Senin, 27 Februari 2017

IPPNU Kraksaan Programkan Pengkaderan Berkelanjutan

Probolinggo, Kawit An Nur Slawi. Untuk beberapa tahun mendatang, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo akan berupaya melengkapi struktur kepengurusan mulai dari tingkat anak cabang, ranting hingga komisariat. Pasalnya hingga kini, masih ada beberapa ranting dan komisariat yang belum terbentuk.

IPPNU Kraksaan Programkan Pengkaderan Berkelanjutan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Kraksaan Programkan Pengkaderan Berkelanjutan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Kraksaan Programkan Pengkaderan Berkelanjutan

Disamping itu, IPPNU Kota Kraksaan juga tetap memprioritaskan pengkaderan dengan membuat program pengkaderan berkelanjutan. Hal ini dilakukan karena kader-kader yang terbentuk nantinya akan mengisi kepengurusan IPPNU sekaligus disiapkan sebagai estafet kepengurus di PCNU Kota Kraksaan di masa mendatang.

“Untuk sementara kami memang lebih memprioritaskan kepada program pengkaderan. Ini merupakan sebuah program wajib yang harus dilaksanakan. Sebab masih ada ranting maupun komisariat yang kepengurusannya belum terbentuk karena belum ada kader yang siap mengemban amanah organisasi,” ungkap Ketua PC IPPNU Kota Kraksaan Nur Indah Muktamaroh, Jum’at (6/6).

Kawit An Nur Slawi

Menurut Indah, program pengkaderan ini akan dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat cabang, anak cabang, ranting hingga komisariat. Pengkaderan ini akan dilakukan secara berkelanjutan, sehingga begitu ada pengurus yang naik tahta maka penggantinya sudah siap.

Kawit An Nur Slawi

“Pengalaman selama ini, kami merasa kebingungan untuk mencari pengganti tatkala ada pengurus yang diberi amanah baru bergabung dalam Fatayat NU maupun Muslimat NU. Sehingga kami memilih penggantinya apa adanya. Hal ini berimbas kepada pelaksanaan program menjadi kurang maksimal karena kader yang menangani masih belum berpengalaman,” jelasnya.

Dalam pengkaderan ini jelas Indah, IPPNU Kota Kraksaan selalu berkoordinasi dan bekerja sama dengan  badan otonom NU yang lain di Kota Kraksaan. “Pengurus IPPNU ini merupakan cikal bakal penerus kepengurusan NU di Kota Kraksaan. Jadi sebelum naik ke jenjang kepengurusan selanjutnya, maka harus disiapkan penggantinya sedini mungkin agar betul-betul siap menjalankan roda organisasi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi RMI NU Kawit An Nur Slawi

Selasa, 21 Februari 2017

Ulama Ikut Peduli Promosi Kesehatan

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

“Allah tidak akan menciptakan sebuah penyakit, kecuali ada obatnya.” Demikianlah kutipan hadist yang seringkali disampaikan oleh para dai ketika menyampaikan materi soal kesehatan. 

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan, persoalan kesehatan mendapat perhatian besar dalam Islam, banyak ayat Qur’an dan Hadist yang berbicara soal kesehatan dan menjadi bagian dari tugas para ulama untuk mendorong masyarakat agar berperilaku hidup sehat.

Ulama Ikut Peduli Promosi Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Ikut Peduli Promosi Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Ikut Peduli Promosi Kesehatan

Pernyataan ini disampaikan dalam acara pertemuan nasional Peran Tokoh Agama dalam Promosi Kesehatan yang digagas oleh Lembaga Kesehatan NU, Pusat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI dan Statistical, Economic and Social Research and Training Centre for Islamic Countries (SESRIC)

Kawit An Nur Slawi

Ia menegaskan, dalam kemampuan agama, orang NU sudah cukup mumpuni, tetapi dalam bidang lainnya, masih perlu ditingkatkan seperti dalam bidang pendidikan, kebudayaan, ekonomi, termasuk kesehatan. Hal tersebut penting untuk mencapai kesejahteraan dalam hidup.

Dalam membina kesehatan ini, tidak dibatasi oleh ajaran agama. Ia mengisahkan sejumlah khalifah yang memiliki dokter pribadi non Muslim, karena terbukti mereka memiliki kemampuan yang dapat diandalkan. 

Kawit An Nur Slawi

Sementara itu, Kepala Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes Bambang menuturkan, baru sekitar 50 persen penduduk Indonesia berperilaku hidup bersih dan sehat, dengan menggunakan 10 indikator. 

“Jika indikator jumlah indikator tersebut ditingkatkan menjadi 20, maka persentasenya akan semakin kecil,” katanya.

Para ulama dan tokoh masyarakat, katanya, memiliki peran penting dalam membantu mendorong masyarakat berperilaku hidup sehat.

Sementara itu, Prof. Savas Alpay, direktur jenderal  Statistical, Economic and Social Research and Training Centre for Islamic Countries (SESRIC) menekankan pentingnya melindungi generasi muda dari bahaya merokok, selain menghabiskan uang, juga memiliki potensi terkena sejumlah penyakit. Sejumlah industri rokok skala global melakukan ekspansi ke negara-negara berkembang karena di negara mereka, regulasinya sudah sangat ketat.

Terdapat sejumlah kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan tersebut, diantaranya meminta tokoh agama mengajak orang tua dan remaja berperilaku hidup sehat, di sekolah dan di lingkungan keluarga, edukasi publik akan potensi bahaya kebiasaan merokok dengan metode yang tepat sasaran serta pentingnya mengaturkan area merokok dalam upaya menghargai kesehatan, baik diri sendiri maupun orang lain.

