Minggu, 06 Desember 2009

PBNU Sambut Baik Hari Santri 22 Oktober

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Pemerintah akan menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan secara resmi  hari bertepatan dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad NU pada tahun 1945 tersebut, tinggal menunggu Keputusan Presiden (Keppres) Joko Widodo.

PBNU Sambut Baik Hari Santri 22 Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sambut Baik Hari Santri 22 Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sambut Baik Hari Santri 22 Oktober

Ketua PBNU H. Aizzuddin Abdurrahman mengatakan, PBNU menyambut baik penetapan Hari Santri Nasional pada tanggal tersebut. “Kita bersyukur Alhamdulillah,” ungkapnya ketika dihubungi NU Onlina Selasa malam (13/10).

Menurut dia, pada tanggal tersebut, Hadrotussyekh KH Hasyim Asyari mencetuskan Resolusi Jihad. Resolusi tersebut adalah salah satu yang memicu perjuangan rakyat Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan yang beberapa bulan telah diraih.

Kawit An Nur Slawi

“Ini saat yang tepat untuk meneladani spritualitas dan perjuangan para syuhada sholihin, pejuang-pejuang bangsa yang telah mendahului. Termasuk Hadrotusysyekh KH Hasyim Asy’ari,” katanya.

Kawit An Nur Slawi

Ssebagaimana dilansir berita-berita nasional, Presiden Joko Widodo akan menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan resmi mengenai hal ini akan dijelaskan dalam Keputusan Presiden.

"Akan dinyatakan menunggu Keppresnya, tidak libur dan pada tanggal 22 Oktober kemungkinan ada acara yang cukup besar di Jakarta," kata Seskab Pramono Anung di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (13/10). (Abdullah Alawi)

PBNU Sambut Baik Hari Santri 22 Oktober

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Pemerintah akan menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan secara resmi  hari dikeluarkannya Resolusi Jihad NU pada tahun 1945 tersebut tinggal menunggu Keputusan Presiden Joko Widodo.

Ketua PBNU Aizudin Abdurrahman mengatakan, PBNU menyambut baik penetapan Hari Santri Nasional pada tanggal tersebut. “Kita bersyukur alhamdulillah,” ungkapnya ketika dihubungi NU Onlina Selasa malam (13/10).

Menurut dia, pada tanggal tersebut, Hadrotussyekh KH mencetuskan Resolusi Jihad. Resolusi tersebut adalah salah satu yang memicu perjuangan rakyat Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan yang beberapa bulan telah diraih.

“Ini saat yang tepat untuk meneladani spritualitas dan perjuangan para syuhada sholihin, pejuang-pejuang bangsa yang telah mendahului. Termasuk Hadrotusysyekh KH Hasyim Asy’ari,” katanya.

Seperti diketahui, sebagaimana dilansir berita-berita nasional, Presiden Joko Widodo akan menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Tetapi penetapan resmi mengenai hal ini akan dijelaskan dalam Keputusan Presiden.

"Akan dinyatakan menunggu Keppresnya, tidak libur dan pada tanggal 22 Oktober kemungkinan ada acara yang cukup besar di Jakarta," kata Seskab Pramono Anung di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2015). (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ahlussunnah Kawit An Nur Slawi

Kamis, 12 November 2009

Mari Syukuri dan Jaga Berkah Kedamaian Indonesia

Cirebon, Kawit An Nur Slawi . Masyarakat Indonesia harus pandai-pandai menunjukkan rasa syukur atas berkah kedamaian yang dimiliki negara ini. Tidak banyak negara yang seperti Indonesia, yang selalu mengedepankan musyawarah, tak mudah diadu-domba, serta berperilaku santun.

Demikian disampaikan KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatu Ulama (PBNU) saat memberikan ceramah keagamaan dalam peringatan 100 hari meninggalnya Buya KH Ja’far Aqil Siroj di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Rabu (16/7).

Mari Syukuri dan Jaga Berkah Kedamaian Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mari Syukuri dan Jaga Berkah Kedamaian Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mari Syukuri dan Jaga Berkah Kedamaian Indonesia

“Contohnya, kita hari ini bisa dengan tenang berkumpul dan membacakan tahlil serta mendoakan almarhum. Sementara di Gaza,? mereka terus menderita akibat tekanan dan serangan Israel dengan korban yang kebanyakan dari kaum wanita, ibu dan anak-anak,” jelas Kang Said.

Kawit An Nur Slawi

Tidak hanya itu, lanjut Kang Said. Di daerah-daerah belahan dunia lainnya umat Islam juga tengah diuji dengan kehadiran fitnah besar. Fitnah yang dimaksud adalah gerakan kekerasan dan tidak berperikemanusiaan dengan mengatasnamakan agama Islam.

