Minggu, 13 November 2011

15 Pesantren di Madura Akan Berlaga pada LSN Jatim IV

Bangkalan, Kawit An Nur Slawi - Panitia Liga Santri Nusantara (LSN) 2016 Regional Jatim IV menyelesaikan semua tahapan persiapan liga. Mereka kemudian melangsungkan liga sepakbola antarpesantren ini sejak Ahad, (28/8). Sebanyak 15 pesantren di Madura ini akan bertanding selama sepekan ke depan.

Menurut Koordinator LSN 2016 Regional Jatim IV Ra Sani, pesantren yang berpartisipasi dalam liga ini sejatinya meliputi empat kabupaten di Madura. Namun, hingga batas akhir pendaftaran hanya 15 pesantren di Bangkalan yang bisa berpartisipasi.

15 Pesantren di Madura Akan Berlaga pada LSN Jatim IV (Sumber Gambar : Nu Online)
15 Pesantren di Madura Akan Berlaga pada LSN Jatim IV (Sumber Gambar : Nu Online)

15 Pesantren di Madura Akan Berlaga pada LSN Jatim IV

“LSN 2016 bukan semata-mata adu keterampilan antara pemain yang terlibat, namun lebih dari itu adalah merupakan media untuk menanamkan rasa persaudaraan, silaturahmi, kebersamaan, kejujuran, dan sportifitas,” jelas Ra Sani yang juga Ketua GP Ansor Bangkalan.

Kawit An Nur Slawi

Sementara Wakil Bupati Bangkalan H Mondir Rofii membuka secara resmi gelaran acara hasil kerja sama Kemenpora dan PBNU ini. Ia berharap dari proses kompetisi ini lahir bibit-bibit sepakbola dari kalangan pesantren.

Kawit An Nur Slawi

“Selain melahirkan bibit pesepakbola usia dini, dari gelaran kompetisi ini juga dapat ditanamkan nilai-nilai kejujuran dan sportifitas,” kata Ra Mondir.

Upacara pembukaan LSN Jatim IV berlangsung di alun-alun utara Bangkalan yang ditandai dengan tendangan kehormatan oleh Koordinator Regional. Wakil Bupati, Dandim 0329 Bangkalan, Waka Polrest Bangkalan, PCNU Bangkalan, dan Koordinator Regional ini melakukan penandatanganan komitmen pembinaan sepakbola kalangan pesantren di atas bola masing-masing. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hadits, Kajian Kawit An Nur Slawi

Jumat, 04 November 2011

Anre Gurutta Sanusi Baco: Gus Dur Pernah Sakit Cinta yang Tak Pernah Sembuh

Jakarta, Kawit An Nur Slawi - Sudah mafhum bahwa Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah sahabat KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. Sebagai sahabat Gus Dur, Gus Mus berkali-kali mengungkapkan di hadapan publik tentang kedekatannya dengan pria yang menjadi presiden ke-4 Republik Indonesia ini.

Namun, tulisan ini bukan ingin mengangkat sosok Gus Dur dari Gus Mus, atau tentang kedekatan keduanya, melainkan dari sahabat Gus Dur yang lain, yang juga pernah bersama-sama mengenyam pendidikan di Mesir, yaitu Anre Gurutta Haji Sanusi Baco.

Anre Gurutta Sanusi Baco: Gus Dur Pernah Sakit Cinta yang Tak Pernah Sembuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Anre Gurutta Sanusi Baco: Gus Dur Pernah Sakit Cinta yang Tak Pernah Sembuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Anre Gurutta Sanusi Baco: Gus Dur Pernah Sakit Cinta yang Tak Pernah Sembuh

Pada acara Sewindu Haul Gus Dur di Jalan Warung Silah Nomor 10, Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat (22/12), Anre Gurutta Sanusi Baco hadir dan menjadi satu dari dua kiai yang didaulat untuk mengisi taushiyah.

Di sela-sela taushiyah, Anre Gurutta yang juga menjadi Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membeberkan rahasia Gus Dur saat keduanya bersama-sama belajar di Mesir.

Kawit An Nur Slawi

Pada waktu di Mesir, mereka berdua tinggal pada asrama yang sama dan kamar keduanya berdekatan. Jarak kamar keduanya yang tidak jauh itulah memungkinkan satu sama lain mengetahui aktivitasnya, termasuk saat Anre Gurutta Sanusi memergoki Gus Dur yang sedang membuka-buka catatan di kamar.

Kawit An Nur Slawi

Menurut Anre Gurutta Sanusi, di antara catatan tersebut terdapat foto seorang perempuan yang di kemudian hari menjadi teman hidupnya, Nyai Sinta Nuriyah Wahid.

"Tadinya dia mau disembunyikan (foto), tapi saya lebih dulu melihat," kata Anre Gurutta Sanusi, yang disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Anre Gurutta Sanusi pun merasa penasaran dengan foto yang dilihatnya. "Ini foto apa Gus Dur," tanya Gurutta Sanusi Baco.

"Tau lah. Calonku," jawab Gus Dur.

"Bagaimana bisa belajar kalau ada itu foto terus," kembali Gurutta Baco menyergah dengan logat timurnya.

"Malah ini yang mendorong saya belajar," jelas Gus Dur. Hadirin pun kembali dibuat tertawa dan tepuk tangan.

Foto Nyai Sinta Nuriyah Wahid pun disimpan Gus Dur sampai pulang ke Indonesia. Gus Dur, kata Kiai Sanusi Baco, mencintainya sampai akhir hayat.

"Gus Dur pernah sakit cinta dan tidak pernah sembuh sampai akhir hayat," katanya diikuti tepuk tangan hadirin. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nusantara Kawit An Nur Slawi