Senin, 30 Desember 2013

Bagi IPPNU Bondowoso, Hukum Turba “Fardhu ‘Ain”

Bondowoso, Kawit An Nur Slawi. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, sejak dilantik, terbilang rajin menyabangi Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Komisariat (turba). Tujuannanya untuk pengayoman dan kaderisari.

Bagi IPPNU Bondowoso, Hukum Turba “Fardhu ‘Ain” (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi IPPNU Bondowoso, Hukum Turba “Fardhu ‘Ain” (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi IPPNU Bondowoso, Hukum Turba “Fardhu ‘Ain”

Ketua PC IPPNU Bondowoso Robiatul Adawiyah menyebut pernah menyambangi PAC Telogo 2 kali, Jambesari dan Weringin, PAC Tegal Ampel 2 Kali dengan pembentukan Ketua IPPNU, ke SMA NU Bondowoso sampai 7 kali, Wonosari, ke Cermi 2 kali dan Curahdami.

Robik, panggilan akrabnya, mengaku sejak dilantik sebagai pengurus, bahkan sejak masih menjadi ketua dua (kaderisasi) periode 2012-2014 sudah melakulan hal itu. “Hampir semua pembentukan saya hadir. Selama masih sanggup membentuk PAC dan PK, maka turba “fardhu ‘ain” (kewajiban yang tak bids digantikan orang lain, red.) hukumnya," katanya kepada Kawit An Nur Slawi Jumat (18/12).

Kawit An Nur Slawi

PAC dan Komisariat, kata dia, tidak cukup hanya dibentuk saja, tapi butuh pengayoman karena mereka masih banyak yang kurang mengerti. Jadi dari PC IPPNU sering turba mengarahkan bagaimana alurnya menjadi pengurus IPPNU.

Kawit An Nur Slawi

Ia bercerita, dengan menyambangi PAC dan Komisariat, mereka antusias karena mereka merasa punya muara untuk menumpahkan beragam pertanyaan.

Robik menambahkan agenda terdekat di awal tahun 2016 akan mengadakan pelatihan batik tulis yang melibatkan pelajar putra putri dan remaja putri secara umum. Dari pelatihan tersebut, IPPNU ingin memberikan pengetahuan dan praktek untuk membuka lapangan pekerjaan. “Juga melestarikan budaya indonesia dan warisan nenek moyang," tutupnya. (Ade Nurwahyu/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nusantara, Olahraga, Internasional Kawit An Nur Slawi

Minggu, 29 Desember 2013

Bunyi Komitmen NU pada Demokrasi Pancasila di Muktamar 1967

Ketika Pancasila telah diakui sebagai dasar negara maka setiap sistem yang di bangun di atasnya haruslah bersendikan pada dasar yang telah disepakati bersama, baik dalam politik budaya termasuk dalam demokrasi. Sejak kembali ke UUD 1945, Indonesia telah menerapkan sistem Demokrasi Terpimpin. Istilah ini pertama kali dilontarkan oleh Ki Hajardewantara, kemudian diterjemahkan dalam realitas oleh Bung Karno, sebagai bentuk demokrasi Indonesia. Demokrasi ini sendiri mengacu pada pasal empat Pancasila, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Artinya demokrasi yang mengacu pada nilai dan cita-cita bersama bangsa ini.

Sejak awal NU yang diwakili KH Saifuddin Zuhri dan KH A Syaichu menegaskan bahwa NU menerima sistem Demokrasi Terpimpin asal penekanan tetap diletakkan pada demokrasinya, bukan pada terpimpinnya. Karena tanpa adanya kepemimpinan demokrasi menjadi anarki, demikian juga tanpa demokrasi maka kepemimpinan menjadi represi. NU menginginkan adanya demokrasi yang terarah bukan demokrasi liberal yang tanpa arah, yang ada hanya suara bersama, yang mengabaikan prinsip dan moral. Hadirnya Demokrasi Terpimpin penting untuk mengatasi anarki politik yang ditimbulkan oleh demokrasi liberal zaman itu.

Bunyi Komitmen NU pada Demokrasi Pancasila di Muktamar 1967 (Sumber Gambar : Nu Online)
Bunyi Komitmen NU pada Demokrasi Pancasila di Muktamar 1967 (Sumber Gambar : Nu Online)

Bunyi Komitmen NU pada Demokrasi Pancasila di Muktamar 1967

Ternyata pelaksanaan Demokrsi Terpimpin banyak mengalami penyimpangan, penekanan tidak pada demokrasinya, tetapi pada pemimpinannya. Karena itu NU pada Muktamar Ke-24 NU di Bandung mengadakan tinjauan ulang terhadap Demokrasi Terpimpin itu. Bukan pada substansinya tetapi pada istilah serta bentuk penerapannya. NU berusaha mengembalikan demokrasi pada sumber dasarnya yaitu Pancasila.

Kawit An Nur Slawi

Dengan asumsi semacam itu NU mengusulkan penggunaan istilah baru Demokrasi Pancasila, yaitu demokrasi atau kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan dan permusyawaratan serta perwakilan. Pada dasarnya Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan. Dengan demikian, kebebasan berdemokrasi dibatasi oleh pertama, batas keselamatan negara; kedua, kepentingan rakyat banyak; ketiga, kepribadian bangsa; keempat, batas kesusilaan; dan kelima, batas pertanggung-jawaban pada Tuhan. Setiap keputusan yang melanggar kelima batas itu dinyatakan batal secara moral dan politik. Demikian pandangan dan sikap NU terhadap politik dan demokrasi. Berikut adalah maklumat lengkap dari deklarasi pada muktamar tahun 1967 itu:



Deklarasi Demokrasi Pancasila

Kawit An Nur Slawi



Bismillahirrahmanirrahim

Dengan penuh pertanggungan jawab kepada Allah subhanahu wata’ala, kepada perjuangan memenangkan Orde Baru untuk kebahagiaan jasmaniah dan rohaniah seluruh bangsa Indonesia, Muktamar NU ke-24 di Bandung mengeluarkan Deklarasi Tentang Demokrasi Pancasila.

Mukaddimah

Penentangan terhadap ajaran Demokrasi Liberal pada hakikatnya penentangan terhadap suatu politik yang membuka kemungkinan timbulnya peranan perorangan dan kelompok kecil di dalam masyarakat yang dapat mencapai kekuasaan politik dengan mengabaikan kepentingan rakyat banyak.

Penentangan terhadap ajaran Marxisme-Leninisme pada hakikatnya penentangan terhadap sistem politik yang membenarkan pencapaian kekuasaan melalui kekerasan dan dominasi berdasarkan kekuatan dari satu golongan terhadap golongan yang lain.

Penentangan terhadap ajaran Demokrasi Terpimpin pada hakikatnya penentangan terhadap sistem politik yang menjurus kepada kekuatan perorangan dan segolongan kecil dengan menggunakan predikat “terpimpin” sebagai cara untuk melenyapkan demokrasi setahap demi setahap sehingga sempurna.

Pembinaan Orde Baru dengan demikian pada hakikatnya adalah pembinaan demokrasi yang tidak menganut sistem Demokrasi Liberal, ajaran Maerxisme-Leninisme maupun Demokrasi Terpimpin. Demokrasi ini berdasarkan Pancasila atau “Demokrasi Pancasila”.

Sifat Umum Demokrasi Pancasila

Demokrasi Panacasila adalah demokrasi yang berlandaskan UUD 1945 dan Pancasila.

Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang menegaskan bahwa kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat, melalui lembaga-lembaga perwakilan yang anggota-anggotanya dipilih di dalam suatu pemilihan umum yang bebas dan demokratis.

Demokrasi Pancasila menolak semua bentuk kekuasaan dan kekuatan yang dipeproleh dari lembaga perwakilan rakyat.

Mengakui hak mayoritas seimbang dengan kewajiban yang dipikulnya.

Di bidang agama, Demokrasi Pancasila mengakui hak dan kewajiban pemeluk mayoritas begitu juga hak dan kewajiban pemeluk minoritas sesuatu agama.

Demokrasi Pancasila

Lembaga Perwakilan Rakyat dibentuk melalui pemilihan umum yang bebas dan demokratik, dari representasi partai-partai politik dan lain-lain organisasi massa yang terorganisir, yang mencalonkan wakil-wakilnya di dalam pemilihan umum.

Berdasarkan kondisi-kondisi objektif, sistem proporsional adalah sistem yang terbaik di dalam pemilihan umum.

Tentang Peranan Rakyat di Dalam Demokrasi Pancasila

Massa Rakyat yang terorganisir di dalam partai-partai politik dan lain-lain organisasi massa adalah alat yang mutlak di dalam melaksanakan Demokrasi Pancasila yang sesungguhnya.

Partai politik dan lain-lain organisasi massa mempunyai hak dan kewajiban untuk memperjuangkan politik ideologi masing-masing serta berjuang untuk kesejahteraan seluruh rakyat di atas landasan Pancasila.

Bandung 10 Juli 1967

Sumber: Abdul Mun’im DZ (Editor), Piagam Perjuangan Kebangsaan, 2011 (Jakarta: Setjen PBNU-Kawit An Nur Slawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nasional, Kajian Kawit An Nur Slawi

Rabu, 27 November 2013

Hasil Riset: Lembaga Zakat Swasta Lebih Kreatif dan Inovatif

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Pengumpulan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) di masyarakat kini sangat gencar dilakukan di Indonesia. Hal ini juga didukung dengan keberadaan UU 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat. Untuk mengelola ZIS, pemerintah membentuk Baznas sedangkan nonpemerintah dapat membentuk Lembaga Amil Zakat (LAZ).

Hasil penelitian yang dilakukan Badan Litbang Kementerian Agama yang dilakukan di delapan daerah di Indonesia menyebutkan bahwa Bazis yang dikelola oleh pemerintah daerah masih melakukan cara-cara yang konvensional. Hal ini berbeda dengan LAZ yang pengumpulan dana ZIS-nya sudah banyak melakukan inovasi produk yang sangat kompetitif dan terus membangun trust dari masyarakat.

Hasil Riset: Lembaga Zakat Swasta Lebih Kreatif dan Inovatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasil Riset: Lembaga Zakat Swasta Lebih Kreatif dan Inovatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasil Riset: Lembaga Zakat Swasta Lebih Kreatif dan Inovatif

Pola-pola penggalian dana yang dilakukan oleh Baznas tingkat propinsi atau kabupaten/kota adalah dengan membuat Perda/Instruksi (gubernur, bupati/walikota) dalam pengumpulan ZIS dari SKPD dan BUMD. Akibatnya, dana yang terkumpul masih jauh di bawah potensi yang seharusnya.?

Penelitian ini menemukan, salah satu masalah pengelolaan Baznas di tingkat propinsi dan kabupaten/kota yang masih konvensional adalah karena pimpinan Baznas yang diangkat selama ini ditunjuk dari para pansiunan birokrat. Karena itu, dalam rekomendasinya, Balitbang Kemenag menyatakan agar pengangkatan pimpinan Baznas harus diisi oleh orang-orang yang kompeten.?

Permasalahan lain terkait dengan dunia filantropi Islam ini adalah belum adanya SOP bagi Baznas untuk memberikan rekomendasi bagi Baznas baik tingkat provinsi, kabupaten/kota, maupun LAZ (nasional, provinsi, kabupaten/kota). Hal tersebut menghambat upaya penegakan regulasi bagi terbentuknya BAZ maupun LAZ di daerah.?

