Jumat, 02 Desember 2011

PBNU Tak Calonkan Kadernya dalam Perombakan Kabinet

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menegaskan, pihaknya tidak ikut-ikutan untuk mencalonkan sejumlah kadernya untuk duduk dalam kabinet yang sebentar lagi akan dirombak (di-reshuffle) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“NU berpolitik, ya, tapi politik keummatan, ke-Islam-an, dan politik kebangsaan, bukan politik kekuasaan. Maka, seluruh masalah bangsa kita ikut bicara, tapi kalau ditanya reshuffle, saya bilang tidak punya calon, ini kan bagiannya partai politik, wong mereka saja nggak kebagian, apalagi NU,” tuturnya dalam pembukaan Rakernas Fatayat NU, Kamis (3/5) malam.

Sementara itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membantah dirinya mendapat tekanan soal keputusan  dalam melakukan "reshuffle" Kabinet Indonesia Bersatu dalam waktu dekat ini.

PBNU Tak Calonkan Kadernya dalam Perombakan Kabinet (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Tak Calonkan Kadernya dalam Perombakan Kabinet (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Tak Calonkan Kadernya dalam Perombakan Kabinet

"Sejauh ini berjalan dengan baik ya... dan yang disebutkan tekanan-tekanan dari pihak-pihak tertentu itu tidak ada," kata Presiden kepada wartawan, usai menunaikan shalat Jumat, di Masjid Kompleks Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat.    

Presiden mengakui dalam menentukan "reshuffle",  dirinya melakukan komunikasi dengan Wapres Jusuf Kalla, dan termasuk dengan tiga menteri koordinator. "Sekali lagi, secara proporsional saya juga meminta pertimbangan dan pendapat beliau-beliau. Namun tentu saja keputusan akhir pada saya," ujarnya.

Kawit An Nur Slawi

Ia menuturkan, dirinya banyak mendengar apa saja yang berkembang di luar, baik di media massa maupun di luar media massa soal "reshuffle". Untuk itu Presiden berpesan, agar analisis, telaah dan spekulasi itu pada tingkat yang wajar.

"Saya mohon pada siapa pun, kepada tokoh-tokoh yang namanya disebut, sekali lagi itu hanya analisis, telaahan atau perkiraan dari pihak-pihak yang peduli pada masalah ini," katanya.

Presiden menjelaskan, sesungguhnya mereka atau pihak-pihak tersebut memahami bahwa "reshuffle" itu adalah hak prerogatif Presiden. "Jadi saya berharap itulah yang terjadi. Jangan sampai ada paradoks, di satu sisi mereka mengatakan ini sepenuhnya prerogatif Presiden, tetapi ada langkah-langkah lain yang diluar pemahaman itu," ujar Presiden. (mkf/ant)



Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nahdlatul, Sejarah, Pemurnian Aqidah Kawit An Nur Slawi

Minggu, 13 November 2011

15 Pesantren di Madura Akan Berlaga pada LSN Jatim IV

Bangkalan, Kawit An Nur Slawi - Panitia Liga Santri Nusantara (LSN) 2016 Regional Jatim IV menyelesaikan semua tahapan persiapan liga. Mereka kemudian melangsungkan liga sepakbola antarpesantren ini sejak Ahad, (28/8). Sebanyak 15 pesantren di Madura ini akan bertanding selama sepekan ke depan.

Menurut Koordinator LSN 2016 Regional Jatim IV Ra Sani, pesantren yang berpartisipasi dalam liga ini sejatinya meliputi empat kabupaten di Madura. Namun, hingga batas akhir pendaftaran hanya 15 pesantren di Bangkalan yang bisa berpartisipasi.

15 Pesantren di Madura Akan Berlaga pada LSN Jatim IV (Sumber Gambar : Nu Online)
15 Pesantren di Madura Akan Berlaga pada LSN Jatim IV (Sumber Gambar : Nu Online)

15 Pesantren di Madura Akan Berlaga pada LSN Jatim IV

“LSN 2016 bukan semata-mata adu keterampilan antara pemain yang terlibat, namun lebih dari itu adalah merupakan media untuk menanamkan rasa persaudaraan, silaturahmi, kebersamaan, kejujuran, dan sportifitas,” jelas Ra Sani yang juga Ketua GP Ansor Bangkalan.

Kawit An Nur Slawi

Sementara Wakil Bupati Bangkalan H Mondir Rofii membuka secara resmi gelaran acara hasil kerja sama Kemenpora dan PBNU ini. Ia berharap dari proses kompetisi ini lahir bibit-bibit sepakbola dari kalangan pesantren.

Kawit An Nur Slawi

“Selain melahirkan bibit pesepakbola usia dini, dari gelaran kompetisi ini juga dapat ditanamkan nilai-nilai kejujuran dan sportifitas,” kata Ra Mondir.

Upacara pembukaan LSN Jatim IV berlangsung di alun-alun utara Bangkalan yang ditandai dengan tendangan kehormatan oleh Koordinator Regional. Wakil Bupati, Dandim 0329 Bangkalan, Waka Polrest Bangkalan, PCNU Bangkalan, dan Koordinator Regional ini melakukan penandatanganan komitmen pembinaan sepakbola kalangan pesantren di atas bola masing-masing. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hadits, Kajian Kawit An Nur Slawi

Jumat, 04 November 2011

Anre Gurutta Sanusi Baco: Gus Dur Pernah Sakit Cinta yang Tak Pernah Sembuh

Jakarta, Kawit An Nur Slawi - Sudah mafhum bahwa Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah sahabat KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. Sebagai sahabat Gus Dur, Gus Mus berkali-kali mengungkapkan di hadapan publik tentang kedekatannya dengan pria yang menjadi presiden ke-4 Republik Indonesia ini.

Namun, tulisan ini bukan ingin mengangkat sosok Gus Dur dari Gus Mus, atau tentang kedekatan keduanya, melainkan dari sahabat Gus Dur yang lain, yang juga pernah bersama-sama mengenyam pendidikan di Mesir, yaitu Anre Gurutta Haji Sanusi Baco.

