Sabtu, 31 Agustus 2013

Nusron Wahid Terpilih Ketua Umum Ansor

Surabaya, Kawit An Nur Slawi

Sidang pleno pemilihan ketua umum GP Ansor putaran kedua menetapkan Nusron Wahid sebagai ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor menggantikan Saifullah Yusuf yang telah menjabat selama dua periode.



Nusron Wahid Terpilih Ketua Umum Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron Wahid Terpilih Ketua Umum Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron Wahid Terpilih Ketua Umum Ansor

Nusron memeroleh 345 suara, unggul atas Warwan Ja’far yang hanya memeroleh 161 suara dari total 512 suara. Sementara 6 suara lainnya dinyatakan blangko.

Nusron yang juga mantan ketua umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) akan memimpin Ansor selama lima tahun mendatang, periode 2011-2016.

Kawit An Nur Slawi

Usai terpilih, Nusron menyatakan akan membawa Ansor tidak hanya berkutat pada persoalan nasional, tetapi juga internasional,“Ke depan, Ansor tidak hanya akan ikut memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia, melainkan juga bangsa dunia,” katanya bersemangat.

Dikatakannya, Islam Indonesia adalah potret Islam dunia yang direpresentasikan oleh NU. Maka Ansor harus siap mengawal ajaran-ajaran Islam yang telah dikembangkan oleh NU.

Kawit An Nur Slawi

Kepada para peserta kongres ia berharap dapat terus mengawal hasil-hasil kongres agar bisa direalisasikan dalam kepengurusan Ansor yang ia pimpin. “Ke depan saya tidak perlu dipuji tapi kritik saya, tagih janji-janji saya,” katanya.

Sebelumnya pada pemilihan putaran pertama memunculkan lima nama Yakni Nusron Wahud, Marwan Ja’far, Khotibul Umam Wiranu, Syaifullah Tamliha, Munawar Fuad Noeh, Malik Haramain dan Chairul Shaleh Rasyid.

Sesuai ketentuan bahwa calon yang bisa maju putaran kedua adalah memeroleh minimal 99 suara maka dipastikan calon ketua umum mengkrucut pada nama Nusron dan Marwan. Pada putaran kedua Nusron yang juga anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar ini menang atas Marwan yang juga anggota DPR dari Fraksi PKB. (hdy/nam/was/arm/ful)Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Lomba, Meme Islam Kawit An Nur Slawi

Senin, 12 Agustus 2013

KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj

Brebes, Kawit An Nur Slawi. Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Muslimat NU kabupaten Brebes melepas sebanyak 102 jamaah Calon Haji (Calhaj) binaannya. Keberangkatan jamaah ini mengikuti kelompok terbang 50 yang dilepas Bupati Brebes di Islamic Center Brebes, awal pekan lalu.

KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj (Sumber Gambar : Nu Online)
KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj (Sumber Gambar : Nu Online)

KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj

“Alhamdulillah, KBIH Muslimat NU memberangkatkan 102 pada musim haji 1436 Hijriyah,” kata Ketua KBIH Muslimat NU Hj Nok Jumaro, usai rapat persiapan pelantikan pengurus baru Muslimat NU periode 2015-2020 di gedung Muslimat NU jalan Kiai Kholid Barat Pasarbatang Brebes, Kamis (10/9) sore.

Hj Nok menjelaskan, sebanyak 102 jamaah ini berasal dari Kantor Pusat KBIH di ketanggungan sebanyak 77 calhaj dan Kantor Perwakilan Jatibarang sebanyak 25 calhaj. “Pusat KBIH Muslimat NU Brebes berada di Ketanggungan,” ujar Nyai Nok.

Kawit An Nur Slawi

Mereka, lanjutnya, sudah diterbangkan melalui bandara Adi Sumarmo Solo pada 8 September lalu bersama jamaah calhaj lainnya dari Brebes dan Batang. “Sampai saat ini tidak ada kendala yang berarti bagi calhaj,” terangnya.

Kawit An Nur Slawi

Menurut Nok, KBIH yang berdiri sejak 1998 ini selalu diminati warga Brebes terutama Nahdliyin. Tiap tahun mengalami perkembangan yang pesat, meskipun banyak sekali bermunculan KBIH. “Kami bersyukur KBIH Muslimat NU tetap bertahan membimbing para Calhaj yang hendak ziarah ke tanah suci, baik itu perjalanan Haji maupun Umrah,” tuturnya.

Dalam pengelolaannya, sambung Nok, pihak KBIH Muslimat Brebes ini menggunakan manajemen kekeluargaan. Sehingga pembimbing maupun calhaj saling melengkapi berbagai keperluan secara bergotong royong. “Dengan tenaga pembimbing yang sudah berpengalaman, para calhaj yang tergabung di KBIH Muslimat NU merasa nyaman,” ungkapnya.

