, ia menegaskan Pancasila merupakan manifestasi dari ajaran yang dibawa para wali. Pancasila adalah final dan harga mati sebagai dasar negara.

“NU berperan besar memperjuangkan Pancasila. Makanya orang NU harus mengisi dan mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara secara damai,” tandasnya. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sunnah, Khutbah, Hadits Kawit An Nur Slawi

Kamis, 10 Agustus 2017

Haul Pembelajaran Menghargai Jasa Orang Tua

Probolinggo, Kawit An Nur Slawi - Mustasyar PCNU Kota Kraksaan H. Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa haul dilakukan untuk memperingati wafatnya seorang figur tokoh agama yang sangat dihormati dan istiqomah dalam menjalankan ibadah di semasa hidupnya.

Hal tersebut disampaikan oleh H Hasan Aminuddin ketika menghadiri peringatan haul almarhum H Soebchan Mawardi, orang tua Ketua PC LTMNU Kota Kraksaan H. Didik Abdul Rohim di Kelurahan Semampir Kecamatan Kraksaan, Jumat (10/3) sore.

Haul Pembelajaran Menghargai Jasa Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Pembelajaran Menghargai Jasa Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Pembelajaran Menghargai Jasa Orang Tua

"Peringatan haul adalah pembelajaran bagi kita semua khususnya warga NU untuk menghargai jasa-jasa orang tua kita. Ketika mereka sudah wafat, kita sebagai seorang anak adalah wajib untuk senantiasa mendoakannya," katanya.

Kawit An Nur Slawi

Menurut Hasan, kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mempererat tali silaturrahim antar keluarga, kerabat dan tetangga. "Sehingga akan membawa dampak yang baik dalam peningkatan iman dan taqwa kita kepada Allah dalam rangka meneladani amal sholeh dari almarhum," pungkasnya.

Kawit An Nur Slawi

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Rais PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili beserta segenap pengurus PCNU Kota Kraksaan, Habib Hasyim bin Husein dari Kelurahan Patokan Kota Kraksaan serta segenap warga RW 06 Kelurahan Semampir Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nahdlatul Ulama Kawit An Nur Slawi

Ini Ainun Najib, Sosok di Balik Situs kawalpemilu.org

Sisi lain dari momentum pemilihan presiden dan wakil presiden atau Pilpres 2014 adalah betapa kreatifitas anak bangsa Indonesia sudah sangat luar biasa. Salah satunya diperlihatkan seorang santri bernama, Ainun Najib. Ia lahir di Balongpanggang Gresik Jawa Timur dan saat ini bekerja dan tinggal di Singapura bersama istri dan dua anaknya.

Di usia belia Ainun Najib menjalani pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Islamiyah Ganggang Balongpanggang Gresik dan untuk pendidikan agama ia belajar dari ayahnya H Abdul Rozaq M.Si alumni Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik. Ayahnya adalah seorang  tokoh masyarakat  atau kiai kampung  dan juga pengawas pendidikan di Kementerian Agama Kab. Gresik. Dan Ibunya Rustinah S.Pd adalah seorang  guru di SDN Klotok I Balongpanggang Gresik.

 Dihubungi lewat surat elektronik, Ainun bercerita, ide munculnya situs http://www.kawalpemilu.org  bermula dari ajakan untuk mengawal pemilu yang disarankan oleh berbagai pihak seperti KPU, Presiden SBY dan kedua calon presiden dan wakil presiden.

Dalam waktu singkat situs ini dikunjungi banyak orang. Data hasil pemilu yang disajikan sangat akurat karena berasal dari scan form C1 yang dipublish oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sendiri.

Ini Ainun Najib, Sosok di Balik Situs kawalpemilu.org (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Ainun Najib, Sosok di Balik Situs kawalpemilu.org (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Ainun Najib, Sosok di Balik Situs kawalpemilu.org

“Kami ingin menyuguhkan data yang terbuka, akurat, detail dan mudah diakses oleh publik sehingga masyarakat tidak bingung dengan klaim-klaim yang berbeda yang bermunculan dan kita lihat bisa memicu perpecahan bangsa. Jadi ini partisipasi aktif kami sebagai anak bangsa yang perduli akan Persatuan Indonesia”.

Konsultan IT alumnus Universitas Nanyang Singapura yang juga aktif  dalam komunitas Persaudaran Profesional Muslim Aswaja (PPM Aswaja) menyampaikan harapanya kepada seluruh generasi muda anak bangsa terutama para santri.

Kawit An Nur Slawi

“Karena saya orang IT, saya setuju sekali dengan visi Gus Achmad Shampton Masduqie yang berharap sekali agar NU bisa memanfaatkan dan menggunakan IT sebagai alat komunikasi dan pendukung kegiatan belajar mengajar dalam jaringan pesantren,” harap Ainun.

