Rabu, 31 Mei 2017

Kombinasikan Pembelajaran Salafiyah dan Formal

Pondok Pesantren Miftahul Ulum Al Kholili di Kelurahan Kedopok Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo didirikan karena sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Tidak sedikit anak di sekitar lingkungan pesantren mendapat manfaatnya, terutama di bidang keagamaan. Kebersamaan antara pengasuh dengan santri cukup kental. Sampai-sampai urusan makan, asupan lauknya juga sama.

Meski bertempat di Kota Probolinggo, keberadaan pesantren ini masih banyak yang belum tahu. Salah satu alasannya karena usia pesantren yang baru sekitar lima tahun. Apalagi lokasinya juga berjarak 5 Kilometer dari Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo. 

Kombinasikan Pembelajaran Salafiyah dan Formal (Sumber Gambar : Nu Online)
Kombinasikan Pembelajaran Salafiyah dan Formal (Sumber Gambar : Nu Online)

Kombinasikan Pembelajaran Salafiyah dan Formal

Sesampainya di pesantren ini, tampak papan pengenal pesantren yang bertuliskan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Al Kholili Kelurahan Kedopok. Namun, ketika memasuki areal pondok, bukan seperti halaman pondok pada umumnya, berjejer rumah menghadap ke utara. 

Sejarahnya, Pondok pesantren Miftahul Ulum Al Kholili ini berdiri sejak 5 tahun lalu. Saat itu pondok yang didirikan Kiai Mafhul Kholil (49) itu hanya mempunyai 6 santri, 4 santri laki-laki dan 2 santri perempuan. 

Kawit An Nur Slawi

Pendiri yang juga pengasuh Pesantren Miftahul Ulum Al Kholili, Kiai Mafhul Kholil mengatakan berdirinya pondok itu berawal dari adanya permintaan dari sesepuh di lingkungan sekitar pondok. “Sekarang yang meminta untuk didirikan pondok meninggal,” katanya.

Kawit An Nur Slawi

Jauh sebelum berdirinya pondok ini atau tahun 1996 lalu, Kiai Mafhul sudah mendirikan madrasah diniyah. Saat pertama kali, belum tersedia gedung untuk belajar mengajar. Kiai Mafhul memanfaatkan masjid di dekat rumahnya tersebut untuk aktivitas belajar mengajar. “Tapi sedikit demi sedikit kami mulai menyicil untuk membangun gedung belajar, tentu hal semacam itu berasal dari sumbangsih masyarakat yang peduli terhadap pendidikan,” katanya.

Saat ini jumlah santrinya sudah berjumlah 15 santri, 7 santri laki-laki dan 8 perempuan. mereka tidak hanya berasal dari Kota Probolinggo, melainkan dari daerah Kabupatan Probolinggo seperti dari Desa Menyono, Desa Mranggon Lawang. Tidak hanya madrasah diniyah, pondok ini juga sudah terdapat pendidikan formal, SMP Islam Miftahul Ulum Al Kholili.

Santri yang mondok di pesantren ini tidak hanya diajari pendidikan salafiyah, melainkan, pendidikan formalpun juga mereka terima. “Pulang sekolah baru kami berikan pelajaran, seperti mengaji Al-Qur’an dan membaca kitab Kuning,” katanya.

Pembelajaran kitab kuning

Di pesantren ini, pembelajaran yang diberikan tidak hanya Al-Qur’an saja, pengasuh juga memberikan pembelajaran kitab kuning. “Secara rutin kami belajar kitab kuning. Biasanya yang diberikan Sullamul Taufiq, Fathul Qorib, dan metode percepatan bisa baca kitab kuning,” ungkapnya.

Soal waktu pembelajaran, jelas tidak mengganggu aktivitas sekolah. Karena pengasuh pondok memberikan kesempatan pagi hingga siang untuk kegiatan formal. Meski terkesan tidak seketat pesantren salafiyah lainnya, pesantren ini tetap memiliki aturan seperti pesantren pada umumnya. “Kalau soal keamanan dan ketertiban saya rasa sama dengan pondok-pondok yang lain,” terangnya.

Dari santri untuk santri

Untuk memberikan asupan makanan setiap hari, Pengasuh Pondok Pesantren ini tentu tidak terlalu repot dengan urusan tersebut. Karena, pengasuh memberikan makanan pada para santrinya itu berasal dari zakat fitrah yang dititipkan kepada toko-toko terdekat. Zakat itu berasal dari anak didiknya untuk makan santri mukim di pondoknya tersebut.

Untuk konsumsi 15 santri yang mukim, pengasuh tidak membeda-bedakan antara makan pengasuh dengan santri. “Kalau misalkan santrinya makan tempe, kami juga sama. Karena kami tidak membeda-bedakan hal semacam itu,” jelasnya.

Tidak hanya soal makan yang gratis, pengasuh ternyata juga menggratiskan seragam santri. “Berapapun santri yang mukim, kalau kami mampu pasti kami gratiskan. Alhamdulillah sampai sekarang program itu berjalan dengan baik,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mukafi Niam)

Foto :Salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh santri di lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Al Kholili di Kelurahan Kedopok Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Humor Islam, PonPes Kawit An Nur Slawi

Senin, 29 Mei 2017

Kiai Hasyim Imbau Para Tokoh Politik Tak Bebani Presiden

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Para politisi khususnya yang lebih senior diimbau menahan diri untuk tidak terlalu membebani Presiden Joko Widodo menyusul kisruh kepolisian dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Rais Syuriah PBNU KH A Hasyim Muzadi mengatakan hal tersebut usai menyampaikan ceramah agama dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW di Pesantren Al-Mawaddah Jalan Sadar Raya No 34 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Kiai Hasyim Imbau Para Tokoh Politik Tak Bebani Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim Imbau Para Tokoh Politik Tak Bebani Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim Imbau Para Tokoh Politik Tak Bebani Presiden

“Saran saya tokoh-tokoh politisi yang lain, yang senior itu jangan terlalu membebani lah kepada presiden,” ujarnya kepada Kawit An Nur Slawi, Jumat (23/1).

Kawit An Nur Slawi

Sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang baru saja dilantik Presiden Jokowi di Istana Negara, Kiai Hasyim menyatakan akan menyampaikan langsung pendapatnya soal kisruh lembaga negara kepada presiden.

Kawit An Nur Slawi

“Kalau wantimpres itu pendapatnya nggak boleh diumumkan. (Jadi) harus langsung ke presiden,” ujarnya.

Dalam ceramahnya, Kiai Hasyim memberi pertanyaan kepada hadirin tentang kondisi mutakhir negeri ini. “Menurut bapak ibu, Indonesia sekarang ini ruwet apa ndak ruwet?,” selorohnya yang langsung dijawab kompak hadirin, “Ruweeett..”

Bagi pengasuh Pesantren Al-Hikam Depok dan Malang ini wajar saja Indonesia ruwet. “Yo pantes aja ruwet karena terjadi begini dan begitu. Lha bagaimana ndak ruwet, masak KPK dan polisi saling tangkap,” ujarnya.

Kalau semua mau jujur, lanjut Kiai Hasyim, negara ini akan aman. “Makanya, negara ini butuh orang pinter yang bener. Dulu banyak orang bener tapi kurang pinter. Nah, sekarang gantian, banyak orang pinter tapi kurang bener,” tandas Kiai Hasyim yang langsung disambut aplaus hadirin.

Menurut mantan Ketua Umum PBNU ini, perlu adanya keseimbangan antara akal pikiran dan hati. “Keseimbangan itu hanya bisa didapatkan kalau ditopang dengan memperbanyak ibadah,” tegasnya.

Sebagai rangkaian kegiatan Maulid Nabi dan doa bersama atas meninggalnya Almaghfurlah KH Muhammad Saalih, sang pendiri Pesantren Al-Mawaddah, dua pekan lalu. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Khutbah, Budaya Kawit An Nur Slawi

Banser Ikuti Karnaval Hari Jadi Bojonegoro

Bojonegoro, Kawit An Nur Slawi. Puluhan anggota Banser NU desa Wedi kecamatan Kapas, Bojonegoro, berpenampilan ala prajurit perang. Mereka turut memeriahkan Hari Jadi ke-337 Bojonegoro dan melebur ke dalam karnaval yang bergerak dari jalan P Mas Tumapel, jalan Imam Bonjol, dan berakhir di halaman Pemkab Bojonegoro, Ahad (12/10).

Penampilan anggota Banser NU yang tengah menaiki kendaraan lapis baja ini menarik perhatian ribuan warga sepanjang rute karnaval. "Kaya tentara itu Banser," ujar Sidik, salah seorang penonton karnaval.

Banser Ikuti Karnaval Hari Jadi Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Ikuti Karnaval Hari Jadi Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Ikuti Karnaval Hari Jadi Bojonegoro

"Pawai budaya kali ini dinilai yang paling meriah, karena melibatkan berbagai unsur di antaranya tamu kehormatan dari 4 kabupaten, sektor jasa baik hotel maupun rumah makan serta masyarakat umum," terang Ketua panitia penyelenggara, Kusbiyanto.

Kawit An Nur Slawi

Dalam karnaval ini juga ditampilkan kearifan lokal seperti asal usul dusun Suwalan Desa Sambiroto kecamatan Kapas, asal usul desa Gading kecamatan Tambarejo serta cerita tradisional di desa Ngringinrejo kecamatan Kalitidu.

Kawit An Nur Slawi

Kapolres Bojonegoro AKBP Ady Wibowo sesaat sebelum memberangkatkan peserta pawai budaya mengharapkan agar peserta pawai menjaga keselamatan diri dengan mematuhi peraturan tertib berlalu lintas.

"Apalagi di saat kondisi ramai seperti saat ini, keselamatan harus diutamakan dan saling menghormati dengan sesama pengguna jalan," jelas Ady Wibowo. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pahlawan, Santri, Makam Kawit An Nur Slawi

Minggu, 28 Mei 2017

Pesantren Mochammad Shodiq Pertahankan Model Pendidikan Pendahulu

Probolinggo, Kawit An Nur Slawi - Pembelajaran dan penanaman akhlak sangatlah penting. Terlebih moral anak-anak zaman sekarang mulai tidak terkontrol. Hal ini menjadi fokus generasi kedua Pesantren Mochamad Shodiq di Desa Brani Kulon Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo. Setiap hari santri di pesantren tersebut disibukkan dengan pelajaran agama dan kitab.

Pengasuh Pesantren Mochamad Shodiq Habib Qodir bin Muhammad Shodiq mengatakan, pesantren ini berdiri tahun 1983 silam oleh Habib Mochammad Shodiq yang tidak lain adalah ayahnya sendiri. “Saya merupakan generasi kedua,” katanya, Jum’at (17/6).

