Kamis, 30 November 2017

PBNU Intruksikan Nahdliyin Nonton "Sang Kiai"

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengintruksikan segenap pengurus NU wilayah dan cabang di seluruh Indonesia untuk mengajak kalangan pondok pesantren dan warga Nahdliyin menonton film Sang Kiai. Instruksi tersebut harus diteruskan ke tingkat MWC (kecamatan) dan Ranting (desa).

Intruksi yang dikeluarkan resmi oleh PBNU dengan nomor: 2771/C.I.33/06/2013 pada tanggal 25 Rajab 1434 H bertepatan dengan 4 Juni  2013 M tersebut ditandatangani Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Sekretaris Jenderal PBNU H. Marsudi Syuhud.

Dalam intruksi tersebut disebutkan pandangan PBNU terhadap film Sang Kiai. Pertama, film tersebut menggambarkan dengan tapat perjuangan pendiri NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dalam melawan penjajah Jepang maupun Belanda untuk merebut kemerdekaan dan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selama ini disembunyikan sejarah Indonesia. Dalam film ini menunjukkan bahwa NU adalah pendiri NKRI.

PBNU Intruksikan Nahdliyin Nonton Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Intruksikan Nahdliyin Nonton Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Intruksikan Nahdliyin Nonton "Sang Kiai"

Kedua, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari digambarkan dalam film tersebut dengan gamblang menegaskan bahwa agama dan nasionalisme tidak dapat dipisahkan, karena bagi kalangan pesantren/NU agama adalah sumber samangat mencintai tanah air dan menyuburkan kesadaran mengenai kebangsaaan.

Ketiga, film tersebut dapat dijadikan media efektif untuk memelihara semangat kebangsaan, bahan pelajaran sejarah perjuangan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dan Nahdlatul Ulama dalam merebut dan mengakkan Indonsia merdeka di kalangan warga NU, khususnya di kalangan anak-anak muda, sebagai calon penerus perjuangan bangsa dan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

 

Kawit An Nur Slawi

Penulis: Abdullah Alawi

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Warta Kawit An Nur Slawi

LP Maarif Siapkan Perkemahan Nasional di NTB

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Lembaga Pendidikan Maarif Nahdhatul Ulama dalam waktu dekat akan menggelar Perkemahan Wirakarya Pramuka Maarif Nasional (Perwimanas) di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Rencana ini sesuai dengan program kerja hasil Rapat Kerja Pengurus Pusat LP Maarif NU di Pondok Pesantren Al-Ittihad, Poncol, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada 30 Oktober-1 November 2015 lalu.

Wakil Sekretaris LP Maarif NU Pusat Ihsanudin mengatakan, penyelenggaraan Perwimanas ini merupakan salah satu program unggulan LP Maarif NU yang berorientasi pada pembentukan karakter kepemimpinan, internalisasi nilai-nilai kebangsaan terhadap siswa dan siswi Pramuka tingkat SLTA sehingga tujuan dari pendidikan dapat tecapai.

LP Maarif Siapkan Perkemahan Nasional di NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif Siapkan Perkemahan Nasional di NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Maarif Siapkan Perkemahan Nasional di NTB

"Program ini akan kami laksanakan pada awal tahun 2016 di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tentu saja akan melibatkan banyak pihak, terutama? peserta hasil seleksi dari masing-masing wirakarya di setiap kabupaten/kota di seluruh Indonesia," ungkapnya di Jakarta, Sabtu (14/11).

Kawit An Nur Slawi

Ihsanudin menambahkan, setiap peserta akan diberikan pelatihan khusus terkait kepemimpinan dan keterampilan sehingga ketika pulang ke daerahnya masing-masing peserta sudah tidak gagap dengan situasi dan kondisi apapun. Peserta menjadi berwawasan luas, kreatif, terampil, pemberani dan berakhlaqul karimah.

Olimpiade Aswaja

Kawit An Nur Slawi

Satu hal yang unik dari Perwimanas nanti, katanya, adalah Olimpiade Aswaja. Olimpiade ini diselenggarakan untuk menguji sejauh mana pengetahuan peserta terkait paham keislaman dan keindonesiaan. Sehingga misi kerukunan antarumat beragama dan antarbangsa dapat diwujudkan.

Selain itu, LP Maarif NU memastikan acara pembukaan Perwimanas di Lombok, Nusa Tenggara Barat ini dihadiri Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Ketua Kwartir Nasional Adiyaksa Daud, dan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat TGH. M. Zainul Majdi.

LP Maarif NU berharap penyelenggaraan Perwimanas 2016 dapat terlaksana secara sukses dan mendapatkan manfaat bagi kita semua, agama, bangsa, dan negara. (Red: Mahbib)

?

Foto: Ilustrasi (rakyatsultra.co.id)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Fragmen, News Kawit An Nur Slawi

Tata Cara Khutbah Idul Fitri atau Idul Adha

Di antara yang membedakan antara shalat id (Idul Fitri atau Idul Adha) dan shalat sunnah pada umumnya adalah adanya khutbah. Keberadaan khutbah yang mengiringi pelaksanaan shalat bisa dianggap penanda bahwa shalat tersebut ada pada momen yang penting, seperti khutbah jum’at yang digelar pada hari berjuluk sayyidul ayyâm (rajanya hari) dan khutbah istisqa’ kala umat Islam dilanda kekeringan.

Idul Fitri dan Idul Adha adalah waktu istimewa. Karena posisinya yang spesial ini, Rasulullah memerintahkan umat Islam untuk berduyun-duyun keluar rumah untuk bersama-sama merayakan hari bahagia tersebut. Perempuan haid juga bisa turut melakukan hal yang sama, meski terpisah dari tempat shalat (lihat hadits riwayat Imam Bukhari Nomor 928). Mereka berhak mendengarkan khutbah, melantunkan takbir, doa, atau dzikir lainnya.

Tata Cara Khutbah Idul Fitri atau Idul Adha (Sumber Gambar : Nu Online)
Tata Cara Khutbah Idul Fitri atau Idul Adha (Sumber Gambar : Nu Online)

Tata Cara Khutbah Idul Fitri atau Idul Adha

Dalam kitab al-Fiqh al-Manhajî ‘ala Madzhabil Imâm asy-Syâfi‘î karya Musthafa al-Khin, Musthafa al-Bugha, dan Ali asy-Asyarbaji diterangkan bahwa berbeda dari shalat jum’at, khutbah pada shalat id dilaksanakan setelah shalat dua rakaat usai, bukan sebaliknya. Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim menjelaskan bahwa Nabi Muhammad, Abu Bakar, dan Umar juga menunaikan dua shalat id sebelum khutbah.

Kawit An Nur Slawi

Hukum khutbah dalam shalat id memang sunnah. Namun, ketika dikerjakan ia harus tetap memenuhi rukun khutbah. Rukun khutbah pada shalat id tidak berbeda dari rukun khutbah pada shalat jum’at, yakni memuji Allah, membaca shalawat, berwasiat tentang takwa, membaca ayat Al-Quran pada salah satu khutbah, serta mendoakan kaum Muslimin pada khutbah kedua.

