Sabtu, 29 April 2017

TGH Karim Ajak Santri Teladani Bangsa Jepang

Lombok Utara, Kawit An Nur Slawi. Ketika memasuki halaman Pesantren Nurul Bayan Kabupaten Lombok Utara (KLU), kita akan dikejutkan sebuah tulisan berbahasa Jepang, “Arigatoo Gozaimasu.” Kata-kata yang tertulis di dinding sebuah bangunan mirip posko ini rupanya menyimpan kenangan TGH Abdul Karim Ghafur, sang pemimpin pesantren. Bagaimana Kiai Karim memaknai ungkapan tersebut?   

Tentang tulisan arigatoo gozaimasu yang ditulis besar di posko yang berdiri tegak di pinggir lapangan pesantren, Kiai Karim memiliki alasan tersendiri. Pertama, bangsa kita harus mengambil semangat Jepang. Bangsa Jepang merupakan tipikal orang yang cepat dan pandai berterima kasih. Dalam setiap kesempatan, mereka sering bilang, gozaimas ta, kepada orang lain.

TGH Karim Ajak Santri Teladani Bangsa Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
TGH Karim Ajak Santri Teladani Bangsa Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

TGH Karim Ajak Santri Teladani Bangsa Jepang

“Nah, yang bisa diteladani dari sini, para guru dan santri agar saling berterima kasih satu sama lain. Santri kepada kiai, kiai kepada santri. santri kepada pondok, pondok kepada santri. Pondok kepada masyarakat dan sebaliknya. Semua orang harus belajar berterima kasih kepada sesama,” ujar Kiai Karim kepada Kawit An Nur Slawi yang didampingi utusan Kanwil Kemenag NTB dan Kemenag KLU, Rabu (30/3) siang.

Kedua, lanjut Kiai Karim, semangat sosiologis masyarakat Jepang. Mereka adalah sosok pekerja, ulet, tangguh, tahan banting, tidak mudah mengeluh, termasuk soal kemandirian. Orang Jepang itu jarang yang jadi pengemis. Di jalan-jalan Tokyo hampir tidak ada pengemis. Selain itu, mereka juga orang yang hemat.

“Mereka juga sadar kebersihan lingkungan. Itu semuanya ada pada masyarakat Jepang. Banyak sekali. Jadi, semangat Jepang ini harus kita ambil. Yang nggak boleh diambil dari sana itu hidup tanpa agama,” tuturnya.

Selain banyak membaca literatur tentang Jepang, Kiai Karim ternyata pernah berkunjung selama 12 hari ke Negeri Sakura ini. Bersama para pemimpin pesantren dari berbagai daerah di Indonesia, Kiai Karim memenuhi undangan kerjasama antara Kemenlu Jepang dengan Islamic Culture yang dikelola UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kawit An Nur Slawi

“Jadi, setiap tahun Jepang memilih 12 pesantren se-Indonesia untuk melihat suasana negaranya. Tiga tahun silam, tepatnya pada 2013, Nurul Bayan terpilih mewakili NTB. Nah, pulang dari sana saya bikin bangunan di tengah itu lalu saya tulis arigato gozaimasu,” ungkapnya.

Budaya yang Islami

Kawit An Nur Slawi

Menurut Kiai Karim, ada satu pengalaman menarik saat naik bus bersama orang Jepang. “Kalau di bus, di sana nggak ada kernet. Kalau sopir mau naik, dia tidak akan naik sebelum penumpang naik semua. Jadi, semua penumpang dipersilakan naik dulu. Sopir itu lalu berdiri persis di samping pintu, saat penumpang satu persatu naik, dia membungkuk memberi hormat. Orang perorang ia hormati,” kenangnya.

Begitu sudah naik semua, lanjut Kiai Karim, sopir tadi memastikan para penumpang tidak ada yang tertinggal, sebelum menyetir dia menghadap lagi kepada penumpang sembari membungkukkan badan. “Dia bilang, oke siap, baru dia mulai menyetir,” tutur pria lulusan Universitas Baghdad ini.

Sesampainya di tempat tujuan, maka sang sopir menjadi orang yang pertama kali turun dan berdiri lagi di samping pintu di luar sembari mengatakan “gozaimasu ta.. gozaimasu ta..” (Terima kasih, Anda sudah bersama kami). “Ini menarik sekali. Penghormatan kepada penumpang atau tamu sungguh luar biasa. Benar-benar islami budaya mereka,” ujar Kiai Karim bangga.

Alumnus Pesantren Gontor ini menambahkan, yang menarik lagi ketika bus tersebut satu jam kemudian datang di hotel. Sang sopir memanggil kami. “Mohon turun sebentar, tolong dicek di bangku paling belakang bus ini,” ujar Karim menirukan sopir.

Rupanya, ada satu ponsel tertinggal di jok tersebut. Jadi, sopir Jepang ini ketika barang tertinggal di kendaraan yang dikemudikannya, dan baru ketahuan setelah sampai di markasnya, ia langsung kembali ke lokasi di mana para penumpang turun.

“Ketika ada barang tertinggal, dia merasa nggak boleh pegang. Nggak boleh pindah posisinya. Maka, dia pun harus anter lagi ke hotel. Coba bayangkan. Betapa keamanan di Jepang itu sungguh luar biasa. Dan ini akhlak islami sekali,” tegasnya.

Satu hal yang tak mudah ia lupakan, saat rombongan sampai di bandara Tokyo. Salah satu dari pimpinan pesantren ada yang merokok. Lalu didekati pemandu yang pandai Bahasa Indonesia. “Maaf, Pak. Ini Jepang. Bukan Indonesia. Anda lihat di sini ada CCTV. Nanti Anda bisa kena denda. Jadi, kita nggak bisa nggak disiplin setelah berkunjung dari sana,” tuturnya.

Kiai Karim sangat terpesona akan kebersihan bangsa Jepang. Itu pula yang ia teladankan kepada para santrinya. Sejak sebelum subuh, para santrinya sudah bangun lalu merapikan kamarnya masing-masing. “Semua punya jadwal ngepel dan nyapu halaman. Kami sangat tegas dalam urusan kebersihan. Kami ingin kesan pesantren yang kumuh tak lagi terbukti,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Zunus)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Sunnah, Santri, Aswaja Kawit An Nur Slawi

Menengok Ngaji Ramadhan di Pesantren Seblak

Jombang, Kawit An Nur Slawi

Mengisi bulan suci Ramadhan dengan pengajian kitab kuning biasanya dilakukan di semua pesantren. Tidak terkecuali Pesantren Salafiyah Syafiiyah Seblak Jombang. Pesantren ini berdiri tahun 1921 oleh KH. Mashum Ali dan Hj. Choiriyah Hasyim. Nama terakhir ini adalah putri pertama Hadratussyaikh Hasyim Asyari, pendiri pesantren Tebuireng dan organisasi NU.

Menengok Ngaji Ramadhan di Pesantren Seblak (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Ngaji Ramadhan di Pesantren Seblak (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Ngaji Ramadhan di Pesantren Seblak

Pesantren ini hanya berlokasi 200 meter arah barat dari makam Gus Dur. Sistem pengajian kilatan Ramadhan tahun ini dibagi berdasarkan jenjang sekolah. Baik MTs maupun MA. "Pengajian dibagi berdasar jenis kelamin, dipisahkan antara santri putra dengan santri putri," ujar Subhan, kepala MTs.

Untuk jenjang MTs kelas putri, dibacakan kitab Akhlaq lil Banin karya Syaikh Umar bin Ahmad Baraja. "Yang membaca Ustadz Farhalim, bertempat di mushala pondok," imbuhnya.

