Sabtu, 17 Januari 2015

Kepengurusan GP Ansor di Tepi Jakarta Dilantik

Tangerang, Kawit An Nur Slawi - Pengurus Anak Cabang (PAC) Ansor Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang masa khidmat 2016-2018 dilantik di Ballroom Hotel Narita, Cipondoh Kota Tangerang, Sabtu (29/10). Isi SK resmi pelantikan ini dibacakan oleh Pengurus GP Ansor Banten H Syahroni.

Tampak hadir Ketua GP Ansor Kota Tangerang H Mustaya Hasyim, Ketua GP Ansor Banten H Ahmad Imron, Wakil Ketua PP GP Ansor H Lukmanul Hakim. Hadir juga Sekretaris PCNU Kota Tangerang, Camat Cipondoh Demi Koswara, Kapolsek Cipondoh, dan juga unsur tokoh masyarakat dan organisasi kepemudaan.

Kepengurusan GP Ansor di Tepi Jakarta Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepengurusan GP Ansor di Tepi Jakarta Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepengurusan GP Ansor di Tepi Jakarta Dilantik

H Mustaya Hasyim mengatakan, Ansor bukan organisasi politik. "Ansor berdiri di atas semua kaki. Karena itulah, cara pandang politik Ansor adalah politik kebangsaan, bukan partisan. Itulah politik amar makruf nahi munkar yang menjadi haluan Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Kawit An Nur Slawi

Sedangkan H Ahmad Imron menyatakan, Ansor adalah organisasi yang merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Pemuda NU tidak perlu ditanya perihal apa yang telah diperbuat Ansor untuk bangsa ini. Sudah semestinya kita sebagai kader-kader penerus melanjutkan dan mempertahankan kedaulatan, kesatuan dan persatuan NKRI, ujarnya.

Mewakili PP GP Ansor, H Lukmanul Hakim menyampaikan terkait isu demonstrasi yang akan terjadi pada 4 November 2016. Ia mengajak kader-kader Ansor, Banser, warga NU mengikuti arahan PBNU. Karena apa yang disampaikan PBNU didasarkan pada hasil kajian-kajian yang sumbernya dapat dipercaya.

Kawit An Nur Slawi

“Kita dorong melalui jalur hukum dalam kasus penistaan Al-Quran agar pihak terkait menegakkan hukum dengan seadil-adilnya. Kita percayakan kepada kiai-kiai kita di PBNU untuk menghadapi masalah ini secara elegan,” ujarnya.

Ketua GP Ansor Cipondoh Nur Asyik berjanji untuk memberikan yang terbaik pada Ansor. "Insya Allah apa-apa yang diamanahkan oleh pimpinan cabang akan kami laksanakan dengan sebaik-baiknya," terangnya.

Nur Asyik berharap, kepengurusan baru ini terdiri atas personel-personel yang amanah dan profesional. "Tanpa hal ini, kerusakan yang akan terjadi. Semoga juga, pengurus memiliki karakter yang aktif, kreatif, inovatif, dan komunikatif," jelasnya.

Ia juga berharap semoga Ansor yang bermakna penolong itu bergerak untuk turut membantu semua pihak dalam mewujudkan kebaikan bagi masyarakat. "Kita membantu di bidang keagamaan dan kemasyarakatan. Inilah gerakan Ansor sebagai penolong," tandasnya. (Atho Al-Farhan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi PonPes, Kajian Islam Kawit An Nur Slawi

Kamis, 08 Januari 2015

Lailatul Ijtima’, Kegiatan NU Paling Fleksibel

Demak, Kawit An Nur Slawi. Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Guntur Kabupaten Demak KH Hambali Karim menuturkan, lailatul ijtima’ merupakan kegiatan NU yang paling fleksibel karena bisa menyesuaikan situasi dan kondisi.

Lailatul Ijtima’, Kegiatan NU Paling Fleksibel (Sumber Gambar : Nu Online)
Lailatul Ijtima’, Kegiatan NU Paling Fleksibel (Sumber Gambar : Nu Online)

Lailatul Ijtima’, Kegiatan NU Paling Fleksibel

Selain tahlil dan istighotsah, lailatul ijtima’ juga bisa diisi dengan kegiatan bahtsul masail atau kajian tematik lainnya.

“Anda bisa lihat sendiri ini setelah acara, lailatul ijtima’ diisi dengan menjawab masalah yang diajukan oleh peserta baik dari MWC maupun Ranting, tuturnya di hadapan ratusan peserta lailatul ijtima’ di Masjid Baitussalam Dukuh Walang Desa Trimulyo Kecamatan Guntur, Selasa (26/2) semalam.