Kawit An Nur Slawi

“Di Iraq, organisasi Islam ISIS (Islamic State in Iraq and al-Sham, red) memproklamirkan berdirinya negara Iraq-Syiria. Ini merupakan sebuah fitnah besar, karena mereka mendirikan negara Islam tanpa persetujuan dunia Islam sendiri,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kang Said juga menyebut fenomena fitnah terhadap Islam dengan mengaitkan gerakan Boqo Haram di Nigeria. Gerakan tersebut sangat dikecam mengingat sering melakukan penyanderaan terhadap warga sipil dan anak-anak sekolah dengan tebusan uang yang besar.

“Untuk itu, kita sebagai masyarakat pesantren dan warga Nahdliyin harus benar-benar menjaga kedamaian di negeri ini. Salah satunya ialah dengan tetap tenang dan bersikap santun dalam menghadapi pengumuman presiden terpilih 22 Juli mendatang. Yang kalah harus menerimanya dengan bijak,” kata Kang Said.

Selain amanat agar tetap tenang, Kang Said juga memohon doa kepada masyarakat Nahdliyin agar komitmen menjaga kesatuan NKRI tetap diemban oleh rakyat Indonesia. Ia menambahkan, terutama bagi masyarakat pesantren agar tidak mudah terpancing dengan isu-isu yang dapat memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. (Sobih Adnan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi News Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 26 September 2009

Santri Lakukan Ini di Haul Masyayikh

Kudus, Kawit An Nur Slawi. Berniat mendoakan masyayikh dan pendiri Madrasah Miftahul Falah, para santri dan alumni menggelar Khataman Al-Quran 1000 Juz di halaman Madrasah Miftahul Falah  Jumat (13/10).

Pengurus Madrasah Miftahul Falah, Abrori mengatakan kegiatan dipelopori Ikatan Mutakhorijin Miftahul Falah (Imam) sebagai wujud syukur dan terima kasih atas pendidikan yang selama ini diberikan para guru dan kiai di Miftahul Falah Cendono.

Santri Lakukan Ini di Haul Masyayikh (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Lakukan Ini di Haul Masyayikh (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Lakukan Ini di Haul Masyayikh

Koordinasi dan persiapan dilakukan secara matang dalam kegiatan yang melibatkan ribuan peserta, mulai siswa/siswi, guru, staf, pengurus dan alumni Miftahul Falah dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

"Khataman seribu juz ini maksudnya diikuti oleh ribuan peserta yang membaca juz-juz Al-Quran hingga khatam. Alhamdulillah dari ribuan peserta tadi bisa khusyuk dan semoga membawa berkah bagi kita semua," imbuh Abrori usai acara.

Sambutan baik dan dukungan pengurus madrasah terhadap Imam, menurutnya akan menjadi kekuatan tambahan untuk mengambangkan kualitas dan kapasitas madrasah.

Kawit An Nur Slawi

“Harapannya akan ada berbagai inovasi, pemikiran dan gerakan nyata dari anggota IMAM yang nantinya bermanfaat bagi umat,” kata Abrori.

Kawit An Nur Slawi

Sementara itu, Ketua Ikatan Mutakhorijin Madrasah Miftahul Falah, M Thoat Muhtar menjelaskan Imam adalah sebuah wadah alumni Madrasah Miftahul Falah Cendono yang nantinya akan bergerak ke lingkup sosial dan pemberdayaan masyarakat. Tahun ini Imam resmi berdiri dan menaungi seluruh alumni mulai MI, MTs, MA dan SMK Miftahul Falah.

"Pada awalnya IMAM digagas para alumni MA NU Miftahul Falah mulai angkatan 1991 sampai 1995. Kemudian dikembangkan kepada lingkup yang lebih luas, yaitu seluruh angkatan dari semua tingkatan," jelasnya.

Pembentukan Imam bertujuan menggalang persatuan dan silaturrahim antar alumni. Dari situ diharapkan akan terwujud satu kekuatan utuh untuk meneruskan perjuangan para ulama dan masyayikh dalam menebar kebaikan kepada umat. (M Farid/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Tokoh, Ubudiyah Kawit An Nur Slawi

Senin, 24 Agustus 2009

Alissa Wahid Ingatkan Pesan Gus Dur untuk Jaga Perdamaian

Jakarta, Kawit An Nur Slawi



Alissa Wahid, putri pertama Gus Dur menyampaikan sambutan atas nama keluarga dalam acara haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-7 di komplek Al-Munawwaroh Jalan Warung Silah 10 Ciganjur, Jakarta Selatan. Jumat (23/12).

