Minggu, 28 Februari 2016

Kisah Pilu Ibu Rumah Tangga di Gaza Akibat Blokade Israel

Kota Gaza, Kawit An Nur Slawi



Di rumah mungil yang kumuh di kamp pengungsi Shati, Jalur Gaza, keluarga ibu Hayat Al-Hessi (60) berada dalam kemiskinan dan kemelaratan.

Pada Hari Ibu, Ahad (8/5), Al-Hessi menceritakan suaminya menderita penyakit dan maksimal hanya mampu bekerja dua hari dalam sepekan.

Kisah Pilu Ibu Rumah Tangga di Gaza Akibat Blokade Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pilu Ibu Rumah Tangga di Gaza Akibat Blokade Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pilu Ibu Rumah Tangga di Gaza Akibat Blokade Israel

"Kami bergantung atas bantuan makanan yang kami terima dari PBB dan organisasi lain non-pemerintah," kata Al-Hessi sambil memeluk dua cucunya, sebagaimana dikutip Xinhua.

"Tapi kami menerima bantuan ini satu kali dalam tiga bulan, yang tidak cukup buat keluarga besar saya."

Kawit An Nur Slawi

Sejak Hamas merebut Jalur Gaza pada 2007, wilayah di pantai itu menderita akibat blokade ekonomi Yahudi dan pembatasan Mesir atas berbagai barang dan perjalanan sehingga menambah parah kondisi hidup dan ekonomi 1,9 warga Jalur Gaza.

Blokade tersebut telah memaksa sebagian besar warga Jalur Gaza terjerumus ke dalam kemiskinan sementara angka pengangguran mencapai 42,7 persen, demikian data resmi.

Al-Hessi tak pernah bekerja, persis seperti sebagian besar ibu rumah tangga di semenanjung itu. Sekarang ia menyesal karena tidak belajar ketrampilan atau mengakhiri pendidikannya sebab itu mestinya bisa membantu dia mencari pekerjaan untuk memberi makan keluarganya.

"Saya mengkhawatirkan masa depan suram anak-anak saya ... mereka besar dalam kemiskinan dan kami tak bisa berbuat apa-apa untuk mereka," kata wanita tersebut sambil menarik nafas dalam.

Perempuan dalam masyarakat tradisional Palestina masih menderita akibat sistem patriarki dalam masyarakat dan pembagian peran berdasarkan gender.?

Kawit An Nur Slawi

Perempuan Palestina, yang berjumlah separuh warga Jalur Gaza, masih menjadi kelompok minoritas di dalam lapangan kerja. Hanya 17,3 persen perempuan Jalur Gaza bekejra, empat kali lebih sedikit dibandingkan dengan kaum lelaki.

PBB pada 2014 menerbitkan laporan yang memperingatkan bahwa pada 2020, Jalur Gaza akan menjadi tempat yang tak bisa ditinggali gara-gara kekurangan sumber air, kekurangan lapangan kerja dan memburuknya layanan medis, sosial serta pendidikan.

Sosok lain, ? Rawan Al-Katary (29) telah berhasil menjalani kehidupan rumah tangga dan memiliki pekerjaan berkat keinginan kuatnya.

Rawan Al-Katary adalah Direktur Eksekutif satu organisasi non-pemerintah lokal di Jalur Gaza dan mantan wartawati serta pengajar di perguruan tinggi. Wania tersebut telah bekerja sejak 2004, lima tahun sebelum ia berumah-tangga. Perkawinannya sama sekali tidak mempengaruhi kehidupan profesionalnya.

"Menyeimbangkan keluarga, pekejraan dan waktu buat diri sendiri dapat menjadi tantangan, Tapi saya mencintai ibu yang dinamis dan merawat keluarga. Saya adalah istri yang peduli dan suami saya benar-benar sangat membantu dalam membuat keseimbangan," kata Rawan Al-Katary.

"Setiap pagi, saya mempersiapkan dua putri saya untuk belajar di taman kanak-kanak, sarapan bersama suami saya dan kemudian pergi kerja. Dalam perjalanan pulang, saya menjemput anak-anak saya dan memulai kehidupan sebagai ibu rumah tangga," katanya.

Perempuan tersebut sekarang kuliah untuk meraih gelar master dan merasa sangat bangga dengan keberhasilan yang ia capai dalam keluarganya, pekerjaan dan pendidikannya.

