Kamis, 30 Maret 2017

15 Tahun Pasujudan Sunan Bonang Tak Direnovasi

Rembang, Kawit An Nur Slawi

Sudah 15 tahun ini Pasujudan Sunan Bonang yang ada di Desa Bonang Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, tak mengalami perbaikan signifikan. Lutfi Hakim, sang juru kunci menerangkan, kawasan wisata yang dipercaya menjadi lokasi batu bekas tempat ibadah Sunan Bonang itu tergolong minim pendanaan.

"Sudah 15 tahun belum pernah ada renovasi. Tiga tahun yang lalu saja, kita bangun gedung baru untuk penginapan tamu yang terletak di sebelah utara Pasujudan Sunan Bonang. Itu pun dengan anggaran yang sangat terbatas,” katanya, Senin (21/3).

15 Tahun Pasujudan Sunan Bonang Tak Direnovasi (Sumber Gambar : Nu Online)
15 Tahun Pasujudan Sunan Bonang Tak Direnovasi (Sumber Gambar : Nu Online)

15 Tahun Pasujudan Sunan Bonang Tak Direnovasi

Lutfi Hakim menyampaikan, pihak Yayasan Sunan Bonang berencana akan memperlebar area parkir yang kerap tak mampu menampung kendaraan pengunjung dari berbagai daerah yang sengaja datang berwisata.

Kawit An Nur Slawi

Para pengunjung yang disapa Kawit An Nur Slawi kerapkali mengeluhkan area parkir yang sudah penuh. Kondisi ini membuat bus pariwisata tak jarang parkir di bahu jalan. Menurut penjelasan Yayasan Sunan Bonang, fasilitas yang tersedia saat ini sudah lumayan bagus meski kurang luas.

Pihak yayasan juga perlu mempertimbangkan rencana memperluas area parkir karena letaknya saat ini yang sudah mepet dengan Jalan Pantura Lasem-Tuban.

Kawit An Nur Slawi

Situs Pasujudan Sunan Bonang terletak di atas sebuah bukit yang terletak di tepi Pantai Binangun. Batu pasujudan tersebut berada di dalam sebuah cungkup di sebelah selatan. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Berita Kawit An Nur Slawi

Rabu, 29 Maret 2017

Google Sediakan Aplikasi Dukung Ramadhan

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Perusahaan penyedia jasa dan produk Internet, Google, menyediakan beberapa aplikasi untuk memudahkan pengguna mengatur kegiatan harian rutin selama bulan puasa Ramadhan.

Pada acara Google Cafe Ramadhan di Jakarta, Selasa, Kepala Pemasaran Google Indonesia Krishna Zulkarnain mengatakan aplikasi seperti Google Calender, Google Map, Google Keep dan Google Hangout bisa menjadi sarana untuk merencanakan acara buka puasa, sahur dan mudik bersama.?

Google Sediakan Aplikasi Dukung Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Google Sediakan Aplikasi Dukung Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Google Sediakan Aplikasi Dukung Ramadhan

Krishna mencontohkan, aplikasi Google Calender bisa membantu pengguna merencanakan kegiatan bersama selama Ramadhan.

Kawit An Nur Slawi

"Setelah masuk di kalendernya, pengguna bisa mengundang teman-teman yang diajak dan akan masuk dalam Gmail mereka," katanya.

Google Keep, lanjut dia, membantu mengingatkan pengguna tentang rencana yang sudah dibuat.?

Kawit An Nur Slawi

"Seperti post it, bisa berwarna dan muncul dalam layar telepon," katanya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nahdlatul Ulama, Khutbah, AlaNu Kawit An Nur Slawi

Senin, 27 Maret 2017

Mereka yang Ibadahnya Berguguran dalam Ramadhan

Kedatangan bulan Ramadhan selalu disambut dengan antusias oleh Muslim di seluruh dunia. Bulan ini adalah bulan yang istimewa karena pada saat inilah, amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Pada Ramadhan, sejumlah peristiwa penting juga terjadi seperti turunnya Al-Qur’an yang menjadi sumber rujukan utama dalam beragama. Pada bulan inilah, juga turun lailatul qadar atau malam seribu bulan, yaitu satu malam di mana nilai ibadah sama dengan seribu bulan.

Sejak menjelang Ramadhan, sejumlah kesibukan sudah dilakukan. Masyarakat bergotong royong membersihkan jalanan dari rumput-rumput yang meninggi. Masjid dibersihkan dan karpet-karpet yang berdebu pun dicuci. Tembok pun dicat ulang agar tampak lebih bersih dan rapi. Tak ketinggalan, para politisi dari seluruh tingkatan, mulai dari ketua partai, baik partai yang mengatasamakan diri sebagai partai Islam atau partai sekuler pun, memasang spanduk dengan berbagai ukuran di tempat-tempat strategis. Tentu disertai dengan foto diri pemasang.

Mereka yang Ibadahnya Berguguran dalam Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mereka yang Ibadahnya Berguguran dalam Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mereka yang Ibadahnya Berguguran dalam Ramadhan

Pada bulan ini pula lembaga-lembaga zakat sibuk mengajak masyarakat untuk menunaikan kewajibannya untuk membayar zakat plus infak dan sedekah. Balihonya pun terpampang di mana-mana. Semuanya dengan iming-iming bonus pahala yang besar.

Kawit An Nur Slawi

Pada hari-hari pertama Ramadhan, masjid dan mushalla dipenuhi jamaah yang ingin menunaikan shalat tarawih. Mereka yang shalatnya bolong-bolong pada hari-hari biasa pun mampu menunaikan tarawih sebanyak 23 rakaat tanpa capek. Tak lupa, situs-situs keislaman di internet meningkat tajam trafiknya karena masyarakat haus akan materi-materi keislaman.

Tetapi harus diingat bahwa kita harus mampu menjaga ritme ibadah kita. Ramadhan tidak hanya berlangsung seminggu, tetapi selama satu bulan. Banyak di antara kita yang berguguran di tengah jalan. Padahal, semakin mendekati akhir Ramadhan, semakin banyak keistimewaan yang terdapat di dalamnya. Rasulullah pada sepuluh hari terakhir meninggalkan urusan duniawi dan memperbanyak itikaf. Beliau juga membangunkan istri-istrinya agar memperbanyak shalat, dzikir, dan ibadah lainnya. Pada sepuluh hari terakhir bulan puasa ini, kemungkinan turunnya lailatul qadar semakin besar, sayangnya Muslim sudah disibukkan urusan lainnya, bukan semakin meningkatkan ibadah. Jamaah tarawih di masjid dan mushalla semakin berkurang. Tadarus di masjid-masjid pun semakin kehilangan semangat.