Alissa Wahid Ingatkan Pesan Gus Dur untuk Jaga Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid Ingatkan Pesan Gus Dur untuk Jaga Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid Ingatkan Pesan Gus Dur untuk Jaga Perdamaian

Pada kesempatan tersebut, Alissa mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada para hadirin, khususnya kepada presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Menurutnya, haul adalah tradisi Nahdlatul Ulama, yakni bagaimana mengambil pelajaran dari para pendahulu kita. Lebih lanjut, untuk haul kali ini sangat bermakna karena bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Sesuai dengan tema yang diangkat haul pada kali ini, Ngaji Gus Dur: Menebar Damai Menuai Rahmat. Kata Alissa, Perdamaian bagi Gus Dur itu bukan statis, melainkan dinamis dan harus terus dipelihara. Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi.

Kawit An Nur Slawi

“Yang sama jangan dibeda-bedakan, yang beda jangan disama-sama-kan!” tegasnya menirukan Gus Dur.

Hadir pula pada haul ini, mantan Wapres Budiono, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, KH ? Said Aqil Siroj, Kapolri Jendral Tito Karnavian, Panglima TNI Gatot Nurmantio, Habib Umar Muthohar, Acep Zam Zam Noor, Frans Magnis Suseno, Sabam Sirait dll.(Husni Sahal/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Syariah Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 27 Juni 2009

Santri Digoda Setan Kelas Santri

Yogyakarta, Kawit An Nur Slawi. KH. Henry Sutopo mengatakan, Iblis mendapat kewenangan menggoda anak keturunan Adam. Ia menggoda manusia sesuai dengan kedudukan.

“Kalau santri, ya yang menggoda setannya kelas santri. Kalau kiai, yang menggoda setannya juga kelas kiai.” 

Santri Digoda Setan Kelas Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Digoda Setan Kelas Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Digoda Setan Kelas Santri

Ia menyampaikan hal itu pada pengajian menjelang buka bersama puasa arafah di masjid Yasayan Kodama (Korps Dakwah Mahasiwa) Yogyakarta, Senin (14/10).

Kawit An Nur Slawi

Di akhir pengajian, Henry Sutopo menegaskan bahwa semua manusia itu tidak ada yang selamat dari bujuk rayu iblis, kecuali Nabi Muhammad Saw.

Kawit An Nur Slawi

“Tidak ada yang selamat dari bujuk rayu Iblis kecuali Nabi Muhammad Saw.” Pungkasnya, disambut suara adzan maghrib. 

Kegiatan tersebut, dihadiri oleh puluhan jamaah yang terdiri dari masyarakat di sekitar masjid Kodama Yogyakarta.  (Rokhim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Rabu, 20 Mei 2009

Guru Maarif Tegal Dilatih E-Learning

Tegal, Kawit An Nur Slawi 

Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan  Ma’arif NU Kabupaten Tegal mengadakan pelatihan pembelajaran elektronik atau electronic learning (E-Learning) di Ruang Auditiorium STAIBN.

Guru Maarif Tegal Dilatih E-Learning (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Maarif Tegal Dilatih E-Learning (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Maarif Tegal Dilatih E-Learning

Ratusan Sekolah /Madrasah yang bernaung di bawah lembaga pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Tegal dilatih membuat website aplikasi pembelajaran. Narasumber yang dihadirkan oleh panitia adalah Achmad Chanif, praktisi IT PC Ma’arif NU Kabupaten Tegal

Menurut Chanif, begitu biasa Achmad Chanif disapa, pendidikan  sekarang sudah dimulai dengan era yang baru yaitu era digital. Dengan era yang baru ini maka guru dihadapkan pada era baru juga, yaitu bagaimana guru bisa menangkap itu pula. Diantanya E-Learning,

Kawit An Nur Slawi

Dengan model ini, kata Chanif, maka guru harus bisa berbuat lebih cerdas, tangkas dan kreatif dalam proses pembelajaran. “Dengan pelatihan yang seperti inilah para guru dilingkungan ma’arif akan semakin melaju cepat. “ Kata Guru SMP N 1 Slawi ini. 

Hadir dalam kesempatan tersebut, Asisten II Bupati Tegal H. Agus Subagyo, Perwakilan Kepala kantor kementerian Agama Kabupaten Tegal, PGRI Kabupaten Tegal, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Tegal H. Nurotib , Ketua STAIBN Tegal Badrodin dan perwakilan dari badan otonom PC. GP. Ansor, IPNU-IPPNU.