"Saya berjuang untuk mencapai keberhasilan lebih banyak dalam kehidupan pribadi, sosial dan profesional saya selama keluarga saya membantu saya secara moral," kata Rawan Al-Katary. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Lomba, Tokoh Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 20 Februari 2016

Memikir Ulang Kurikulum Pesantren Salaf

Syawal merupakan bulan dimulainya aktifitas di pesantren salaf. Setelah libur selama sebulan penuh dari aktifitas pesantren, khususnya bagi yang tidak ikut ngaji posoan, para santri kembali menelaah kitab-kitabnya, termasuk para santri baru yang mulai belajar dan mengenal kehidupan pesantren. Berbeda dengan sekolah umum yang jadwal kegiatannya ditentukan berdasarkan bulan Masehi, seluruh aktifitas pesantren salaf mengikuti penanggalan Hijriah. Awal tahun ajaran pada bulan Syawal, libur pertengahan tahun pada bulan Maulid, dan tahun ajaran berakhir menjelang bulan puasa, yang disebut imtihan.

Sejauh ini, pesantren telah teruji oleh zaman akan kemampuannya untuk terus memberi pencerahan dan pendidikan Islam kepada masyarakat. Jika dulu pesantren hanya berupa pondok-pondok sederhana dengan metode pengajaran yang sederhana pula, kini pesantren telah bertransformasi dengan berbagai unit pendidikan. Beberapa pesantren besar memiliki beragam unit pendidikan seperti unit pengajian salaf, madrasah diniyah, PAUD, bahkan sudah mulai banyak yang pendirikan perguruan tinggi. Unit pesantren salaf inilah yang tetap konsisten menggunakan kitab kuning sebagai materi pengajaran.

Memikir Ulang Kurikulum Pesantren Salaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Memikir Ulang Kurikulum Pesantren Salaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Memikir Ulang Kurikulum Pesantren Salaf

Melalui pesantrenlah Indonesia ini bisa menjadi negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Pada masa lalu, setelah dianggap mumpuni dan lulus dari pesantren, para santri mencari daerah-daerah baru untuk berdakwah. Hal inilah yang dilakukan oleh KH Hasyim Asyari yang membuka pesantren di Tebuireng yang konon waktu itu merupakan sarang kemaksiatan. Kisah-kisah seperti itu jamak ketika kita membaca biografi para ulama besar di Nusantara. Kelompok santri, yaitu mereka yang memahami ajaran Islam secara mendalam dan melaksanakan ajaran Islam dengan baik, mampu mewarnai eksistensi perjalanan bangsa ini dengan baik. Seiring dengan tumbuhnya kelas menengah dari kelompok santri, peran tersebut kini semakin membesar. Tak susah untuk menemukan pejabat tinggi negara yang akrab bicara tentang kitab kuning. Kalangan pesantren juga merambah berbagai bidang yang terkait dengan dunia usaha, sains dan teknologi, dan bidang-bidang lain yang dulu masih jarang ditekuni.

Materi yang diajarkan di pesantren salaf sejauh ini ? masih didasarkan pada kitab-kitab kuning atau kitab klasik yang ditulis oleh para ulama besar dunia Islam ratusan tahun lalu. Dengan cepatnya perkembangan kondisi masyarakat yang tentunya sudah jauh berbeda saat kitab-kitab tersebut ditulis, tentu menjadi relevan untuk memikirkan ulang apakah perlu adanya perubahan kurikulum di lingkungan pesantren. Ini persoalan sangat penting karena para santri di pesantren salaf diharapkan mampu menjadi ulama yang menjadi panutan masyarakat. Kondisi ini berbeda dengan para santri yang belajar mengaji sambil sekolah umum dalam lingkup pesantren, yang orientasinya lebih pada pemahaman agama secukupnya untuk amalan individu, sementara mereka memproyeksikan diri untuk menggeluti bidang kehidupan lain.

Selama ini penentuan kurikulum di pesantren bersifat mandiri. Antara satu pesantren dengan pesantren lainnya berbeda. Tetapi biasanya, kurikulum yang dipakai mengikuti atau dari modifikasi yang dilakukan ketika pengasuh pesantren tersebut nyantri. Jika kiainya lulusan pesantren Lirboyo atau Tebuireng, maka kurikulum pesantren yang diasuhnya juga tak jauh-jauh pesantren tersebut. Jadi dalam tingkat tertentu ada keseragaman pada kitab-kitab yang dikaji. Selama beberapa puluh tahun terakhir, kitab yang dikaji tidak banyak berubah. Untuk bidang fiqih, maka digunakan Sullam Taufiq, untuk materi nahwu-sharaf, digunakan Imriti atau Alfiyah untuk tingkat lanjutnya sedangkan untuk materi tafsir, digunakan Tafsir Jalalain.?