Pesantren Mochammad Shodiq Pertahankan Model Pendidikan Pendahulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Mochammad Shodiq Pertahankan Model Pendidikan Pendahulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Mochammad Shodiq Pertahankan Model Pendidikan Pendahulu

Menurutnya, posisi sebagai pengasuh ia dapatkan atas kepercayaan sang ayah. Ia mendapatkan kepercayaan itu setelah menempa ilmu agamanya bertahun-tahun. Di antaranya di Darul Hadis Al-Faqiyah selama tujuh tahun.

Dipercaya menjadi penerus, Habib Qodir mempertahankan metode pendidikan sang ayah. Karenanya, saat ini pesantren tersebut tetap fokus pada pendidikan agama. “Diniyah wajib, jika tidak ingin sekolah diniyah, maka jangan mondok di sini,” tegasnya.

Kawit An Nur Slawi

Selain itu, upaya yang dilakukan Habib Qodir terutama pada pesantrennya ialah fokus pada ajaran agama dan kitab. Dalam jenjang yang pendidikannya ialah Tamhidi, Ibtidaiyah Diniyah, Tsanawiyah Diniyah serta Aliyah Diniyah. Jenjang ini ditempuh selama 6 tahun. “Adapun yang diajarkan mulai kitab kuning, kitab klasik sampai pada kitab Bukhori Muslim serta tafsir Al-Qur’an dan Fiqih,” terangnya.

Kawit An Nur Slawi

Setiap hari, seluruh santri sudah ditetapkan jadwalnya. Dimulai pukul 07.00-11.00 yakni pelajaran agama. Selanjutnya pukul 13.00-16.00 pembelajaran umum. Setelah itu, santri istirahat dan bersih-bersih. Malam hari, setelah salat Maghrib berjamaah, pembelajaran kitab besar yang diajari oleh 5 ulama yang ahli agama diniyah. Pembelajaranya fokus pada kitab dan hadis.

“Hal ini dilakukan guna untuk menciptakan santri yang? berintelektual keagamaan,” tuturnya.

Habib Qodir yang menaruh perhatian pada perkembangan anak-anak zaman sekarang mengaku miris. Karenanya, pengawasan harus ditingkatkan. Jika si anak tinggal dengan orang tuanya, maka tanggung jawab ada di orang tua. Kalau mondok, tentu saja kewenangan pengasuh. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Khutbah, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Ngaku Berpaham Aswaja, Tapi Praktek Tak Sesuai

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Warga nahdliyyin (sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama/NU) diminta waspada atas munculnya kelompok-kelompok yang membawa paham keagamaan baru yang marak belakangan ini. Pasalnya, tidak sedikit dari kelompok tersebut mengaku menganut paham Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja), akan tetapi dalam praktek keagamaannya sama sekali tidak mencerminkan paham yang dikenal moderat tersebut.

Demikian diungkapkan Ketua Umum Pengurus Pusat Lembaga Nahdlatul Ulama (PP LDNU) KH Nuril Huda saat membuka acara Silaturrahim Pimpinan Majelis Taklim di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (30/8).

Ngaku Berpaham Aswaja, Tapi Praktek Tak Sesuai (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaku Berpaham Aswaja, Tapi Praktek Tak Sesuai (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaku Berpaham Aswaja, Tapi Praktek Tak Sesuai

Acara bertajuk “Optimalisasi Peran Majelis Taklim dalam Memantapkan Paham Ahlussunnah Wal Jama’ah” itu digelar hasil kerja sama PP LDNU dengan PP Muslimat NU. Hadir sebagai narasumber tokoh muslimah yang juga Presiden Asosiasi Perempuan Muslim (WML) Amerika Serikat Tiye Multazim, Kepala Biro Perencanaan Departemen Agama Drs Ahmad Junaidi MBA dan Ketua PP Muslimat NU Mahfudloh Ali Ubaid.

Menurut Kiai Nuril, demikian panggilan akrabnya, kelompok-kelompok tersebut berkarakter mudah sekali menganggap bid’ah (mengada-ada), sesat, bahkan kafir terhadap nahdliyyin yang ritual keagamaannya dianggap berbeda. Padahal ritual keagamaan tersebut telah menjadi tradisi nahdliyyin yang selama ini.

“Ada yang ngaku Jama’ah Salafiyah, tetapi prakteknya keluar dari apa yang diajarkan oleh ulama-ulama salaf. Ulama-ulama salaf itu kan sangat menghargai perbedaan madzhab dalam bidang ubudiyah. Tapi golongan ini tidak mengakui (perbedaan madzhab) itu, sehingga mudah sekali mem-bid’ah-kan bahkan mengkafirkan orang lain,” terang Kiai Nuril kepada para pimpinan majelis taklim.

Oleh karena itu, lanjut Kiai Nuril, NU harus segera dilakukan upaya peneguhan kembali pemahaman sekaligus implementasi dari paham Aswaja di masyarakat. Hal itu, katanya, sangat penting agar kelompok-kelompok tersebut tidak mengusik kelestarian pemikiran dan budaya yang dikembangkan nahdliyyin melalui ajaran Aswaja.

Kawit An Nur Slawi

Dalam kesempatan itu, Kiai Nuril juga mengungkapkan, kelompok-kelompok yang mengaku berpaham Aswaja itu tidak hanya berupaya mengganti tradisi keagamaan nahdliyyin. Masjid-masjid yang didirikan dan selama ini dikelola serta takmir masjidnya diisi oleh nahdliyyin mulai diambilalih dengan alasan syarat dengan ajaran bid’ah.

“Kita harus membentengi simbol-simbol NU, seperti masjid-masjid serta tradisi keagamaan NU dari upaya kelompok-kelompok lain yang mau menggeser dan menggantinya,” ungkap Kiai Nuril.

Oleh karenanya, imbuh Kiai Nuril, acara tersebut diharapkan dapat menjadi media perekat dan komunikasi antar-majelis taklim yang berbasis pemikiran dan kultur NU. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Fragmen, Meme Islam Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 27 Mei 2017

Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim

Kudus, Kawit An Nur Slawi. Kiai muda Sih Karyadi memaparkan dua kenikmatan paling utama pada setiap muslim. Menurut dia, nikmat yang pertama pertama adalah keberadaan manusia yang tanpa meminta kemudian diwujudkan Allah di dunia. Kenikmatan pertama ini tiada lain karena nur Muhammad SAW.

Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim

“Melalui Hadits Qudsi, Allah berfirman bahwa kalau bukan karena Kanjeng nabi, maka cakrawala semesta tidak akan pernah diciptakan, termasuk kita manusia,” terangnya pada peringatan Maulid Nabi yang diadakan di kediaman Ketua Cabang Ikatan Pelajar Putri NU Kabupaten Kudus di Desa Jurang Kecamatan Gebog, Kudus, pada Jum’at (16/01) bersama Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Jurang.

Menurut dia, itu rahmatan lil ‘alamin. Kanjeng Nabi menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tidak peduli muslim maupun kafir, semua mendapat percikan rahmatnya. Allah menciptakan dunia bukan sebatas untuk orang muslim saja, melainkan orang kafir. Muslim dan kafir sama-sama diciptakan, sama-sama mendapatkan tempat.

Kawit An Nur Slawi

Nikmat kedua, kata alumni Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (PAC IPNU) Kecamatan Gebog, Kudus dia, yakni nikmatul iman wal islam. Nikmat ini tak kalah agung dari nikmat yang pertama. Allah menjadikan hati kita memperoleh hidayah bahkan sejak kita terlahir ke dunia. Memiliki keluarga yang muslim adalah anugerah, sehingga mendapatkan pendidikan keimanan dan keislaman.

Kawit An Nur Slawi

Rasulullah datang membawa rahmat, dan kedua nikmat di atas adalah nikmat yang paling agung yang harus disyukuri. Tentu dengan menjalani hidup yang penuh ketakwaan dan kebahagiaan.

“Kita harus berbahagia, karena nikmat tersebut. Menjalani hidup dengan penuh rasa syukur, di antaranya adalah dengan cara ikut serta merayakan peringatan Maulid Nabi seperti sekarang ini,” terangnya.

Hadir juga peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Diponegoro. Salah satu peserta KKN, Irwan yang berasal dari Banjarmasin, memperkenalkan maulid Habsyi yang di daerah Jawa biasa disebut maulid Al Banjari. “Maulid Habsyi sering juga dinamai dengan maulid Al Banjari di daerah Jawa,” kata Irwan.

Berbicara mengenai selawat maulid, di Kudus sendiri terdapat bermacam jenisnya yang sering dilantunkan. Di antaranya, selawat Muludan Jawan Mbah Syarif Padurenan, Muludan Jawan Mbah Ma’ruf Irsyad, Maulid Dziba’, Barzanji, Maulid Simtud Durar, dan Dalail Khairat. Jika Dalail Khairat di Kudus disebarluaskan oleh KH. Ahmad Basyir, maka Maulid Habsyi disebarluaskan oleh KH. Abdul Ghani.

“Maulid Habsyi disebarluaskan oleh KH. Abdul Ghoni atau Guru Sekumpul. Beliau berguru kepada KH. Syarwani Abdan Bangil,” lanjut Irwan.

Acara yang diiringi dengan tabuhan rebana itu ditutup dengan pelantunan selawat khas Kudus, yakni selawat Asnawiyyah, karangan KH. Raden Asnawi. (Istahiyyah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pemurnian Aqidah Kawit An Nur Slawi

PP Muslimat Bekali Perempuan Madura Cara Pengolahan Hasil Laut

Pamekasan, Kawit An Nur Slawi. Kegiatan fasilitasi pendidikan kompetensi aplikatif melalui kursus pengolahan ikan di daerah tertinggal, diikuti oleh para perempuan Madura, Selasa (2/12) di SMKN 1 Pamekasan, Jawa Timur. Kursus yang digelar PP Muslimat NU dengan menggandeng Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (KDPDTT) RI tersebut, memasuki hari kedua dan menitiktekankan pada ragam cara pengolahan hasil laut.

PP Muslimat Bekali Perempuan Madura Cara Pengolahan Hasil Laut (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat Bekali Perempuan Madura Cara Pengolahan Hasil Laut (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat Bekali Perempuan Madura Cara Pengolahan Hasil Laut

Dalam kesempatan tersebut, panitia menghadirkan pemateri dari Dinas Kesehatan serta Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pamekasan. Sebanyak 40 peserta dibekali teori pengolahan ikan jadi abon, kripik, naget, dan bakso.