Kawit An Nur Slawi

Khatib yang disyaratkan berdiri (bila mampu) saat berkhutbah disunnahkan menyela kedua khutbah dengan duduk sebentar. Sebagaimana diungkap dalam hadits Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah yang berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk.” (HR Asy-Syafi’i)

Pada khutbah pertama khatib disunnahkan memulainya dengan membaca takbir hingga sembilan kali, sedangkan pada khutbah kedua membukanya dengan takbir tujuh kali.

Saat khutbah berlangsung, jamaah diperintahkan untuk tenang, mendengarkannya secara seksama, agar memperoleh proses kesempurnaan shalat id. Wallâhu a’lam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hadits Kawit An Nur Slawi

IPNU Probolinggo Gelar Seminar Kewirausahaan

Probolinggo, Kawit An Nur Slawi. Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-61 Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Probolinggo menggelar seminar kewirausahaan di Gedung Djoyolelono, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (21/3).

IPNU Probolinggo Gelar Seminar Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Probolinggo Gelar Seminar Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Probolinggo Gelar Seminar Kewirausahaan

Seminar yang mengambil tema “Hijrah Mindset, Dari Kuli Menjadi Bos” ini diikuti 300 peserta dari Pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo, lembaga, lajnah, santri, siswa dan badan otomom (banom) NU. Hadir juga Perwakilan GP Ansor, MWCNU, Pergunu dan Fatayat NU Kabupaten Probolinggo.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo H. Asy’ari. Dalam sambutannya, Asy’ari mengapresiasi kegiatan tersebut yang dinilai sesuai dengan program pemerintah daerah tentang pengembangan ekonomi rakyat melalui Usaha Kecil Menengah (UKM).

Kawit An Nur Slawi

“Pemerintah Daerah sangat mendukung kegiatan ini karena sejalan dengan program untuk mencetak entrepreneur atau wirausahawan baru sebanyak-banyaknya dalam rangka menciptakan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran,” ungkapnya.

Kawit An Nur Slawi

Sementara Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono mengungkapkan, seminar kewirausahaan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan tentang dunia usaha dan menjadi seorang pengusaha terhadap pelajar dan santri. “Sehingga bisa meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat dan mengentaskan kemiskinan,” ungkapnya.

Hadir sebagai Narasumber H. Sulaiman, seorang pengusaha barang-barang bekas dan H. Wijianto seorang pengusaha kuliner bakso sukses di Surabaya. Dalam kesempatan tersebut keduanya banyak memberikan motivasi kepada para santri dan siswa agar bisa mencetak jiwa wirausahawan.

“Semoga dengan adanya kegiatan ini sekolah dan pesantren dapat memberikan kegiatan wirausaha untuk menyiapkan generasi muda yang siap menjadi pengusaha-pengusaha luar biasa terlebih nilai ekonomi masyarakat bisa meningkat,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hikmah, Daerah, Makam Kawit An Nur Slawi

Masjid Al-Musthofa Jadi Pusat Pengembangan Aswaja

Blitar, Kawit An Nur Slawi. Keinginan warga NU dan Masyarakat  Dusun Tapan Desa Bakung Udanawu, Blitar untuk memiliki masjid yang representatif terpenuhi sudah. Telah diresmikan Masjid Al-Musthofa oleh Bupati Blitar Herry Noegroho di dusun itu pada Seni (2/6).

Masjid Al-Musthofa Jadi Pusat Pengembangan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Al-Musthofa Jadi Pusat Pengembangan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Al-Musthofa Jadi Pusat Pengembangan Aswaja

Masjid di atas tanah wakaf dari mantan Kepala Desa setempat, bernama H Musthofa. Pembanguna masjid  memakan waktu setahun dan menghabiskan dana sekitar Rp 800 juta. Fasilitas masjid tersebut terdiri dari serambi, ruang ta’mir dan remaja masjid, ruang baca, gudang dan perpustakaan di lantai dua.

“Memang masjid ini dibangun lantai dua. Bawah dijadikan tempat ibadah. Lantai atas untuk kegiatan mengaji dan belajar mengaja. Selain itu juga kita lengkapi dengan kantor remaja masjid, perpustakaan dan gudang,’’ ungkap KH Abdul Muhaimin Ketua Pembina Masjid Al-Musthofa kepada Kawit An Nur Slawi Selasa malam (3/6).

Kawit An Nur Slawi

Dijelaskan Muhaimin, untuk membangun memakan waktu satu tahun dengan biaya sekitar Rp 800 jutaan. Dana diambil mayoritas dari masyarakat sekitar. “ Meski sudah diresmikan, beberapa fasiltas masih perlu diperbaiki. Misalnya ruang ta’mir dan remaja masjid masih perlu dipoles lagi. Bahkan fasiltas  yang dibutuhkan seperti computer dan print juga belum ada,’’ katanya.

Menurutnya, sebelum di resmikan, masjid yang berlokasi di Jl. Raya Bakung Udanawu 29 selama ini sudah dijadikan tempat kegiatan masyarakat umum. Misalnya lantai bawah Istghotsah Kubro siswa SDN Negeri se Kecamatan Udanawu menjelang UN lalu.

Kawit An Nur Slawi

Juga, lanjut dia, istighotsah warga NU se-Kecamatan Udanawu dan shalat Jum’at dan lima waktu.“Alhamdulillah kegiatan Jum’atan sudah mulai berjalan. Ada sekitar 200 jamaah yang aktif. Kalau untuk shalat lima waktu rutin ada 70 an orang. Khusus Magrib  dan Isya’lebih dari itu,’’ katanya.

Panitia, lanjut Muhaimin  memang membebaskan kepada masyarakat untuk memanfaatkan masjid tersebut. Namun  dengan catatan digunakan untuk aktivitas yang bernuansa ajaran Islam Ahlussunah wal-Jamaah dan leadership remaja ahlussunahWaljamaah ala Thoriqotul Jam’iyatul Nahdlatu Ulama.

“Pokoknya untuk kegiaatan NU dan Banomnya tidak ada masalah karena masjid ini memang sudah masuk anggota Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU),’’ tambah Nuryani anggotaTa’mir masjid yang lain.

Ia berharap, masjid yang baru tersebut akan menjadi masjid yang barokah. Selain untuk kegiatan ibadah juga sekaligus untuk menjadi tempat pengembangan Islam Ahlussunah wal-Jamaah.

”Kita laksanakan khotmin Qur’an setiap minggu bagi masyarakat. Para kiai di sekitar  Blitar kita hadirkan untuk member mauidhoh kepada warga masyarakat. Misalnya KH Harun Ismail, KH Noer Hidayatulloh, Kiai Nasruddin, KH Diya’uddin Azam-Zami dan lainnya,’’ pungkasnya. (Imam kusnin/Abdullah Alawi)

Keterangan foto: Bupati Blitar Herry Noegroho saat peresmian Masjid Al-Musthofa Udanawu

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaSantri Kawit An Nur Slawi

Dalam Bermedsos Pun Harus Puasa

Pati, Kawit An Nur Slawi. Ajakan berpuasa dinilai tidak hanya sekadar dengan jalan menahan hawa nafsu untuk tidak makan dan minum saat siang hari saja. Namun saat ini dalam menggunakan media sosial dasar dari puasa juga patut untuk dilakukan.