Kawit An Nur Slawi

Bagi santri putra jenjang MTs, dibacakan kitab Majmu Musytamil ala Arba Rasail karya Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan. "Kitab ini sengaja dipilih karena sebagian besar membahas tentang shalat, dan ini sangat ditekankan di pesantren sini," ujarnya.

Kawit An Nur Slawi

Di dalam kitab ini, lanjutnya, juga diterangkan tentang ancaman-ancaman bagi orang yang lalai meninggalkan shalat. "Sehingga diharapkan santri di sini akan dengan mudah untuk melaksanakan shalat, tidak cuma shalat wajib, juga shalat sunat," jelasnya.

Pada jenjang MA, santri putri dibacakan kitab Talimul Mutaallim. "Kitab ini karya Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji, tahun ini yang membaca Ibu Nyai Mahshunah di masjid madrasah sana," ujar M. Any Rofiq, kepala MA.

Bagi santri putra, dibacakan kitab Qamiut Tughyan karya Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani. "Kitab ini sengaja dipilih karena membahas tentang akhlaq santri dan itu sesuai dengan visi misi Pesantren Seblak sini," imbuhnya.

Pengajian kilatan ini dimulai pukul 9 pagi. "Setelah semua santri di sini shalat Dhuha mulai jam 7 pagi dilanjut dengan bimbingan baca tulis Al-Quran," paparnya. Itu untuk menjaga agar kefasihan santri dalam membaca Al-Quran tetap terjaga, meskipun mereka rata-rata sudah membaca Al-Quran sendiri setiap ada waktu senggang.

Upaya ini merupakan bagian integral dalam mengisi pekan efektif fakultatif selama bulan Ramadhan. "Jadi, di samping materi pembelajaran yang tidak ketinggalan, siswa juga memperoleh nilai tambah berupa materi dari pengajian ini," tambahnya.

Pengajian kilatan ini akan berakhir pada tanggal 17 Ramadhan. "Nanti biasanya ditutup dengan buka puasa bersama antara pengasuh, pimpinan madrasah, dewan guru dan semua santri," ujarnya. Agenda rutin ini, lanjutnya, tetap digelar untuk semakin mempererat tali silaturrahim dan ikatan emosional antar undangan yang hadir.

Kitab lain yang dibaca bulan Ramadhan ini sudah ditentukan oleh hasil rapat majelis pengasuh bersama dewan ustadz pondok. Di antaranya adalah Riyadhus Sholihin, Akhlaq lil Banin, Tafsir Jalalain, Khulashoh Nurul Yaqin, Istidadul Maut walima Badal Mawt, Abi Jamrah, dan Mabadi Fiqhiyyah. (Red: Mahbib) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nahdlatul Ulama Kawit An Nur Slawi

Kamis, 27 April 2017

Gandeng Tribun Jateng, RMI NU Buka Rubrik Halaqah Ramadhan

Semarang, Kawit An Nur Slawi. Pengurus Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Jawa Tengah bekerja sama dengan harian pagi Tribun Jateng membuka rubrik Halaqah. Rubrik ini hadir setiap hari selama Ramadhan. Berbentuk tanya-jawab seputar ibadah Ramadhan menjadikan pembaca bisa mendapatkan jawaban langsung dari pengurus RMI NU Jateng. 

Gandeng Tribun Jateng, RMI NU Buka Rubrik Halaqah Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng Tribun Jateng, RMI NU Buka Rubrik Halaqah Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng Tribun Jateng, RMI NU Buka Rubrik Halaqah Ramadhan

Kerjasama ini merupakan tindak lanjut atas kunjungan pengurus RMI NU Jateng pada 27 Mei 2015 lalu. Selain membahas kerjasama dalam rubrik Halaqah, pengurus RMI NU Jateng menjelaskan tentang Gerakan Nasional Ayo Mondok yang diluncurkan 1 Juni lalu.

“Ini menjadi bagian penting, bahwa perlu adanya sinergi dengan media lokal dan nasional. Rubrik ini sebagai jembatan pembaca agar mengenal pesantren lebih jauh", ungkap anggota Departemen Media dan Informasi RMI NU Jateng, Khasan Ubaidillah. Ahad (21/6) di Semarang.

Kawit An Nur Slawi

Pesantren, lanjutnya, menjadi tempat belajar ilmu yang dilandasi akhlak mulia. Sudah seharusnya pesantren dikenal lebih baik oleh berbagai kalangan. 

Untuk pembaca, bisa mengirimkan pertanyaan melalui line SMS ke 085712341233 untuk mendapatkan jawaban seputar ibadah Ramadhan. (Mukhamad Zulfa/Fathoni)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Humor Islam, Kiai Kawit An Nur Slawi

Minggu, 23 April 2017

Pemrov Tingkatkan Kualitas Pendidikan Pesantren di Aceh

Banda Aceh, Kawit An Nur Slawi. Pemerintah Provinsi (Pemrov) Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) akan meningkatkan kualitas pendidikan dayah (pesantren) sesuai dengan amanah Undang-undang No.11/2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA).

"Dalam UUPA dayah harus menjadi program Pemda dan diharapkan mulai 2007 kualitas pendidikan dayah juga meningkat dari 2006," kata Wakil Gubernur NAD, Muhammad Nazar usai menyerahkan bantuan pendidikan untuk anak yatim korban tsunami di Banda Aceh akhir pekan lalu.

Anggota TNI Ini Bekali Santri Bela Negara

Jepara, Kawit An Nur Slawi. Anggota TNI AD yang terdiri dari Kapten Mashudi (Danramil 09 Mlonggo), Bambang Sugito (Babinsa Sekuro) dan Musa Abdullah (Babinsa Mororejo) memberikan pembekalan bela negara kepada ratusan santri pesantren Az Zahra Jepara, Kamis (27/11) siang kemarin.

Kepada santri unit SMK Az Zahra, Mashudi menyampaikan pentingnya bela negara. Bela negara jelasnya ialah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Anggota TNI Ini Bekali Santri Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota TNI Ini Bekali Santri Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota TNI Ini Bekali Santri Bela Negara

Adapun nilai-nilai dalam bela negara mencakup 5 hal. Cinta kepada tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, yakin pada pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara. “Serta memiliki kemampuan awal bela negara baik psikis maupun fisik,” imbuhnya.

Kawit An Nur Slawi

Secara psikis warga negara harus memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, senantiasa memelihara jiwa dan raganya. Serta memiliki sifat disiplin, ulet, kerja keras dan tahan uji.

Kawit An Nur Slawi

Sedangkan kemampuan fisik perlu ditopang dengan kondisi kesehatan, keterampilan jasmani dengan gemar berolahraga dan menjaga kesehatannya.

Penanggung jawab kegiatan, Bambang Sugito menyampaikan kegiatan untuk memberikan bekal materi bela negara kepada peserta didik. Selain untuk mengingatkan kembali dasar negara dan UUD kegiatan juga untuk mengingat jasa para pejuang ’45. “Harapan kami anak-anak tidak melupakan para pejuangnya,” harap Bambang disela-sela kegiatan.

Senada dengan Bambang, Hasan Khaeroni, Kepala SMK Az Zahra memaparkan ulama termasuk pejuang yang juga berperan untuk merebut kemerdekaan. “KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah, KH Wahid Hasyim merupakan sejumlah kiai yang turut merebut kemerdekaan,” tegasnya.