Kawit An Nur Slawi

Eksistensi LAZ saat ini juga banyak yang belum sesuai dengan UU dan Peraturan Pemerintah (PP). Lembaga Amil Zakat lebih banyak dibentuk dalam skup yang lebih terbatas, seperti LAZ dalam perusahanaan, dinas sosial, atau Ormas Islam.?

Database juga menjadi persoalan yang sangat penting, baik menyangkut muzaki maupun mustahik. Hal ini berguna untuk mengsinergikan kerjasama antar lembaga pengelola zakat yang hasilnya dapat mengoptimalkan penghimpunan dana ZIS. Karena itu, Balitbang Kemenag juga merekomendasikan untuk pembentukan database yang baik.

Kawit An Nur Slawi

Lembaga Amil Zakat non-pemerintah cenderung lebih dipercaya masyarakat karena dalam mengimplementasi penyaluran zakat lebih transparan dan akuntabel. Sedangkan dalam program penggalangan dana mereka sudah menggunakan pola kreatif dan inofatif, semisal membuat zakat pengembangan ekonomi mandiri, pendidikan, maupun layanan kesehatan dan sosial.?

Penelitian yang dilakukan pada bulan Agustus 2015 ini meliputi delapan daerah dengan menggunakan kriteria bahwa di lokasi tersebut terdapat 3 lembaga zakat (Baznas atau LAZ). Delapan lokasi tersebut adalah Pekanbaru, Palembang, DKI Jakarta, Bandung, DI Yogyakarta, Surakarta, Surabaya dan Banjarmasin. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Bahtsul Masail, Kyai, Warta Kawit An Nur Slawi

Minggu, 24 November 2013

Muslimat Bahas Pengembangan Dakwah melalui Majelis Taklim

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Yayasan Hidmat NU Pusat yang merupakan unit kerja Pimpinan Pusat Muslimat NU mengadakan Rapat Permusyawaratan Kepengurusan di Gedung PBNU lantai 5, Senin (23/4). Rapat Permusyawaratan Kepengurusan Hidmat NU membahas tentang pengembangan dakwah melalui majelis taklim dan upaya membumikan Islam Ahlussunnah wal Jama‘ah.

Muslimat Bahas Pengembangan Dakwah melalui Majelis Taklim (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat Bahas Pengembangan Dakwah melalui Majelis Taklim (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat Bahas Pengembangan Dakwah melalui Majelis Taklim

Sedikitnya 40 unsur pimpinan Muslimat NU menghadiri acara ini. Mereka antara lain terdiri dari jajaran Dewan Pembina Hidmat NU, Dewan Pengawas Hidmat NU, Pengurus Hidmat NU, Pimpinan Pusat Muslimat NU, Ketua Bidang Dakwah PP Muslimat, dan Koorodinator Bidang Dakwah PP Muslimat NU.

Hidmat NU, Himpunan Da‘iyah dan Majelis Taklim NU, adalah unit yayasan Muslimat NU yang melayani masyarakat dalam bidang dakwah Islam. Pasca Kongres PP Muslimat NU ke-15 di Batam, Hidmat NU dicetuskan sebagai perangkat layanan dakwah yang menggunakan majelis taklim sebagai sarana membangun umat.

Kawit An Nur Slawi

Hidmat NU memiliki 3 misi. Pertama, peningkatan kualitas para da‘iyah dan pengembangan majelis taklim sebagai sarana dakwah sesuai dengan perkembangan zaman. Dakwah semacam ini disebut sebagai pendekatan bil lisan, bil haal, bil maal, dan bil kitabah. Kedua, penumbuhkembangan para kader da‘iyah yang tangguh, berwawasan luas, dan berakhlakul karimah. Ketiga, peningkatan jalinan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.

“Dakwah Hidmat NU mesti menyesuaikan dengan pola masyarakat setempat. Karenanya, format dakwah mesti dicari mana yang sesuai dengan konteks masyarakat perkotaan dan masyarakat pedesaan,” tandas Khofifah Indar Parawansa, Ketua PP Muslimat NU dalam sambutannya.

Kawit An Nur Slawi

Rapat permusyawaratan ini pun menyediakan waktu bagi pengurus Hidmat NU periode 2007-2011 untuk melaporkan pertanggungjawaban kepengurusan masa baktinya. Laporan pertanggungjawaban disampaikan sendiri oleh Hj. Machfudhoh Aly Ubaid, Ketua Hidmat NU. Sementara kepengurusan masa bakti 2007-2011 secara hukum dinyatakan demisioner hingga terpilih struktur kepengurusan yang baru.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kiai Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 02 November 2013

Kader Muda NU Pati Promosikan Buku Motivasi Kuliah lewat Radio

Pati, Kawit An Nur Slawi. Buku yang ditulis kader muda NU yang tergabung dalam Sanlat dan BPUN Pati ini berisikan motivasi-motivasi kuliah. Selain itu dilengkapi dengan informasi kuliah, yaitu profil kampus, informasi beasiswa, jurusan dan lain sebagainya.

Demikian disampaikan Abdul Afif Elmuflich, koordinator pembuatan buku, ketika selesai menyampaikan motivasi kuliah di radio 101 PAS FM Pati Jl. Raya Pati Kudus Km. 3, Ahad (02/2).

Kader Muda NU Pati Promosikan Buku Motivasi Kuliah lewat Radio (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muda NU Pati Promosikan Buku Motivasi Kuliah lewat Radio (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muda NU Pati Promosikan Buku Motivasi Kuliah lewat Radio

Afif juga menyatakan bahwa buku ini juga dilengkapi dengan tips-tips memilih jurusan, cara memperoleh beasiswa dan cara menggali bakat-bakat yang terpendam.

Kawit An Nur Slawi

“Buku ini bukan hanya untuk kalangan pelajar Pati, namun jika pelajar di luar kota Pati menginginkan dapat menghubungi Panitia. Buku ini merupakan hasil kreativitas kader muda NU yang tergabung dalam Alumni Sanlat dan BPUN bimbingan Mata Air dan Gerakan Pemuda Ansor. Kami menginginkan agar generasi Muda NU dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan tidak terbayang-bayang oleh biaya,” ungkapnya.

Kawit An Nur Slawi

Ia juga menerangkan, jika para pelajar ada yang memesan dapat menghubungi ke nomor: 08985849379 dengan harga 25 ribu rupiah. “Selain itu, para pelajar yang ingin melanjutkan kuliah juga dapat bergabung di Grup Facebook BPUN Expo Kampus. Di grup tersebut para pelajar bisa shearing-shearing terkait dunia kampus dan memperoleh informasi terkait kuliah,” tandas afif. (Nur Sholikhin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Tokoh Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 19 Oktober 2013

Syamsul-Maisyaroh Pimpin IPNU-IPPNU NTB

Mataram, Kawit An Nur Slawi. Konferensi wilayah IPNU-IPPNU NTB yang diselenggarakan pada tanggal 26 Juli 2015 di pesantren Abharian Jerneng Labuapi Lombok Barat berakhir dengan hasil Syamsul Hadi terpilih secara aklamasi setelah kandidat lain menayatakan mundur dari pencalonan. 

Dua kandidat lain Hery Nurdiasyah mengaku dirinya sudah melebihi batas usia. "Saya sudah lewat batas usia dan saya percayakan kepada rekan Syamsul untuk memimpin IPNU satu priode ke depan," kata Hery. 

Syamsul-Maisyaroh Pimpin IPNU-IPPNU NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Syamsul-Maisyaroh Pimpin IPNU-IPPNU NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Syamsul-Maisyaroh Pimpin IPNU-IPPNU NTB

Sementara itu Hadi Irawan saat giliran penyampaian visi misinya menyatakan mundur dari pencalonan, "saya mundur dari pencalonan tanpa alasan. katanya singkat.

Kawit An Nur Slawi

Akhirnya Selamat Subroto selaku ketua pimpinan sidang menetapkan Syamsul Hadi sebagai ketua terpilih secara aklamasi. "Berdasarkan kedua calon (Hery Nurdiansyah dan Lalu Hadi Irawan) dari tiga yang daftar sebagai kandidat calon ketua IPNU NTB masa khidmat 2015-2018 maka ditetapkan rekan Syamsul Hadi sebagai ketua terpilih secara aklamasi, katanya sambil patok palu sidang yang disambut aplaus oleh peserta konferwil.

Kawit An Nur Slawi

Sedangkan IPPNU ditetapkan Bq. Maisyarah sebagai ketua terpilih setelah melalui voting dengan perbandingan suara 8 untuk Sarah dan 6 untuk Hidayah.

Pada saat pembukaan Irpan Suriadiata, ketua PW IPNU NTB demisioner menegaskan bahwa pola musyawarah harus di upayakan untuk mengurangi faksi-faksi di dalam intern IPNU. 

"Selama masih bisa dimusyawarahkan kita lakukan musyawarah agar IPNU-IPPNU tambah kuat menjadi garda terdepan mengawal generasi bangsa di tingkat pelajar,” katanya.

Dia pun memberikan peringatan dan menolak keras apabila ada calon  yang maju dan terpilih karena money politic ataupun sejenisnya "Saya akan menolak tanda tangan hasil rapat formatur apabila nanti ada calon terpilih menggunakan uang," tegas pengacara muda NTB ini.

IPNU-IPPNU, kata Irfan sapaan akrabnya belum bisa mentradisikan kaderisasi sehingga regenarasi mandek khususnya di Nusa Tenggara Barat. 

"Ke depan saya harapkan IPNU-IPPNU harus lebih baik dari kepengurusan kami saat ini," harapnya.

Hadir Ketua PWNU NTB sekaligus menjadi pencermah pada acara pembukaan konferwil yang dirangkaikan dengan halal bihalal IPNU NTB, Hery Susanto dari PP IPNU, Cabang-cabang IPNU se-NTB serta ratusan santri Abhariah. (Hadi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pemurnian Aqidah, AlaNu Kawit An Nur Slawi

Jumat, 18 Oktober 2013

Jangan Sampai Pilkada Sukses Prosedur tapi Cacat Substansi!

Tangerang, Kawit An Nur Slawi

Pilkada Serentak yang akan digelar pada awal tahun 2017 hendaknya dijadikan momentum bagi semua pihak untuk menyongsong kepemimpinan lima tahun ke depan yang jauh lebih baik. Selain proses dan prosedurnya berlangsung baik, yang jauh lebih penting substansi demokrasinya juga harus terwujud.

Demikian dikatakan Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Tangerang Khoirun Huda dalam Diskusi Pilkada Gubernur Banten 2017 yang diselenggarakan di Sekretariat GP Ansor Tigaraksa, Tangerang, Banten, Ahad (13/11).

Jangan Sampai Pilkada Sukses Prosedur tapi Cacat Substansi! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Sampai Pilkada Sukses Prosedur tapi Cacat Substansi! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Sampai Pilkada Sukses Prosedur tapi Cacat Substansi!

Menurutnya secara prosedur, proses demokrasi memang sudah berjalan baik. Namun belum diiringi dengan demokrasi yang substansif. Dia mencontohkan masih maraknya politik uang, kampanye hitam atau bahkan partisipasi yang bersifat mobilisasi bukan partisipasi yang berdasar pada kesadaran diri.