Kawit An Nur Slawi

Dikatakannya, kegiatan lailatul ijtima’ menjadi program kerja utama yang bertempat di ranting-ranting sekecamatan Guntur secara bergiliran.

“ Lailatul Ijtima’ merupakan salah satu program utama dari MWCNU Guntur. Kegiatan ini kita bisa menguatkan konsolidasi organisasi, kita sering kumpul maka banyak informasi yang kita dapat,“ kata ketua tanfidziyah K Tamim Romli.

Kawit An Nur Slawi

Kiai tamim menambahkan lailatul ijtima’ merupakan salah satu upaya semakin memperkuat dan mempererat tali ukhuwah islamiyah (keagamaan), ukhuwah watoniyah (kebangsaan) dan ukhuwah basyariyah (Kemanusian)

“Kami ingin melalui kegiatan lailatul ijtima’ dengan rangkaian jamak arwah, tahlil, istighotsan dan sebagainya yang merupakan tradisi amaliah ulama NU bisa langgeng sebab akhir-akhir ini, ukhuwah Nahdliyah diantara sesama pengurus dan warga NU sudah mulai tergerus oleh budaya dan tradisi di luar NU,” tambahnya.

Lailatul ijtima’ Selasa malam selain dihadiri ratusan nahdliyin, juga dihadiri oleh pengurus pleno MWCNU Guntur, pengurus cabang dan perangkat desa setempat sehingga peserta meluber ke serambi depan masjid. 

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : A.Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ulama, Amalan Kawit An Nur Slawi

Rabu, 07 Januari 2015

Makna Khittah NU

Tanpa Khittah, NU hanyalah respon terhadap paham Wahabi di Saudi Arabia. Hanya itu, kata budayawan Ahmad Tohari di hadapan para seniman yang menamakan diri “Jamaah NU Miring” di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jum’at (7/3) lalu.

Organisasi Nahdlatul Ulama awalnya memang hanya sebuah kepanitiaan kecil beranggotakan para kiai yang dinamakan “Komite Hijaz”. Komite ini bertugas menyampaikan aspirasi kepada penguasa tanah Hijaz atau Saudi Arabia yang baru, Raja Ibnu Saud, agar umat Islam tetap diberikan kebebasan untuk bermadzab, dan agar makam dan tempat-tempat bersejarah di tanah suci tidak diratakan dengan tanah. Dan aspirasi para kiai akhirnya dikabulkan oleh Raja Wahabi itu.

Tugas Komite Hijaz telah selesai, namun sayang jika komite ini dibubarkan. Kemudian para kiai melengkapi struktur kepengurusannya agar memenuhi syarat sebagai sebuah organisasi seperti yang lainnya pada zaman pergerakan kemerdekaan. 16 Rajab 1344 bertepatan dengan 31 Januari 1926 dicatat sebagai tanggal berdirinya organisasi NU.

Makna Khittah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Khittah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Khittah NU

Meski kemunculannya insidental, apa yang menyebabkan NU eksis dan menjadi organisasi muslim terbesar sampai sekarang? Tidak lain adalah khitahnya.

Khittah NU atau Khitah Nahdliyyah sudah ada jauh-jauh hari, bahkan sebelum organisasi ini berdiri. Khittah itu semacam kepribadian khas yang dimiliki oleh umat Islam di Nusantara.

Khitah NU baru didefinisikan secara rinci pada Muktamar ke-27 NU di Situbondo, sekitar 58 tahun kemudian. Khittah NU ialah landasan berfikir, bersikap dan bertindak warga NU. Landasan itu ialah paham Ahlussunah Waljama’ah yang diterapkan menurut kondisi kemasyarakatan di Indonesia.

Terkait Khittah NU atau disebut juga Khittah 1926, Muktamar tahun 1984 itu juga merumuskan secara detail mengenai dasar-dasar paham keagamaan NU, sikap kemasyarakatan, serta usaha-usaha yang dilakukan oleh NU di bidang keilmuan, dakwah dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Kawit An Nur Slawi

Disebutkan, antara lain, bahwa NU mendasarkan faham keagamaanya kepada sumber-sumber: Al-Qur’an, As-Sunah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas. Lalu NU menggunakan jalan pendekatan (Al-Madzhab) di bidang akidah, mengikuti faham Ahlussunah Waljama’ah yang dipelopori oleh Imam Asy’ari dan Imam Maturidi, di bidang fiqh mengikuti salah satu dari mazhab empat, dan di bidang tashawuf, mengikuti antara lain Imam Baghdadi dan Imam Al-Ghazali.