Sehingga santri saat ini juga harus berperan aktif pada kelompok yang hendak merongrong keutuhan NKRI. Caranya, lanjut lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu dengan penguatan nilai-nilai bela negara yang tertanam sejak dini. (Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi RMI NU, Nahdlatul, News Kawit An Nur Slawi

Kamis, 20 April 2017

Liga Santri Nusantara, Konsep Sepak Bola Akhlakul Karimah

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Kalau kita menonton pertandingan sepak bola, baik pada Liga Super Indonesia (LSI) atau liga di negara-negara lain, sepertinya menjadi lazim melihat pemain yang suka marah, memukul, menenendang, bahkan sampai menembak wasit lantaran si pemain dihadiahi kartu merah. Pun dengan suporternya, saling ejek dalam bentuk yel-yel, baku hantam dan deretan kekerasan lainnya.

Liga Santri Nusantara, Konsep Sepak Bola Akhlakul Karimah (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara, Konsep Sepak Bola Akhlakul Karimah (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara, Konsep Sepak Bola Akhlakul Karimah

Namun, kedua hal tersebut tidak berlaku bagi para pemain dan supporter bersama klub yang ikut serta pada kompetisi Liga Santri Nusantara (LSN) yang diadakan atas kerja sama Rabithath Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) dengan Kementerian Pemuda dan Olah raga (Kemenpora). 

Sebagai contoh, insiden yang menimpa seorang pemain bernama Aldo dari klub Al-Asy’ariyah (LSN 2016). Saat itu, Aldo melakukan pelanggaran dengan menekel pemain lawan, wasit pun menghadiahi kartu merah padanya. Namun, wasit cukup terkejut dengan tingkah Aldo yang seketika itu langsung mencium tangan wasit justru ketika ia harus menerima kenyataan diusir sang wasit.

(Baca: Diusir Wasit, Bukannya Marah Malah Cium Tangan)

Begitu juga yel-yel dari suporter yang menggema di stadion, bukan ejekan atau hinaan, melainkan asmaul husna dan sholawat yang mengudara.

Kawit An Nur Slawi

(Baca: Perang Antar-Suporter ala Liga Santri Nusantara)

Penasihat LSN Mohamad Kusnaeni saat ditemui Kawit An Nur Slawi di ANOE Hotel, Jakarta, Rabu (18/10) mengatakan, pemandangan di lapangan hijau seperti mencium tangan, dan pembacaan sholawat merupakan bagian dari ciri dikedepankan dalam kompetisi LSN, yakni sepak bola yang berakhlakul karimah.

Menurutnya, sifat-sifat baik yang pemain dapatkan dari pondok pesantren sudah seharusnya diimplementasikan saat berlaga di lapangan hijau. 

“Menghormati (keputusan) wasit, menghormati lawan itu kan bagian dari pendidikan moral yang ditanamkan ketika mereka mondok,” kata pria yang bakrab dipanggil Bung Kus ini. 

Kawit An Nur Slawi

Lebih dari itu, kata pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat ini, pada tahun ini para pemain juga diharapkan berusaha untuk menghindari pelanggaran yang dapat  menciderai lawan.  

“Karena salah satu yang kita tekankan adalah sepak bola ini untuk membangun persahabatan, sepak bola ini untuk memberi kesehatan bagi para pemian. jadi kalau samapai menciptakan masalah dengan adanya cidera itu kan merugikan bagi mereka,” terangnya.

Begitu pula dalam hal yel-yel. Menurut Bung Kus, hal tersebut menjadi bagian yang ditekankan dari konsep sepak bola akhlakul karimah. 

“Akhlakul karimah kan tidak hanya dalam bentuk perbuatan, tapi juga melalui perkataan yang baik (yel-yel),” ujar pria yang dikenal dengan komentator sepak bola ini. 

Ia memaparkan, penyelenggara menekankan kepada para supporter agar yel-yel yang menggema di stadion bersifat memberi dukungan bagi klub kesayangannya, dan menjauhi yel-yel yang sifatnya memprovokasi atau merendahkan klub lawan. 

“Bahkan lebih jauh lagi kami mendorong para santri yang hadir mendukung tim kesayangannya tersebut lebih baik memanjatkan doa dalam bentuk sholawat atau puji-pujian kepada nabi. Dan itu saya pikir hal yang kemudian menjadi trade mark dari penyelenggaraan LSN di berbagai daerah,” pungkasnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Fragmen Kawit An Nur Slawi

Selasa, 18 April 2017

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul

Tunisia, Kawit An Nur Slawi. Sebanyak 50 mahasiswa Indonesia di Tunisia mengunjungi makam dua sahabat Rasulullah SAW. Sejumlah sepuluh dari mereka ialah mahasiswa STAINU Jakarta yang sedang menempuh program bahasa di Universitas Zitouna. Ziarah ini digagas oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia.

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul

Ketua mahasiswa STAINU di Tunisia, Izzul Madid menyatakan pentingnya acara ziarah semacam ini.

“Selain mendapat pengalaman baru dan wawasan, kita juga dapat menemukan insiprasi atau keteladanan dari para sahabat. Perjuangan mereka yang mau datang jauh dari Hijaz ke Afrika Utara untuk penyebaran agama Islam, perlu kita teladani,” tutur Madid. 

Kawit An Nur Slawi

Mereka mengunjungi makam sahabat Abu Zam’a al Balawi terletak di kota Kairouan sekitar 156 km dari Tunis, Sabtu-Ahad (15-16/3). Sementara makam Abu Lubabah al Anshari berlokasi di kota Gabes, 404 km dari Tunis.

Kawit An Nur Slawi

Dua makam sahabat ini menjadi situs wisata ziarah terpenting di Tunisia saat ini. Makam Abu Zam’a al-Balawi sering menjadi pusat acara hari besar keagamaan. Sedangkan di makam Abu Lubabah al-Anshari, biasa diadakan festival seni kaum sufi internasional yang lazim digelar setiap bulan ramadhan.

Abu Zam’a al-Balawi seorang sahabat yang hadir dalam perjanjian Hudaibiyah serta mengikuti beberapa peperangan bersama Rasulullah saw. Ia juga pernah menjadi tukang cukur rambut Rasulullah SAW. Ketika turut serta dalam penyebaran Islam ke Afrika Utara, ia membawa beberapa helai rambut Rasulullah.

Sedangkan  Abu Lubabah al-Anshari adalah sahabat asal Madinah. Ia masuk Islam sejak sebelum hijrah. Ketika Rasulullah saw berhijrah ke Madinah, Abu Lubabah termasuk salah seorang warga Madinah yang turut menyambut kedatangan Rasulullah.

Selain berziarah ke dua makam sahabat, mereka juga berziarah ke makam mantan presiden Tunisia Habib Borguiba di kota Monastir, Masjid Uqbah bin Nafi di kota Kairouan, serta situs wisata sahara di kota Matmata, Tunisia Selatan. (Dede Permana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Hikmah, Pahlawan Kawit An Nur Slawi

Urgensi Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Tahun 2016 yang lalu, Balitbang Diklat Kemenag melakukan Penelitian Layanan Pembelajaran Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar.

Kondisi kota Denpasar sendiri sangat majemuk dan heterogen, baik dari segi kebudayaan, ras suku bangsa, etnik, adat istiadat, agama dan kepercayaan. 

Urgensi Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Urgensi Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Urgensi Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar

Dari segi agama dan kepercayaan, kota Denpasar memiliki rasio penduduk yang mayoritas Hindu. Meskipun demikian, juga terdapat penduduk yang memeluk agama selain Hindu yakni Muslim, Kristen, Katolik, dan Budha bahkan Konghucu. 

Sementara dari segi suku bangsa dan etnisitas, selain suku asli Bali yang mayoritas, juga terdapat etnis pendatang dari luar Bali misalnya Jawa, Sulawesi, Sumatera, Ambon, dan Papua. 

