Rabu, 28 Mei 2014

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris”

Rembang, Kawit An Nur Slawi

Puluhan pelajar NU yang tergabung dalam Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Rabu (9/3) sore memperingati Hari Lahir (Harlah) IPNU-IPPNU ke-62 dan 61, di balai pertemuan Desa Purworejo Kecamatan Kaliori.

Ketua PAC IPNU Kaliori, Muhammad Lilik Wijanarko mengungkapkan, acara ini sebagai upaya hormat terhadap hari lahir Ke-62 IPNU dan Ke-61 IPPNU. "Selain acara Harlah, kami juga mengemas acara tersebut dengan Rapat Kerja Anak Cabang (Rakerancab) PAC IPNU-IPPNU Kaliori," terangnya.

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris” (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris” (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris”

Para perwakilan setiap Ranting yang turut hadir dalam acara tersebut berupaya untuk menyampaikan gagasan terhadap program kerja yang akan dijalankan dalam masa khidmah 2015-2016.

Agenda terdekat, lanjut Lilik, melaksanakan "Pekan Madaris" yang akan kami laksanakan di Desa Dresi Kecamatan Kaliori pada 9-10 April depan. "Kami berharap dengan banyaknya kegiatan yang akan kami lakukan tetap membuat para kader solid dan semangat dalam berjuang," harapnya.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir Wakil I PC GP Ansor Rembang Ahmad Najih, Ketua MWCNU Kaliori KH Ali Armani , Ketua PC IPNU Rembang Ahmad Humam, Ketua PC IPPNU Rembang Afaf Muniroh Atid, dan beberapa pengurus harian PC IPNU-IPPNU Rembang.

Kawit An Nur Slawi

Ketua MWCNU Kaliori KH Ali Armani dalam sambutannya mengatakan, bagi pelajar NU harus bisa memilih siaran televisi yang tepat. Bukan hanya menikmati siarannya saja, tetapi harus bisa mengambil hikmah dari apa yang disiarkan. 

Kawit An Nur Slawi

"Kita sebagai warga nahdliyin bukan malah menonton MTA tv, tetapi menonton siaran Ahlussunnah wal Jamaah seperti TV9 dan Aswaja TV," pesannya.

Rangkaian acara tersebut diakhiri dengan meniup lilin dan pemotongan tumpeng oleh Ketua PAC Kaliori dan diberikan kepada Ketua PC IPNU-IPPNU Rembang. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama dengan para peserta. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Kawit An Nur Slawi

Senin, 26 Mei 2014

KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis

Pasuruan, Kawit An Nur Slawi. Tidak banyak kiai yang memiliki waktu dan kemampuan dalam menulis buku. Tapi kiai ini tidak semata menuangkan gagasan keagamaan lewat buku, juga membagikan karyanya secara cuma-cuma kepada masyarakat.

KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis

Dialah KH Sholeh Bahruddin, Pengasuh Pondok Pesantren Ngalah, Sengonagung, Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur. Baginya, menulis buku adalah sebagai panggilan jiwa sekaligus ingin meniru tradisi agung yang telah dilakukan para ulama terdahulu.

"Saya ingin meniru pengarang kitab Fathul Qarib, Fathul Muin dan lain-lain," katanya kepada sejumlah Pengurus Wilayah Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (PW LFNU) Jawa Timur.

Kawit An Nur Slawi

Penegasan ini disampaikan Kiai Sholeh, di sela-sela acara Pendidikan dan Latihan (Diklat) falakiyah akhir pekan lalu yang diikuti ratusan peserta dari PC LFNU, utusan pesantren, pejabat kementerian agama, serta dosen sejumlah perguruan tinggi di pesantrennya.

Ia menandaskan, para pengarang kitab atau muallif tempo dulu tidak sekedar menulis kitab, juga tidak berkenan menerima dan meminta royalti dari karya yang telah dibuat. "Justru dengan tidak meminta royalti seperti ini, maka manfaat karya-karya mereka bisa bertahan ratusan tahun bahkan hingga sekarang," tandas  Mustasyar PCNU Kabupaten Pasuruan ini.