Kawit An Nur Slawi

Ketua PC LP. Ma’arif NU Kabupaten Tegal, H. Muslikh  mengatakan, para guru pengajar IT yang tersebar di seluruh Indonesia yang ditraining di 5 tempat tersebut selanjutnya diharapkan bisa memberikan pelatihan yang sama bagi sekolah di sekitarnya seusai mengikuti pelatihan tersebut.

Ke depan, LP Maarif berharap agar seluruh materi pelajaran bisa diakses lewat komputer dan internet yang nantinya bisa semakin mempermudah proses pembelajaran.

“Semuanya berbasis web, khususnya mata pelajaran Aswaja cukup dengan internet, materi sudah ada disana, tak perlu buku, tinggal test dan tutorial. Hadist dan ayat al Qur’an juga dengan gampang bisa ditemukan lewat intenet,” ujarnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz T

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Fragmen Kawit An Nur Slawi

Jumat, 15 Mei 2009

Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa

Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang hidup dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ?. ? ? ? ? ? ?..? ?

?

Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa (Sumber Gambar : Nu Online)
Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa (Sumber Gambar : Nu Online)

Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita. Sesungguhnya hanya taqwalah yang dapat menylematkan kita dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat nanti. Diatara jalan yang akan menuntun kita meraih ketaqwaan adalah jalan taubat. Barang siapa bertaubat dari segalam macam tindak keburukan pastilah dia akan meraih ketaqwaan. Karena ketaqwaan itu? menuntut diri menghindar dari kemaksiatan.

Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang bergelimang dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Kawit An Nur Slawi

Memang demikianlah makna taubat secara bahasa yaitu kembali. Artinya, kembali meinggalkan perkara yang tercela dalam pandangan agama. Perkara yang tercela sangat banyak ragam dan tingkatannya. Bagi mereka yang berkecimpung dalam kehidupan yang sarat akan kemaksiatan maka taubat itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang keseharainnya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindar dari dosa-dosa kecil tersebut. Karena jika ditumpuk, maka yang kecil akan menjadi besar juga. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dengan menghindar dari kemakruhan. Setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Kawit An Nur Slawi

Abdul Wahhab As-Sya’roni menjabarkan berbagai tingkatan taubat. Taubat paling dasar adalah taubat yang harus dilakukan untuk kembali dari dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, kemakruhan dan dari perkara yang tidak diutamakan.

Tingkatan kedua adalah bertaubat dari merasa diri sebagai orang baik, merasa dirinya telah dikasihi Allah dan bertobat dari merasa dirinya telah mampu bertaubat kepada Allah swt. Sesungguhnya berbagai macam perasaan ini aalah sebuah kesalahan yang lahir dari penyakit hati manusia yang sangat halus.

Dan puncak taubat adalah kembali mengingat Allah swt dari kelalaian mengingatnya waluapun sekejap saja. Karena melupakan-Nya adalah sebuah dosa.

Ma’asyiral Muslimin Rahimkumullah

Demikianlah tiga tingkatan taubat yang dijabarkan oleh As-Sya’roni. Selanjutnya tinggal kita meraba diri masing-masing dimanakan posisi kita berada dalam tiga tingkatan taubat tersebut. Andaikata kita masih berada dalam tingkat dasar, hendaklah kita pertahankan taubat kita sambil berusaha belajar menginjak taubat tingkat kedua. Dan apabila kita telah berada di tingkat kedua, maka berhati-hatilah sesungguhnya syaitan selalu mengintai kelengahan agar kita kembali terjerembab dalam kubangan dosa.

Oleh karena itu, Allah swt berfirman dalam surat Hud ayat 112

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, tetapi setiap dosa harus segera ditaubati. Karena pada dasarnya manusia yang hidup di dunia ini berada dalam kubangan kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati. Sebagaimana Rasulullah saw pernah menerangkan hal ini kepada Abdillah bin Mas’ud “Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Taubat merupakan kesempatan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya yang telah melakukan kesalahan. Taubat adalah peluang emas bagi manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Oleh karena itulah jika kita ingin disayang olehnya segeralah bertaubat.

? ? ? ? ? ?

Allah swt sungguh mengistimewakan para pertaubat, apalagi jika mereka adalah orang-orang muda. Sungguh Allah swt. akan mengganti segala keburukannya menjadi kebaikan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. ?

Jama’ah Jum’ah yang Dimuliakan Allah

Demikianlah Allah swt benar-benar mengistimewakan mereka yang bertaubat sebagaimana kisah seorang pemabuk ketika berjumpa degan Umar bin Khattab, sedangkan dia sedang membawa botol berisi menuman keras. Diceritakan pada sebuah lorong kota Madinah, Umar bin Khattab tak sengaja berjumpa dengan seorang pemuda yang sedang berjalan dengan menenteng minuman keras. Begitu pemuda itu sadar sosok yang berpapasan dengannya adalah Umar, seketika itu pula secara reflek ia sembunyikan minuman keras dibalik jubahnya.

