Rabu, 25 Maret 2015

Gelar Anugerah Pejuang Pendidikan

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Setelah melewati tarik ulur yang cukup alot terkait dengan formasi kepengurusan, Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) akan segera dilantik. Struktur tertinggi di organisasi berbasis pelajar NU yang telah memiliki ketua umum baru itu akan segera dikukuhkan oleh Pengurus Besar (NU).

Insya Allah, pelantikan akan dilaksanakan pada tanggal 15 September (2006, red) nanti,” kata Ketua Umum PP IPNU Idy Muzayyad kepada Kawit An Nur Slawi di temui di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (6/9)

Gelar Anugerah Pejuang Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Anugerah Pejuang Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Anugerah Pejuang Pendidikan

Idy, begitu panggilan akrab pria yang alumnus IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini, membantah anggapan bahwa kepengurusannya terancam keretakan. Akan segera dilantiknya kepengurusan baru tersebut, lanjutnya, merupakan bukti bahwa tim yang dikomandaninya saat ini sudah benar-benar solid dan siap untuk melakukan gerakan-gerakan nyata.

Selain itu, pria kelahiran Magelang, 17 September 1977 ini mengungkapkan, dalam acara pelantikan yang bakal digelar di Balai Kota DKI Jakarta nanti, sekaligus juga akan dirangkai dengan acara “Malam Anugerah Pejuang Pendidikan”. “Kita akan memberikan penghargaan kepada tokoh atau orang-orang yang selama ini berjuang dan berkontribusi nyata terhadap dunia pendidikan di Indonesia,” ungkapnya.

Dijelaskan Idy, pemberian penghargaan itu dilatarbelakangi oleh beberapa alasan. Pertama, sebagai organisasi yang menghimpun pelajar-pelajar NU seluruh Indonesia, pihaknya ingin benar-benar berkonsentrasi dan memfokuskan gerakannya pada dunia pendidikan. “Kepentingannya adalah menegaskan orientasi dan perjuangan IPNU dalam dunia pendidikan,” jelasnya.

Kedua, lanjut Idy, mendorong semua pihak agar menyadari betapa pentingnya pendidikan dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Pendidikan, menurutnya, salah satu kunci utama kebangkitan bangsa Indonesia. Ketiga, memberikan keteladanan kepada semua elemen bangsa agar turut terdorong untuk terus berjuang dan memerhatikan dunia pendidikan.

Kawit An Nur Slawi

Idy menyebutkan terdapat tujuh nama yang akan menerima penghargaan “Pejuang Pendidikan” dari IPNU itu, antara lain Prof.Dr. I Gede Winasa (Bupati Jembrana, Bali), Sutiyoso (Gubernur DKI Jakarta), Prof.Dr. Arif Rahman (praktisi dan pakar pendidikan), KH. Nur Muhammad Iskandar (Pengasuh Pondok Pesantren Assiddiqiyah, Jakarta), Bahrudin (Direktur SMP Alternatif Qoriyah Toyyibah, Jakarta) dan “Bu Guru Kembar” Sri Rossyati dan Sri Irianingsih (Guru Sekolah Darurat Kartini, Jakarta) (rif)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Cerita, Nusantara Kawit An Nur Slawi

Minggu, 22 Maret 2015

Ini Jawaban untuk Kelompok yang Selalu Menyalahkan Adat

Pringsewu, Kawit An Nur Slawi



Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Provinsi Lampung KH Munawir menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan hadits merupakan sumber utama dalam pengambilan hukum dalam Islam. Namun, dibutuhkan pemahaman yang mendalam untuk memahami kedua sumber ini, baik pemahaman secara tekstual maupun pemahaman kontekstual.

"Tidak semua hukum Islam diambil dari nash saja yang dipahami secara tekstual. Namun, pemahaman secara kontekstual juga sangat perlu dilakukan. Dan itulah mengapa sangat perlu adanya sumber kontekstual yaitu ijma dan qiyas," katanya pada Jihad pagi di gedung NU, Ahad (19/11).

