Sabtu, 21 Januari 2017

Lagu Mbah Wahab "Ya Ahlal Wathan" Dilombakan

Jombang, Kawit An Nur Slawi. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jombang berencana menggelar lomba lagu nasionalisme "Ya Ahlal Wathan"? ciptaan KH Abdul Wahab Chasbullah untuk kalangan pelajar dan santri pada 20 Februari 2015 di MA Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

"Sebagai organisasi pelajar, IPNU dan IPPNU ingin lebih mengenalkan bahwa nasionalisme atas bangsa Indonesia sudah diajarkan para ulama pendiri NU jauh sebelum Kemerdekaan RI. Dan lagu Ya Ahlal Wathan sangat menggugah semangat kaum pelajar dan generasi muda," ujar Rosyid, Ketua PC IPNU Jombang saat ditemui di Kantor PCNU Jombang, Rabu (4/2).

Lagu Mbah Wahab Ya Ahlal Wathan Dilombakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagu Mbah Wahab Ya Ahlal Wathan Dilombakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagu Mbah Wahab "Ya Ahlal Wathan" Dilombakan

Di samping lagu " Ya Ahlal Wathan" , lomba dalam rangka “Refleksi? Hari Lahir IPNU ke-61 dan IPPNU ke-60” itu juga melombakan lagu mars IPNU dan IPPNU, serta mengadakan pemilihan duta IPNU dan IPPNU. "Pesertanya bebas dari sekolah dan pesantren mana saja namun masih berstatus pelajar dengan usia antara 15-20 tahun," imbuhnya.

Kawit An Nur Slawi

Karena sasarannya pelajar santri, Auliya, sekretaris IPPNU menambahkan, ada beberapa persyaratan yang harus dipersiapkan peserta. Salah satunya adalah pemahaman tentang ke-NU-an,? ke-Aswaja-an, serta terkait IPNU dan IPPNU.

"Ini nanti akan ditanyakan ketika peserta mulai mengikuti lomba, sehingga penanaman tentang? NU, Aswaja Annahdliyah serta organisasi IPPNU dan IPPNU juga lebih dikenalkan," tandasnya.

Kawit An Nur Slawi

Untuk peserta lomba terdiri dari 10 orang setiap kelompoknya. Boleh laki-laki semua, atau pelajar putri semua, dan boleh juga separuh pelajar putra dan separuhnya putri. "Pemenang bakal mendapat tropi dan piagam penghargaan," pungkas Aulia. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kyai, Ulama, Cerita Kawit An Nur Slawi

Jumat, 20 Januari 2017

Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak

Dalam masyarakat kita ada kecenderungan sebagian orang memandang sebelah mata mereka yang tak bisa memberikan keturunan. Apalagi jika mereka perempuan. Beberapa suami menceraikan istrinya hanya karena ia mandul. Hal seperti ini ? dialami seorang wanita yang Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994) memanggilnya “Bulik” untuk “mbasakke” anak-anak Mbah Ngis. Memang masih ada hubungan kerabat antara Mbah Ngis dengannya meski tidak sangat dekat. Sebut saja perempuan itu beranama Bulik Fulanah.

Betul. Bulik Fulanah dicerai suaminya hanya karena tak bisa memberikan keturunan. Sejak itu Bulik Fulanah hidup menjanda. Suami tak ada. Anak tak punya. Kakak atau adik sudah tiada. Orang tua juga sudah lama meninggal dunia. Bulik Fulanah tak punya keluarga. Ia sebatang kara. Masih beruntung ada keponakan yang bersedia menampung hidupnya di rumah di sebuah kampung yang padat penduduk.?

Bulik Fulanah hidup menderita. Ia tak punya apa-apa alias miskin. Jika diperbandingkan, Bulik Fulanah sangat kontras dengan Mbah Ngis meskipun ada beberapa persamaan, seperti sama-sama bukan orang kaya yang berjualan makanan kecil. Bulik Fulanah tak memiliki seorang anak pun. Mbah Ngis memiliki 13 anak. Bulik Fulanah dikenal suka banyak bicara. ? Sedangkan Mbah Ngis cukup tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Kebiasaan banyak bicara yang topiknya tidak selalu menarik kadang membuat beberapa orang tak menyukai Bulik Fulanah.?