Hal itu disampaikan Muhajir Arrosyid, salah satu narasumber dalam Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia Sabtu (19/8) hingga Ahad (20/8) dini hari. Dalam bermedia sosial masyarakat diharapkan dapat tetap menjaga hawa nafsunya. Baik untuk tidak berujar kebencian maupun sikap asal bagikan konten yang tidak jelas kebenarannya.

Dalam Bermedsos Pun Harus Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalam Bermedsos Pun Harus Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalam Bermedsos Pun Harus Puasa

“Sikap menahan diri dalam bermedsos ini penting dilakukan terutama dijaman penuh hoax seperti saat ini,” terang Muhajir kemarin.

Apalagi saat ini metode pemecah belah bangsa kian santer dilakukan. Antargolongan banyak diadu. Cara itu bahkan dikatakannya menjadi model ampuh untuk menghancurkan suatu bangsa. Tidak terkecuali seperti yang dilakukan Abu Jahal.

Kawit An Nur Slawi

“Dari zaman penjajahan dulu juga seperti itu. Dan kalau disadari pasti ada yang mendapatkan keuntungan. Yakni Belanda,” ujarnya.

Oleh karenanya dia mengingatkan agar jangan sampai mau di pecah belah oleh oknum tak bertanggungjawab. Karena dalam setiap kerusuhan itu selalu ada dalang yang ingin mendapat keuntungan.

Budi Maryono salah seorang penulis untuk menaklukkan jajahannya Napoleon bahkan sengaja mendatangkan antropolog. Hal itu dilakukan untuk melihat bagaimana kelemahan suatu bangsa itu untuk kemudian mudah menghancurkannya.

Muhammad Aniq atau yang akrab disebut Gus Aniq menambahkan untuk mengatasi hal tersebut sudah sepatutnya masyarakat meniru cara nabi Muhammad. Seharusnya tiap individu harus menyadari bahwa perbedaan bisa menjadi sesuatu yang indah. Seperti warna yang bergabung menjadi pelangi atau harmoni musik yang berasal dari beragam alat musik.

Kawit An Nur Slawi

“Nah, yang patut diperhatikan adalah bagaimana cara menggabungkannya. Kalau masing-masing individu sadar dan tahu bagaimana fungsinya masing-masing tentu menjadi enak. Bukan justru harus disamakan,” ujarnya.

Nabi Muhammad bahkan disebutkan sebagai rahmat itu sendiri bukan sekadar orang yang membawakan rohmat tersebut. Rohmat bisa diartikan sebagai kasih sayang. Bahkan jika dirunut rahmat dalam basmalah seringkali dijadikan awalan.

“Sejak awal kita diajak untuk berlaku kasih sayang kepada semua orang dan bukan sebaliknya,” tambahnya.

Dirinya juga mengajak agar sebelum memposisikan sebagai khilafah umat muslim harus menyadari sebagai hamba terlebih dahulu. Bahkan untuk dapat merubah sebuah bangsa juga harus diawali dari kawulo warga atau yang biasa ngawula atau mengabdi.

“Baru nanti menjadi dukuh atau memadu dan ngerengkuh (Memadukan dan merangkul,” Red) barulah terus naik ke tingkat diatasnya,” tambahnya.

Alunan musik yang dibawakan Sampak GusUran dan topik yang menarik juga turut memeriahkan jalannya acara yang dihadiri ratusan warga masyarakat tersebut. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pesantren Kawit An Nur Slawi

Pelajar NU dan PMII Jombang Bangun Sinergi

Jombang, Kawit An Nur Slawi. Abdul Haris, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Jombang menyatakan tarik ulur kembalinya organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadi badan otonom (Banom) NU sudah mulai menemukan titik terang.

Di Jombang, kedua organisasi NU tersebut sudah mulai membangun sinergi, khususnya di tingkat cabang. "Alhamdulillah untuk tahun ini kedekatan kita sangat baik dengan PC PMII," katanya, Jumat (10/6).

Pelajar NU dan PMII Jombang Bangun Sinergi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU dan PMII Jombang Bangun Sinergi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU dan PMII Jombang Bangun Sinergi

Sementara sinergi dan kedekatan tersebut tampak terlihat dari sisi struktural dan upaya saling menyukseskan masing-masing program kerja. Misalnya, tadi malam, Jumat (10/6) mereka melakukan shalat tarawih berjamaah di aula kantor PCNU setempat.

"Alhamdulillah malam ini PC IPNU-IPPNU, PC PMII, PC Kopri juga Kopri Unipdu jamaah tarawih bareng di kantor PCNU Jombang. Semoga bermanfaat dan barokah," ucapnya.

Kawit An Nur Slawi

Pada saat itu, kepada sebagian PC PMII dan Kopri, Haris sempat menanyakan terkait perkembangan salah satu hasil Muktamar NU di Jombang yang meminta agar PMII kembali menjadi banom NU.

"Tadi saya tanyai ada yang setuju 100 persen dan ada ada yg tidak 100 persen alias setengah-setengah, namun mayoritas mereka setuju," ujarnya.

Kawit An Nur Slawi

Menanggapi demikian, Ketua PCNU Jombang, KH Isrofil Amar merasa bangga. Menurutnya kader IPNU-IPPNU dan PMII adalah kader yang sangat diharapkan NU untuk melanjutkan perjuangan sesepuh NU.

"Atas nama Pengurus NU cabang Jombang, merasa bangga dan gembira atas ter selenggaranya sholat tarawih IPNU-IPPNU bersama PMII dikantor NU, sebagai kader NU yang diharapkan. Semoga sukses dan selamat berjuang," tuturnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Syariah, Warta, Fragmen Kawit An Nur Slawi

PBNU Lepas 33 Rombongan Bus Mudik Bareng

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Takmir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) melepas keberangkatan rombongan mudik bareng PBNU tahun 2013.

PBNU Lepas 33 Rombongan Bus Mudik Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Lepas 33 Rombongan Bus Mudik Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Lepas 33 Rombongan Bus Mudik Bareng

PBNU lewat lembaga masjidnya memberangkatkan 33 bus yang bergerak menuju Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pelepasan digelar di muka halaman parkir PBNU, Jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Sabtu (3/8) siang.

Pelepasan keberangkatan rombongan mudik disaksikan oleh sedikitnya 2000 pemudik. Selain itu, pelepasan keberangkatan dihadiri juga oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PBNU Asad Said Ali, Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, Muhyidin Arubusman, Direktur Keuangan Bank Mandiri, dan Direktur PT Bakrie Telcom.