Anre Gurutta Sanusi Baco: Gus Dur Pernah Sakit Cinta yang Tak Pernah Sembuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Anre Gurutta Sanusi Baco: Gus Dur Pernah Sakit Cinta yang Tak Pernah Sembuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Anre Gurutta Sanusi Baco: Gus Dur Pernah Sakit Cinta yang Tak Pernah Sembuh

Pada acara Sewindu Haul Gus Dur di Jalan Warung Silah Nomor 10, Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat (22/12), Anre Gurutta Sanusi Baco hadir dan menjadi satu dari dua kiai yang didaulat untuk mengisi taushiyah.

Di sela-sela taushiyah, Anre Gurutta yang juga menjadi Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membeberkan rahasia Gus Dur saat keduanya bersama-sama belajar di Mesir.

Kawit An Nur Slawi

Pada waktu di Mesir, mereka berdua tinggal pada asrama yang sama dan kamar keduanya berdekatan. Jarak kamar keduanya yang tidak jauh itulah memungkinkan satu sama lain mengetahui aktivitasnya, termasuk saat Anre Gurutta Sanusi memergoki Gus Dur yang sedang membuka-buka catatan di kamar.

Kawit An Nur Slawi

Menurut Anre Gurutta Sanusi, di antara catatan tersebut terdapat foto seorang perempuan yang di kemudian hari menjadi teman hidupnya, Nyai Sinta Nuriyah Wahid.

"Tadinya dia mau disembunyikan (foto), tapi saya lebih dulu melihat," kata Anre Gurutta Sanusi, yang disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Anre Gurutta Sanusi pun merasa penasaran dengan foto yang dilihatnya. "Ini foto apa Gus Dur," tanya Gurutta Sanusi Baco.

"Tau lah. Calonku," jawab Gus Dur.

"Bagaimana bisa belajar kalau ada itu foto terus," kembali Gurutta Baco menyergah dengan logat timurnya.

"Malah ini yang mendorong saya belajar," jelas Gus Dur. Hadirin pun kembali dibuat tertawa dan tepuk tangan.

Foto Nyai Sinta Nuriyah Wahid pun disimpan Gus Dur sampai pulang ke Indonesia. Gus Dur, kata Kiai Sanusi Baco, mencintainya sampai akhir hayat.

"Gus Dur pernah sakit cinta dan tidak pernah sembuh sampai akhir hayat," katanya diikuti tepuk tangan hadirin. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nusantara Kawit An Nur Slawi

Rabu, 28 September 2011

Pentingnya Penulisan Ensiklopedi Pemikiran Politik Ulama Nusantara

Jakarta, Kawit An Nur Slawi?

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Karakter dan sikap keberagamaan umat lslam di republik ini juga berbeda dengan muslim di wilayah lain. Misalnya, kawasan Timur Tengah, Asia Selatan atau Afrika, yang kesemuanya masih kalah dalam jumlah.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi ‘Pemetaan Pemikiran Politik Ulama Nusantara’ yang diinisiasi Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Balitbang Diklat Kemenag RI di Hotel Sofyan Betawi, Jl Cut Meutia No 9 Menteng Jakarta, Selasa (6/6).

Pentingnya Penulisan Ensiklopedi Pemikiran Politik Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Penulisan Ensiklopedi Pemikiran Politik Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Penulisan Ensiklopedi Pemikiran Politik Ulama Nusantara

Kepala Puslitbang Lektur, Choirul Fuad Yusuf, dalam arahannya menyatakan pentingnya penulisan Ensiklopedi Pemikiran Politik Ulama Nusantara. Pasalnya, meski dengan jumlah penduduk muslim mayoritas, Indonesia tidak menjadi negara Islam atau menjadikan Islam sebagai dasar negara.

“Tetapi justru Pancasila sebagai hasil renungan dan refleksinya. Keputusan bangsa ini tentu bukan berarti tak memiliki pijakan historis dan dialektis tentang pemikiran politik, khususnya politik kenegaraan. Tetapi justru melalui pergumulan pemikiran yang terus berlangsung hingga hari ini,” ujar Fuad.

Adik kandung tokoh NU Slamet Effendi Yusuf ini menambahkan, dalam pemikiran politik kenegaraan, bahkan terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka. Pemikiran politik kenegaraan mulai Wali Songo di Jawa hingga Tuanku Imam Bonjol di Sumatera membuktikan bahwa Nusantara tak kosong dari pergumulan pemikiran seperti juga terjadi di negara lain.

Kawit An Nur Slawi

“Pada awal kemerdekaan, para pemikir politik kenegaraan seperti Cokro Aminoto, Bung Karno, Bung Hatta, Hadratussyekh KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim, telah menghiasi pergumulan tersebut. Lalu KH Achmad Shiddiq dan Gus Dur hingga yang paling modern seperti digagas Cak Nur. Kesemuanya diwarnai politik Islam. Inilah alasan wajib penulisan ensiklopedi ini,” paparnya.

Diskusi yang dimoderatori Nurman Kholis ini menghadirkan para akademisi dari berbagai kampus. Dekan FISIP UIN Jakarta, Prof Dr Dzulkifli, yang didaulat sebagai narasumber memberi catatan bahwa Pemikiran Politik Ulama Nusantara tidak hanya menyangkut sejumlah konsep dalam teori politik Barat modern seperti pemerintahan dan negara.

“Namun menyangkut juga etika para pemimpin dan yang dipimpin. Pemikiran Politik Ulama Nusantara tidak bisa dipahami hanya semata berdasar teori politik Barat. Jadi, harus dipahami berdasarkan integrasi antara yang sakral dan profan,” ujar Dzulkifli.