Empati  Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak (Sumber Gambar : Nu Online)
Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak (Sumber Gambar : Nu Online)

Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak

Tetapi bagi Mbah Ngis, semua kekurangan Bulik Fulanah tak dipermasalahkan. Mbah Ngis cukup toleran terhadap hal-hal yang bersifat pribadi. Mbah Ngis cukup mengerti tidak setiap orang berpengatahuan luas atau memiliki banyak pengalaman menarik untuk diceritakan kepada orang lain. Mbah Ngis malahan menaruh iba yang mendalam terhadap nasib Bulik Fulanah sebagai sesama saudara sekaligus sesama perempuan.?

Sudah lama Mbah Ngis bertanya pada diri sendiri kapan bisa menyenangkan Bulik Fulanah dengan memberikan atau mewujudkan sesuatu yang membuatnya berbesar hati. Mbah Ngis lama berpikir soal itu hingga akhirnya Mbah Ngis menemukan gagasan.?

Kawit An Nur Slawi

Gagasan itu adalah mengajaknya pergi ke Jakarta, sebuah kota metropolitan dengan segala kemegahannya. Mbah Ngis sendiri belum pernah ke Ibu Kota. Kali ini ada kesempatan bagi Mbah Ngis pergi ke sana, tapi bukan karena Mbah Ngis memiliki banyak uang. Salah seorang keponakan Mbah Dullah di Jakarta mempunyai hajat menikahkan putrinya.?

Keponakan itu cukup mapan secara ekonomi karena ia seorang pejabat penting. Mbah Ngis dan Mbah Dullah diundang menghadiri resepsi perkawinan itu. Segala sesuatu terkait dengan transportasi, konsumsi dan akomodasi selama di perjalanan Jakarta pulang-pergi sudah ada yang mengurus dan semuanya ditanggung oleh sang keponakan. Mbah Ngis dan Mbah Dullah tinggal menyiapkan diri, terutama kesehatannya, agar bisa hadir. Mbah Ngis sangat senang atas undangan ini dan bersyukur karena semua fasiltas tersedia secara cuma-cuma.?

Rasa syukur itu diwujudkan Mbah Ngis dalam bentuk menyisihkan selama sebulan penuh uang hasil berjualan makanan kecil setiap hari di pondok. Mbah Ngis ingin sekali mengajak Bulik Fulanah ke Jakarta dengan seluruh biaya ditanggung Mbah Ngis.?

Benar. Mbah Ngis, Mbah Dullah dan Bulik Fulanah serta rombongan lain dari Solo berangkat bersama ke Jakarta dengan menaiki Kereta Api Senja Utama. Itu adalah kali pertama dan terakhir bagi Mbah Ngis dan Bulik Fulanah pergi ke Jakarta. Juga merupakan kali pertama dan terakhir menaiki kereta api kelas bisnis.?

Sekembalinya ke Solo, Bulik Fulanah memiliki banyak cerita tentang Jakarta dan orang-orang besar yang dilihatnya di resepsi pernikhan putri keponakan Mbah Dullah. Banyak orang tertarik menyimaknya meski ada sebagian kecil berpura-pura tak mendengar. Yang pasti mereka semua menikmati “oleh-oleh” yang dibawa Bulik Fulanah dari Jakarta. ? Peristiwa ini terjadi puluhan tahun lalu di awal tahun 1990-an.?

Kawit An Nur Slawi

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Bahtsul Masail, Pahlawan, Santri Kawit An Nur Slawi

Kamis, 19 Januari 2017

NU Kota Malang Gelar Dialog dengan Rektor Universitas al Ahgaff

Malang, Kawit An Nur Slawi. Acara Seminar Nasional, Ceramah dan Dialog Ilmiah bersama Prof. Al Habib Abdullah Muhammad Baharun (Rektor Universitas al Ahgaff, Hadramaut-Yaman), yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Malang bekerja sama dengan Aswaja Center Malang dan Gerakan Aswaja Malang (Gamal) pada Sabtu (1/4), berlangsung khidmah.

NU Kota Malang Gelar Dialog dengan Rektor Universitas al Ahgaff (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kota Malang Gelar Dialog dengan Rektor Universitas al Ahgaff (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kota Malang Gelar Dialog dengan Rektor Universitas al Ahgaff

?