Lalu Umar bertanya tentang botol apakah gerangan yang berada dibalik jubahnya tersebut. Begitu malunya pemuda itu akan tingkah lakunya sehingga ia berdo’a dalam hati “Ya Allah janganlah Engkau membuka rahasia –keburukan-ku. Dan janganlah Engkau permalukan diriku di hadapan Umar bin Khattab, tutuplah semua itu dan aku berjanji tidak akan minum-minuman keras lagi selamanya”.

Kemudian pemuda itupun berbohong dan menjawab bahwa yang ada di balik jubahnya adalah cukak “Ya Amiral Mukminin yang aku bawa ini adalah cukak”. Umarpun menuntut lebih jauh “bukalah sehingga aku mengetahui apa yang sebenarnya kau sembunyikan dibalik jubahmu itu”.

Maka pemuda itupun mengeluarkan botol yang berada di balik jubahnya dan masyaallah minuman keras itu telah berubah menjadi cukak yang nikmat dan segar.

Inilah bukti betapa Allah swt memang mengistimewakan para pertaubat. Mereka yang telah bertekad bulat meninggalkan keburukan pasti Allah swt ganti dengan kebaikan ‘yubaddilullahu sayyiatihim hasanatin’

Jama’ah Jumah yang Berbahagia

Kisah di atas menjadi petunjuk bagi kita semua bahwa modal bertaubat bukanlah baju koko, peci ataupun sorban dan sajadah, tetapi dengan tekad bulat dan niat yang mantab dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, serta kesadaran bahwa hanya Allahlah yang memberi petunjuk sekaligus Sang Maha Penerima Taubat.

Bukankah pengakuan akan kesalahan dan kebulatan tekad dari Nabi Adam as. sehingga Allah swt menerima pertaubatannya setelah Nabi Adam as. terbujuk syaitan memakan buah khuldi di surga.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Jama’ah Jum’ah yang Mulia

Demikianlah khutbah jum’ah kali ini semoga kita semua tergolong orang yang bertaubat. Sesungguhnya mereka yang bertaubat akan diselamatkan Allah swt dari perbuatan-perbuatan yang buruk.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Barang siapa memperkuat taubatnya, pasti dijaga Allah dari segala hal yang merusak keikhlasan dalam beramal.

? ? ? ? ? ?, ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khotbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

(Pen/Red Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi News, Warta Kawit An Nur Slawi

Selasa, 17 Maret 2009

Ribuan Banser Indonesia Lancarkan Mudik Lebaran 2017

Jakarta, Kawit An Nur Slawi



Ribuan kader Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di sejumlah wilayah di Indonesia bersemangat menunjukkan dedikasinya kepada masyarakat dengan membantu kelancaran arus mudik Idul Fitri 1438 H atau Lebaran 2017.

Ribuan Banser Indonesia Lancarkan Mudik Lebaran 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Banser Indonesia Lancarkan Mudik Lebaran 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Banser Indonesia Lancarkan Mudik Lebaran 2017

Kader inti Pemuda Ansor itu terus memantau kondisi lalu lintas, membantu mengurai kemacetan jalan, hingga menyiapkan tempat istirahat bagi pemudik yang kelelahan.

"Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor dan Satkornas Banser mengapresiasi energi, semangat, keringat seluruh kader Ansor dan Banser dalam tugas kemanusiaan ini," ujar Kasatkornas Banser H Alfa Isnaeini, di Jakarta, Kamis (22/6).

Ratusan Posko Mudik Banser berada di sejumlah titik strategis. Dari Jakarta menuju Jawa, Sumatera atau provinsi lain di Indonesia. Total mencapai 604.

Di Banten, jumlah Banser diturunkan di Kabupaten Tangerang misalnya, sejumlah 200 personil. Mereka berjaga di lima Posko yang disiapkan guna memberikan bantuan dan kenyamanan bagi para pemudik.

Kawit An Nur Slawi

"Tugas tahunan ini tugas kemanusiaan untuk membantu petugas kepolisian hingga masyarakat," ujar Kasatkorwil Banser Banten Rois Maliki menambahkan.

Kasatkorwil Banser Jawa Tengah Hasyim Asyari menjelaskan pihaknya menurunkan 5.000 anggota Banser terlatih yang memiliki keahlian dalam bantuan lalu lintas dan pertolongan pertama bertugas di 200 Posko Mudik.