Ini Jawaban untuk Kelompok yang Selalu Menyalahkan Adat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Jawaban untuk Kelompok yang Selalu Menyalahkan Adat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Jawaban untuk Kelompok yang Selalu Menyalahkan Adat

Ia mencontohkan kebiasaan azan bagi bayi yang baru lahir merupakan hasil pemahaman kontekstual yang dicontohkan Nabi untuk menyambut kehadiran seseorang. Begitu juga azan ketika menguburkan mayat merupakan pemahaman kontekstual terhadap sunah Nabi yang melakukan azan ketika melepas kepergian seseorang.

"Al-’adah al-muhakkamah (kebiasaan bisa menjadi hukum) banyak ditemui dalam kehidupan kita sehari-hari yang bersumber dari dasar ijma dan qiyas," katanya.

Penjelasan tersebut merupakan jawaban bagi sebagian kelompok yang saat ini gemar menyalahkan amalan kelompok lain yang menurut kelompok ini tidak tertuang dalam Al-Qur’an dan hadits secara tekstual.

Kawit An Nur Slawi

Saat ini, menurutnya, sudah mulai bermunculan paham-paham yang secara frontal memaksa untuk mengubah tatanan sosial dan agama di tengah masyarakat. Dengan dalih kembali kepada Al-Qur’an dan hadits, kelompok ini sering menyalahkan adat dan budaya yang menurut mereka tidak ada tuntunan agamanya.

"Kita harus sadar bahwa kita hidup di tengah keberagaman. Kondisi budaya dan sifat masyarakat berbeda-beda. Kalau dipaksakan sesuai keinginan, pastilah muncul ketidakharmonisan di tengah masyarakat yang berujung kemudaratan," katanya.

Oleh karena itu, ia mengajak kepada seluruh umat Islam untuk terus belajar agama dan dihayati maknanya. 

Kawit An Nur Slawi

"Dengan terus belajar, kita akan memahami dalil yang ada. Bisa jadi orang yang menyalah-nyalahkan dengan mengatakan tidak ada dalilnya karena memang tidak tahu dalilnya," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaSantri, Olahraga Kawit An Nur Slawi

Kamis, 19 Maret 2015

Ketika Gadget Gantikan Buku-buku Sejarah Indonesia

Jakarta, Kawit An Nur Slawi - Suatu ironi ketika puluhan tahun kemerdekaan Republik Indonesia berjalan ada sekolompok orang yang mengatasnamakan paham tertentu bermaksud mengubah dasar negara. Mereka mengabaikan ratusan juta orang lainnya yang lahir dengan berbagai perbedaan tersebut. Bentuk intoleransi ini adalah ancaman bagi keberlangsungan NKRI dan berpotensi memecah-belah masyarakat yang hidup di wilayah Nusantara.

Demikian disampaikan Direktur Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur di SMK Negeri 32 Jakarta, Jumat (13/10) sore.

Ketika Gadget Gantikan Buku-buku Sejarah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Gadget Gantikan Buku-buku Sejarah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Gadget Gantikan Buku-buku Sejarah Indonesia

Paham intoleransi ini bisa masuk dan diterima segelintir anak bangsa karena ketidakpahaman atas sejarah bangsa Indonesia. Ketika teknologi informasi dan kelincahan memainkan jari di perangkat elektronik menggantikan buku-buku sejarah dan sastra-budaya Indonesia, generasi muda kini mungkin telah merasa nyaman dan cukup puas dengan akses informasi yang tersedia di dunia maya.

Kawit An Nur Slawi

“Mereka tidak terbiasa dan tidak mahir dengan cara-cara ‘konvensional’ untuk menggali informasi dan menguji kesahihannya serta menyatakan pendapat dengan argumentasi ilmiah yang masuk akal dan berbobot.”