Acara yang ikuti ratusan jamaah dan pengurus NU dari berbagai tingkatannya ini, dilaksanakan di Pondok Darut Talim Wad Dawah, daerah Bumiayu Malang. Acara dimulai sekitar pukul 15.00 WIB sampai selesai, dengan mengusung tema Manhaj Ahlussunnah wal Jamaah Menghadapi Berbagai Tantangan.

Sayyid Abdullah Baharun menuturkan, umat dewasa ini memperoleh pemahaman agama harusnya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist, tapi perlu juga disempurnakan dengan sumber lain yaitu ijma dan qiyas, yang mana hal tersebut dapat diperoleh dari para ulama. Inti Ahlussunnah sebagaimana disepakati ulama adalah dalam bidang aqidah mengikuti Imam Asyari dan Maturidi, dalam bidang fiqih mengikuti salah satu dari empat madzhab, yaitu Syafii, Hanafi, Maliki, dan Hambali, serta dalam bidang tasawuf mengikuti Imam Junaid Al Baghdadi atau Imam Ghazali. Setelah berilmu, yang paling penting juga adalah adalah beramal, bukan hanya memiliki ilmu.

Kawit An Nur Slawi

Dikatakannya, dewasa ini banyak aliran yang mengaku Ahlussunnah tapi menjelakkan ulama tasawuf, seperti imam Ghazali. Padahal intisari tasawuf adalah ihsan, dan setingkat lebih tinggi menjadi muhsin, yang bisa memberikan kemaslahatan untuk ummat. "Tasawuf sendiri akan menuntun agar memiliki jiwa bersih, mengosongkan dari hal-hal kotor atau dosa-dosa," tuturnya.

Acara di pandu oleh tersebut KH Atoillah Wijayanto, Rais Syuriyah PCNU Kota Malang. Turut mendapingi pula Ustadz Faris Khoirul Anam, Alumni Universitas al Ahgaff Yaman, yang juga anggota dewan pakar Aswaja Center PWNU Jawa Timur.

Setelah acara seminar selesai, Habib Abdullah Baharun melanjutkan dengan acara peresmian Pesantren Darul Faqih Malang. Lalu acara ramah tamah dan silaturahmi ke Walikota Malang HM Anton, yang juga Bendahara PCNU Kota Malang. (Achmad Diny Hidayatullah/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Sejarah Kawit An Nur Slawi

Rabu, 18 Januari 2017

Kiai ini Pasang Logo NU di Rumahnya sebagai Penangkal HTI

Awalnya ia merasa biasa saja menerima tamu dan berbincang mengenai banyak hal, terutama tentang dakwah. Kiai muda ini gampang bergaul dengan siapa saja. Namun seorang tamu istimewa terus datang dan datang lagi membujuknya bergabung dengan organisasi HTI. Kiai muda itu akhirnya memasang logo NU berukuran besar di atas pintu rumahnya, dan tamu itu tak berani datang lagi.

Kiai muda itu adalah KH M. Salmanuddin, pengasuh Pondok Pesantren Babus Salam, Jatibening Mojoagung Jombang. Pekan lalu pesantrennya mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Uama (PKPNU) yang dihadiri oleh para instruktur dari PBNU Jakarta dan diikuti oleh para kader NU dari luar daerah Jombang.

Ada 574 santri yang belajar di pesantren Babus Salam. Sebagian di antaranya dibiayai secara penuh oleh pihak pesantren dan beberapa orang tua asuh.

Kiai ini Pasang Logo NU di Rumahnya sebagai Penangkal HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai ini Pasang Logo NU di Rumahnya sebagai Penangkal HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai ini Pasang Logo NU di Rumahnya sebagai Penangkal HTI

Dari penampilannya, KH M. Salmanuddin atau Gus Salman sepertinya masih berusia 40-an. Namun ia cukup sukses dalam dunia usaha. Selain mengasuh pesantren, ia juga mengembangkan Baitul Maal Wal Tamwil (BMT) yang bergerak di bidang permodalan. Omsetnya sekitar empat miliar rupiah. Ia juga mengembangkan bisnis travel.