Selain itu, mereka juga diberi wawasan mengenai legalitas dan standarisasi makanan sehat, kebijakan umum tentang fungsi ikan, serta pengenalan pengolahan ikan dan manajemen keuangan. Muaranya, peserta belajar pengemasan, pelabelan, dan pemasaran pengolahan ikan.

Kawit An Nur Slawi

Kursus ini dibuka langsung oleh Bupati Achmad Syafii sehari sebelumnya. Diproyeksikan, penutupannya pada Kamis (4/12) mendatang. Peserta mendapat pendampingan khusus dari pengurus PP Muslimat NU, yaitu Ketua Harian Bidang Pendidikan Dr Srimulyati, Sekretaris VI Bidang Hukum dan Advokasi Dra. Nur Rifah Masykur, dan anggota Bidang Hukum dan Advokasi Rizky Wijayanti, SH.

Nantinya, peserta akan diberi peralatan supaya pelatihan bisa berlangsung secara berkesinambungan. Peralatan yang diterima masing-masing peserta senilai Rp2,5 juta sampai Rp3 juta. Peralatan tersebut meliputi freezer, kompor gas, tabung gas, dan peralatan olahan makanan. (Hairul Anam/Anam)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Makam Kawit An Nur Slawi

Noordin Lebih Berbahaya dari Azahari

Kuala Lumpur, Kawit An Nur Slawi
Anggota Jemaah Islamiyah (JI), Noordin M Top adalah perancang aksi teror yang lebih berbahaya dibandingkan Dr Azahari bin Husin yang tewas Rabu lalu di Batu, Jawa Timur.

Noordin (38) diyakini memainkan peranan penting dalam pengeboman di Bali dan Jakarta yang menewaskan lebih dari 200 orang. Dia pernah meninggalkan pesan kepada istrinya warga negara Indonesia yang juga saudari dari pelaku bom Bali, Mukhlas, bahwa perjuangannya adalah atas nama Jihad.

Kantor berita Malaysia, Bernama, Jumat (11/11) melaporkan bahwa pesan tertulis itu dipaparkan oleh Direktur Badan Khusus Datuk Yusuf Abdul Rahman dalam sebuah seminar tahun lalu. Dokumen itu ditemukan oleh otoritas Indonesia menyusul penahanan delapan anggota JI pada 27 Juni 2004.

Menurut Yusuf, Noordin yang juga mantan dosen di Universitas Teknologi Malaysia (UTM), menuliskan catatan tertanggal 24 Juni 2003 dengan Dr Azahari. Seperti diketahui bom Bali pada 12 Oktober 2002 menewaskan 200 orang, sebagian besar adalah warga Australia, sedangkan 12 orang juga tewas dalam bom di Hotel JW Marriott pada 5 Agustus 2003.

Noordin belajar di sekolah agama Luqmanul Hakiem di Ulu Tiram, Johor dan sekolah tersebut didirikan oleh pimpinan JI, Abu Bakar Baasyir, yang saat ini mendekan dipenjara. Sejumlah murid di sekolah tersebut kemudian menjadi anggota JI. Berdasarkan catatan perilakunya, Noordin dikenal sangat berbahaya dan siap bertarung dalam keadaan apapun.

Noordin dan Azahari masuk Indonesia pada awal 2002 menyusul sejumlah operasi yang dilakukan oleh Pemerintah Malaysia terhadap aktivitas terorisme. Keduanya berbagi ideologi yang sama dengan mendirikan negara "Daulah Islamiyah" di kawasan ini melalui jihad yang diajarkan Abu Bakar Baasyir.

Sementara itu, Pemerintah Malaysia masih menunggu laporan resmi dari Pemerintah Indonesia yang mengkonfirmasikan bahwa mayat yang tewas adalah Dr Azahari bin Husin, warga negara Malaysia yang paling dicari terkait sejumlah aksi bom di Indonesia.

Perdana Menteri Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi mengatakan, konfirmasi hasil penelitian DNA juga masih dibutuhkan sekalipun bukti sidik jari menunjukkan bahwa mayat tersebut adalah Azahari.

Ia mengatakan, laporan lengkap dalam tewasnya Azahari masih dibutuhkan sebelum dilakukan sejumlah langkah-langkah berikutnya. "Kita membutuhkan laporan yang lengkap. Sejauh ini kita hanya mendengar dari laporan media," kata Badawi. (ber/cih)


 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sholawat Kawit An Nur Slawi

Noordin Lebih Berbahaya dari Azahari (Sumber Gambar : Nu Online)
Noordin Lebih Berbahaya dari Azahari (Sumber Gambar : Nu Online)

Noordin Lebih Berbahaya dari Azahari

Jumat, 26 Mei 2017

Orang Tua Harus Jaga Komunikasi dengan Pesantren

Jombang, Kawit An Nur Slawi - Tugas orang tua tidak semata mengantar sang buah hati ke madrasah maupun pesantren. Yang juga harus dilakukan adalah menjaga silaturahim dan komunikasi dengan pemangku lembaga yang ada. Dengan demikian perkembangan sang anak akan terpantau dengan optimal.

"Jangan hanya datang ke pesantren atau madrasah saat awal mengantar, serta ketika sang anak akan boyong atau pulang," kata Nyai Hj Mundjidah Wahab, Jumat (22/7) petang. Pesan tersebut disampaikan Dewan Pembina Madrasah Aliyah Unggulan KH Abd Wahab Hasbulloh (MAU WH) Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini pada kegiatan silarrahim dengan para wali murid madrasah setempat.

Orang Tua Harus Jaga Komunikasi dengan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Tua Harus Jaga Komunikasi dengan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Tua Harus Jaga Komunikasi dengan Pesantren

Bagi putri pahlawan nasional KH Abdul Wahab Chasbullah ini, tugas orang tua adalah melakukan komunikasi kepada guru, ustadz dan kiai baik di madrasah maupun pesantren. "Ini agar juga diketahui perkembangan serta prestasi sang anak," kata Wakil Bupati Jombang ini. Bila dirasakan ada perkembangan yang kurang diharapkan, maka sesegera mungkin hal tersebut disampaikan kepada yang bertugas, lanjutnya.

Kawit An Nur Slawi

Mundjidah juga mengingatkan perkembangan pergaulan anak muda zaman sekarang yang demikian mengkhawatirkan. "Di Jombang saja yang telah diapit pesantren besar dari empat penjuru serta ratusan pesantren, tingkat kriminalitas yang melibatkan pelajar juga demikian tinggi," terangnya. Karenanya, mempercayakan perkembangan anak ke pesantren adalah pilihan tepat, meskipun tetap harus dijalin komunikasi yang intensif antara orang tua dan pesantren serta madrasah, lanjutnya.

Ikhtiar yang juga dapat dilakukan orang tua adalah dengan senantiasa mendoakan buah hati. "Sempatkan usai shalat wajib untuk berkirim al-fatihah kepada setiap anak yang dimiliki agar senantiasa mendapat bimbingan dan dijaga Allah SWT," tandas Ketua PC Muslimat NU Jombang ini. Bahkan kalau ada orang tua yang sedang melaksanakan thawaf di baitullah juga bisa mengkhususkan doa kepada setiap anak pada setiap putaran mengelilingi kakbah tersebut, lanjutnya.

Kegiatan diawali perkenalan dewan guru dan dialog dengan para wali murid. Sejumlah masukan disampaikan untuk dapat memacu prestasi dan terbentuknya karakter anak yang bercirikan pesantren.? (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Makam, Syariah Kawit An Nur Slawi

Kamis, 25 Mei 2017

Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru

Pamekasan, Kawit An Nur Slawi. Perjalanan bahtsul masail yang digelar Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Pamekasan berlangsung seru, akhir pekan kemarin (12/5) dan bertempat di pendopo Kecamatan Pegantenan. Pengasuh pesantren Al-Huda Sumber Nangka, Larangan, Pamekasan, KH Syaifuddin Syam bertindak sebagai mushahhih.

Keseruan tersebut tidak terlepas dari semangat peserta. Pasalnya, para pengurus MWC NU dari 13 kecamatan di Pamekasan saling beradu argumen dengan ragam kitab kuning di tangannya. Sekitar 3 jam dihabiskan untuk berdiskusi guna mengupas tuntas 2 masalah, yaitu tentang penggunaan ruang kelas di luar peruntukannya dan khatib Jumat meninggalkan rukun/syarat khutbah.

Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru

Sebagaimana dimaklumi, deskripsi masalah yang pertama berangkat dari fakta yang sering terjadi di Madura. Ada suatu yayasan mengelola beberapa unit lembaga, yaitu PAUD, RA/TK, MI/SD, MTs/SMP, dan MA/SMA/SMK yang waktu pelaksanaannya dilaksanakan pagi hari, juga Madrasah Diniyah yang waktu belajarnya sore atau malam hari.

Kawit An Nur Slawi

Dari deskripsi masalah tersebut, diajukan 2 pertanyaan. Pertama, bagaimana hukumnya menggunakan ruang kelas yang peruntukan bantuannya untuk MI dipergunakan oleh unit lembaga yang lain yang waktu belajarnya bersamaan? Kedua, bolehkah unit lembaga yang waktu belajarnya tidak bersamaan dengan MI seperti Madrasah Diniyah mempergunakan ruang kelas tersebut, mengingat tidak sesuai peruntukan dan pada saat itu tidak dipakai?

Kawit An Nur Slawi

Adapun deskripsi masalah berikutnya juga berangkat dari kenyataan. Pasalnya, khatbah Jumat termasuk salah satu syarat sahnya sembahyang Jumat. Dalam khatbah tersebut ditentukan rukun dan syarat sahnya. Berkaitan dengan hal tersebut, terjadi dalam pelaksanaan sembahyang Jumat seorang khotib meninggalkan salah satu syarat atau rukun khutbah. Mamum tahu, sembahyang lagi di rumahnya dengan niat sembahyang Zuhur.

Ada 2 pertanyaan yang diajukan. Pertama ialah wajibkah mamum mengingatkan khotib tersebut dan bagaimana caranya? Kedua, kalau khotib diingatkan tetap tidak menghiraukan, apa yang harus dilakukan mamum selanjutnya?

Dari penelusuran kitab kuning yang dilakukan peserta bahtsul masail, dicetuskanlah beberapa jawaban atas permasalahan di atas.

Jawaban dari permasalahan yang pertama ialah tidak boleh, kecuali ada qorinah yang dikembalikan kepada urf.

Adapun permasalahan yang kedua dijawab wajib, cuma cara menegur khotib masih mauquf, belum disepakati.