Nok bertekad, pada kepengurusan Muslimat NU yang baru akan mengembangkan KBIH ini berada di berbagai tempat. Minimal ada di empat wilayah, sehingga bisa menjangkau warga Nahdliyin di 17 kecamtan sekabupaten Brebes. “Kami akan mengembangkan lagi di Brebes dan Bumiayu, sehingga ada empat perwakilan yang bisa menjangkau Nahdliyin di berbagai tempat,” tekadnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sejarah, Tokoh Kawit An Nur Slawi

Kamis, 08 Agustus 2013

Bekerjalah, Jujurlah dan Bertasbihlah

Bekerjalah kamu dan jadikanlah alat tenunmu (bila engkau penenun) sebagai tasbih. Jadikanlah kapakmu (bila tukang kayu) sebagai tasbih dan jadikanlah jarumnu (bila engkau penjahit) sebagai tasbih, dan jadikanlah perjalananmu (bila engkau pedagang) sebagai tasbih.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah di hari ini kita mempertebal ketaqwaan kita kepada Allah dengan menghindarkan diri dari kecurangan,kebohongan dan berbagai sifat tercela lainnya. Dan memulai hai-hari dengan penuh kejujuran karena kejujuran akan membuahkan kehalalan dan kehalalan yang kita konsumsi menentukan nasib kita selanjutnya.

Bekerjalah, Jujurlah dan Bertasbihlah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bekerjalah, Jujurlah dan Bertasbihlah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bekerjalah, Jujurlah dan Bertasbihlah

Hadirin yang Dirahmati Allah

Bekerja mencari rizki guna menopang ibadah hukumnya adalah wajib. Sebagaimana hukum ibadah itu sendiri. Hal ini telah disepakati oleh ulama. Karena bekerja merupakan salah satu cara memenuhi kebutuhan. Lebih-lebih bagi mereka yang telah berkeluarga, mereka memiliki tanggung jawab dan kewajiban memberi nafkah terhadap anak dan istri. Sedangkan nafkah bisa didapat oleh seseorang yang mau bekerja. Selain itu dengan bekerja seseorang dapat terhindar dari thama’, menggantungkan diri pada orang lain dan juga menghindar dari meminta-minta yang mana semua itu termasuk barang larangan agama. Dalam al-Jumu’ah ayat 10 Allah berfiman

Kawit An Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.?

Begitu pentingnya bekerja dan berusaha bagi seorang muslim. Karena sesungguhnya al-barakatu ma’al harakah bahwa keberkahan itu akan hadir bersama dengan pergerakan. Dimana ada kemauan untuk berusaha disitu Allah telah menyediakan keberkahan. Dengan kata lain Islam sangat membenci orang yang berpangku tangan, mengharapkan dan meminta-minta.

Ibrahim al-Matbuly pernah berpendapat bahwa orang fakir yang tekun beribadah (kurang berusaha) sedang dia tidak memiliki pekerjaan karena waktunya habis digunakan beribadah ibarat burung hantu yang berdiam di rumah kosong. Bahkan dengan sedikit agak keras Al-matbuli berkata:

Kawit An Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Menurut saya seorang mu’min yang bekerja, adalah lebih sempurna dari pada orang jadzab (seorang yang dalam dunia sufi dipahamti sebagai orang yang selalu terlena dengan Allah) seperti guruthariqah yang memangku jabatan yang mereka makan menggunakan agama, sebab mereka tidak memiliki pekerjaan duniawi yang bisa memelihara diri dari menerima sedekah umat Islam dan kotoran-kotoran mereka.

Meskipun pendapat Al-Matbuli ini memerlukan penjabaran lebih lanjut tentang koneks perkataannya, dan masih bisa didiskusikan panjang lebar. Tetapi, perkataan itu mengandung pesan bahwa bekerja dengan usaha sendiri adalah sebuah kemuliaan. Karena disitulah seseorang dapat menimbang dan memastikan posisi rizki mereka adakah itu hasil yang halal, haram ataukah syubhat. Berbeda jika hanya menerima dari orang lain. Sungguhpun pemberian itu didasari keikhlasa, akan tetapi penuh dengan kesyubhatan. Karena tidak diketahui dari manakah sumbernya.