Kawit An Nur Slawi

“Tiga kali LTM PBNU mengorganisir rombongan udik bareng warga NU. Semoga para pemudik selamat sampai ditujuan,” kata Ketua PP LTM PBNU KH Abdul Manan Ghani dalam sambutan pelepasan.

Kawit An Nur Slawi

Ia juga berpesan agar para pemudik turut memakmurman masjid di kampung halaman masing-masing.

“Mudik ini tidak sekadar mengobati rasa rindu kepada kampung kelahiran. Nahdliyin juga harus memperkuat silaturahmi kepada orang sedesa selama di sana,” kata KH Said Aqil Siroj.

Pelepasan keberangkatan rombongan mudik kemudian ditutup dengan doa oleh Ketua Uumum PBNU. Jajaran pengurus NU kemudian melepas sejumlah bus dengan mengangkat bendera NU sesaat sebelum bus berangkat.

Tahun ini, PBNU memberangkatkan sebanyak 35 bis mudik gratis. Dua di antaranya baru diberangkatkan Ahad (4/8).

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Islam, Pemurnian Aqidah, Khutbah Kawit An Nur Slawi

Rabu, 29 November 2017

Ranting IPNU-IPPNU Ini Lahirkan Dua Karya Film Dokumenter

Pati, Kawit An Nur Slawi. Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Dukuh Wonokerto, Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Pati, Jawa Tengah, mampu menunjukkan kreativitasnya dalam pembuatan film dokumenter.

"IPNU dan IPPNU Ranting Wonokerto sudah membuat dua film dokumenter, yang pertama judulnya Laila-Majnun dan Rindu Tanah Air Beta," kata Lilik Nur Khasannah, pembimbing IPNU-IPPNU ranting setempat di sekretariat IPPNU Wonokerto, Jumat (12/9).

Ranting IPNU-IPPNU Ini Lahirkan Dua Karya Film Dokumenter (Sumber Gambar : Nu Online)
Ranting IPNU-IPPNU Ini Lahirkan Dua Karya Film Dokumenter (Sumber Gambar : Nu Online)

Ranting IPNU-IPPNU Ini Lahirkan Dua Karya Film Dokumenter

Film dokumenter garapan para pelajar NU ini dihasilkan secara mandiri baik dari segi pembiayaan, pembuatan, maupun proses pengeditan. Lilik menambahkan, dulu awalnya adalah bahan untuk membuat sebuah pentas drama di salah satu acara NU, tapi gagal. Akhirnya pihaknya memutuskan untuk membuat film karena sudah terlanjur menyewa bahan-bahan untuk pentas.

Kawit An Nur Slawi

“Dengan modal seadanya kami menyelesaikan film dokumenter yang berjudul Laila-Majnun. Karena saat itu kami sangat senang. Film yang kedua pun di buat dan selesai pada Februari tahun lalu,” tuturnya.

Kawit An Nur Slawi

Lilik berharap, IPNU-IPPNU Wonokerto bisa lebih kreatif dalam melahirkan karya. Kehidupan desa tak boleh membuat mereka kalah dari mereka yang ada di kota.

"IPNU-IPPNU di desa ini memang sangat terbatas kemapuannya, ditambah anggota yang kurang solid, tapi saya merasa sedikit senang, dengan kerja keras yang sudah ada hasilnya ini, film dokumenter kami," ucap Ina Roisyah, ketua Pimpinan Ranting IPPNU Wonokerto. (Ahmad Syaefudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Fragmen Kawit An Nur Slawi

Tempat Baru Buatan Arab Saudi untuk Sai Tidak Sah

Kudus,Kawit An Nur Slawi. Mustasyar PBNU KH Syaroni Ahmadi mengatakan para calon jamaah haji saat menunaikan sai supaya tidak menggunakan tempat baru (Masa Jadid) yang dibangun pemerintah Arab Saudi. Bila dilakukan, hajinya bisa tidak sah.

Tempat Baru Buatan Arab Saudi untuk Sai Tidak Sah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tempat Baru Buatan Arab Saudi untuk Sai Tidak Sah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tempat Baru Buatan Arab Saudi untuk Sai Tidak Sah

"Menurut Imam Syafii, sai itu rukun haji yang pelaksanaanya harus pada tempat yang aslinya yakni Masa Qodim. Bila tidak, harus diulang kembali. Jika tidak mengulang, sa’inya tidak sah dan hajinya pun bisa tidak sah," ujarnya dalam acara Walimatus Safar atau tasyakuran haji di rumah alumni IPNU Andoko desa Demaan Kota Kudus Jawa Tengah, Kamis (28/8).

Pendapat Imam Syafi’i ini, terang ulama kharismatik asal Kudus ini, sai adalah wajib haji sehingga bila tidak dilaksanakan pada tempatnya harus membayar dam. "Makanya, saat sai carilah tempat lama (Masa Qodim) yang berada di lantai bawah," tandasnya lagi.

Mbah Syaroni menandaskan Masa Jadid bukanlan tempat sa’i yang sebenarnya. Sebab, pemerintah Arab saudi yang membuatkan tempat baru untuk calon jamaah haji melaksanakan sa’i.

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

"Dari bahasanya saja membangunkan tempat sa’i, berarti kan tidak tempat betulan. Ini sama saja misalnya warga Kudus dibuatkan kabah, belum tentu terus bisa dijadikan tempat beribadah haji," imbuhnya dalam bahasa jawa.

Di awal taushiyahnya, Mbah Syaroni mengingatkan calon haji pada waktu keluar rumah saat pemberangkatan nanti supaya berniat ibadah. Dengan demikian, calon haji sudah termasuk tamunya Allah.

"Kalau sudah menjadi tamunya Allah, maka akan terpenuhi tiga hal yang dijanjikan Allah yakni segala permintaan akan dituruti, doanya mustajab dan semuanya ongkos haji akan diganti oleh Allah seperti sabda nabi dalam kitab Aljamik Shoghir Babul Haq," ujarnya seraya menandaskan calhaj yang tidak niat ibadah berarti sama saja orang wisata belaka.

Alumni IPNU Gebog? Andoko ini rencananya akan menunaikan ibadah haji bersama Evi Shofiati (istri) dan Raminah (ibunda).Menurut jadwal akan berangkat bersama rombongan Kudus lainnya pada 16 September mendatang. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Syariah, Aswaja, Kajian Kawit An Nur Slawi

Jaga Situasi Kondusif, Polisi Rembang Sowani Para Kiai

Rembang, Kawit An Nur Slawi



Pihak Kepolisian Resor Rembang mengeluarkan kebijakan dengan menyebar para perwira di setiap kepolisian sektor atau Polsek, untuk berkunjung kepada ulama setempat guna mengantisipasi pergerakan massa menuju Jakarta, terkait aksi damai 25 November dan 2 Desember yang akan datang.

