Kamis, 30 Juni 2016

Habib Umar Muthohar: Fisik dan Pakaian Nabi SAW Tidak Wajib Ditiru, Tetapi Akhlak

Brebes, Kawit An Nur Slawi - Kondisi fisik Nabi Muhammad SAW tidak wajib ditiru karena menjadi hak prerogratif Allah SWT dalam menciptakan bentuk manusia. Yang wajib ditiru adalah akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari manusia karena akan membawa keselamatan dunia dan akhirat.

“Allah yang membentuk fisik manusia, termasuk fisik Nabi Muhammad dan tidak wajib ditiru bentuk fisiknya,” demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Madinah, Gunungpati, Semarang, Habib Umar Al-Muthohar saat mengisi pengajian akbar Maulid Nabi Muhammad SAW di SMA Negeri 1 Brebes, Jumat (17/11) malam.

Habib Umar Muthohar: Fisik dan Pakaian Nabi SAW Tidak Wajib Ditiru, Tetapi Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Umar Muthohar: Fisik dan Pakaian Nabi SAW Tidak Wajib Ditiru, Tetapi Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Umar Muthohar: Fisik dan Pakaian Nabi SAW Tidak Wajib Ditiru, Tetapi Akhlak

Sebagai umat Nabi, lanjutnya, tidak harus menyesuaikan bentuk fisik Nabi seperti berhidung mancung, ganteng, ataupun berjubah dalam berpakaian. Yang wajib ditiru adalah meneladani perilaku dan akhlak Nabi karena dia satu-satunya teladan umat manusia.

Kawit An Nur Slawi

Pribadi Nabi, lanjut Habib, sudah ditempa sejak masih kecil berupa pengasuhan oleh Halimatus Sa‘diyah. Dalam artian, Nabi SAW sudah mondok sejak masih kecil. Diri Nabi juga memiliki keistimewaan berupa sifat jujur yang menjadi mata uang dan berlaku di mana-mana.

Allah SWT memberikan contoh berupa manusia yakni Nabi Muhammad agar bisa ditiru oleh manusia. “Kuasa Allah dengan menurunkan manusia sebagai Nabi, bukan malaikat ataupun setan agar bisa diterima dan ditiru oleh manusia,” tegasnya.

Jadi manusia bisa meniru akhlak Nabi, lanjutnya, karena Nabi berupa manusia yang berakhlakul kharimah.

Kawit An Nur Slawi

Habib Umar menjelaskan, perjalanan hidup Nabi juga selalu dibimbing Allah SWT. Pada tahapan Muhammad sebelum menjadi nabi, dia diberi kelebihan oleh Allah berupa ilmu, iman, dan akhlaqul karimah sehingga ketika menjadi pemimpin, Nabi sudah memiliki ilmu, iman, dan akhlak yang mulia.

“Nabi telah mendapat legitimasi sebagai orang yang paling jujur dengan gelar Al-Amin,” ungkapnya.

Untuk mencapai kesuksesan, sambungnya, ia mengutamakan kejujuran. Dengan jujur, maka ia akan sukses. Nabi berdagang dengan jujur, maka dagangannya laris luar biasa.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengajak para siswa untuk melakukan shalat tahajud dan shalat dhuha secara rutin. Bersekolah itu, tidak hanya menuntut ilmu yang diajarkan dari guru saja, tetapi harus meminta pertolongan Allah SWT dengan rajin beribadah, membantu orang tua, dan sayang kepada guru dan teman-teman.

Kepala SMA N 1 Brebes Winaryo mengaku bangga dengan kreativitas OSIS yang menggelar pengajian akbar dalam rangka menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pengajian akbar yang baru kali digelar untuk masyarakat umum itu akan diteruskan setiap tahun dengan menggandeng masyarakat sekitar.