Lalu sikap Kemasyarakatan NU terdiri dari empat hal yang utama. Pertama, sikap tawassuth dan i’tidal atau sikap berada di tengah-tengah, menjadi kelompok panutan, bertindak lurus, bersifat membangun, dan tidak ekstrim. Kedua, sikap tasamuh atau toleran di dalam perbedaan pendapat keagamaan serta toleran di dalam urusan kemasyarakatan dan kebudayaan. Ketiga, sikap tawazun atau keseimbangan dalam berkhidmah kepada Allah SWT, kepada sesama manusia dan kepada lingkungan hidup, serta keselarasan antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Keempat, amar ma’ruf nahi mungkar atau kepekaan untuk mendorong perbuatan baik dan mencegah hal yang dapat merendahkan nilai-nilai kehidupan.

Sementara itu perumusan Khittah NU itu berbarengan dengan satu perubahan besar dalam sejarah organisasi NU. Sejak tahun 1952 NU bermetamorfosis menjadi organisasi politik. Bahkan pada pemilu 1955 NU menjadi salah satu partai politik yang memenangi pemilu. Dalam perjalanan selanjutnya, sampai tahun 1984 itu, NU sudah tidak nyaman di zona politik. Lalu dipimpin oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), NU mengumumkan tidak lagi menjadi organisasi politik.

Pengumuman itu juga disebut sebagai langkah "Kembali Ke Khittah 1926", sehingga secara salah kaprah, Khittah NU sering didefinisikan sekedar bahwa NU sudah tidak lagi terlibat politik praktis. Padahal, maksud dari khittah NU mestinya lebih dari sekedar itu. Dan Khittah NU secara lebih rinci dan operasional terumuskan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga atau AD/ART NU yang diperbaharui dalam Muktamar lima tahunan. (A. Khoirul Anam)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kiai Kawit An Nur Slawi

Selasa, 06 Januari 2015

MA Mathalibul Huda Gelar Seminar Kebangsaan

Jepara, Kawit An Nur Slawi. Menghadirkan Koramil Mlongo H Mashudi dan staf litbang Lakpesdam NU Jepara Lukman Hakim, Madrasah Aliyah Mathalibul Huda Mlonggo Jepara menggelar diskusi publik perihal peran pemuda dalam mempertahankan NKRI. Seminar yang diikuti 400 siswa ini berlangsung di halaman madrasah, Sabtu (17/5).

Mashudi dalam uraiannya mengatakan, pemuda mempunyai peran dalam mengisi kemerdekaan. Mereka mesti menerjemahkan mempertahankan NKRI dengan menjaga nilai-nilai kearifan lokal agar pemuda tidak mudah tergerus derasnya arus globalisasi.

MA Mathalibul Huda Gelar Seminar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
MA Mathalibul Huda Gelar Seminar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

MA Mathalibul Huda Gelar Seminar Kebangsaan

“Pemuda juga perlu menumbuhkan sifat berkarakter, tidak sekadar ikut-ikutan,” kata H Mashudi.

Kawit An Nur Slawi

Pembicara lain, Lukman Hakim menekankan pemuda mesti memiliki kepercayaan diri dalam mengisi kemerdekaan. Kemerdekaan, kata Lukman, tidak lepas dari peran pemuda seperti peristiwa Sumpah Pemuda dan Kebangkitan Nasional.

Kawit An Nur Slawi

“Para pemuda juga harus waspada terhadap paham-paham yang berseberangan dengan Pancasila dan NKRI. Paham aswaja NU sangat efektif untuk memproteksi sikap pemuda Indonesia,” tegasnya.

Salah satu peserta diskusi Zulfa Ristiana, siswi XII IPA menanyakan cara menumbuhkan nasionalisme. Mashudi menjawab, dengan bangga menjadi warga Indonesia maka akan tumbuh benih-benih nasionalisme dalam pribadi masing-masing.

Kegiatan ini merupakan rangkaian Malida Expo 2014 yang berlangsung Sabtu-Selasa (17-20/5). Beberapa rangkaian kegiatannya turut meramaikan acara seperti Bazar, Lomba Rebana MTs, Lomba Mewarnai TK, Dialog Alumni, Parade Drumband, dan Jalan sehat. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi RMI NU Kawit An Nur Slawi