Tokoh agama diminta mendorong para remaja agar mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri, pilihannya, serta mampu bernegosiasi dengan dinamika hidup di lingkungan sekitarnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Anti Hoax Kawit An Nur Slawi

Minggu, 19 Februari 2017

Etika Berpendapat ala Rasulullah

Di era digital seperti saat ini, manusia sering disibukkan dengan berbagai perang: mulai dari perang dunia nyata maupun perang dunia maya; perang dengan adu otot maupun adu otak. Semuanya sering bertebaran di sekitar kita. Khusunya di media sosial.

Sebagai media publik, media sosial terbukti ampuh menampung segala aspirasi masyarakat. Kritik, saran, curhatan, informasi, pujian maupun cacian melebur berbaur dalam berbagai platform. Semuanya seakan bebas menuangkan segala isi otaknya tanpa adanya batasan. Walaupun sebenarnya setiap platform sudah memiliki terms of service sendiri-sendiri.

Etika Berpendapat ala Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Etika Berpendapat ala Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Etika Berpendapat ala Rasulullah

Namun cara menyampaikan isi otak di media-media sosial maupun di ruang publik nyata yang lainnya seringkali kurang etis. Semua memang berhak berargumen atau menanggapi semua hal. Tidak ada yang salah dengan menyampaikan pendapat atau menyampaikan usulan. Tapi yang salah adalah jika pendapat itu tidak disampaikan dengan layak alias kurang etis.

Nabi Muhammad SAW sebagai qudwah hasanah (teladan) telah memberikan solusi terbaik bagi umatnya untuk berekspresi menyampaikan argumen, kritik maupun saran terhadap orang lain. Tentu sebagai umat Muhammad kita selayaknya meniru dan mempraktikkan keindahan akhlak yang telah dicontohkan oleh beliau.

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

Keindahan akhlak beliau tentang etika menyampaikan pendapat bisa kita temukan dalam beberapa literatur hadits. Salah satunya dalam sebuah hadits yang terdapat dalam Kitab Sahih Muslim karya Al-Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi.   

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas ibn Malik tersebut dikisahkan seperti biasa, Nabi Muhammad SAW berjalan-jalan bersama para sahabat berkeliling Madinah. Di tengah perjalanan, Nabi bertemu dengan sekelompok kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma. Seketika melihat hal itu, Nabi memberikan tanggapan kepada para penduduk tersebut.

Saat memberikan tanggapan, Nabi tidak menggunakan kata-kata yang menyebutkan kepastian. Nabi menyampaikan: “Sekiranya mereka tidak melakukan hal itu, pohon kurma itu juga akan tumbuh baik”.

Karena yang mengatakan hal itu adalah seorang Nabi, maka masyarakat Madinah pun menaatinya dan akhirnya meninggalkan kebiasaan yang sudah dilakukan turun-temurun.

Selang beberapa waktu, ternyata pohon kurma yang biasanya tumbuh bagus tak sesuai dengan ekspektasi dan kebiasaan. Hingga akhirnya Nabi pun mengetahui bahwa usulannya kepada masyarakat Madinah tersebut malah membuat pohon kurma rusak dan tak tumbuh seperti biasanya.

Dengan segala kerendahan hati, Nabi pun berkata kepada para kaum di Madinah tersebut. “Antum a’lamu bi amri dunyakum (kalian lebih mengetahui urusan tersebut).”

Dari kisah Nabi Muhammad dan kaum Madinah tersebut setidaknya ada beberapa poin yang bisa kita jadikan pelajaran dan contoh agar kita bisa menyampaikan pendapat secara etis.

Pertama, berikanlah kritik, saran dan tanggapan dengan cara yang baik. Sebaik dan sebagus apapun kritik atau saran yang akan disampaikan akan jadi tidak berguna karena tidak disampaikan dengan cara yang baik. Kritik dan saran yang tidak disampaikan dengan cara yang baik itu akhirnya malah menyakiti orang yang diberi kritik, saran maupun tanggapan.

Kedua,berpendapatlah sesuai kapasitas anda. Jika suatu permasalahan yang anda tanggapi tidak merupakan bidang yang anda kuasai, maka diam adalah hal yang terbaik.

Fenomena sekarang ini, banyak orang yang asal berpendapat bahkan sampai menghina orang yang berbeda pemikiran dengannya. Jika kapasitas orang tersebut setara bahkan lebih  tinggi dengan orang dan bidang yang sedang dikomentari, maka hal ini tak masalah.

Namun kenyataanya berbanding terbalik. Banyak orang yang tidak sadar bahwa tanggapan atau komentar yang diberikan tidak lebih baik dengan pendapat orang yang sedang dikomentari.

Fenomena yang ada sekarang, banyak orang yang awam dengan perpolitikan mencoba ikut adu gagasan tentang carut marutnya perpolitikan. Contoh yang lain, muallaf yang baru saja beberapa hari lalu belajar Islam mengomentari hal yang disampaikan oleh orang yang belajar Islam bertahun-tahun. Bahkan, ada pula dari mereka yang memvonis kafir ulama hanya karena pendapat ulama tersebut tidak selaras dengan pendapatnya.