Pengajian ini juga menggandeng sekolah-sekolah di Brebes untuk berpartisipasi dalam parade hadrah. “Ternyata seluruh SMP/MTs dan SMA/SMK/MA di Kota Brebes memiliki grup hadrah,” pungkas Winaryo. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ahlussunnah, Kiai Kawit An Nur Slawi

Rabu, 22 Juni 2016

Kader PMII Harus Tingkatkan Kapasitas untuk Jawab Tantangan Zaman

Sidoarjo, Kawit An Nur Slawi. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ? harus mempunyai sikap intelektual tinggi, mampu dan tanggap dengan keadaan sekitar serta dapat mengimplementasikan ilmu untuk menjawab tantangan zaman.

Kader PMII Harus Tingkatkan Kapasitas untuk Jawab Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Harus Tingkatkan Kapasitas untuk Jawab Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Harus Tingkatkan Kapasitas untuk Jawab Tantangan Zaman

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Komisariat Lintang Songo Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sidoarjo, M Zakariya Dimas saat pelaksanaan Pelatihan Kader Dasar (PKD) perdana yang diadakan oleh PMII Lintang Songo UNU Sidoarjo di kampus setempat, Jumat-Sabtu (5-7/8).

"Sebagai agen perubahan harus bisa menguatkan kapasitas diri kita masing-masing untuk bisa menjawab suatu tatangan zaman. Untuk itu, intelektual harus segera dibangun," kata Dimas.

Senada juga diucapkan oleh Ketua PC PMII Sidoarjo, M Mahmuda, kader PMII diharapkan mampu menerapkan dan mengaplikasikan suatu pemikiran yang transformatif dan bisa mengetahui karakter diri sendiri.

"Setelah ini kalian semua harus mampu mengungkapkan makna dibalik tema Kader Ulul Albab Menjawab Tantangan Zaman yang menjadi tema dalam PKD ini. Tak hanya itu saja, sahabat harus mampu menumbuhkan solidaritas antar semua kader, mempersiapkan sosok fasilitator yang siap diterjunkan untuk pendampingan kader," tegas Mahmuda.

Kawit An Nur Slawi

Pelatihan Kader Dasar (PKD) perdana yang digelar oleh PMII Lintang Songo UNU Sidoarjo ini juga diikuti beberapa kader PMII di Jawa Timur diantaranya, PMII Unsuri Sidoarjo, PMII UNU Surabaya, PMII Unitomo Surabaya, PMII Matahari Terbit Unmuh Gresik, PMII Bongkar Blitar dan PMII Insuri Bojonegoro. Selain dari Jawa Timur, hadir juga kader PMII dari Unswagati Cirebon Jawa Barat, dan PMII IAI BBC Cirebon.

Para kader PMII ini juga melakukan simulasi aksi yang digelar di sekitar halaman UNU Sidoarjo. Mereka juga mendapatkan beberapa materi diantaranya paradigma PMII, Aswaja sebagai manhajul fikr dan manhajul harakah, analisis sosial, analisis wacana dan media, advokasi, manajemen aksi, agitasi, hegemoni dan propagandatelah tercantum pada kurikulum kegiatan PKD. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Tegal, Cerita Kawit An Nur Slawi

Senin, 13 Juni 2016

UNU Sidoarjo Luncurkan Produk Olahan Kerang

Sidoarjo, Kawit An Nur Slawi. Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sidoarjo meluncurkan produk hasil program hibah bina desa (PHBD) di Desa Bluru Kidul, Sidoarjo, Jawa Timur. Peluncuran produk ini untuk mengenalkan olahan kerang yang disulap menjadi krupuk kerang dan bakso kewer (kerang dower), sebagai olahan makanan khas baru di Sidoarjo.

UNU Sidoarjo Luncurkan Produk Olahan Kerang (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Sidoarjo Luncurkan Produk Olahan Kerang (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Sidoarjo Luncurkan Produk Olahan Kerang

Ketua tim PHBD UNU Sidoarjo, Zakaria Dimas menegaskan, sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, khususnya warga Desa Bluru Kidul, pihaknya ingin meningkatkan potensi ekonomi warga setempat.