Bahkan, tidak ada satu cerita pun dari hadits Rasulullah yang menerangkan larangan beliau kepada para sahabatnya untuk berhenti bekerja demi menjalankan dakwah agama, padahal waktu itu berdakwah sangat membutuhkan perhatian mengingat kondisi Islam masih sangat lemah baik secara sosial dan politik. Justru di kala itu Rasulullah saw tetap memerintahkan Abu Bakar untuk terus berdagang dan kepada sahabat lainnya untuk tetap menekuni keahliannya. Malahan ada sebuah hadits yang seolah menyinggung para sahabat saat itu yang berbunyi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Nabi Daud as tidak pernah makan kecuali dari hasil pekerjaan tangannya sendiri (HR.Bukhari)

Jama’ah Jum’ah yang Disayang Allah

Meski demikian, bekerja tidaklah cukup asal bekerja. Hendaknya bekerja harus dilakukan dengan penuh kejujuran. Kejujuran dalam bekerja wajib pula hukumnya. Karena pekerjaan yang dilakukan dengan jujur akan sangat mempengaruhi pola beribadah dan perilaku keseharian seorang hamba. Mengapa demikian, karena sesuatu yang halal merupakan buah dari kejujuran. Dan mengkonsumsi yang halal akan mempermudah seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah swt. Maka yang menjadi pertimbangan di sini adalah proses bekerjanya bukan hasil dari pekerjaan itu sendiri.

Hasil yang tidak maksimal tetapi diproses secara sempurna akan menghasilkan keberkahan walaupun kecil kwantitasnya. Namun hasil yang maksimal dengan proses yang cacat (tidak jujur) akan berdampak pada kesakitan moral pelakunya meskipun secara kwantitas lebih unggul. Lihatlah mereka yang bekerja dengan cara menipu ataupun berbohong pasti akan meraih sukses dalam jangka waktu yang relatif lebih singkat. Tetapi tidak lama pasti akan menjadi bahan gunjingan. Bukankah begitu nasib koruptor, penipu dan juga pembohong. Sesungguhnya yang demikian itu sangat dibenci oleh Rasululah saw.

Diceritakan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah saw pernah berjalan-jalan di pasar melewati setumpuk bahan makanan. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan itu. Ternyata pada bagian dalamnya basah. Kemudian beliau bertanya kepada si penjual “apakah ini?” si penjual menjawab “Ya Rasul, makanan ini terkena hujan”. Rasulullah saw pun bertanya kembali “mengapa makanan yang basah ini tidak kamu taruh di atas sehingga para pembeli bisa melihatnya?” kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya “? ? ? ?” (barang siapa menipu umatku, niscaya dia bukan termasuk golonganku).

Hadits tersebut sangatlah jelas dan mudah dipahami. Tidak ada kata-kata samar di dalamnya. Bahwa siapapun yang berlaku curang dalam pekerjaannya maka dia telah tersesat dan tidak termasuk golongan (umat) Rasulullah saw. Ini artinya kecurangan dan kebohongan sangatlah dicela dalam Islam.

Meskipun konteks dan pelaku dalam hadits tersebut adalah pedagang, tetapi tidak berarti pedagang saja yang dianjurkan berlaku jujur. Namun semua macam usaha dan pekerjaan hendaknya dilakukan dengan jujur, akrena kecurangan dapat menyeret seseorang keluar dari golongan Rasulullah saw. Tidak terkecuali para politisi, investor, pejabat dan atupun kuli. Sayanganya kecurangan dan kebohongan itu kini seolah dibenarkan bahkan dipelajari lengkap dengan metode dan terorinya dengan kedok manajemen pencitraan. Apakah pencitraan itu sebuah kejujuran? Silahkan dipertimbangkan sendiri.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Imam Abu Hasan As-Syadzili pernah berpendapat bahwa seseorang yang bekerja dengan jujur berarti dia telah berjuang melawan hawa nafsunya yang selalu condong pada kebohongan. Sehingga mereka yang jujur pantaslah mendapatkan apresiasi sebagaimana para mujahid yang berhasil membunuh musuh-musuhnya. Dalam sebuah taushiyah dia berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Barang siapa bekerja dan teguh menjalankan perintah-perintah Allah, maka benar-benar sempurna perjuangannya dalam melawan hawa nafsu” ?

Jamaah jum’ah yang Dirahmati Allah

Setelah kejujuran dalam bekerja kita raih, hendaklah kita melangkah lagi satu tingkat agar kehidupan ini lebih bermakna. Yaitu mengisi pekerjaan yang jujur dengan nuansa ibadah. Abu Abbas al-Mursi berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bekerjalah kamu dan jadikanlah alat tenunmu (bila engkau penenun) sebagai tasbih. Menjadikan kampak (bila bekerja sebagai tukang kayu) sebagai tasbih dan menjadikan jarum (bila sebagai penjahit) sebagai tasbih, dan menjadikan kepergiannya (bila berdagang) sebagai tasbih.

Karena itu apapun bentuk keahlian dan dimanapun pekerjaan itu bukanlah sekedar sumber penghasilan semata tetapi juga sumber ibadah.

Demikianlah khotbah singkat kali ini, semoga hal ini dapat menjadi bahan renungan yang mendalam, bagi kita semua amin.

?

? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?.

Khutbah II

?

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

(Ulil H). Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Meme Islam Kawit An Nur Slawi