 “Saya senang dengan semakin aktifnya Kawit An Nur Slawi dan mulai menjamurnya media-media online dari teman-teman NU. Saya rasa memang penting pendidikan dan wawasan IT ditanamkan di kalangan santri NU,” tutur Ainun Najib di ahir surat elektroniknya. (Mukhlisin/Anam)

 

Foto: Ainun Najib bersama putranya

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Cerita, Warta Kawit An Nur Slawi

Selasa, 08 Agustus 2017

150 Peneliti dan Tokoh Agama Ikuti Simposium Internasional Kemenag

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Simposium internasional kehidupan keagamaan (International Symposium on Religious Life) bertajuk Managing Diversity, Fostering Harmony resmi dibuka oleh Kementerian Agama, Rabu (5/10) di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta. Simposium yang diselenggarakan oleh Balitbang dan Diklat Kemenag RI ini menghadirkan 150 peserta yang merupakan peneliti tokoh agama dari dalam dan luar negeri, seperti Mesir, Hongkong, Singapura, Malayisa, Brunei, AS, Belanda, Jerman, dan negara lainnya.

150 Peneliti dan Tokoh Agama Ikuti Simposium Internasional Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
150 Peneliti dan Tokoh Agama Ikuti Simposium Internasional Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

150 Peneliti dan Tokoh Agama Ikuti Simposium Internasional Kemenag

Dalam sambutan? yang dibacakan oleh Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan bahwa simposium internasional ini merupakan wahana penting bagi para akademisi, peneliti, dan tokoh agama untuk bertemu dan saling bertukar informasi mengenai hasil penelitian terbaru dan kemungkinan bekerja sama untuk melakukan penelitian terkait kehidupan keagamaan.

“Bagi Kemenag, simposium ini nantinya dapat memberikan rekomendasi kepada kami dalam melaksanakan visi negara untuk memperteguh kebhinnekaan Indonesia,” ujar Menag.

Menag menyadari betul ketika sebuah negara atau komunitas terisi orang-orang dengan tingkat keberagaman yang tinggi, maka paling sulit adalah menyamakan persepsi dan mencapai konsensus atas suatu nilai dan kepentingan tertentu.

Kawit An Nur Slawi

“Negara menjamin kebebasan setiap warga untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Hanya, kebebasan itu tetap dibatasi dalam kerangka menjaga harmoni. Karenanya, hubungan antarumat beragama diatur dalam regulasi tersendiri,” terang Menag.

Sementara itu, Kepala Balitbang dan Diklat Abdurrahman Mas’ud mengungkapkan bahwa pertemuan internasional ini juga nantinya diarahkan pada pembentukan RUU Perlindungan Umat Beragama (PUB) dengan mendefinisikan agama secara regulatif. Hal ini bertujuan untuk memperkuat persatuan dan menjaga kerukunan umat bergama di Indonesia.

“Para narasumber nantinya akan memberikan berbagai rekomendasi untuk penyempurnaan regulasi ini (RUU PUB, red) sehingga tergetnya akhir tahun sudah dibahas di DPR,” jelas Abdurrahman Mas’ud.?

Ini merupakan langkah Kementerian Agama dalam menganggapi sering terjadinya konflik yang mengatasnamakan agama. Sehingga menurut Ma’sud, kriteria agama atau keyakinan seperti apa di luar 6 agama yang selama ini diakui negara yang perlu didefinisikan.?

Kawit An Nur Slawi

Karena terminologi agama yang tidak diakui berdampak diskriminatif terhadap hak-hak warga negara yang masih memegang teguh agama-agama lokal ketika hendak mengakses layanan yang disediakan oleh pemerintah, seperti pencatatan sipil dan masalah-masalah administratif lainnya.

Kegiatan Simposium internasional ini akan berlangsung 3 hari, Rabu-Jumat (5-7/10) di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan berbagai pakar seperti Robert W. Hefner (Boston University, USA), Gamal Farouq Jibril (Al-Azhar University Cairo, Mesir), Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).?

Selain itu juga digelar diskusi yang akan diisi oleh Ahmad Najib Burhani (LIPI), Syafiq Hasyim (ICIP-PBNU), R. Alpha Amirrachman (CDCC-PP Muhammadiyah), Ahmad Suaedy (Abdurrahman Wahid Center UI), Muhammad Adlin Sila (CDRL-MORA), dan Alimatul Qibtiyah (PSW UIN Yogyakarta). (Fathoni) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Sunnah, Berita Kawit An Nur Slawi