Selaku koordinator kegiatan, Nurman Kholis menyebut tujuan penulisan ensiklopedi ini antara lain memperkenalkan pemikiran politik kenegaraan Ulama Nusantara secara komprehensif, menjadi sumber informatif bagi masyarakat tentang pemikiran politik kenegaraan Indonesia, dan menunjukkan kreativitas muslim Indonesia pada dunia.

Kawit An Nur Slawi

Ensiklopedi ini, kata Nurman, akan ditulis dengan entri-entri terpisah agar mudah dipahami masyarakat. Buku yang disusun berdasar entri terpilih tersebut akan disusun secara periodik, bukan alfabetis agar pembaca memahami kronologi pemikiran para ulama.

?

“Para ulama dan ahli di bidang ini akan kami undang sebagai kontributor tulisan. Kami berharap ensiklopedi ini nantinya menjadi media kajian lebih lanjut tentang pemikiran politik kenegaraan di Indonesia,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Meme Islam, Lomba, Pesantren Kawit An Nur Slawi

Senin, 26 September 2011

IPNU-IPPNU Harus Siap Jadi Tonggak Penerus Perjuangan

Rembang, Kawit An Nur Slawi

Pimpinan Cabang (PC) ? Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Kamis sore (18/2/2016) mengadakan peringatan Hari Lahir (Harlah) IPNU-IPPNU ke-62/61 di aula MA YSPIS Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang.

IPNU-IPPNU Harus Siap Jadi Tonggak Penerus Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Harus Siap Jadi Tonggak Penerus Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Harus Siap Jadi Tonggak Penerus Perjuangan

Ketua MWCNU Sedan Muhtar Nur Halim yang hadir dalam kesempatan itu mengatakan, bahwa pemuda saat ini akan menjadi penerus perjuangan para sesepuh di masa depan. "Kalau nanti pengurus MWCNU telah wafat, maka IPNU-IPPNU harus siap jadi tonggak penerus perjuangan," jelasnya.

Acara harlah sekaligus pelantikan Komisariat IPNU-IPPNU MA YSPIS Gandrirojo, Sedan, tersebut juga turut dihadiri oleh pengurus harian PC IPNU-IPPNU Kabupaten Rembang, pengurus MWCNU Sedan dan juga para tamu undangan dari beberapa sekolah sekitar.

Lebih lanjut Muhtar menceritakan diangkatnya Musailamah al-Kazzab oleh Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin pembasmian pemberontakan di Syria yang saat itu baru berusia 18 tahun.

Kawit An Nur Slawi

"Kata Nabi, saya tunjuk anakku (Musailamah al-Kazzab) untuk memimpin pembasmian pemberontakan di Syria," kutip Muhtar.

Cerita Ashabul Kahfi, tambah Muhtar, itu juga termasuk cerita tentang anak-anak muda yang gigih dalam berjuang. "Selain kita dapat mengambil hikmah dari beberapa cerita tersebut, anak-anakku juga jangan lupa tetap hormat dan berbakti kepada orang tua dan bapak/ibu guru," pungkasnya.

Kawit An Nur Slawi

Sementara itu, Ketua PC IPNU Rembang Ahmad Humam mengatakan, pihaknya mengapresiasi atas terbentuknya Komisariat MA YSPIS Gandrirojo. "Komisariat MA YSPIS Gandrirojo merupakan satu-satunya komisariat di Kabupaten Rembang yang berhasil mengubah badge OSIS menjadi IPNU-IPPNU," pungkas Humam.

Sebagai penutup acara penampilan drama kolosal dan musikalisasi puisi yang disajikan oleh para pelajar dari MA YSPIS Gandrirojo. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Olahraga, Anti Hoax Kawit An Nur Slawi

Selasa, 20 September 2011

Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija

Jember, Kawit An Nur Slawi - NU tidak cuma dakwah dengan kata-kata, tapi dakwah dengan kepedulian sosial yang nyata. Hal itu dilakukan salah satu lembaga NU, Lesbumi kepada Mbok Marija, warga Desa Karangharjo, Silo, Jember, Jawa Timur. Perempuan renta ini hidup sebatangkara, rumahnya berdinding gedek reyot dimakan usia, mendapat ularan tangan dari lembaga seni dan budaya tersebut.

Pengurus Cabang Lesbumi Jember mengirimkan bantuan berupa 1 kwintal beras dan uang 1 juta kepadanya. “Terima kasih banyak atas bantuannya,” kata Mbok Marija dengan bahasa Madura saat menerima bantuan itu, Selasa (9/8).

Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija (Sumber Gambar : Nu Online)
Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija (Sumber Gambar : Nu Online)

Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija

Bantuan tersebut diserahkan H. Fathurrosi, tokoh masyarakat Silo, didampingi Ketua PC Lesbumi Jember H. Rasyid Zakaria dan Wakil Ketua NU Cabang Jember H. Misbahus Salam. Menurut H. Fathurrosi, rumah Mbok Marija hanya salah satu contoh dari sekian banyak rumah tak layak huni yang bertebaran di pelosok desa.

Kendati pemerintah sudah lama mempunyai program bedah rumah, tapi masih cukup banyak rumah orang miskin yang tidak tersentuh program tersebut. Atau, kalaupun dapat bantuan bedah rumah, tapi yang dipermak hanyalah rumah bagian depan saja. Sedangkan badan rumahnya tidak tersentuh, meskipun? sudah lapuk.

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

“NU harus berperan, memberikan atau mencarikan sumbangan, betapapun kecilnya. Ini agar NU rahmatan? lil’alamin. Karena itu, kita ucapkan terima kasih kepada NU Jember, khususnya Lesbumi yang telah berkenan memberikan bantuan,” ucapnya.

Sementara itu, H. Misbahus Salam berharap agar bantuan tersebut dapat merangsang para aghniya’ (kaya) atau instansi untuk turut serta menyalurkan bantuan bagi wanita tersebut. Menurutnya, masalah sosial yang terkait dengan nestapa kehidupan warga miskin sejatinya cukup banyak, tapi tak pernah terekspos ke luar.

