Rabu, 28 Februari 2018

Kegembiraan Muktamar Ke-33 NU

Oleh Candra Malik

--Kisah menghadiri Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, 1-5 Agustus 2015, saya mulai dari cerita perjumpaan dengan Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Australia dan Selandia Baru, Prof KH Nadirsyah Hosen, di sebuah rumah persembunyiannya di Tambak Beras. Guru besar hukum Universitas Monash, Melbourne ini mengaku sengaja menghilang saat para pengurus cabang istimewa dari berbagai negara lainnya mencarinya. Tapi, Gus Nadir, begitu ia disapa, baru saja kehilangan.

"Saya kehilangan hak suara, Mbah," kata Gus Nadir. Satu catatan kecil, ia memang memanggil saya dengan sebutan Mbah, ketika yang lain ada yang memanggil saya Gus. "Kok bisa, Gus?" tanya saya. Ternyata, dalam Muktamar 33 NU di Jombang, Gus Nadir gagal mendapatkan kartu peserta meski telah memenuhi persyaratan beberapa pekan sebelumnya dan rela mengantri berjam-jam bersama para kiai, gus, dan pengurus NU dari berbagai penjuru Indonesia dan luar negeri lainnya.?

Kegembiraan Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kegembiraan Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kegembiraan Muktamar Ke-33 NU

Soal mengantri ini, saya mendapat kisah kesetiaan yang luarbiasa seorang anggota Banser terhadap tata tertib -- yang berlaku juga dalam menghadapi seorang gus. "Saya ini Gus!" serunya kepada anggota Banser itu. Mungkin dia lelah. Tapi, anggota Banser itu pun pasti juga capek. "O, Sampeyan salah tempat. Di sini banyak gus dan kiai. Bukan cuma Sampeyan. Sepurone sing kathah (mohon maaf, red)." Namun, kegembiraan suasana muktamar tidak hanya sampai di situ. Gus Nadir pun mengalami kelucuan yang sama menyenangkannya ketika mengantri.

Kawit An Nur Slawi

"Saya dari PCI NU Australia," ungkap Gus Nadir. Petugas registrasi mengecek database peserta tapi tidak berhasil menemukan data yang ia cari. "Tidak ada NU Cabang Australia," sergahnya. Wah, Gus Nadir yang Rais Syuriah PCI NU ANZ (Australia-New Zealand) kaget: bagaimana bisa database registrasi "menghapus" PCI yang ia pimpin? Tapi Gus Nadir masih bersabar. "Coba dilihat, kalau NU Cabang New Zealand ada atau tidak?" pintanya. Petugas ini mengulik data lagi. "Tidak ada. Yang ada NU Cabang Selandia Baru!" Ah, nahdliyin sekali petugas registrasi yang teguh menjaga tata tertib ini. Jika tidak ada dalam data, maka tidak ada, itu prinsip.

Kawit An Nur Slawi

Tapi, datang dengan dua kawan lain, jauh-jauh dari Melbourne, Gus Nadir tak mau patah arang. Ia merajuk lagi. "Alhamdulillah. Iya, benar, itu cabang yang saya pimpin. Selandia Baru itu ya terjemahan dari New Zealand itu. New itu Selandia, Zealand itu Baru," papar Gus Nadir. "O, begitu ya? Ada kalau begitu, ada," tukas petugas registrasi. Gus Nadir lega. Tapi, ia masih harus bersabar. Sebab, meski mencetak nama Gus Nadir dan cabang NU-nya, petugas registrasi ini memberi label Peninjau, bukan Peserta, pada kartu muktamirin yang diserahkannya kepada profesor ahli ushul fiqh dan fiqh, putra mendiang Prof KH Ibrahim Hosen ini.

"Ya sudahlah, Gus. Meski tidak punya hak suara, tapi kan masih punya hak bersuara," ujar saya mencoba untuk menenangkan Beliau. Jadilah kami kemudian lebih aktif di luar arena muktamar, antara lain ziarah, sowan kiai, berbicara dalam forum-forum seminar dan diskusi, serta silaturahim dengan muktamirin lainnya. Kami berdua kemudian juga bertemu KH Luqman Hakim, pemimpin redaksi Majalah Cahaya Sufi, dalam Seminar Nasional dan Diskusi Tasawuf di Institut Agama Islam Bani Fatah, Tambak Beras.

Saya melihat beraneka kegembiraan dalam Muktamar 33 NU di Jombang. Dinamika sidang pleno mengenai tata tertib yang berlangsung sejak hari kedua muktamar, saya lihat sebagai konsistensi para kiai dan gus dalam menjaga tata tertib. Jika beliau-beliau saja tidak teguh dalam mengawal tata tertib, bagaimana dengan para santri? Kaum muda NU yang mempunyai kegembiraannya sendiri dalam suasana muktamar, dengan menyelenggarakan Musyawarah Besar Kaum Muda NU di Tambak Beras, 2-3 Agustus 2015, juga tak melepas pandangan mereka dalam mengikuti perkembangan mutakhir di arena muktamar. Pun demikian para penyelenggara kegiatan lainnya yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan muktamar.

Saya melihat Gus Nuril Arifin, Panglima Pasukan Berani Mati di era Presiden KH Abdurrahman Wahid, melenggang tenang ke belakang dari arah depan panggung utama di arena muktamar ketika tak mendapatkan kursi dalam malam pembukaan yang dihadiri Presiden Joko Widodo. Padahal, ia bahkan memiliki dua undangan VVIP. Esoknya, saya melihat Gus Nuril duduk santai sambil merokok di Masjid Pondok Pesantren Tebu Ireng. Saya bertemu Beliau ketika jalan kaki menuju lokasi Pidato Kebudayaan oleh KH Husein Muhammad di kawasan Masjid Ulul Albab, di dekat Pondok Putri Pesantren Tebu Ireng.?

"Wah, ini. Sufi yang satu ini juga jalan terus," begitu seloroh Gus Nuril kepada saya. Tak saya lihat ada kerisauan di wajahnya meski pemberitaan tentang suasana muktamar cenderung negatif hingga hari itu. Bertemu lagi dengan KH Luqman Hakim, pada Minggu malam, 2 Agustus, kali ini di rumah Gus Reza, di Kwaron, Tebu Ireng, saya juga tidak melihat kegelisahan di wajah Beliau. Justru Kiai Luqman asyik menceritakan kehidupan KH Wahid Hasyim -- yang diam-diam bersekolah di Surabaya tiga hari dalam sepekan dan empat hari belajar kepada Kiai Ihsan Jampes di Kediri; Mbah Hayat Nganjuk yang jadzab tapi sangat dihormati KH Asad Syamsul Arifin, Mbah Ahmad Rifai yang mendirikan Jamiyah Rifaiyah, dan Mbah Jalil yang menyembunyikan kitab hakikat di atap rumahnya dan melarang siapa pun membacanya.?

Kang Ahmad Tohari, sastrawan yang menulis novel berjudul Ronggeng Dukuh Paruk, yang hadir pula di rumah Gus Reza, berpesan bahwa NU harus melahirkan penulis-penulis besar. "Ada Gus Dur yang tidak tergantikan. Dan ada saya, yang harus ada yang menggantikan," kata Ahmad Tohari yang kini berusia 67 tahun. "Terus menulis, Candra. Saya senang kita juga sudah memiliki Binhad Nurrohmat dan Faisal Kamandobat. Tapi, harus lahir lebih banyak penulis dari kalangan nahdliyin," pesannya. Kang Tohari menularkan kegembiraan menjadi penulis yang nahdliyin kepada kami, malam itu, dalam kehangatan kopi, tembakau, spiritualitas, dan sastra.

Saya melihat banyak kegembiraan dalam suasana muktamar. Kiai Zubaidah, yang akrab disapa Cak Idah, pengasuh Padepokan Sawung Nalar, Wajak, Malang, yang merehabilitasi korban narkoba, juga hadir dalam kongkow di rumah Gus Reza. Beliau, kata Kiai Luqman, adalah rocker yang hapal Al Quran. Cak Idah punya banyak cerita tentang Banser dan keyakinan. "Melatih Banser itu mudah karena mereka memiliki mental dan iman baja. Dibekali hizib dan wirid saja, mereka berani maju ke garda paling depan," kata Cak Idah. "Itulah yang tidak dimiliki organisasi massa lain di luar NU," sahut Kiai Luqman, yang lalu memuji ketaatan dan kepatuhan santri pada kiai.

"Gus Dur pernah ziarah ke makam Mbah Hayat yang jadzab. Selama dua jam ziarah, Gus Dur ngakak tidak berhenti-henti. Entah ngobrol apa dengan Mbah Hayat. Yang lebih lucu lagi, para pengantar Gus Dur juga ikut tertawa tidak berhenti-henti," sambung Kiai Luqman. Itulah kegembiraan-kegembiraan yang barangkali tidak dimengerti oleh selain nahdliyin. Kegembiraan diembuskan pula pada malam pembukaan muktamar oleh Gus Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, Ketua Panitia Lokal Muktamar 33 NU. Ia banyak berkelakar dalam berpidato.

Yang gara-gara ia terus membanyol, Gubernur Jawa Timur Pakde Karwo sampai-sampai dalam pidatonya meminta maaf tidak bisa mengontrol Gus Ipul. "Kalau Gus Ipul sebagai Wakil Gubernur, saya masih bisa mengontrol. Kalau Gus Ipul sebagai Ketua IGGI, mohon maaf, saya tidak bisa apa-apa. IGGI adalah Ikatan Gus-Gus Indonesia," ujar Pakde Karwo, yang ternyata ikut membanyol. Satu lawakan Gus Ipul yang mungkin tidak orisinal namun kontekstual adalah Muktamar 33 NU di Jombang disemarakkan oleh puluhan ribu Hadirin dan Hadirat (dibaca: Hadirot). "Hadir IN, yang di dalam. Dan, hadir OUT, yang di luar," seloroh Gus Ipul, dan semua tertawa.?

Nah, rupanya ada saja yang ingin ikut terlibat dalam kegembiraan nahdliyin dalam muktamar. Ada yang dengan menyemarakkan tema Ahwa (Ahlul Halli Wal Aqdi/musyawarah mufakat), ada yang meramaikan mekanisme registrasi yang dialihkan menjadi manual sejak database error, ada yang meneriakkan isu politik uang, ada pula yang mulai menyerukan untuk kembali ke tema besar "Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Nusantara dan Dunia", ada yang ikut menelusupkan partai politik dan kepentingannya, pun ada pula yang mulai menggoyang-goyang ideologi ahlussunnah wal jamaah.

Ya, Muktamar Nadhlatul Ulama memang kegembiraan bagi siapa saja, bukan hanya bagi nahdliyin. Saya menjadi teringat kata-kata mendiang Idris Sardi yang bahkan bergembira dan bersyukur terhadap pembencinya yang terus-menerus memfitnahnya. "Saya wajib bersyukur karena bahkan telah membuat gembira pembenci saya yang pasti bergembira ketika menyebarkan fitnah dan kebencian terhadap saya," jelasnya. Ya, selain muktamirin dan muktamirat, Muktamar 33 NU di Jombang ini juga disemarakkan oleh kegembiraan muktamiris dan muktamarah. Semua berjalan gembira-gembira saja. [*]

Candra Malik, praktisi Tasawuf yang bergiat dalam kesusastraan, kesenian, dan kebudayaan; Peninjau dalam Muktamar Ke-33 NU di Jombang.