Kawit An Nur Slawi

Ia juga menyinggung masih adanya upaya politisasi agama dan penggunaan isu SARA dalam pemilihan kepala daerah. Hal demikian justru akan mereduksi nilai-nilai dan substansi Demokrasi. "Jangan sampai Pilkada hanya dipandang sukses secara prosedur namun cacat secara substansi," tuturnya.

Kawit An Nur Slawi

Huda menambahkan bahwa kader-kader Ansor harus berpartisipasi aktif dalam menyukseskan pelaksanaan Pilkada, di antaranya dengan melibatkan diri sebagai bagian penyelenggara pilkada ataupun dengan melakukan edukasi politik yang baik kepada masyarakat.

"Alhamdulillah sekarang banyak kader-kader Ansor yang terlibat menjadi penyelenggara baik ditingkatan PPK maupun Panwas atau bahkan terlibat di pemantau independen," imbuhnya.

Komisioner KPUD Provinsi Banten Didih M Sudi yang juga hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut menyampaikan paparan tentang dasar-dasar hukum dan desain pilkada serentak secara Nasional.

Menurutnya pemilu yang paling serentak akan dilaksanakan pada tahun 2024. Saat itu akan dilaksankan pemilihan serentak baik pilkada gubernur maupun bupati/walikota. Di tahun yang sama juga akan dilakukan pemilihan legslatif dan pemilihan presiden yang sesuai keputusan MK akan dilakukan bersamaan mulai tahun 2019.

Didih juga menyampaikan bahwa GP Ansor sebagai organisasi pemuda diharapkan mampu menjadi instrumen penggerak masyarakat agar lebih peduli dan berpartisipasi dalam pilkada nantinya. ?

Senada dengan Didih, Ali Zaenal Abidin selaku Komisioner KPU Kabupaten Tangerang menjelaskan bahwa pihaknya berusaha semaksimal mungkin melakukan sosialisasi kepada masyarakat guna meningkatkan partisipasi pemilih pada pilkada Gubernur dan wakil Gubernur Banten yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2017. Ia juga menjelaskan bahwa? dalam pilkada ini KPU mentargetkan tingkat partisipasi pemilih bisa mencapai 80 persen. "Dengan partisipasi pemilih yang tinggi, tentu tingkat legitimasi kepala daerah akan semakin kuat," jelasnya.

Kegiatan yang diinisiasi oleh KPUD dan GP Ansor tersebut dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari pengurus GP Ansor dan Banser tingkat kecamatan dan tingkat Desa yang ada di Kabupaten Tangerang. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Internasional, Tegal, RMI NU Kawit An Nur Slawi

Senin, 16 September 2013

Naruto, Pancasila dan Nasionalisme

Oleh Muhammad Aras Prabowo

Perkembangan paham radikalisme di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kian mengkhawatirkan. Berbagai lini dijadikan sebagai tempat strategis dalam menyebarkan pahamnya. Mulai dari lembaga pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi) dan tempat beribadah seperti masjid. Ajaran kebencian, intoleransi sampai dengan penolakan pancasila sebagai dasar neraga republik Indonesia.

?

Naruto, Pancasila dan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Naruto, Pancasila dan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Naruto, Pancasila dan Nasionalisme

Meskipun kelompok tersebut tergolong minoritas, tapi nampaknya gerakannya kian menghawatirkan bagi ketertiban NKRI. Pancasila sebagai dasar neraga tidak luput dari penolakan kelompok radikal ini. Hal tersebut jelas mengusik sikap nasionalisme bangsa Indonesia. Apalagi pancasila merupakan kebangga, bahkan mukjizat bagi seluruh masyarakat negeri dengan penduduk lebih kurang 250 juta jiwa.

Gerakan penolakan pancasila sebagai dasar Negara ditengarai oleh kelompok-kelompok islam transnasional seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan beberapa yang berafiliasi dengan organisasi internasiona seperti Ikhwanul Muslimin (IM) sampai dengan ? Negara Islam Irak dan Syam (NIIS) serta organisasi-organisasi yang telah berubah wujud menjadi organisasi masyarakat, namun ajarannya tetap menyebarkan kebencian, perpecahan, intoleransi dan penolakan terhadap pancasila.

Negara islam dan syriat sebagai dasar hukumnya adalah angan-angan yang selalu mereka lontarkan untuk mengantikan pancasila sebagai dasar negara. Tapi, pemerintah telah mengambil sikap tegas dengan memutuskan untuk membubarkan HTI karena dianggap sebagai organisasi yang menentang NKRI. Penelokan Pancasila sebagai dasar Negara adalah alasan pembubarannya. Keputusan tersebut diapresiasi oleh berbagai lapisan birokrasi dan Organisasi masyarakat lainnya, seperti Wakil Presiden (Jusuf Kall), Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (KH Ma’ruf Amin).

Kawit An Nur Slawi

Menurut Dr Hertz dalam bukunya yang berjudul Nationality in History and Politics menjelaskan beberapa unsur yang terdapat dalam sikap nasionalisme seperti, Hasrat untuk mencapai kesatuan, Hasrat untuk mencapai kemerdekaan. Hasrat untuk mencapai keaslian. Hasrat untuk mencapai kehormatan bangsa.?

Dari definisi tesebut nampak bahwa negara dan bangsa adalah sekelompok manusia yang: Memiliki cta-cita bersama yang mengikat warga negara menjadi satu kesatuan, Memiliki sejarah hidup bersama sehingga tercipta rasa senasib sepenanggungan, Memiliki adat, budaya, dan kebiasaan yang sama sebagai akibat pengalaman hidup bersama, Menempati suatu wilayah tertentu yang merupakan kesatuan wilayah; dan Teroganisir dalam suatu pemerintahan yang berdaulat sehingga mereka terikat dalam suatu masyarakat hukum.

Orang-orang yang tergabung dengan organisasi tersebut sungguh tidak memiliki sikap nasionalisme terhadap Negara. Tidak memahami perjuangan para pendahulu yang mengorbankan tenaga sampai dengan jiwa dalam merintis kemerdekaan NKRI. Terkait pancasila, para pendiri bangsa telah merumuskan secara final kelima sila pancasila sebagai dasar Negara negeri ini.

Kawit An Nur Slawi

?

Semua elemen yang terdapat dalam NKRI yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, ras, budaya dan beberpa agama telah menyatu dan diikat oleh nilai-nilai pancasila. Untuk itu, memahamkanya tentang sikap nasionalisme sangat penting. Lewat “Naruto” film anime yang banyak di tonton oleh kalangan anak-anak, remaja sampai dengan orang dewasa bisa dijadikan pembelajaran kepada kelompok tersebut tentang sikap nasionalisme.

Naruto Uzumaki adalah adalah tokoh utama dalam serial anime tersebut. Ia adalah bocah berambut pirang dan bermata biru dan sering terlihat memakai jaket dan celana panjang berwarna jingga. Di dahinya ada ikat kepala berwarna biru dengan lambang desa kelahirannya.

Menurut cerita, Naruto adalah seorang ninja dari desa Konoha (Konohagakure), yang bercita-cita untuk menjadi seorang Hokage (pimpinan tertinggi di desa Konoha). Hidupnya sebatang kara setelah ditinggal oleh kedua orangtuanya sewakti Ia masih kecil. Singkat cerita, Ia memulai pendidikannya di Akademi (sekolah) yang terdapat di Konoha. Di Akademi inilah Ia ditempah dan banyak belajar mengenai sikap nasionalisme seperti, bagaimana mencintai, melindungi, dan menjaga desa dan orang-orang yang Ia cintai.

Beberapa nilai kehidupan yang terkandung di dalam anime Naruto seperti, menggambarkan kasih sayang yang tulus, berusaha jujur dan percaya pada diri sendiri, Berjuang mempertahankan persahabatan dan perdamaian, menggambarkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air yang tinggi, menggambarkan pentingnya kerjasama, menghargai, menghormati, dan menolong sesama dan mengajarkan untuk mendahulukan kepentingan umum dalam kebenaran.

?

Namikaze Minato, Hokage Keempat yang rela mengorbankan dirinya saat menyegel Kurama, monster rubah ekor sembilan yang mengamuk ? dan menghancurkan Konoha dan membunuh beberapa shinobi. Sebenarnya Kurama tersegel dalam diri Kushina Uzumaki, istri Minato. Namun saat ia bersalin, segel itu melemah. Dan kesempatan itulah yang dimanfaatkan oleh Tobi, shinobi bertopeng, untuk melapaskan Kurama. Rubah ekor sembilan disegel kembali ke dalam diri anak Minato ? yang baru lahir, yang tak lain adalah Naruto. Dalam peristiwa itu Kushina juga mati.

Selanjutnya adalah Sarutobi yang rela mengorbankan dirinya ketika Orochimaru, mantan muridnya, menyerang Konoha saat ujian chuniin. Sarutobi mati karena menggunakan jurus penghisap roh untuk memukul mundur Orochimaru.Terakhir adalah Uchiha Itachi yang rela menjadi ninja buronan kelas satu setelah membantai seluruh klannya ? termasuk ayah dan ibunya. Ia hanya menyisakan adiknya saja: Uchiha Sasuke. Itachi melakukannya karena Klan Uchiha merencanakan makar. Selain nasionalisme, sebenarnya ada begitu banyak pelajaran yang bisa diambil dari anime naruto seperti persahabatan dan tekad yang kuat dalam menggapai cita-cita.

?

Fenomena perkembangan kelompok radikalisme dan anti-Pancasila yang kian subur, maka penting rasanya memahami pentingnya sikap nasionalisme dalam bernegara, khususnya bagi kelompok-kelompok yang bermimpi menggantikan Pancasila sebagai dasar negara. Seperti sikap nasionalisme yang ditanamkan oleh desa Konoha dalam anime Naruto kepada para penduduk desanya. Kedudukan sikap nasionalisme terhadap suatu Negara sangat penting untuk menjaga cita-cita kemerdekaan, kehormatan dan kesatuan bangsa.

Penulis adalah Gusdurian Makassar, Kader PMII Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Habib, PonPes Kawit An Nur Slawi

Senin, 09 September 2013

Telekonferensi PWNU Jatim Dipusatkan di Lamongan

Surabaya, Kawit An Nur Slawi

Puncak peringatan Hari Lahir (harlah) ke-82 Nahdlatul Ulama (NU) di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 3 Februari mendatang, dapat diikuti warga NU se-Indonesia melalui fasilitas telekonferensi (pembicaraan jarak jauh).

Di Jawa Timur, acara yang akan menyiarkan secara langsung pidato Rais Aam Pengurus Besar NU KH Sahal Mahfudz itu, dipusatkan di Alun-alun, Kabupaten Lamongan. Itu menjawab ketidakpastian pelaksanaan acara tersebut oleh Pengurus Wilayah NU Jatim.

Telekonferensi PWNU Jatim Dipusatkan di Lamongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Telekonferensi PWNU Jatim Dipusatkan di Lamongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Telekonferensi PWNU Jatim Dipusatkan di Lamongan

Ketua Panitia Pelaksana Harlah ke-82 NU Jatim, Echwan Siswadi, mengatakan, pelaksanaan telekonferensi itu nantinya dipastikan meriah, karena didukung sepenuhnya pengurus cabang NU se-Jatim, di antaranya, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Tuban dan Bojonegoro.