Kesetiaan pesantren untuk tetap menggunakan materi tersebut karena adanya keyakinan bahwa kitab-kitab tersebut memiliki berkah karena para pengarangnya memiliki keikhlasan yang tinggi guna menyebarkan ilmunya. Tingkat keikhlasan ini dinilai berbeda atas kitab-kitab putih, untuk menyebut buku yang ditulis oleh ulama masa kini, di mana para penulisnya dinilai memiliki motif-motif tertentu seperti keinginan untuk mencari popularitas atau mendapatkan keuntungan dari penjualan buku tersebut. Akibatnya, kitab-kitab baru tersebut keberkahannya dianggap kurang.

Kawit An Nur Slawi

Tentu saja hal tersebut harus menjadi pertimbangan, tetapi kebutuhan santri ketika akan bermasyarakat juga harus menjadi perhatian utama bagi pesantren. Untuk menghatamkan Alfiyah, seorang santri harus menghafalkan 1000 bait syair, yang bisa memerlukan waktu yang panjang sementara tuntutan kekinian membutuhkan metodologi pembelajaran yang efektif dan efisien dari sisi waktu. Maka lahirlah metode Amsilati dan sejumlah metode lain yang mirip yang mampu mengajarkan tata bahasa Arab secara cepat, tetapi banyak pesantren masih menggunakan kitab klasik dengan alasan keberkahan tersebut.?

Tafsir tentang perempuan yang ada dalam berbagai kitab kuning juga menjadi tantangan besar dalam konteks kehidupan sosial saat ini. Tentu saja saat kitab tersebut ditulis, kondisi sosial, ekonomi, pendidikan, keamanan, dan lainnya berbeda jauh dengan keadaan saat ini. Belum lagi ketika mempertimbangkan faktor budaya dan kondisi ? alam antara Indonesia dan Timur Tengah di mana kitab-kitab tersebut di tulis. Pada abad pertengahan, perempuan tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan, kondisi ? lingkungan yang tidak aman, dan sejumlah tantangan lain yang menghambat kemajuannya. Institusi negara yang kuat dan stabil juga telah mampu menjaga keamanan relatif baik dibandingkan dengan abad pertengahan. Saat ini perempuan memiliki kesempatan meraih pendidikan tinggi, yang dari situ membuka kesempatan menjadi pemimpin berbagai institusi negara atau mengelola lembaga-lembaga yang memiliki peran penting dalam masyarakat. Dengan demikian perempuan harus keluar rumah untuk bisa menjalankan berbagai aktifitas tersebut atau melakukan berbagai aktifitas yang tidak terbayangkan dilakukan oleh para perempuan abad pertengahan. Tafsir klasik menempatkan perempuan harus tinggal di dalam rumah atau jika ingin keluar rumah harus disertai dengan muhrim yang menemaninya menjadi pertanyaan akan kontekstualitasnya saat ini. Ada jarak yang jauh dari apa yang diajarkan dan realitas yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari.

Kawit An Nur Slawi

Demikian juga dalam hal tafsir agama terhadap perilaku ekonomi. Dalam kitab klasik, yang wajib dibayar zakatnya hanya hasil-hasil pertanian tertentu saja karena basis ekonomi masyarakat saat itu memang pertanian. Saat ini, ketika basis ekonomi sudah beralih ke sektor industri atau jasa sementara sektor pertanian kontribusinya sudah sangat berkurang maka perlu ada tafsir baru tentang pembayaran zakat. Jika yang digunakan referensi adalah kitab klasik untuk menentukan pembayaran zakat, maka profesi-profesi saat ini dengan gaji besar tidak ada kewajiban membayar zakat, sedangkan sektor pertanian yang kini merupakan profesi marginal, diwajibkan membayar zakat. Ini tentu sebuah ketidakadilan.?