"Desa Bluru Kidul mempunyai potensi ekonomi kreatif yang besar, khususnya di bidang pengelolaan kerang. Apalagi warga setempat mayoritas penduduk yang mata pencahariannya adalah nelayan," kata Dimas, Jumat (14/12) malam.

Tak hanya itu, lanjut Dimas, sesuai dengan Tri Darma Perguruan Tinggi, mahasiswa harus berada di tengah-tengah masyarakat untuk mendukung dan meningkatkan segala kegiatan atau potensi warga tersebut.

Peluncuran produk tersebut dihadiri sekitar 400 peserta, terdiri dari elemen masyarakat Bluru Kidul dan mahasiswa UNU Sidoarjo. Peluncuran itu bermula, saat tim PHBD UNU Sidoarjo mengikuti program Kementerian dan mampu menggeser 4000 kampus se-Indonesia.

Kawit An Nur Slawi

Mantam Kepala Desa Bluru Kidul Tri Prasetyo menyatakan, produk kreatifivitas dari mahasiswa UNU Sidoarjo bisa menjadi daya tarik pengembangan ekonomi desa, khususnya para nelayan.

"Kami berharap dari program pengembangan desa ini, olahan dengan bahan dasar kerang bisa menjadi icon produk Desa Bluru Kidul yang mampu bersaing di pasaran untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tutupnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Quote, Jadwal Kajian Kawit An Nur Slawi

Kamis, 09 Juni 2016

Aswaja Center NU Jabar Gelar Diskusi Keaswajaan

Bandung, Kawit An Nur Slawi. Aswaja Center Nahdatul Ulama (NU) Jawa Barat melaksanakan kegiatan diskusi tentang “Ahlisunnah wal Jamaah sebagai Benteng Aqidah Islamiyah” yang bertempat di Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat, Rabu (7/5). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pimpinan Lembaga Aswaja Center NU, Lajnah dan Banom NU Jawa Barat, di antaranya IPPNU, IPNU, Pergunu, Pagarnusa, Lesbumi, Lazisnu, LPBI NU, LDNU, dan Lapeksdam.

Kegiatan diskusi diawali dengan tawasul yang dilanjutkan dengan bahtsul kutub Sirrol Asrol dengan ? Narasumber H Dasuki dan diskusi tentang Aswaja oleh Dr. Ramdan Fawzi yang merupakan Presedir Aswaja Center NU Jawa Barat.

Menurut Dasuki dalam pemaparannya tentang kitab yang dikaji, menurutnya Kitab Sirrul Asror bukan hanya memuat tentang amaliah-amalian ibadah namun juga memuat tentang ilmu filsafat. "Dalam Kitab Sirrul Asror dijelaskan bahwa pertama kali Allah SWT menciptakan ruh, nur, qolam, dan akal yang menjadi hakikat Nabi Muhammad SAW,” tutur pria yang akrab dipanggil Ki Dasuki itu.

Aswaja Center NU Jabar Gelar Diskusi Keaswajaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Center NU Jabar Gelar Diskusi Keaswajaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Center NU Jabar Gelar Diskusi Keaswajaan

Sementara itu, dalam penjelasan tentang Aswaja, Ramdan Fawzi juga menerangkan tentang kepasrahan dan kebahagiaan, menurutnya tujuan manusia hidup adalah mencari, mendapatkan dan merasakan kebahagiaan. “Sumber kebahagiaan itu dari Allah karena Allah lah yang menciptakan kebahagiaan," terang Ramdan.