Hal ini bisa terjadi karena beberapa hal. Salah satunya adalah karena bahan bacaan muallaf tersebut tidak lebih banyak—bahkan kurang—dari bacaan orang yang dikritik bahkan dikafirkannya. Atau muallaf tersebut sebenarnya pernah membaca refrensi yang sama akan tetapi kurang memahami dengan baik karena terbatasnya keilmuan yang seharusnya dipelajari terlebih dahulu sebelum melahap materi dalam sebuah referensi. Sehingga tak pelak menimbulkan kesalahan pemahaman dan interpretasi.

Ketiga, sadarlah dan segera minta maaf apabila pendapat atau saran kita ternyata tidak sesuai dengan permasalahan yang ada.

Poin yang ketiga ini malah lebih sering terbalik. Orang yang jelas-jelas pendapatnya salah terkadang masih kekeuh dengan pendapatnya. Bahkan mati-matian membuat apologi dan legitimasi agar pendapat tersebut terlihat benar.

Saat sudah terjadi seperti ini maka selesailah diskusi ataupun pertukaran gagasan ataupun wacana. Karena yang terjadi adalah diskusi yang kurang sehat akibat egoisme salah satu peserta diskusi hanya untuk memenangkan pendapatnya atau pendapat golongan yang diwakilinya.

Selayaknya harus difahami bahwa dalam diskusi bukan mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Namun yang paling penting adalah sejauh mana argumen dan pendapat yang disampaikan bisa match dengan masalah dan bisa dibuktikan sebagai argumen yang solutif dan konstruktif.

Jika seseorang yang ingin berpendapat tidak bisa berperilaku dengan tiga poin di atas alias tidak sesuai dengan etika berpendapat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, maka niscaya fungsi dan esensi pendapat yang disampaikan tidak akan bermanfaat bahkan bisa  jadi menyakiti orang yang diberi pendapat.

Karena berpendapat tidak hanya sekadar untuk gagah-gagahan atau dianggap hebat oleh orang lain. Inti dari pendapat adalah bagaimana bisa mengubah suatu  hal menjadi lebih baik. Tidak ada guna berpendapat jika tidak memberikan atsar (pengaruh) terhadap suatu permasalahan. Sebab berpendapat adalah semata melaksanakan sunnatullah yang termaktub dalam surat al-Ashr: “wa tawaashau bil haqqi wa tawaashau bis shabri”.

Wallahu a’lam bis shawab.



M. Alvin Nur Choironi, mahasiswa jurusan Tafsir Hadits UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Mahasantri Darus Sunnah International Institute for Hadith Sciences Indonesia; Presiden HMJ Tafsir Hadits UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2016 dan Sekretaris Nasional Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadits se-Indonesia (FKMTHI)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sunnah Kawit An Nur Slawi

Dari Infaq dan Sedekah, PCNU Ngawi Segera Miliki Gedung

Ngawi, Kawit An Nur Slawi. Keinginan warga Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Ngawi memiliki Gedung NU baru tiga lantai akan segera menjadi nyata. Gedung tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 5 ribu meter persegi di Jl Soekarno-Hatta atau Ring Road Ngawi. Di tanah tersebut dibangun kantor, masjid, pusat studi, plus gedung serbaguna.

Pembangunan tersebut direncanakan menghabiskan biaya senilai 17 miliar rupiah dan diperkirakan akan selesai 3 tahun. Jumlah tersebut dihimpun NU dan Banom dari jalan infaq atau sedekah dari kedermawanan pengurus sendiri serta masyarakat luas.

Dari Infaq dan Sedekah, PCNU Ngawi Segera Miliki Gedung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Infaq dan Sedekah, PCNU Ngawi Segera Miliki Gedung (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Infaq dan Sedekah, PCNU Ngawi Segera Miliki Gedung

“Alhamdulillah, saat ini sesuai keinginan kita bersama, warga NU bakal memiliki gedung baru. Dana itu kami peroleh dari jihad amwal (harta, red.) warga NU,” jelas KH A. Ulinnuha Rozi, Ketua Pengurus Cabang NU Ngawi. Ia juga membuka kesempatan bagi siapa pun yang berkemauan membantu menyukseskan proyek ini.

Kawit An Nur Slawi

Dana yang sudah ada dan terkumpul oleh panitia pembangunan, langsung dibelikan tanah uruk berupa tanah padas sebab kondisi tanah menjorok ke bawah sedalam 1 meter.

Dari pantauan Kawit An Nur Slawi, pembangunan sedang pada tahap pengurukan dan pemerataan menggunakan tanah padas. Penggurukan dimulai pada tanggal 5 Maret 2016. Dan hampir setiap hari, tampak warga bergiliran di lokasi.

Kawit An Nur Slawi

Di tempat yang berbeda, Jum’at, (11/3), Ketua LP Ma’arif KH Istamar membenarkan perihal hajat besar dan i’tikad perjuangan Nahdliyyin Ngawi mengembangkan Ahlussunnah wal Jamaah.

“Pembangunan sedang dalam pengurukan. Kalau hendak lihat gotong royong warga NU, silahkan langsung datang ke lokasi, Banser sedang ro’an,“ katanya sembari menambahkan, “kita berharap pembangunan gedung baru tersebut lancar-lancar; baik secara visi maupun finansial,” katanya. (Ali Makhrus/Abadullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sunnah, Quote, Tokoh Kawit An Nur Slawi

Inna Lillahi, Pencetus Jihad Sanitasi Tutup Usia

Pringsewu, Kawit An Nur Slawi. Jika berbicara NU dan sanitasi di Kabupaten Pringsewu, tak lepas dari sosok yang sangat energik ini. Ia adalah H. Bahruddin, pencetus Jihad Sanitasi di Kabupaten Pringsewu. Pribadi ramah yang merupakan Ketua MWC NU Kecamatan Pagelaran ini dipanggil Allah SWT pada Rabu, (6/9) di usia 51 tahun akibat beberapa bulan ini sakit.