Tetapi dalam sambutannya, ketua NU Pamekasan KH Abd Ghoffar menegaskan bahwa takmir masjid punya wewenang untuk menegur dan meluruskan kesalahan khutbah Jumat dari khotib dimaksud.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Fragmen Kawit An Nur Slawi

Rabu, 24 Mei 2017

Janji Tri Satya Pramuka Bentuk Kesetiaan pada Agama, NKRI dan Pancasila

Bangka Tengah, Kawit An Nur Slawi. Kementerian Agama dan seluruh jajarannya memiliki komitmen tinggi agar gerakan Pramuka tidak hanya dijaga dan dipelihara, tapi juga dikembangkan sehingga para Pramuka kita mampu merespon berbagai persoalan masyarakat, bangsa, sesuai situasi dan kondisinya dengan penuh kearifan.

“Kami di Kemenag terus menjaga dan memelihara tradisi baik para pendahulu, yaitu kegiatan perkemahan yang dilakukan setiap tahun tidak hanya di madrasah, tapi juga pesantren dan mahasiswa PTKI,” ujar Menag Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan sambutan dalam upacara pembukaan Perkemahan Pramuka Madrasah Nasional (PPMN) III, Selasa (16/5) di Koba, Bangka Tengah.?

Janji Tri Satya Pramuka Bentuk Kesetiaan pada Agama, NKRI dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Janji Tri Satya Pramuka Bentuk Kesetiaan pada Agama, NKRI dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Janji Tri Satya Pramuka Bentuk Kesetiaan pada Agama, NKRI dan Pancasila

Menag meminta janji Tri Satya harus dipegang teguh. Tri Satya jangan kalah populer dengan Dasa Dharma Pramuka. Trisatya yang dikenal sebagai komitmen dan konsensus sebagai janji setiap Pramuka, terdiri dari tiga point.

Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh:

Kawit An Nur Slawi

1. Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuaan Republik Indonesia.

2. Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat.

3. Menepati Dasa Dharma.

Kawit An Nur Slawi

Menag minta, khususnya di jajaran pramuka madrasah untuk selalu diikrarkan sebagai sebuah janji sehingga tiga poin tersebut senantiasa tidak hanya ada diingatan kolektif kita, tapi juga bisa terimplementasikan dalam kehidupan keseharian kita

“Pramuka harus menerapkan dalam kehidupan sehari-hari karena butir pertama dari Trisatya adalah menjalankan kewajiban terhadap Tuhan, NKRI, dan mengamalkan Pancasila,” jelas salah seorang putra KH Saifuddin Zuhri itu.

Pendahulu kita bersikap arif, kata Menag, sebab menyatukan yang tidak terpisahkan antara kewajiban menjalankan perintah Tuhan, menjaga NKRI, dan mengamalkan Pancasila.

Menurutnya, ini relevan karena Indonesia sebagai sebuah bangsa menghadapi tantangan tidak sederhana. Sebagai bangsa di tengah keragaman kita harus senantiasa memiliki komitmen yang menjadi kesepakatan bersama bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara itu berdasarkan Pancasila dalam wadah NKRI. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Olahraga, Khutbah, Humor Islam Kawit An Nur Slawi

Senin, 22 Mei 2017

Jangan Jadikan NU Batu Loncatan untuk Raih Jabatan

Sumedang, Kawit An Nur Slawi. Dewan harian Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang pada Ahad (25/9) berkumpul di sekretariat PCNU setempat, Sumedang, Jawa Barat. Salah satu agendanya yaitu untuk menyamakan persepsi membangun NU di Sumedang saat ini dan saat yang akan datang.

Jangan Jadikan NU Batu Loncatan untuk Raih Jabatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Jadikan NU Batu Loncatan untuk Raih Jabatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Jadikan NU Batu Loncatan untuk Raih Jabatan

Salah satu awan PCNU Sumedang yang sekaligus menjabat sekretaris daerah (sekda) Kabupaten Sumedang H Zaenal Alimin menyampaikan bahwa menyamakan persepsi dalam sebuah organisasi itu sangat penting untuk kemajuan Nahdlatul Ulama.

Zaenal Alimin juga mengingatkan untuk tidak berambisi untuk mengejar jabatan. Tapi, lanjutnya, niatlah untuk kemaslahatan umat. Menurutnya, banyak sekarang yang ingin menjadi pengurus NU, setelah menjadi pengurus NU justru banyak juga yang berambisi ingin menjadi pejabat. NU seolah-olah dijadikan batu loncatan untuk mengejar jabatan yang diinginkannya. Inilah yang harus diluruskan dan persepsi mengurus NU antarsesama pengurus harus sama.

Kawit An Nur Slawi

Tapi ini semua bukan berarti pengurus NU tidak boleh menjadi pejabat. Justru harus ada warga NU yang menjadi pejabat. Apalagi posisi jabatan itu sebagai pemutus kebijakan yang menyangkut kemaslahatan umat.

“Mencalonkan diri sendiri untuk untuk menduduki sebuah jabatan tertentu itu kurang baik, tapi ketika ada peluang banyak warga NU yang mendukung menduduki sebuah jabatan tertentu ya kenapa tidak. Ambil saja kesempatan itu, yang penting jangan berambisi,” ucap Zaenal.

Kawit An Nur Slawi

Sementara Ketua PCNU Kabupaten Sumedang H Sadulloh mengatakan pengurus itu fungsinya untuk mengurusi orang lain, bukan diurusi oleh orang lain. Artinya ketika seseorang menjadi pengurus NU, maka orang tersebut harus siap mengurusi warga nahdliyin. “Jangan malah sebaliknya. Sudah menjadi pengurus NU, tapi dia malah diurusi oleh Nahdliyin,” tuturnya. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kyai Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 20 Mei 2017

Ketika Cemburu Melanda Istri Nabi Muhammad SAW

Memiliki istri lebih dari satu adalah salah satu budaya Arab saat itu. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun memiliki istri lebih dari satu. Salah satu konsekuensi memiliki istri lebih dari satu adalah kecemburuan yang dialami oleh salah satu istri dengan istri yang lain, termasuk para ummul mukminin (istri-istri Rasulullah SAW).

Walaupun Nabi Muhammad SAW ingin dan selalu berusaha keras untuk berlaku seadil-adilnya kepada para istrinya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada saja rasa cemburu yang melanda istrinya bahkan pada orang yang sudah tiada.

Ketika Cemburu Melanda Istri Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Cemburu Melanda Istri Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Cemburu Melanda Istri Nabi Muhammad SAW

Dalam hadits Bukhari dikisahkan bahwa Aisyah RA pernah cemburu kepada Siti Khadijah RA karena nabi sering menyebut-nyebut namanya dan sering memuji-mujinya di hadapan Aisyah RA. Walaupun saat itu Khadijah RA telah meninggal dunia, namun tetap saja Aisyah masih cemburu dengan Khadijah.

Kawit An Nur Slawi

Dalam hadits Bukhari juga, suatu hari nabi pulang ke rumah istrinya, yaitu Zainab binti Jahsy. Namun nyatanya di rumah, Aisyah sedang mempersiapkan sesuatu dengan Hafsah. Mereka berdua bersepakat untuk bilang kepada nabi bahwa ia mencium sesuatu yang tidak enak setelah pulang dari rumah Zainab.

Kawit An Nur Slawi

Setibanya nabi dari rumah Zainab.

“Nabi, aku mencium bau yang tidak sedap dari mulutmu? Apa yang engkau makan saat berada di sana?” tanya Aisyah kepada nabi.

Nabi pun menjawab, “Wahai Aisyah, aku hanya minum madu. Mana mungkin madu itu menjadikan mulutku berbau?”

Setelah bertemu Aisyah, nabi pun bertemu dengan Hafsah. Tanpa disangka oleh nabi, Hafsah pun mengatakan hal yang sama seperti Aisyah. Mendengar perkataan Hafsah tersebut, nabi masih tetap berkata sama.

“Tidak, wahai Hafsah. Aku hanya minum madu.”

Dari perkataan dua orang istrinya itu, nabi pun merasa bahwa mulutnya memang benar-benar bau. Sehingga nabi pun bersumpah untuk tidak meminum madu tersebut. Sumpah tersebut tidak lain dan tidak bukan hanya untuk membahagiakan kedua istrinya yang tidak suka dengan bau madu. Turunlah Al-Quran At-Tahrim ayat 1:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Wahai nabi, mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan kepadamu hanya karena ingin mengharap ridha istri-istrimu. Sungguh Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Bahkan kitab Durarul Mantsur karya As-Suyuthi menyebutkan bahwa ada kisah lain yang menjadi sebab turunnya ayat di atas selain kisah madu, yakni sebagaimana dikutip As-Suyuthi dari An-Nasai melalui riwayat Anas bahwa nabi memiliki seorang budak perempuan dan tidur dengannya. Kemudian hal tersebut diketahui oleh Aisyah dan Hafsah. Karena peristiwa itu, nabi akhirnya mengharamkan diri untuk tidur dengan budak perempuannya. Padahal saat itu hal itu dihalalkan oleh Allah. Dari situ lalu turunlah ayat di atas (At-Tahrim ayat1).

Dari kisah kecemburuan istri-istri nabi ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kecemburuan adalah sebuah keniscayaan bagi semua manusia tak terkecuali istri-istri Nabi Muhammad SAW. Namun, jangan sampai kecemburuan itu malah menjadi sebab datangnya murka Allah. Hanya karena kecemburuan seorang istri, suami harus melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Inilah yang menjadi sebab datangnya murka Allah. Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Islam Kawit An Nur Slawi

Sambut “Bonus Demografi”, IPNU-IPPNU Harus Berperan

Gresik, Kawit An Nur Slawi. Menyambut bonus demografi Indonesia yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 2020-2030, IPNU-IPPNU diharapkan mengambil kesempatan penting dalam mempersiapkan generasi emas menuju bonus demografi Indonesia yang akan berdampak pada pertumbuhan sosial-ekonomi Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.

Sambut “Bonus Demografi”, IPNU-IPPNU Harus Berperan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut “Bonus Demografi”, IPNU-IPPNU Harus Berperan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut “Bonus Demografi”, IPNU-IPPNU Harus Berperan

Hal tersebut disampaikan KH Nur Khozin saat memberikan ceramah di hadapan ratusan pelajar NU se-kecamatan Panceng dalam acara Pelantikan dan Peringatan Isro Miroj Pengurus Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Panceng, Sabtu kemarin (15/6) di Yayasan Tarbiyatul Wathon Campurejo, Gresik.