Jaga Situasi Kondusif, Polisi Rembang Sowani Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Situasi Kondusif, Polisi Rembang Sowani Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Situasi Kondusif, Polisi Rembang Sowani Para Kiai

Seluruh Kapolsek di setiap Kecamatan, secara serempak mendatangi ulama di wilayah setempat. Pada hari Rabu 23 November 2016 pagi seluruh Kapolsek dipastikan sowan ke sejumlah ulama yang ada di Kabupaten Rembang.?

Menurut Kapolres Rembang AKBP Sugiarto menjelaskan, hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah massa di Kabupaten Rembang, untuk bergabung di Jakarta. Ia mengajak, kepada warga Kabupaten Rembang, untuk berdoa bersama agar Indonesia diberikan keamanan dan ketenteraman, terutama wilayahnya sendiri.?

"Terkait dengan rencana aksi 25 November atau 2 Desember mendatang, akan lebih baik warga mendoakan situasi Indonesia di rumah atau kediaman masing-masing agar wilayah tetap aman dan kondusif, demi tegaknya NKRI," ujar Kapolres Rembang AKBP Sugiarto.

Menurut Kapolres, berdasarkan apa yang disampaikan oleh Kapolri, rencana aksi susulan pada 25 November atau 2 Desember nanti potensi ditunggangi oleh kepentingan lainnya.

Kawit An Nur Slawi

Komandan Kodim 0720 Rembang, Letkol Inf Darmawan Setiady mengungkapkan, berdasarkan data intelejen yang didapatnya, sejauh ini masih belum terdeteksi adanya organisasi massa di daerah ini yang berencana akan gabung dalam aksi demo susulan mendatang.

"Lebih baik tidak perlu datang ke Jakarta. Jika masalahnya untuk menuntut proses hukum atas dugaan penistaan agama, biarlah aparat penegak hukum yang menanganinya," tegasnya.

Kawit An Nur Slawi

Sebagaimana diberitakan sejumlah media nasional, aksi bertajuk "Bela Islam III" akan difokuskan untuk menuntut penahanan terhadap Basuki Tjahaja Purnama terkait kasus dugaan penistaan agama. Aksi akan dilakukan dengan shalat Jum’at di jalan.

Seperti yang dilakukan Kapolsek Gunem AKP Yuliadhi, yang mendatangi Syuriah MWCNU Gunem Kiai Nursalim di Desa Trembes.

Lalu Kapolsek Sedan AKP Joko Purnomo yang mengunjungi salah satu jajaran pengurus MWCN KH Dimyati di Dukuh Pesantren-Sedan dan Kapolsek Lasem AKP Eko Budi S yang berkunjung ke Gus Qoyyum di Pesantren An-nur Soditan.

Kemudian, Kapolsek Kragan AKP Siswanto yang berkunjung ke Kiai Faqih di MA Nahjatus Sholihin Kragan dan Kapolsek Pamotan AKP Kisworo yang mengunjungi KH Fauzi dan KH Amir Mahmud di Pesantren Al-Falah Pamotan.

Selanjutnya, Kapolsek Sale AKP Isnaeni yang berkunjung ke sejumlah tokoh agama dan takmir?

masjid di Desa Gading, Mrayun, dan Wonokerto serta Kapolsek Sluke AKP Bibit AS yang mengunjungi KH Ansori di Kalimalang-Trahan.

Ada juga Kapolsek Sumber AKP Suhaendi Tirta yang berkunjung ke Kiai Rosyidi di Desa Kedungtulup dan Kapolsek Bulu AKP Riwayat Susianto yang mengunjungi Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Bulu Kiai Syarkowi.

Sedangkan Kapolsek Sulang AKP Haryanto berkunjung ke Pesantren Alhamdulillah Kemadu bertemu Nyai Hj Rahmawati Syahid istri Almarhum Kiai Syahid Kemadu yang juga mantan Mustasyar PCNU Rembang, serta Kapolsek Kaliori AKP Sukiyatno dan Kapolsek Kota Rembang Sunarmin, juga sowan ke sejumlah kiai yang ada di wilayah setempat. (Ahmad Asmui/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nasional, Pahlawan, Tokoh Kawit An Nur Slawi

PBNU Minta Pemerintah Dukung Muslim Rohingya

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta pemerintah memberi dukungan terhadap nasib muslim Rohingnya di Myamar yang sekarang ini nasibnya sangat menderita dan diperlakukan sebagai warga negera kelas dua di negeri tersebut.

“Pemerintah dapat menggunakan posisinya sebagai ketua Asean, agar pemerintah Myamar memperhatikan nasib muslim Rohingya,” katanya di gedung PBNU, Rabu (25/7).

PBNU Minta Pemerintah Dukung Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Pemerintah Dukung Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Pemerintah Dukung Muslim Rohingya

Ia menegaskan, keyakinan beragama harus dilindungi di setiap negara. Merupakan fakta yang memperihatinkan ketika muslim menjadi minoritas di sebuah negara, nasibnya seringkali terlunta-lunta dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah.?

Kawit An Nur Slawi

Di lingkungan Asean saja seperti Thailand Selatan, Philipina, atau Myamar, mereka didiskriminasi dan ketika meminta perhatian pemerintah, dianggap membangkang atau melakukan perlawanan.

Kawit An Nur Slawi

Salah satu faktor terabaikannya umat Islam adalah belum adanya kekuatan kekuatan komunitas muslim internasional yang mampu memberi tekanan terhadap negera-negara yang mendiskriminasikan minoritas muslim. Ini tentu berbeda dengan umat lain yang ketika menghadapi masalah, mendapat dukungan penuh komunitas internasional dengan menggunakan alasan atas nama hak asasi manusia atau lainnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Habib, Amalan Kawit An Nur Slawi

Wanita Haid Wajib Qadla Puasa, Mengapa Shalat Tidak?

Assalamu’alaikum wr. wb. Shalat adalah kewajiban setiap orang mukallaf, dan jika ditinggalkan maka harus diqadla` begitu juga dengan puasa. Namun dalam kasus wanita yang haid, ia tidak ada kewajiban meng-qadla` shalat, tetapi berkewajiban meng-qadla` puasa. Padahal keduanya adalah sama-sama wajibnya. Karena itu kami mohon untuk dijelaskan dalil dan alasan kenapa wanita haid wajib meng-qadla` puasanya tetapi tidak wajib meng-qadla` shalatnya. Atas penjelasannya kami haturkan terimakasih. (Ummi Hani-Medan)

Jawaban

Wanita Haid Wajib Qadla Puasa, Mengapa Shalat Tidak? (Sumber Gambar : Nu Online)
Wanita Haid Wajib Qadla Puasa, Mengapa Shalat Tidak? (Sumber Gambar : Nu Online)

Wanita Haid Wajib Qadla Puasa, Mengapa Shalat Tidak?

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Para ulama telah sepakat bahwa orang yang haid tidak memiliki kewajiban meng-qadla` shalat, bahkan jika ia melakukan qadla` tidak sah. Namun dalam soal puasa, ia wajib meng-qadla`. Di antara dalil para ulama adalah hadits berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? -- ? ?