Mantan Anggota DPRD dari PKB Kabupaten Tanggamus ini merupakan sosok yang memiliki integritas tinggi kepada jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Inna Lillahi, Pencetus Jihad Sanitasi Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Inna Lillahi, Pencetus Jihad Sanitasi Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

Inna Lillahi, Pencetus Jihad Sanitasi Tutup Usia

"Beliau adalah sosok tokoh yang merupakan penggerak jamiyyah NU sejak di Ansor dan sampai akhir hayatnya beliau berkhidmah di NU," demikian dikatakan Mustasyar PCNU Pringsewu H. Sujadi yang juga Bupati Pringsewu saat bertakziyah ke rumah duka di Desa Gumuk Mas, Pagelaran.

H. Sujadi sangat salut dengan perjuangan H. Bahruddin di Jamiyyah NU dan aktivitasnya sebagai Pengurus Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Kecamatan Pagelaran.

Kawit An Nur Slawi

"Kiprahnya di Jihad Sanitasi ini sudah sampai level nasional dan diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan gagasannya," katanya seraya mengatakan bahwa kiprah ini membuat profil H. Bahruddin sempat dimuat oleh koran nasional.

H. Bahruddin sosok mungil yang meninggalkan satu istri dan dua anak ini juga terkenal sangat besar kontribusinya terhadap pola kebiasaan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan khususnya dalam hal sanitasi.

"Beliau adalah pahlawan Jihad Sanitasi yang telah meyakinkan NGO dari luar negeri bahwa istilah jihad layak digunakan untuk memperbaiki sanitasi. Jihad bukanlah sesuatu yang negatif seperti pengeboman dan teror. Namun jihad adalah mengubah tatatanan ke arah yang lebih baik," katannya.

Kawit An Nur Slawi

Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu dan keluarga besar NU Kabupaten Pringsewu, H. Sujadi menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya atas berpulangnya H. Bahruddin bin Thohir.

"Badan beliau kecil, namun manfaatnya besar bagi Kabupaten Pringsewu. Selamat jalan H. Bahruddin, semoga Allah menerima amal ibadah dan mengampuni segala dosa. Amin," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Amalan, Ulama Kawit An Nur Slawi

Jumat, 17 Februari 2017

Rombongan Kunjungan Raja Saudi, 1.500 Orang, 10 Menteri, dan 25 Pangeran

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud ke Indonesia akan membawa rombongan sekitar 1.500 orang dalam rangka kunjungan ke Indonesia pada 1-9 Maret 2017 mendatang.

Rombongan Kunjungan Raja Saudi, 1.500 Orang, 10 Menteri, dan 25 Pangeran (Sumber Gambar : Nu Online)
Rombongan Kunjungan Raja Saudi, 1.500 Orang, 10 Menteri, dan 25 Pangeran (Sumber Gambar : Nu Online)

Rombongan Kunjungan Raja Saudi, 1.500 Orang, 10 Menteri, dan 25 Pangeran

"Kunjungan ini membawa rombongan terbesar kurang lebih 1.500 orang, 10 menteri, 25 pangeran," kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung dalam konferensi pers usai rapat terbatas di kantor Presiden Jakarta, Selasa.

Dia juga mengatakan bahwa kunjungan ini juga sangat bersejarah bagi Indonesia karena kunjungan Raja Arab Saudi terakhir pada 1970 atau 47 tahun lalu.?

Pramono juga mengatakan bahwa kunjungan kenegaraan Raja Saudi ke Indonesia cukup lama pada 1-9 Maret 2017, dimana untuk kunjungan kenegaraan pada 1-3 Maret dan pada 4-9 Maret akan beristirahat di Bali.

Seskab juga mengungkapkan bahwa ini pertama kali Presiden Joko Widodo akan menjemput langsung ke Bandara karena saat berkunjung ke Saudi, Raja Salman menjemput di pintu pesawat kepresidenan.

Kawit An Nur Slawi

Pramono mengungkapkan bahwa Presiden akan menerima Raja Salman dan rombongannya di Istana Bogor dan akan menganugerahkan bintang kehormatan tertinggi.

"Karena ketika Presiden berkunjung ke Arab Saudi juga mendapatkan kehormatan tertinggi dari Raja Saudi," jelasnya.

Pramono mengatakan kunjungan Raja Salman ke Indonesia ini akan membahas kerjasama, lima yang telah disepakati adalah promosi bidang seni dan warisan budaya, pertukaran ahli termasuk kesehatan haji dan umrah, promosi Islam modern melalui dakwah dan pertukaran ulama, peningkatan frekuensi penerbangan dari Indonesia ke Saudi serta pemberatasan kejahatan lintas batas.

Dalam kunjungan ini juga membahas kerjasama ekonomi diantaranya tentang kerjasama Aramco Saudi dengan Pertamina yang membangun kilang minyak Cilacap dengan nilai investasi sekitar 6 miliar dolar AS.

Kawit An Nur Slawi

Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir menambahkan bahwa kunjungan Raja Salman ini menjadikan Saudi untuk mempromosikan dialog negara Muslim lainnya.

"Ini juga terkait dengan realisasi penambahan kuota haji yang mjd prioritas pembahasan, perlindungan WNI baik yang bermukim maupun dalam rangka haji dan umrah," katanya.

Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan berbicara investasi dengan Arab Saudi yang memiliki modal besar harus menawarkan proyek yang besar.

"Negara-negara Timur Tengah ini terbiasa dengan investasi di negara Barat. Mereka terbiasa dengan format investasi kelas tinggi," kata Lembong.

Dia mengungkapkan bahwa Arab Saudi sudah terbiasa dengan menginvestasikan dengan jumlah besar untuk proyek besar negara Barat, untuk itu perlu persiapan investasi sesuai format dan jumlah yang diperlukan investasi di Indonesia. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Amalan Kawit An Nur Slawi

Rabu, 15 Februari 2017

Kisah Heroik KH Zainal Mustofa Difilmkan

Tasikmalaya, Kawit An Nur Slawi

Sebuah kebanggaan tersendiri bagi warga Nahdlyin, terutama di Tasikmalaya karena kisah heroik KH Zainal Mustofa diangkat ke layar lebar. Kini, film garapan Sultan 21 Picture Present bekerja sama dengan Yayasan KH Zainal Mustofa ini sedang pada tahap proses syuting atau pengambilan gambar.

Jika Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari diberi judul "Sang Kiai", lain hal dengan KH Zainal Mustofa. Pahlawan Nasional asal Pesantren Sukamanah ini dijuduli "Sang Singa Singaparna".

Kisah Heroik KH Zainal Mustofa Difilmkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Heroik KH Zainal Mustofa Difilmkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Heroik KH Zainal Mustofa Difilmkan

Sutradara sekaligus penulis skenario, Abay mengatakan film semi kolosal ini mengangkat latar setting zaman penjajahan Jepang antara? tahun 1942-1944. KH Zainal Mustofa menjadi tokoh agama yang keras melawan kebijakan Jepang untuk memberikan hormat pada matahari dan kaisar Jepang.

Kawit An Nur Slawi

Syuting pun, kata Abay, berlokasi di Pesantren Sukamanah, MAN Sukamanah, termasuk di Manonjaya dan Pendopo lama Kabupaten Tasikmalaya sejak 26 Desember lalu. Pasalnya, tempat tersebut masih sesuai dengan situasi seperti tahun 1942-1944.

Keluarga Besar Yayasan Pondok Pesantren KH Zainal Mustofa Sukamanah,? H. Yusuf Mustahafa Hazim sangat merespon pembuatan film tersebut. Apalagi mengangkat kembali perjuangan Kaum Santri yang dipelopori KH Zainal Mustofa.

Kawit An Nur Slawi

Menariknya, dari ratusan pemain film ada Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum. Uu memerankan Bupati Tasikmalaya kala itu di era penjajahan Jepang. Termasuk Ketua GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya, Asep Muslim yang berperan sebagai santri kepercayaan KH Zainal Mustofa. (Nurjani/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Tegal Kawit An Nur Slawi

IPNU-IPPNU Gunungkidul Punya Ketua Baru

Gungukidul, Kawit An Nur Slawi. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Gunung Kidul mengadakan konferensi cabang (Konfercab) VI di SMA-SMK Pembangunan Karangmojo, Sabtu-Ahad (22-23/11).

Konfercab tersebut memilih Aziz Abdullah dan Ariyati Eka Pratiwi masing-masing sebagai ketua IPNU dan IPPNU Gunungkidul untuk periode 2014-2016. Ariyati berharap, ke depan IPPNU menjadi lebih aktif dan maju dengan bekal iman, taqwa, dan akhlak, serta wawasan kebangsaan ala Ahlussunah wal Jama’ah.

IPNU-IPPNU Gunungkidul Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Gunungkidul Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Gunungkidul Punya Ketua Baru

“Saya juga ingin menjadikan IPPNU sebagai tempat berhimpun, berkomunikasi, bertukar aspirasi para pelajar NU, khususnya di Gunungkidul,” ujar Ariyati.

Kawit An Nur Slawi

Sementara Aziz mengaku dirinya masih belum mumpuni untuk menjadi pimpinan. “Tapi saya kemudian optimis IPNU Gunungkidul akan semakin progresif dan jaya berkat dukungan dan kerja sama dengan rekan-rekan pengurus lainnya. Ke depannya, saya akan menyelesaikan program kerja dari pengurus demisioner yang belum terealisasi. Selanjutnya, pembentukan PAC dan PK itu misi utama saya,” ujar Aziz.

Kawit An Nur Slawi

Setelah melepas jabatannya sebagai Ketua IPPNU Gunungkidul periode 2012-2014, Mu’alifah berharap kepengurusan selanjutnya bisa lebih baik lagi.

“Harapan saya selepas Konfercab ini, semoga dengan terpilihnya ketua yang baru memunculkan semangat baru juga untuk selalu belajar, berjuang dan bertakwa. Sehingga PC IPNU-IPPNU Kabupaten Gunungkidul bisa semakin jaya,” tuturnya. (Nur Rokhim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Olahraga, Kyai Kawit An Nur Slawi

Senin, 13 Februari 2017

Kembali ke Migani, di Ujung Negeri Indonesia Timur

Jauh di sana. Setapak kaki menginjak serakan daun mahoni kering yang berguguran. Nanang baru pulang dari kota ke kampung halamannya di perbatasan antara Irian Jaya dan Papua Nugini. Ia sebenarnya bukan penduduk asli, tapi dibesarkan oleh ayah dan ibunya di sana. Ia dan keluarga termasuk penduduk transmigrasi Jawa ke Papua pada zaman orde baru.