Peserta diskusi nampak antusias mengikuti kegiatan, kedepan dengan pelaksanaan diskusi ini diharapkan Aswaja Center bisa menjadi tempat berkumpul dan berkarya generasi muda NU lintas Lembaga, Lajnah, Banom dan non struktural. (Awis Saefulah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Ubudiyah, Kajian, Nahdlatul Kawit An Nur Slawi

Ketika Imam al-Mawardi Membela Imam Muzani dari "Haters"

Imam al-Muzani (175-264 H) merupakan santri langsung dari Imam Al-Syafii. Imam Syafii menyebutnya sebagai "pembela mazhabku". Beliau menuliskan kitab Mukhtashar yang tersebar luas sebagai panduan ringkas memahami mazhab Syafii. Setelah menulis Bismillahirrahmanirrahim, Imam Muzani memulai kitabnya dengan kalimat

? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ?

Ketika Imam al-Mawardi Membela Imam Muzani dari Haters (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Imam al-Mawardi Membela Imam Muzani dari Haters (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Imam al-Mawardi Membela Imam Muzani dari "Haters"

Kalimat di atas bermakna penegasan bahwa apa yang dia tulis dalam satu jilid kitab ini hanyalah merupakan ringkasan dari apa yang beliau pelajari dari Imam Syafii.

Ini adalah tawadhu seorang santri kepada sang kiai.

Kawit An Nur Slawi

Seratus tahun kemudian, seorang ulama terkenal dari Mazhab Syafii yang bernama al-Mawardi (362-448 H) menulis kitab al-Hawi al-Kabir berisikan 20 jilid yang memberi syarh (penjelasan) atas kitab Mukhtashar Muzani. Imam al-Mawardi ini seorang Ketua Mahkamah Agung yang menulis kitab tafsir al-Nukat wa al-Uyun dan tentu saja yang sangat terkenal yaitu kitab al-Ahkam al-Sulthaniyah.

Kawit An Nur Slawi

Imam al-Mawardi memulai kitab al-Hawi al-Kabir dengan menuliskan lafaz basmalah, kemudian doa "Allahumma yassir wa ain Ya Karim" kemudian mengucapkan hamdalah. Setelah itu beliau mencantumkan pembelaan dari mereka yang menyerang Imam Muzani. Apa pasal?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? -? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Rupanya menurut para "haters" --meminjam istilah yang tren di medsos saat ini-- mengapa Imam Muzani tidak memulai kitab Mukhtashar dengan kalimat hamdalah padahal menurut satu riwayat Hadis Nabi dari Auzai: "semua perkerjaan penting yang tidak dimulai dengan Alhamdulillah akan terputus (dari rahmat Allah)."

Sisi tawadhu Imam Muzani dalam kalimat pembuka kitabnya justru dipersoalkan. "Haters" telah memelintirnya dengan menganggap kitab ini tidak barakah. Ketimbang mengulas isi kitabnya, mereka malah menyerang kalimat pembukanya. Di sinilah Imam al-Mawardi membela Imam al-Muzani dengan memberikan lima jawaban.

Pertama, kalau pertanyaan kepada Imam Muzani itu merupakan pekerjaan penting, mengapa pula yang bertanya tidak memulainya dengan hamdalah, dan kalau tidak penting mengapa pula harus dibahas?!

Kedua, meninggalkan hamdalah itu keliru, tapi Imam Muzani tidak keliru karena beliau hanya tidak menuliskan lafaznya saja di awal kitab, bukan berarti meninggalkan puji-pujian kepada Allah sama sekali. Imam Muzani bahkan shalat dua rakaat setiap selesai menulis satu bab --indikasi Imam Muzani tidak melupakan koneksi dengan Allah.

Ketiga, lafaz hamdalah tidak ditulis di awal kitab, tetapi tetap ditulis oleh Imam Muzani dalam bagian lain kitabnya. Beliau menulis: "Alhamdulillahilladzi la syarika lahu, alladzi huwa kama washafa wa fawqa ma yasfihu bihi khalquh...."

Keempat, menurut Imam al-Mawardi yang dimaksud mengucapkan hamdalah itu intinya adalah mengingat Allah, dan ini sudah terwakili oleh Imam Muzani ketika memulai kitabnya dengan Bismillahirrahmanirrahim.