Kawit An Nur Slawi

Ada pun dari segi keragaman penduduk atau penghuni kota Denpasar, terdapat sejumlah wisatawan manca negara yang berkunjung untuk tujuan piknik, menikmati kebudayaan dan keindahan alam kota Denpasar serta pulau Bali pada umumnya. 

Sebagai salah satu kota tujuan wisata di Indonesia, keberadaan kota Denpasar sangat ramai dan pesat dari waktu ke waktu. Perkembangan yang sangat pesat dan eksistensinya yang majemuk tersebut, menyebabkan urusan pendidikan menjadi hal yang sangat fundamental bagi masyarakat Bali umumnya, dan kota Denpasar pada khususnya. 

Melalui pendidikan, pemerintah kota Denpasar menanamkan berbagai nilai, pengetahuan dan keterampilan yang dapat menjadi modal bagi masyarakatnya untuk beradaptasi dan ikut menikmati kemauan pembangunan. Pemahaman terhadap nilai-nilai toleransi dan mukltikulturalisme menjadi penting dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan berbagai ragam kebudayaan dan etnis serta agama yang berbeda-beda. 

Dalam konteks di atas, maka penelitian ini mencoba untuk memotret kemampuan adaptasi dan penanaman nilai-nilai multikulturalisme di sekolah terutama melalui pendidikan agama.

Kawit An Nur Slawi

Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional pasal 12 1.a dinyatakan tentang pentingnya layanan pendidikan agama bagi siswa, dan harus dilaksanakan oleh guru yang seagama dengan siswa. 

Secara detil dinyatakan: “Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.” 

Aturan tersebut menjadi landasan yuridis sekaligus filosofis penyelenggaraan pendidikan agama, khususnya yang diselenggarakan di sekolah publik. Sekolah publik yang diselenggarakan dalam rangka memenuhi sistem pendidikan nasional, menjadi instrumen negara dalam rangka mencapai tujuan pembangunan bangsa, bahkan tujuan bernegara, yakni masyarakat yang sejahtera, cerdas, adil dan makmur berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, nasionalisme, demokrasi, dan keadilan sosial.

Pendidikan agama hingga saat ini, seperti banyak dikeluhkan publik masih belum memenuhi fungsinya dalam membentuk karakter, dan kepribadian anak didik. Berbagai isu juga selalu mengiringi penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah, antara lain: ketertarikan siswa terhadap pelajaran pendidikan agama yang minim, metode, strategi, pendekatan dan pola pembelajaran tidak menarik, pemahaman dan kompetensi guru agama yang lemah (Riset Puslitbang Penda, 2012). 

Di tengah kelemahan tersebut, selama ini juga masih terjadi pengabaian pendidikan agama yang sesuai agama siswa di sekolah. Beberapa sekolah hanya mengajarkan pendidikan agama untuk siswa yang mayoritas, dan belum memberikan layanan pendidikan agama kepada siswa yang minoritas. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Litbang Agama Makassar, menemukan bahwa layanan pendidikan agama di sekolah-sekolah Yayasan atau organisasi keagamaan, hanya memberikan layanan pendidikan agama yang menjadi ciri khas Yayasan (Laporan Penelitian Balai Litbang Makasar, 2014).

Meskipun demikian, kita menemukan beberapa contoh yang dapat dijadikan sebagai contoh dan pelajaran (lesson learn) dalam membangun iklim pendidikan yang toleran dan damai. Beberapa contoh dari implementasi aturan tersebut misalnya: SMA Muhammadiyah Kupang yang menyediakan layanan pendidikan agama selain Islam kepada siswanya (Tholkhah, 2013). Di Semarang Jawa Tengah juga ada berita tentang Sekolah Dasar Karang Turi yang mayoritas siswa dan warga sekolahnya beragama Kristen, memfasilitasi penyelenggaraan pesantren kilat kepada siswanya yang muslim di sekolah tersebut (Sesawi.net).

Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui layanan pembelajaran pendidikan agama sesuai agama yang dianut oleh siswa pada SMAN 1 Denpasar. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hikmah Kawit An Nur Slawi

Minggu, 16 April 2017

Adu Penalti Warnai Semifinal LSN Region I Jawa Barat

Cirebon, Kawit An Nur Slawi - Liga Santri Nusantara (LSN) Region I Jawa Barat 2016 mencapai babak semi final, Ahad (28/8). Pertandingan ini berlangsung di Stadion Bima, Kota Cirebon. Di partai kedua semifinal yang mempertemukan Nurul Fajri Majalengka dan Al-Maarif Ciledug harus berakhir dengan drama adu penalti.

Namun sayang, langkah Al-Maarif NU harus terhenti di laga tersebut setelah dua pemainnya gagal menjebol gawang tim Nurul Fajri Majalengka. Dalam laga yang berlangsung selama 2 x 35 menit itu tim Al-Maarif Ciledug unggul terlebih dahulu berkat gol Wandi di menit keempat.

Di menit ke-26, tim Nurul Fajri Majalengka punya kesempatan menyamakan kedudukan. Salah seorang pemain tim Nurul Fajri Majalengka dilanggar di kotak terlarang. Wasit yang memimpin jalannya pertandingan, Ridwan langsung menunjuk titik putih.

Adu Penalti Warnai Semifinal LSN Region I Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Adu Penalti Warnai Semifinal LSN Region I Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Adu Penalti Warnai Semifinal LSN Region I Jawa Barat

Namun, Firman yang ditunjuk sebagai eksekutor gagal memaksimalkan kesempatan ini. Tendangannya melebar terlampau tinggi hingga hanya melewati bagian atas gawang. Keunggulan tim Al-Maarif Ciledug ini bertahan hingga menit-menit akhir jelang bubar. Kemenangan tim Al-Maarif Ciledug buyar di menit ke-67. Memaksimalkan umpan crossing, sundulan kepala Irin membuahkan gol untuk tim Nurul Fajri Majalengka.

Kawit An Nur Slawi

Pertandingan pun akhirnya memasuki drama adu penalti. M Zaenudin yang dipilih sebagai algojo pertama tim Al-Maarif Ciledug gagal menyempurnakan kesempatannya. Tendangannya membentur mistar gawang yang dijaga kiper tim Nurul Fajri Majalengka, Feri.

Kawit An Nur Slawi

Selain itu, Wandi gagal mengeksekusi tendangan penalti ketiga tim Al-Maarif Ciledug. Tendangannya melebar ke sisi kiri gawang. Sementara, pemain Nurul Fajri Majalengka satu per satu dengan tenang berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.

Tendangan Yudista menjadi penentu dalam drama adu penalti tersebut. Ia berhasil merobek jala gawang tim Al-Maarif Ciledug yang dijaga kiper Tubagus Farhan. Seluruh pemain pun bersorak setelah memastikan lolos ke babak final LSN I Jawa Barat yang akan dilangsungkan di Stadion Bima Kota Cirebon, Ahad (4/9) mendatang.

Pelatih Nurul Fajri Majalengka Nana Setia mengaku bangga atas capaian anak asuhnya yang terus berjuang hingga titik darah penghabisan. Meski sempat tertinggal lebih dulu namun kegigihan semangat anak asuhnya mampu memaksa pertandingan memasuki babak adu penalti melalui gol balasan di menit ke-67.

"Perjuangan kami belum berakhir, masih satu laga lagi sebelum menjadi juara. Setelah ini kami fokus latihan untuk babak final. Evaluasi tim kami hanya tinggal komunikasi antarpemain di lapangan yang kadang masih miss, selebihnya sudah mantap," katanya.