Kawit An Nur Slawi

“Insya Allah tidak akan mengecewakan,” tutur Echwan yang juga Wakil Bendahara PWNU Jatim itu kepada Kawit An Nur Slawi di Surabaya, Rabu (23/1) kemarin.

Berdasarkan laporan dari PCNU Lamongan, katanya, acara telekonferensi itu akan dihadiri setidaknya 50 ribu kaum Nahdliyin (sebutan untuk warga NU) dari wilayah Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Tuban dan Jombang.

Kawit An Nur Slawi

Sementara itu, pelaksanaan beberapa rangkaian peringatan harlah di Jatim lainnyay mengalami perubahan waktu dan tempat. Misalnya, ziarah ke makam para pendiri NU. Acara tersebut akan digelar pada Ahad (27/1) pagi.

Sedangkan seminar yang semula dijadwalkan pada 29 Januari 2008 diundur menjadi hingga tanggal 30 bulan yang sama. Pelaksanaan jalan sehat bersama kiai yang dijadwalkan tanggal 3 Februari, diubah menjadi tanggal 10 bulan yang sama. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pendidikan, News Kawit An Nur Slawi

Kamis, 05 September 2013

Khataman Al-Quran Sebagai Media Penguatan Organisasi

Jombang, Kawit An Nur Slawi. Pengurus Komisariat Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PKPTNU) STIT al-Urwatul Wutsqo (UW) Jombang memperkuat pola komunikasi dan menjaga kesolidan antar pengurus dengan berbagai cara, salah satunya khataman Al-Quran.

Kegiatan tersebut digelar pada Senin, (27/6 2016) di Taman Pendidikan Quran (TPQ) Nurul Ulum Dusun Ngasem, Desa Jombok, Ngoro, Jombang. Sejumlah pengurus PKPT setempat mengikutinya hingga rampung, kemudian dilanjutkan dengan buka bersama (bukber).

Khataman Al-Quran Sebagai Media Penguatan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Khataman Al-Quran Sebagai Media Penguatan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Khataman Al-Quran Sebagai Media Penguatan Organisasi

"Acara khataman dan bukber ini dilaksanakan tidak hanya sebagai bentuk suksesnya program Departemen Dakwah PKPT STIT UW, akan tetapi juga sebagai salah satu ajang mempererat silaturahim dan komunikasi anggota dan pengurus PKPT STIT UW Jombang," kata salah seorang Pengurus PKPTNU, Anna Uswatun Hasanah, Senin (27/6).

Sementara itu, inisiatif atau dorongan melaksanakan kegiatan, termotivasi dari salah satu ayat Al-Quran yang menganjurkan umat Islam agar melestarikannya.

"Dan memang dalam QS Al-Fatir ayat 30 yang artinya, agar Allah menyempurnakan pahala kepada mereka dan menambah karunia Nya, sungguh Allah maha pengampun dan maha pemberi rasa syukur," ujarnya.

Kawit An Nur Slawi

Terlebih lagi pada bulan Ramadhan ini, hendaknya memang dijadikan momentum menambah amal kebaikan.

"Disebutkan juga dalam hadits yang artinya, telah datang kepadamu bulan Ramadhan yang penuh berkah. Maka dengan bentuk acara khataman ini dapat kita gunakan sebagai rasa syukur atas karunia nikmat dan taqarrub illallah," imbuhnya.

Kawit An Nur Slawi

Sementara Abdul haris, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jombang mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan agar PKPTNU menggalakkan pengaderan warga NU di tingkat perguruan tinggi. (Syamsul Arifin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Internasional, Warta Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 31 Agustus 2013

Nusron Wahid Terpilih Ketua Umum Ansor

Surabaya, Kawit An Nur Slawi

Sidang pleno pemilihan ketua umum GP Ansor putaran kedua menetapkan Nusron Wahid sebagai ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor menggantikan Saifullah Yusuf yang telah menjabat selama dua periode.



Nusron Wahid Terpilih Ketua Umum Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron Wahid Terpilih Ketua Umum Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron Wahid Terpilih Ketua Umum Ansor

Nusron memeroleh 345 suara, unggul atas Warwan Ja’far yang hanya memeroleh 161 suara dari total 512 suara. Sementara 6 suara lainnya dinyatakan blangko.

Nusron yang juga mantan ketua umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) akan memimpin Ansor selama lima tahun mendatang, periode 2011-2016.

Kawit An Nur Slawi

Usai terpilih, Nusron menyatakan akan membawa Ansor tidak hanya berkutat pada persoalan nasional, tetapi juga internasional,“Ke depan, Ansor tidak hanya akan ikut memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia, melainkan juga bangsa dunia,” katanya bersemangat.

Dikatakannya, Islam Indonesia adalah potret Islam dunia yang direpresentasikan oleh NU. Maka Ansor harus siap mengawal ajaran-ajaran Islam yang telah dikembangkan oleh NU.

Kawit An Nur Slawi

Kepada para peserta kongres ia berharap dapat terus mengawal hasil-hasil kongres agar bisa direalisasikan dalam kepengurusan Ansor yang ia pimpin. “Ke depan saya tidak perlu dipuji tapi kritik saya, tagih janji-janji saya,” katanya.

Sebelumnya pada pemilihan putaran pertama memunculkan lima nama Yakni Nusron Wahud, Marwan Ja’far, Khotibul Umam Wiranu, Syaifullah Tamliha, Munawar Fuad Noeh, Malik Haramain dan Chairul Shaleh Rasyid.

Sesuai ketentuan bahwa calon yang bisa maju putaran kedua adalah memeroleh minimal 99 suara maka dipastikan calon ketua umum mengkrucut pada nama Nusron dan Marwan. Pada putaran kedua Nusron yang juga anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar ini menang atas Marwan yang juga anggota DPR dari Fraksi PKB. (hdy/nam/was/arm/ful)Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Lomba, Meme Islam Kawit An Nur Slawi

Senin, 12 Agustus 2013

KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj

Brebes, Kawit An Nur Slawi. Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Muslimat NU kabupaten Brebes melepas sebanyak 102 jamaah Calon Haji (Calhaj) binaannya. Keberangkatan jamaah ini mengikuti kelompok terbang 50 yang dilepas Bupati Brebes di Islamic Center Brebes, awal pekan lalu.

KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj (Sumber Gambar : Nu Online)
KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj (Sumber Gambar : Nu Online)

KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj

“Alhamdulillah, KBIH Muslimat NU memberangkatkan 102 pada musim haji 1436 Hijriyah,” kata Ketua KBIH Muslimat NU Hj Nok Jumaro, usai rapat persiapan pelantikan pengurus baru Muslimat NU periode 2015-2020 di gedung Muslimat NU jalan Kiai Kholid Barat Pasarbatang Brebes, Kamis (10/9) sore.

Hj Nok menjelaskan, sebanyak 102 jamaah ini berasal dari Kantor Pusat KBIH di ketanggungan sebanyak 77 calhaj dan Kantor Perwakilan Jatibarang sebanyak 25 calhaj. “Pusat KBIH Muslimat NU Brebes berada di Ketanggungan,” ujar Nyai Nok.

Kawit An Nur Slawi

Mereka, lanjutnya, sudah diterbangkan melalui bandara Adi Sumarmo Solo pada 8 September lalu bersama jamaah calhaj lainnya dari Brebes dan Batang. “Sampai saat ini tidak ada kendala yang berarti bagi calhaj,” terangnya.

Kawit An Nur Slawi

Menurut Nok, KBIH yang berdiri sejak 1998 ini selalu diminati warga Brebes terutama Nahdliyin. Tiap tahun mengalami perkembangan yang pesat, meskipun banyak sekali bermunculan KBIH. “Kami bersyukur KBIH Muslimat NU tetap bertahan membimbing para Calhaj yang hendak ziarah ke tanah suci, baik itu perjalanan Haji maupun Umrah,” tuturnya.

Dalam pengelolaannya, sambung Nok, pihak KBIH Muslimat Brebes ini menggunakan manajemen kekeluargaan. Sehingga pembimbing maupun calhaj saling melengkapi berbagai keperluan secara bergotong royong. “Dengan tenaga pembimbing yang sudah berpengalaman, para calhaj yang tergabung di KBIH Muslimat NU merasa nyaman,” ungkapnya.

Nok bertekad, pada kepengurusan Muslimat NU yang baru akan mengembangkan KBIH ini berada di berbagai tempat. Minimal ada di empat wilayah, sehingga bisa menjangkau warga Nahdliyin di 17 kecamtan sekabupaten Brebes. “Kami akan mengembangkan lagi di Brebes dan Bumiayu, sehingga ada empat perwakilan yang bisa menjangkau Nahdliyin di berbagai tempat,” tekadnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sejarah, Tokoh Kawit An Nur Slawi

Kamis, 08 Agustus 2013

Bekerjalah, Jujurlah dan Bertasbihlah

Bekerjalah kamu dan jadikanlah alat tenunmu (bila engkau penenun) sebagai tasbih. Jadikanlah kapakmu (bila tukang kayu) sebagai tasbih dan jadikanlah jarumnu (bila engkau penjahit) sebagai tasbih, dan jadikanlah perjalananmu (bila engkau pedagang) sebagai tasbih.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah di hari ini kita mempertebal ketaqwaan kita kepada Allah dengan menghindarkan diri dari kecurangan,kebohongan dan berbagai sifat tercela lainnya. Dan memulai hai-hari dengan penuh kejujuran karena kejujuran akan membuahkan kehalalan dan kehalalan yang kita konsumsi menentukan nasib kita selanjutnya.

Bekerjalah, Jujurlah dan Bertasbihlah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bekerjalah, Jujurlah dan Bertasbihlah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bekerjalah, Jujurlah dan Bertasbihlah

Hadirin yang Dirahmati Allah

Bekerja mencari rizki guna menopang ibadah hukumnya adalah wajib. Sebagaimana hukum ibadah itu sendiri. Hal ini telah disepakati oleh ulama. Karena bekerja merupakan salah satu cara memenuhi kebutuhan. Lebih-lebih bagi mereka yang telah berkeluarga, mereka memiliki tanggung jawab dan kewajiban memberi nafkah terhadap anak dan istri. Sedangkan nafkah bisa didapat oleh seseorang yang mau bekerja. Selain itu dengan bekerja seseorang dapat terhindar dari thama’, menggantungkan diri pada orang lain dan juga menghindar dari meminta-minta yang mana semua itu termasuk barang larangan agama. Dalam al-Jumu’ah ayat 10 Allah berfiman

Kawit An Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.?

Begitu pentingnya bekerja dan berusaha bagi seorang muslim. Karena sesungguhnya al-barakatu ma’al harakah bahwa keberkahan itu akan hadir bersama dengan pergerakan. Dimana ada kemauan untuk berusaha disitu Allah telah menyediakan keberkahan. Dengan kata lain Islam sangat membenci orang yang berpangku tangan, mengharapkan dan meminta-minta.

Ibrahim al-Matbuly pernah berpendapat bahwa orang fakir yang tekun beribadah (kurang berusaha) sedang dia tidak memiliki pekerjaan karena waktunya habis digunakan beribadah ibarat burung hantu yang berdiam di rumah kosong. Bahkan dengan sedikit agak keras Al-matbuli berkata:

Kawit An Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Menurut saya seorang mu’min yang bekerja, adalah lebih sempurna dari pada orang jadzab (seorang yang dalam dunia sufi dipahamti sebagai orang yang selalu terlena dengan Allah) seperti guruthariqah yang memangku jabatan yang mereka makan menggunakan agama, sebab mereka tidak memiliki pekerjaan duniawi yang bisa memelihara diri dari menerima sedekah umat Islam dan kotoran-kotoran mereka.