"Setiap Posko dalam sehari berisi sekitar 40 personil. Dan itu masih ditambah personil cadangan. Tiap hari dibagi 2-3 shift, dan tiap shift diterjunkan sekitar 15-20 personel," paparnya.

Kawit An Nur Slawi

Di Lampung, 1.100 Banser diterjunkan dalam kegiatan kemanusiaan tersebut. Kader inti Pemuda Ansor setempat mendirikan 22 Posko Mudik.

"Di sejumlah Posko telah kami kunjungi seperti Pesawaran, Metro, Lampung Tengah, Lampung Selatan, Lampung Timur, kami pastikan fasilitas cukup memadai. Bisa untuk istirahat dan sholat," kata Kasatkorwil Banser Lampung, Tatang Sumantri.

Tak hanya di Jawa dan Sumatera. Di Bali, puluhan pemuda Nahdlatul Ulama (NU) setempat juga melaporkan jika turut membantu ratusan warga Banyuwangi, Jawa Timur yang melakukan mudik gratis yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Besar Banyuwangi Dewata (Ikawangi Dewata) dengan Pemerintah Kabupaten Badung.

"Ini pembuktian harakah membanggakan yang bisa publik nilai sendiri. Apakah Banser sebagai kader inti Pemuda Ansor bermanfaat atau tidak," ujar Kasatkornas. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi RMI NU, Kajian Islam, Anti Hoax Kawit An Nur Slawi

Selasa, 03 Februari 2009

Semangat Para Diplomat di Italia Saat Berzakat

Satu persatu, hari demi hari, mulai berdatangan para diplomat di KBRI Roma, Italia menghampiri saya. Kedatangan mereka adalah untuk menunaikan kewajiban berzakat, seperti pada Senin (11/6) kemarin.

Semangat para diplomat untuk berzakat patut diapresiasi. Meski jauh di luar negeri, tetapi mereka masih peduli dengan masyarakat di Indonesia dengan menyisihkan sebagian rizki untuk berdekah, dan utamanya adalah kewajibannya untuk berzakat.

Semangat Para Diplomat di Italia Saat Berzakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Para Diplomat di Italia Saat Berzakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Para Diplomat di Italia Saat Berzakat

?

Saya dapat memahami, para diplomat meyakini bahwa dengan zakat yang mereka keluarkan kepada mustahiknya akan membuat rejeki mereka berkah dan bertambah.

Menunaikan kewajiban sebagai seorang Muslim dalam setiap perintah-Nya merupakan kebahagiaan bagi pelakunya. Baik perintah itu kewajiban setiap hari, seperti shalat lima waktu, perintah atau kewajiban mingguan, seperti shalat Jumat, kewajiban bulanan seperti berpuasa pada bulan Ramadhan, juga kewajiban tahunan seperti zakat fitrah.

?

Kawit An Nur Slawi

Ada juga kewajiban sekali seumur hidup jika mampu seperti ibadah haji, sebagaimana yang telah tertanam kuat dalam prinsip Islam, rukun Islam yang lima.

Dalam menunaikan kewajiban di dalam hukum-hukum Islam dikenal sebuah istilah yakni taklif. Artinya setiap Muslim yang sudah baligh dan berakal wajib melaksanakan perintah yang telah ditetapkan dalam agama. Ketika seseorang itu belum mencukupi syarat tiga tersebut, maka tidak ada kewajiban baginya untuk melakukannya.

?

Dengan mengucapkan sepenuh hati dua kalimat syahadat, “Asyhadu An laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah,” maka sudah cukup syarat baginya disebut sebagai Muslim. Ketika seorang muslim laki-laki atau perempuan itu sudah baligh—ditandai dengan menstruasi bagi perempuan dan bermimpi keluar sperma bagi laki-laki—wajib hukumnya untuk melakukan shalat lima waktu dan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan.

Kawit An Nur Slawi

?

Di samping syarat sudah baligh di atas, Muslim itu juga harus berakal sehat. Meskipun muslim sudah baligh tapi akalnya tidak sehat, maka tidak ada kewajiban untuk melakukan shalat, puasa, dan haji.

Berbeda dengan zakat. Dalam berzakat tidak disyaratkan muslim itu harus berakal dan baligh. Selama seseorang itu muslim, maka wajib membayar zakat. Kalau dia belum baligh atau akalnya tidak sehat tetap wajib membayar zakat. Jangankan yang masih kecil, bayi baru lahir saja pada bulan Ramadhan wajib dibayarkan zakat.

?

Jangankan yang masih hidup, orang yang meninggal pada bulan Ramadhan pun wajib dibayarkan zakat. Siapa yang membayarkannya? Tentunya, orangtuanya atau orang yang menanggung biaya hidupnya. Zakat yang dimaksud di sini adalah zakat fitrah.