"Namun, bonus demografi tersebut akan menjadi bencana jika pembangunan sumber daya manusia tidak dipersiapkan dengan baik," tuturnya

Kawit An Nur Slawi

Ia menjelaskan, pada tahun 2020-2030, penduduk Indonesia umur produktif (15-64 tahun) diperkirakan akan mencapai 70%. Sisanya, 30% merupakan penduduk tidak produktif (di bawah 15 tahun dan diatas 64 tahun).

Kawit An Nur Slawi

Dalam menyambut bonus demografi tersebut, IPNU-IPPNU sebagai organisasi kader NU diharapkan mampu membangun sumber daya manusia anggotanya sebagai kader-kader berkualitas yang nantinya diharapkan mampu berperan penting dalam pembangunan Indonesia.

"IPNU-IPPNU diharapkan berhasil mencetak kader-kader berkualitas. Mampu mensinergikan kemampuan intelektual dan spiritual," tambahnya

Hal tersebut juga diamini KH Aziz Rohim, Rais Syuriyah MWCNU Panceng. Dalam sambutannya, ia menegaskan peran penting IPNU-IPPNU sebagai kader pokok yang akan meneruskan perjuangan ulama-ulama NU. 

"Di tangan pemudalah, urusan umat akan bergantung. Nasib NU ke depan akan bergantung pada IPNU-IPPNU sebagai pemilik masa depan NU," tuturnya

Ketua PAC IPNU kec Panceng terlantik, Fathur Rozi, menyampaikan banyak terima kasihnya kepada segenap pihak yang turut berpartisipasi dalam mensukseskan kegiatan tersebut. Ia pun menyampaikan prioritas kepengurusannya ke depan.

"IPNU-IPPNU sebagai prioritas utama masa depan NU harus mampu menggaet kader-kader muda NU terbaik. Menghidupkan ranting-ranting IPNU-IPPNU yang vakum merupakan prioritas ke depan kami," tuturnya

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Faiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Lomba Kawit An Nur Slawi

Rabu, 17 Mei 2017

Besok, Ketua Lesbumi Kota Tegal Luncurkan Karyanya

Brebes, Kawit An Nur Slawi. Setelah sukses menerbitkan buku Dikendangi Wong Edan Aja Njoged, Ketua Lesbumi Kota Tegal Drs Atmo Tan Sidik kembali meluncurkan buku berjudul Dugale Asu Maring Manungsa. Peluncuran buku yang mengangkat lokalitas ini akan digelar usai sembahyang Jumat di Gedung PCNU Kota Tegal jalan Wisanggeni nomor 10, Jumat (24/10) siang.

Besok, Ketua Lesbumi Kota Tegal Luncurkan Karyanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, Ketua Lesbumi Kota Tegal Luncurkan Karyanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, Ketua Lesbumi Kota Tegal Luncurkan Karyanya

Ketua PC U Kota Tegal dr Abdal Hakim Tohari menjelaskan, peluncuran buku yang baru kali pertama digelar akan mendatangkan seluruh pengurus cabang NU, MWCNU hingga Ranting, lembaga serta badan otonom lainnya.

Abdal yang juga diamanahkan sebagai direktur RSUD Kardinah Kota Tegal meyakini, pemikiran dan gerak langkah Atmo diharapkan mampu menginsiprasi dan memotivasi PCNU dan Generasi Muda NU untuk berbuat yang terbaik untuk NU.

Kawit An Nur Slawi

“Nilai-nilai lokal yang mengandung unsur Illahiyah, ada pada buku-buku karya Atmo,” tandas Abdal.

Sekretaris PCNU Kota Tegal dr H Muslih menerangkan, dirinya mengundang 150 orang. Peluncuran bakal ditandai dengan pembagian buah warna sanga, yakni pisang, apel, salak, pir, jambu, strawberry, sawo, klengkeng dan anggur.

Kawit An Nur Slawi

Buah ini akan diserahkan kepada sembilan tokoh profesional. “Kami merencanakan sembilan orang yang mewakili berbagai profesi seperti wartawan, seniman, nelayan, nahdliyin (rakyat), pengusaha, ulama, narasumber, pejabat, muslimat (perempuan),” tandas Muslih. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Habib, Kajian, Sejarah Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 13 Mei 2017

LAZISNU akan Salurkan 15.000 Paket Sembako dan 10.000 Santunan Yatim

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) akan menyalurkan sebanyak 15.000 paket sembako dan 10.000 santunan untuk anak yatim pada bulan Ramadhan 1436 H ini.

LAZISNU akan Salurkan 15.000 Paket Sembako dan 10.000 Santunan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU akan Salurkan 15.000 Paket Sembako dan 10.000 Santunan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU akan Salurkan 15.000 Paket Sembako dan 10.000 Santunan Yatim

“Paket sembako dan santunan ini adalah program rutin PP LAZISNU pada setiap bulan Ramadhan,” kata Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik ditemui di kantornya lantai 2 gedung PBNU, Jalan Karamat Raya 164 Jakarta Pusat, Senin (22/6).

Ditambahkan, paket sembako dan santunan yang akan disalurkan pada bulan Ramadhan ini diperoleh dari para muzakki dan dermawan yang sudah rutin menyalurkan zakat dan sedekahnya melalui LAZISNU.

Kawit An Nur Slawi

Sementara itu Manager Fundrising dan Program PP LAZISNU Nur Rohman mengatakan, tema yang diambil oleh PP LAZISNU dalam pengumpulan zakat, infaq dan shadaqah pada bulan Ramadhan tahun ini adalah “Bangkit Sedekah”.

Kawit An Nur Slawi

“Sedekah yang kita maksudkan di sini bermakna umum, menyangkut zakat, infaq dan shadaqah,” katanya.

Salurkan zakat, infaq, dan sedekah Anda melalui LAZISNU ke nomor rekening BNI 010.85723.08 untuk zakat dan BNI 010.85756.48 untuk infak dan shadaqah serta rekening Mandiri 123.000.483. 8951 untuk zakat  dan Mandiri 123.000.483.8977 untuk infaq dan shadaqah atau datang langsung ke kantor PP LAZISNU di Gedung PBNU, Lantai 2, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Telp 021-3102913 SMS 0813.9800.9800. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi News Kawit An Nur Slawi

Mewadahi Gairah Baru dalam Berislam

Gairah untuk mengekspresikan diri sebagai Muslim yang baik di Indonesia kini terus mengalami peningkatan. Peringatan tahun baru hijriah yang baru berlangsung beberapa hari lalu semarak dengan berbagai kegiatan. Di masjid-masjid kompleks perumahan, masyarakat menggelar pengajian, pawai obor, muhasabah akhir tahun, dan beragam kegiatan bertema Islam lainnya. Pada Idul Adha lalu, masyarakat juga tak segan-segan untuk berkurban dengan jumlah yang terus meningkat dari tahun ke tahun terus meningkat. Sebuah mushalla kecil di Jakarta bisa mendapatkan puluhan kambing plus beberapa ekor sapi. Di Jabodebatek, peringatan Maulid Nabi berlangsung hampir sepanjang tahun, tak hanya di bulan Maulid.

Apa yang terjadi saat ini tak lepas dari peningkatan kemampuan ekonomi umat Islam di Indonesia. Kapasitas ekonomi personal umat Islam ataupun lembaga-lembaga Islam terus meningkat. Setiap tahun ratusan ribu orang berangkat umrah, plus dua ratus ribu lebih yang berangkat haji. Rumah sakit Islam dan perguruan tinggi Islam terus meningkat dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Kapasitas untuk menggelar beragam kegiatan keagamaan yang semarak mencerminkan kapasitas sumberdaya yang terus berkembang ini. 

Dengan posisi seperti ini, kepercayaan diri umat Islam terus bertambah dari waktu ke waktu yang tercermin dalam ekspresi sosial dan politik. Sebelumnya, umat Islam mengalami marginalisasi, dari era kolonial hingga kemerdekaan. Sektor ekonomi dan politik dikuasai oleh sekelompok kecil elit yang kebijakannya tidak selalu menguntungkan Islam sebagai mayoritas. Umat Islam dalam banyak hal hanya dijadikan stempel untuk mengesahkan kebijakan tertentu. 

Mewadahi Gairah Baru dalam Berislam (Sumber Gambar : Nu Online)
Mewadahi Gairah Baru dalam Berislam (Sumber Gambar : Nu Online)

Mewadahi Gairah Baru dalam Berislam

Situasi seperti ini tentu harus disyukuri bahwa umat Islam memiliki posisi tawar yang terus menguat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya ekpresi yang berlebihan dari sekelompok kecil umat yang berpotensi merusak tatanan dan harmoni yang sudah ada mengingat Indonesia dari semula adalah negara dengan sejumlah keragaman. Keinginan mendirikan negara Islam tentu merusak kesepakatan besar yang sudah ada dari para pendiri bangsa. Merasa paling benar sendiri dan menegasikan kelompok lain yang memiliki potensi untuk turut membangun bangsa ini juga turut diwaspadai. 

Di sinilah peran NU sebagai kelompok Islam yang secara jumlah mayoritas dan pandangan keagamannya moderat memiliki posisi strategis. NU dapat menjadi penyeimbang dari kelompok kiri yang ingin menjadikan Indonesia ini sebagai negara sekuler atau dengan kelompok kanan yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara agama. Pertarungan dua kelompok ini secara nyata bisa dilihat dari sejumlah isu yang diangkat seperti isu perda syariah, isu PKI atau terkait dengan kontestasi politik praktis yang masing-masing kelompok memiliki preferensi berbeda terkait calon yang diusung. 

Sekalipun demikian, NU juga menghadapi tantangan internal, yaitu gerusan dari kelompok kiri yang menarik kader-kader NU untuk menjadi sekuler atau tarikan dari kelompok kanan yang menggaet santri-santri NU untuk ikut gerakan transnasional. Dalam situasi serba bebas dan kontestasi yang ketat inilah NU memiliki tugas berat untuk berdiri kokok di tengah, menjadi sokoguru untuk mempertahankan NKRI ini.  

Kawit An Nur Slawi

Pengurus NU dan para aktivis NU harus mampu menjadikan banyak orang merasa nyaman berada dalam naungan NU. Hal ini penting mengingat belakangan ini, semakin banyak orang tidak mengidentifikasi diri masuk organisasi keislaman tertentu. Dalam situasi tertentu, mereka rawan untuk dibawa arus mendukung isu-isu tertentu yang populer tetapi mengancam kebinekaan Indonesia. 