Meskipun pendapat Al-Matbuli ini memerlukan penjabaran lebih lanjut tentang koneks perkataannya, dan masih bisa didiskusikan panjang lebar. Tetapi, perkataan itu mengandung pesan bahwa bekerja dengan usaha sendiri adalah sebuah kemuliaan. Karena disitulah seseorang dapat menimbang dan memastikan posisi rizki mereka adakah itu hasil yang halal, haram ataukah syubhat. Berbeda jika hanya menerima dari orang lain. Sungguhpun pemberian itu didasari keikhlasa, akan tetapi penuh dengan kesyubhatan. Karena tidak diketahui dari manakah sumbernya.

Bahkan, tidak ada satu cerita pun dari hadits Rasulullah yang menerangkan larangan beliau kepada para sahabatnya untuk berhenti bekerja demi menjalankan dakwah agama, padahal waktu itu berdakwah sangat membutuhkan perhatian mengingat kondisi Islam masih sangat lemah baik secara sosial dan politik. Justru di kala itu Rasulullah saw tetap memerintahkan Abu Bakar untuk terus berdagang dan kepada sahabat lainnya untuk tetap menekuni keahliannya. Malahan ada sebuah hadits yang seolah menyinggung para sahabat saat itu yang berbunyi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Nabi Daud as tidak pernah makan kecuali dari hasil pekerjaan tangannya sendiri (HR.Bukhari)

Jama’ah Jum’ah yang Disayang Allah

Meski demikian, bekerja tidaklah cukup asal bekerja. Hendaknya bekerja harus dilakukan dengan penuh kejujuran. Kejujuran dalam bekerja wajib pula hukumnya. Karena pekerjaan yang dilakukan dengan jujur akan sangat mempengaruhi pola beribadah dan perilaku keseharian seorang hamba. Mengapa demikian, karena sesuatu yang halal merupakan buah dari kejujuran. Dan mengkonsumsi yang halal akan mempermudah seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah swt. Maka yang menjadi pertimbangan di sini adalah proses bekerjanya bukan hasil dari pekerjaan itu sendiri.

Hasil yang tidak maksimal tetapi diproses secara sempurna akan menghasilkan keberkahan walaupun kecil kwantitasnya. Namun hasil yang maksimal dengan proses yang cacat (tidak jujur) akan berdampak pada kesakitan moral pelakunya meskipun secara kwantitas lebih unggul. Lihatlah mereka yang bekerja dengan cara menipu ataupun berbohong pasti akan meraih sukses dalam jangka waktu yang relatif lebih singkat. Tetapi tidak lama pasti akan menjadi bahan gunjingan. Bukankah begitu nasib koruptor, penipu dan juga pembohong. Sesungguhnya yang demikian itu sangat dibenci oleh Rasululah saw.

Diceritakan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah saw pernah berjalan-jalan di pasar melewati setumpuk bahan makanan. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan itu. Ternyata pada bagian dalamnya basah. Kemudian beliau bertanya kepada si penjual “apakah ini?” si penjual menjawab “Ya Rasul, makanan ini terkena hujan”. Rasulullah saw pun bertanya kembali “mengapa makanan yang basah ini tidak kamu taruh di atas sehingga para pembeli bisa melihatnya?” kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya “? ? ? ?” (barang siapa menipu umatku, niscaya dia bukan termasuk golonganku).

Hadits tersebut sangatlah jelas dan mudah dipahami. Tidak ada kata-kata samar di dalamnya. Bahwa siapapun yang berlaku curang dalam pekerjaannya maka dia telah tersesat dan tidak termasuk golongan (umat) Rasulullah saw. Ini artinya kecurangan dan kebohongan sangatlah dicela dalam Islam.

Meskipun konteks dan pelaku dalam hadits tersebut adalah pedagang, tetapi tidak berarti pedagang saja yang dianjurkan berlaku jujur. Namun semua macam usaha dan pekerjaan hendaknya dilakukan dengan jujur, akrena kecurangan dapat menyeret seseorang keluar dari golongan Rasulullah saw. Tidak terkecuali para politisi, investor, pejabat dan atupun kuli. Sayanganya kecurangan dan kebohongan itu kini seolah dibenarkan bahkan dipelajari lengkap dengan metode dan terorinya dengan kedok manajemen pencitraan. Apakah pencitraan itu sebuah kejujuran? Silahkan dipertimbangkan sendiri.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Imam Abu Hasan As-Syadzili pernah berpendapat bahwa seseorang yang bekerja dengan jujur berarti dia telah berjuang melawan hawa nafsunya yang selalu condong pada kebohongan. Sehingga mereka yang jujur pantaslah mendapatkan apresiasi sebagaimana para mujahid yang berhasil membunuh musuh-musuhnya. Dalam sebuah taushiyah dia berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Barang siapa bekerja dan teguh menjalankan perintah-perintah Allah, maka benar-benar sempurna perjuangannya dalam melawan hawa nafsu” ?

Jamaah jum’ah yang Dirahmati Allah

Setelah kejujuran dalam bekerja kita raih, hendaklah kita melangkah lagi satu tingkat agar kehidupan ini lebih bermakna. Yaitu mengisi pekerjaan yang jujur dengan nuansa ibadah. Abu Abbas al-Mursi berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bekerjalah kamu dan jadikanlah alat tenunmu (bila engkau penenun) sebagai tasbih. Menjadikan kampak (bila bekerja sebagai tukang kayu) sebagai tasbih dan menjadikan jarum (bila sebagai penjahit) sebagai tasbih, dan menjadikan kepergiannya (bila berdagang) sebagai tasbih.

Karena itu apapun bentuk keahlian dan dimanapun pekerjaan itu bukanlah sekedar sumber penghasilan semata tetapi juga sumber ibadah.

Demikianlah khotbah singkat kali ini, semoga hal ini dapat menjadi bahan renungan yang mendalam, bagi kita semua amin.

?

? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?.

Khutbah II

?

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

(Ulil H). Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Meme Islam Kawit An Nur Slawi

Selasa, 23 Juli 2013

NU Blitar Utus 8 Orang Ikuti Diklat Falakiyah di Surabaya

Blitar, Kawit An Nur Slawi. Pengurus Cabang ? Nahdlatul Ulama Kabupaten Blitar memberangkatkan 8 orang ? untuk mengkuti pendidikan dan latihan (Diklat) Falakiyah atau kaderisasi Ulama Hisab Rukyat Angkatan XVIII pada 30 September-2 Oktober 2016 di Pondok Pesantren Al-Fitroh Kedinding Surabaya.

Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama Kabupaten Blitar, Kiai Syamsul Hadi Al-Bendhoti mengatakan bahwa yang dikirim diklat di Surabaya ini semua adalah pengurus Lembaga Falakiyah NU Kabupaten Blitar.?

NU Blitar Utus 8 Orang Ikuti Diklat Falakiyah di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Blitar Utus 8 Orang Ikuti Diklat Falakiyah di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Blitar Utus 8 Orang Ikuti Diklat Falakiyah di Surabaya

“Mereka yang kita kirim dari Blitar semua pengurus LFNU Kabupaten Blitar.Mereka diantaranya ? Ustdaz Sahruna, Kuswandi Spdi,Amru Rofieq dan Mukorobin,” ujar Syamsul Hadi Al-Bendoti.

Menurut Syamsul, pelatihan ini sangat penting untuk kaderisasi intlektual dalam bidang ? rukyatul hilal dan hisab.?

Kawit An Nur Slawi

“Saat ini jarang kader muslim yang berminat menekuni masalah ini.Untuk itu kami akan berusaha mempertahankan ilmu melalui pendidikan kader seperti ini,” kata pengasuh pesantren Mambaul Hidayah Kedawung, Nglegok Blitar itu.

Mengapa demikian, karena Blitar selalu menjadi bagian lokasi untuk melihat hilang setiap menjelang puasa dan lebaran. Tepatnya di Pantai Serang atau di Pantai Tambakrejo.?

”LFNU selalu diminta satu tim untuk mendapingi petugas rukyaul hilal dari Kemenag. Untuk itu kesempatan pelatihan ini kita manfaatkan untuk kaderisasi dan sekaligus ? peningkatan sumber daya manusia (SDM) nya,” tambah mantan pengurus GP Ansor Kabupaten Blitar itu. (Imam Kusnin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Pendidikan, Tokoh Kawit An Nur Slawi

Senin, 22 Juli 2013

Ibadah Qurban Salah Satu Wujud Kesempurnaan Iman

Pringsewu, Kawit An Nur Slawi - Untuk kesempurnaan wujud iman Kepada Allah SWT, Nabi Ibrahim AS adalah sosok yang sangat patut dijadikan teladan. Kecintaannya kepada Allah tidak berkurang walaupun cobaan berat diberikan kepadanya berupa perintah untuk mengorbankan apa yang dicintainya.

Nabi Ismail, putra semata wayangnya, yang sudah lama diharapkan kehadirannya dalam keluarga diperintahkan untuk disembelih sebagai ujian sejauhmana kecintaannya kepada Allah.

Ibadah Qurban Salah Satu Wujud Kesempurnaan Iman (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibadah Qurban Salah Satu Wujud Kesempurnaan Iman (Sumber Gambar : Nu Online)

Ibadah Qurban Salah Satu Wujud Kesempurnaan Iman

"Sebelum memiliki anak Ismail, Nabi Ibrahim terkenal sebagai kekasih Allah dengan julukan kholilullah. Di hatinya selalu ada Allah. Ia sangat hobi berkurban. Sampai-sampai ia berkata seandainya, ‘ia punya anak’. Allah memerintahkan untuk dikurbankan. Ia pun siap melakukannya sebagai wujud cinta kepada Allah," jelas Wakil Rais Syuriyah PCNU Pringsewu KH Muhammad Nur Aziz, Ahad (28/8).

Kawit An Nur Slawi

Sampai pada waktu Nabi Ibrahim AS diberi putra Ismail, Allah benar-benar mengujinya dengan perintah untuk menyembelihnya. "Perintah ini tidak mengurangi kecintaannya kepada Allah dan sebaliknya mendapat dukungan dari istrinya dan dari Ismail sendiri," tegasnya saat menjelaskan Hikmah Qurban pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di Gedung NU Pringsewu.

Keteguhan dalam melaksanakan perintah ini, lanjutnya, menjadikan Nabi Ibrahim AS lulus ujian keimanan sehingga Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba untuk disembelih. "Lalu kenapa diganti dengan hewan domba?" tanyanya kepada jamaah yang memenuhi Aula Gedung NU.

Pengasuh Pesantren Madinatul Ilmi Pagelaran ini menjelaskan bahwa ini merupakan salah satu hikmah di balik ibadah penyembelihan hewan qurban.

Kawit An Nur Slawi

Menurutnya, domba merupakan simbol sifat nafsu hewan yang bisa saja masuk ke dalam diri manusia dan setiap nafsu yang menghalangi cinta kepada Allah harus dihilangkan. "Apapun yang menghalangi cinta kita kepada Allah harus disembelih karena akan mengganggu Iman kepada Allah SWT," katanya.