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menangkal paham intoleransi adalah dengan kembali memahami sejarah bangsa yang benar dan bijaksana dalam menggunakan informasi yang tersedia.

Kawit An Nur Slawi

“Yang tak kalah penting juga adalah upaya menanamkan kembali rasa cinta tanah air sebagai landasan kehidupan berkebangsaan yang siap menerima segala keragaman beserta perbedaan-perbedaannya. Terutama di tengah tandus-keringnya nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme dewasa ini,” kata Ghopur.

Ia berharap kegiatan dialog dan penanaman kembali wawasan kebangsaan di sekolah-sekolah menjadi dapat berkontribusi bagi bangsa ini seperti kegiatan dialog kebangsaan. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pertandingan, Doa, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Ketika Seorang Sahabat Menjadi Presiden

Menyaksikan seorang sahabat menjadi presiden, tentu memberikan perasaan tersendiri bagi pengasuh Pesantren Al-Qur’aniyy Solo, KH Abdul Karim.

Saat diwawancarai salah satu stasiun TV swasta, Senin (20/10), kiai yang akrab disapa Gus Karim itu menceritakan kisah mereka, ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) hendak mencalonkan diri menjadi menjadi presiden, beberapa bulan silam.

“Sesaat sebelum pengambilan nomor urut, Jokowi sempat bertanya melalui SMS kepada saya, tentang wiridan apa yang perlu dibaca,” kata Gus Karim yang pernah menjadi ketua tanfidziyah PCNU Kota Surakarta,.

“Gus, apakah wiridannya itu perlu dibaca? Saya jawab, ya perlu dibaca wiridan itu,” kata Gus Karim tanpa menyebut wirid apa yang diijazahkannya ke Jokowi.

Ketika Seorang Sahabat Menjadi Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Seorang Sahabat Menjadi Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Seorang Sahabat Menjadi Presiden

“Esoknya beliau kembali menghubungi saya , Gus saya dapat nomor dua. Saya jawab, ya itu, salah sendiri cuma tanya lewat SMS, tidak sowan langsung,” ujar Gus Karim menirukan pembicaraanya dengan Jokowi.

Pengasuh Majelis Dzikir dan Shoalwat Jamuro itu juga memiliki panggilan tersendiri kepada Jokowi. “Dari dulu saya memanggilnya dengan sebutan ‘Pak Wali’. Bahkan, ketika sudah menjadi Gubernur. Tapi ndak tahu kalau sudah jadi presiden sekarang,” katanya sembari terkekeh.

Kata Gus Karim, Jokowi itu punya tiga nama panggilan, “Pertama yoqowiyu, ini panggilan dari mereka yang terlalu mengidolakan. Adapula yang memanggilnya dengan biasa Jokowi, seperti saya. Lain lagi dengan yang tidak senang, memanggilnya dengan jo kui (jangan yang itu).”

Kawit An Nur Slawi

Jokowi dan Jamuro

Pada kesempatan lain, Gus Karim juga pernah mengungkapkan, sosok Jokowi yang ikut membesarkan jamaah Sholawat di Solo bersama Jamaah Muji Rosul (Jamuro). Menurutnya, Jamuro tak lepas dari Jokowi.

Kawit An Nur Slawi

“Saat Jokowi naik, mulai saat itulah Jamuro naik. Akhirnya kami pun meminta Jokowi untuk menjadi penasihat Jamuro.”

Gus Karim menceritakan “ledakan” jemaah Jamuro terjadi seusai mereka berkegiatan di Lodji Gandrung, Rumah Dinas Walikota Solo. “Sebelum Pak Jokowi ngunduh Jamuro di Lodji Gandrung jemaah sekitar 100- 200 orang setelah itu semakin banyak. Sekarang jemaah bisa mencapai 2.000-3.000 orang jika Jamuro mengadakan pengajian,” ucapnya. (Ajie Najmuddin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hikmah, Pahlawan Kawit An Nur Slawi