Kawit An Nur Slawi

Semakin mendekati Idulfitri, konsentrasi umat Islam sudah beralih bagaimana mempersiapkan diri dalam Lebaran. Pusat perbelanjaan dipenuhi oleh orang-orang yang ingin membeli pakaian dan seluruh pernak-perniknya untuk dipakai pada Lebaran. Rumah pun dibersihkan, kue pun dibikin, dan mereka yang sudah menjadi masyarakat urban, mempersiapkan diri untuk mudik ke kampung halamannya masing-masing. Bukannya hal-hal tersebut tidak penting, tetapi keistimewaan Ramadhan yang datang pada sepuluh hari terakhir telah terkalahkan oleh hal-hal lain. Tak banyak orang yang benar-benar mampu meraih kemenangan dan memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksimalkan ibadahnya. Ramadhan ibarat lari maraton, bukan lari seratus meter. Dibutuhkan ketahanan mental dan kesiapan fisik yang prima untuk meraih kemenangan ini. Selagi masih ada kesempatan, mari kita berkonsentrasi untuk memanfaatkan hari-hari terakhir ini untuk memaksimalkan ibadah, bukan dengn menyibukkan hal-hal lainnya yang mengurangi esensi Ramadhan. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Aswaja Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 25 Maret 2017

Mbah Maimoen Rutin Ikuti Perkembangan Dunia Luar

Rembang, Kawit An Nur Slawi. Di sela-sela aktivitas yang padat, Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen selalu menyempatkan waktu untuk mengikuti perkembangan informasi dunia luar. Baik lewat berita surat kabar cetak maupun online.

Salah satu santri ndalem, Muhammad Wahyudi kepada Kawit An Nur Slawi, Senin (28/11) membeberkan, walaupun di ndalem tidak terpasang satu unit televisi pun, kiai sepuh tersebut tetap mengikuti perkembangan dan kabar luar dengan membaca koran.

Mbah Maimoen Rutin Ikuti Perkembangan Dunia Luar (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Maimoen Rutin Ikuti Perkembangan Dunia Luar (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Maimoen Rutin Ikuti Perkembangan Dunia Luar

"Syaikhina tetap mengikuti perkembangan dan kabar luar dengan membaca koran, baik koran level nasional maupun daerah. Baik dibaca sendiri oleh beliau, ataupun dibacakan anak ndalem," terang santri asal Magelang tersebut.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Desa Karangmangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah tersebut, tidak ketinggalan untuk mengikuti kabar yang berkembang dari dunia internet, baik media sosial maupun portal berita.

Kawit An Nur Slawi

"Disamping itu, pada masa kemajuan internet seperti sekarang, beliau pun dibacakan informasi dari media sosial maupun portal berita," terangnya.

Wahyudi menambahkan, aktivitas semacam ini rutin dilakukan tiap hari di sela-sela kesibukannya. "Jadi, ini sebagai bukti bahwa beliau tetap aktif untuk mengikuti perkembangan dunia luar," jelas pria yang mulai nyantri di Al-Anwar sejak 2003 tersebut.

Dalam kesempatan yang berbeda, ? Ahad (27/11) saat ditemui Kawit An Nur Slawi di kediamannya, Mbah Moen berpesan kepada rakyat Indonesia ? agar tetap menjaga kondisi bangsa. Menjaga persatuan dan kesatuan. Indonesia walaupun di dalamnya ada perbedaan agama, prinsip Bineka Tunggal Ika harus tetap dijaga. (Aan Ainun Najib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Humor Islam Kawit An Nur Slawi

Hukum Orang Junub Merawat Jenazah

Assalamu alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi di tempat, saya ingin penjelasan hukum seorang yang sedang junub atau berhadats besar merawat jenazah seperti ikut memandikan, mengkafani, menguburkan (menurunkan jenazah di liang lahad)? Demikian pertanyaan saya. Terima kasih atas jawabannya. Wassalamu alaikum wr. wb. (Ibrahim Muhammad)

Jawaban

Hukum Orang Junub Merawat Jenazah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Orang Junub Merawat Jenazah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Orang Junub Merawat Jenazah

Assalamu alaikum wr. wb.

Pembaca yang kami hormati, semoga kita senantiasa diberi rahmat dan taufiq oleh Allah SWT. Tidak ada larangan bagi orang junub untuk memandikan, mengkafani, dan menguburkan jenazah. Dalam banyak hal orang junub sama seperti orang yang suci dari hadats besar. Ia boleh melakukan aktivitas apapun selain persoalan tertentu yang diharamkan oleh syari’at.

Kawit An Nur Slawi

Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam At-Taqrib mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kawit An Nur Slawi

Artinya, “Haram bagi orang junub lima hal, shalat, membaca Al-Qur’an, memegang dan membawa mushaf, thawaf serta berdiam diri di masjid,” (Lihat Al-Qadli Abu Syuja’, At-Taqrib, Semarang, Toha Putera, tanpa catatan tahun, halaman 11).

Dari keterangan tersebut, tidak ada yang menyebutkan orang junub haram merawat jenazah.

Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Tuhfatul Muhtaj menegaskan bahwa orang junub dan wanita haidl/nifas diperbolehkan memandikan mayit tanpa dihukumi makruh. Menurut penegasan Syekh Al-Bashri, hukumnya khilaful aula (menyalahi yang utama).

Dalam Tuhfatul Muhtaj Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan:

? ? ? ) ? ? ( ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? { ? ? ? ? ? ? ? } ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Orang junub dan haidl demikian pula wanita nifas diperbolehkan memandikan mayit tanpa dihukumi makruh, sebab keduanya suci. Pertimbangan ini melemahkan pendapat Imam al-Mahamili yang mengharamkan kehadiran orang junub dan haidl berada di samping orang yang sekarat. Pendapat ini memiliki sisi pandang bahwa keduanya dapat mencegah malaikat rahmat berdasarkan hadits Nabi, ‘Sungguh malaikat tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat orang junub.’ Pendapat Al-Mahamili ini lemah sebab bila tolok ukurnya dapat mencegah malaikat rahmat, maka tentu orang junub dan wanita haidl haram memandikan mayit. Sementara tidak ulama’ yang mengatakannya. Klaim adanya perbedaan di antara orang yang sekarat mati dan mayit merupakan hal yang tidak prinsipil sebab masing-masing membutuhkan kehadiran malaikat rahmat," (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cetakan ketiga, 2012 M, juz IV, halaman 166).

Pada penjelasan atas referensi di atas, Syekh Abdul Hamid As-Syarwani menambahkan:

? ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Artinya, “Ucapan matan Al-Minhaj; tidak adanya hukum makruh memandikan mayit bagi junub dan wanita haidl, maksudnya meskipun ditemukan orang lain. Al-Bashri mengatakan, akan tetapi menurut pandangan yang unggul, hal tersebut hukumnya khilaful aula,” (Lihat Syekh Abdul Hamid Al-Syarwani, Hasyiyah As-Syarwani ‘ala Tuhfatil Muhtaj, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cetakan ketiga, 2012 M, juz IV, halaman 166).

Simpulannya, hukum merawat jenazah bagi orang junub meliputi memandikan, mengafani dan menguburkan mayit adalah boleh. Hadits yang menyebutkan orang junub dapat mencegah kehadiran malaikat rahmat tidak sampai mengarah pada keharaman merawat jenazah bagi orang junub, tetapi lebih mengarah pada pertimbangan keutamaan. Dari itu, aktivitas merawat jenazah sebagaimana dimaksudkan penanya sebaiknya tidak dilakukan oleh orang junub sampai ia bersuci dari hadatsnya agar malaikat rahmat tetap bisa hadir dengan membawa rahmat.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga dapat dipahami dengan baik. Kami terbuka untuk menerima kritik dan saran.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq, 

Wassalamu alaikum wr. wb.


(M Mubasysyarum Bih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi News, Internasional Kawit An Nur Slawi

Kamis, 23 Maret 2017

Mengenang Dua Sahabat, PMII UIN Bandung Gelar Tahlilan

Bandung, Kawit An Nur Slawi. Pengurus PMII UIN Sunan Gunung Djati terus berupaya menjaga silaturahmi dengan kadernya baik mereka yang masih hidup maupun sudah berpulang. Di masjid Ikomah, Cibiru, Bandung, Kamis (4/9) malam, mereka mengadakan tahlilan untuk khususnya dua kadernya yang baru saja wafat.

Salah seorang pengurus PMII UIN Bandung Niki Prasetiawan menyebutkan maksud pertemuan ini sebagai refleksi tradisi ke-NUan sekaligus sebuah penghormatan terhadap keluarga besar PMII yang sudah meninggal.

Mengenang Dua Sahabat, PMII UIN Bandung Gelar Tahlilan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Dua Sahabat, PMII UIN Bandung Gelar Tahlilan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Dua Sahabat, PMII UIN Bandung Gelar Tahlilan

“Kami sebagai generasi penerus ulama Aswaja ingin mentradisikan kembali di wilayah kampus apa yang sudah mentradisi di kampung-kampung,” ujar alumni pesantren Al-Ittihad, Cianjur di depan puluhan hadirin dalam acara bertajuk “Mengenang 40 Hari Sahabat Kami Tercinta Redi Hadarprawira dan mengenang 215 Hari Hani Solihat”.

Kawit An Nur Slawi

Niki menilai peran PMII tidak sebatas gerakan kultural, tetapi bergerak secara dialektik dengan proses kegiatan di PMII misalnya dengan mendialogkan tradisi Aswaja dengan tradisi kemahasiswaan.

“Jadi kami mengintegrasikan nilai-nilai Aswaja ke dalam kegiatan PMII, bukan hanya dominasi mengetahui secara simbolik tetapi secara paradigmatik,” ujar Niki kepada Kawit An Nur Slawi seusai pembacaan tahlilan, Yasin, dan Al-Barjanji.

Kawit An Nur Slawi

Ia menginginkan PMII UIN Bandung menjadi organisasi berkarakter setelah hampir beberapa dekade ke belakang kehilangan jatidirinya.

Kami hari ini, Niki manambahkan, ingin mencoba membangkitkan kembali jatidiri dengan menciptakan sebuah karakter kami sebagai pelanjut gerakan paham Aswaja NU. (Muhammad Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi PonPes, Pesantren Kawit An Nur Slawi

Gus Ishom Mengenalkan Kembali Karya-karya KH HAsyim Asyari

Muhammad Ishomuddin Hadzik atau yang biasa di panggil Gus Ishom merupakan cucu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dari pasangan Chodidjah Hasyim–Muhammad Hadzik Mahbub. Lahir di Kediri, 18 Juli 1965 M dan selanjutnya sejak kecil akrab dipanggil Gus Ishom.

Sejak kecil, Ishom telah diperkenalkan kepada kehidupan pesantren yang sarat dengan pendidikan agama. Pada usia yang tergolong anak-anak, Ishom telah menunjukkan ketertarikan kepada ilmu-ilmu agama. Pada usia 7 tahun, setiap bulan Ramadhan, Ishom kecil selalu melakukan tarawih dimasjid Pondok Pesantren Tebuireng dan selalu berada dibelakang imam.

Gus Ishom Mengenalkan Kembali Karya-karya KH HAsyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ishom Mengenalkan Kembali Karya-karya KH HAsyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ishom Mengenalkan Kembali Karya-karya KH HAsyim Asyari

Di luar bulan Ramadhan, Ishom kecil juga shalat maghrib berjamaah dimasjid Pondok Pesantren Tebuireng dan selalu berada dibelakang imam. Pada saat itu, shalat jamaah sering dipimpin oleh KH. Muhammad Idris Kamali, menantu Hadratus SSyeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Setiap selesai berdoa’ tak lupa kyai Idris demikian panggilan sehari-hari, selalu meniup kening Ishom kecil sambil diiringi dengan doa barakah.