"Sembelih sifat itu. Korbankan dan tinggalkan agar iman kita sempurna," lanjutnya.

Karenanya, dai muda ini mengajak seluruh umat Islam untuk menjadi pribadi-pribadi yang selalu mematuhi perintah Allah dan siap berkorban sebagai upaya mendekatkan diri kepada-Nya.

"Setiap apa yang diperintahkan Allah selalu ada hikmahnya. Angan-angan dan keinginan kita tidak mesti semuanya sesuai dengan keinginan Allah. Apapun yang terjadi dalam hidup dan kehidupan kita adalah yang terbaik bagi kita," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ahlussunnah, Warta, Ubudiyah Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 29 Juni 2013

Kesan Kang Said Usai Lawatannya ke Tiongkok

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berterima kasih kepada Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia karena telah memberikan pelayanan saat ia dan rombongan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berkunjung ke Tiongkok beberapa hari yang lalu.

“Saya dan rombongan mengucapkan terima kasih kepada Duta Besar Tiongkok di Jakarta atas fasilitas, penyambutan, dan semua lah,” kata Kiai Said saat diwawancarai Kawit An Nur Slawi di kantornya di Gedung PBNU Lantai 3, Senin, (25/4).

Kesan Kang Said Usai Lawatannya ke Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesan Kang Said Usai Lawatannya ke Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesan Kang Said Usai Lawatannya ke Tiongkok

Kang Said mengatakan bahwa ia dan rombongan mendapatkan sambutan yang hangat dan meriah dari pemerintah Tiongkok dan Perkumpulan Muslim Tiongkok. “Baik di Beijing, Xinjiang, maupun di Sha’an Xi,” tuturnya.

“Dan alhamdulillah saya bisa tukar-menukar (pikiran) dengan pemimpin-pemimpin asosiasi Islam Tiongkok tentang radikalisme, terorisme, dan Islam Nusantara,” lanjutnya.

Kawit An Nur Slawi

Ia menilai bahwa Islam Nusantara bisa menjadi rujukan untuk perdamaian umat Islam dunia, karena Islam Nusantara itu berbudaya, santun, toleran, dan melebur dengan kearifan lokal. 

“Sudah saatnya Islam Indonesia, dalam hal ini NU menjadi kiblat rujukan Islam dunia,” tegas Kang Said. 

Sementara itu, Atase Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia Li Jibin menjelaskan bahwa kerukunan antar umat beragama terjaga dengan baik di Tiongkok, hal tersebut bisa dilihat di salah satu provinsi Xinjiang.   

Kawit An Nur Slawi

“Di (Provinsi) Xinjiang yang mayoritas (penduduknya muslim) tapi hidup rukun, baik dengan komunitas agama yang lain. Kemudian di Provinsi Sha’an Xi juga seperti itu,” katanya. 

Di Tiongkok, imbuh Jibin, umat Islam juga mendapatkan dukungan dari pemerintah seperti pendanaan untuk pengelolaan masjid Hantagri, masjid tertua di Provinsi Xinjian. “Di situ dianggarkan berupa alokasi untuk pengelolaan masjid termasuk imam-imam masjid. Itu semua dana operasionalnya dari APBD,” jelasnya.

Kedatangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut merupakan jawaban atas undangan yang disampaikan oleh Komunitas Muslim Tiongkok. Namun demikian, lawatan tersebut difasilitasi oleh Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi RMI NU, Amalan, Tegal Kawit An Nur Slawi

Rabu, 26 Juni 2013

Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh

Banda Aceh, Kawit An Nur Slawi. Wakil Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengunjungi Pengurus Wilayah Nahdhlatul Ulama (PWNU) Aceh di Kantor PWNU Aceh kawasan Lueng Bata-Banda Aceh, Ahad (6/5).



Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh

Nasaruddin hadir ke Aceh dalam rangka memenuhi undangan seminar Harlah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) Aceh, di Banda Aceh, Sabtu(5/5).

“Secara psikologis, silaturahim itu dahsyat. Memperpanjang umur kata Rasululah Saw. Apa yang kita lakukan ini, manifestasi dari silaturahim,” ujar Nasaruddin.

Kawit An Nur Slawi

“Saya juga mengajak kepada teman-teman pengurus NU, saya titipkan Pak Kanwil kita. Dalam artian begini, tegur kalau dia salah. Kemudian dibantu apa yang bisa dibantu,” lanjutnya disambut tepuk tangan.

Kawit An Nur Slawi

Dalam kesempatan itu, Ketua PWNU Aceh Tgk. H. Faisal Ali menyampaikan beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan di Aceh. “Dalam waktu dekat juga PWNU Aceh akan mengadakan Diklat Hisab dan Rukyat se-Sumatera yang akan dilaksanakan di Banda Aceh,” kata Lem Faisal, begitu Tgk. H Faisal Ali biasa disapa.

Puluhan pengurus NU Aceh hadir pada acara silaturahim itu. Di antaranya, Kakamenag Aceh H Ibnu Sa’dan, Wakil Ketua PWNU, Sekretaris PWNU Aceh, Ustad Asnawi M. Amin, para anak muda NU Aceh. Rais Syuriah PWNU Aceh Tgk. H. Ibrahim Hasyim menutup acara dengan doa.

Kontributor: Muhadzdzier M Salda

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaNu, Anti Hoax, Halaqoh Kawit An Nur Slawi

Senin, 03 Juni 2013

Menag Jelaskan Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar

Jakarta, Kawit An Nur Slawi



Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan, seorang dai harus mengetahui kapan ia melaksanakan dakwah dan kapan ia menerapkan amar makruf nahi munkar (mengajak kepada yang baik dan mencegah yang mungkar) agar tidak terjadi benturan. Baginya, keduanya memiliki tempat masing-masing.

Lukman menerangkan, mengajak atau dakwah ditujukan kepada mereka yang belum melaksanakan nilai-nilai kebajikan Islam atau memeluk agama Islam. Sementara, apabila mereka sudah masuk Islam, tetapi belum menjalankan ajaran-ajaran kebajikan Islam maka dijalankanlah amar makruf nahi munkar (mengajak kepada yang baik dan mencegah yang mungkar) ? atas mereka.

Menag Jelaskan Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Jelaskan Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Jelaskan Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar

Lebih jauh, ia mencontohkan bahwa seorang kernet hanya akan mengajak mereka yang masih berada di luar bus, sementara yang di dalam tidak diajak lagi. Sementara yang sudah di dalam bus, maka mereka diminta untuk melunasi kewajibannnya.

“Bagi yang di dalam maka diterapkan amar ma’ruf nahi munkar, tetapi yang di luar di dakwahi,” ucapnya saat menjadi pemateri dalam acara Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 yang diselenggarakan atas kerja sama Lembaga Dakwah PBNU dengan Hidmat Muslimat NU di Lantai 8 Gedung PBNU, Senin (29/5).

Lebih jauh, alumni pesantren Gontor itu menambahkan, urusan umat Islam adalah mengajak, sementara urusan apakah dia nanti masuk Islam atau tidak itu menjadi urusan Allah. Lalu, ia mengajak peserta pelatihan untuk merenungi sebuah pertanyaan tentang sebenarnya umat Islam itu dituntut untuk apa.

Kawit An Nur Slawi

“Yang di tuntut dari kita itu apakah banyak-banyakan umat? Atau yang dituntut dari kita adalah mengajak orang untuk berbuat bajik? Karena hidayah itu dari Allah, bukan porsi kita untuk menjadikan seseorang menjadi Islam,” urainya.

Kalau seandainya yang dituntut adalah agar banyak-banyakan umat, imbuh Lukman, maka akan terjadi perselisihan antara pemeluk agama karena saling berebut umat.?

Kawit An Nur Slawi

“Kalau ini terjadi, maka akan bertengkar (antar sesama umat agama),” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi IMNU Kawit An Nur Slawi

Senin, 13 Mei 2013

Politik Layak Buat Anak Muda?

Oleh Sayfa Auliya Achidsti

Surveipolitik sudah mulai ramai belakangan ini. Menariknya, umumnya survei memasukkan komponen persepsi kelompok muda mengenaiperkembangan politik, baik pendapat tentang kinerja pemerintahan, harapan, hingga kapasitas pemimpin muda sendiri.Wajar, kelompok usia muda sangatpotensial dari sisi jumlah.

Politik Layak Buat Anak Muda? (Sumber Gambar : Nu Online)
Politik Layak Buat Anak Muda? (Sumber Gambar : Nu Online)

Politik Layak Buat Anak Muda?

Pasca Reformasi dengan perubahan aturan dan tradisi politik, kelompok usia 17-30 tahun dianggap kantong suara strategis. Sifat mereka pragmatis,konsumtif tren isu dan informasi, berpreferensi dinamis, dan minim pengetahuan politik. Ini membuat mereka jadi “bancakan” politik.

Proporsi pemilih mudaIndonesia (penduduk usia 17-30) mencapai 24,5 persen, sedangkan potensi politisi muda (21-30 tahun) 17,5 persendari populasi (sensus BPS). Dengan jumlah tersebut, muncul dua pertanyaan. Pertama, apakah demografi ini sudah layak diwakilkan dengan terpilihnya politisi muda itu sendiri? Kedua, lebih mendasar, bagaimana sebenarnya kelompok usia muda dilihat dan diposisikan dalam perpolitikan Indonesia? 

Dua pertanyaan itu penting dijawab bukan untuk mendikotomi politisi muda dan tua. Namun, besarnya kontituen dan kuatnya pengaruhkarakteristik kelompok muda nyatanya mempengaruhi langsungproses politik nasional.

Kawit An Nur Slawi

Swing voters

Bagaimana merekadilihat laludiposisikan dalamekosistem politik Indonesia agaknya perlu lebih dulu dijawab, supaya pertanyaan pertama dapat ditimbang lebih bijak. Pilkada DKI Jakarta yang lalu bisa jadi ilustrasi.

Pemilih muda diperebutkan sebagai 29 persen potensi konstituen. Artinya, hampir sepertiga upaya kampanye (seharusnya) mempertimbangkan keterwakilan isu kepemudaan. Alih-alih merangkai program kepemudaan secara substantif, pemilih usia muda lebih dianggap sebagai swing voters (berkemungkinan berubah-ubah pilihan) dan floating mass (massa mengambang).

Kawit An Nur Slawi

Hal itu tampak dari tidak adanyatawaran program segmentatif usia muda.Kesimpulannya, merayu swing voters cukup “mudah”, tidak harus kampanye serius menawarkan program kepemudaan untuk mengumpulkan dukungan rasional. Bisa lewat cara lain, yaitu suguhan informasi sensasionalyangmenjatuhkan musuh politik (Robinson dan Torvik, 2009). Mereka tidak dilihat esensinya (usia dan segmen isu), melainkan kelemahannya (berubah dan mengambang).

Kampanye politik via online akhirnya dijadikan metode penting, melalui penyebaran isu dan informasi viral. Ongkos “lebih murah”, karena berita cepat menyebar. Bagaimana tidak? Jakarta adalah kota terbesar kedua pengguna Facebook dunia. Sedangkan, Indonesia adalah urutan empat dunia (data We Are Social dan Hootsuite, 2017) dengan 85 persen pengguna aktifnya usia 18-34 tahun (data Facebook Insight, 2014).