Agak berat sebenarnya bagi Nanang pulang ke kampung yang masih jauh tertinggal dari segi apapun dibanding kota metropolitan seperti Jakarta. Di sana ia termasuk pelajar yang berprestasi, tentu saja tawaran beberapa perusahaan dan instansi di sana sini sudah menanti dirinya untuk bekerja. Apalagi mengingat perjuangannya datang ke Jakarta yang terasa sangat melelahkan dan mengucur keringat.

Kembali ke Migani, di Ujung Negeri Indonesia Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembali ke Migani, di Ujung Negeri Indonesia Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembali ke Migani, di Ujung Negeri Indonesia Timur

Ejekan sebagai pendatang baru dari daerah tertinggal di kota seolah santapan wajib baginya. Kampungan, udik, ah entahlah apalagi sebutan itu. Ia lupa, saking banyaknya. Jika ia kembali? Berarti perjuangannya selama ini akan terasa sia-sia bila kembali ke titik nol.

Berapa kali ia harus transit pesawat dari Jakarta menuju kampung halaman. Lepas naik pesawat dia masih harus berjalan kaki melewati hutan belantara. Dulu sewaktu ia masih menjadj mahasiswa, cuma dua kali ia pulang kampung, dua kali pula ia bermalam di hutan sendirian menanti pagi. Hutan yang masih alami, hanya burung hantu yang bernyanyi bersamanya menghabiskan gulita yang mencekam. Kadang ia menangis menatap pepohonan yang meliuk-liuk menari di sekitarnya. Mengejek? Atau mengajak singgah?

17 jam yang lalu ia masih merasakan gemerlap malam kota Jakarta yang huru hara tak pernah sepi dari keramaian. Tapi setelahnya ketika ia di pelosok Papua, nyaris tak mendengar suara, kecuali suara jangkrik dan katak yang bersahut-sahutan memanggil hujan. Benar saja, hujan mengguyur bumi cendrawasih.

Kawit An Nur Slawi

Ia tak tahu harus lari ke mana, pondok ia tak lihat. Hanya ada pohon beringin yang tak jauh dari posisinya. Ia berlari kecil sembari menarik 2 koper dan menenteng 1 tas kecil miliknya yang setia menemani Nanang 3 tahun setelah ia menjadi seorang sarjana.

Matanya lepas menatap kelelawar hutan yang masih aktif berlarian mencari makan. Ia menarik napas, masih berat rasanya. Masalahnya, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan di kampung. Menjadi seorang guru rasanya tak akan begitu menyenangkan. Tapi ia rasa, tanggung jawab dan beban sudah menanti dirinya dalam mengubah keadaan. Terlebih suku Migani. Kemarin sewaktu di Jakarta, Nanang bertemu dengan dua perempuan dari suku Migani.

 

Dua perempuan itu bagai sabuk pelecut menghantam nalurinya. Nanang tahu persis perjuangan keduanya. Tentu tak mudah. Karena laki-laki sepertinya saja menemui banyak halang rintang. Bukan apa-apa, di Migani sangat membatasi ruang gerak bagi perempuan. Perempuan tidak diperkenankan sekolah tinggi, keluar jauh dari kampung. Katanya berbahaya. Perempuan cukup melayani suami ketika berkeluarga nanti setelah selesai sekolah di SD.

Sempat terbersit di benaknya untuk menyerah. Tapi karena ingin mengubah nasib dan ingi menjadi warga negara yang mencicipi hasil bumi pertiwi, nekad saja Nanang ikut mengadu nasib dan semakin menambah sesak Jakarta.

Kawit An Nur Slawi

"Ketahuilah! Kami juga warga negara Indonesia. Kami punya hak menikmati hasil tanah surga. Kami juga tak rela orang asing mengusik negeri ini. Nenek moyang kami juga sudah ikut berjuang mempertahankan NKRI. Kakak tahu kan? Kami punya hak menjadi bagian Indonesia. Sebenarnya kita semua sudah capek kak, seolah-olah kita bukan bagian dari NKRI. Kita semua juga pengen diperhatikan. Jangan Jawa saja yang dibangun. Siapa yang perhatikan kita di sana? Kita semua cinta Indonesia, kak...

Nanang menitikkan air mata. Kata-kata dari perempuan itu tulus, hingga mampu mengetuk pintu hatinya. Dulu ia juga punya keinginan untuk mengubah kampungnya. Tapi mungkin lingkungan, ia berubah menjadi makhluk yang realistis. 

Nanang menghardik dirinya sendiri, ia malu pada dirinya, ia malu pada dua perempuan Migani itu, ia malu pada nenek moyang, ia pun malu pada Tuhan. Ia yang melupakan tanah Papua? Atau justru Papua yang telah melupakan dirinya? Wajar bila Papua melupakannya. Untuk apa mengingat seorang pemuda yang tak ingat pada kampung sendiri.

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

Tidak kan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai, engkau kuhargai

Nanang bernyanyi lirih sambil memeluk rapat tubuhnya yang kedinginan terkena tetesan hujan dan hembusan angin tanah Papua. Ia lupa tanah air dan merasa terlalu angkuh sampai tak peduli lagi dengan anak-anak penerus generasi di sana.

"Ingatlah, Indonesia adalah tanah kita. Apapun yang terjadi cintailah tanah ini. Karena para pahlawan sudah berjuang mati-matian membela negeri ini. Tidak ada alasan bagi kita untuk pergi dengan alasan karena mencari ketentraman. Di luar negeri, kita bela Indonesia. Di Indonesia, kita majukan daerah masing-masing. Jangan malah numpuk di Jakarta saja."