Sementara itu, Koordinator LSN Region I Jawa Barat M Luthfi mengatakan, terkait diundurnya partai puncak menjadi Ahad (4/9) mendatang lantaran pihaknya akan menyiapkan seremoni penutupan LSN Region I Jabar. Bahkan, menurutnya, tim yang akan berlaga di putaran nasional LSN 2016 di Solo dan Yogyakarta itu akan disiapkan pemusatan latihan selama satu bulan. Sebab, pihaknya menargetkan perwakilan Cirebon meraih juara pertama di LSN 2016 ini.

"Kami sudah siapkan lokasi campnya, antara Stadion Ranggajati Sumber dan Lapangan Kodim 0620/Kabupaten Cirebon. Untuk tim yang akan berlaga di putaran nasional LSN 2016 ini 60 persen pemainnya berasal dari tim yang menjuarai Region I Jabar," ujarnya.

Menurutnya, 40 persennya hasil seleksi tim pemandu bakat yang melihat perkembangan pemain selama laga ini berlangsung. Ia mengatakan, untuk seremoni penutupan LSN Region I Jawa Barat pihak penyelenggara berencana akan mengundang perwakilan Kemenpora untuk menutup laga tersebut.

Di partai final, tim Nurul Fajri Majalengka akan bertemu tim Al-Balagh Weru yang menancapkan cakarnya terlebih dahulu. Sesaat sebelumnya, tim Al-Balagh Weru berhasil mengalahkan tim Al-Arofah Gintung dengan skor meyakinkan 3-1. Bahkan, pemain tim Al-Balagh Weru Arif berhasil membuat hattrick dengan gol di menit ke-2, 15, dan 51.

Di menit ke-18, tim Al-Arofah Gintung mencoba mengejar ketinggalan melalui gol yang dicetak Bary. Namun, gol hiburan tersebut gagal membuat tim Al-Arofah Gintung lolos ke partai puncak. (Imam Baehaqi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hadits Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 15 April 2017

Liputan Terorisme, Media Didorong Tidak Kedepankan Glorifikasi Pelaku

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Para pelaku terorisme tidak jarang memanfaatkan media justru sebagai alat menyebarkan rasa takut di tengah-tengah masyarakat. Oleh sebab itu, media tidak mengeksplorasi potensi-potensi yang bisa membuat para teroris menjadi menang. Artinya, kejayaan (glorifikasi) pada diri mereka tidak diangkat menjadi konsumsi publik.

Liputan Terorisme, Media Didorong Tidak Kedepankan Glorifikasi Pelaku (Sumber Gambar : Nu Online)
Liputan Terorisme, Media Didorong Tidak Kedepankan Glorifikasi Pelaku (Sumber Gambar : Nu Online)

Liputan Terorisme, Media Didorong Tidak Kedepankan Glorifikasi Pelaku

Hal ini disampaikan oleh Direktur Deradikalisasi BNPT Brigjen Polisi Hamidin dalam diskusi bertajuk Diseminasi Pedoman Peliputan dan Peningkatan Profesionalisme Media Masa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme yang diselenggarakan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DKI Jakarta, Kamis (7/4) di Gedung Hall of Blessing ITC Cempaka Mas, Jakarta Pusat.

"Contoh kasus terkini, kasus Siyono. Ada sebuah media nasional yang menulis berita dengan judul Jenazah Harum Siyono. Menurut saya Dewan Pers harus menegur hal itu," ujar Jenderal Polisi bintang satu ini.

Lebih jauh, Hamidin mengungkapkan bahwa kaderisasi teroris saat ini tidak lagi face to face (bertemu langsung), tetapi mereka menggali sendiri lewat media di internet, baik paham radikal sampai merakit bom.

"Sebab itu, saya sendiri cukup tertarik saat bom Thamrin. Media memberitakan hal-hal yang justru menguatkan masyarakat, seperti mengekspose tukang sate dan penjual kacang rebus yang sedang asyik berjualan di tengah serangan bom," terang Hamidin.

Kawit An Nur Slawi

Senada dengan Hamidin, Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prasetyo mengatakan, media jangan menjadikan media sosial sebagai sumber utama, karena media sosial hanya sebatas informasi yang perlu diverifikasi lebih lanjut.

"Media juga jangan terlalu over dalam liputan, seperti menyorot bentrokan antara Polisi dan teroris sambil menunduk-nunduk misalnya. Selain membahayakan dirinya sendiri, liputan tersebut juga tidak baik untuk konsumsi publik," ujar Yoseph.

Media, lanjut Yoseph, juga jangan sembarangan dalam mencari narasumber. Jangan mentang-mentang orang tersebut mantan Kepala BIN, lalu dimintai keterangan tentang kasus terorisme yang sedang terjadi. "Padahal si orang tersebut sudah tidak update lagi sehingga akan memunculkan persoalan baru bagi negara dan masyarakat," ? tuturnya.

Kawit An Nur Slawi

Selanjutnya, Yoseph memberikan petunjuk kepada 180 wartawan yang hadir untuk mengakses pedoman peliputan untuk isu-isu terorisme di www.dewanpers.or.id.

Selain kedua narasumber tersebut, hadir juga sebagai narasumber jurnalis Tempo Sunu dan mantan teroris Nasir Abbas serta 180 wartawan media online, cetak, dan televisi yang hadir sebagai peserta. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nahdlatul Ulama Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 08 April 2017

Gus Mus: Sekarang Lagi Ngetren “Orang Pintar Baru”

Semarang, Kawit An Nur Slawi. KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) mengatakan sekarang sedang ngetren orang pintar baru. Menurutnya, mereka memiliki setidaknya ada dua ciri. Pertama, setiap bebicara menuntut adanya dalil.

Gus Mus: Sekarang Lagi Ngetren “Orang Pintar Baru” (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Sekarang Lagi Ngetren “Orang Pintar Baru” (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Sekarang Lagi Ngetren “Orang Pintar Baru”

“Sedikit-sedikit ada dalilnya, bahkan menuntut untuk adanya perincian dalil, misalnya ayat berapa, surat berapa, apakah hadis shohih atau dhaif,” ujarnya saat menghadiri acara shalawat bersama di alun-alun Fakultas Syariah UIN Walisongo, Semarang, Senin (30/3).

Kedua, lanjut Pejabat Rais Aam PBNU itu, mereka juga selalu bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Menurut Gus Mus, sikap demikian justru menjadi ukuran orang yang bodoh.

Kawit An Nur Slawi

Dalam kesempatan itu, Gus Mus juga mengingatkan pada civitas akademika di lingkungan UIN Walisongo untuk menjadi pencerah bagi bangsa. "Kampus itu tempat untuk men-dunung-kan (memahamkan) orang yang bingung. Bukan membuat orang bingung," ungkap pengasuh Pesantren Roudlatut Thalibin ini.

Ia mencontohkan dengan menunjukkan fenomena penyerapan bahasa Arab ke dalam istilah bahasa Indonesia. Apakah yang benar kata silaturahim (Arab) atau silaturahmi (bahasa Indonesia). Untuk bisa memahamkan masyarakat, tambahnya, mahasiswa terlebih dahulu harus dunung (paham).

Kawit An Nur Slawi

Gus Mus mengungkapkan, terdapat sekitar 4000 istilah serapan dari bahasa Arab bila kita tilik ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Bunyi dan makna bisa berlainan karena mengalami distorsi. Seperti kata ulama yang merupakan bentuk plural (jama) dari alim yang berarti orang yang mengerti, pandai. Ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia kata ini menjadi bentuk tunggal (mufrad).

