Selasa, 23 Oktober 2012

Benahi Organisasi, IPNU Probolinggo Silaturahim ke Lembaga Pendidikan

Probolinggo, Kawit An Nur Slawi. Sebagai upaya membenahi organisasi yang sempat vakum karena adanya pergantian pengurus, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Probolinggo bersilaturahim kepada semua lembaga pendidikan yang ada di Kota Probolinggo.

“Kebetulan setelah pergantian pengurus, banyak PAC (Pimpinan Anak Cabang) dan Pimpinan Komisariat (PK) yang tidak aktif. Tujuan kami mendatangi lembaga pendidikan adalah ingin menghidupkan kembali organisasi. Alhamdulillah disambut baik dan positif oleh lembaga,” kata Ketua PC IPNU Kota Probolinggo Anton, Ahad (25/12).

Benahi Organisasi, IPNU Probolinggo Silaturahim ke Lembaga Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Benahi Organisasi, IPNU Probolinggo Silaturahim ke Lembaga Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Benahi Organisasi, IPNU Probolinggo Silaturahim ke Lembaga Pendidikan

Selain itu jelas Anton, pihaknya juga melakukan turba (turun ke bawah) kepada pengurus PK yang ada di Kota Probolinggo. Dimana tujuannya agar segenap kader dan pengurus selalu bisa menjaga silaturahim dan mengayomi para pelajar NU, khususnya yang ada di tingkat komisariat.

“Bagaimanapun juga, keberadaan komisariat ini sangat dibutuhkan dalam upaya keberlangsungan roda organisasi. Sebab organisasi akan berjalan dengan baik apabila di dukung oleh semua pengurus di semua tingkatan,” jelasnya.

Kawit An Nur Slawi

Menurut Anton, selain untuk menyerap aspirasi para pelajar NU, turba ini dimaksudkan untuk merapatkan barisan atas gencarnya serangan budaya di luar NU. Sehingga pelajar NU bisa tetap berpegang teguh pada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Kami menyadari, generasi muda khususnya pelajar merupakan sasaran utama orang di luar NU untuk menanamkan pahamnya. Kalau tidak dibentengi dengan baik, maka kami khawatir keberlangsungan generasi muda NU akan terancam,” terangnya.

Kawit An Nur Slawi

Anton menambahkan, turba ini juga dapat menjadi wadah untuk mendekatkan pengurus cabang dengan komisariat. Selain itu juga untuk mengetahui dari dekat kegiatan yang dilakukan pelajar NU di masing-masing lembaga pendidikan.

“Melalui kegiatan turba ini kami mengharapkan adanya peningkatan kesadaran pengurus untuk berorganisasi dengan baik bahwa NU itu adalah organisasi yang dijalankan untuk kepentingan Nahdliyin. Dengan demikian semua program IPNU bisa berjalan sesuai dengan kebutuhan pelajar NU,” harapnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Aswaja, Pendidikan, AlaNu Kawit An Nur Slawi

Senin, 15 Oktober 2012

107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara

Malang, Kawit An Nur Slawi. Sejumlah akademisi menyerukan pentingnya Islam moderat untuk masa depan kedamaian di Indonesia. Seruan ini didukung oleh Petisi ratusan akademisi dari 107 PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam) dari berbagai kawasan di Indonesia, yang bertemu pada Seminar Nasional dan Call for Paper "Menyemai Militansi Akademisi Berbasis Keilmuan Aswaja" di Universitas Islam Malang, Rabu (17/5).

Seminar ini menandai deklarasi Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Asdanu) yang diikuti dosen-dosen Aswaja dari 107 perguruan tinggi. Asdanu merupakan Asosiasi Dosen Aswaja,? yang diinisiasi oleh Universitas Islam Malang (Unisma), Universitas Islam Raden Rahmat Malang (UNIRA), Universitas Hasyim Asyari Jombang (Unhasy), Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha), Inistitut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto, Universitas NU Sidoarjo, dan Universitas Sunan Giri.

107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara

Hadir pada forum ini, Prof Dr KH Tholhah Hasan (Ketua Dewan Pembina Unisma, Mustasyar PBNU), Prof Dr Abdurrahman Masud (Puslitbang Kementrian Agama), Prof Dr Masykuri (Rektor Unisma), Marsudi Nurwahid (Jurnalis), beberapa rektor perguruan tinggi, serta ratusan dosen-peneliti dari berbagai kampus.