Nanang teringat sewaktu ia di Jakarta. Ia bertemu dengan salah seorang penulis.

"Nang? Kalau sudah jadi sarjana, kau mau apa? Mau ke mana? Ngapain lagi?"

Nanang tersenyum simpul, "Yaa, aku mau menetap dulu di Jakarta. Siapa tahu nasibku mujur. Rencananya sih mau menyelesaikan S2 dulu...

"Lalu?" Si penuliz memotong pembicaraan Nanang.

Nanang terkejut melihat mimik muka lawan bicara yang menatapnya tajam, "Tentu mencari kerja di sini."

"Buat apa kau di Jakarta? Kau tak mau membantu pemerintah mengurangi penduduk di sini?" Ujar penulis itu.

"Bagaimana keadaan kampungmu, Nang?" Lanjutnya.

"Masih kampung kecil, pak. Listrik saja belum terpasang di sana."

"Nah, itu sebenarnya PR besar bagimu. Bangun daerahmu. Kau datang ke Jakarta kan hanya mencari ilmu, untuk selanjutnya sebenarnya kau harus pulang. Daerahmu perlu orang sepertimu. Bantu pemerintah membangun daerahmu. Orang-orang di sana juga perlu orang yang mewakili suara mereka."

Hujan sudah berhenti mengguyur. Tapi angin yang menusuk tulang masih berhembus seolah menyambut kedatangan Nanang kembali ke Migani. Ia melirik jam tangannya, jam menunjukkan pukul setengah empat dini hari. Badannya menggigil kedinginan. Dulu ia kebal dengan berbagai cuaca di Migani, tapi sekarang tidak lagi. Ia harus mengakui bahwa dialah yang telah telah melupakan Migani yang telah membesarkannya, bukan sebaliknya.

Nanang menjulurkan kakinya yang terasa kesemutan akibat lamanya ia berjongkok menghindari dingin. Namun tak lama, terasa ada yang menjalar di sekujur kakinya. Apa itu? Nanang menggigil ketakutan. Ia mengangkat jam tangannya yang sedikit menyala dalam kegelapan. Oh tidak! Itu ular yang seukuran gagang sapu lantai. Ingin Nanang mengusir hewan melata itu. 

Tapi ia ingat pesan bapaknya, "Kalau ada ular, biarkan saja walaupun ia berjalan di tubuhmu. Nanti juga ia akan pergi dengan sendirinya." Tapi karena takutnya. Nanang berdiri dan berteriak seperti anak kecil. Ia mencari ranting di sekitarnya dan memukul tanah di mana tempat ia duduk tadi. 

Berharap pukulannya mengenai kepala ular tadi. Entah kena atau tidak, suasana masih gelap. Nanang tak bisa melihat apa-apa, ia hanya berdiri. Bagaimana kalau ular tadi menghindarinya? Bagaimana kalau ular tersebut masuk ke dalam koper miliknya?

Nanang menggigil kedinginan. Matahari sudah mulai muncul dengan manisnya. Walau masih remang-remang, Nanang memutuskan untuk segera berjalan menuju Migani. Terlihat bekas lendir ular tadi, ah itu kan sudah biasa dulu ia alami. Sebentar lagi ia akan sampai. Langkahnya agak terseok-seok akibat semalam menahan dingin dan pegal.

"Pak Petrus? Pagi sekali sudah keluar...

Yang disapa melongo menatap Nanang.

"Ini saya Nanang, pak."

"Oh Nanang kau rupanya balik." Ia tersenyum menghampiri Nanang lalu merangkul hangat,"Nang, Mama kau sudah meninggal. Mau mengabari kau, kita semua tak ada yang bisa ke sana tempat kau sekolah itu. Kau tahu sendiri kan kita semua tak ada uang dan kita pun tak tahu jalan. Nanti kita tersesat, habis sudah penduduk Migani ha-ha-ha..."

"Alah pak Petrus, Mamaku meninggal kau ketawa. Apa maksud? Kau senangkah?"

"Bukan begitu, Nang. Kau terlalu kerasan di Jakarta, sampai lupa pada Migani. Sekarang kau menyesalkah?"

"Dari awal aku sudah menyesal, pak. Sudahlah, antar aku ke rumah. Bapakku ada kah?"

"Bapak kau kawin lagi. Sekarang dia tinggal di Sorong. Kakak kau dua-duanya pun sudah menikah dengab wanita Papua Nugini. Mereka sudah pindah kewarganegaraan. Tinggal aku sudah di sini. Aku menunggu kau pulang untuk menggantikanku jadi guru di sini. Umurku sudah cukup senja, Nang." Pak Petrus terus berjalan dan menceritakan keadaan Migani selepas Nanang merantau ke Jakarta yang tak pernah pulang.

Mereka berdua sampai di sebuah rumah yang berbeda dengan rumah yang lain. Tidak seperti hal nya rumah penduduk asli Migani, rumah Nanang sekeluarga yang memang dari Jawa, jauh lebih modis dan tidak lagi mengikuti gaya tradisional penduduk setempat. Kelihatan rumahnya tak terurus dan sarang laba-laba di mana-mana.

"Lebih baik kau tinggal di rumahku saja, Nang. Barang-barang di rumah kau mungkin sudah tak ada lagi."

"Tak apalah, pak. Besok aku akan pergi ke pasar. Aku ingin memperbaiki rumah ini." Nanang tertunduk lesu duduk di tangga semen depan rumahnya. Tadinya ia berharap Mama dan bapak serta saudara-saudaranya menyambut Nanang di sini.