Sosial-media tersebut menjadi instrumen penyebaran informasi terefektif dalam dunia digital hari ini. Imbasnya bisa ditebak, penyebaran materi politik via online dalam kondisi minimnyainformasi dan keterhubungan riil antara politisi dan pemilih (less political engagement) membuat isu bergulir bak bola salju: membesar dan tidak terkontrol.

Panasnya politik membuahkan isu SARA sebagai ekses destruktif. Pilkada DKI Jakarta yang hanya puncak dari fenomena gunung es di Indonesia membuat semua resah, hingga KPU dan Bawaslu mulai mengkaji aturan larangan penggunaan isu SARA mulai Pilkada 2018 nanti.

Semua yang dijelaskan di atas menjadiparadoks tentang pemuda di Indonesia. Besar dalam jumlah (suara) dan pengaruh (keaktifan penyebaran informasi) tetapi tidak menentukan. Masyarakat pernah dibuat gaduh ketika pada akhir 2011sebuah lembaga survei nasional merilis persepsi tentang politisi muda.

Hasilnya, hanya seperempat responden menganggap baik kualitas politisi muda. Politisi tua (senior) masih dianggap lebih baik. Terlepas dari perang komentarnya, yang jelas, mengapa begitu minim stok politisi muda di Indonesia? Tentu kita khawatir jika segelintir politisi muda yang kebetulan berkasus hukum itu jadi wajah dari karakter politisi muda.

Kebutuhan keterwakilan

Inter-Parliamentary Union (2016)mencatat Indonesia di peringkat ke-33 dari 126 negara (setara Malta) untuk proporsi anggota parlemen berusia di bawah 30 tahun (2,9 persen) dan peringkat ke-51 untuk proporsi di bawah 40 tahun (17,9 persen).Tentu sangat jomplangdengan24,5 persen populasi 17-30 tahundan 40,4 persen populasi 17-40 tahun secara nasional.

Mari kita lihat pemerintahan daerah. Kemendagri menetapkan daerah berkinerja terbaik tahun 2014, terdiri dari 3 provinsi dan20 kabupaten/kota (Kepmendagri No. 800-35/2016). Dari daftar itu, pimpinan daerah berusia di bawah 45 tahun hanya Bupati Bintan (37 tahun) dan Walikota Semarang (43 tahun). Sementara,hanya Gubernur Jawa Tengah (46 tahun) dan Gubernur Jawa Barat (48 tahun) yang berusia di bawah 50 tahun.

Di sisi lain, di Indonesia mulai bermunculan sentra perekonomian yang mayoritas diinisiasi dan dijalankan kelompok usia muda. Sektor ekonomi kreatif (utamanya berbasis IT dan pariwisata) telah terbukti menampilkan percepatan ekonomi baik dari kesempatan kerja, memotong hambatan transaksi, peningkatan iklim kompetisi usaha, dan interkoneksi produksi.

Perubahan jaman yang serba cepat ini mensyaratkan responsivitas kebijakan yang tinggi dan adaptatif. Dengan ini, makna kelompok muda akhirnya bukan lagi hanya berdasar usia, melainkan karakteristik: yang inovatif, dinamis, tanpa batasan konvensional (borderless), dan penekanan hasil (output-based). 

Pertanyaan di awal, apakah demografi muda sudah layak diwakilkan pada politisi muda? Dengan kondisi demografi, isu, dan kebutuhan jaman, jawabannya adalah ya. Namun, apakah sudah saatnya? Jomplangnyaketerwakilan dilegislatif dan eksekutif adalah fakta gap struktural. Proses politik yang masih mempertontonkan kelompok muda sebagai “anak bawang” akan cenderung terus meregenerasi objektivikasi: bukan sebagai subjek, apalagi aktor (pemain). 

Lalu bagaimana memotong siklus tradisi politik semacam ini? Kita tidak bisa berharap status quo berubah dengan sendirinya. Mahatma Gandhi pernah berkata, “We must become the change we want to see”. Artinya, kelompok usia muda punya pekerjaan rumah (PR) dalam membentuk kesadaran bahwa mereka adalah potensi sekaligus kebutuhan politik.

Berikutnya, perguruan tinggi perlu kembali menyadari bahwa peran utamanya adalah pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang tidak gagap problem riil masyarakat. Mereka bukan hanya memproduksi lulusan terampil, melainkan juga individu yang mampu menghargai dirinya, masyarakat, dan negaranya.

Penulis adalah Ketua Riset Lembaga Penyluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) NU DI Yogyakarta, Dosen FISIP UNS Surakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Halaqoh, Kajian Sunnah, Pondok Pesantren Kawit An Nur Slawi

Jumat, 03 Mei 2013

Tangkal Gerakan Radikalisme dengan Intensifkan Daurah Aswaja

Bangkalan, Kawit An Nur Slawi. Makin maraknya aliran dan pemahaman masyarakat yang tidak sepaham dengan ? Ahlussunnah wal Jamaah Nahdlatul Ulama (Aswaja NU) dikhawatirkan akan memunculkan lahirnya gerakan radikal. Karenanya, generasi muda harus mendapatkan pembekalan pemahaman Islam yang benar.

Tangkal Gerakan Radikalisme dengan Intensifkan Daurah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Gerakan Radikalisme dengan Intensifkan Daurah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangkal Gerakan Radikalisme dengan Intensifkan Daurah Aswaja

"Kalau disadari lebih mendalam, pemahaman dan tafsir yang salah terhadap ajaran agama juga akan dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata KH Abdurrahman Navis, Ahad (6/12). Karena itu sejak awal, para generasi muda khususnya kader NU harus dibekali dengan pemahaman yang benar terkait hal tersebut, lanjut Kiai Navis, sapaan akrabnya.

Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini kemudian mengemukakan bahwa kemunculan gerakan radikal yang mengatasnamakan agama adalah bukti jelas bahwa ? terdapat pemahaman yang salah dan hal tersebut disebabkan antara lain lewat cara belajar agama Islam secara instan.

Kawit An Nur Slawi

"Karena itulah khusus di Bangkalan Madura, kami menggiatkan kembali daurah Aswaja secara berkala," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Kegiatan tersebut hasil kerjasama antara PCNU dan PC Aswaja NU Center Bangkalan dengan ? PW Aaswaja NU Center Jatim.

Kawit An Nur Slawi

Peserta kegiatan yang berlangsung dua hari sejak Sabtu hingga Ahad (5-6/12) tersebut adalah pengurus MWC NU se-Bangkalan, termasuk pengurus lembaga dtambah dengan utusan dari sejumlah pesantren.

"Tabarukan, kegiatan daurah dilaksanakan di Pondok Pesantren Syaichona Cholil yang diasuh KH Fachri Sychol," terang dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Daurah menghadirkan empat narasumber yakni Ustadz Makruf Khozin, Ustadz Faris Choirul Anam, Ustadz Fathul Qadir, serta KH Abdurrahman Navis.

"Seperti layaknya modul yang sudah menjadi panduan dasar dalam kegiatan daurah, selama kegiatan para peserta menerima materi terkait dengan firqah dalam Islam. Demikian pula pengertian dan definisi Aswaja NU," kata Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya ini.?

Materi berikutnya adalah kekhasan dari Aswaja NU, fikrah nahdliyah, amalaiyah nahdliyah dan jawaban atas keraguan banyak kalangan terhadap amaliyah warga. "Seperti bagaimana keabsahan dalil dari tahlil, istigatsah, tawassul dan sebagainya yang tradisi tersebut telah menjadi amaliyah warga NU," pungkas Kiai Navis. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Meme Islam, Kajian Kawit An Nur Slawi

Minggu, 28 April 2013

Mudik, Beragama Dilandasi Kerukunan Sosial dan Persatuan

Ketika menjelang Lebaran, jutaan orang secara berbarengan pulang ke kampung halamannya masing-masing. Macet berjam-jam dan risiko kecelakaan perjalanan tetap ditempuh para pemudik demi sampai kampung halaman.

Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, Yogyakarta M. Jadul Maula mengatakan, tujuan utama mudik adalah sungkem kepada orang tua dan silaturrahim kepada kerabat dan handai taulan.

Mudik, Beragama Dilandasi Kerukunan Sosial dan Persatuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mudik, Beragama Dilandasi Kerukunan Sosial dan Persatuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mudik, Beragama Dilandasi Kerukunan Sosial dan Persatuan

Menurut dia, budaya mudik ini jelas dilandasi tuntunan agama yaitu berbakti kepada orang tua dan menjaga tali silaturrahim dengan sanak keluarga dan kerabat.

“Momentumnya juga bagus yaitu Idul Fitri, merayakan kembalinya manusia ke dalam fitrah,” kata Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia PBNU ini Senin (4/7).

Kawit An Nur Slawi

Ia menambahkan, sebetulnya mudik tidak hanya dilakukan muslim Indonesia, melainkan negara-negara Islam lain semisal di Arab, Mesir, dan lain-lain. Namun bentuk, intensitas dan ekspresinya berbeda.

Kawit An Nur Slawi

“Di negara-negara lain biasanya suasana Idul Fitri terbatas, habis shalat Ied mereka datang ke rumah orang tua dan makan-makan bersama keluarga,” ungkapnya.

Sementara di Indonesia mudik dilakukan lebih meluas dan masif. Tekanannya pada saling memaafkan, tidak hanya pada orang tua dan keluarga dekat, tapi juga keluarga besar (trah) dan lebih luas lagi saudara sedaerah dan bangsa.

“Ini adalah proses penyatuan dalam kebhinekaan, didasari pribadi-pribadi yang sedang ingin membersihkan diri dan hati,” lanjutnya.

Ketika ditanya kenapa bisa meluas, menurut dia, ini adalah warisan pengajaran leluhur yang memberikan dasar-dasar pengamalan agama yang berdimensi persatuan dan kerukunan sosial, bukan individual.

Leluhur yang dia maksud adalah wali-wali Nusantara. Sebelum Islam datang, tidak ada perayaan Idul Fitri, tetapi penghormatan kepada leluhur, bahkan sampai pada pemujaan, itu juga merupakan bentuk religiusitas yang sangat tua di Nusantara. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Khutbah, Nasional Kawit An Nur Slawi

Minggu, 07 April 2013

Warga NU Mulia Kencana, Papua Istighatsah untuk Rohingya

Mimika, Kawit An Nur Slawi 

Kepedulian warga NU Kampung Mulia Kencana atas nasib warga Rohingnya diwujudkan dengan Istighatsah Sabtu malam, 10 September 2017. Jamaah putra putri dan remaja masjid hadir di acara ini yang digelar selepas Shalat Isya.

Warga NU Mulia Kencana, Papua Istighatsah untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Mulia Kencana, Papua Istighatsah untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Mulia Kencana, Papua Istighatsah untuk Rohingya

Ketua Takmir masjid At-Taubah Kampung Mulia Kencana, Syafiuddin mengajak jamaah untuk aktif dalam kegiatan seperti shalat berjamaah serta Istighatsah seperti. 

"Tentu kita harap kegiatan ini bisa berjalan terus sekaligus kita doakan warga Rohingnya lewat Istighatsah ini. Kita tunjukkan rasa persaudaraan kita sesama muslim, " lanjutnya

Acara dilanjutkan dengan penjelasan program Istighatsah An-Nahdliyyah ini oleh Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso. 