?

Foto ilustrasi: Grup Orkestra Bintang 9 yang turut diiringi oleh paduan suara 1000 santri sedang tampil dalam acara pembukaan Muktamar Ke-33 NU, Sabtu (1/8) malam lalu di Alun-alun Jombang, Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sunnah, Amalan Kawit An Nur Slawi

Madrasah Didorong Kuatkan "Tafaqquh fid Din"

Mataram, Kawit An Nur Slawi. Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud berharap madrasah mampu menghasilkan out put pendidikan umum yang berkualitas sebagaimana tuntutan pada sekolah. Serta menghasilkan out put pendidikan agama Islam lebih mendalam yang mewarnai alumninya.

Madrasah Didorong Kuatkan Tafaqquh fid Din (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Didorong Kuatkan Tafaqquh fid Din (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Didorong Kuatkan "Tafaqquh fid Din"

“Madrasah harus terus mendorong kreativitas, mengedepankan problem solving, dengan tetap menguatkan tafaqquh fi al-din sebagai jati diri madrasah. Itu yang penting,” tandas Abdurrahman Mas’ud saat membuka Workshop “Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah” yang dihelat di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis (28/05).

Dilihat secara historis, kata dia, madrasah merupakan satuan pendidikan dasar dan menengah yang mengemban misi dakwah untuk menyebarkan agama Islam di masyarakat. Misi ini tentu sangat mulia dan perlu dipertahankan sekaligus dikembangkan. Secara sosiologis, identitas madrasah sebagai tempat pendidikan agama Islam juga telah melekat kuat dan menjadi karakter serta jati diri madrasah itu sendiri.

Kawit An Nur Slawi

“Pendidikan agama Islam dapat dikatakan sebagai jantungnya pendidikan madrasah. Satuan pendidikan madrasah tanpa adanya misi pengembangan? pendidikan agama Islam bukan lagi disebut madrasah,” tandas pria lulusan Madrasah Qudsiyyah Kudus ini.

Kawit An Nur Slawi

Karena itu, lanjut Abdurrahman Mas’ud, meski pada perkembangan sejarah dewasa ini satuan pendidikan madrasah identik dengan sekolah umum, dan mata pelajaran agama Islam secara kuantitas tidak lagi dominan, karakter pendidikan agama Islam pada madrasah harus terus dikembangkan dan diperkuat secara kualitas. “Pendidikan agama Islam harus tetap dalam kondisi prima,” tegasnya.

Dalam rilis yang diterima Kawit An Nur Slawi, Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Hamdar Arraiyyah mengatakan workshop dilaksanakan di NTB lantaran melihat jumlah madrasah yang lebih banyak dibanding provinsi lainnya. “Kami memandang NTB lebih tepat dijadikan tempat workshop karena banyak madrasah di sini,” ujar Hamdar.

Bagi dia, workshop ini berfungsi sebagai wahana pertemuan pejabat pusat Balitbang dan Diklat dengan Pemerintah Daerah setempat. Hamdar juga menyatakan pentingnya membangun kerjasama Kemenag dan Pemprov dalam mengembangkan madrasah. “Kerjasama yang kuat akan semakin memantapkan peran pendidikan demi menjawab tantangan masyarakat kekinian,” terangnya.

Senada dengan Hamdar, Kabid Litbang Pendidikan Formal Nuruddin menambahkan penting acara tersebut bagi perkembangan Teaching Learning Process di madrasah. “Peserta telah menyusun makalah inovasi pembelajaran pada masing-masing madrasah sesuai tipologi sehingga workshop akan menghasilkan model yang bisa diterapkan di berbagai madrasah” ungkap Nuruddin.

Hadir dalam acara tersebut Kepala Kanwil Kemenag NTB H Sulaiman Hamid beserta jajarannya, dan Wakil Rektor IAIN Mataram. Peserta workshop terdiri dari guru-guru PAI Madrasah Aliyah, para kepala madrasah, serta pengawas terpilih se-NTB. Workshop yang dihelat di Hotel Lombok Plaza Cakranegara tersebut diagendakan selama tiga hari, Kamis-Sabtu 28-30 Mei 2015. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian, Berita Kawit An Nur Slawi

Saudi Belum Tetapkan Kuota Tambahan Haji untuk Indonesia

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Kepastian apakah Indonesia akan memperoleh tambahan kuota haji sebanyak 10 ribu atau tidak, masih menjadi tanda tanya besar. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, sesuai keputusan Pemerintah Saudi, kuota haji tahun ini di setiap negara sama dengan tahun lalu.

Saudi Belum Tetapkan Kuota Tambahan Haji untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Saudi Belum Tetapkan Kuota Tambahan Haji untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Saudi Belum Tetapkan Kuota Tambahan Haji untuk Indonesia

Pemotongan kuota sebanyak 20 persen, katanya, juga masih diberlakukan untuk semua negara. Karenanya, kuota haji Indonesia sebesar 168.800, terdiri dari 155.200 kuota haji reguler dan 13.600 kuota haji khusus.

“Khusus bagi Indonesia, karena sejak lama memperjuangkan tambahan 10 ribu, ini yang terus kita ikhtiarkan. Doakan saja mudah-mudahan bisa diwujudkan tahun ini tambahan itu,” tegas Menag saat ditanya wartawan usai menghadiri Halaqah Pimpinan Pondok Pesantren se-Provinsi Lampung, Senin (18/04), sebagaiman dilansir kemenag.go.id.

Kawit An Nur Slawi

Ihwal wacana tambahan kuota bagi Indonesia sebanyak 10 ribu jamaah, Menag sudah meminta kepastiannya kepada Pemerintah Saudi Arabia saat melakukan kunjungan kerja ke Jeddah pertengahan Maret lalu. Namun, pihak Saudi belum memberikan jawaban secara tegas karena sedang dipertimbangkan.

Kawit An Nur Slawi

“Menteri Urusan Haji Saudi mengatakan bahwa hal ini betul-betul menjadi perhatian Pemerintah Saudi yang terus dipertimbangkan. Pada saatnya nanti, Pemerintah Saudi akan menyampaikan secara resmi terkait hal ini,” kata Menag, Rabu (16/03) lalu.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah melakukan kunjungan ke Saudi Arabia dan bertemu dengan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud di Jeddah, pada pertengahan September tahun lalu. Dalam pertemuan itu, Raja Salman menyampaikan kepada Presiden Jokowi bahwa kuota jamaah haji? Indonesia akan ditambah sebanyak 10 ribu.

Saat menerima Kunjungan Kehormatan dari Menteri Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi Adel Bin Ahmed Al Jubeir, di tengah-tengah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa (LB) ke-5 Organisasi Kerjasama Islam (OKI), di JCC Senayan, Jakarta, Senin (07/03),? Presiden Joko Widodo? meminta? agar penambahan kuota haji bagi Indonesia dapat segera direalisasikan. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ahlussunnah, Anti Hoax, Olahraga Kawit An Nur Slawi

Sambut Hari Santri, IKA-PMII Gresik Gelar Kompetisi Esai

Gresik, Kawit An Nur Slawi - Dalam rangka menyambut hari Santri Nasional, Pengurus Cabang Ikatan Alumni PMII Kabupaten Gresik menggelar kegiatan Kompetisi Esai dengan tema, Gresik Dalam Atlas Islam Nusantara. Kompetisi Esai ini mendapat sambutan baik dan dukungan sepenuhnya dari Ketua Tanfidziyah PC NU Gresik, KH Khusnan Ali.

“Kompetisi ini selain untuk menyambut hari santri, juga dimaksudkan untuk memperkaya gagasan Islam Nusantara dengan pendekatan studi lokalitas yakni Kabupaten Gresik,” ujar Ketua Umum PC IKA-PMII Gresik, A. Zainuddin lewat pesan singkatnya kepada Kawit An Nur Slawi, Minggu (18/9).

Sambut Hari Santri, IKA-PMII Gresik Gelar Kompetisi Esai (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Santri, IKA-PMII Gresik Gelar Kompetisi Esai (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Hari Santri, IKA-PMII Gresik Gelar Kompetisi Esai

Pendekatan studi lokal, lanjut Zainuddin, menjadi sangat penting karena gagasan Islam Nusantara bukanlah interpretasi teks saja melainkan kontekstualisasi nilai-nilai lokal yang memberi makna dan karakter bagi keberagamaan muslim masyarakat nusantara.

“Kegiatan kompetisi yang digagas sahabat-sahabat IKA-PMII ini merupakan awal dari dimulainya gerakan literasi bagi masyarakat kota santri, Gresik. Memang tidak cukup banyak tulisan-tulisan yang merekam khazanah nilai-nilai lokal di Gresik, sehingga NU sangat mendukung kegiatan tersebut,” terang Ketua Tanfidziyah PC NU Kabupaten Gresik, KH Khusnan Ali.

Kawit An Nur Slawi

Menurut Zainuddin, hasil kompetisi ini nantinya akan dipilih tiga tulisan terbaik dan 15 (lima belas) naskah pilihan untuk dibukukan dan dipublikasikan sebagai refrensi dan bahan bacaan tentang local wisdom masyarakat muslim lokal dan teladan ulama’ di Gresik.

Kawit An Nur Slawi

Pelaksanaan Kompetisi

Untuk pengiriman naskah esai yaitu dimulai 15 September 2016, dan naskah diterima panitia paling lambat 15 Oktober 2016 pukul 24.00 WIB.

Sub tema penulisan dalam kompetisi ini yaitu: pertama, Kontekstualisasi Nila-Nilai Kearifan Lokal Gresik Dalam Menumbuh Kembangkan Gagasan Islam Nusantara. Kedua, Pengalaman Muslim/ Komunitas Muslim Lokal dalam mengembangkan nilai-nilai Islam yang moderat, dan inklusif Ketiga, Pemikiran dan nilai-nilai keteladanan Ulama’ (Studi Lokal Gresik) tentang Islam yang moderat, inklusif, toleran, nilai-nilai sufisme serta prinsip –prinsip kebangsaan dan kemasyarakatan.

Dalam ketentuannya, peserta diperbolehkan dari luar Kabupaten Gresik dengan syarat tulisan tidak keluar dari salah satu Sub Tema diatas. Peserta juga diperbolehkan mengirimkan lebih dari satu naskah esai. Naskah merupakan karya perorangan dan belum pernah dipbulikasikan di media mana pun..

Panduannya, naskah esai terdiri dari 3.000-4.000 kata, naskah dikirm dalam bentuk Microsoft Word. Adapun urutan halaman naskah esai adalah sebagai berikut: (a) Lembar judul, topik; (b) Lembar orisinalitas karya; (c) Ringkasan esai; (d) Isi esai; (e) Lembar data diri peserta. Kemudian, naskah esai dikirim melalui email: esaiharisantri@gmail.com.

