Minggu, 28 April 2013

Mudik, Beragama Dilandasi Kerukunan Sosial dan Persatuan

Ketika menjelang Lebaran, jutaan orang secara berbarengan pulang ke kampung halamannya masing-masing. Macet berjam-jam dan risiko kecelakaan perjalanan tetap ditempuh para pemudik demi sampai kampung halaman.

Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, Yogyakarta M. Jadul Maula mengatakan, tujuan utama mudik adalah sungkem kepada orang tua dan silaturrahim kepada kerabat dan handai taulan.

Mudik, Beragama Dilandasi Kerukunan Sosial dan Persatuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mudik, Beragama Dilandasi Kerukunan Sosial dan Persatuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mudik, Beragama Dilandasi Kerukunan Sosial dan Persatuan

Menurut dia, budaya mudik ini jelas dilandasi tuntunan agama yaitu berbakti kepada orang tua dan menjaga tali silaturrahim dengan sanak keluarga dan kerabat.

“Momentumnya juga bagus yaitu Idul Fitri, merayakan kembalinya manusia ke dalam fitrah,” kata Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia PBNU ini Senin (4/7).

Kawit An Nur Slawi

Ia menambahkan, sebetulnya mudik tidak hanya dilakukan muslim Indonesia, melainkan negara-negara Islam lain semisal di Arab, Mesir, dan lain-lain. Namun bentuk, intensitas dan ekspresinya berbeda.

Kawit An Nur Slawi

“Di negara-negara lain biasanya suasana Idul Fitri terbatas, habis shalat Ied mereka datang ke rumah orang tua dan makan-makan bersama keluarga,” ungkapnya.

Sementara di Indonesia mudik dilakukan lebih meluas dan masif. Tekanannya pada saling memaafkan, tidak hanya pada orang tua dan keluarga dekat, tapi juga keluarga besar (trah) dan lebih luas lagi saudara sedaerah dan bangsa.

“Ini adalah proses penyatuan dalam kebhinekaan, didasari pribadi-pribadi yang sedang ingin membersihkan diri dan hati,” lanjutnya.

Ketika ditanya kenapa bisa meluas, menurut dia, ini adalah warisan pengajaran leluhur yang memberikan dasar-dasar pengamalan agama yang berdimensi persatuan dan kerukunan sosial, bukan individual.

Leluhur yang dia maksud adalah wali-wali Nusantara. Sebelum Islam datang, tidak ada perayaan Idul Fitri, tetapi penghormatan kepada leluhur, bahkan sampai pada pemujaan, itu juga merupakan bentuk religiusitas yang sangat tua di Nusantara. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Khutbah, Nasional Kawit An Nur Slawi

Minggu, 07 April 2013

Warga NU Mulia Kencana, Papua Istighatsah untuk Rohingya

Mimika, Kawit An Nur Slawi 

Kepedulian warga NU Kampung Mulia Kencana atas nasib warga Rohingnya diwujudkan dengan Istighatsah Sabtu malam, 10 September 2017. Jamaah putra putri dan remaja masjid hadir di acara ini yang digelar selepas Shalat Isya.

Warga NU Mulia Kencana, Papua Istighatsah untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Mulia Kencana, Papua Istighatsah untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Mulia Kencana, Papua Istighatsah untuk Rohingya

Ketua Takmir masjid At-Taubah Kampung Mulia Kencana, Syafiuddin mengajak jamaah untuk aktif dalam kegiatan seperti shalat berjamaah serta Istighatsah seperti. 

"Tentu kita harap kegiatan ini bisa berjalan terus sekaligus kita doakan warga Rohingnya lewat Istighatsah ini. Kita tunjukkan rasa persaudaraan kita sesama muslim, " lanjutnya

Acara dilanjutkan dengan penjelasan program Istighatsah An-Nahdliyyah ini oleh Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso. 

"Majelis Istighatsah ini adalah wadah kita untuk seribu hajat dan masalah. Yang punya hajat khusus, misalnya syukuran panen, bisa memanfaatkan majelis istighatsah ini untuk hajat tersebut. Jadi tidak perlu mengundang khusus, namun digabungkan dengan istighatsah," demikian penjelasannya

Kawit An Nur Slawi

Ust. Hasyim Asyari, sebelum istighatsah menyampaikan bahwa dzikir itu bisa menghilangkan kemunafikan serta benteng dari godaan setan. 

"Setan itu akan mengkerut jika kita dzikir. Awalnya berat karena setan masih besar, namun harus dipaksa dzikir agar terlindung dari setan," urainya. 

Acara dilanjutkan dengan istighatsah dengan menyampaikan niat masing-masing serta doa untuk Rohingnya.

Hadir dalam acara itu sesepuh kampung, H Ahmadun, Azhari, dan Suhaemi. Acara ditutup dengan jajanan khas Kampung Mulia Kencana, dan menu makan besar urap. (Red: Abdullah Alawi)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Humor Islam Kawit An Nur Slawi