Kawit An Nur Slawi

Kepada setiap peserta diklat falakiyah, Kiai Sholeh memberikan secara gratis buku berjudul Ensiklopedi Fikih Jawabul Masail Bermadzhab Empat. Buku setebal 572 halaman dan dicetak dengan hard cover ini disusun bersama para santri. Isinya adalah tentang tanya jawab hukun Islam terhadap berbagai masalah berdasarkan sudut pandang keagamaan. Mulai dari masalah internasional, kebangsaan, politik, sosial, ekonomi, akidah, hinga persoalan amaliah ibadah sehari-hari.

Menurut Kiai Sholeh, buku-buku hasil karangannya memang sengaja dicetak dan dibagi-bagikan secara gratis. Bahkan  sudah didownload di situs pesantren dan dapat dimanfaatkan oleh siapapun tanpa batas. "Yang penting asas manfaat. Boleh diperbanyak dan tidak perlu izin," ungkapnya. Ia menandaskan, kalau hendak diterbitkan lagi maka identitas Pesantren Ngalah sebagai penerbit bisa dihilangkan.

Kiai Sholeh dan pesantren yang diasuhnya telah mentradisikan kegiatan menyusun, menerbitkan dan membagikan buku secara gratis sejak lama. Judul dan bahasan dari buku yang dihasilkan juga bervariasi. "Saya mendidik para santri agar memiliki kemampuan menulis dengan baik," ungkapnya. 

Tidak hanya itu, kepada seluruh pengurus PW LFNU Jatim saat itu, Kiai Sholeh juga menghadiahkan satu buku dengan judul Sabilus Salikin. Buku setebal 791 halaman tersebut berisi tentang ensiklopedi tarekat yang berjumlah 31 aliran. Selain itu, di bagian awal dan akhir buku dijelaskan tentang esensi tasawuf dan tarekat serta tanya jawab masalah tarekat.

"Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi jawaban atas berbagai tuduhan terhadap tasawuf dan pengamal tarekat, semakin banyak yang memanfaatkan buku tersebut tentu kian baik,” pungkas kiai yang juga mursyid tarekat ini. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nasional, Sholawat, Khutbah Kawit An Nur Slawi

Kamis, 08 Mei 2014

Semangat UU Desa Dorong Partisipasi Warga

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Arah Undang-Undang Desa tidak bisa lagi mengacu pada cara lama yang bersifat instruktif, atas-bawah. Dengan cara demikian, pedesaan sekadar menjadi objek kebijakan pusat semata. Orientasi UU Desa mesti menempatkan warga desa sebagai pemegang otoritas dalam pembangunan.

Semangat UU Desa Dorong Partisipasi Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat UU Desa Dorong Partisipasi Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat UU Desa Dorong Partisipasi Warga

Demikian disampaikan anggota Komisi II DPR RI Abdul Malik Haramain di hadapan sedikitnya 30 peserta diskusi Perencanaan Pembangunan Nasional dalam Perspektif Pedesaan di Gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164 Jakarta Pusat, Rabu (16/7) sore.

Sebagai contoh sistem atas-bawah pembangunan desa, sulitnya membangun sinergi antara gubernur dan bupati-walikota, bupati-walikota dan camat. Belum lagi kalau gubernur dan bupati berlainan partai.?

Kawit An Nur Slawi

Menurutnya, paradigma penyusunan UU Desa mesti diubah. “Kita tidak ingin membangun-desa di mana desa menjadi objek. Tetapi, dengan paradigma desa-membangun perencanaan nasional menempatkan pemangku kepentingan di desa sebagai subjek pembangunan yang mengerti kebutuhannya.”

Kawit An Nur Slawi

Undang-Undang Pembangunan Desa diatur dalam UU nomor 25 tahun 2004.

Menurut Haramain, substansi pembangunan desa tidak bisa dianggap selesai pada penganggaran dan pelaksanaan program. “Inti keberhasilan pembangunan desa bisa diukur dari relevansi program dengan potensi desa itu sendiri.”

Relevansi ini yang mesti dikawal. “Berapa banyak gubernur dan bupati yang membuat program kerja di luar potensi geografis wilayahnya. Lahan pertanian sedikit, mereka mengalokasikan anggaran besar buat pertanian misalnya. Ini sama sekali tidak sambung. Ada lagi gubernur dan bupati yang menjanjikan saat kampanye program pendidikan dan kesehatan gratis. Padahal APBD-nya tidak mencukupi.”

Karenanya, untuk mewujudkan ketercapaian pembangunan desa, warga mesti terlibat dalam perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan, tandas Haramain. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi RMI NU, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi