Sabtu, 29 Juni 2013

Kesan Kang Said Usai Lawatannya ke Tiongkok

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berterima kasih kepada Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia karena telah memberikan pelayanan saat ia dan rombongan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berkunjung ke Tiongkok beberapa hari yang lalu.

“Saya dan rombongan mengucapkan terima kasih kepada Duta Besar Tiongkok di Jakarta atas fasilitas, penyambutan, dan semua lah,” kata Kiai Said saat diwawancarai Kawit An Nur Slawi di kantornya di Gedung PBNU Lantai 3, Senin, (25/4).

Kesan Kang Said Usai Lawatannya ke Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesan Kang Said Usai Lawatannya ke Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesan Kang Said Usai Lawatannya ke Tiongkok

Kang Said mengatakan bahwa ia dan rombongan mendapatkan sambutan yang hangat dan meriah dari pemerintah Tiongkok dan Perkumpulan Muslim Tiongkok. “Baik di Beijing, Xinjiang, maupun di Sha’an Xi,” tuturnya.

“Dan alhamdulillah saya bisa tukar-menukar (pikiran) dengan pemimpin-pemimpin asosiasi Islam Tiongkok tentang radikalisme, terorisme, dan Islam Nusantara,” lanjutnya.

Kawit An Nur Slawi

Ia menilai bahwa Islam Nusantara bisa menjadi rujukan untuk perdamaian umat Islam dunia, karena Islam Nusantara itu berbudaya, santun, toleran, dan melebur dengan kearifan lokal. 

“Sudah saatnya Islam Indonesia, dalam hal ini NU menjadi kiblat rujukan Islam dunia,” tegas Kang Said. 

Sementara itu, Atase Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia Li Jibin menjelaskan bahwa kerukunan antar umat beragama terjaga dengan baik di Tiongkok, hal tersebut bisa dilihat di salah satu provinsi Xinjiang.   

Kawit An Nur Slawi

“Di (Provinsi) Xinjiang yang mayoritas (penduduknya muslim) tapi hidup rukun, baik dengan komunitas agama yang lain. Kemudian di Provinsi Sha’an Xi juga seperti itu,” katanya. 

Di Tiongkok, imbuh Jibin, umat Islam juga mendapatkan dukungan dari pemerintah seperti pendanaan untuk pengelolaan masjid Hantagri, masjid tertua di Provinsi Xinjian. “Di situ dianggarkan berupa alokasi untuk pengelolaan masjid termasuk imam-imam masjid. Itu semua dana operasionalnya dari APBD,” jelasnya.

Kedatangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut merupakan jawaban atas undangan yang disampaikan oleh Komunitas Muslim Tiongkok. Namun demikian, lawatan tersebut difasilitasi oleh Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi RMI NU, Amalan, Tegal Kawit An Nur Slawi

Rabu, 26 Juni 2013

Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh

Banda Aceh, Kawit An Nur Slawi. Wakil Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengunjungi Pengurus Wilayah Nahdhlatul Ulama (PWNU) Aceh di Kantor PWNU Aceh kawasan Lueng Bata-Banda Aceh, Ahad (6/5).



Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh

Nasaruddin hadir ke Aceh dalam rangka memenuhi undangan seminar Harlah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) Aceh, di Banda Aceh, Sabtu(5/5).

“Secara psikologis, silaturahim itu dahsyat. Memperpanjang umur kata Rasululah Saw. Apa yang kita lakukan ini, manifestasi dari silaturahim,” ujar Nasaruddin.

Kawit An Nur Slawi

“Saya juga mengajak kepada teman-teman pengurus NU, saya titipkan Pak Kanwil kita. Dalam artian begini, tegur kalau dia salah. Kemudian dibantu apa yang bisa dibantu,” lanjutnya disambut tepuk tangan.

Kawit An Nur Slawi

Dalam kesempatan itu, Ketua PWNU Aceh Tgk. H. Faisal Ali menyampaikan beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan di Aceh. “Dalam waktu dekat juga PWNU Aceh akan mengadakan Diklat Hisab dan Rukyat se-Sumatera yang akan dilaksanakan di Banda Aceh,” kata Lem Faisal, begitu Tgk. H Faisal Ali biasa disapa.

Puluhan pengurus NU Aceh hadir pada acara silaturahim itu. Di antaranya, Kakamenag Aceh H Ibnu Sa’dan, Wakil Ketua PWNU, Sekretaris PWNU Aceh, Ustad Asnawi M. Amin, para anak muda NU Aceh. Rais Syuriah PWNU Aceh Tgk. H. Ibrahim Hasyim menutup acara dengan doa.

Kontributor: Muhadzdzier M Salda

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaNu, Anti Hoax, Halaqoh Kawit An Nur Slawi

Senin, 03 Juni 2013

Menag Jelaskan Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar

Jakarta, Kawit An Nur Slawi



Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan, seorang dai harus mengetahui kapan ia melaksanakan dakwah dan kapan ia menerapkan amar makruf nahi munkar (mengajak kepada yang baik dan mencegah yang mungkar) agar tidak terjadi benturan. Baginya, keduanya memiliki tempat masing-masing.

Lukman menerangkan, mengajak atau dakwah ditujukan kepada mereka yang belum melaksanakan nilai-nilai kebajikan Islam atau memeluk agama Islam. Sementara, apabila mereka sudah masuk Islam, tetapi belum menjalankan ajaran-ajaran kebajikan Islam maka dijalankanlah amar makruf nahi munkar (mengajak kepada yang baik dan mencegah yang mungkar) ? atas mereka.

Menag Jelaskan Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Jelaskan Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Jelaskan Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar

Lebih jauh, ia mencontohkan bahwa seorang kernet hanya akan mengajak mereka yang masih berada di luar bus, sementara yang di dalam tidak diajak lagi. Sementara yang sudah di dalam bus, maka mereka diminta untuk melunasi kewajibannnya.

“Bagi yang di dalam maka diterapkan amar ma’ruf nahi munkar, tetapi yang di luar di dakwahi,” ucapnya saat menjadi pemateri dalam acara Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 yang diselenggarakan atas kerja sama Lembaga Dakwah PBNU dengan Hidmat Muslimat NU di Lantai 8 Gedung PBNU, Senin (29/5).

Lebih jauh, alumni pesantren Gontor itu menambahkan, urusan umat Islam adalah mengajak, sementara urusan apakah dia nanti masuk Islam atau tidak itu menjadi urusan Allah. Lalu, ia mengajak peserta pelatihan untuk merenungi sebuah pertanyaan tentang sebenarnya umat Islam itu dituntut untuk apa.

Kawit An Nur Slawi

“Yang di tuntut dari kita itu apakah banyak-banyakan umat? Atau yang dituntut dari kita adalah mengajak orang untuk berbuat bajik? Karena hidayah itu dari Allah, bukan porsi kita untuk menjadikan seseorang menjadi Islam,” urainya.

Kalau seandainya yang dituntut adalah agar banyak-banyakan umat, imbuh Lukman, maka akan terjadi perselisihan antara pemeluk agama karena saling berebut umat.?

Kawit An Nur Slawi

“Kalau ini terjadi, maka akan bertengkar (antar sesama umat agama),” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi IMNU Kawit An Nur Slawi