Kawit An Nur Slawi

Pada waktu bersekolah di SDN Cukir I, sosok Ishom kecil telah menonjol di antara teman-temannya. Dari segi pelajaran, nilai yang didapat selalu diatas teman-temannya. Pada saat memasuki bangku sekolah lanjutan, Ishom yang telah beranjak remaja, memilih pagi hari untuk bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng dan siang harinya di SMP A. Wahid Hasyim.

Setelah lulus Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, Ishom memutuskan untuk menuntut ilmu agama di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Di bawah bimbingan langsung KH. Mahrus Aly, Gus Ishom yang telah beranjak remaja semakin mendapat bekal ilmu agama dan kitab kuning semaikin banyak.

Ketertarikannya kepada kitab kuning ditambah riyadhah yang kuat, membuatnya semakin lancar dalam menuntut ilmu. Otak yang cerdas, pikiran yang cemerlang menjadikannya mudah dalam memahami tentang suatu hal. Gus Ishom menghabiskan waktu 11 tahun menimba ilmu di pondok pesantrten Lirboyo Kediri, termasuk ketika menjadi santri kilat Ramadhan diberbagai pesantren lainnya.

Kawit An Nur Slawi

Tahun 1991, Gus Ishom pulang kembali ke Tebuireng untuk mengamalkan apa yang telah dipelajari selama nyantri di Pondok Pesantren Liboyo Kediri serta pesantren lainnya. Sikap rendah hati, alim, tidak neko-neko membuat Gus Ishom banyak mendapat simpati masyarakat sekitar walaupun baru pulang dari pondok pesantren.

Kealimannya dalam hal kitab kuning, membuat Gus Ishom bersentuhan langsung dengan karya sang kakek Hadratus Syeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Beberapa kitab karya Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari diterbitkan dan dibacanya pada bulan Ramadhan di Masjid Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang diikuti oleh ribuan peserta sehingga kitab-kitab karya Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dikenal oleh masyarakat luas.

Selain telah menerbitkan sebagian kitab karya kakeknya, Gus Ishom juga menulis beberapa kitab yaitu : 1. Audhohul Bayan Fi Ma Yata’allq Bi Wadhoifir Ramadhan. 2. Miftahul Falah Fi Ahaditsin Nikah. 3. Irsyadul Mukminin.

Tidak hanya dalam urusan ilmu agama, gus Ishom cukup memahami tentang masalah sosial, budaya serta politik. Cukup sering tulisannya menghiasi berbagai halaman media massa semisal harian Surya, Jawa Pos, Republika dan lain-lain. Pengalaman menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jombang, merupakan bukti ketajamannya di dunia kiprah politiknya.

Selain menulis kitab dan beberapa artikel di media massa, Gus Ishom juga merupakan seorang muballigh yang handal. Lisan yang fasih, bahasa yang lugas serta ilmu yang tinggi, membuat setiap ceramah yang disampaikan olehnya selalu menarik untuk disimak. Tidak banyak orang bisa menulis kitab, artikel, cerpen dan berpidato. Gus Ishom merupakan sosok serba bisa yang diharapkan menjadi kader NU yang mumpuni.

Pada akhir tahun 2002, ketika bulan ramadhan gus Ishom mengalami sakit pada bagian betis yang diduga oleh dokter sebagai gejala asam urat akut. Berbagai pengobatan dilakukan, akan tetapi tidak membawa hasil. Akhirnya ketika sakit yang semakin parah, gus Ishom dirujuk ke Surabaya dan disanalah diketahui bahwa gus Ishom menderita kanker yang tergolong langka dan telah mencapai stadium III. Pengobatan melalui kemoterapi dan berbagai upaya alternatif telah dilakukan. Akan tetapi Sang Maha Kuasa, Allah Robbul ‘Alamiin memiliki kehendak lain.

Seperti terkena hallintar, pandangan mata ini berkaca-kaca, seakan tak percaya, tatkla mendengar? wafatnya KH Ishomuddin Hadizq (Gus Ishom). Hari sabtu, 26 Juli 2003, tepat pukul 06.30 WIB, beliau dipanggil ke pangkuan Sang Ilahi. Sosok kiai muda yang begitu anggun mempesona. Seorang “darah biru” keturunan Kiai Moh Hasyim Asy’ari (pendiri dan Ra’is Akbar NU) dari putrinya Hj Khodijah.

Gus Ishom yang lahir pada 18 Juli 1965 (genap berusia 37) adalah salah satu dari cucu KH Hasyim yang mewarisi kewibawaaan, keilmuan, kedewasaan, kematangan, kesabaran, keanggunan, dan keajaiban Sang Kakek. Gaya bicaranya yang “khas”, penuh humor, perilaku yang tawadlu’, ikhlas, penuh senyum (mencerminkan kedalaman spritual dan kekuatan pribadinya), selalu dinantikan para santri, lebih-lebih saat Ramadlan tiba. Seluruh halaman Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dijubeli oleh ribuan santri, baik yang berada di Pondok Pesantren Tebuireng sendiri ataupun pondok sekitarnya, Seblak, Pacul Gowang, Khuffadz, Mu’allimat-Darul Falah Cukir, dan lain-lain. Semuanya ingin mendengarkan wejangan-wejangan Gus Ishom,menyimak, merenungkan, menghayati dan mengamalkannya. (Disarikan dari berbagai sumber)Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Berita, AlaSantri, Ahlussunnah Kawit An Nur Slawi

Senin, 20 Maret 2017

Gubernur Sumut Banggakan Pesantren Musthafawiyah

Medan, Kawit An Nur Slawi. Plt Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) H Gatot Pujo Nugroho menyatakan bersyukur dan bangga, bahwa Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) memiliki alumni terbesar di seluruh pelosok Tanah Air. Banyak alumni Musthafawiyah yang melanjutkan kuliah ke berbagai perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri dan telah berhasil di berbagai bidang.

“Alumni merupakan aset yang sangat penting tidak hanya bagi Pesantren Musthafawiyah, tapi juga bagi bangsa dan negara, khususnya Provinsi Sumut,” kata Plt Gubsu diwakili Asisten III Kesejahteraan Sosial H Asrin Naim pada Halalbihalal Alumni Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, di Aula Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Jalan Sei Batanghari Medan, Sabtu (22/9). Halalbihalal dirangkai dengan konsolidasi Panitia Peringatan Satu Abad Musthafawiyah dengan tema “Sukseskan Peringatan Satu Abad Pesantren Musthafawiyah Purbabaru Tanggal 12 Desember 2012”.