Gus Salman juga mendapatkan amanah untuk memimpin Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di Kabupaten Jombang, sehingga ia cukup menarik perhatian seorang tamu istimewa.

Tamu istimewa itu bernama Abdurrahman. Ia berasal dari Dawar Mojokerto. Gus Salman memanggilnya Durrohman, seperti orang Jombang Kebanyakan. Mereka pernah berkawan saat belajar di Institut Keislaman Hasyim Asyari? (IKAHA) Jombang.

Mereka lama tidak bertemu. Konon Durrohman kini juga menjadi seorang pengusaha sedot WC yang lumayan sukses, dan satu lagi ia menjadi seorang aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Durrohman mencoba membujuk Gus Salman untuk bergabung dengan HTI, meskipun ia tahu yang diajaknya itu adalah orang NU yang tidak mungkin setuju dengan ide khilafah yang diusung orang HTI. Bagi orang NU, Pancasila dan NKRI itu sudah harga mati.

Kawit An Nur Slawi

“Namanya juga teman, ya saya biasa saja. Tapi lama-lama kok datang terus dia ke rumah,” kata Gus Salman, Jum’at (6/3), di sela kegiatan PKPNU.

Kawit An Nur Slawi

“Saya sudah bilang kalau saya orang NU, tapi dia terus berusaha. Kegigihan orang HTI memang pantas diacungi jempol,” katanya. Durrohman juga menawarinya fasilitas dan jabatan sebagai tokoh HTI. “Saya tidak tahu jabatannya apa di HTI, tapi sepertinya dia koordinator bagian Jombang,” tambahnya.

Aktivis HTI itu tidak hanya datang. Ia juga berkali-kali menghubunginya lewat telepon. Ia memberikan buku-buku gratis. Ia juga sering ikut pengajian NU di beberapa tempat. “Ia juga membawa laptop dan LCD sebagai perbekalan,” kata Gus Salman.

Durrohman terus membujuk dengan berbagai cara. Ia terus datang ke rumah. Gus Salman kehabisan cara. Muncullah ide memasang logo NU besar-besar di pintu rumahnya.

Suatu ketika Durrohman datang lagi ke rumah. Sebelum masuk, Gus Salman langsung menunjukk logo NU di depan pintunya. “Itu lihat, rumah saya saja NU, apa lagi orangnya!” katanya dengan suara keras. Semenjak itu, orang HTI tidak pernah datang lagi. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi IMNU Kawit An Nur Slawi

Selasa, 17 Januari 2017

Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja

Depok, Kawit An Nur Slawi. Seperti apakah Islam ahlusunnah wal jamaah (aswaja) itu? Demikian pertanyaan yang disampaikan oleh Katib Aam PBNU KH Malik Madany kepada para hadirin dalam forum pra munas dan konbes NU di Pesantren Al Hikam Depok, Sabtu (30/8).

Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja

Ia lalu menjelaskan bahwa aswaja adalah berislam yang wajar-wajar saja seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Dalam sebuah hadist dikisahkan para sahabat yang berdebat orang Islam yang paling baik seperti apa. Ada yang berpendapat, yang paling banyak puasanya, yang lainnya, yang shalat terus dan ada yang tidak mau menikah. Lalu ketika Rasulullah mendengar perkataan para sahabat tersebut, ia berkata “Demi Allah, aku orang yang paling takut pada Allah, aku puasa tetapi juga berbuka, aku shalat dan juga tidur dan aku juga kawin.”

Dalam sebuah hadist lain, Rasulullah juga menyampaikan pesan. “Barangsiapa tidak senang dengan sunnahku, maka bukan termasuk golonganku.”

Kawit An Nur Slawi

“Karena itu, Islam yang benar adalah Islam yang menyeimbangkan kepentingan duniawi dan ukhrawi,” kata Malik Madany, yang juga pengajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Ia merasa prihatin dengan maraknya kelompok Islam ekstrim yang gampang sekali mengkafir-kafirkan golongan lain yang tidak masuk kelompoknya.

Kawit An Nur Slawi

“Mereka seolah-olah seperti kepala dinas pengkaplingan surga yang sudah mendapatkan SK dari Allah yang beranggapan, siapa yang berhak masuk surga, hanya saya dan teman-teman.” ?