Hal tersebut, katanya, tentu tidak bisa dipasrahkan kepada pemerintah semata. Sebab, anggarannya juga terbatas. “Karena itu, semangat gotong royong harus diabangun, dan kepedulian para aghniya’ juga perlu terus didorong,” ungkapnya kepada Kawit An Nur Slawi. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Lomba Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 10 September 2011

KH Hasyim, Ulama yang Satukan Islam dan Kebangsaan

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Kiai Hasyim Asy’ari merupakan ulama yang berhasil menggabungkan antara nilai keislaman dan kebangsaan. Inilah yang mampu melahirkan Indonesia seperti yang ada saat ini dengan NU sebagai salah satu penopang utamanya dalam menjaga Islam dan kebangsaan ini.?

KH Hasyim, Ulama yang Satukan Islam dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim, Ulama yang Satukan Islam dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim, Ulama yang Satukan Islam dan Kebangsaan

“Kalau di Eropa, nasionalisme jadi ideologi. Kalau kita, ideologinya ahlusunnah wal jamaah spiritnya nasionalisme, ruhnya wathaniah, tapi ideologi kita aswaja,” kata Kiai Said Aqil Jum’at (3/7).

Ternyata rumusan tersebut sangat luar biasa dalam mewujudkan Indonesia yang damai. Di Timur Tengah ada perang saudara, sama Islamnya, sama mazhabnya tetapi mereka tidak punya komitmen nasionalisme.?

Kawit An Nur Slawi

Kiai Said menjelaskan dalam sebuah seminar di Jerman, para peserta ? pada keheranan bagaimana umat Islam di Indonesia mampu menggabungkan antara ketuhanan dan keadilan sosial. Dimata mereka, ketuhanan merupakan urusan pribadi sementara keadilan menjadi urusan masyarakat.?

Dengan konsep integrasi Islam dan kebangsaa ini, meskipun ada konflik, mampu dilokalisir dan diminimalisir sebagaimana terjadi di Madura dan Puger antara Sunni dan Syiah, tetapi relatif bisa dilokalisir dan diselesaikan relatif cepat. Di Timur Tengah sampai saat ini, konflik yang melanda Irak, Suriah, Mesir, Yaman dan lainnya sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan tak jelas kapan bisa selesai.?

Kawit An Nur Slawi

“Kalau disana, kalau sudah konflik, bisa melebar dari ujung ke ujung karena fanatisme kesukuan masih sangat tebal. Belum menyatu dalam kebangsaan. Setiap ada konflik politik, pasti ada konflik suku seperti di Yaman sekarang.”?

Ia menilai kondisi damai di Indonesia salah satunya berkat visi kebangsaan dan keislaman moderat yang dimiliki oleh NU.

“Karena kita tidak hanya tekstual hadist saja, tetapi juga menerima argumen logis. Ini hasil ijtihad kreatifitas KH Hasyim Asy’ari sebelum membangun NU dan NKRI ini.” (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Fragmen, Sejarah Kawit An Nur Slawi

Kamis, 09 Juni 2011

Kekhawatiran Al-Ghazali dan Fenomena Tertutupnya Pintu Ijtihad

Oleh Ach Khairie

Jika melihat kembali sejarah pencapaian Islam di masa silam, maka kita akan dikejutkan dengan kenyataan bahwa Islam pernah berhasil mencapai masa keemasan (golden age of Islam) selama beberapa abad. Islam, bahkan berhasil menguasai tiga benua yaitu Asia, Afrika dan Eropa di bawah kerajaan Turki Utsmani. Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan realita hari ini, di mana Islam menjadi kekuatan besar hanya dari segi kuantitas saja, sedangkan secara kualitas masih didominasi oleh agama lain.?

Sebagian umat Islam bahkan kehilangan kebanggan terhadap agama ini karena dicap sebagai agama kekerasan. Umat Islam berada dalam keadaan seperti digambarkan Nabi dalam hadisnya yang banyak dari segi jumlah namun tidak ubahnya seperti buih di genangan air (ka ghutsâi al-sayl), tidak bisa berbuat apa-apa.

Kekhawatiran Al-Ghazali dan Fenomena Tertutupnya Pintu Ijtihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Kekhawatiran Al-Ghazali dan Fenomena Tertutupnya Pintu Ijtihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Kekhawatiran Al-Ghazali dan Fenomena Tertutupnya Pintu Ijtihad

Berbicara tentang kemajuan Islam di masa lalu, tidak lebih dari sekadar "meninabobokan" jika tidak disertai kesadaran merajut kembali superioritas yang pernah diraihnya. Dengan demikian pertanyaan yang tepat bukanlah "siapa Islam di masa silam?", tetapi "bagaimana Islam di masa silam?". Pertanyaan semacam ini akan menggiring terhadap upaya revitalisasi hal yang pernah dilakukan umat Islam dahulu, seperti dari aspek keilmuan, umpamanya.

Tidak disangsikan bahwa pergesekan peradaban yang terjadi antara Islam karena hasil ekspedisi dengan peradaban lain yang lebih maju seperti Romawi, Yunani dan Persia, mau tidak mau telah membawa umat Islam terhadap kesadaran akan pentingnya pengetahuan. Umat Islam sudah tidak bisa lagi bersikap stagnan dengan hanya mempelajari ilmu lokal-dogmatik seputar tafsir, misalnya, tetapi juga mesti merambah terhadap ilmu rasional seperti filsafat yang notabene dari Yunani, guna mempertahankan eksistensinya.?

Kawit An Nur Slawi

Kesadaran akan semua itu dapat dilihat dengan upaya Harun al-Rasyid (w. 809), raja kelima Dinasti Abbasiyah dalam mendirikan Rumah Kebijaksanaan (Bayt al-Hikmah) yang berfungsi sebagai perpustakaan, lembaga penerjemahan dan pusat penelitian yang didirikan di Baghdad, Irak.