Gubernur Sumut Banggakan Pesantren Musthafawiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Sumut Banggakan Pesantren Musthafawiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Sumut Banggakan Pesantren Musthafawiyah

Hadir dalam acara itu Ketua Umum Panitia Peringatan Satu Abad Musthafawiyah, Dr H Maratua Simanjuntak, Ketua Pengarah Panitia Prof Dr HM Yasyir Nasution, Bendahara Panitia H Harun Nasution, Ketua Panitia Halalbihalal Drs HM Adlin Damanik, MAP, Humas Panitia Letkol Caj HM Irwan Nuh Batubara MSi, sejumlah alumni di antaranya HM Imron Hasibuan, Drs H Abdul Hamid Ritonga, H Marahalim Harahap, MHum, Drs H Lukmanul Hakim Siregar, Drs H Abdul Rasyid Nasution, Dra Hj Lathifah Batubara, Dra Hj Khairani Lubis dan lainnya. 

Kawit An Nur Slawi

Juga hadir sejumlah pengurus PWNU Sumut, di antaranya Mustasyar KH Asnan Ritonga, dan Wakil Sekretaris Drs H Khairuddin Hutasuhut, Emir El-Zuhdi Batubara SH, dan Ketua Lembaga Dakwan (LD) PWNU H Sori Monang Rangkuti MTh.  Halalbihalal diisi tausiyah Ustadz Drs H Abu Samah Pulungan. 

Kawit An Nur Slawi

Plt Gubsu menegaskan, aset alumni ini akan menjadi semakin penting jika mampu memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat, tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan saja, tapi juga di bidang-bidang lainnya terutama pada bidang ekonomi sehingga ikut mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan.

“Kita semua tidak menginginkan alumni Pesantren Musthafawiyah menjadi pengangguran yang justru menjadi beban baik bagi orangtua, pesntren maupun bagi masyarakat,” tutur Plt Gubsu.

Ketua Panitia Peringatan Satu Abad Musthafawiyah, Dr H Maratua Simanjuntak dalam kesempatan itu mengatakan, seyogianya peringatan Satu Abad Mustafawiyah jatuh pada 12 Nopember 2012, karena pesantren ini didirikan oleh Syekh Musthafa Husein Nasution pada 12 Nopember 1912. Namun karena pada Nopember 2012 bertepatan musim haji, maka puncak peringatan diundur menjadi 12 Desember 2012.

Dia menyatakan, peringatan satu abad pesantren tertua dan terbesar di Pulau Sumatera ini bukan seremonial, melainkan untuk meningkatkan mutu secara menyeluruh serta memperkuat perannya secara efektif sebagai lembaga pendidikan agama dan pembangunan karakter bangsa (akhlaqul karimah).

Karena itu, katanya, sebelum acara puncak, panitia akan menggelar sejumlah kegiatan, di antaranya seminar “Peluang dan Tantangan Pesantren Salafiah di Era Modern”, pengusulan mu’adalah (penyetaraan) Pesantren Musthafawiyah ke Mendikbud. Kemudian alumni ghathering membangun networking. Juga ada perlombaan antarpesantren, bakti sosial alumni, zikir akbar, haflah, istighastah dan tausiyah. Selanjutnya, peluncuran buku “Bunga Rampai Mustfahawiyah”.  

Ketua Panitia Halalbihalal HM Adlin Damanik menambahkan, puncak  Peringatan Satu Abad Musthafawiyah akan dihadiri ulama terkemuka Timur Tengah (Timteng), Menko Kesra, Mendikbud dan Menag. 

Teks Foto:Plt Gubsu diwakili Asisten III H Asrin Naim (ketiga dari kanan) berfoto bersama dengan Ketua Umum Panitia Peringatan Satu Abad Pesantren Musthafawiyah Dr H Maratua Simanjuntak, Ketua Pengarah Prof HM Yasyir Nasution, Ketua Panitia Halalbihalal HM Adlin Damanik, mantan Ketua KAMUS H Imron Hasibuan, dan Mustasyar PWNU Sumut KH Asnan Ritonga, pada halalbihal alumni Pesantren Musthafawiyah, di Aula PWNU, Sabtu (22/9).  

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Hamdani Nasution

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kiai, Hadits, Syariah Kawit An Nur Slawi

Minggu, 19 Maret 2017

Simbol Kedaulatan Negara Terbalik di Negeri Orang

Jakarta, Kawit An Nur Slawi?

Ketua PBNU Juri Ardiantoro mengatakan, bagi Indonesia, bendera merah putih merupakan lambang negara yang harus dijaga kehormatannya. Tak hanya itu, bendera juga simbol kedaulatan bangsa.?

Simbol Kedaulatan Negara Terbalik di Negeri Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Simbol Kedaulatan Negara Terbalik di Negeri Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Simbol Kedaulatan Negara Terbalik di Negeri Orang

“Bendera itu juga tidak sekadar lambang negara, tetapi juga simbol perjuangan bangsa membebaskan diri dari penjajahan,” katanya ketika dihubungi Kawit An Nur Slawi di Jakarta Ahad malam (20/8).

Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat pada 2016 itu menambahkan, dalam konteks hubungan antarnegara, bendera itu juga simbol diplomatik yang mengandung makna harus saling menghormati, menghargai kedaulatan masing-masing dengan menjaga simbol-simbol kenegaraan masing-masing.

“Kasus kesalahan memasang, meletakkan bendera secara terbalik di dalam buku panduan SEA Games di Kuala Lumpur Malaysia, adalah kesalahan fatal yang tidak dapat dimaknai masalah teknis belaka,” jelasnya. “Bangsa Indonesia harus menyampaikan protes keras, tidak sekadar menyesalkan!” tegasnya.?

Kawit An Nur Slawi

Memang, kata Juri, panitia sudah meminta maaf dan memperbaiki kesalahan itu. Tentu hal itu patut dihargai dan harus dimaafkan.?

Pria kelahiran Brebes, Jawa Tengah ini mengapresiasi Menpora Imam Nahrawi yang dengan cepat menyampaikan protes kepada panitia. Hal itu sebagai bukti bahwa Menpora memhamai betul masalah ini adalah masalah serius.?