Marilah menunaikan zakat. Zakat dapat membuat berkah harta. Zakat dapat menentramkan hati pelakunya. Zakat dapat menyucikan hati dan harta. Zakat dapat menghapuskan dosa-dosa. Amin ya robbal ‘alamin.

Khumaini Rosadi, Dai Ambassador Cordofa 2017 dengan penugasan ke Roma Italia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Humor Islam, Nahdlatul Ulama Kawit An Nur Slawi

Senin, 05 Januari 2009

Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas

Oleh Ahmad Muntaha AM

A. Pengertian Disabilitas

Merujuk UU No 04 tahun 1997, penyandang disabilitas yang dibahasakan dengan istilah penyandang cacat diartikan sebagai setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari: a) penyandang cacat fisik; b) penyandang cacat mental; dan c) penyandang cacat fisik dan mental. Lebih lanjut undang-undang ini menjelaskan:

Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas

a. Cacat fisik adalah kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan bicara;

b. Cacat mental adalah kelainan mental dan atau tingkah laku, baik cacat bawaan maupun akibat dari penyakit;

Kawit An Nur Slawi

c. Cacat fisik mental adalah keadaan seseorang yang menyandang dua jenis kecacatan sekaligus.

Kawit An Nur Slawi

Dari sini dapat diketahui, bahwa maksud disabilitas adalah kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau menjadi rintangan bagi penyandangnya untuk melakukan aktivitas sebagaimana umumnya orang.

B. Penyandang Disabilitas dalam Perspektif Al-Qur’an, Hadits, dan Ulama Mazhab

Dalam perspektif Islam, penyandang disabilitas identik dengan istilah dzawil âhât, dzawil ihtiyaj al-khashah atau dzawil a’dzâr: orang-orang yang mempunyai keterbatasan, berkebutuhan khusus, atau mempunyai uzur.

Nilai-nilai universalitas Islam seperti al-musawa (kesetaraan/equality: Surat Al-Hujurat: 13), al-‘adalah (keadilan/justice: Surat An-Nisa: 135 dan Al-Maidah ayat 8), al-hurriyyah (kebebasan/freedom: Surat At-Taubah ayat 105) dan semisalnya, sebagaimana Keputusan Muktamar NU Ke-30 tahun 1999 di Kediri  meniscayakan keberpihakan terhadap penyandang disabilitas sekaligus menegasi sikap dan tindakan diskriminatif terhadap mereka.

Lebih spesifik Al-Quran, Hadits, dan pendapat para ulama secara tegas menyampaikan pembelaan terhadap penyandang disabilitas:

1. An-Nur ayat 61:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ... (?: 61)

Artinya, “Tidak ada halangan bagi tunanetra, tunadaksa, orang sakit, dan kalian semua untuk makan bersama dari rumah kalian, rumah bapak kalian atau rumah ibu kalian …” (Surat An-Nur ayat 61).

Ayat ini secara eksplisit menegaskan kesetaraan sosial antara penyandang disabilitas dan mereka yang bukan penyandang disabilitas. Mereka harus diperlakukan secara sama dan diterima secara tulus tanpa diskriminasi dalam kehidupan sosial, sebagaimana penjelasan Syekh Ali As-Shabuni dalam Tafsir Ayatul Ahkam (I/406):

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Substansi firman Allah Ta’ala (Surat An-Nur ayat 61) adalah bahwa tidak ada dosa bagi orang-orang yang punya uzur dan keterbatasan (tunanetra, pincang, sakit) untuk makan bersama orang-orang yang sehat (normal), sebab Allah Ta’ala membenci kesombongan dan orang-orang sombong dan menyukai kerendahhatian dari para hamba-Nya.”

Bahkan dari penafsiran ini menjadi jelas bahwa Islam mengecam sikap dan tindakan diskriminatif terhadap para penyandang disabilitas. Terlebih diskriminasi yang berdasarkan kesombongan dan jauh dari akhlaqul karimah.

2. ‘Abasa 1-11:

? ? (1) ? ? ? (2) ? ? ? ? (3) ? ? ? ? (4) ? ? ? (5) ? ? ? (6) ? ? ? ? (7) ? ? ? ? (8) ? ? (9) ? ? ? (10) ? ? ? (11) ... (?/1-11)?

Artinya, “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling. Karena seorang tuna netra telah datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali ia ingin menyucikan dirinya (dari dosa). Atau ia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memperhatikan mereka. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau ia tidak menyucikan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sementara ia takut kepada Allah, engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu). Sungguh (ayat-ayat/surat) itu adalah peringatan. …” (Surat ‘Abasa ayat 1-11).