Adapun hadiah untuk para pemenang yaitu, Juara I: Rp 3 juta + paket buku + sertifikat; Juara II: Rp 2 juta + paket buku + sertifikat; Juara III: Rp 1 juta + paket buku + sertifikat. Untuk contact person dapat menghubungi saudara Habib di nomor ponsel: 085731004274, atau ke sekretariat panitia di Kantor PC NU Gresik. (Red: Fariz Alniezar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian, Nasional Kawit An Nur Slawi

Selasa, 27 Februari 2018

Kiai Syaroni Terangkan Etika Pegang Al-Quran

Kudus, Kawit An Nur Slawi 

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Sya’roni Ahmadi menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci yang sangat mulia. Oleh karenanya, setiap orang tidak boleh memegang Al-Qur’an, kecuali keadaan suci.

Kiai Syaroni Terangkan Etika Pegang Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Syaroni Terangkan Etika Pegang Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Syaroni Terangkan Etika Pegang Al-Quran

“Madzhab empat sepakat yang dimaksud suci disini adalah suci dari hadas kecil dan besar,” katanya saat menerangkan sebuah ayat Surat Al-Waaqi’ah dalam pengajian rutin tafsir Al Qur’an di Masjid Al-Aqsha  Kudus, Jumat (19/7).

Kiai Sya’roni menjelaskan kategori tulisan Al-Qur’an yang harus dipegang dalam keadaan suci. Diterangkan, disamping yang berbentuk mushaf (kitab suci), setiap tulisan Al-Qur’an yang digunakan untuk bacaan harus suci terlebih dahulu dengan berwudlu.

Kawit An Nur Slawi

“Misalnya, menulis ayat Al-Qur’an pada sebuah papan tulis untuk dibaca bersama-sama, ketika mau demek (megang) wajib berwudlu,” tegasnya mencontohkan.

Kawit An Nur Slawi

Sedangkan yang diperbolehkan tanpa keadaan suci, terang Kiai Sya’roni, adalah tulisan ayat Al-Qur’an untuk kepentingan jimat dan hiasan (kaligrafi). Kedua tulisan jenis tersebut, tidak apa-apa tanpa harus berwudlu. “Tulisan Al-Qur’an untuk hiasan tidak apa-apa tanpa berwudlu karena tidak untuk bacaan,” jelasnya.

Bagaimana dengan Al-Qur’an yang ada terjemahannya? Kiai yang biasa disapa Mbah Sya’roni ini menyatakan, harus dilihat perbandingannya antara tulisan Al-Qur’an dan terjemahannya. 

“Bila Al-Qur’an itu lebih banyak tulisan Jawa (terjemahannya), tidak perlu wudlu. Tetapi bila banyak  tulisan Al Qur’an, wajib wudlu,” terangnya di depan ribuan jamaah.

Di pesantren huffadh, Mbah Sya’roni mencontohkan, menyediakan Al Qur’an terjemahan bagi santri perempuan yang tengah menghafalkan. Hal ini untuk menjembatani perempuan yang sering mengalami hadas besar seperti nifas/haid supaya hafalannya tetap lancar.

“Namun ketika haid atau nifas itu, membacanya tidak boleh bersuara atau tidak terdengar orang lain,” jelas Mbah Sya’roni.

Pengajian rutin Tafsir Al Qur’an pada bulan Ramadhan ini memasuki hari kedelapan. Dimulai sejak 3 Ramadhan, pengajian ini selalu diikuti ribuan jamaah dari berbagaia kota Kudus, Jepara, Demak dan sekitarnya pada setiap usai subuh.

Redaktur     : Abdullah Alawi 

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Syariah, Habib, AlaNu Kawit An Nur Slawi

Senin, 26 Februari 2018

RSI Siti Hajar Ramaikan Pameran Produk Kesehatan NU

Jombang, Kawit An Nur Slawi. Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) yang digelar di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang selamat tiga hari, 13-15 April 2012, juga diramaikan dengan pameran UKM dan produk kesehatan serta pelayanan Rumah Sakit milik NU.

Salah satu RS milik NU yang ikut meramaikan adalah RSI Siti Hajar Sidorjo. RS milik NU dan Muslimat Sidoarjo ini berdiri sejak 1963. Awalnya RSI ini berawal dari Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) yang dikelola oleh Muslimat NU. Namun tekat pengurus NU kuat, kemudian Balai Kesehatan ini akhirnya dikembangkan menjadi RS.

RSI Siti Hajar Ramaikan Pameran Produk Kesehatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar Ramaikan Pameran Produk Kesehatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar Ramaikan Pameran Produk Kesehatan NU

Kini RS dengan tipe C Plus ini telah memiliki dokter sebanyak 47 dengan dokter spesialis 19 orang dan jumlah tenaga medis sebanyak 140 perawat.

Kawit An Nur Slawi

“RS ini telah terakreditasi penuh 12 pelayan ini  memiliki jumlah ruang 156 tempat tidur , terdiri dari kamar  VIP 12, kelas 1, 12, kelas II anak 12 dan II 12, kelas III, 36 ruangan dengan ruang isolasi 2,” ujar Imron salah satu pengurus.

Disamping RSI Siti Hajar Sidoarjo Rakornas juga diramaikan beberapa produk UKM dan lembaga pendidikan kesehatan milik NU dan warga NU. 

Kawit An Nur Slawi

“Panitia memang menyediakan lokasi untuk pameran UKM dan lembaga pendidikan kesehatan bagi warga NU, Karena yang mengikuti Rakornas tidak hanya dari Jawa Timur tetapi berasal dari beberapa  provinsi lain,” ujar Zulfikar As’ad ketua panitia mengatakan.

Gus Upiq biasa dipanggil mengatakan, peserta dari pengurus wilayah yang telah hadir sebanyak 24 Pengurus PW LKNU se Indonesia. Dan beberapa lembaga kesehatan serta pengelola RS milik NU.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Amalan, Tokoh, Cerita Kawit An Nur Slawi

Minggu, 25 Februari 2018

Kiriman yang Baik untuk Mayyit

Orang mati tidak mungkin bisa kembali lagi. Sebagaimana tidak mungkinnya orang mati menambah amal sebagai revisi atas amal yang telah diperbuatnya selama hidup. Karena sedari masa hidupnya telah diingatkan bahwa ‘ad-dunya mazra’atul akhirat’. itu artinya, masa hidup merupakan momentum penanaman dan masa mati adalah waktu untuk memanen. Maka janganlah mengharap untuk menambah amal ketika telah mati, nikmati saja hasil dari amal ketika hidup.

Diantara bentuk tanaman yang bisa diunduh saat mati adalah apa yang pernah dikatakan Rasulullah saw dalam hadits yang terkenal:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya". [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Kiriman yang Baik untuk Mayyit (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiriman yang Baik untuk Mayyit (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiriman yang Baik untuk Mayyit

Sesungguhnya tiga hal ini tidaklah bersifat paten apa adanya, tetapi dapat dimaknai sebagai sebuah inti yang dapat dikembangkan. Misalkan dalam konteks ilmu yang manfaat, sesungguhnya seseorang yang berilmu kemudian meninggal dan ilmunya itu telah disebarkan ke pada murid-muridnya maka ketika sang murid beramal, sang gurupun mendapat bagiannya. Demikian pula dengan amal jariyah dan anak shaleh.

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?..

Kawit An Nur Slawi

Dari Sufyan, ia dari seseorang yang pernah mendengar Anas bin Malik R.A. ia berkata. Rasulullah saw bersabda “sesungguhnya amal-amal mereka yang masih hidup itu bisa disodorkan kepada keluarga dan ayah-ayahnya yang sudah meninggal. Jika amal tersebut baik maka mereka merasa gembira dan memuji Allah swt. tapi jika amal tersebut buruk, maka mereka (para mayit) berdoa “ Ya Allah janganlah kau tutup usianya sebelum mereka Kau beri petunjuk”. Kemudian Rasulullah saw bersabda “ mayyit yang ada di dalam kubur itu juga merasa sakit, apabila ia disakiti. Seperti halnya ia masih hidup”.? “bagaimana caranya menyakitkan mayyit” demikian beliau ditanya. “apabila engkau bersengketa dengan seseorang, kemudian seseorang tersbut mencacimu dan mencaci kedua orang tuamu(yang sudah meninggal). Nah, sekarang mayyit yang sama sekali tidak merasa berdosa dan bersengketa , bersitegang urat saraf kepada seseorang serta tidak merasa menyakitkan hati tetangga, turut juga terkena cacian dari seseorang. Jadi dia merasa di sakitkan hatinya jika diperbuat jelek. Juga begitu sebaliknya, dia merasa bergembira ria andaikata diperbuat bagus”

Demikianlah sesungguhnya amal seseorang di dunia ini sangat erat hubungannya dengan nasib orang tua yang telah meninggal. Karena mereka turut merasakan akibat yang ditimbulkan dari kelakuan anak-anaknya yang hidup. (ulil)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Sholawat Kawit An Nur Slawi

Ansor Pematangsiantar Berikan Modal untuk Usaha Kecil

Pematangsiantar, Kawit An Nur Slawi

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara melalui Lembaga Keuangan Mikro Syariah Ansor (LKMSA) menjalin kerja sama dengan perusahaan dalam pembinaan usaha mikro kader Ansor dan pemberdayaan sosial masyarakat.

Ansor Pematangsiantar Berikan Modal untuk Usaha Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pematangsiantar Berikan Modal untuk Usaha Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pematangsiantar Berikan Modal untuk Usaha Kecil

PC GP Ansor Kota Pematangsiantar memfasilitsi beberapa usaha mikro dan usaha kecil yang merupakan binaan dari Lembaga Keuangan Mikro Syariah Ansor (LKMSA) GP Ansor Kota Pematangsiantar dalam bentuk modal usaha melalui Program Kemitraan dengan Perusahaan BUMN. Bantuan yang akan disalurkan bervariasi berdasarkan kriteria yang ditentukan antara Rp 5 juta sd Rp 30 juta.

Arjuna, Ketua PC GP Ansor Kota Pematangsiantar menyatakan bahwa sebagaimana prosedur yang ditentukan, calon mitra binaan mengajukan surat permohonan yang dilampiri dengan berkas kelengkapan seperti pasfoto, fotokopi KTP, fotokopi NPWP, fotokopi kartu keluarga, nomor rekening, foto lokasi/tempat usaha, dan surat izin usaha.

Kawit An Nur Slawi

Kemudian dilakukan evaluasi dan survei. Untuk saat ini calon mitra binaan LKMSA GP Ansor Kota Pematangsiantar yang lulus sesuai kriteria dan akan mendapatkan bantuan usaha hanya 20 mitra. “Semoga bantuan tersebut dapat meningkatkan kemampuan kewirausahaan kader-kader Ansor di Pematangsiantar,” ujar Arjuna.

Sebelumnya LKMSA PC GP Ansor Kota Pematangsiantar telah teregistrasi sebagai Konsultan Pendamping Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUMKM) dengan nomor registrasi 12.72.00795, sebagai implementasi visi pemberdayaan potensi kader dan misi menjadi sentrum lalu lintas informasi dan peluang usaha para kader.