Karena itu, dalam munas dan konbes yang akan digelar pada 1 November mendatang, salah satu materinya adalah khilafah Islamiyah perspektif NU. (mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaSantri, AlaNu, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

PBNU Minta Ahkamul Fuqoha Direvisi

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Kumpulan keputusan Muktamar, Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) mulai 1926-2004 yang dirangkum dalam buku "Ahkamul Fuqoha: Solusi Hukum Islam" yang kini beredar luas di masyarakat dinilai tidak memenuhi standar. Karena itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta penerbit Diantama untuk merevisi dan menghilangkan bagian-bagian yang tak perlu.

Wakil Ketua Lajnah Bahtsul Masail PBNU HM Cholil Nafis menjelaskan, kesalahan paling fatal dari penerbitan tersebut adalah dimasukkannya draf materi Muktamar NU XXXI tentang hermeneutika yang telah ditolak oleh muktamirin (peserta muktamar).

PBNU Minta Ahkamul Fuqoha Direvisi (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Ahkamul Fuqoha Direvisi (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Ahkamul Fuqoha Direvisi

“Muktamirin telah memutuskan untuk menolak hermeneutika, NU memiliki metode sendiri. Pemuatan kembali draf tersebut seolah-olah untuk menggugat keputusan muktamar. Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa, tapi kalau sudah diputuskan, harus dipatuhi bersama,” katanya kepada Kawit An Nur Slawi, Sabtu.

Lebih lanjut, Nafis menjelaskan, materi hermeneutika tersebut masih disertai oleh kritik dan komentar yang dinilainya tak sesuai untuk mengkritisi keputusan PBNU.  “Bagaimana mungkin, keputusan muktamar disandingkan dengan komentar dari pengurus lajnah bahtsul masail PCNU Pasuruan dan fungsionaris PC PMII Sumenep,” tandasnya.

Catatan editor yang ditulis oleh Imam Ghozalie Said juga dianggap tak perlu ditampilkan. PBNU beranggapan bahwa catatan editor tersebut seolah-olah menggambarkan metode bahtsul masail atau istimbat NU berdasarkan analisis sendiri, padahal NU sudah memiliki istimbat sendiri berdasarkan Munas Lampung tahun 1992 dan Muktamar Solo pada 2004 lalu.

Kawit An Nur Slawi

“Jika menerbitkan kumpulan keputusan-keputusan NU tak perlu dikasih analisis, komentar atau kritik, bikin saja buku tersendiri untuk itu agar tidak bias. Cukup ditulis apa yang diputuskan,” tegasnya.

Beberapa hal lain yang harus diperbaiki adalah tidak adanya kata-kata bismillah dalam kata pengantar oleh Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudz maupun sambutan Ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi, padahal pengantar penerbitnya saja diberi bismillah. Lay out (tata letak) pengantar tersebut juga dikritik PBNU kurang bagus karena terlalu dekat jaraknya dengan tepi halaman.

Kawit An Nur Slawi

Selain itu, adanya tulisan “Rekomendasi PBNU” dinilai menyesatkan karena PBNU secara resmi belum pernah mengeluarkan surat rekomendasi untuk penerbitan buku ini. “Katanya mereka pernah minta izin secara lisan, tapi namanya organisasi kan harus ada surat resmi,” tuturnya.

Lajnah Bahstul Masail NU berencana menerbitkan kembali keputusan-keputusan NU tersebut. “Nanti bisa tematik berdasarkan masalah-masalah tertentu maupun komprehensif yang merupakan seluruh keputusan yang telah dibuat,” tambahnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaSantri, Internasional Kawit An Nur Slawi

Minggu, 15 Januari 2017

Mahasiswa Majalengka Sayangkan Kenaikan Harga BBM

Majalengka, Kawit An Nur Slawi. Puluhan mahasiswa menggelar unjuk rasa bersama menuntut pemerintah membatalkan kebijakan penaikan harga BBM bersubsidi. Di depan Gedung DPRD Majalengka jalan KH Abdul Halim, Selasa (18/11) siang, mereka menyampaikan aspirasinya agar pemerintah mencari jalan lain untuk meningkatkan pendapatan APBN.