Kawit An Nur Slawi

Upaya merangkul atau mendakwahkan jalan moderat ini tentunya harus menyesuaikan diri dengan kondisi sosial masa kini atau sesuai dengan umur target mereka yang akan didakwahi. Tradisi terus tumbuh dan berkembang menyesuaikan dengan zaman. Misalnya, bisa jadi tidak tepat memaksakan orang di daerah perkotaan harus dibaan karena budaya yang ada berbeda. Bisa saja diganti dengan pembentukan kelompok musik islami, baca puisi atau segala sesuai yang menarik bagi generasi muda. Kegiatan bagi remaja Muslim perlu dikemas sesuai dengan kondisi kekinian. Wali Songo dahulu berhasil berdakwah dengan menyesuaikan diri pada budaya masyarakat. Prinsip dasar inilah yang harus terus dipegang, bukan mempertahankan tradisi yang sudah ada yang mungkin saja terlihat usang bagi generasi milenial. (Ahmad Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Quote, Lomba Kawit An Nur Slawi

Jumat, 12 Mei 2017

Kasatkornas Banser: Menjadi Anggota Banser, Niatlah untuk Ibadah

Madiun, Kawit An Nur Slawi. Kepala Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna atau Kasatkornas Banser, H Alfa Isnaeni mengajak anggota Banser untuk memperbaharui niat. Baginya, berkhidmat menjadi Banser untuk membentengi ulama dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebut juga sebagai ibadah memperjuangkan agama dan membela negara.

Kasatkornas Banser: Menjadi Anggota Banser, Niatlah untuk Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasatkornas Banser: Menjadi Anggota Banser, Niatlah untuk Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasatkornas Banser: Menjadi Anggota Banser, Niatlah untuk Ibadah

"Mari kita menata niat, memperbaharui niat ibadah," katanya, Ahad (14/1) malam. Hal tersebut disampaikan Alfa, sapaan akrabnya kepada ratusan anggota Banser pada acara pra-pelantikan Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Madiun masa khidmat 2017-2021 di aula kantor Kementerian Agama Kabupaten Madiun. 

"Bismillahirrahmanirrahim. Niat ingsun mlebu Banser, mlebu Ansor lillahi taala  (saya berniat masuk Banser dan Ansor, karena Allah taala). Dengan mengamalkan, mendakwahkan dan menjaga Islam Ahlussunnah wal Jama’ah Annahdliyah. Alfatihah, " ucapnya yang kemudian ditirukan seluruh anggota Banser.

Memperbaharui niat itu penting, katanya. Karena hati seseorang setiap waktu bisa berubah dan goyah. Menjadi anggota Banser jangan memiliki niatan lain, kecuali hanya satu niat yakni untuk ibadah.

Kawit An Nur Slawi

"Tidak ada niat Banser biar jadi bupati. Niat jadi DPR, tidak pernah ada. Tapi rata-rata yang diajarakan senior adalah masuk Banser karena bismillah niat untuk ibadah," katanya.

Alfa Isnaeni melanjutkan, banyak kiai dan habaib yang menjaminkan dirinya untuk kemuliaan Banser. Salah satunya diungkapkn oleh Rais ‘Am Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN), Habib Luthfi bin Yahya.

Kawit An Nur Slawi

"Dalam satu kesempatan Maulana Habib Luthfi pernah dawuh. Kalau saya diberikan hak oleh Allah untuk masuk surga, maka tidak akan saya gunakan hak saya sebelum kalian-kalian para anggota Banser ini masuk surga," tuturnya menirukan yang disampaikan Habib Lutfi

Oleh karena itu, anggota Banser harus bisa memantaskan dirinya agar bisa mendapatkan kemuliaan itu. "Tugas kita selalu berikhtiar memantaskan diri. Caranya dengan berusaha memperbaharui niat ibadah," tandasnya..

Ketua GP Ansor Madiun Khotamil Anam mengatakan, acara pra-pelantikan ini dilakukan dalam rangka konsolidasi antar seluruh kader Ansor dan Banser se-kabupaten Madiun.

Gus Anam, sapaan akrabnya mengapresiasi kekompakan seluruh kader yang telah menjaga iklim ketenangan di Madiun. Apalagi, katanya, tahun 2018 ini adalah merupakan tahun politik yang dapat memicu terjadinya perpecahan antar kader.

 "Terima kasih. Acara ini merupakan ajang silaturahmi, persahabatan antar seluruh kader Ansor Madiun. Sehingga akan terjalin erat tanpa ada unsur yang bisa memecah belah," katanya.

Tampak hadir pada acara ini, para ulama dan kiai, pengurus PCNU Kabupaten Madiun dan  seluruh badan otonom. Juga tampak sejumlah pejabat pemerintah, dan tamu undangan lain. (Zaenal Faizin/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Humor Islam, Ahlussunnah Kawit An Nur Slawi

Rabu, 10 Mei 2017

Ansor DIY Kecam Politisasi Kongres

Yogyakarta, Kawit An Nur Slawi

Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor NU Daerah Istimewa Yogyakarta mengecam keras kuatnya upaya politisasi kongres di Surabaya. Hal ini berkaitan dengan disingkirkannya banser dari arena kongres.

Demikian dikatakan Akhmad Fikri AF, ketua PW GP Ansor NU DIY lewat sambungan telepon, tadi pagi (11/1). "Yang bener saja, masa acara kita dijaga marinir. Ini namanya intervensi luar biasa," tegasnya.

Ansor DIY Kecam Politisasi Kongres (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor DIY Kecam Politisasi Kongres (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor DIY Kecam Politisasi Kongres

Pernyataan ini mendukung sikap H Tatang Hidayat yang menolak marinir menjadi pengaman acara kongres yang akan akan berlangsung di Surabaya, 13-17 Januari 2011, seperti yang diberitakan Kawit An Nur Slawi kemarin.

Kawit An Nur Slawi

"Sikap sahabat Tatang sudah pas dan sehat untuk dinamika organisasi. Kami mendukungnya 100%. Saifullah Yusuf jelas melakukan politisasi. Sebagai ketua umum, dia melakukan kesalahan besar," tambahnya.

Kawit An Nur Slawi

Fikri prihatin dengan kondisi Ansor saat ini. Ansor sekarang, kata dia, bukan hanya tidak independen, tapi juga sedah sangat mengkhawatirkan karena menjadi alat untuk meraih kesenangan dunawiyah para elitnya.

"Ini parah, para elit Ansor yang ada di Jakarta tidak mencerminkan semangat kaum Ansor Madinah zaman Nabi," imbuhnya. (hh)Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sholawat Kawit An Nur Slawi

Selasa, 09 Mei 2017

Siti Hajar Beri Layanan Gratis di "Kampung Ramadhan"

Sidoarjo, Kawit An Nur Slawi. Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo memberikan layanan dan pengobatan secara gratis kepada warga kota Delta yang berkunjung di “Kampung Ramadhan” yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur.

Siti Hajar Beri Layanan Gratis di Kampung Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Siti Hajar Beri Layanan Gratis di Kampung Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Siti Hajar Beri Layanan Gratis di "Kampung Ramadhan"

Kampung Ramadhan dibuka sejak 19 Juni hingga 12 Juli 2015 di alun-alun Sidoarjo. Tepat di bawah paseban alun-alun tersebut, berdiri tenda atau pos pengobatan dan konsultasi kesehatan gratis dari RSI Siti Hajar. Sekitar pukul 16.00 WIB hingga pukul 21.45 WIB tenda pengobatan itu dibuka.

"Tujuan kami adalah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat Sidoarjo yang ingin memeriksakan kesehatannya seperti periksa gula darah, tensi, konsultasi kesehatan gratis dan pengobatan gratis," kata Direktur RSI Siti Hajar Sidoarjo dr H Hidayatullah Sp.S melalui kepala marketingnya Riza Ahmadi Thohir, Selasa (7/7).

Kawit An Nur Slawi

Di lokasi itu, juga ada petugas dari RSI Siti Hajar yakni 1 dokter, 1 perawat dan 1 ambulance. Semuanya di siaga jika ada warga yang berkunjung ke kampung Ramadhan tiba-tiba sakit.?

Kawit An Nur Slawi

Ditambahkan Riza, tenda pengobatan RSI Siti Hajar merupakan salah satu bentuk sosial yang diberikan kepada masyarakat Sidoarjo umumnya dan khususnya kepada warga Nahdlatul Ulama.

"Itu semuanya disupport oleh manejer dan direktur RSI Siti Hajar karena kegiatan yang bersifat sosial sangat didukung dan selalu dikedepankan oleh manejemen. Tidak hanya sekeder bisnis, tetapi mendukung kegiatan-kegiatan sosial," pungkasnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Habib, Tegal Kawit An Nur Slawi

Senin, 08 Mei 2017

Agar Negara Tidak Bermain-main dengan Pajak

Para penyelenggara negara melakukan sesuatu yang membuat jengkel banyak orang, termasuk NU. Dunia perpajakan di Indonesia membuat jemu masyarakat banyak.

Bagaimana bisa? Dirjen Perpajakan memang sudah mengamalkan Pasal 23 UUD 1945 yang merupakan dasar hukum pemungutan pajak.

Agar Negara Tidak Bermain-main dengan Pajak (Sumber Gambar : Nu Online)
Agar Negara Tidak Bermain-main dengan Pajak (Sumber Gambar : Nu Online)

Agar Negara Tidak Bermain-main dengan Pajak

Pasal tersebut berbunyi “Segala pajak-pajak untuk kegunaan kas negara berdasarkan undang-undang.” Dirjen Pajak sampai kini terus memungut pajak dari wajib pajak yang ditentukan dalam undang-undang. Hanya saja hasil pungutan pajak tidak masuk sepenuhnya ke dalam kas negara. Penyebabnya tentu rupa-rupa, antara lain pengemplangan pajak oleh pengusaha menengah sampai kakap. Kebocoran ini membuat banyak orang susah tidur nyenyak.

Kawit An Nur Slawi

Mengingat tetangga dan warga NU banyak yang mengigau sewaktu tidur, bahkan ada yang penyakit Asmanya kambuh karena kenyataan itu, PBNU memasukkan persoalan perpajakan dalam Munas-Konbes NU 2012, 14-18 September lalu di Pesantren Kempek, Cirebon.

Dalam sidang khusus yang terbentuk dalam Komisi Bahtsul Masail Diniyah Alwaqi’iyah, permasalahan pajak dikupas serius oleh syuriah PWNU se-Indonesia. Pertanyaan ”Bagaimana hukum penerapan pajak di Indonesia?” mengapung di ruang sidang. Dua kelas pondok yang dibobol menjadi lorong panjang, sementara dijadikan ruang sidang oleh para kiai NU se-Indonesia.