Kawit An Nur Slawi

Sesuai fungsi dan perannya, LKMSA GP Ansor Kota Pematangsiantar membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi pengurus, anggota dan kader GP Ansor pada khususnya, untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya melalui penyediaan akses keuangan berskala mikro.

LKMSA GP Ansor juga turut dalam upaya pemberdayaan ekonomi, pendistribusian modal, pemutusan hubungan dengan rentenir, pengentasan kemiskinan, dan penciptaan lapangan kerja serta kesempatan berusaha melalui penyediaan akses keuangan kepada usaha kecil dan menengah (UKM). (Fajar Prabowo/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Habib, Sholawat, Cerita Kawit An Nur Slawi

Gejala Asusila Merebak di Pringsewu, NU Diharap Jadi Inisiator Penanggulangan

Pringsewu, Kawit An Nur Slawi

Pertumbuhan pembangunan yang sangat pesat di segala sektor yang terjadi di Kabupaten Pringsewu menjadi magnet tersendiri bagi sebagian orang untuk ikut mencari peruntungan dan mengais rezeki di Pringsewu, Lampung, Kabupaten Jejama Secancanan Bersenyum Manis ini.

Tidak hanya imbas positif yang muncul dari semakin banyaknya para pendatang di Kabupaten Pringsewu yang akan baru berumur 7 tahun pada 3 April 2016 mendatang. Imbas negatif dari fenomena ini juga sudah mulai dirasakan oleh masyarakat seperti munculnya berbagai macam permasalahan sosial, ekonomi, dan keagamaan.

Gejala Asusila Merebak di Pringsewu, NU Diharap Jadi Inisiator Penanggulangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gejala Asusila Merebak di Pringsewu, NU Diharap Jadi Inisiator Penanggulangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gejala Asusila Merebak di Pringsewu, NU Diharap Jadi Inisiator Penanggulangan

Salah satu yang tengah menjadi sorotan masyarakat dan ditindak lanjuti dengan investigasi penelusuran oleh beberapa media lokal adalah mulai adanya anak-anak muda yang berperilaku menyimpang dari aturan-aturan Agama dan terjerat dalam bisnis asusila. Hal ini tentunya patut menjadi perhatian serius dari segala pihak yang menginginkan salah satu Motto Kabupaten Pringsewu yaitu Agamis dapat direalisasikan.?

Fenomena ini menjadi perhatian serius salah satu Pengurus Wilayah NU Provinsi Lampung H Reza Berawi yang juga merupakan warga Kabupaten Pringsewu. Reza yang berprofesi sebagai Notaris ini mengatakan bahwa dalam menyelesaikan permasalahan ini harus ditelusuri dan didalami akar permasalahan munculnya hal tersebut.

Kawit An Nur Slawi

"Kalau melihat akar masalahnya adalah sosial, ekonomi dan keagamaan, maka harus dilakukan solusi terhadap akar masalah tersebut. Ini bukan hanya persoalan NU saja, tapi seluruh elemen masyarakat yang dilibatkan dan difasilitasi oleh Pemda," ujar Reza yang merupakan Ketua Lembaga Wakaf dan Pertanahan PWNU Provinsi Lampung ini.

Ia sangat mengapresiasi jika NU dapat mengambil inisiatif pertama dalam menyelesaikan maupun meminimalisir tumbuhnya gejala asusila ini. "Harapannya dibuat aturan yang jelas dengan diikuti oleh pelaksaan aturan dan pemberian sanksi yang tegas bilamana terjadi pelanggaran terhadap aturan," harapnya, Kamis (25/2/2016).

Reza menambahkan bahwa realisasi dari penanganan masalah ini harus dikaji mendalam bukan hanya sebatas opini. "Bagaimana implementasi itu semua, harus dibicarakan secara fokus dan detail terhadap persoalan ini, tidak bisa hanya sebatas opini saja," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Meme Islam, Jadwal Kajian, Hikmah Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 24 Februari 2018

Ibu Ajengan

Ketika aku berpapasan dengan Ajengan di sebuah tepi jalan, ia sempat menceritakan istrinya yang jompo. Aku tidak kaget mendengarnya. Bukan hanya karena usia lanjut, tapi dari dulu Ibu Ajengan memang sakit-sakitan.

Keadaannya tambah parah karena Nyi Halimah, anak satu-satunya bertahun-tahun tiada rimbanya. Padahal Nyi Halimah sangat dimanja sejak kecil.

Ibu Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibu Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ibu Ajengan

Ibu Ajengan satu-satunya istri ajengan di pesantrenku. Ajenganku tak pernah poligami dua apalagi tiga seperti umumnya ajengan di kampung.

Ibu Ajengan sangat menyayangiku. Dulu ia punya anak laki-laki (kakak Nyi Halimah). Cuma usianya tidak panjang. Jika masih hidup anaknya sepantaran denganku. Ia meninggal usia 9 tahun, tenggelam di sungai saat berenang bersama santri-santri. Ketika mereka pulang di pondok pesantren, baru sadar si Ujang, putra Ajengan, tiada. Mereka kemudian mencarinya, tapi sayang ia ditemukan tewas di sebuah batu di bawah jembatan gantung.

Kawit An Nur Slawi

Tidak tahu yang sebanarnya, menurut Ibu Ajengan, anaknya mirip denganku. Ganteng katanya. Sebab itulah Ibu Ajengan begitu menyayangiku. Menurut kabar lain, katanya Ibu Ajengan ingin mengambilku jadi menantunya. Masya Allah, padahal waktu itu aku masih sangat kanak-kanak.

Tapi menurutku, karena aku datang ke pesantren diantar orang tua seperti yang entar akan kuceritakan di depan. Akulah satu-satunya santri yang diantar orang tua. Disamping itu, Ajengan dan istinya segan pada orang tuaku, lebih-lebih pada kakekku. Singkat kata, di pesantren aku dianggap “pangmenakna*”. Mereka menyebutku Aden*.

Kawit An Nur Slawi

Pernah Ibu Ajengan meminta supaya aku tidak memasak nasi sendiri. Beberapa bulan aku mengikuti permintaannya. Aiku mengiyakannya, beberapa bulan “indekos” di ajengan. Tapi setelah bersahabat dengan si Atok, aku masak sendiri. Tapi sebenarnya si Atoklah yang masak. Sebagai imbalannya, makan si Atok aku yang menanggung.

Ibu Ajengan tidak banyak bicara, tapi kalau sudah marah tidak habis dua hari. Sudah ada dua tiga santri pulang karenanya.

Ibu Ajengan bernama Nyi  Djuriah mengajar santri-santri putri dari kampung sekitar. Tempatnya mengajar ngaji santri putri disebut pangwadonan. Haram laki-laki masuk ke situ, kecuali ketika kosong. Ia mengajar selalu di tempat yang sama, di samping tiang dekat gorden. Kerudung kuningnya samar-samar membayang di balik gorden.

Ibu Ajengan mengajar lebih ayem jika dibanding Ajengan. Ajengan sering membentak. Suaranya bisa terdengar ke mana-mana. Sementara Ibu Ajengan tidak, tapi sering mencambuk dengan sapu lidi. Aku tahu seperti itu karena sering mengintip dari balik gorden jika ia sedang berpaling ke arah lain.

Selepas mengajar, Ibu Ajengan sering memberi petuah santri putri. Sampai sekarang masih terdengar petuahnya yang rutin ditanamkan. “Perempuan harus lebih tebal tauhidnya kepada Pangeran. Sebab kalau tauhid perempuan tidak tebal, mustahil punya anak yang rajin beribadah. Sebab dalam sebuah rumah tangga, ibu paling dekat dengan dengan anak. Sementara laki-laki selewatan saja.”

Perkataannya tidak persis seperti itu, tapi maksudnya begitu. Belakangan, aku sering membaca buku pengajaran. Tak beda sedikit pun bahasan hubungan antara perempuan dan keluarga dengan petuah Ibu Ajengan yang rutin disampaikan itu.

Petuah Ibu Ajengan lain yang rutin disampaikan, “Kata Nabi, sorga di telapak kaki ibu, dan ibu itu adalah perempuan.” Dari situ, Ibu Ajengan kemudian mengisahkan mustika-mustika istri dari sejarah Nabi seperti Siti Khodijah, Siti Aisyah, Siti Fatimah. Petuah Ibu Ajengan pada santri putri tidak kalah kendati dibandingkan dengan pidato-pidato pemimpin di kota yang sedang memperingati pahlawan-pahlawan perempuan. Aku tahu pidato mereka didapat dari buku, sementara petuah Ibu Ajengan lahir dari sanubarinya sendiri.

Kepada yang sudah bersuami, Ibu Ajengan sering menekankan seperti ini, “Ingat, kewajiban perempuan itu patuh pada suami. Membangkang kepadanya sama dengan membangkang pada kedua orang tua. Doraka dunia akhirat. Nanti berada di neraka Wailul tempatnya.”

Ibu Ajengan bertubuh gemuk. Meski sudah berumur, tampak sisa-sisa kecantikan di masa mudanya. Tidak usah jauh-jauh, lihat saja paras Nyi Halimah yang anggun. Orang-orang sependapat Nyi Halimah yang cantik itu tidak lain Ibu Ajengan saat belia.

Waktu aku menulis cerita ini, Ibu Ajengan sudah menghembuskan napas terakhir di sebuah rumah sakit akibat serangan jantung. Robbana, semoga iman Islamnya diterima, terang benderang keadaan alam kuburnya.

 

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen Dongeng Enteng dar Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen otobiografis tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.   

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Budaya, Kajian Kawit An Nur Slawi

Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal

Bandarlampung, Kawit An Nur Slawi. Wakil Ketua Tanfidziyyah PWNU Lampung yang juga Wakil Rektor Universitas Lampung Aom Karomani mengatakan, angka persentasi mahasiswa yang ikut dalam gerakan radikal di perguruan tinggi di Indonesia masih cukup tinggi.

Menurutnya hal tersebut disebabkan salah asuh yang sudah sejak lama terjadi.

Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal

"Saya kira itu bukan persoalan siapa pemimpin perguruan tingginya tapi terjadi salah asuh sedemikian lama dan baru sekarang kita sadari fenomena itu," katanya, Selasa (7/11).

Aom mengungkapkan hal tersebut menanggapi adanya permasalahan masih banyaknya kader dan simpatisan HTI di kampus-kampus yang sampai saat ini belum sadar dan dengan diam-diam terus menyebarkan ideologi khilafah.

Kawit An Nur Slawi

Ia menilai harus ada upaya konkrit dan sistematis sekaligus solusi dari fenomena ini dalam rangka mengembalikan para mahasiswa tersebut ke jalan yang benar, baik dari sisi kelembagaan masing-masing perguruan tinggi maupun stake holder terkait.

Mahasiswa serta pelajar, tambah Aom, merupakan sasaran empuk kelompok-kelompok intoleran dan radikal dalam rangka  menyusupkan ideologi radikal. Hal itu karena di usia-usia inilah para mahasiswa dan pelajar tengah mencari bentuk jati diri dan masih labil kejiwaannya.

"Yang perlu diperhatikan oleh semua pihak terutama pada masa peralihan dari SLTA ke perguruan tinggi," ujarnya.