Kawit An Nur Slawi

Sekadar diketahui, Imam Nahrawi menyesalkan kecerobohan Malaysia pada SEA Games 2017 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Sabtu (19/8). Pasalnya, gambar bendera Indonesia terpampang dengan kondisi terbalik pada buku panduan pelaksanaan pesta olahraga negara-negara di Asia Tenggara itu.?

“Pembukaan #SEAgame2017 yg bagus tapi tercederai dg keteledoran fatal yg amat menyakitkan. Bendera kita....Merah Putih. Astaghfirullaah...,” ungkap Imam Nahrawi melalui akun Twitter pribadinya.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Malaysia, Khairy Jamaluddin, sebagaimana dilaporkan Okezone.com mengemukakan permintaan maaf atas kejadian memalukan pada pembukaan SEA Games itu. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ahlussunnah, Meme Islam Kawit An Nur Slawi

Selasa, 14 Maret 2017

Kepada Anak Tingkat SD, GP Ansor Cibogo Jelaskan Bahaya Radikalisme

Subang, Kawit An Nur Slawi - Pengurus GP Ansor Cibogo Kabupaten Subang menggelar kegiatan Pesantren Ramadhan bagi anak-anak dan remaja se-Kecamatan Cibogo di Masjid Besar Al-Mujahidin. Kegiatan selama dua pekan, Senin-Sabtu (5-17/6) ini, diadakan dalam rangka menjauhkan anak-anak Indonesia dari radikalisme, ajaran yang mencoreng nama baik Islam ini.

Peserta Pesantren Ramadhan GP Ansor Cibogo ini mendapat pendidikan ajaran Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdliyah sejak usia dini.

Kepada Anak Tingkat SD, GP Ansor Cibogo Jelaskan Bahaya Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepada Anak Tingkat SD, GP Ansor Cibogo Jelaskan Bahaya Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepada Anak Tingkat SD, GP Ansor Cibogo Jelaskan Bahaya Radikalisme

"Usai kegiatan ini diharapkan anak-anak bisa lebih termotivasi untuk ngaji pada guru yang mempunyai sanad keilmuan yang jelas, bukan referensi dari internet," kata Ketua GP Ansor Cibogo Rachmat usai acara penutupan kegiatan. Sabtu (17/6).

Pesantren Ramadhan ini juga diharapkan dapat menggugah para orang tua agar termotivasi untuk lebih memperhatikan anak-anaknya terlebih dalam hal ilmu agama sebagai dasar pondasi hidup sehingga anak-anak ini bisa mempunyai prinsip ketika sudah beranjak dewasa.

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

"Kami juga berharap para orang tua bisa lebih peduli terhadap pendidikan agama anaknya karena para orang tua terkesan masih acuh dengan pendidikan agama bagi anaknya," tegasnya.

Ia mengatakan, kegiatan yang diikuti oleh 160 peserta dari semua desa yang ada di Kecamatan Cibogo itu terselenggara atas kerja sama GP Ansor dengan Baznas Subang, Camat beserta jajaran Muspika, MUI, KUA, UPZ, dan FKDT Kecamatan Cibogo.

Kegiatan yang dihadiri berbagai elemen masyarakat ini diisi dengan pembagian santunan kepada 76 fakir miskin dan dhuafa serta pemberian cenderamata dari PT Dahana kepada seluruh masjid jami‘ yang ada di Kecamatan Cibogo. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pertandingan, Pondok Pesantren, Makam Kawit An Nur Slawi

Jumat, 10 Maret 2017

Gusjigang, Konsep Kemandirian Ekonomi Santri Menara Kudus

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Sebagai komponen utama dalam tatanan sosial masyarakat, para santri harus menjadi pribadi yang berkarakter unggul dan mampu membangun kemandirian ekonomi keluarganya. Sehingga para santri dapat menjadi contoh bagi masyarakat sekitarnya, bukan hanya dari sisi ibadah dan kesalehan ritual semata, tetapi juga dalam proses perjuangan ekonomi keluarga dan masyarakat.

Gusjigang, Konsep Kemandirian Ekonomi Santri Menara Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusjigang, Konsep Kemandirian Ekonomi Santri Menara Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusjigang, Konsep Kemandirian Ekonomi Santri Menara Kudus

Untuk membangun kemandirian ekonomi ini santri sejak awal sudah dibekali dengan jiwa enterpreneurship dan laku tirakat serta riyadhoh batin. Di dunia santri, konsep kemandirian ekonomi ini sudah diwariskan ? batin yang sudah diwariskan turun temurun sejak zaman walisongo hingga para ulama saat melawan penjajahan dan mendirikan bangsa Indonesia. ?

“Sunan Kudus dahulu mencanangkan konsep Gusjigang kepada para murid-muridnya. Konsep Gusjigang ini harus terus kita pertahankan untuk membangun masyarakat Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila. Santri harus membangun ekonomi keluarga dan masyarakatnya dengan berlandaskan pada keimanan kepada Allah, persatuan dan keadilan sosial,” tutur KH Nurhalim Ma’ruf Asnawi saat memberikan tausiyah kepada ratusan alumni Madrasah Qudsiyyah se-Jabodetabek dan sekitarnya dalam acara Roadshow Satu Abad Qudsiyyah, Ahad (22/5).

Ulama yang masih memiliki garis keturunan hingga Pangeran Puger dari Mataram ini menjelaskan, konsep Gusjigang berati seseorang harus tumbuh dan berproses sebagai pribadi unggul yang bagus perilakunya, pandai dan mengamalkan ilmu-ilmu agama serta berani berwirausaha atau berdagang untuk meningkatkan taraf ekonomi keluarga dan masyarakatnya. Konsep ini dahulunya dicanangkan oleh Sunan Kudus dengan mendirikan padepokan yang juga mengajarkan ketrampilan seni ukir dan batik serta perdagangan kepada para santrinya.?

“Selain usaha-usaha lahiriah berupa pekerjaan nyata, hendaknya para santri tidak pernah putus dalam mendawamkan dzikir-dzikir dan amalan-amalan untuk memohon kemurahan dan keberkahan rezeki dari Allah SWT,” terang ulama ahli gramatika bahasa Arab ini.