Ulama mufassirin meriwayatkan, bahwa Surat ‘Abasa turun berkaitan dengan salah seorang sahabat penyandang disabilitas, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum yang datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk memohon bimbingan Islam namun diabaikan. Kemudian turunlah Surat ‘Abasa kepada beliau sebagai peringatan agar memperhatikannya, meskipun tunanetra. Bahkan beliau diharuskan lebih memperhatikannya daripada para pemuka Quraisy. Sejak saat itu, Nabi Muhammad SAW sangat memuliakannya dan bila menjumpainya langsung menyapa:

? ? ? ? ?

Artinya, “Selamat wahai orang yang karenanya aku telah diberi peringatan oleh Tuhanku.”

Semakin jelas, melihat sababun nuzul Surat ‘Abasa, Islam sangat memperhatikan penyandang disabilitas, menerimanya secara setara sebagaimana manusia lainnya dan bahkan memprioitaskannya.

3. Hadits Abu Dawud

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. (? ? ?)  

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh seseorang niscaya punya suatu derajat di sisi Allah yang tidak akan dicapainya dengan amal, sampai ia diuji dengan cobaan di badannya, lalu dengan ujian itu ia mencapai derajat tersebut,’” (HR Abu Dawud).

Hadits ini memberi pemahaman bahwa di balik keterbatasan fisik (disabilitas) terdapat derajat yang mulia di sisi Allah ta’ala.

4. Pendapat Imam Al-Qurthubi

Berkaitan perintah shalat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 43, pemuka ulama ahli tafsir asal Cordova Spanyol, Imam Al-Qurthubi (wafat 671 H/1273 M), menyatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.  

Artinya “Tunanetra, orang pincang, orang lumpuh, orang yang terputus tangannya, orang yang dikebiri, dan hamba sahaya tidak mengapa menjadi imam shalat bila masing-masing dari mereka mengetahui tatacara shalat.”

Imam Al-Qurtubi dan para ulama lainnya tidak mempermasalahkan disabilitas. Menurutnya, penyandang disabilitas  semisal tunanetra, tunadaksa dan lainnya boleh-boleh saja menjadi imam shalat asalkan mengetahui tatacaranya. Hal ini meniscayakan pengakuan Islam atas peran para penyandang disabilitas dalam kehidupan sosial kemasyarakatan bahkan dalam peribadahan.

5. Pendapat Imam Ar-Ramli As-Shaghir

Ketika menjelaskan syarat mahram yang menemani wanita saat bepergian Imam Ar-Ramli As-Shaghir (919-1004 H/1513-1596 M), mufti Syafi’i negeri Mesir pada masanya ini menyatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pengajuan syarat mampu melihat bagi mahram yang menemani wanita saat berpergian oleh Al-‘Abbadi diarahkan dalam konteks orang yang tidak mempunyai kecakapan. Di luar konteks itu, maka banyak tunanetra yang lebih mengetahui berbagai permasalahan dan lebih mampu menolak kesalahpahaman dan praduga daripada orang-orang yang bisa melihat.”

Pendapat ulama ini terang-terangan mengakui dan mengapresiasi peran penyandang disabilitas dalam menjaga kehormatan dan keselamatan para mahram atau keluarganya.

C. Implementasi Keberpihakan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas

Pandangan Islam sebagaimana uraian di atas menegaskan semangat keberpihakan Islam terhadap penyandang disabilitas. Implementasi keberpihakan Islam terhadap penyandang disabilitas dilakukan dengan beberapa hal sebagai berikut:

1. Mengarusutamakan pemahaman bahwa Islam memandang penyandang disabilitas setara dengan manusia lainnya.

2. Mendorong penyandang disabilitas untuk mensyukuri segala kondisi dirinya sebagai berkah dari Allah SWT.

3. Mendorong penyandang disabilitas untuk bersikap optimis, mandiri dan mengoptimalkan segala potensinya untuk hidup dan berperan secara lebih luas di tengah kehidupan masyarakat sebagaimana umumnya.

4. Mendorong penyadang disabilitas untuk memperjuangkan hak-hak asasinya: baik hak di bidang pendidikan, sosial, hukum, politik, ekonomi, maupun hak-hak lainnya.

5. Menentang segala sikap dan perlakuan diskriminatif terhadap penyandang disabilitas baik yang dilakukan oleh individu, masyarakat maupun lembaga.

6. Mendukung advokasi terhadap penyandang disabilitas oleh masyarakat, pemerintah, organisasi-organisasi lainnya.

*) Penulis adalah Wakil Sekretaris LBM PWNU Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Berita, Olahraga Kawit An Nur Slawi