Sedemikian pentingnya ilmu filsafat ketika itu, sehingga Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111) juga belajar tentang ilmu tersebut. Tokoh yang di kalangan pesantren lebih familiar dengan gelar hujjat al-islâm ini adalah salah satu cendekiawan Muslim yang ahli dalam berbagai ilmu. Hal tersebut karena keberaniannya menyelami dalamnya ilmu yang --diakuinya sendiri-- seperti menyelami mutiara di dasar lautan, dan jika tidak mampu akan membahayakan dirinya sendiri. Al-Ghazali tidak hanya mengkomparasikan pendapat antar mazhab, tetapi lebih dari itu, ia bahkan mencari kebenaran sejati dari berbagai bidang pengetahuan tanpa terkecuali.?

Dalam pengembaraannya itulah al-Ghazali tidak saja pernah mengkritik filsuf Yunani, ia juga mengkritik filsuf Muslim, ahli kalam, talîmiyah bâthiniyyah dan para sufi yang menurutnya menjadi kelompok pencari kebenaran paling otoritatif ketika itu. Karen Armstrong, seorang pengkaji agama-agama mengatakan pada akhirnya kegelisahan intelektual al-Ghazali dalam mencari kebenaran sejati yang tak kunjung dijumpanya berujung pada kesakitan yang dialaminya dan hampir terjerumus ke dalam jurang kesesatan.

Kawit An Nur Slawi

Al-Ghazali tidak lagi menekuni filsafat, karena dirasa tidak bisa mencapai kebenaran yang dicarinya. Ia mencari kebenaran dengan ilmu tasawuf yang orientasinya tidak lagi beradasarkan indera dan rasionalitas semata, namun lebih menggunakan intuisi dalam menentukan kebenaran. Dalam beberapa literatur dikatakan bahwa di sinilah al-Ghazali menemukan jati dirinya. Ia berhasil mencapai kebenaran yang menyembuhkan kegelisahan intelektualnya ketika menekuni tentang tasawuf, dan al-Ghazali pun menjadi seorang sufi.?

Dalam karyanya, Al-Munqidz min al-Dhalâl (Penyelamat dari Kesesatan), al-Ghazali menceritakan semua pengalamannya dalam berkelana mencari kebenaran. Dan barangkali khawatir bahwa orang lain akan mengalami kejadian yang sama seperti dialaminya, dan khawatir akan ketidakmampuan mereka melewati masa-masa sulit tersebut, ia mengatakan bahwa pintu ijtihad telah ditutup. Pernyataan yang oleh kaum konservatif diterima, namun dihujat oleh kaum progresif karena pernyataan ini sama saja dengan perintah untuk bertaklid.

Meskipun demikian, penting dicatat terkait tuduhan bahwa al-Ghazali menjadi penyebab hilangnya rasionalitas dan kekritisan berpikir dalam Islam, lebih kepada tuduhan yang mengada-ada. Sementara literatur memang sering mengutip pernyataan yang disandarkan pada al-Ghazali ini, tetapi dari karya al-Ghazali sendiri terutama dalam otobiografinya, al-Munqidz min al-Dhalâl, belum ditemukan bahwa ia mengumumkan tertutupnya pintu ijtihad.

Barangkali yang menjadikannya dituduh demikian karena al-Ghazali di dalam magnum opus-nya, Ihyâ Ulûm al-Dîn, mengharamkan ilmu-ilmu rasional seperti logika, filsafat dan ilmu nujum, dan mengkafirkan filsuf Muslim sekaliber al-Farabi dan Ibn Sina. Tindakan al-Ghazali tersebut sama dengan menyatakan, meski secara implisit, bahwa pemikiran rasional tidak diperbolehkan dan karenanya pintu ijtihad sudah tertutup.

Sebenarnya, al-Ghazali tidak menghendaki hilangnya pemikiran progresif-liberal. Adalah pemahaman yang keliru jika dikatakan bahwa ia biang keladi kejumudan berpikir. Sebagaimana disinggung di awal, bahwa al-Ghazali hanya khawatir seseorang yang berusaha menyelami kedalaman ilmu juga akan mengalami kegelisahan seperti yang pernah dialaminya. Satu-satunya jalan menghindari hal tersebut adalah meniti jalan tasawuf yang intuitif.

Sebagai bagian dari tradisi pesantren, penulis memahami betul bagaimana al-Ghazali diposisikan di dalam lembaga pendidikan salaf tersebut. Ia dikenal sebagai "waliyyullâh", di mana segala perkataan serta tindakannya sudah pasti dianggap benar dan mesti diikuti. Persepsi demikian, diakui atau tidak, telah meruntuhkan kenyataan akan sisi kemanusiaan al-Ghazali di satu sisi, dan sama sekali melupakan perjuangan al-Ghazali dalam berkelana mencari kebenaran di sisi yang lain.

Demikian, hemat penulis, perbedaan penilaian terhadap al-Ghazali baik oleh berbagai kalangan, terutama kalangan pesantren, hanya melihat al-Ghazali dari wacana pemikirannya ketika sudah mencapai kebenaran dan sama sekali mengabaikan pemikirannya sebagai alat atau metode, bagaimana akhirnya ia mencapai kebenaran tersebut. Keadaan semacam ini berimplikasi terhadap konklusi bahwa rasionalitas tidak lagi dibutuhkan dalam Islam dan dianggap sebagai bidah bahkan kekafiran. Padahal, yang perlu dipahami adalah metode al-Ghazali dalam mencari kebenaran, yakni mencarinya dari titik keraguan terhadap kebenaran yang ada hingga sampai pada kebenaran yang hakiki.

Pemahaman demikian dapat dikukuhkan dari al-Ghazali sendiri ketika dalam kitabnya, Mîzan al-Amal, mengatakan, "Keraguanlah yang dapat menyampaikan pada kebenaran. Seseorang yang tidak meragukan, berarti dia tidak bernalar. Seseorang yang tidak bernalar, dia sama sekali tidak akan dapat melihat. Seseorang yang tidak dapat melihat, dia akan tetap dalam kebutaan dan kesesatan."