Kelima, konteks Hadis memulai dengan hamdalah itu adalah saat berkhutbah, bukan menulis kitab. Kalau diartikan harus memulai dengan hamdalah di semua hal maka menurut Imam Mawardi wahyu pertama yang Nabi Muhammad terima saja ayat Iqra bukan dimulai dengan hamdalah. Apa mungkin kemudian antara ucapan dan perbuatan Nabi saling bertentangan dan apa berani kita mengatakan al-Quran itu terputus dari rahmat Allah karena ayat pertamanya bukan diawali dengan hamdalah? Dan lagipula kalau benar yang tidak memulai hamdalah pada kitabnya akan terputus dari rahmatNya, nyatanya kitab yang ditulis Imam Muzani ini sangat terkenal dan bermanfaat dibanding yang lainnya.

Demikian pembelaan Imam al-Mawardi. Saya hendak menambahi bahwa serangan semacam itu bukan hanya dialami Imam Muzani tapi juga dialami oleh Imam Bukhari. Dalam Kitab Fathul Bari yang men-syarh kitab Shahih Bukhari dikupas bagaimana Imam Bukhari yang memulai kitabnya dengan menulis Bismillahirrahmanirrahim mendapat serangan dari pihak lain. Mereka mempersoalkan kenapa tidak memulainya dengan hamdalah. Ibn Hajar kemudian memberikan pembelaannya terhadap Imam Bukhari.

Kembali kepada serangan terhadap Imam Muzani, pertanyaannya siapa sih yang mengkritik beliau soal hamdalah ini? Imam Mawardi menyebut beberapa nama di antaranya al-Nahrumani dan al-Maghribi. Jelas ini hanya nickname bukan nama lengkap. Jadi siapa para "haters" itu? Mungkin pada masa Imam al-Mawardi kedua panggilan ini sudah mafhum diketahui. Tapi kita yang hidup 900 tahun kemudian tentu bertanya-tanya.

Pelacakan saya untuk al-Nahrumani itu boleh jadi nama lengkapnya Najmuddin Muhammad al-Shalihi al-Nahrumani, yang merupakan Ulama mazhab Hanbali. Bagaimana dengan al-Maghribi? Kemusykilannya biasanya kitab-kitab mazhab Syafii menyebut al-Maghribi itu kepada Ibn Hazm al-Andalusi dari mazhab Zhahiri. Ada kemungkinan yang dimaksud al-Maghribi dalam kitab al-Mawardi ini adalah al-Husain bin Ali bin al-Husain al-Wazir Abul Qasim yang wafat tahun 418 H sebelum masanya al-Mawardi. Benar atau tidaknya, ya meneketehe lah hehe...

Nah, pelajaran penting: dunia pengetahuan hanya akan mengenang mereka yang berkarya. Para "haters" yang biasanya hanya mengkritik dan tidak melahirkan karya penting dan berkualitas mereka akan dilupakan sejarah. Ratusan tahun kemudian anak cucu kita akan kesulitan melacak siapa mereka. Karena itu jangan hiraukan "haters", teruslah kita produktif berkarya dan sejarah akan mencatat karya dan pengabdian kita. Insya Allah!

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pondok Pesantren Kawit An Nur Slawi

Selasa, 07 Juni 2016

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mendoakan mereka yang masih lajang pada tahun ini agar mendapatkan jodoh pada 2017.

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh

"Teman-teman semua selamat tahun baru, sukses semuanya. Yang belum ada jodoh mudah-mudahan cepat dapat jodoh," ujar Mensos di Jakarta, Sabtu.

Doa Mensos tersebut disambut ucapan amin yang riuh dari awak media yang tengah meliput kunjungan Mensos menjenguk korban selamat dari peristiwa penyekapan Pulomas di RS Kartika Pulomas.