Gus Mus menambahkan, banyak orang yang bingung karena orang belum dunung. Dari sekian kata-kata itu kita mengerti ungkapan salah kaprah. Di sininilah kampus menjadi tempat yang penting untuk memberikan pengertian pada masyarakat.

Gus Mus juga menyinggung soal maraknya informasi hukum keislaman di dunia maya. Hanya saja, situs-situs yang dikelola orang kurang paham agama justru muncul di halaman pertama setiap membuka mesin pencarian di internet. (M Zulfa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian, Sholawat Kawit An Nur Slawi

Jumat, 07 April 2017

Terorisme Jihad

Oleh Muhammad Afiq Zahara

Baru-baru ini terjadi rangkain aksi teror di Barcelona yang menelan korban cukup benyak. Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, seperti yang dilansir CNN dan Reuters menyebut aksi itu sebagai jihadist terrorism (aksi terorisme jihad). Istilah yang menarik perhatian saya. Terorisme dan jihad tidak bisa disandingkan bersama yang kemudian menjadi sebuah terma tersendiri. Terorisme dalam bahasa Arab disebut irhâb, akar katanya adalah rahiba-yarhabu yang dalam Lisân al-‘Arab berarti khâfa (takut, menakuti, atau mengintimidasi). (Ibnu Mandhur, Lisan Al-‘Arab, Juz 2: 1748)

Sementara jihâd berasal dari kata al-jahdu atau al-juhdu yang berarti al-thâqah (mampu, berusaha dan kuat) (Ibnu Mandhur, Lisan Al-‘Arab, Juz 1: 708). Dari segi bahasa sangat jelas perbedaanya, yang satu menyebarkan ketakutan (irhâb) dan satunya lagi berusaha. Jihad memiliki cakupan sangat luas, tidak hanya perang, seperti perkataan Grand Syekh al-Azhar, Syeikh Ahmad al-Thayyib yang dilansir Alwafd, Edisi Selasa, 21 Juni 2016:

Terorisme Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Terorisme Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Terorisme Jihad

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Jihad tidak hanya terbatas pada jihad melawan musuh kasat mata di medan perang, tetapi juga musuh tak terlihat, yaitu setan, dan nafsu yang membawa pada keburukan.”

Kawit An Nur Slawi

Aksi-aksi kekerasan saat ini dengan mudahnya dikaitkan dengan jihad, bahkan yang melakukan aksi tersebut merasa dirinya seorang mujahid. Objeknya jelas, negara non-Islam dan negara mayoritas Islam tapi tidak menerapkan syariat Islam.Menariknya mereka menganggap aksi teror sebagai bentuk jihad. Ini aneh tapi nyata.

Perbedaan paling mendasar antara jihad dan terorisme menurut Syeikh Muhammad Sayyid Thanthawi adalah, jihad harus dibangun atas dua prinsip utama, yaitu:

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ?.

Kawit An Nur Slawi

“Pertama, mempertahankan agama, kesucian, jiwa, tanah air, persediaan (kebutuhan sehari-hari), harta benda dan segala sesuatu yang diperintahkan Allah untuk mempertahankannya. Kedua, untuk menolong orang yang didzalimi.” (Syeikh Muhammad Sayyid Thantawi, al-Farq bain al-Irhâb wa al-Jihâd Wâdlih).

Artinya, jihad tidak dibenarkan tanpa memenuhi dua prinsip itu. Sedangkan irhâb, menurut Syeikh Thantawi,menebarkan ketakutan terhadap orang-orang yang tidak bersalah. Inilah yang dilarang oleh Islam, karena Islam menolak segala bentuk agresi terhadap orang yang tidak bersalah dan terhadap agresi itu sendiri.

Kita sepertinya lupa, bahwa hidup bersama (ta’âyusy) dan saling mengenal antara makhluk tanpa memandang agama, ras, latar belakang dan warna kulit (ta’âruf bain al-umam wa al-syu’ûb wa al-qabâ’il) merupakan ketetapan Allah, seperti firmanNya (Q.S. al-Hujurat [41]: 13):?

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa....”Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud dari kata al-syu’ûb adalah al-qabâ’il al-‘idhâm (suku bangsa yang besar), dan kata al-qabâ’il adalah al-buthûn (suku atau marga). (HR. Imam Bukhori, hadits No. 3230).

Menariknya lagi, semua ayat sebelum al-Hujarat 13, menggunakan seruan, “Hai orang-orang yang beriman,” yang sangat spesifik objek seruannya, yaitu orang-orang beriman. Ayat 13 dalam al-Hujurat menjadi satu-satunya ayat yang menggunakan, “hai manusia”. Hal ini menunjukkan seruan hidup harmonis untuk seluruh umat manusia, terlepas agama, suku dan rasnya.

Dipertegas dengan firman Allah lainnya (Q.S. al-Baqarah [2]: 256), “Tidak ada paksaan dalam agama,” penekanannya jelas, yaitukebebasan beragama (hurriyah al-dîn) dan mempraktikkannya. Saya kira, disinilah ruang yang dimasuki dakwah. Prinsip dakwah Islam adalah kebijaksanaan, perkataan yang baik dan misal pun harus berdebat, harus menunjukkan sikap lebih baik dari mereka (Q.S. al-Nahl [16]: 125).

Jika tidak ada kebebasan beragama, semua orang harus masuk agama tertentu dengan cara paksa, maka ruang ekspresi dakwah yang telah digariskan oleh al-Qur’ân seperti tidak memiliki guna. Akan sangat aneh jika aksi teror dimasukkan sebagai kategori jihad. Artinya kita sudah menutup pintu atau peluang orang-orang tersebut mendengar kebenaran tanpa melaksanakan proses dakwah dan dialog yang diperintahkan al-Qur’ân.

Diversitas, kemajemukan dan kebhinekaan merupakan ketetapan dan fitrah kehidupan. Tuhan sendiri tidak menghendaki menciptakan umat yang satu, seperti firmanNya (Q.S. Hud [11]: 118: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.”

Lalu, kenapa mesti dengan cara membunuh untuk menjadikan semua manusia sama? Bukankah seharusnya dakwah bi al-hikmah wa al-mau’idhah al-hasanah wa jadilhum bi allatî hiya ahsan harus lebih didahulukan dalam memaknai atau memahami diversitas dan kemajemukan ini.

Penyebab terorisme jihad dan solusinya

Saya tidak akan berbicara aspek politik dan sosial tentang ini, meski pengaruh dua hal tersebut sangat besar terhadap munculnya terorisme.Fokus saya di sini hanya pada aspek pendidikan agama. Menurut sayapendidikan agama memiliki pengaruh besar dari dua sudut sekaligus, penyebab dan solusinya.

Hampir semua kajian terorisme mengungkapkan bahwa memahami agama secara tektual menjadi salah satu sebab lahirnya radikalisme. Pembunuhan Sayidina ‘Ali ra oleh Abdurrahman bin Muljam dari kelompok Khawarij sering disebut sebagai aksi radikal pertama dalam sejarah Islam, menganggap Ali bin Abi Thalib ra telah keluar dari Islam karena tidak menggunakan hukum Allah.

Memahami agama secara tekstual tidaklah salah selama memiliki guru yang jelas kualifikasi dan mata rantai keilmuannya. Karena sumber-sumber primer Islam semuanya menggunakan bahasa Arab yang memiliki makna sangat luas. Dalam Lisân al-‘Arab, satu kata Arab, contohnya ‘aradla-ya’rudlu, dengan segala arti dan perubahannya menghabiskan 14 halaman, per halaman dibagai dalam tiga kolom.