Kawit An Nur Slawi

Dari Mu’adzah ia berkata, saya pernah bertanya kepad A’isyah ra kemudian aku berkata kepadanya, bagaimana orang yang haid itu harus meng-qadla` puasa tetapi tidak wajib meng-qadla` shalat. Lantas ia (‘Aisyah ra) bertanya kepadaku, apakah kamu termasuk orang haruriyyah? Aku pun menjawab, aku bukan orang haruriyyah tetapi aku hanya bertanya. ‘Aisyah pun lantas berkata, bahwa hal itu (haid) kami alami kemudian kami diperintahkan untuk meng-qadla` puasa tetapi tidak diperintahkan untuk meng-qadla` shalat”. (HR. Muslim)

Maksud haruriyyah itu orang dari kampung harura`, dinisbatkan kepada nama daerah di pinggir kota Kufah yang menjadi tempat berkumpulnya generasi awal kaum khawarij. Kemudian istilah haruriy atau haruriyyah menjadi terkenal sehingga digunakan untuk merujuk setiap orang khawarij. Di antara Contoh penggunaannya adalah pertanyaan ‘Aisyah ra di atas kepada Mu’adzah. Kenapa ‘Aisyah bertanya begitu, karena menurut sekte khawarij, orang yang haid itu wajib meng-qadla` shalat yang ditinggalkan pada saat mengalami haid. Hal ini sebagaimana dikemukakan Ibnu Daqiq al-‘Id dalam kitab Ihkam al-Ahkam Syarhu ‘Umdah al-Ahkam:  

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: "? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ? ? ? 1426?/2005? ? 1? ?. 90--

Kawit An Nur Slawi

Haruri adalah setiap orang yang dinisbatkan kepada  Harura` yaitu tempat yang ada di pinggir kota Kufah, dan merupakan tempat berkumpulnya generasi awal kaum khawarij. Kemudian kata tersebut banyak digunakan orang sampai digunakan untuk setiap orang khawarij. Di antara contohnya adalah pernyataan ‘Aisyah ra kepada Mu’adzah: “aharuriyyah anti?” (Apakah kamu termasuk orang haruriyyah?) maksudnya adalah apakah kamu termasuk orang khawarij. ‘Aisyah ra berkata demikian karena sekte khawarij berpandangan bahwa orang yang haid itu wajib meng-qadla` shalat yang ditinggalkan selama masa haid." (Ibnu Daqiq al-‘Id, Ihkam al-Ahkam Syarhu ‘Umdah al-Ahkam, Bairut-Mu`assah ar-Risalah, cet ke-1, 1426 H/2005 M, juz, 1, h. 90)

Sedang alasan dibalik itu semua adalah bahwa qadla` shalat bagi wanita yang haid itu jelas akan memberatkannya. Berbeda dengan puasa. Hal ini sebagaimana dikemukakan al-Mawardi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ?-? ? ? ? ? 1414?/1994? ? 1? ?. 373--

Perbedaan antara qadla` shalat dan kewajiban qadla` puasa bagi wanita haid adalah adanya masyaqqah untuk meng-qadla` shalat (setelah suci) berbeda dengan puasa. Karenanya, (jika wanita haid) itu wajib meng-qadla` shalat yang ditinggalkan maka akan bertambah masyaqqah-nya. Dan sedikitnya puasa dan tidak ada masyaqqah dalam meng-qadla`-nya. (Al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, Bairut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet ke-1, 1414 H/1994 M, juz, 1, h. 373)

Mengapa meng-qadla` shalat itu menimbulkan masyaqqah bagi wanita haid? Sebab shalat bisa banyak yang ditinggal dan berulang-ulang pada setiap bulan. Berbeda dengan puasa meskipun ditinggal selama separo bulan tetapi dalam hal meng-qadla` diberi kemudahan, yaitu selama satu tahun.

Di samping itu pada prinsipnya shalat tidak boleh diakhirkan kemudian diqadla`. Tetapi shalat itu bisa tidak wajib sama sekali, seperti untuk wanita yang sedang haid. Atau wajib sampai tidak bisa diakhirkan dengan adanya udzur. Berbeda dengan puasa, yang boleh di akhirkan karena adanya udzur, seperti bepergian jauh, sakit, dan haid kemudian diqadla` pada hari-hari lain.  

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan semoga bisa bermanfaat. Dan bagi perempuan meskipun tidak meng-qadla` shalat yang ditinggal karena haid jangan berkecil hati karena berkurang pahalanya, syukurilah semua itu karena itu adalah bagian keringanan yang telah tetapkan syariat dengan cara memperbanyak berbuat kebajikan. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Amalan, Warta, Nahdlatul Kawit An Nur Slawi

Selasa, 28 November 2017

Lakpesdam NU Aceh Jaring Penulis-Penulis Perdamaian

Aceh, Kawit An Nur Slawi. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia NU (Lakpesdam NU) Aceh menggelar pelatihan lanjutan menulis bagi kader damai Aceh pada Ahad (6/9). Pada kegiatan yang digelar di aula kantor Hakka Aceh Peunayong, Lakpesdam Aceh menekankan pentingnya memperbanyak tulisan pesan damai.

Sementara Ketua PP Lakpesdam NU H Yahya Maksum mengatakan, kegiatan-kegiatan seperti ini perlu ditingkatkan. Tulisan-tulisan yang dihasilkan para kader damai hendaknya dibukukan sehingga menambah literatur Aceh.

Lakpesdam NU Aceh Jaring Penulis-Penulis Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Aceh Jaring Penulis-Penulis Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Aceh Jaring Penulis-Penulis Perdamaian

“Saya berharap kader damai di Aceh sudah terbuka dalam memahami inklusi sosial dan terus mencari pencerahan-pencerahan terkait inklusi ini,” ujar Yahya dalam rangka visit program peduli fase II yang dilaksanakan Lakpesdam Aceh.

Kawit An Nur Slawi

Azharul Husna salah seorang peserta menyebutkan bahwa kegiatan ini ibarat kanal yang menampung minat anak muda khususnya kader damai dalam mengembangkan ketertarikannya dalam dunia tulis menulis, terlebih diasuh oleh Teuku Kemal Fasya.

Kawit An Nur Slawi

“Suka menulis saja tidak cukup, pelatihan seperti ini ibarat bengkel yang siap ‘membongkar’ cara tulis kita, selain tips dan trik untuk bisa menembus media cetak maupun online,” ujar Husna lagi.

Ketua Lakpesdam NU Aceh Marini mengatakan, pelatihan ini merupakan pendalaman materi dari pelatihan menulis yang lalu dan dalam meningkatkan kualitas menulis para kader kegiatan diselenggarakan serangkaian pelatihan untuk mendukungnya. Dengan ini diharapkan tulisan dari kader damai dapat diekspos di media cetak dan online.