Kawit An Nur Slawi

Dengan kemandirian ekonomi dan bekal ilmu agama, diharapkan para alumni madrasah dan pesantren mampu tampil sebagai pemimpin masyarakat sesuai kemampuan dan titahnya masing-masing. Minimal dapat dijadikan contoh oleh lingkungan sekitarnya dalam menjalani hidup bermasyarakat bernegara sesuai ajaran para ulama.?

”Para santri boleh membuka usaha apa saja sesuai kemampuan dan keahliannya tanpa dibatasi, asalkan tidak bertentangan syariat. Selain itu jangan pernah melupakan dzikir-wirid dan rasa syukur kepada Allah agar dikarunia keberkahan hidup,” tandas ulama yang juga berprofesi sebagai pedagang pakaian ini.

Madrasah Qudsiyah Menara Kudus menggelar roadshow peringatan Satu Abad Qudsiyyah di enam propinsi pulau Jawa selama tiga bulan. Kegiatan ini diselenggarakan dan diikuti oleh para alumni Madrasah Qudsiyyah yang sekarang berbadan hukum Yayasan pendidikan Islam Qudsiyyah di setiap lokasinya. Akhir pekan ini, roadshow diselenggarakan di Jabodetabek dan sekitarnya dengan dihadiri oleh para guru dan pengurus Yayasan seperti KH Em. Nadjib Hassan, KH Halim Mahfudh Asnawi, KH Fatkhurrahman BA dan KH Ihsan dan M. Rikza Chamami dari perwakilan alumni Qudsiyyah Semarang. (Syaifullah Amin)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Santri, Ahlussunnah Kawit An Nur Slawi

Rabu, 08 Maret 2017

PMII Pabelan Gelar Pelatihan dan Pameran Desain

Solo, Kawit An Nur Slawi - Memperingati Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Pabelan UMS, Solo, Jawa Tengah menggelar berbagai rangkaian acara, selama tiga hari, Selasa-Kamis (10-12/1).

Ketua PMII Pabelan, Abdul Aziz Chabiburrahman, menjelaskan acara ini dihelat bersamaan dengan perayaan setahun hari lahir komunitas Desain Santri Indonesia (DSINDONESIA).

PMII Pabelan Gelar Pelatihan dan Pameran Desain (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pabelan Gelar Pelatihan dan Pameran Desain (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pabelan Gelar Pelatihan dan Pameran Desain

“Acaranya sudah dibuka sejak kemarin, yakni Pameran & Gerakan "Desain Seikhlasnya”. Konsepnya para pengunjung bisa memesan sebuah desain. Setiap pemesanan desain bentuk Wpap, Vector, dan sebagainya akan dikenakan biaya seikhlasnya, dan biaya tersebut akan dialokasikan untuk orang yang kurang mampu di daerah Surakarta,” papar Aziz kepada Kawit An Nur Slawi, Rabu (11/1).

Kemudian, lanjut Aziz, pada hari kedua diselenggarakan "Pelatihan Desain bersama DSINDONESIA". Para pesertanya umum dari berbagai kalangan.

Kawit An Nur Slawi

“Sedangkan untuk acara penutup, kita adakan pentas seni dan doa bersama, dilanjutkan dengan kegiatan bagi-bagi nasi bungkus,” kata dia.

Kawit An Nur Slawi

Ditambahkan Aziz, lokasi acara dipusatkan di Griya Lentera, Sekretariat PMII Pabelan Jl. Kasuari No. 109 Perum Nilasari, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pahlawan, Anti Hoax Kawit An Nur Slawi

Minggu, 05 Maret 2017

Anak Muda Harus Sikapi Perbedaan secara Kreatif

Yogyakarta, Kawit An Nur Slawi. Demontrasi, dalam iklim demokrasi merupakan satu keabsahan sebagai sarana menyampaikan aspirasi. Namun, keabsahan itu hanya akan maklum sepanjang tidak dilakukan dengan kekerasan atau melanggar hukum dan hak-hak asasi pihak lain.

Anak Muda Harus Sikapi Perbedaan secara Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Muda Harus Sikapi Perbedaan secara Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Muda Harus Sikapi Perbedaan secara Kreatif

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis se-Indonesia (FKMTHI) Enok Ghosiyah saat dihubungi melalui surel, menyoroti unjuk rasa 4 november mendatang.

"Kita sebagai kader muda bangsa Indonesia, jangan sampai terprovokasi atas isu yang kini berkembang liar. Sebagai akademisi yang concern pada wacana keIslaman, seyogyanya kita meneladani para ulama dan intelektual muslim masa lalu, yang mengedepankan kedewasaan berpikir dalam menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin," kata Enok.

Menurutnya, perdebatan soal keyakinan bukanlah hal baru. Hal ini pernah, misalnya, pada masa Dinasti Abbasiyah yang menyediakan semacam, "majlis" khusus bagi perdebatan teologis, terutama antara intelektual Muslim dan pemikir Kristen.

Kawit An Nur Slawi

"Namun, yang menarik adalah dalam forum itu, mereka tidak hanya rileks dalam bertukar pikiran, bahkan memprakarsai forum untuk beradu argumen secara sehat dan bersahabat. Hal ini dapat terwujud, sebab yang dikedepankan adalah kedewasaan berpikir dalam menyikapi perbedaan secara konstruktif dan kreatif," tegas perempuan asal Banten ini.

Terakhir, Sekjen FKMTHI menghimbau kepada para kader muda Tafsir Hadis Indonesia, untuk tetap tenang, serta tidak mudah termakan isu atau terprovokasi. Sebab, turun ke jalan bukanlah penyelesaian. Karena yang musti senantiasa dikedepankan oleh generasi muda adalah menjaga keutuhan bangsa dengan menyikapi keragaman secara kreatif dan sehat. (Anwar Kurniawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Pahlawan, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Jumat, 03 Maret 2017

Gus, Mungkin Kau Tak Pernah Tahu

Gus, seumur hidup, saya pernah melihat tampang dan tubuhmu secara langsung hanya di dua kali kesempatan. Yang pertama saat dirimu datang di acara Haul Sesepuh Almarhumin di Buntet Pesantren Cirebon. Kedua, saat dirimu menghadiri acara pentas musik Cak Nun dan Kiai Kanjeng di UIN Jakarta.