Mereka yang berunjuk rasa terdiri atas gabungan aktivis PMII, HMI, GMNI, Persatuan Pekerja Seluruh Indonesia (PEPSI), dan senat mahasiswa sekabupaten Majalengka.

Mahasiswa Majalengka Sayangkan Kenaikan Harga BBM (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Majalengka Sayangkan Kenaikan Harga BBM (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Majalengka Sayangkan Kenaikan Harga BBM

Koordinator aksi Jajang Sudiana menilai, kebijakan pencabutan subsidi BBM menyakiti hati rakyat Indonesia. Terbukti, rezim baru telah dating. Tidak ada bedanya dengan rezim sebelumnya. Karena, BBM merupakan modal rakyat dalam menggerakkan usaha, pertanian, perdagangan, dan lain sebagainya.

Kawit An Nur Slawi

Ketua PMII Majalengka Iwan Irwanto mengatakan, kenaikan BBM menyengsarakan rakyat. Kebijakan itu, dinilainya, terlalu instan. Pemerintah semestinya mengambil langkah lain seperti mengoptimalisasi pengelolaan pajak dan memberantas mafia migas.

Kawit An Nur Slawi

“Meskipun kenaikan hanya Rp. 2000, dampak sosialnya cukup signifikan seperti kenaikan bahan pokok, transportasi mahal, lahan pekerjaan menjadi sulit,” kata Iwan.

Menurut Iwan, kartu sakti Jokowi sebenarnya bukan solusi, justru mendidik masyarakat menjadi konsumtif. Tidak ubahnya seperti BLT dan BLSM. Hanya saja berbeda model dan brandingnya.

Aksi dimulai pada pukul 09.00. Mereka berkumpul di kantor Sekretariat PMII Majalengka untuk kemudian bertolak menuju Gedung DPRD Majalengka. Sepanjang long march, mereka berorasi dan menggelar aksi teaterikal. (Aris Prayuda/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Humor Islam Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 14 Januari 2017

Merah Putih akan Hiasi Mina

Makkah, Kawit An Nur Slawi. Sebanyak 350 petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) diterjunkan untuk membantu kelancaran proses ibadah mabit (bermalam) dan melontar jumroh di Mina. Mereka juga bertugas mengibarkan bendera merah putih agar Calhaj Indonesia tidak tersesat.

"Sebagian ditugasi membawa bendera dan mengibarkan-ngibarkannya untuk membantu jamaah yang kebingungan dan tersesat pulang ke tendanya setelah melempar jumroh,"kata Kasatgas Mina Subakin Abdul Muthalib di markas pemondokan petugas haji Mina di Rusyaifah, Makkah, Jumat (12/11).

Merah Putih akan Hiasi Mina (Sumber Gambar : Nu Online)
Merah Putih akan Hiasi Mina (Sumber Gambar : Nu Online)

Merah Putih akan Hiasi Mina

Para petugas tersebut membawa bendera, sehingga Merah-Putih bakal menghiasi kawasan Mina. Mengapa? Sebab, yang paling dikhawatirkan di Mina itu adalah jamaah tersesat setelah melontar jumroh. Jamaah umumnya bingung dan tidak tahu jalan kembali ke maktab. Ada 30 bendera yang akan dikibarkan untuk membantu jamaah.

Kawit An Nur Slawi

Menurut Subakin, saat ini persiapan di Mina sudah mencapai 95 persen. Petugas sudah melakukan observasi dan mempersiapkan maktab Indonesia yang jumlahnya 71 di Mina.

Kawit An Nur Slawi

"Dokter dan tim kesehatan juga sudah menyiapkan logistik obat-obatan di Mina,"tutur Subakin. Mengenai makanan, Subakin menegaskan lebih dari cukup, sehingga jamaah tidak perlu berebutan. Untuk itu dia mengimbau jamaah untuk tidak memaksakan diri melontar jumroh pada waktu yang utama (afdhol) bila tidak memungkinkan.

Selain itu, demi keamanan jamaah juga diimbau tidak emosional saat melempar jumroh. "Jangan sampai emosi membayangkan setan benar-benar di situ (jamarat),"tutur Subakin. (amf/menag)Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Cerita Kawit An Nur Slawi