“Kami juga berharap ke depan mereka menjadi penulis profesional.” (Ismi Amran/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nasional Kawit An Nur Slawi

Fasal Zakat Profesi

Assalamualaikum. Ustadz saya mau bertanya. Saya bekerja tiap bulan gajian. Apakah ada zakatnya? Ketentuaannya bagaimana? Kalau ada zakatnya dikasihkan kemana? (Ahmad Fathoni, Jakarta)

Waalaikum salam wr. wb. Penanya yang terhormat, semoga kita semua selalu mendapatkan rahmat Allah swt dan selalu mendapatkan hidayah-Nya. Bahwa persoalan zakat gaji memang tidak diketemukan penjelasannya dalam ketentuan fiqih klasik. Ketiadaan keterangan dalam ketentuan fiqh klasik bukan berarti bahwa gaji tidak wajib dizakati. Para ulama seperti Syekh Muhammad al-Ghazali, Dr. Yusuf al-Qaradlawi telah melakukan upaya untuk memecahkan persoalan ini dengan mencari cantolan atau rujukan dalam fiqh klasik. ?

?

Fasal Zakat Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)
Fasal Zakat Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)

Fasal Zakat Profesi

Misalnya, ijtihad yang dilakukan Syaikh Muhammad al-Ghazali bahwa orang yang bekerja dengan penghasilan yang melebihi petani wajib mengeluarkan zakat penghasilannya. Ini berarti, zakatnya gaji diqiyaskan dengan zakatnya pertanian.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? --? ? ? ? ? ?-? ? ? ? ? 1? ?. 118

Kawit An Nur Slawi

“Sesungguhnya orang yang pemasukkannya tidak kurang dari petani yang diwajibkan zakat, maka ia wajib mengeluarkan zakat. Karenanya, dokter, pengacara, insinyur, pengrajin, para pekerja professional, karyawan, dan sejenisnya, wajib zakat atas mereka. Dan zakatnya harus dikeluarkan dari pendapatan mereka yang besar”. (Muhammad al-Ghazali, al-Islam wa Audla’una al-Iqtishadiyyah, )

Pandangan ini setidaknya didasari atas dua alasan. Pertama adalah keumumam firman Allah swt:

Kawit An Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? -- ?:267. “Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 267)

Kedua, secara rasional, Islam telah mewajibkan zakat atas petani. Jika petani saja yang penghasilannya lebih rendah dari mereka diwajibkan zakat, apalagi mereka yang penghasilannya lebih tinggi dari petani.

Sedangkan Dr. Yusuf al-Qardlawi sampai pada kesimpulan bahwa gaji atau pendapatan yang diterima dari setiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu yang halal wajib dizakati. Hal ini disamakan dengan zakat al-mal al-mustafad (harta yang diperoleh seorang muslim melalui satu jenis proses kepemilikan yang baru dan halal).

? ? ? ? ? ? ? ? ? --? ? ? ? ?-? ? ? 3? 1393?/1983 ? ? 1? ?. 490. “Zakat diambil dari gaji atau sejenisnya. Sedang cantolan fiqhnya yang sahih terhadap penghasilan ini adalah mal mustafad (harta perolehan)” (Yusuf al-Qaradlawi, Fiqh az-Zakat, Bairut-Mu`assah ar-Risalah, cet ke-3, 1393 H/1983 M, juz, 1, h. 490)

Sedangkan mengenai nishab gaji adalah sama dengan nishabnya uang. Demikian ini karena banyak orang yang memperoleh gaji dan pendapatan dalam bentuk uang, karenanya yang paling baik adalah menentapkan nishab gaji berdasarkan nishab uang yang setara dengan nilai 85 gram emas. Dan zakat tersebut diambil dari gaji atau pendapat bersih. Dalam soal zakat gaji tidak disyaratkan adanya haul, tetapi zakatnya harus ditunaikan ketika gaji itu diterima sebesar 2,5 %.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? 85 ? ? ?...? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "?" ... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ((? ? ? ? ?-? ? ? 3? 1393?/1983 ? ? 1? ?. 513? 517? 505). “Yang paling utama dari semua itu adalah bahwa nishab uang merupakan yang mu’tabar (yang dijadikan patokan) dalam konteks ini (nishab gaji atau pendapatan). Dan kami telah menentukan nilainya setara dengan nilai 85 gram emas…..Dan ketika kami telah memilih pendapat (yang mewajibkan) zakar gaji, upah dan sejenisnya, maka pendapat yang kami kuatkan adalah bahwa zakatnya tidak diambil kecuali dari pendapatan bersih…. Maka pendapat yang saya pilih bahwa harta perolehan seperti gaji pegawai, gaji karyawan, insyinyur, dokter, pengacara dan yang lainnya yang mengerjakan profesi tertentu dan juga seperti pendapatan yang diperoleh modal yang investasikan di luar sektor perdangan seperti kendaraan, kapal laut, kapal terbang, percetakan, perhotelan, tempat hiburan dan yang lain, itu tidak disyaratkan bagi kewajiabn zakatnya adanya haul, tetapi zakat dikeluarkan ketika ia menerimanya (gaji)” (Yusuf al-Qaradlawi, Fiqh az-Zakat, Bairut-Mu’assah ar-Risalah, cet ke-3, 1393 H/1983 M, juz, 1, h. 513, 517, 505)

Kenyataan yang ada para pemerintah dan perusahaan mengatur gaji pegawainya beradasarkan ukuran tahun, meskipun dibayarkan perbulan karena kebutuhan pegawai yang mendesak. Berdasarkan hal itu zakat penghasilan bersih seorang pegawai dan golongan profesi dapat diambil dalam setahun penuh, jika pendapatan bersih mencapai satu nishab.

Dari penjelasan di atas setidak dapat ditarik gambaran sebagai berikut. Jika pendapatan bersih seorang pekerja selama setahun seperti dokter atau karyawan sebuah perusahaan atau pegawai pemerintahan mencapai nishab yang telah ditentukan maka ia wajib mengeluarkan zakatnya. Sedang zakatnya dikeluarkan ketika menerima pendapatan tersebut. Contohnya jika seseorang selama setahun memperoleh pendapatan bersih sekitar 48 juta, dengan asumsi ia menerima pendapatan bersih setiap bulan 4 juta. Maka ia harus mengeluarkan zakat setiap bulannya 2,5 % dari 4 juta tersebut, yaitu sebesar 100 ribu. Jadi selama setahun ia mengeluarkan zakat sebesar 1,2 juta.

Selanjutnya mengenai zakat gaji tersebut bisa langsung diberikan kepada golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana firman Allah swt:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?--?: 60

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah bagi orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil-amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Q.S. At-Taubah [9]: 60) ?

Atau bisa melalui lembaga zakat yang terpecaya seperti LAZISNU (Lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama). Dan semoga dengan berzakat, harta anda menjadi bersih dan barakah. Amin. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Halaqoh, Tegal Kawit An Nur Slawi

P3M Turut Bicara Masjid

Bantul, Kawit An Nur Slawi. Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) melalui direkturnya, Anas Saidi, turut membincang hubungan NU dengan masjidnya. Anas menilai orang NU tidak memanfaatkan masjid dengan baik.