"Majelis Istighatsah ini adalah wadah kita untuk seribu hajat dan masalah. Yang punya hajat khusus, misalnya syukuran panen, bisa memanfaatkan majelis istighatsah ini untuk hajat tersebut. Jadi tidak perlu mengundang khusus, namun digabungkan dengan istighatsah," demikian penjelasannya

Kawit An Nur Slawi

Ust. Hasyim Asyari, sebelum istighatsah menyampaikan bahwa dzikir itu bisa menghilangkan kemunafikan serta benteng dari godaan setan. 

"Setan itu akan mengkerut jika kita dzikir. Awalnya berat karena setan masih besar, namun harus dipaksa dzikir agar terlindung dari setan," urainya. 

Acara dilanjutkan dengan istighatsah dengan menyampaikan niat masing-masing serta doa untuk Rohingnya.

Hadir dalam acara itu sesepuh kampung, H Ahmadun, Azhari, dan Suhaemi. Acara ditutup dengan jajanan khas Kampung Mulia Kencana, dan menu makan besar urap. (Red: Abdullah Alawi)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Humor Islam Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 09 Maret 2013

Dan Kiai pun Ditalqin

Kediri, Kawit An Nur Slawi. Para santri dan ribuan orang yang mengikuti pemakaman Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Imam Yahya Mahrus serentak menghentikan pembacaan surat Al-Ihlas “Qul huwallahu ahad…” ketika KH Abdul Aziz Mansyur berdiri memegang microphone, sebagai pertanda acara talqin akan segera dimulai, Ahad (15/1) siang. Kiai Aziz yang mewakili keluarga menanyakan kepada semua yang hadir, “Apakah semua yang hadir menyaksikan bahwa KH Imam Yahya Mahrus ini orang baik?”. Serentak semua menjawab, “Baik…!” Suara tangisan haru terdengar jelas dari balik kerumunan.

Talqin dilakukan setelah semua proses penguburan selesai, yang dimaksudkan untuk memberikan suport dan membimbing ahli kubur agar dapat menjawab pertanyaan malaikat kubur Munkar dan Nakir dengan baik. Tidak hanya orang biasa, kiai pun butuh untuk ditalqin. Keluarga meminta Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri (Gus Mus) memimpin prosesi talqin.

Dan Kiai pun Ditalqin (Sumber Gambar : Nu Online)
Dan Kiai pun Ditalqin (Sumber Gambar : Nu Online)

Dan Kiai pun Ditalqin

Pembacaan talqin pun dimulai. Gus Mus yang juga alumni Pesantren Lirboyo, mengatakan kepada KH Imam Yahya Mahrus yang sudah terbaring, sebentar lagi ada malaikat yang datang. “Jangan takut, mereka adalah mahluq Allah, sama seperti kita. Jawablah pertanyaan mereka dengan benar,” kata Gus Mus sambil pemberikan bimbingan kepada Kyai Imam. “Jika ditanyakan siapa Tuhanmu maka jawablah Allahu Rabbi, jika ditanyakan siapa nabimu jawablah Muhammad Rasulullah…” dan seterusnya. Semua bacaan talqin menggunakan bahasa Arab.

Kawit An Nur Slawi

Lalu doa dipimpin oleh sesepuh NU yang juga alumni Pesantren Lirboyo, KH Maimun Zubair. Selanjutnya diadakan sholat jenazah untuk kesekian kalinya yang dipimpin oleh pengasuh Pesantren Denanyar Jombang KH Aziz Masyhuri, yang diikuti oleh Gus Mus, Rais Syuriyah PWNU KH Miftahul Ahyar, keluarga besar Pesantren Lirboyo, dan para santri, alumni, serta jamaah yang belum sempat mengikuti shalat jenazah di Pondok Pesantren Lirboyo.

Kawit An Nur Slawi

Pondok Pesantren Lirboyo adalah salah satu pesantren tua yang telah menelorkan ribuan alumni. Selain Gus Mus dan KH Maimun Zubair, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj yang turut bertakziyah adalah alumni pesantren yang didirikan oleh KH Manaf Abdul Karim pada 1910 silam. Namun atas wasiat Almarhum KH Imam Yahya Mahrus sendiri, jenazah tidak dimakamkan di makam keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo bersama para sesepuh pesantren.

Kiai Imam yang merupakan generasi ketiga Pesantren Lirboyo meminta kepada keluarganya untuk dimakamkan di tanah lapang, di desa Ngampel, kecamatan Mojoroto, sekitar 5 km ke arah utara dari induk Pesantren Lirboyo. Tanah itu akan digunakan sebagai perluasan dari Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah, Lirboyo. Di bagian depan baru ada satu bangunan yang belum selesai. Informasi yang diterima Kawit An Nur Slawi, selain tempat tinggal santri, di tanah itu juga akan didirikan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) yang kini sedang naik daun.

Tak ayal, tanah yang sepi itu mulai ramai. Tidak hanya para santri dan alumni, banyak orang datang berziarah. Sampai malam larut, hingga Senin (16/1) pagi, para peziarah terus berdatangan. Mungkin beginilah cara Kiai Imam membesarkan pesantren barunya.

Penulis A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sejarah, Doa, Berita Kawit An Nur Slawi

Jumat, 08 Maret 2013

Hukum Waris Beda Agama

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Mohon maaf sebelumnya, saya Achmad Ashrofi mahasiswa di UIN Yogyakarta mau tanya mengenai fenomena kewarisan beda agama. Negeri kita yang sangat beragam ini saya kira memunyai potensi untuk terjadinya fenomena seperti ini di dalam sebuah keluarga, terutama bagi saudara-saudari yang memunyai anggota keluarga yang nonmuslim.

Hukum Waris Beda Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Waris Beda Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Waris Beda Agama

Lalu bagaimana solusi NU dari bahtsul masail mengenai kewarisan keluarga semacam ini. Apakah tetap jika anaknya yang berbeda agama tidak mendapat apa-apa karena ada mawaniul waris? Lalu bagaimana jika konsep seperti ini diberi solusi berupa wasiat wajibah seperti yang ada di dalam Kompilasi Hukum Islam dan yang dianut oleh Hukum Keluarga Filiphina, bagaimana menurut NU, bolehkah dengan jalan wasiat wajibah? Mohon sekali jawabannya sebagai perwakilan dari aspirasi NU. Terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ahmad Ashrofi)

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Kawit An Nur Slawi

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Setidaknya ada dua hal yang diajukan kepada kami. Pertama menyangkut kewarisan beda agama. Kedua menyangkut wasiat wajibah. Pertama ingin kami tegaskan bahwa apa yang akan kami kemukakan bukanlah pandangan NU secara resmi, tetapi ini merupakan pandangan pribadi penulis.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa salah satu hal yang bisa menghalangi kewarisan adalah perbedaan agama antara pihak yang mewariskan dan ahli waris. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dikatakan.

Kawit An Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Orang muslim tidak bisa wewarisi orang kafir (begitu juga sebaliknya) orang kafir tidak bisa mewarisi  orang muslim,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sampai di sini sebenarnya tidak ada persoalan. Apabila seorang muslim meninggal dunia dan ada ahli warisnya yang nonmuslim, semua ulama sepakat bahwa pihak ahli waris nonmuslim tidak bisa mendapatkan warisan sebab ia berbeda keyakinan.

Lantas, bagaimana jika ahli warisnya adalah muslim misalnya bapaknya kafir sedangkan anaknya muslim. Apakah anaknya itu bisa mendapatkan warisan dari bapaknya? Dengan mengacu pada bunyi hadits di atas mayoritas ulama berpendapat seorang muslim tetap tidak bisa mewarisi harta orang kafir. Ini artinya, jika bapaknya kafir sedang anaknya muslim, si anak tetap tidak bisa mewarisi harta bapaknya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Para ulama telah sepakat bahwa orang kafir tidak bisa mewarisi harta orang muslim. Begitu juga menurut mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi setelahnya berpendapat bahwa orang muslim tidak bisa mewarisi harta orang kafir.”

Pandangan mayoritas ulama yang menyatakan bahwa muslim tidak bisa mewarisi harta nonmuslim mengandaikan ada pandangan dari minoritas ulama yang memperbolehkannya. Menurut keterangan yang dikemukakan Muhyidin Syaraf An-Nawawi, di antara yang memperbolehkan adalah Mu’adz bin Jabal, Mu’awiyah, Sa’id bin Musayyab, dan Masruq. Namun pandangan kelompok ini menurut Imam An-Nawawi bukanlah pandangan yang sahih.

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sekelompok ulama memperbolehkan orang muslim mewarisi harta orang kafir. Ini adalah pandangan Mu`adz bin Jabal, Mu’awiyah, Said bin Musayyab, Masruq, dan lainnya. Begitu juga diriwayatkan dari Abid Darda`, Asy-Sya’bi, Az-Zuhri, An-Nakha’I, dan selainnya yang bertentangan dengan pandangan kelompok ulama yang memperbolehkan orang muslim mewarisi harta orang kafir. Dan yang sahih adalah riwayat mereka sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Mereka (ulama yang membolehkan) berdalil dengan hadits al-islam ya’lu wala yu’la ‘alaih. Sedangkan dalil mayoritas ulama adalah hadits sahih yang sangat jelas (hadits yang kami sebutkan di atas, penerjemah).”

Dalam pandangan Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, hadits al-Islam ya’lu wala yu’la ‘alaih tidak bisa sertamerta dijadikan landasan tentang kebolehan muslim mewarisi harta nonmuslim. Sebab, yang dimaksud hadits tersebut adalah bicara mengenai keunggulan Islam dibanding dengan yang lain, bukan bicara soal kewarisan. Pandangan mereka jelas mengabaikan hadits la yaritsul muslimul kafir. Lantas bagaimana hadits ini bisa diabaikan? Jawaban yang tersedia adalah kemungkinan hadits ini tidak sampai kepada mereka.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Hadits al-Islam ya’lu wala yu’la ‘alaih tidak bisa dijadikan sebagai hujjah (tentang kebolehan muslim mewarisi harta nonmuslim). Sebab yang dimaksudkan hadits tersebut adalah membincang keutamaan Islam dibanding yang lain dan tidak menyinggung soal kewarisan. Lantas bagaimana bisa hadits la yaritsul muslimul kafira diabaikan dalam masalah ini? Bisa jadi hadits ini tidak sampai kepada mereka yang membolehkan.”

Berangkat dari penjelasan di atas, semakin gamlang bahwa perbedaan agama menjadi penghalang mendapatkan harta warisan. Para ulama telah sepakat muslim tidak bisa mewariskan hartanya kepada nonmuslim.

Namun kasus sebaliknya yaitu muslim mewarisi harta nonmuslim, para ulama berbeda pendapat. Menurut mayoritas ulama seorang muslim tidak bisa mewarisi harta nonmuslim. Sedang menurut minoritas ulama diperbolehkan, meskipun pendapat ini dianggap sebagai pendapat yang lemah (marjuh).

Mengenai soal al-washiyyah al-wajibah dalam pandangan kami secara pribadi bisa saja dipertimbangankan sebagai solusi atas persoalan yang ada. Namun hal ini perlu kajian lebih lanjut dari para pakar.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami, orang yang mengalami problem kewarisan beda agama harus menyelesaikannya secara baik-baik. Jangan sampai menimbulkan persoalan besar dalam keluarga. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq

Wassalamu alaikum wr.wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Budaya, Olahraga, Nasional Kawit An Nur Slawi