Masalah akan berbeda ketika kekhawatiran al-Ghazali kepada kita disalahartikan. Tidak lagi sebagai langkah antisipasi karena tidak semua orang mampu melewati proses yang sulit seperti al-Ghazali, tetapi dipahami sebagai perintah dari seorang sufi waliyyullâh yang tidak boleh dilampaui dan perkataannya dianggap sebagai "absolute truth". Padahal seandainya dipahami sebagai antisipasi al-Ghazali saja dan langkah kehatian-hatian kita dalam proses mencari kebenaran, maka barangkali Islam tidak akan mengalami kejumudan berpikir seperti hari ini, demikian pula dengan stagnansi agama juga tidak akan terjadi.

Dengan kata lain, meniru al-Ghazali, kita dapat menggunakan epistemologi keraguan dalam maksud mencapai kebenaran sejati. Tetapi jika dirasa tidak mampu maka alternatif lain ialah dengan menempuh jalan sufisme. Sementara keyakinan akan kemampuan kita untuk melewati masa kritis saat proses pencarian kebenaran, telah menggugurkan kewajiban untuk tidak berpikir progresif-liberal dan berijtihad. Ijtihad selalu terbuka karena memang tidak ada yang menutupnya.

Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata dan Mahasiswa IAT di STAIN Pamekasan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Lomba Kawit An Nur Slawi

Jumat, 25 Februari 2011

PBNU Sosialisasi Hasil Muktamar ke NU DKI

Jakarta, Kawit An Nur Slawi - Pengurus Besar NahdlatulqUlama (PBNU) menggelar sosialisasi hasil muktamar ke-33 NU kepada pengurus NU di wilayah DKI Jakarta dari berbagai tingkatan, Ahad (28/2, di aula kantor PWNU DKI Jakarta, Jalan Talang, Menteng, Jakarta Pusat.

Peserta terdiri dari utusan Pengurus Wilayah NU (PWNU), Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU), Pengurus Cabang NU (PCNU) se-DKI Jakarta. Kegiatan dirangkai dengan bahtsul masail menjelang.Konferensi Wilayah (Konferwil) PWNU DKI Jakarta.

PBNU Sosialisasi Hasil Muktamar ke NU DKI (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sosialisasi Hasil Muktamar ke NU DKI (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sosialisasi Hasil Muktamar ke NU DKI

Sosialisasi dipandu Ketua PBNU H M Imam Aziz yang juga ketua panitia Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, Agustus 2015. Di hadapan forum, ia menjelaskan berbagai perubahan redaksi pasal dan ayat dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga NU hasil kesepakatn muktamar paling mutakhir.

Kawit An Nur Slawi

Imam antara lain memaparkan perihal adanya Badan Khusus. Unit kerja baru ini merupakan perangkat PBNU yang memiliki struktur secara nasional. Badan Khusus berfungsi dalam pengelolaan, penyelenggaraan, dan pengembangan kebijakan NU yang berkaitan dengan bidang tertentu.

"Badan Khusus ada tiga, yaitu pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Badan Khusus mengordinasi langsung unit-unit kegiatan di daerah, seperti rumah sakit, perguruan tinggi, dan lain-lain," ujarnya.

Kawit An Nur Slawi

Hal lain yang disosialisasikan dalam forum tersebut adalah hadirnya dua badan otonom.baru, yakni Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (Ishari) dan Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama; penghapusan lajnah menjadi lembaga, serta mekanisme rekrutmen pemimpin baru berikut syarat-syaratnya.

Ketua PWNU DKI Jakarta Tubagus Robi Budiansyah yang hadir dalam kesempatan itu menyambut positif kegiatan pagi hingga siang ini. Ia mendorong seluruh pengurus NU untuk senantiasa menjaga wibawa PBNU yang ia nilai telah berhasil menjaga hubungan dengan berbagai pihak. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Meme Islam, Pendidikan Kawit An Nur Slawi

Senin, 31 Januari 2011

Lembaga Falakiyah Harus Dokumentasikan Citra Hilal

Batu, Kawit An Nur Slawi?



Rukyatul hilal atau pengamatan bulan pasca-ijtimak selalu dilakukan setiap menjelang bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Bahkan sebagian ada yang rutin melakukannya setiap bulan.?

Namun minimnya dokumentasi keberhasilan melihat hilal masih menjadi persoalan. Karena itu, para pelaksana rukyat ke depan harus meningkatkan kemampuan untuk mendokumentasikan citra hilal.

Lembaga Falakiyah Harus Dokumentasikan Citra Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Falakiyah Harus Dokumentasikan Citra Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Falakiyah Harus Dokumentasikan Citra Hilal

Demikian disampaikan Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur KH Shofiyulloh, MSI di hadapan sekitar 120 peserta Kaderisasi Ulama Hisab Rukyat Nahdlatul Ulama angkatan XIX yang diselenggarakan pada Jumat-Sabtu (28-29/4) di Hotel Air Panas Alam Songgoriti, Kota Batu.?

Menurut Gus Shofi, sapaan akrabnya, dokumentasi citra hilal sangat berguna sebagai bukti otentik dan sangat bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan astronomi atau kajian hisab dan rukyat.?

"Sebenarnya pengakuan melihat hilal secara syari sudah sah sebagai dasar penentuan awal bulan Hijriyah, tapi kalau ada dokumentasinya kan lebih meyakinkan dan bermanfaat untuk perkembangan ilmu falak di masa datang," jelas Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Kepanjen Malang ini.?

Kawit An Nur Slawi

Untuk itu, Gus Shofi menyatakan, Lembaga Falakiyah PWNU Jatim siap memfasilitasi dengan mengadakan pelatihan tentang teknik pengolahan citra hilal.?