Kawit An Nur Slawi

Sementara bangku panjang jajaran ketua panitia sidang komisi, tepat berada di bawah sebuah banner bertuliskan ”Komisi Bahtsul Masa’il Diniyah Alwaqi’iyah, Munas-Konbes NU 2012, 14-18 September 2012, Pesantren Kempek, Palimanan, Cirebon.” Di saat yang sama, empat baris kitab fikih masing-masing bertumpuk setinggi 1,3 meter di sisi kanan meja ketua komisi sidang.

Usai membahas sejumlah persoalan, masalah perpajakan dibahas tepat pada pukul 11.00 Sabtu (15/9) siang. Sementara itu dua santri Pesantren Kempek membagikan minuman kaleng untuk menyegarkan peserta sidang dari sengatan matahari Cirebon. Selain panasnya bumi Cirebon, pajak adalah satu persoalan yang cukup menyita waktu dan keseriusan para peserta sidang. Karena persoalan pajak menyangkut kas negara yang menjadi urat nadi kehidupan semua warga.

Berdasarkan fikih, peserta sidang memutuskan bahwa pada dasarnya pajak adalah bukan merupakan kewajiban agama yang harus dibayar oleh semua orang Islam. Pajak sebagai satu sumber pendapatan negara, bisa dihapus sejauh negara mampu mengongkosi pengeluarannya sendiri.

Tetapi kalau negara sudah mengelola kekayaan alam dengan benar dan maksimal, sementara kas negara tetap tidak mampu mengongkosi dirinya, maka negara boleh mewajibkan pajak kepada semua rakyatnya yang mampu.

Bagaimana dengan rakyat miskin? Peserta sidang komisi mengharamkan negara memungut pajak dari mereka. Peserta sidang khawatir menarik syaraf ketersinggungan negara karena dianggap selain tidak mengurangi kesusahan orang miskin, justru membanduli punggung mereka dengan aneka pungutan.

Meskipun banyak penyelewangan dan pengemplangan pajak di sana-sini oleh konglomerat dan petugas pajak, peserta yang datang ke ruang sidang tetap memiliki kewarasan yang utuh walau tanpa tes kejiwaan sebelumnya. Peserta sidang tetap mewajibkan pemungutan pajak dari wajib pajak. Kiai NU tidak mau menutup satu pendaringan negara; pajak.

Di saat yang sama, para kiai NU yang mengikuti sidang mendesak pemangkasan korupsi dan kebocoran di kanan-kiri baik lewat pintu depan atau jendela belakang rumah pajak. Kalau negara masih bercanda dalam menyiangi penggelapan pajak dan tidak mengalirkannya untuk kesejahteraan rakyat, maka kewajiban rakyat untuk membukakan pintu bagi petugas pajak dipertimbangkan. (Alhafiz Kurniawan / Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pendidikan Kawit An Nur Slawi

Minggu, 07 Mei 2017

Puasa Setengah Hari Masa Kecil Pak Menteri

Jakarta, Kawit An Nur Slawi?



Menteri Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Rudiantara mengaku diajari berpuasa oleh keluarga sejak ia masa kecil. Sebagaimana umum anak-anak seusianya, ia hanya bisa melaksanakan puasa setengah hari.?

“Saya diajari dengan puasa setengah hari karena ganjarannya diberi bonus oleh orang tua setengah hari juga. Padahal kita tahu tidak ada puasa setengah hari itu,” katanya di gedung PBNU sebelum meresmikan Nusantara Command Center (NCC) Senin (22/5).?

Puasa Setengah Hari Masa Kecil Pak Menteri (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Setengah Hari Masa Kecil Pak Menteri (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Setengah Hari Masa Kecil Pak Menteri

Namun ia menilai, puasa setengah hari itu merupakan cara mendidik yang baik orang tua kepada anak agar kelak setelah dewasa terbiasa melakukannya.?

“Saya dibesarkan di Bogor, dididk orangtua, terutama nenek saya,” lanjutnya meriwayatkan masa kecilnya.?

Kawit An Nur Slawi

Neneknnya, adalah pihak yang mendukung dia dalam menimba ilmu-ilmu agama dengan mengirimkannya ke sekolah agama sore hari.?

Jika ia malas pergi ke madrasah, maka neneknya itu akan memanggil tukang becak agar mengantarkan Rudiantara ke madrasah.?

Kawit An Nur Slawi

“Supaya saya ikut kelas. Kalau enggak, nanti saya malas. Sampai sekarang saya tidak lupa itu,” katanya.?

Makanya, lanjut dia, saat dia berdoa untuk orangtuanya, ia selalu menyertakan nama neneknya.?

“Karena saya tidak bisa baca Qur’an, tidak bisa baca nahwu sharaf, grammer (tata bahasa) segala rupa kalau tanpa nenek saya. Saya di Bogor di Madrasah Ibtidaiyah belajar nahwu, sharaf, fiqih, tauhid, di Jalan Menteng,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Sunnah, Bahtsul Masail, Halaqoh Kawit An Nur Slawi

KH Masdar: Harus Ada Sanksi Telak Buat Pelaku Kekerasan Seksual pada Anak

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi menilai kekerasan seksual terhadap anak sebagai tindak pidana berat (jarimah). Menurut Kiai Masdar, daya rusak tindak kekerasan seksual terhadap anak mencakup fisik dan psikis yang berkepanjangan. Karenanya, perlu sanksi yang kuat demi generasi mendatang.

KH Masdar: Harus Ada Sanksi Telak Buat Pelaku Kekerasan Seksual pada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masdar: Harus Ada Sanksi Telak Buat Pelaku Kekerasan Seksual pada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masdar: Harus Ada Sanksi Telak Buat Pelaku Kekerasan Seksual pada Anak

“Kami mendukung sanksi telak dan keras untuk pelaku karena anak-anak adalah masa depan kita,” kata Kiai Masdar dalam diskusi wacana sanksi kebiri untuk pelaku kejahatan seksual di Jakarta, Kamis (5/11) sore.

Pada kajian yang diadakan Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU dan PP Fatayat NU, Kiai Masdar menegaskan upaya pencegahan kejahatan seperti ini tidak cukup. Menurutnya, pemerintah perlu memberlakukan sanksi yang membuat orang untuk berpikir 100% untuk menjalankan niat jahatnya.

Kawit An Nur Slawi

Ia menawarkan sanksi “cash and carry” untuk pelaku kekerasan seksual yang sudah adiktif. Menurutnya, sanksi “cash and carry” selesai pasca eksekusi. Negara tidak perlu lagi terbebani oleh biaya rehabilitasi, biaya gaji sipir, akomodasi makan dan ruang seperti penjara yang biayanya akan menjadi mahal. Tetapi harus ada pembuktian yang pasti sehingga tidak terjadi putusan syubhat.

Kawit An Nur Slawi

Terkait bentuk sanksi, Kiai Masdar tidak menunjuk bentuk sanksi yang dimaksud dengan cash and carry. Ia hanya sempat menyinggung kebiri kimiawi atau pemandulan dan sejenisnya. Kiai Masdar meminta forum diskusi untuk mencari bentuk sanksi yang tepat tanpa kemungkinan beban baru APBN.

Menurutnya, Allah mengutus nabi-nabi khusus untuk memberantas penyakit khusus seperti ini di masyarakat. “Kalau kita fokus memerhatikan penanganan kekerasal seksual ini, ‘langit’ pasti turun tangan,” jelas Kiai Masdar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Budaya, Santri Kawit An Nur Slawi

Kamis, 04 Mei 2017

Bank Sampah NU Buka Cabang di MTsN 34 Jakarta

Jakarta, Kawit An Nur Slawi - Bank Sampah Nusantara Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (BSN LPBINU) turut serta dalam pameran yang dilaksanakan selama dua hari (26-27 April) di sekolah MTsN 34 Jakarta.

Peluncuran BSN LPBINU di MTs yang beralamat di Blok Karya Lama, Jalan Skuadron Blok Karya Lama No 61, RT 13 RW 04, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, itu dihadiri langsung oleh Direktur BSN LPBINU Fitria Aryani.

Bank Sampah NU Buka Cabang di MTsN 34 Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Bank Sampah NU Buka Cabang di MTsN 34 Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Bank Sampah NU Buka Cabang di MTsN 34 Jakarta

Fitri mengatakan, sampah merupakan sesuatu yang menakutkan bagi masyarakat ketika terjadinya banjir. Sampah-sampah perlu diolah sehingga menghasilkan produk baru. Di sinilah BSN LPBINU memberikan manfaat bagi siswa di sekolah. Wali murid dan masyarakat sekitar dilibatkan dalam proses pengolahan sampah sehingga mengurangi pembuangan sampah sembarangan.

Kawit An Nur Slawi

Saat ini, tambahnya, BSN LPBINU bekerja sama dengan BNI 46 di antaranya mengadakan beasiswa sampah.

Pembukaan cabang BSN LPBINU di MTsN 34 Jakarta disambut baik oleh kepala sekolah MTsN 34 Jakarta Ahmad Hakim. Menurut Hakim, MTsN 34 Jakarta saat ini dijuluki dengan sekolah tempat sampah karena setiap musim hujan sekolah tersebut menjadi langganan kebanjiran.

Kawit An Nur Slawi

Akibat dari banjir tersebut banyak sekali sampah yang bertumpukan di sekolah dan sangat menganggu aktivitas belajar. Pihak sekolah kewalahan dalam proses pembersihan dan pembuangan sampah paska banjir.

Baginya, kehadiran BSN LPBINU di MTsN 34 Jakarta memberi manfaat yang nyata bagi dunia pendidikan dan sekitar. Sampah-sampah yang di hasilkan baik oleh warga sekolah seperti kertas sisa ulangan dan plastik minuman dan sampah rumah tangga yang dihasilkan oleh masyarakat sekitar bisa bernilai ekonomis melalui program daur ulang. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pertandingan, Pendidikan, Pondok Pesantren Kawit An Nur Slawi

KH Muzammil Ghazali Pamekasan Ungkap 5 Virus Pemicu Kemunduran

Pamekasan, Kawit An Nur Slawi. Kebodohan menjadi virus utama pemicu kemunduran. Karena ia dapat menjerumuskan siapa pun ke dalam lembah kejahatan

KH Muzammil Ghazali Pamekasan Ungkap 5 Virus Pemicu Kemunduran (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Muzammil Ghazali Pamekasan Ungkap 5 Virus Pemicu Kemunduran (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Muzammil Ghazali Pamekasan Ungkap 5 Virus Pemicu Kemunduran

Demikian ditegaskan Rais PCNU Pamekasan KH Muzammil Ghazali di acara Maulid Nabi Yayasan At-Taqwa, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan, Sabtu (17/12). Karena itu, Kiai Muzammil menekankan kepada hadirin yang terdiri dari kaum muslimat, tokoh NU, GP Ansor, IPNU, IPPNU, agar berupaya kuat menghindari kebodohan.