Kawit An Nur Slawi

Ia juga menyorot pembelajaran pendidikan agama di sekolah menengah dan perguruan tinggi belum mampu menjawab permasalahan bangsa. Perombakan kurikulum pendidikan agama, terutama dalam

kehidupan beragama yang beriringan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, menurutnya perlu dilakukan lagi.

Kurikulum Pendidikan Agama harus mampu menanamkan nilai-nilai agama secara kontekstual kepada para mahasiswa dan pelajar. 

"Harusnya belajar ilmu agama tidak dilakukan secara tekstualis. Harus melihat konteks dan realitas yang muncul ditengah-tengah masyarakat," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sejarah, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

PWNU Lampung Dilantik

Bandar Lampung, Kawit An Nur Slawi. Suasana hening dan khidmat mengiringi pelantikan jajaran pengurus wilayah NU Lampung masa khidmat 2012-2017 oleh Ketua PBNU Imam Aziz pada Ahad, (2/6) di Bandar Lampung.

Acara ini dihadiri komunitas NU dari berbagai bidang, dari kalangan pengusaha, akademisi, politisi lintas partai, hingga kader-kader muda NU se-provinsi Lampung. 

PWNU Lampung Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Lampung Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Lampung Dilantik

Turut hadir, HA Helmy Faisal Zaini, menteri Pembangunan Daerah Tertinggal RI, Chusnunia Halim, anggota DPR RI, dan Berlian Tihang, Sekda Lampung.

Berikut Susunan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung Masa Khidmat 2012-2017 berdasarkan SK dari PBNU tentang Surat Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Nomor 230/A.II.04/04/2013 tanggal 17 April 2013.

Kawit An Nur Slawi

Mustasyar 

Kawit An Nur Slawi

KH Ahmad Shodiq

KH Jamaludin Al Busthomi

KH Abdul Halim Maftuhin

KH Arief Makhya

Drs KH M Tabrani Daud

Prof Dr KH Moh. Mukri, MA

Prof Dr Ir Sugeng P Haryanto

Drs H Musa Zainudin

KH Ma’ruf Adnan

KH Syamsudin Thohir

KH Hafiduddin Hanief

KH Muhsin Abdillah

Dr KH Khairuddin Tahmid, MH

H Ihwan Asron, MA

Habib Usaman Husen Al Habsi

H Ismail Sanjaya

H Malhani Manan

H Mukhtar Lutfi, SH, MH

 

Syuriyah 



Rais Syuriyah 

Drs KH Ngaliman Marzuqi, MPdI

Wakil Rais Syuriyah 

Drs KH Bahruddin, MA

KH Muhtar Sya’roni Maksum

Dr Abdul Syukur, MA  

KH A. Syukron

KH Miftahudin Al Busthomi

KH Imam Muhyiddin

Drs KH Heriyuddin Yusuf

Dr H Yusuf Baihaqi, MA

Dr H Ainul Ghoni, MAg  

Katib Syuriyah

KH Ihya Ulumuddin

Wakil Katib Syuriyah 

KH Muhammad Mabrur, MSi

KH Basyaruddin Maisir

Habib Ahmad Husen Al Habsi

Kiai Musyafa’ Ahmad

Kiai Cecep Badruddin Hasan Basri

KH Syaikhul Ulum Syuhada, SPdI

dr Ahmad Farich

 

A’wan 

Prof Dr M Nasor

Dr Wan Jamaluddin, MA

Dr KH Afif Ansori

Dr Alamsyah

Dr Asrori

Drs H Suyoto, MAg

KH Khoirul Anam

KH Munadzir

KH Umar Anshori Khusnan

KH Haris Al Hamdani

KH Rois RS

KH A Wahid Zamas

KH Munir

Ir H Nur Zaini

KH Imam Zuhdi Adnan

Drs Ahmad Basyir Al Huda

Kiai Khoiri Abu Bakar, SH

KH Nur Mahfudz

Dr Andi Ali Akbar

Tanfidziyah 

Ketua 

KH RM Sholeh Bajuri, SHI

Wakil Ketua

H Heri Iswahyudi, MAg

H Okta Rijaya, SHI

Dr Syamsuri Aly

Drs Lazuardi Alwi

Chairullah AY

H Noverisman Subing, SH, MH

Dr H Aom Karomani, MSi

Drs Saeful Islam

Sholihin, SPdI, MH

Ir Teguh Wibowo

Juwendra Asdiansyah

Sekretaris

Drs Aryanto Munawar

Wakil Sekretaris 

Khaidir Bujung, SAg

Muhiddin Penata Gemilang, SE

Ichwan Aji Wibowo, SPP

Abdullah Mukhtar Aly, Lc, SPdI

Maulana Mukhlis, SIP, MIP

Indrayani, SPd

Mislamudin, SPd

Bendahara

M. Tio Aliyansyah, MH

Wakil Bendahara 

Arifin Gunawan, SE

Himalson, SE

H Ayong Ismail

Drs M Effendi

 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor: Akhmad Syarief Kurniawan,

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Makam, Sunnah Kawit An Nur Slawi

Pendidikan Islam Perlu Penyederhanaan

Jakarta, Kawit An Nur Slawi
Plh Masdar F. Mas’udi nyatakan bahwa dimasa yang akan datang pendidikan Islam perlu disederhanakan karena sebenarnya banyak hal-hal yang sederhana seperti sholat dan wudlu yang bisa dipelajari dalam waktu waktu satu atau dua jam oleh para ahli dilakukan proses satistifikasi dan pencanggihan.

“Seharusnya pendidikan dalam hal ini cukup 10 persen saja sedangkan energi yang 90 persen dikembangkan untuk memajukan peradaban Islam. Saat ini Islam mengalami keruntuhan peradaban yang menyedihkan,” ungkapnya

Hal tersebut dikemukakan ketika berbicara dalam acara bedah buku: Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia, Anatomi Keberadaan Madrasah dan PTAI karya H. Arief Furchon MA, Ph.D Kamis 22 Juli 2004 yang diadakan oleh STAINU di Gedung PBNU.

Pada zaman dahulu, para sahabat belajar tentang sholat cukup dari melihat saja. Ini sebenarnya hal yang sangat teknis dan kalau memang perlu di bahas secara mendetail, mungkin hanya kalangan pasca doktoral saja yang perlu memikirkannya sedangkan masyarakat cukup mengetahui hal-hal yang umum saja.

Direktur P3M tersebut juga mengemukakan bahwa saat ini kita belum memiliki tradisi akademis untuk mengkritisi, membahas, dan sekaligus menemukan ilmu pengetahuan.  “Yang ada adalah konservasi atau mempertahankan nilai-nilai lama dari pengetahuan yang ada,” tambahnya.

Bukan hanya di pesantren, tradisi akademik tersebut juga belum bisa berkembang baik di perguruan tinggi karena belum ada budaya yang mendukungnya.

Berkaitan dengan Madrasah sebagai model pendidikan Islam, Masdar menjelaskan bahwa lembaga ini merupakan formalisasi pendidikan Islam yang berakar dari pesantren. Namun demikian madrasah juga mengalami perkembangan sesuai dengan konteks kekinian.(mkf)

 


 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi PonPes, Meme Islam, Tegal Kawit An Nur Slawi

Pendidikan Islam Perlu Penyederhanaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Islam Perlu Penyederhanaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Islam Perlu Penyederhanaan

Kamis, 22 Februari 2018

Pramuka Madrasah Didorong Jadi Pelopor Kebhinnekaan

Bangka Tengah, Kawit An Nur Slawi. Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan 5 pesan penting kepada para peserta Perkemahan Pramuka Madrasah Nasional (PPMN) III 2017. Salah satu pesan tersebut adalah Pramuka Madrasah agar menjadi pelopor kebhinnekaan di tanah air Indonesia.?

Hal ini disampaikan dalam sambutan pembukaan PPMN III 2017 di Bumi Perkemahan Pramuka Selawang Segantang Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (16/5) lalu.

Pramuka Madrasah Didorong Jadi Pelopor Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pramuka Madrasah Didorong Jadi Pelopor Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pramuka Madrasah Didorong Jadi Pelopor Kebhinnekaan

Ia menegaskan, pertama pentingnya nilai-nilai kepramukaan menjadi panduan berbangsa dan bernegara. Kedua, Gerakan pramuka Madrasah bisa menjadi “Kawah Candradimuka” Kepemimpinan Nasional. Ketiga, PPMN III 2017 bisa melahirkan kader pelopor kebhinnekaan.?

Keempat, ia meminta kepada para pembina pramuka madrasah agar selalu melakukan inovasi pola pendidikan dan pelatihannya. Kelima, PPMN III 2017 tidak sekadar menjadi ajang perkenalan saja, tetapi bisa menjadi momentum ? membangun dan menguatkan ikatan silaturrahim antar sesama anggota pramuka madrasah se-Indonesia.

Kawit An Nur Slawi

“Dalam konteks ini, pramuka madrasah harus hadir dan berdiri paling depan dalam melakukan aksi bela negara, aksi bela Pancasila dan tentu juga aksi bela Agamas ecara bertanggung jawab,” katanya.

Terkait pesan pertama, menurutnya penting karena pramuka mengajarkan 10 pandangan hidup yang sangat fundametal, yaitu keimanan, kemanusiaan, nasionalisme, demiokrasi, solidarita, keterampilan, kebersahajaan, kedisiplinan, tanggungjawab, dan intergritas.

“Saya berharap Dasa Dharma Pramuka tidak hanya dibaca saat upacara perkemahan saja, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana Dasa Dharma tersebut dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” pesan Lukman.

Adapun terkait dengan pesan kedua, Menteri Agama berpandangan kandungan yang ada dalam PPMN III 2017 terdapat banyak pengalaman berharga didalamnya. Ditegaskan juga termasuk pelatihan yang sangat bermanfaat dalam pengembangan kepribadian dan kepemimpinan.?

Pesan ketiga, dipaparkan oleh Lukman Hakim Saifuddin, PPMN III 2017 harus dibangun dalam bingkai kebhinnekaan dengan keragaman suku, bahasa, dan agama yang merupakan realitas tak terbantahkan. Sehingga akan lahir pemimpin dan warga negara yang bertanggung jawab.

Kawit An Nur Slawi

“Melalui PPMN yang dihadiri oleh anggota pramuka dari 34 provinsi seluruh Indonesia ini, saya berharap siswa madrasah dapat menjadi pelopor kebhinnekaan dan kemajemukan di Indonesia. Kita berharap siswa madrasah dapat tumbuh menjadi calon pemimpin yang tidak hanya kompeten dan profesional, tetapi juga kreatif, terampil dan berkarakater,” papar Lukman Hakim.

Pesan keempat Menteri Agama adalah agar para kakak pembina Pramuka Madrasah bisa melakukan inovasi pola pendidikan dan pelatihan kepramukaan ditengah derasnya arus kompetisi dewasa ini. Menurutnya, pramuka kekinian tidak hanya bisa “bertepuk tangan” dan “yel-yel”, tetapi pramuka kekinian juga harus jago IT dan teknologi.