Jika Imam Syafii semasa hidupnya saja memiliki kaul jadid dan kaul kadim karena ia melihat adanya perubahan kondisi sosial, tentu menjadi sangat relevan untuk memperbaharui kurikulum di pesantren karena pesantren juga harus melayani masyarakat, maka pesantren harus benar-benar memahami masyarakat, bukan hanya saat ini saja, tetapi mengantisipasi perubahan masyarakat di masa mendatang dan menyiapkan para santri sebagai pemandu masyarakat dalam bidang keagamaan dalam perubahan tersebut.?

Di sini, Rabithal Ma’ahid Islamiyah (RMI) lah yang paling pas mendampingi. Banyak pula para intelektual NU yang sudah mengglobal dan mengetahui berbagai praktik pengajaran Islam di berbagai negara Muslim. Kita dapat mengambil praktik-praktik terbaik dari berbagai negara untuk diaplikasikan di pesantren. Kita berharap pesantren bukan hanya mampu bertahan dalam kehidupan, tetapi mampu mewarnai peradaban Muslim di masa mendatang. (Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi News, Makam Kawit An Nur Slawi

Rabu, 10 Februari 2016

Madrasah Diniyah Kian Diakui

Brebes, Kawit An Nur Slawi. Keberadaan Madrasah Diniyah (Madin), Taman Pendidikan Al Quran (TPQ), dan Pondok Pesantren (Ponpes) kian mendapat pengakuan dari pemerintah. Pengakuan didapat setelah melalui perjuangan keras tanpa henti dan pantang putus asa.

Madrasah Diniyah Kian Diakui (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Diniyah Kian Diakui (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Diniyah Kian Diakui

Demikian dikatakan Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Kabid PD Pontren) Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Tengah Solikhin dalam sambutan Workshop Peningkatan Mutu Tenaga Pendidik dan Pembuatan Lembaga Pendidikan pada Pendidikan Agama Islam Kemenag Brebes, Jawa Tengah di Hotel Anggraeni Jatibarang, Rabu (23/10).

“Proses mendapatkan pengakuan dari pemerintah cukup berat. Untuk itu perlu adanya penguatan kelembagaan dan peningkatan kualitas,” kata Sholikhin.

Kawit An Nur Slawi

Menurut Solikhin, ketiga lembaga yang memiliki misi utama menata akhlak generasi bangsa saat ini sangat diidolakan orang tua. Apalagi, dekadensi moral makin parah melanda generasi muda.

Kawit An Nur Slawi

Rasul diturunkan ke dunia untuk menyempurnakan akhlak. Di era sekarang Madin, TPQ, dan Pesantren berkonsentrasi meneruskan peletakan landasan akhlak yang luar biasa, lanjut Solikhin didampingi Kepala Kemenag Brebes Imam Hidayat. 

Pengakuan pemerintah antara lain, program Perkemahan Pramuka Santri, Musabaqoh Qiraatul Kutub (MQK) atau Musabaqoh Pembacan Kitab Kuning, Pekan Olahraga dan Seni Madrasah Diniyah (Porsadin), dan Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI). Semuanya sudah mendapat pengakuan nasional dan mendapat anggaran dari pemerintah. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Tegal, Pahlawan Kawit An Nur Slawi

Senin, 08 Februari 2016

IPPNU Kalinyamatan Dilatih Bikin Kerajinan Baki Lamaran

Jepara, Kawit An Nur Slawi. Kader IPPNU Kecamatan Kalinyamatan Jepara dalam kegiatan rutin keputrian dilatih membuat kerajinan baki lamaran bertempat di pesantren Nailun Najah desa Kriyan kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Ahad (16/8) lalu.

IPPNU Kalinyamatan Dilatih Bikin Kerajinan Baki Lamaran (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Kalinyamatan Dilatih Bikin Kerajinan Baki Lamaran (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Kalinyamatan Dilatih Bikin Kerajinan Baki Lamaran

Kegiatan yang diikuti puluhan delegasi IPPNU se-Kalinyamatan dilatih Romadhon, alumnus PAC IPNU Kalinyamatan. Baki lamaran ialah keterampilan menata barang-barang seperti handuk, mukena, pakaian dan sebagainya yang biasanya disampaikan saat meminang, lamaran.

Dalam membuatnya menurut Romadhon tidaklah susah. Saat pelatihan peserta hanya dibekali dengan dasarnya saja. “Membuat baki lamaran itu tidak susah,” terangnya.

Kawit An Nur Slawi

Setelah dibekali dasarnya, peserta dibebaskan untuk berkreativitas sepuas-puasnya. “Hasilnya ada yang membikin bentuk masjid dari mukena, ada yang membuat handuk menjadi bentuk ikan dan sebagainya,” katanya.?