Namun sebelum itu Gus Shofi juga mengajak para peserta yang mewakili Lembaga Falakiyah PCNU se-Jawa Timur agar mengupayakan pengadaan teleskop atau teropong bintang sebagai perangkat utama dalam mendokumentasikan penampakan hilal.?

"Di Jawa Timur ada sekitar 10 titik rukyatul hilal yang sudah tercatat di Kementerian Agama, tapi Lembaga Falakiyah NU yang memiliki teleskop hanya tiga. Lembaga Falakiyah PWNU Jatim juga akan berusaha mengupayakan pengadaan itu. Mohon doanya semoga berhasil," pinta kandidat doktor Ilmu Falak dari UIN Walosongo Semarang ini.?

Kawit An Nur Slawi

Sementara itu, pelatihan yang diselenggarakan Lembaga Falakiyah tersebut diikuti oleh sekitar 120 orang. Mereka hadir mewakili unsur Pengurus Lembaga Falakiyah PCNU, Kementerian Agama, pondok pesantren, perguruan tinggi dan sebagian lagi perorangan.?

Sedangkan materi yang dibahas adalah pemograman hisab awal bulan Kitab ad-Durr al-Aniq menggunakan aplikasi Microsoft Excel oleh Pengurus Lembaga Falakiyah PWNU Jatim, H Abdul Muid Ibnu Zahid. (Rof Maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Tokoh, Ubudiyah Kawit An Nur Slawi

Merekonstruksi Pemahaman tentang Idul Fitri

Oleh Ahmad Saifuddin



Bulan Ramadhan telah berakhir. Sehingga bulan Syawal menggantikan perginya bulan Ramadhan. Bulan Syawal dianggap sebagai bulan kemenangan setelah selama sebulan di bulan Ramadhan umat Muslim mengekang hawa nafsunya. Bulan Syawal yang di dalamnya terdapat sebuah hari yang menjadi momentum saling memaafkan meskipun saling memaafkan harus dilakukan setiap waktu. Bulan Syawal di dalamnya terdapat Idul Fitri yang dianggap sebagai momen kembali kepada kesucian. Bulan Syawal disambut suka cita sehingga seringkali kita melupakan evaluasi terhadap sikap kita selama bulan Ramadhan.

Merekonstruksi Pemahaman tentang Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)
Merekonstruksi Pemahaman tentang Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)

Merekonstruksi Pemahaman tentang Idul Fitri

Secara bahasa, Idul Fitri memang memiliki arti kembali kepada kondisi yang suci. Hal ini disebabkan setelah melalui masa-masa pengendalian hawa nafsu selama bulan suci Ramadhan. Pada bulan tersebut juga Tuhan melimpahkan ampunan dan pahala bagi kaum Muslim yang memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya ibadah dan perilaku. Ditambah lagi, bulan Ramadhan diakhiri dengan zakat fitrah untuk menyucikan harta benda yang dimiliki. Lalu disusul dengan Idul Fitri, momentum saling memaafkan antarsesama. Dengan demikian, kesucian yang terkandung dalam Idul Fitri bisa meliputi kesucian terhadap Tuhan karena mendapat ampunan, kesucian harta benda karena menzakatkan hartanya, kesucian terhadap sesama karena saling memaafkan. Pada akhirnya, Idul Fitri dimaknai sebagai momentum kemenangan bagi kaum Muslim setelah mengekang hawa nafsu selama bulan Ramadhan.

Kawit An Nur Slawi

Satu hal yang sering dilupakan adalah, apakah kita benar-benar menang melawan hawa nafsu dan kembali suci? Apakah kemenangan yang dimaksud berdampak pada kehidupan kita? Pertanyaan reflektif yang jika senantiasa dipegang teguh dan direnungkan jawabannya, akan bisa memunculkan sikap yang berbeda dalam menyikapi berlalunya Ramadhan dan datangnya Idul Fitri. Sikap yang bukan euforia semata, sikap yang bukan seperti seekor binatang yang lepas dari kandang sehingga kembali menampakkan sifat-sifat negatifnya. Penting untuk menengok bahwa betapa sedihnya para generasi Muslim awal, yang semakin giat dan rajin mendekatkan diri pada Tuhan karena Ramadhan akan pergi. Sehingga, sikap ini yang mempertahankan perubahan perilaku dan derajat ketakwaan pun bisa diraih.

Saat ini, banyak kaum Muslim ketika bulan Ramadhan pergi, menyambut suka cita Idul Fitri dan menganggap dirinya menang serta kembali suci. Ditambah lagi, kapitalis saling berlomba dalam merebut perhatian kaum Muslim untuk membeli baju dan segala perlengkapan menyambut Idul Fitri. Sehingga, banyak kaum Muslim yang juga tergiur dengan godaan kapitalis tersebut. Padahal patokan menang bukan terletak waktu Idul Fitri, namun justru terletak pada waktu sebelas bulan mendatang sampai Ramadhan selanjutnya datang kembali.

Kawit An Nur Slawi

Ibarat karantina atau masa belajar, manusia diberi waktu sebulan oleh Tuhan untuk belajar mengendalikan hawa nafsunya. Tuhan bukan ingin mematikan dan menghabisi manusia. Tuhan hanya ingin memperlihatkan dan menyadarkan manusia bahwa ada hal dalam diri manusia yan harus dikendalikan, karena jika tidak dikendalikan maka akan bersifat destruktif. Waktu sebulan selama Ramadhan harus dimaknai sebagai bulan pembangunan karakter dan kepribadian. Karakter mampu memahami kondisi orang lain atau disebut dengan empati sehingga memunculkan sikap berbagi, karakter mampu mengendalikan dorongan sehingga menjadi manusia yang bermartabat, karakter giat mendekatkan diri pada Tuhan, karakter ringan berbuat kebajikan, dan karakter merasa diawasi oleh Tuhan.