Artinya untuk memahami satu kata Arab saja diperlukan penelitian yang cermat. Maka pantas saja ada beribu-ribu kitab tafsir al-Qur’ân karena kekayaan makna dan kandungannya. Belum lagi jika ditarik dalam ranah fiqih yang memiliki perbedaan pendapat sangat kaya, terkadang bertentangan satu sama lain dalam penetapan hukumnya; satu wajib, satunya sunnah dan satunya lagi haram.

Dalam Tartîb al-Madârik wa Taqrîb al-Masâlik, Qadî ‘Iyâd (1083-1149 M) mencatat perkataan Abdullah bin Wahb (743-812 M) yang mengatakan:

? ? ? ? ? ? ?, ? ?: ? ? ?: ? ? ? ?

“Jikalau Allah tidak menyelematkanku melalui Malik dan al-Laitsi, aku pasti telah sesat.” Dia ditanya (setelah mengatakan itu): “Kenapa seperti itu?” Jawabnya: “Aku hafal banyak hadits hingga membuatku bingung.” (Abu al-Fadl ‘Iyad, Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik, Rabat: al-Maktabah al-Malikiyyah, tt,juz 3, hlm 236)

Artinya, belajar agama tidak mungkin tanpa guru. Seorang ulama besar seperti Abdullah bin Wahbin yang menghabiskan hidupnya untuk menuntut ilmu dari satu guru ke guru lainnya, menerima hadits dari para tabi’in dan menghafalnya, masih membutuhkan bimbingan guru, apalagi jika hadits tersebut hanya comotan dari buku, medsos dan buku. Hafal banyak hadits belum cukup untuk memahami agama secara menyeluruh.

Proses didik-mendidik harus mampu menghilangkan akar dari radikalisme.Memberikan pemahaman jihad yang menyeluruh, jangan sepotong-sepotong. Di sinilah pendidikan harus berperan aktif, dukungan pemerintah dibutuhkan, bukan malah dikebiri dengan FDS (full days school). Madrasah diniyah dan pondok pesantren dalam hal ini dapat menjadi instrumen penting untuk menghabisiradikalisme dan menguatkan karakter kebangsaan.

Kita harus berhati-hati dalam mengambil kesimpulan, apalagi yang berkaitan dengan masalah agama. Jangan sampai apa yang kita anggap “benar” ternyata salah. Khazanah Islam begitu luas, tidak akan habis dipelajari. Nabi Muhammad saw, mendorong kita untuk menuntut ilmu dari mulai buaian sampai liang lahat. Hukum menuntut ilmu pun wajib. Karena itu,—meminjam bahasa Gus Mus—“jangan berhenti belajar.”?

Untuk asyik-asyikan sebelum berpisah, kita cermati perkataan Syeikh Hamza Yusuf Hanson berikut ini: “If there was a better way to die than in the arms of his wife (Sayyidah ‘Aisyah), then the Prophet (saw) would have died that way” (Jika ada cara yang lebih baik untuk mati daripada di pangkuan isterinya, kanjueng Rasul akan mati dengan cara itu).

Penulis adalah warga NU dari Yogyakarta. Alumni Pondok Pesantren Al-Islah, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Kritik, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Warta, Sholawat, Nasional Kawit An Nur Slawi

Senin, 03 April 2017

Siswa MA Walisongo Berprestasi Lewat Tulisan

Jepara, Kawit An Nur Slawi. Siswa MA Walisongo Pecangaan, Riful Mazid Maulana melalui reportasenya ‘Semarak Porsema dan OSK LP Maarif Jateng’, berhasil melenggangkan dirinya menuai prestasi sebagai Juara II Lomba Reportase Pelajar tingkat Jawa Tengah. Predikat itu diraihnya dalam Porsema dan OSK LP Maarif Jateng yang dilaksanakan di Kudus, belum lama ini. 

Diakui, prestasi yang diraih lelaki kelahiran Jepara, 15 Maret 1995 itu tidak lepas dari spirit guru Bahasa Indonesia sewaktu masih duduk di kelas II MTs Walisongo Pecangaan. Waktu itu, gurunya Ibu Asiyah memberikan apresiasi padanya. Berita yang ia buat adalah yang terbaik diantara siswa yang lain. Dan karyanya itu, oleh inisiatif guru dipajang di mading madrasahnya. 

Siswa MA Walisongo Berprestasi Lewat Tulisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa MA Walisongo Berprestasi Lewat Tulisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa MA Walisongo Berprestasi Lewat Tulisan

Ia juga diminta gurunya mengelola mading sekolah dan pernah terbit satu kali edisi. “Awal kali mempunyai semangat menulis tidak lepas dari motivasi Bu Asiyah. Motivasi tersebut masih saya ingat sampai sekarang,” ingatnya.  

Kawit An Nur Slawi

Spirit menulis lelaki yang tinggal di Desa Troso RT.07 RW.07 Kecamatan Pecangaan kemudian dilanjutkannya sejak masuk di MA Walisongo. Ia aktif dalam kegiatan jurnalistik di madrasahnya. Sehingga melalui keaktifannya, Ketua OSIS madrasah setempat berbuah hasil. 

Selain Juara tingkat Jawa Tengah, belum lama ini dirinya berhasil memperoleh Juara I Lomba Reportase, Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah Pelajar (LKTIP) tingkat Kabupaten dan 10 besar Lomba Cipta dan Baca Puisi se-Karisidenan Pati. 

Kawit An Nur Slawi

“Prestasi-prestasi yang saya torehkan tidak lepas dari semangat dan motivasi para pembimbing. Sehingga yang utama saya menghaturkan banyak terima kasih,” paparnya. 

Di kelas XII nanti, Mazid belum punya target khusus dalam bidang penulisan. “Untuk tahun ajaran yang akan datang saya belum mempunyai target. Saya ingin mengalir saja,” imbuhnya. 

Meski tidak bertarget, secara berkala putra pasangan Busyairi-Nur Wakhidah secara berkala menulis berita di Kawit An Nur Slawi, Warta Demak dan Tilik Kampung (Suara Muria). Berita-berita itu ia tulis saat di sekolahnya ada kegiatan. “Berita-berita tersebut saya tulis tidak lain untuk mengembangkan kapasitas kepenulisan saya,” imbuhnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Lomba, Anti Hoax Kawit An Nur Slawi

Minggu, 02 April 2017

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu

Nganjuk, Kawit An Nur Slawi - Perjalanan hari ketiga Kirab Resolusi Jihad NU 2016 memasuki Kabupaten Nganjuk, Sabtu (15/10). Pondok Pesantren Miftahul Ula Nglawak Kertosono didatangi Tim Kirab. Tim kirab tiba di pesantren yang didirikan KH Abdul Kodir Al-Fatah dan telah berusia 92 tahun itu sekira pukul 22.00.

Wakil Bupati Nganjuk KH Abdul Wahid Badrus berkenan menyampaikan kata sambutan. Menurut Mustasyar PCNU Nganjuk ini, peringatan Hari Santri Nasional yang diisi salah satunya dengan Kirab Resolusi Jihad membuka mata pemerintah dan anak bangsa tentang semangat membela bangsa.

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu

Semangat yang melahirkan Resolusi Jihad pada dasarnya timbul karena suatu bangsa yang memasuki wilayah bangsa lain pasti menimbulkan kerusakan di wilayah negara yang dimasukinya.

Kiai Wahid menyinggung hal tersebut seperti kisah Ratu Saba setelah menerima surat dari Nabi Sulaiman, di mana Ratu Saba bersabda “Masuknya suatu bangsa ke sebuah negeri akan berbuat kerusakan di dalam negeri.”