Tutik Mutmainnah, salah satu pengurus PAC IPPNU Kalinyamatan mengungkapkan kegiatan merupakan bekal usaha untuk kader IPPNU. Harapannya keterampilan yang terbilang ringan ini bisa dipraktikkan masing-masing kader.

Kawit An Nur Slawi

"Kegiatan pelatihan keterampilan baki lamaran tujuannya adalah memberikan pengetahuan usaha yang dapat dipraktikkan di rumah, syukur-syukur bisa dijadikan modal usaha," tandas Tutik.

Pihaknya merencanakan kegiatan dilanjutkan secara bertahap. "Kami telah menyiapkan Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk Keputrian ini, di antaranya telah menyiapkan panitia kecil yang berjumlah 5 orang untuk merencakan tindak lanjut, misalnya membuat pelatihan yang lainnya atau memperdalam pelatihan yang ada," pungkasnya. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Tegal, Lomba Kawit An Nur Slawi

Rabu, 03 Februari 2016

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati

Jombang, Kawit An Nur Slawi. Hampir semua orang sepakat bahwa Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid adalah sosok yang layak ditauladani. Tidak semata dalam gagasan, juga dalam tataran perilaku atau tindakan.

Yang mendesak untuk segera dilakukan adalah menampilkan kiprah dan dedikasinya dalam keseharian. Apalagi dalam waktu dekat, Jombang akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah.

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Gus Dur tak Semata Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati

Ini di antara benang merah yang disampaikan sejumlah narasumber pada kegiatan "Meneguhkan Spirit Perjuangan Gus Dur: Refleksi Kritis Menjelang Transisi Kepemimpinan Jombang" (4/1).?

Kawit An Nur Slawi

Acara yang diselenggarakan di kantor PC Lakpesdam NU Jombang ini menghadirkan Ahmad Athoillah (Ketua PC ISNU Jombang), Pendeta Sutrisno (GKI Jombang) serta Aan Anshori (GusDurian Jombang).

Dalam paparannya, Gus Athok -sapaan Ketua PC ISNU Jombang- menmandaskan sebenarnya banyak gagasan Gus Dur yang masih relevan dengan kondisi kekinian.?

Kawit An Nur Slawi

"Yang sangat terasa adalah bagaimana seorang Gus Dur mampu menjadi payung bagi semua golongan," katanya. Sosok dengan komitmen seperti ini yang sangat dibutuhkan sebagai pemimpin masa depan.?

"Mereka yang berkeinginan dan mampu menyapa berbagai lapisan masyarakat, tentu akhirnya dapat dengan mudah menyerap aspirasi masyarakat," lanjutnya. Namun demikian, yang juga penting adalah bagaimana merealisasikan janji-janji dan komitmen politik tersebut manakala telah terpilih sebagai orang pertama di kota santri ini.

Karena sudah jamak terjadi, beberapa pemimpin yang demikian terbuka dengan masyarakat, namun melakukan itu hanya saat masa kampanye.?

"Namun setelah terpilih, sangat jarang yang mau mempertahankan dalam masa kepemimpinannya," katanya prihatin.?

Pada acara yang berlangsung sejak jam 20.00 hingga tengah malam ini, beberapa peserta juga menyampaikan berbagai keprihatinan seputar kesungguhan dan keberpihakan para pemimpin. Yang lebih mengemukan adalah rendahnya komitmen mereka dalam mengayomi dan melindungi masyarakat.?

"Memang tidak mudah mencari pemimpin yang bisa memuaskan semua pihak," kata Pendeta Sutrisno. "Namun diantara yang telah siap untuk maju, pasti akan ada yang lebih baik," lanjutnya.

Karena itu, pada kesempatan ini semua peserta sepakat bahwa momentum memperingati tiga tahun wafatnya Gus Dur, hendaknya tidak semata diperingati. Yang mendesak adalah melakukan penyadaran khususnya kepada diri sendiri terhadap pentingnya sosok yang rela mengayomi dan melindungi kepentingan orang banyak.?

"Tanpa itu, peringatan Gus Dur hanya berhenti pada seremonial tanpa ada pengaruh dalam realita," kata Aan Anshori.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Saifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Bahtsul Masail, Ubudiyah Kawit An Nur Slawi