"Bawalah perubahan pada masyarakat di sini, Nang. Sudah cukup kau menikmati kehidupan mewah di sana, sedangkan kami di sini nyaris tak tersentuh oleh pemerintah. Kedatanganmu akan membawa perubahan baik. Mengabdilah pada masyarakat."

Nanang masih menatap bumi dengan sangat dalam.

"Aku pulang dulu, kalau kau perlu sesuatu datang saja ke rumahku."

Pak Petrus pergi meninggalkan Nanang merenungi kekeliruannya. Sebenarnya tak ada kesalahan yang ia lakukan. Memanjakan diri di kota orang adalah haknya. Tapu memajukan kota sendiri adalah kewajibannya sebagai putra daerah yang dibesarkan di tanah Migani. Jika semua anak bangsa memilih pergi tanpa memikirkan nasib orang sendiri, maka tak heran penduduk tertinggal akan semakin tertinggal.

Dwi Putri, Mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nusantara Kawit An Nur Slawi

Selasa, 07 Februari 2017

Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan

Karanganyar, Kawit An Nur Slawi. Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Serbaguna (Banser) se-Kabupaten Karanganyar siap menjadi garda terdepan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta mencegah paham yang bertentangan dengan Pancasila.?

"Kami menyatakan setia pada Pancasila dan NKRI sampai darah penghabisan. Sikap ini, juga merupakan instruksi serempak di seluruh Indonesia dari Pimpinan Pusat GP Ansor," kata Ketua GP Ansor Karanganyar, Suwanto di sela-sela acara Apel Kesetiaan Pancasila dan NKRI, di Taman Pancasila, Karanganyar Jawa Tengah, Rabu (1/6).

Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan

Selain itu, Iwan sapaan akrab Suwanto mengungkapkan beberapa waktu terakhir ada pihak-pihak yang secara terang-terangan menentang Pancasila. Bahkan ada yang ingin mengubah Indonesia menjadi negara khilafah.

"Untuk menyikapi hal itu, kami pemuda NU siap menjadi garda terdepan untuk menjaga keutuhan NKRI," tegasnya.

Kepala Kesbangpol Karanganyar, Indrayanto dalam sambutannya mengapresiasi kepedulian GP Ansor dan Banser Karanganyar. Kesadaran kolektif masyarakat diperlukan untuk menjaga keutuhan NKRI.

Apel kesetiaan Pancasila dan NKRI tersebut diikuti lebih dari 200 anggota Ansor-Banser se-Kabupaten Karanganyar. (Ahmad Rosidi/Zunus)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Budaya Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 04 Februari 2017

Imam Nahrawi Angkat Gloria Jadi Duta Pemuda Pelajar Kemenpora

Depok, Kawit An Nur Slawi. Menpora Imam Nahrawi mengunjungi SMA Islam Dian Didaktika di Cinere-Depok, Rabu (12/10) pagi. Dalam kunjungannya, Menpora didampingi oleh Plt Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Jonni Mardizal, Staf Khusus Bidang Kepemudaan Zainul Munasichin dan Asdep Kepemimpinan dan Kepeloporan Pemuda Ibnu Hasan.

Imam Nahrawi Angkat Gloria Jadi Duta Pemuda Pelajar Kemenpora (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Nahrawi Angkat Gloria Jadi Duta Pemuda Pelajar Kemenpora (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Nahrawi Angkat Gloria Jadi Duta Pemuda Pelajar Kemenpora

Dalam kunjungannya ke SMA Islam Dian Didaktika, Menpora Imam Nahrawi menyerahkan langsung Surat Keputusan Menpora No. 82 Tahun 2016 tentang Penunjukkan dan Pengangkatan Duta Pemuda Pelajar Kemenpora tahun 2016 kepada Gloria Natapradja Hamel.?

"Penunjukkan Gloria sebagai Duta Pemuda Pelajar Kemenpora adalah karena dia memberikan inspirasi dan pengaruh kepada para pemuda dan pelajar dalam keteladanan dan rasa nasionalisme yang tinggi," ujar Menpora.

"Gloria adalah cermin dari hasil pendidikan sekolah yang baik, inilah karakter pemuda masa depan yang kita harapkan, dengan integritas yang tinggi dia menunjukkan kepada pemuda dan pelajar rasa patriotisme dan nasionalisme yang sejatinya harus dimiliki oleh anak-anak muda bangsa ini, " lanjut Imam.

Kawit An Nur Slawi

Menpora mengharapkan dengan penunjukkan Gloria sebagai Duta Pemuda pelajar ini dapat memotivasi anak-anak muda di Indonesia. "Dibalik kegagalan ada hikmah, dan ada sukses yang tertunda, saya berharap Gloria dapat mendorong teman-temannya untuk selalu berfikir positif dan berbuat yang terbaik, " tutup Imam.

Sebelumnya Ketua Yayasan Dian Didaktika Nunuk Murdiati Sulastomo menyampaikan rasa bangga kepada Gloria Natapradja Hamel yang telah dipilih oleh Menpora Imam Nahrawi menjadi Duta Menpora.?

"Hal ini merupakaan kebanggaan bagi sekolah kami, biarpun Gloria tidak ikut dalam pengibaran bendera di Istana Negara Jakarta, tapi dia tetap sabar dan menunjukkan kedewasaan dan kematangannya bahwa hal itu bukanlah akhir dari segalannya," ujar Nunuk. (Hasanudin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Pemurnian Aqidah Kawit An Nur Slawi