Kawit An Nur Slawi

Kiai Wahid memandang resolusi tidak saja relevan pada masa perjuangan tahun 1945, tetapi kiranya menjadi semangat motivasi dan inspirator untuk menjadi manusia yang cinta kepada Indonesia, setia NKRI dan komitmen yang telah diputuskan dalam UUD 1945.

Di Indonesia ini ada satu buku karangan KH Saifudin Zuhri berjudul Orang-orang dari Pesantren. Dalam buku tersebut, digambarkan betapa para ulama mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap negara, saat terjadi cengkraman penjajahan dari Jepang dan Belanda. Dalam buku itu disebut pula peran para ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Kawit An Nur Slawi

Kiai Wahid memandang peringatan Hari Santri Nasional, pelaksanaannya perlu didukung oleh pemerintah pada waktu mendatang. Karena itu ia berpesan kepada PBNU untuk mendorong pemerintah agar setiap Pemda di Indonesia menyelenggarakan peringatan Hari Santri, bukan hanya NU yang bergerak sendiri.

Pesan kedua, pantas sekali bahwa para kiai dan ulama kebih dihargai oleh negara. Memang beberapa ulama telah diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Namun nyatanya masih banyak Kiai dan ulama yang dipandang sebelah mata oleh negara.

Kepada generasi muda dan santri, ia berpesan kepada mereka agar mempelajari sejarah. Sosok seperti Gus Dur atau KH Saifudin Zuhri dan tokoh lainnya dapat dijadikan inspirasi dan motivasi untuk berbuat bagi bangsa dan negara.

Selanjutnya generasi muda juga harus berjuang demi agama dan NU. Dalam rangka itu, NU struktural dan kultural harus bersatu.

"Melalui NU struktural kita rajut kerja sama dengan pemerintah. Melalui NU kultural kita rajut kerja sama dengan masyarakat. Mari kita rajut untuk kehidupan yang lebih baik," pungkas Kiai Wahid.

Mengakhiri upacara penyambutan, KH Jamaludin Abdullah memimpin doa sebelum akhirnya tim meneruskan perjalanan ke Pesantren Lirboyo Kediri. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Humor Islam, Khutbah Kawit An Nur Slawi

Dunia Bersatu Bela Palestina

Sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berlangsung pada Kamis (21/12) menghasilkan resolusi yang menolak keputusan Presiden Donald Trump yang menyatakan bahwa Yerusalem merupakan ibu kota Israel. PBB memutuskan, klaim apa pun atas status Yerusalem tidak diakui oleh PBB, dan Amerika Serikat diminta membatalkan keputusan yang telah dibuat sebelumnya. 

Sebanyak 128 negara mendukung resolusi tersebut, 35 negara abstain, 21 negara tidak hadir dalam pemungutan suara, dan hanya 9 negara yang menolak. Resolusi ini didukung oleh empat anggota tetap dewan keamanan PBB (China, Rusia, Perancis, dan Inggris). Sembilan negara yang menolak resolusi adalah AS, Israel, Guatemala, Honduras, Kepulauan Marshall, Nauru, Mikronesia, Palau, dan Togo. Di luar AS dan Israel, negara pendukung kebijakan Trump tersebut adalah negara-negara kecil. Sebelumnya, Trump mengancam akan mengurangi bantuan kepada negara yang tidak setuju atas kebijakan Amerika Serikat tersebut.

Dunia Bersatu Bela Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Dunia Bersatu Bela Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Dunia Bersatu Bela Palestina

Ada pesan penting dari hasil resolusi tersebut bahwa klaim Israel atas Yerusalem tidak diakui oleh mayoritas negara di dunia. Wilayah tersebut diduduki Israel setelah perang enam hari pada 1967. Kemudian, Isreal membuat pemukiman di wilayah-wilayah yang diduduki secara tidak sah. Dan semua hal tersebut bisa berjalan karena dukungan Amerika Serikat, baik secara diplomatik maupun secara militer. 

Ada upaya sistematis yang dilakukan secara jangka panjang untuk membuat daerah pendudukan secara de fakto maupun secara de yure menjadi milik sah Israel. Upaya menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota merupakan hasil lobby pada kongres Amerika Serikat pada era 80an. Kebijakan Trump saat untuk memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem ini merupakan hasil dari politik menunggu momentum. Bisa saja, ke depan ada negara-negara tertentu, yang karena adanya ancaman atau iming-iming, ikut mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. 

Sekalipun tidak mengikat, resolusi ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Amerika Serikat tidak memiliki legitimasi di dunia Internasional. Bahwa penguasaan secara militer atas suatu wilayah dan ancaman yang dilakukan tidak serta merta menakutkan sejumlah negara untuk mengekor Amerika Serikat. Hanya negara miskin dan rentan yang mungkin tunduk pada keinginan AS. Negara yang menolak keinginan negeri Paman Sam tersebut juga telah mampu menunjukkan harga dirinya di hadapan kekuatan yang ingin menghegemoni. Amerika Serikat yang selama ini mengklaim diri sebagai penjaga HAM dan pendekar demokrasi di dunia dituntut untuk mampu menunjukkan apakan nilai-nilai yang dikampanyekan ke seluruh dunia ini juga bisa dilaksanakannya sendiri dengan baik, ketika kepentingan domestiknya bertentangan dengan kehendak masyarakat internasional.

Resolusi ini juga bisa menjadi modal untuk memperkuat posisi Palestina dan solusi dua negara untuk memperjuangkan perdamaian di wilayah tersebut. Jika sebelumnya posisi Palestina adalah entitas, lalu meningkat menjadi negara pemantau non-anggota pada 2012 dalam sebuah veto yang disetujui oleh 138 negara, 9 menolak dan 41 abstain. Kini saatnya memperjuangkan Palestina sebagai anggota penuh PBB.

Kawit An Nur Slawi

Palestina dan para pendukung kemerdekaannya, tampaknya perlu mulai berpikir untuk mencari mediator alternatif di luar Amerika Serikat yang sudah jelas-jelas keberpihakannya kepada Israel. Buat apa menyandarkan diri kepada pihak yang kita tahu sudah jelas-jelas berbuat tidak adil dalam perundingan. Poros kekuatan baru dunia kini terus berkembang di luar Amerika Serikat. Memberikan kesempatan kepada pihak yang lebih independen terhadap kepentingan di Timur Tengah akan memberikan hasil yang lebih baik. Lembaga-lembaga internasional sejauh ini juga memberikan kepentingan kedua belah pihak dibandingkan dengan AS.

Tak kalah pentingnya adalah memperkuat soliditas rakyat Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaannya. Selalu ada faksi yang memiliki agenda atau cara yang berbeda dalam sebuah perjuangan. Persatuan antara Fatah dan Hamas, dua kelompok terbesar di Palestina layak diapresiasi dan kerjasama tersebut harus terus digalang untuk meraih tujuan bersama, dibandingkan dengan tujuan masing-masing kelompok yang kadang kala saling bersaing. 

Kawit An Nur Slawi

Kita bangsa Indonesia, dapat membantu dengan berbagai cara. Perjuangan diplomatik Palestina dalam berbagai forum dunia sudah sejak lama didukung oleh Indonesia. Banyak upaya bersama yang bisa dilakukan seperti kerjasama ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Perjuangan besar memang membutuhkan kerjasama, kecerdikan, ketangguhan, pengorbanan, dan napas jangka panjang. Tak ada yang mudah untuk mencapai kemuliaan. (Ahmad Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Daerah, Tegal Kawit An Nur Slawi