“Saya mengapresiasi terobosan yang dilakukan oleh Panitia PPMN III 2017 dengan memasukkan materi Lomba Inovasi Kewirausahaan dan juga lomba pembuatan film pendek. ? Pramuka Madrasah tidak boleh hanya bisa berbaris rapi, gerak jalan, mengibarkan bendera saja, akan tetapi pramuka madrasah juga harus bisa membuka bisnis atau perusahaan baru, sehingga lahir wirausahawan muda yang dilatih melalui gerakan pramuka,” papar Lukman Hakim.

Pesan kelima Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin agar ajang PPMN III 2017 ini tidak hanya digunakan sebagai ajang perkenalan dan pertemuan biasa saja. Akan tetapi, hendaknya momentum ini juga digunakan sebagai ajang ? silaturrahim dan komunikasi antar sesama anggota pramuka yang datang dari berbagai provinsi seluruh Indonesia.?

“Kegiatan PPMN ke-3 ini merupakan sebuah kegitan yang baik untuk menjalin jaringan dan mempererat ukhuwah Islamiyah dan juga ukhuwwah wathoniyah untuk masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik. Siapa tahu anda akan saling bertemu lagi di Gedung Senayan, di Lembaga Kementerian, di forum Perserikatan Bangsa Bangsa, dan juga di forum-forum strategis lainnya, baik di petas nasional maupun internasional di masa epan nanti,” tutup Menteri Agama Lukman Hakim. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Warta, News Kawit An Nur Slawi

Rabu, 21 Februari 2018

Gus Mus: Belajar Agama, Jangan Hanya Mengandalkan Google!

Temanggung, Kawit An Nur Slawi

KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) meminta kepada umat muslim pada umumnya untuk belajar ilmu agama dengan guru yang jelas, seperti halnya belajar atau mengaji di pondok pesantren.

Gus Mus: Belajar Agama, Jangan Hanya Mengandalkan Google! (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Belajar Agama, Jangan Hanya Mengandalkan Google! (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Belajar Agama, Jangan Hanya Mengandalkan Google!

"Di pesantren ada kiai atau ustadz yang mempunyai pengetahuan agama yang cukup serta punya rujukan yang jelas; bersandar Al-Qur’an dan Hadits. Jangan sampai belajar agama hanya mengandalkan google, nanti bisa menyesatkan," ucap pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang itu.

Ia menyampaikan hal itu pada acara halal bihalal Persatuan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Kaffah (P4SK) di halaman Pondok Pesantren Arrobany Darunnaim Lungge Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (30/7) malam.

Kawit An Nur Slawi

Gus Mus juga mengaku prihatin, belakangan ini banyak orang tidak punya pengetahuan agama yang bagus, hanya bermodal browsing google, lalu ceramah ke mana-mana. "Kalau tidak kita antisipasi, hal demikan itu bisa sesat-menyesatkan," ujar Mustasyar PBNU itu.

Sementara itu Pengasuh Pesantren Al Anwar Sarang Rembang KH Maimoen Zubair dalam tausiahnya mengatakan, pondok pesantren merupakan merupakan ciri khas Islam, salah satu tonggak perubahan dan pertahanan negeri. "Mari sama-sama terus mempertahankan keberadaan pesantren. Pesantren tidak boleh mati," pinta kiai yang kini berusia 89 tahun.

Kawit An Nur Slawi

Menurut Ketua Pengurus Pusat Persatuan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Kaffah (P4SK) KH M Yusuf Chudlori, pondok pesantren salaf punya? peran penting dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan moral generasi muda. Selain diajarkan ilmu agama, di sana juga diajarkan ilmu bermasyarakat dan life skill (kecakapan hidup).

"Pondok pesantren sebagai benteng Ahlussunnah wal Jamaah. Maka, ponpes salaf harus kita uri-uri atau lestarikan," katanya.

Dewan Pembina Pengurus Pusat P4SK KH. Abdurrozaq menuturkan, pondok pesantren menjadi lembaga atau pusat pendidikan harapan bangsa. Menurut Kiai Rozaq, pesantren salaf selalu mengajak amar makruf nahi munkar, bukan kesesatan. Pesantren salaf merupakan penerus ajaran Wali Songo. Namun anehnya, orang tua zaman sekarang kurang percaya diri dan enggan menitipkan putra-putrinya di pesantren.

"Orang tua justru bangga melihat anaknya canggih memainkan game, namun tidak tahu tentang pengetahuan agama atau ilmu agama. Ini yang menjadi keprihatinan saya," ucapnya di hadapan sepuluh ribu jamaah yang merupakan alumni pondok pesantren salaf se-Jateng dan DIY.

Lanjut Kiai Rozaq, inilah yang menjadi tugas? mutakharijin (para alumni pondok pesantren) dan santri untuk terus menonjolkan identitas pesantren dan harus mengampanyekan Gerakan Ayo Mondok. "Di pesantren inilah, diajarkan Islam yang rahmatan lil alamin, bukan Islam radikal atau mengajarkan terorisme. Kami (P4SK, red)? siap membantu pemerintah untuk menumpas segala aksi terorisme," ucapanya.

Kiai Rozaq menegaskan, terorisme merusak tatanan, merusak ukhuwah dan moral. Oleh sebab itu. "Kalangan pesantren wajib hukumnya jihad (perang) melawan terorisme," tuturnya. (Ahsan Fauzi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Amalan Kawit An Nur Slawi

Generasi Muda NU Buka Sekolah Malam

Bantul, Kawit An Nur Slawi
Trauma yang dialami oleh anak-anak korban gempa bumi yang terjadi Sabtu (27/5) lalu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, tak terkecuali kalangan muda NU. Para generasi muda NU yang tergabung dalam Tim Solidaritas Kemanusian NU (TSK NU) menyelenggarakan sekolah malam untuk anak-anak di dusun Pajangan, Panggungharjo, Sewon, Bantul.

Kegiatan yang dilaksanakan pukul 18.30 hingga pukul 20.00 ini setidaknya diikuti kurang lebih dari 30 anak, dari TK hingga kelas 4 SD, dan telah dimulai sejak Senin (5/6) lalu. Dibawah bimbingan 4 orang guru pendamping dari IPNU, IPPNU dan Fatayat, kegiatan ini berlangsung ditenda-tenda darurat.

Koordinator pelaksana Hamdi MZ mengatakan, kegiatan itu sedianya menjadi media bagi anak-anak usia sekolah untuk belajar dalam kondisi darurat. Lebih penting lagi, sekolah malam dimaksudkan untuk memberi terapi mental bagi anak-anak yang traumatik pascamusibah gempa.

“Korban yang paling menderita dari bencana gempa ini adalah anak-anak, karena mereka kehilangan ruang bermain dan kreatifitas. Karena itu, kita ingin ikut mengurangi beban yang mereka tanggung dengan mencoba mengembalikan kecerian meskipun dalam kondisi yang memprihatinkan,” tutur Hamdi, di tenda sekolah malam, Rabu (7/6) tadi malam.

Berdasarkan pemantauan Kawit An Nur Slawi, kegiatan sekolah malam itu lebih ditekankan pada hal-hal yang sifatnya refresing seperti menyanyi, cerita, bermain, melukis, puisi, dan lain-lain. Para pendamping juga menyediakan waktu untuk bimbingan pelajaran sekolah mengingat sebentar lagi para siswa akan mengikuti ujian.

Agus (45), salah satu dari orang tua yang mendampingi anaknya tadi malam mengaku senang dengan kegiatan yang diadakan kalangan muda NU ini. “Kami menyambut dengan baik kegiatan ini, karena kami khawatir anak-anak malah keluyuran nggak karuan,” katanya. (ron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Generasi Muda NU Buka Sekolah Malam (Sumber Gambar : Nu Online)
Generasi Muda NU Buka Sekolah Malam (Sumber Gambar : Nu Online)

Generasi Muda NU Buka Sekolah Malam

Selasa, 20 Februari 2018

Sutrisno Bachir Jajaki Kerja Sama dengan Gus Dur

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir (SB) menjajaki kerja sama politik dengan Ketua Dewan Syuro PKB Gus Dur.

Saat buka puasa bersama di Jakarta, Selasa, secara lugas Bachir mengatakan dirinya meniru langkah-langkah Gus Dur yang dinilainya bergaya hidup merakyat. "Urusan syariat (keagamaan) ikut para kiai, tetapi urusan politik dan pemerintahan ikut Gus Dur," kata Bachir.

Sutrisno Bachir Jajaki Kerja Sama dengan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Sutrisno Bachir Jajaki Kerja Sama dengan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Sutrisno Bachir Jajaki Kerja Sama dengan Gus Dur

Kepada Gus Dur, Bachir juga mengungkapkan sejumlah rencananya untuk bersafari ke kantong-kantong suara nahdliyin. Ditegaskannya bahwa saat ini tidak ada lagi hambatan berarti antara partai berlambang matahari itu dengan kalangan nahdliyin karena di antara keduanya sama-sama inklusif dan pluralis.

"Tak ada jarak lagi antara NU dan PAN. Saya tak keberatan warga NU ke PAN, cuma apa mereka mau," katanya.

Sementara itu Gus Dur mengatakan PAN dan PKB tak perlu berkoalisi karena pada dasarnya sudah banyak kesamaan di antara keduanya. Dikatakannya, sebagai seorang yang melahirkan PKB, dirinya akan membawa PKB itu ke jurusan tertentu, yaitu memikirkan nasib rakyat.

"Sekarang ini PKB dalam suasana tak karu-karuan. Baru lepas enam orang (dipecat). Saya nekat, yg penting kiai kampung di belakang saya," katanya.

Kawit An Nur Slawi

Mengenai kemungkinan pencalonan Bachir sebagai capres di pilpres 2009, Gus Dur mengatakan, "Jangan diributin, wong belum jadi apa-apa".

Namun, menurut Gus Dur, seandainya Soetrisno Bachir jadi presiden, ia tentu harus membantunya. Dalam hemat Gus Dur, pantas-pantas saja Soetrisno Bachir menjadi presiden sejauh rakyat memang menghendakinya.

Dalam kesempatan itu, Gus Dur juga mengatakan bahwa dirinya menganggap Susilo Bambang Yudhoyono bukan sebagai Presiden RI lagi. "Kenapa? Karena baik di Bengkulu maupun Padang, dia gagal mengorganisasi masyarakat menolong dirinya sendiri. di Tasikmalaya juga ada masyarakat yang tak terlindungi. Itu sudah menyalahi konstitusi," katanya. (ant/mad)

Kawit An Nur Slawi



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Sunnah, Syariah Kawit An Nur Slawi

Kitab Rais Aam Dikaji di Luar Negeri

Tanpa mesti buka kamus bahasa Indonesia, semua orang mengerti kitab. Kitab merupakan buku bacaan. Sementara kuning adalah salah satu warna yang serupa dengan warna emas murni atau warna kunyit. Setidaknnya begitu dikatakan oleh kamus besar bahasa Indonesia.

Sedangkan kitab kuning lain lagi persoalannya. Kitab kuning boleh juga dipahami sebagai buku bacaan yang dipelajari kalangan pesantren atau masyarakat khususnya di Indonesia. Kitab kuning ditulis dengan bahasa Arab atau Arab pegon baik Melayu, Jawa, Sunda, dan lainnya.