Mensos juga mendoakan bagi mereka yang belum mendapatkan keturunan agar segera mendapatkan anak.

"Pokoknya bahagia, sukses semua. Terima kasih," ucap Mensos.

Kawit An Nur Slawi

Mensos direncanakan akan memberikan ceramah pada kegiatan Dzikir Nasional yang digelar harian Republika di Masjid At Tin, TMII, Jakarta Timur.

Kemudian, Mensos akan menghabiskan malam pergantian tahun di kampung halamannya di Jawa Timur. (Antara/Mukafi Niam)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nahdlatul Ulama, Habib Kawit An Nur Slawi

Jumat, 03 Juni 2016

Ikrar Santri Perteguh Komitmen Jaga Ideologi Bangsa dan NKRI

Kudus, Kawit An Nur Slawi. Kedatangan rombongan Kirab Hari Santri Nasional dan Resolusi Jihad di Kudus Senin (19/10) malam bukan hanya sekedar ziarah ke makam KHR Asnawi di Komplek Makam Menara Kudus. Di depan makam pendiri NU itu, mereka juga mengucapkan lima poin ikrar santri sebagai wujud meneguhkan komitmen menjaga dan mempertahankan ideologi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketua PBNU H Aizuddin Abdurrahman memimpin pengucapan Ikrar Santri Indonesia yang diikuti semua rombongan dan warga NU Kudus. Diawali pembacaan dua syahadat, mereka menyatakan siap ? berpegang teguh pada aqidah ajaran, nilai dan tradisi Islam Aswaja.

"Sebagai santri Negara Kesatuan Republik Indonesia, bertanah air satu, tanah air Indonesia, berideologi Pancasila, berkonstitusi satu, Undang-Undang Dasar 1945, berkebudayaan satu, kebudayaan Bhinneka Tuggal Ika," ucapnya diikuti semua anggota rombongan.

Ikrar Santri Perteguh Komitmen Jaga Ideologi Bangsa dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikrar Santri Perteguh Komitmen Jaga Ideologi Bangsa dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikrar Santri Perteguh Komitmen Jaga Ideologi Bangsa dan NKRI

Berikut secara keseluruhan teks Ikrar Santri Indonesia yang dibacakan oleh Ketua PBNU H Aizuddin Abdurrahman:

Ikrar Santri Indonesia

Kawit An Nur Slawi

Bismillahirrahmanirrahim,? Asyhadu allaa Ilaaha Illallah, Wasyhadu anna Muhammadar Rasulullah

Kawit An Nur Slawi

Kami santri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), berikrar :

1. Sebagai santri NKRI, berpegang teguh pada aqidah ajaran ? nilai dan tradisi islam Ahlussunnah wal Jamaah.

2. Sebagai santri NKRI, bertanah air satu, ? tanah air Indonesia, berideologi negara satu, ? ideologi Pancasila, berkonstitusi satu, UUD 1945, berkebudayaan satu, kebudayaan Bhinneka Tunggal Ika.

3. Sebagai santri NKRI, selalu bersedia dan siap siaga menyerahkan jiwa dan ? raga membela tanah air dan bangsa Indonesia, mempertahankan persatuan dan kesatuan nasional serta mewujudkan perdamaian abadi.

4. Sebagai santri NKRI, berperan aktif dalam pembangunan nasional, mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin untuk seluruh rakyat Idonesia yang berkeadilan

5. Sebagai santri NKRI, pantang menyerah, pantang putus asa serta siap berdiri di depan melawan pihak-pihak yang akan merongrong Pancasila, UUD 1945, NKRI dan ? Bhineka Tunggal ika, serta konstitusi dasar lainnya ? yang bertentangan dengan semangat proklamasi kemerdekaan dan resolusi jihad Nahdlatul Ulama. (Qomarul Adib/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Lomba, Ubudiyah, RMI NU Kawit An Nur Slawi