Setelah karantina atau proses belajar di bulan Ramadhan, sebelas bulan selanjutnya, sebenarnya kita justru baru melewati masa-masa ketika kita harus tetap mempertahankan perubahan yang sudah berhasil dilakukan di bulan Ramadhan. Jika ternyata di sebelas bulan selanjutnya manusia tidak dapat mempertahankan perubahannya, apakah pantas disebut mendapatkan kemenangan? Seperti halnya ketika kita harus menempuh studi pada derajat tertentu, kita akan mendapatkan kelulusan dalam waktu tertentu. Namun, kelulusan tersebut harus dibuktikan dengan kemampuan kita untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan masyarakat.

Puasa sendiri merupakan momentum untuk mengendalikan hawa nafsu yang cenderung bersifat destruktif jika dibiarkan. Dalam struktur kepribadian, manusia memiliki hawa nafsu. Hawa nafsu, dalam perspektif psikoanalisis, identik dengan id dan insting kematian atau thanatos. Id ini bersifat biologis dan memiliki orientasi kenikmatan (pleasure oriented) dan tidak mempedulikan nilai dan norma sehingga bisa bersifat destruktif, sedangkan thanatos bisa menimbulkan perilaku agresi. Dengan menundukkan id, maka manusia semakin memperbesar superegonya. Gambaran id secara nyata dapat diilustrasikan pada seorang bayi atau anak yang belum memahami nilai, sehingga melakukan apapun yang dia suka (Sigmund Freud, 2009, A General Introduction to Psychoanalysis, halaman 334–382).

Menurut Ibnu Maskawaih, jiwa manusia terdiri dari tiga fakultas, yaitu fakultas berpikir (nathiqah), fakultas menolak yang membahayakan (ghadhab), dan fakultas yang menginduksi kesenangan (syahwat). Selain itu, natur asli dari nafsu dan syahwat ini mengarah pada hal buruk (Abdul Mujib, 2006, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, halaman 129 – 152). Ibnu Maskawaih juga menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat jiwa binatang lunak (an-Nafs al-Bahâmiyah) dan jiwa binatang buas (an-Nafs as-Sabu’îyah). Sementara itu, Al Kindi menyatakan bahwa jiwa manusia terdiri dari daya nafsu syahwat, daya pemarah, dan daya berpikir; Al Farabi berpendapat bahwa jiwa manusia terdiri dari jiwa penggerak (an-Nafs al-Muharrikah), jiwa menangkap (an-Nafs al-Mudrikah), dan jiwa berpikir (an-Nafs an-Nâtîqah); dan Ibnu Sina menyatakan jiwa manusia salah satunyaa terdiri dari jiwa binatang atau an-Nafs al-Hayawanîyah (Yadi Purwanto, 2007, Psikologi Kepribadian : Integrasi Nafsiyah dan ‘Aqliyah Perspektif Psikologi Islami, halaman 96).

Menurut Imam Al-Ghazali dalam Kimiya-us Sa’adat, jasad digambarkan sebagai sebuah kerajaan, di mana jiwa atau ruh sebagai rajanya serta berbagai indera dan bagian lain sebagai tentaranya. Nalar bisa dianggap sebagai perdana menteri, nafsu diilustrasikan sebagai pemungut pajak, dan amarah digambarkan sebagai polisi. Nafsu (digambarkan pemungut pajak) cenderung untuk merampas demi kepentingannya sendiri, sementara amarah (digambarkan polisi) cenderung pada kekerasan. Pemungut pajak dan polisi harus selalu ditempatkan di bawah raja, tetapi tidak dibunuh atau diungguli, mengingat mereka memiliki fungsi-fungsi tersendiri yang harus dipenuhinya secara proporsional. Jika nafsu dan amarah menguasai nalar (digambarkan perdana menteri), maka jiwa (digambarkan sebagai raja) akan runtuh, sehingga jasad beserta perilakunya akan rusak. Jiwa yang membiarkan bagian yang lebih rendah untuk menguasai yang lebih tinggi ibarat seseorang yang menyerahkan bidadari kepada seekor anjing.

Dengan demikian, baik ilmuwan sekuler macam Sigmund Freud maupun para ilmuwan Islam, sepakat bahwa dalam diri manusia, ada dorongan-dorongan yang harus dikendalikan dan ditundukkan karena jika tidak disadari dan tidak dikendalikan, maka dorongan tersebut bersifat merusak dan merugikan sehingga mengganggu harmonisasi kehidupan. Puasa merupakan sebuah metode untuk mengendalikan dorongan-dorongan tersebut, atau bisa disebut dengan mengendalikan hawa nafsu.

Terlebih lagi tujuan puasa itu sendiri adalah untuk mencapai derajat ketakwaan. Derajat takwa dimaknai sebagai suatu derajat yang berwujud kesatuan sikap dan perilaku menjalankan segala perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan Tuhan. Patokan bertakwa ini tentu akan sempit sekali jika hanya dikontekskan dari Ramadhan sampai Idul Fitri itu saja. Sehingga patokan takwa justru harus dimaknai sebagai menetapnya perubahan perilaku (yang didapatkan pada bulan Ramadhan) dalam menjalankan segala perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan Tuhan selama sebelas bulan setelah Ramadhan. Sehingga, indikator kemenangan yang sebenarnya adalah bukan terletak ketika Idul Fitri, tetapi terletak pada waktu-waktu setelah Ramadhan sampai Ramadhan selanjutnya tiba kembali. Yaitu ketika manusia bisa mempertahankan ketakwaan di waktu-waktu selain Ramadhan, ketika manusia mampu mempertahankan perubahan karakternya dan perilakunya untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan, merasa diawasi oleh Tuhan, bersikap empati dan suka berbagi, dapat mengendalikan dorongan-dorongan dalam diri, serta tidak suka merugikan orang lain.

Penulis adalah Wakil Sekretaris PW IPNU Jawa Tengah



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pertandingan, Nasional Kawit An Nur Slawi