Selain ulama Timur Tengah, para kiai di Indonesia juga produktif dalam menulis. Mereka menulis dengan standar keilmuan yang tidak diragukan. Mereka menulis dengan aneka tema, mulai dari fiqih, tafsir, hadis, doa, ushul fiqih, tasawuf, aqidah, falak, dan bidang ilmu lainnya.

Kitab Rais Aam Dikaji di Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Rais Aam Dikaji di Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Rais Aam Dikaji di Luar Negeri

Satu contohnya kitab Thariqathul Hushul ala Ghayatil Wushul. Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab oleh Rais Am PBNU KHM Ahmad Sahal Mahfudz. Kitab ini dicetak pertama oleh penerbit Dianatama Surabaya pada tahun 2000/1421 H.

Kitab berisi 460 halaman ini berbicara ilmu Ushul Fiqih. Ia menguraikan kitab Ghayatul Wushul karya Syekh Abu Zakaria Al-Anshari.

Kawit An Nur Slawi

“Kitab ini dipelajari di Pesantren Benda Brebes,” kata Syatiri Ahmad Ketua Pengelola Perpustakaan PBNU kepada Kawit An Nur Slawi di Perpustakaan PBNU, Kantor PBNU lantai dua, Jakarta Pusat, Jumat (15/3) siang.

Dalam pengakuanya, Syatiri mengatakan kitab itu menjadi sumber referensi utama di salah satu universitas di Timur Tengah. Perihal ini diungkapkan oleh seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di universitas itu saat mengunjungi Perpustakaan PBNU.

“Selain patut diapresiasi, perihal ini juga dapat mendorong para kiai Indonesia untuk lebih produktif dalam menulis kitab,” tambah Syatiri.

Kawit An Nur Slawi

“Universitas itu adalah Jamiatul Quranul Karim di Sudan,” kata Biro Kerja Sama Beasiswa Timur Tengah PBNU Ahmad Ridho kepada Kawit An Nur Slawi di Kantor PBNU lantai tiga, Senin (18/3) petang.

Syatiri menyayangkan bahwa kitab itu belum dikaji di pondok-pondok pesantren di Indonesia. Sejumlah alasan dapat dikemukakan. Pertama, keterbatasan jumlah cetak kitab  itu. Kedua, kurangnya sosialisasi dari pihak penerbit. Ketiga, ketertutupan pesantren di Indonesia dalam menerima karya-karya ulama Nusantara. 

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Islam, Pondok Pesantren Kawit An Nur Slawi

Hubungan Syuriyah dan Tanfidziyah NU

Di dalam struktur kepengurusan NU, syuriyah menempati posisi paling utama. Pada awal berdiri, yang justru dikenal publik adalah para syuriyah itu. Untuk Rais ‘Aam Syuriyah PBNU pertama disebut Rais Akbar. Sebuah istilah yang tidak pernah digunakan lagi pada masa-masa selanjutnya. Khusus untuk Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.   

Bahkan, hingga Muktamar NU kedelapan di Jakarta, 1933, tidak ada rapat khusus tanfidziyah meski saat itu telah ada kepengurusannya. Barulah di Muktamar NU setahun kemudian, di Banyuwangi, ada rapat tanfidziyah secara khusus. 

Choirul Anam menyebut sejak muktamar kesembilan itu sebagai masa perkembangan NU, untuk membedakan dengan periode sebelumnya, masa pertumbuhan. 

Hubungan Syuriyah dan Tanfidziyah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hubungan Syuriyah dan Tanfidziyah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hubungan Syuriyah dan Tanfidziyah NU

Untuk menjelaskan posisi syuriyah dan tanfidziyah itu kepada orang awam, pers NU, misalnya Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) menyebut dengan sederhana, NU bagian ulama dan bukan ulama. Ternyata hal itu disebutkan juga pada statuten NU setelah diresmikan sebgai organisasi sah di Hindia Belanda pada tahun 1930. 

Pada statuten itu, yakni pasal pasal 4 mengatakan, yang boleh menjadi anggotanya ini perkumpulan hanya orang yang beragama Islam yang bermazhab sebagai tersebut dalam pasal 2. Mereka dibedakan menjadi: a. anggota guru agama (ulama) dan b, anggota bukan guru agama. 

Kawit An Nur Slawi

Menurut Presiden Hoopd Bestuur Nahdlatoel Oelama (sekarang istilahnya Ketua Umuma PBNU) Mahfud Shiddiq, syuriyah berarti ruh, sedangkan tanfidziyah jasad atau jasmani. Kedua kelompok ini tidak boleh terpisah dari NU. 

Tanfidziyah tidak bisa melakukan pergerakan organisasi tanpa sepengatahuan syuriyah. Hal ini sepertinya ditegaskan mengingat NU didirikan para ulama.

Kata Kiai Mahfud, NU tidak boleh menelantarkan bagian ruh dan juga bagian jasmani. Kedua bagian itu sama-sama pentingnya. Nah, dalam bergerak, kedua bagian ini tidak boleh sekal-kali melanggar aturan agama. Di dalam kerjanya, syuriyah jangan melemahkan tanfdziyah, begitu juga sebaliknya, tanfidziyah jangan sampai memadarati syuriyah. 

Kawit An Nur Slawi

Karena itulah NU pada awal berdiri membuat peraturan pada pasal ayat 3 menyebutkan: “Sesuatu departemen tidak boleh menjalankan suatu aturan (usaha) bahasa sebelum dimintakan fatwa hukumnya syuriyah alg zaken.” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kiai Kawit An Nur Slawi

Senin, 19 Februari 2018

Penelitian Naskah Kuno Masjid Agung Solo

Solo, Kawit An Nur Slawi. Litbang Kementerian Agama (Kemenag), beberapa waktu lalu melakukan penelitian terhadap puluhan naskah kuno koleksi Masjid Agung Solo. Penelitian itu melibatkan ahli sejarah dan penghafal Quran. 

“Kami memilih objek penelitian di perpustakaan masjid ini sesuai dengan tema penelitian, yakni Penelitian Naskah Sebagai Sumber Sejarah,” kata Koordinator Peneliti Litbang Kemenag, Muhammad Wardah di sela-sela kegiatannya, beberapa waktu lalu.

Penelitian Naskah Kuno Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Penelitian Naskah Kuno Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Penelitian Naskah Kuno Masjid Agung Solo

Dijelaskan, naskah-naskah kuno yang diteliti itu sudah berumur lebih dari 50 tahun. Pada umumnya, tulisan dalam naskah itu berupa tulisan Arab tanpa harokat atau biasa disebut Arab gundul.

Kawit An Nur Slawi

Komponen Masjid Agung juga dijadikan bahan penelitian. Penelitian Masjid Agung Solo antara lain berupa bentuk fisik bangunan berikut makna simbol-simbol yang ada di dalamnya.

“Selain naskah, kami lengkapi data pada masjidnya, seperti simbol sirap tiga tingkat, yang pastinya menggambarkan sesuatu,” terangnya.

Kawit An Nur Slawi

Selain itu, karakteristik jemaah masjid, juga menjadi bahan penelitian tersendiri. Menurutnya, setiap masjid di beberapa wilayah di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri. Seperti di salah satu masjid di Ternate yang melarang jemaah yang memakai sarung untuk masuk masjid. Jemaah disarankan memakai celana panjang sebelum masuk masjid.

“Mungkin di masjid ini memiliki karakteristik tersendiri, seperti pada masjid di Ternate itu,” paparnya. 

Ditambahkan, selain kompleks Masjid Agung Solo, ada juga tim lain yang melakukan penelitian serupa dengan mengambil objek berbeda. Objek yang diambil antara lain, Masjid Al Wustho Pura Mangkunegaran dan perpustakaan Keraton Solo.

 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Meme Islam, RMI NU, Olahraga Kawit An Nur Slawi

Aparat Kemenag Ditantang Buktikan Pernyataan Gus Dur Tak Benar

Surabaya, Kawit An Nur Slawi. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menantang aparatur Kemenag ? Provinsi Jatim untuk membuktikan ? bahwa Kementerian yang bermoto Ikhlas Beramal ini “bukan pasar” sebagaimana yang pernah dikiaskan ? Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). ?

Hal ini disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada acara Pembinaan Pejabat di Lingkungan Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, di Asrama Haji, Kamis (10/12) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Aparat Kemenag Ditantang Buktikan Pernyataan Gus Dur Tak Benar (Sumber Gambar : Nu Online)
Aparat Kemenag Ditantang Buktikan Pernyataan Gus Dur Tak Benar (Sumber Gambar : Nu Online)

Aparat Kemenag Ditantang Buktikan Pernyataan Gus Dur Tak Benar

Menag mengaku, ketika dipanggil Presiden SBY untuk dijadikan Menteri Agama pada akhir Mei 2014, yang terngiang dalam benaknya saat itu adalah sosok Gus Dur yang ingin membubarkan Depag (Red-Kemenag). Terlintas dalam ingatan Menag, perkataan Gus Dur bahwa Kemenag tidak ada bedanya dengan pasar, yang tidak ada hanya agama.?

Kawit An Nur Slawi

“Saya amat bersyukur atas pernyataan Gus Dur tersebut. Kewajiban saya adalah membuktikan kepada Bangsa Indonesia bahkan dunia, bahwa pernyataan itu tidak benar,” papar Menag.

Kawit An Nur Slawi

Disampaikan Menag, Kemenag dididirikan ? agar masyarakat tidak tercerabut jati dirinya. Sebab, Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius di mana nilai-nilai agama ikut serta mengatur kehidupan di tengah keragaman.?

Sehubungan itu, Menag berharap seluruh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag dapat memberikan perubahan yang lebih baik dengan sama-sama mengimplementasikan ? lima ? nilai budaya kerja. Pertama, integritas. Seluruh ASN Kemenag harus mempunyai kesadaran yang tinggi untuk menjaga integritas dan kejujuran yang merupakan perwujudan bahwa yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan selaras dengan kenyataan.

Kedua, profesionalitas. “Setiap kita harus menambah dan meningkatkan kemampuannya, dan juga dituntut untuk memahami bidang tugas masing-masing. Karena kemajuan zaman semakin canggih, maka kemampuan juga dituntut untuk ditingkatkan,” tutur Menag.

Ketiga, inovasi. ASN Kemenag jangan sampai terjebak dalam rutinitas. ASN Kemenag bertugas melayani masyarakat dengan segala dinamikanya yang kompleks.?

“Maka dari itu kita harus mengimbangi dinamika yang ada,” papar Menag.

Keempat, tanggungjawab. “Kita semua harus kerja on the track. Tanggungjawab tidak hanya kepada rekan kerja. Harapannya, jangan lagi melakukan hal tidak terpuji. Sekarang dan ke depan kita harus lebih bertanggungjawab,” tegasnya.

Kelima, keteladanan. Menurut Menag, ASN Kemenag harus bisa menjadi teladan bagi masyarakat. Sebab, aparatur yang bekerja di Kemenag dipersepsikan mengerti ? agama sehingga sering dijadikan ? rool model, contoh dan teladan bagi masyarakat.?