***

Gus, Mungkin Kau Tak Pernah Tahu (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus, Mungkin Kau Tak Pernah Tahu (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus, Mungkin Kau Tak Pernah Tahu

Gus, selamat, kelahiran partai yang kaubidani, yang resmi menjadi peserta pemilu tahun 1999 itu sudah menjadi juru damai buat dua kubu kiai-kiai (dalam soal politik waktu itu) di Buntet Pesantren Cirebon, tempat saya nyantri dulu. Sebelum partaimu itu ada, dua kubu ini (Kiai Golkar dan Kiai PPP) sering gontok-gontokan cocot dan pemikiran.

Sebenarnya waktu itu kami tidak peduli soal itu, kami tidak mengerti, Gus. Tapi kami jadi jengkel juga, sebab yang menjadinya peluru buat perang mereka, ya kami, para santri. Jadi, Gus, Kalau kiai A kesal sama kiai B, maka biasanya santri kiai A yang dicecar sama Kiai B, kena omel, dan lain sebagainya.

Kawit An Nur Slawi

Tapi Gus, setelah partaimu itu terbentuk, dua kubu itu runtuh, para kiai menjadi tersatukan dalam satu rumah. Kami tentu senang, terlebih kami tak lagi jadi bulan-bulanan. Terima kasih Gus. Oh iya, Gus, namamu saat itu menjadi sangat terkenal. Saya juga menjadi merasa kenal dengan dirimu.

Kawit An Nur Slawi

Gus, mungkin kau tak pernah tahu jika partai yang kaudirikan datang seperti membawa ‘ajaran’ baru untuk saya. Mohon maaf, waktu itu dirimu pun saya anggap seperti ‘nabi’ baru. Tidak mangkir, dirimu sangat saya idolakan.

Gus, mungkin kau tak pernah tahu kalau musim kampanye adalah musim yang paling saya nanti-nanti. Usai sekolah setengah hari, biasanya seluruh santri langsung disuruh ikut kampanye, itu artinya ngaji kitab Kuning diliburkan. Itu salah satu bagian yang paling saya suka, Gus, Libur! Tapi sejujurnya, libur ngaji itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan impian saya untuk bertemu dengan dirimu, Gus. Ini jujur Gus.

Gus, saat konvoi, di jalanan kami selalu meneriakkan, “Apa jare Gus Dur! Apa jare Gusdur!”

Jujur, Gus, waktu itu bahkan saya tak pernah tahu dirimu pernah bilang apa, tapi sungguh kalimat itu seperti mantra yang menguatkan kami seharian konvoi keliling kota. Biasanya kami juga berpapasan juga partai lain yang terkadang teriak-teriak menghina dirimu.

Kalau mendengar itu darah saya langsung naik, marah, sedih, dan terluka. Aneh, Gus, mengapa saya harus marah, sedih, dan terluka? Saya ini tidak pernah kenal siapa dirimu, yang saya tahu tentang dirimu hanya cerita kalau dirimu adalah wali yang kalau ada yang menghinamu, orang itu pasti celaka. Itu saja yang saya tahu.

Gus, mungkin kau tak pernah tahu, pertemuan perdana saya denganmu benar-benar baru terjadi setelah cukup lama saya mendengar banyak kisah tentangmu. Waktu itu dirimu mendatangi acara Haul Sesepuh di Buntet Pesantren. Kebetulan jalan menuju acara itu melewati asrama saya, Gus. Kami berebutan mengambil posisi di samping tembok asrama. Semuanya mau melihatmu yang selama ini cuma menjadi dongeng. Semuanya mau melihatmu dengan mata telanjang.

Saya menyiapkan kamera poket, memotomu untuk kenang-kenangan. Tapi anehnya, ketika dirimu lewat, kamera itu sama sekali tidak berfungsi. Padahal sebelumnya kami sempat foto-foto, setelah dirimu lewat, kamera itu kembali berfungsi. Sampai saat ini saya belum mendapat alasan peristiwa itu, Gus.

Gus, mungkin kau tak pernah tahu, pertemuan kedua saya dengan dirimu terjadi di UIN Jakarta, tempat saya melanjutkan studi setelah nyantri. Di situlah dengan gamblang saya dapat melihat dirimu secara utuh dan berlama-lamaan. Kau duduk di atas kursi, di sampingmu ada Cak Nun. Kau banyak cerita soal kebandelan-kebandelanmu saat kuliah di Mesir. Kau cerita soal kegemaranmu pada musik klasik. Kau cerita kau suka simfoni nomor sembilannya Beethoven dan simfoni nomor empatnya Mozart.

Gus, saya menyesal, mungkin kebanyakan orang juga sama dengan saya, saya hanya bisa mengenalmu lewat tulisan-tulisanmu. Tapi, Gus, terima kasih sudah lahir di bumi ini. Kau sosok yang karismatik. Humor-humormu cerdas, wawasan, dan pemikiranmu yang sering mendobrak itu sudah membuka sekat-sekat apa pun itu, agama, status sosial, warna kulit, laki-laki perempuan, semuanya.

Gus, membaca karya-karyamu membuat pikiran saya terbuka. Cara berpikirmu begitu jernih. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana jika karya-karyamu ini sudah saya baca ketika sekolah, pasti dirimu kuanggap benar-benar nabi! Gus, membaca pemikiranmu membuat saya merasa bangga pernah teriak-teriak “Apa jare Gus Dur!” di jalanan. Sebab, mantra “Apa Jare Gus Dur” yang keramat itu kini mulai kupahami sedikit demi sedikit.

Tapi Gus, biar bagaimana pun, kau tetap hanyalah manusia biasa yang diberikan kelebihan oleh Tuhan, tidak lebih dari itu. Kudoakan semoga kau selalu diberikan keselamatan di dalam kubur dan hari akhir kelak. Doakan saya juga semoga kultus saya kepadamu dulu bisa dimaklumi Tuhan. (Hijrah Ahmad (@hijrahahmad)

Jakarta, 19 Desember 2013

Hijrah Ahmad, Editor Buku, Alumni Pondok Buntet Pesantren Cirebon (1996-2002)

Dalam rangka peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Kawit An Nur Slawi akan memuat tulisan anak-anak muda tentangnya. Setiap hari akan dimuat satu tulisan. Jika ingin turut berpartisipasi, sila kirim tulisan Anda ke redaksi@nu.or.id.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ulama, Nasional, Internasional Kawit An Nur Slawi