"Tentu dengan jalan belajar sepanjang waktu. Meskipun sudah sarjana atau menikah, bukan berarti putus belajarnya. Salah satu ciri orang bodoh ialah suka diadu domba dan mudah diadu domba," terangnya.

Virus kemunduran yang kedua ialah pelit (al-juhlu). Untuk menghindarinya, minimal taruhlaj simpanan di BMT NU, jangan di bank.

Kawit An Nur Slawi

"Ketiga, akhlak jelek (fasadul akhlaq). Tanpa akhlak, semuanya rusak. Ketika mau mengeritik, misalnya, lakukan dengan baik tanpa kekerasan. Plesetan Allahu Akbar yang dipakai buat kerusakan, itu bagian dari akhlak jelek," ujar Kiai Muzammil.

Hilangnya persatuan (adamul ittihad) adalah virus penyebab kemunduran yang keempat. Sementara yang kelima ialah cinta dunia (hubbud dunya).

Kawit An Nur Slawi

"Cinta dunia adalah sumber dari segala kerusakan. Karenanya, perlakukan rezeki yang kita miliki dengan sebaik mungkin. Jangan rakus!" tukasnya.

Dalam kesempatan itu, Kiai Muzammil juga mengungkap tiga golongan yang dapat menjadi teduham kelak di akhirat. Yaitu, para nabi, ulama, dan syuhada. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Internasional, Pertandingan, Daerah Kawit An Nur Slawi

Selasa, 02 Mei 2017

Ratusan Pelajar NU Jateng Bersihkan Pantai Sendang Asih Rowosari

Kendal,Kawit An Nur Slawi. Sekitar 150 anggota Corp Bridage Pembagunan (CBP) IPNU dan Korp Pelajar Putri (KPP) IPPNU se- Jawa Tengah menghadiri konsolidasi dan bhakti sosial Dewan Kordinasi Wilayah (DKW) CBP KPP pada Sabtu – Ahad (19-20/11) .

Ratusan Pelajar NU Jateng Bersihkan Pantai Sendang Asih Rowosari (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Pelajar NU Jateng Bersihkan Pantai Sendang Asih Rowosari (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Pelajar NU Jateng Bersihkan Pantai Sendang Asih Rowosari

Mereka membersihkan pantai Sendang Asih Rowosai, Kendal dengan berbekal kantong kresek dan kardus bekas. Semua anggota CBP dan KPP memungut sampah di sepanjang pantai tersebut.

Kegiatan pra-Konferwil IPNU dan IPPNU Jawa Tengah ini dihadiri langsung Ketua PW IPNU Jawa Tengah Amir Mustofa Zuhdi didampingi ketua PC IPNU Kendal Kholid Abdillah serta Ketua PW IPPNU yang diwakili Azizah.

Kawit An Nur Slawi

Amir mengatakan”CBP-KPP sebagai garda terdepan IPNU IPPNU harus bisa mengawal persatuan kesatuan NKRI, respon terhadap situasi dan kondisi bangsa.

Kawit An Nur Slawi

“CBP KPP Sebagai candradimuko IPNU IPPNU harus selalu mengawal kebijakan-kebijakan IPNU IPPNU. CBP KPP diharapkan bisa mengawal kesuksesan konferwil dan bisa mengulang kesuksesan pada pengawalan kongres tahun kemarin, CBP KPP juga harus peduli dan cinta terhdp lingkungan dan alam di sekitar kita”. Lanjut Amir

Komandan DKW CBP IPNU Jawa Tengah Arif Khoirul Munif mengatakan konsolidasi pra konferwil merupakan hal yang sangat perlu.

“Untuk mensukseskan permusyawaratan tertinggi di tingkat wilayah atau Konferwil IPNU IPPNU pada tanggal 10-13 Desember 2016 di Brebes perlu diadakannya acra konsolidasi supaya tercipta rasa emosional yang baik antaranggota yang nantinya akan ditugaskan sebagai tim inti keamanan dalam acara konferwil sehingga dapat menjalankan tugas secara maksimal” pungkas Arif. (Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sejarah Kawit An Nur Slawi

Senin, 01 Mei 2017

Hikayat Perang Sabil

Perang Sabil berasal dari kalimat jihad fi sabilillah adalah sebutan untuk peperangan melawan musuh yang dianggap memusuhi Islam. Seluruh perang melawan musuh Islam adalah perang sabil termasuk perang Diponegoro di Jawa dan perang Aceh.?

Kisah-kisah perang melawan Belanda di Aceh tertulis dalam hikayat yang dikenal dengan nama Hikayat Perang Sabil atau Hikayat Prang Sabi.?

Di Aceh Hikayat Prang Sabi adalah nama yang diberikan kepada sejumlah teks, baik yang diberi judul Hikayat Perang Sabil maupun tidak, yang isinya membicarakan tentang perang sabil. Hikayat Perang Sabil merupakan karya sastra perang karena memang diciptakan pada masa perang dan memberi semangat kepada para prajurit untuk bertahan melawan musuh.

Hikayat Perang Sabil (Sumber Gambar : Nu Online)
Hikayat Perang Sabil (Sumber Gambar : Nu Online)

Hikayat Perang Sabil

Hikayat dapat dikatakan sebagai sebuah kisah atau cerita naratif yang ditulis dalam bentuk berirama yang bertujuan untuk memberi nasihat dan semangat kepada orang-orang untuk terjun ke medan peperangan melawan orang-orang kafir. Isinya juga mengandung muatan ajaran dan petuah untuk bertakwa kepada Allah.

Kawit An Nur Slawi

Berbeda dengan sastra Melayu yang mengenai hikayat sebagai prosa, dalam sastra Aceh hikayat adalah puisi di luar jenis pantun, nasihat, dan kisah. Hikayat ditulis dalam bentuk sajak. Kata hikayat berasal dari bahasa Arab yang artinya cerita, namun ? bagi orang Aceh tidak hanya berisi cerita fiksi belaka, tetapi berisi pula butir-butir yang menyangkut pengajaran moral.

Orang Aceh sangat senang mendengarkan pembacaan hikayat yang sampai pada awal abad 20 merupakan hiburan yang utama. Pembacaan hikayat perang sabil dilakukan sebelum orang maju ke medan pertempuran. Tradisi membaca hikayat sebelum orang terjun ke dalam peperangan adalah tradisi dalam kebudayaan Melayu. Ketika perang melawan Belanda, masyarakat Aceh membaca hikayat perang sabil di dayah-dayah atau pesantren, di meunasah, di rumah, maupun di tempat lain ? sebelum orang pergi berperang.

Sejauh ini baru diketahui dua naskah yang menyebut sumber hikayat perang sabil. Pertama adalah ? naskah dalam Bahasa Aceh tertulis pada 11 Syaban 1122H ? (5 Oktober 1710) yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Negeri Leiden Belanda. Meskipun nama pengarangnya tidak tercantum di dalam naskah hikayat perang sabil yang tertua itu, penggubahnya menyebutkan karangan yang disusunnya itu bersumber pada sebuah kitab berjudul Mukhtasar MuthiriI-gharam. Pengarang juga menyebutkan bahwa ? sumber untuk menyusun kitab ini berasal dari Syaikh Ahmad Ibn Musa, yang mungkin sekali adalah penulis kitab Mukhtasar tersebut di atas.?

Kawit An Nur Slawi

Sumber yang kedua adalah hikayat perang sabil yang juga tertulis dalam Bahasa Aceh pada tahun 1834, beberapa puluh tahun sebelum pecahnya perang melawan Belanda pada tahun 1873. Meskipun nama pengarang juga tidak tersebut dalam naskah, namun penggubah hikayat ini menyebutkan bahwa sumbernya berasal dari kitab karangan ulama besar Syaikh Abdussamad al-Palimbani yang pada awal tahun 1760-an bertempat tinggal di Mekah. Syaikh Abdussamad al-Palimbani menulis berbagai kitab di Mekah. Salah satu di antaranya adalah Nasihat al-Muslimin atau lengkapnya Nasihat al-Muslimin wa Tadhkirat al-Muminin fi Fadhail al-Jihad fi Sabilillah wa-Karamat al-Mujahidin fi Sabilillah.

Dari segi genre atau jenis, Hikayat Perang Sabil mempunyai dua genre, yakni tambeh dan epos. Hikayat Prang Sabil bergenre tambeh kebanyakan ditulis oleh para ulama yang berisi nasihat, ajakan, dan seruan untuk terjun ke medan jihad fi sabilillah, menegakkan agama Allah dari rongrongan kafir demi mendapatkan imbalan pahala yang besar.

Hikayat Perang Sabil berjudul Hadzihi Qishshah Nafsiyyah yang merupakan saduran dari risalah ? Abdus Samad al-Palimbani ? berjudul Nashihatul Muslimin tersebut di atas adalah hikayat yang bergenre tambeh. Sedangkan hikayat berjudul Hikayat Prang Sabi adalah karya Teungku Chik Pante Kulu yang ditulis atas perintah kakaknya. Diduga yang dimaksud dengan kakaknya tersebut adalah Teungku Cik Ditiro karena pada tahun 1881 ia diangkat menjadi panglima perang sabilillah, sedangkan Teungku Chik Pante Kulu sendiri merupakan tangan kanannya.

Sedangkan yang bergenre epos adalah hikayat yang melukiskan peristiwa perang yang berlangsung di berbagai tempat di Aceh. Hikayat ini menggambarkan keberanian dan keperkasaan perlawanan para pejuang Aceh hingga tewas sebagai syuhada.?

Kisah-kisah kepahlawanan itu lalu dikisahkan dalam bentuk epos, seperti Hikayat Prang Sigli (1878), Hikayat Prang Geudong (1898), dan lain-lain. Dalam hikayat-hikayat perang yang terdapat di Aceh ini dikisahkan bahwa mati dalam berperang melawan Belanda yang dianggap kaphe (kafir) adalah mati syahid dan orang yang syahid akan diampuni segala dosanya serta dimasukkan oleh Allah ke dalam surga.

Dari segi isi, hikayat-hikayat perang sabil dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu: pertama, yang berisi anjuran untuk berperang sabil dengan menunjukkan pahala, keuntungan, dan kebahagiaan yang akan diraih. Kedua, yang berisi berita mengenai tokoh atau keadaan perang di suatu tempat yang patut disampaikan kepada masyarakat agar mendorong semangat orang-orang muslimin yang sedang berjihad. Ketiga, yang mencakup kedua kategori yang tersebut di atas. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi IMNU, Humor Islam Kawit An Nur Slawi