“Mari menjadi teladan yang baik,” ajak Menag.

Sebelumnya, Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur Mahfudh Shodar menyampaikan ? tekadnya untuk menuntaskan reformasi birokrasi di Kemenag Jawa Timur. Caranya dengan menerapkan tatakelola pemerintah yang baik, profesional dan akuntabel sehingga bisa menjadi contoh bagi kementerian lain.

Senada dengan itu, Kabag TU Mustain selaku ketua panitia melaporkan bahwa kegiatan yang bertujuan meneguhkan reformasi birokrasi ini ? mengusung tema “Melalui Peningkatan Kompetensi Pejabat, Kita Ciptakan Kompetensi Manajemen SDM ASN yang profesional”. Tampak hadir dalam kegiatan ini Wagub Jatim Saifullah Yusuf. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Halaqoh, RMI NU Kawit An Nur Slawi

Radio NU Rembang Gulirkan Program Kirim Doa Tiap Jumat

Rembang, Kawit An Nur Slawi. Bagi warga NU di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah yang ingin mengirimkan tahlil, Radio NU Rembang (NURFM) setiap Jumat ada acara kirim doa bagi keluarga yang sudah meninggal, usai shalat jumat.

Radio NU Rembang Gulirkan Program Kirim Doa Tiap Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio NU Rembang Gulirkan Program Kirim Doa Tiap Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio NU Rembang Gulirkan Program Kirim Doa Tiap Jumat

Acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari syiar Aswaja dan menjalankan amaliah NU. Program ini digagas oleh Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Rembang.

Suyoto Tohir sebagai pembaca tahlil dan doa secara live di radio NUR FM menjelaskan, kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk meneruskan tradisi para ulama sepuh yang biasa mendoakan orang lain.

"Tujuannya adalah sebagai bentuk melestarikan budaya para sesepuh yang biasa mendoakan orang lain terutama yang sudah meninggal,” tuturnya beberapa waktu lalu di Rembang.

Kawit An Nur Slawi

Menurut salah seorang crew radio NUR FM Rembang Nia Syafira mengemukakan, pendengar bisa memberikan catatan nama orang yang mau didoakan dibarengi dengan shodaqoh jariyah se- ihklasnya.

"Caranya mudah, hanya dengan memberikan catatan keluarga yang sudah meninggal, dan dikirimkan langsung ke studio radio NUR fm Rembang, dan disertai dengan shodaqoh se-ikhlasnya," jelasnya.

Kawit An Nur Slawi

Selain acara kirim doa, di radio NUR fm Rembang diantara mengenalkan para tokoh NU, baik nasional maupun lokal di Kabupaten Rembang. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Sunnah Kawit An Nur Slawi

Menyingkap Hakikat Makna Haji

Judul: Makna Haji

Penulis: Dr. Ali Syariati

Penerbit: Zahra, Jakarta

Menyingkap Hakikat Makna Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyingkap Hakikat Makna Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyingkap Hakikat Makna Haji

Edisi: Pertama, 2007

Tebal: 260 halaman

Peresensi: Lukman Santoso Az*

Kawit An Nur Slawi

Ibadah haji, dalam rukun Islam, merupakan ibadah kelima setelah syahadat, salat, puasa dan zakat. Ibadah ini dilakukan pada hari-hari tertentu di bulan Dzulhijjah dengan urutan amalan-amalan tertentu. Setiap pelaku haji melakukan amalan-amalan tersebut pada tempat-tempat yang tertentu pula. Di antaranya adalah Mekah, tempat para jamaah haji melakukan thawaf (mengelilingi Ka’bah), sa’i (lari-lari kecil), dan tahallul (memotong rambut). Kemudian, Arafah, suatu padang tandus tempat para jamaah haji melakukan perenungan dan berdoa sebanyak-banyaknya. Lalu, Mina, tempat para jamaah haji melontar tiga macam jumrah, dan seterusnya hingga ritual haji selesai. Pertanyaannya, apa rahasia yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji itu, apakah ia hanya sekadar ritual belaka, atau ada makna luhur di balik semua ritual tersebut?

Kawit An Nur Slawi

Berdasarkan pemahaman itulah, Dr Ali Syariati, melalui buku ini, mengajak kita untuk menyelami ritual haji menuju makna sesungguhnya. Ia juga menggiring kita ke dalam lorong-lorong haji yang penuh hikmah. Karena, haji, dalam pemahamannya bukan sekadar ritual wisata yang hampa makna, haji merupakan sebuah langkah maju menuju ‘pembebasan diri’, bebas dari penghambaan kepada tuhan-tuhan palsu menuju penghambaan kepada Tuhan Yang Sejati. Melalui buku ini, Dr Ali Syari’ati juga akan memberitahu kita tentang siapa saja kepalsuan yang ternyata menjadi sahabat, kekasih dan pembela kita, yang harus kita waspadai dan kita bongkar topeng-topeng kemunafikannya. Mulai dari penafsiran makna ritual miqat, Ka’bah, tawaf, sa’i, Arafah, Mina, hingga makna ritual kurban, Idul Adha, Ali Syari’ati, dengan bahasa yang khas memberikan pemahaman yang begitu komprehensif bagi kita tentang makna haji.

Memahami makna haji, dalam konteks ini membutuhkan pemahaman secara khusus dengan sejarah Nabi Ibrahim dan ajarannya, karena praktik-praktik ritual ibadah ini memiliki keterkaitan dengan pengalaman-pengalaman yang dialami Nabi Ibrahim bersama keluarganya. Para ilmuwan seringkali berbicara tentang penemuan-penemuan manusia yang memengaruhi atau bahkan merubah jalannya sejarah kemanusiaan. Tapi, seperti ditulis al-Akkad, penemuan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim merupakan penemuan manusia terbesar dan yang tak dapat diabaikan para ilmuwan atau sejarawan, ia tak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom betapa pun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut.

Haji, dalam pemahaman Syari’ati, merupakan kepulangan manusia kepada Allah yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak diserupai oleh sesuatu apapun. Kepulangan kepada Allah merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai dan fakta-fakta. Dengan melakukan perjalanan menuju keabadian ini, tujuan manusia bukanlah untuk binasa, tetapi untuk berkembang. Tujuan ini bukan untuk Allah, tetapi untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Makna-makna tersebut dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non-ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, dalam bentuk nyata atau simbolik dan semuanya, pada akhirnya mengantarkan seorang haji hidup dengan pengamalan dan pengalaman kemanusiaan universal.

Semisal, dalam konteks niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram, haji memiliki makna yang lebih universal dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pakaian ihram melambangkan pola, preferensi, status dan perbedaan-perbedaan tertentu. Tak dapat disangkal bahwa pakaian, pada kenyataannya dan juga menurut Al-Quran berfungsi sebagai pembeda antara seseorang atau sekelompok dengan lainnya. Pembedaan tersebut dapat mengantar kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis pada pemakainya. Di Miqat Makany, di tempat di mana ritual ibadah haji dimulai, perbedaan dan pembedaan tersebut harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan, hingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan.

Di Miqat ini, apapun ras dan suku harus dilepaskan. Semua pakaian yang dikenakan sehari-hari yang membedakan sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan), tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu daya), atau domba (yang melambangkan penghambaan) harus di tinggalkan. Semua ditinggalkan ketika Miqat dan seorang haji berperan sebagai manusia yang sesungguhnya. Di Miqat, dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih, sebagaimana yang akan membalut tubuh manusia ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan merasakan jiwanya dipengaruhi oleh pakaian ini. Ia akan merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kabah yang dikunjungi, dalam pemahaman Syariati, mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sana, misalnya, ada Hijr Ismail yang arti harfiahnya pangkuan Ismail. Di sanalah Ismail putra Ibrahim, pembangun Kabah ini pernah berada dalan pangkuan Ibunya yang bernama Hajar, seorang perempuan hitam, miskin, bahkan budak, yang konon kuburannya pun di tempat itu. Namun demikian, budak perempuan ini ditempatkan Tuhan di sana atau peninggalannya diabadikan Tuhan, untuk menjadi pelajaran bahwa Allah memberi kedudukan untuk seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tapi karena kedekatannya kepada Allah dan usahanya untuk menjadi Hajar atau berhijrah dari kejahatan menuju kebaikan, dari keterbelakangan menuju peradaban.

Selain itu, melalui buku setebal 260 halaman ini, Syari’ati juga mengupas makna pengorbanan Ismail yang hingga kini diabadikan umat muslim di seluruh penjuru dunia, makna Idul Adha, makna bermalam di Mina serta makna beberapa ritual lainnya. Syariati, melalui buku ini, hendak menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagi manusia. Dengan kata lain, orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang tampil beda (lebih lurus hidupnya) dibanding sebelumnya, dan ini adalah kemestian. Kalau tidak, sesungguhnya kita hanyalah wisatawan yang berlibur ke Tanah Suci di musim haji, tidak lebih. Buku ini amat penting untuk dibaca oleh siapapun, sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran baru akan makna haji yang hakiki.



Peresensi Pustakawan Hasyim Asyari Institute, Yogyakarta
Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Meme Islam, Pesantren, Khutbah Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 17 Februari 2018

Yenny Wahid Apresiasi Perancang Busana Muslimah Indonesia

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Yenny Wahid mendukung karya perancang tanah air dengan mengenakan busana-busana buatan mereka, termasuk saat dia bepergian ke luar negeri.?

"Apalagi kalau keluar negeri, sengaja bawa baju mereka biar ditanya Siapa yang bikin?" ungkap putri kedua Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid itu di Jakarta Fashion Week 2014, Kamis.?

Yenny Wahid Apresiasi Perancang Busana Muslimah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenny Wahid Apresiasi Perancang Busana Muslimah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Yenny Wahid Apresiasi Perancang Busana Muslimah Indonesia

Perempuan bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid itu mengaku bangga pada kemampuan perancang Indonesia yang disebutnya sejajar dengan perancang dunia papan atas.?

Kawit An Nur Slawi

"Mereka punya kualitas dan kreativitas serta kemampuan membaca pasar yang luar biasa, saya super bangga," ujar perempuan yang menggemari karya perancang Sebastian Gunawan, Ghea Panggabean, Edward Hutabarat, dan Auguste Soesastro.?

Kawit An Nur Slawi

Dia juga menyebutkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan fashion muslimah.?

"Tidak seperti di negara Islam lain yang dibatasi model dan warna tertentu, untuk kreativitas bisa setinggi langit," papar perempuan yang sedang mengandung anak ketiga itu.?

Dia menegaskan, mode adalah sarana untuk menerima setiap gaya orang lain tanpa harus menghakimi, termasuk beragam pendapat pro kontra soal fashion muslimah yang kerap disebut tidak sesuai tuntunan agama.?

"Syari itu definisinya apa? Definisinya banyak dan berbeda dari setiap ulama. Terima saja orang mau mengekspresikan hijab seperti apa, jangan memaksakan kehendak kita pada orang lain," tuturnya. (antara/mukafi niam)

Foto: Detik

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Pesantren Kawit An Nur Slawi