Kawit An Nur Slawi

KH Tholhah Hasan mengungkapkan pentingnya akademisi berpikiran terbuka dan berwawasan luas. Khususnya, tentang perbedaan pemaknaan Ahlussunnah wal Jamaah. "Saya pernah berbincang dengan beberapa pimpinan Islam radikal, ISIS dan FPI. Semuanya mengaku bagian dari Ahlussunnah wal Jamaah. Maka, kita harus jeli dan tegas tentang ideologi aswaja," ungkap Kiai Tolhah.

Kawit An Nur Slawi

Kiai Tolhah menambahkan, bahwa peneliti dan dosen yang memiliki konsentrasi di bidang keislaman harus memahami isu-isu pluralisme lintas madzhab. "Di dalam aswaja, ada perbedaan-perbedaan yang harus dipahami. Antara madzhab Syafii, Maliki, Hanbali dan Hanafi, ada perbedaan-perbedaan mendasar. Harus ada pemahaman pluralis, ini yang harus dilakukan," tegas Kiai Tolhah.

"Aswaja yang dikembangkan Kiai Indonesia, yang kemudian menjadi NU adalah Aswaja yang paling moderat dan toleran,” sambung Menteri Agama era Presiden Gus Dur ini.

Rektor Unisma, Masykuri mengungkapkan, ada dinamika di perguruan tinggi terkait dengan gerakan keislaman. "Saya melakukan riset mendalam di beberapa kampus umum, ada potensi radikal terutama dari mahasiswa yang kuliah di jurusan sains. Sebagian dari mereka membentuk gerakan politik untuk berkontestasi pada kepemimpinan Indonesia masa depan," jelas Masykuri.

Dalam pandangan Masyukri, tindakan pemerintah melarang organisasi radikal sudah tepat. "Langkah Pemerintah melarang HTI sudah tepat, agar tidak mengancam masa depan dan kesatuan Indonesia," ungkap Masykuri.

Ratusan dosen-peneliti yang tergabung dalam Asdanu mendeklarasikan dan mengkampanyekan Islam moderat dalam riset-riset ilmiah dan pengajaran di kampus. (Yusuf Suharto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaNu Kawit An Nur Slawi

Selasa, 02 Oktober 2012

Greg Barton Berharap Muktamar Lahirkan Sosok seperti Gus Dur

Surabaya, Kawit An Nur Slawi . Prof Greg Barton, pengamat NU dari Australia, pengajar di Monash University Australia, dan penulis buku Biografi Gus Dur berharap besar pada Muktamar ke-33 NU di Jombang akan melahirkan sosok tokoh seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pernyataan itu disampaikannya sesaat setelah acara seminar Internasional di GreenSA Juanda, Rabu (1/7).

Gus Dur dikenal sebagai seorang putra kiai dari Pesantren Tebuireng, kakeknya adalah pendiri Nahdlatul Ulama. "Itulah kalau kita melihat sekilas tentang Gus Dur," kata Greg Barton.

Greg Barton Berharap Muktamar Lahirkan Sosok seperti Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Greg Barton Berharap Muktamar Lahirkan Sosok seperti Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Greg Barton Berharap Muktamar Lahirkan Sosok seperti Gus Dur

Dunia mengakui kalau Gus Dur adalah pemimpin yang memiliki kharisma dan intelektual yang tinggi. "Saat ini tidak ada tokoh seperti Gus Dur, seorang pemikir yang lahir dari NU," lanjutnya.

Kawit An Nur Slawi

Nahdlatul Ulama dikenal sejak tahun 1984 pasca Muktamar NU ke-27 di Situbondo sampai ke pelosok dunia. Semua itu tidak lepas dari kepemimpinan KH Ahmad Siddiq dan Gus Dur yang mampu mengubah NU kembali ke khittah 1926. 

"Saya yakin 10 atau 20 tahun lagi akan lahir tokoh seperti Gus Dur, semua itu ada pada generasi muda NU," jelas pria pengagum Gus Dur itu.

Kawit An Nur Slawi

Pengganti Gus Dur, imbuhnya, akan muncul lebih cepat jika Muktamar nanti disemarakkan oleh pemuda yang penuh dengan optimisme. Kalau tidak, maka ada indikasi lamanya sosok Gus Dur muncul kepermukaan. (Rofii Boenawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Warta, Pahlawan, Syariah Kawit An Nur Slawi