“Kita terlalu terlena dengan keadaan yang katanya mayoritas, sehingga kita tidak memanfaatkan masjid dengan baik," ujar Anas yang juga peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di Pesantren Al-Muhsin, Krapyak Wetan-Sewon, Bantul, Rabu (13/3).

P3M Turut Bicara Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
P3M Turut Bicara Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

P3M Turut Bicara Masjid

Padahal, lanjut Anas, masjid itu  bisa menjadi tempat yang strategis jika dikelola dengan baik, displin, dan istiqamah. 

Kawit An Nur Slawi

Sebelumnya, dalam acara yang sama, KH Masdar Arif Mas’udi mengungkapkan bahwa jika ingin membangun umat harus dimulai dari masjid.

Kawit An Nur Slawi

“Kalau kita ingin membangun umat, mulailah dari masjidnya. Masjid itu menjadi potret umat Islam. Kalau ingin tahu bagaimana kondisi umat Islam, lihatlah masjidnya," jelas Rais Syuriah PBNU itu. 

Acara diskusi tentang kemasjidan tersebut terselenggara hasil kerja sama PC LTMNU Kabupaten Bantul dan Perhimpunan Pengembangan Pesantren (P3M)DIY. Acara yang diikuti puluhan orang tersebut dimulai Rabu siang dan berakhir Jumat, 15 Maret. 

“Dalam rangka menyambut 1 abad NU  tahun 1926 mendatang, sudah seharusnya NU bertumpu pada dua kaki, yakni pesantren masjid dan pesantren. Pesantren sebagai rujukan kultural dan keilmuan sedangkan masjid sebagai rujukan struktural kegiatan,” Kiai Masdar.

Di pelbagai daerah, Kiai Masdar bersama LTM NU, Lazis NU, dan lain-lain kembali giat mensyiarkan masjid sebagai pusat aktivitas umat dalam banyak bidang. Semoga dengan turutnya P3M mengusung tema masjid, gerakan "kembali ke masjid" yang dipelopori LTM NU, menjadi makin kuat.



Redaktur      : Hamzah Sahal

Kontributor  : Rokhim Bangkit 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sholawat Kawit An Nur Slawi

Ansor Banyodono Siap Hidupkan Ranting

Boyolali,Kawit An Nur Slawi. Usai terpilih dalam Konferensi Anak Cabang (Konferancab) yang diselenggarakan PAC GP Ansor Banyudono Boyolali Jawa Tengah, ketua terpilih Ajie Najmuddin mengungkapkan prioritas program kerja di bawah kepemimpinannya.

Ansor Banyodono Siap Hidupkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Banyodono Siap Hidupkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Banyodono Siap Hidupkan Ranting

“NU ada di Banyudono termasuk masih baru, jadi tantangan awal bagi kami yakni untuk lebih mengenalkan NU dan Ansor kepada masyarakat. Prioritas dari kepengurusan masa khidmat 2015-2018 ini, program pengkaderan, baik penambahan anggota maupun dari segi kualitas para pengurus,” ujar Ajie, kepada Kawit An Nur Slawi, Jumat (20/3).

Lebih lanjut dikatakan Ajie, GP Ansor Banyudono, saat ini baru terdapat 8 kepengurusan ranting dari 19 desa yang ada di Kecamatan Banyudono. Kondisi tersebut, menurutnya, juga dirasa perlu untuk mengusahakan pembentukan ranting baru.

Kawit An Nur Slawi

Sementara itu, Ketua PC Ansor Boyolali Choiruddin Ahmad juga memberikan pesan kepada ketua terpilih, “Saya hanya berpesan untuk semua kader dan anggota GP Ansor di Banyudono, untuk bersama menjalin hubungan harmonis dan bersatu menggerakkan Ansor Boyolali di segala bidang,” ujarnya.

Kawit An Nur Slawi

Pengasuh Pesantren Miftahul Huda Cepogo tersebut juga berharap dengan pelaksanaan Konferancab Banyudono ini dapat membangkitkan semangat PAC lainnya. “PAC yang sekarang sudah tidak aktif untuk segera mengadakan konferensi. Sebab banyak PAC yang sudah habis masa kepengurusannya,” tukasnya. (Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Doa, Daerah, Warta Kawit An Nur Slawi

Guru Madrasah ini Selamatkan Menu Tradisional Khas Brebes

Nur Azizah, guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 01 Brebes Nur Azizah SPd berkeinginan keras menyelamatkan menu-menu tradisional khas Brebes yang nyaris punah. Satu-persatu menu dikumpulkan dan dibuat ulang dengan penampilan yang mengundang selera hati untuk bernostalgia saat menyantapnya.

“Saya khawatir, menu tradisional khas Brebes punah sehingga harus kita selamatkan bersama-sama,” ungkap Azizah saat ditemui di MAN Brebes 01 Jalan Yos Sudarso Brebes, Awal Juli 2015 lalu.

Menurut alumni UNNES, lebih dari 50 menu tradisional yang harus dilestarikan. Namun dirinya baru membuat ulang 17 menu tradisonal khas Brebes. Antara lain Kapal Burak, Randa Keci, Jalabia, Bandeng Lumpur, Randa Kemul, Sate Blengong dan lain-lain.

Guru Madrasah ini Selamatkan Menu Tradisional Khas Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Madrasah ini Selamatkan Menu Tradisional Khas Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Madrasah ini Selamatkan Menu Tradisional Khas Brebes

“Saya akan membukukannya untuk disebarluaskan ke masyarakat dan dijadikan bahan ajar,” tutur guru Tata Boga yang mengajar sejak 2008 ini.

Dengan dibukukannya menu tradisional tersebut, tidak lagi ada yang mengklaim makanan khas tersebut dari mana berasal. “Para siswa juga harus mengerti benar dan menghargai warisan nenek moyang yang sehat dan alamiah,” terang istri dari Teguh Mulyono SPd dan ibu dari M Raihan Bagaskara (12) dan Maudi Nafizatus Zahra (7).

Dari kemahirannya memasak tradisional, ia menjadi pemenang pada ajang lomba masak ibu dan anak di Masak Musikal di ANTV tahun 2011 silam.

Kawit An Nur Slawi

“Saya membuat masakan menu tradisional khas Brebes, ternyata kata Juri waktu itu menarik dan bernilai gizi tinggi,” ungkapnya.

Dia diganjar hadiah Rp 100 juta dan hadiah tersebut waktu itu bisa untuk membuat rumah di jalan Limbangan Baru B3, Brebes. “Sungguh bahagia, karena hadiah saat itu bisa bikin rumah,” kenangnya sembari tersenyum.

Terakhir, Azizah juga menjadi juara 1 lomba menu Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) tingkat Jawa Tengah. Anak didiknya juga selalu menjadi juara 1 ketika ikut berlomba ditingkat Kabupaten.

Apa yang dilakukan Guru kelahiran Brebes 21 Juni 1976 ini menjadi inspirasi bagi rakyat Brebes untuk melestarikan menu tradisional yang ternyata bernilai gizi tinggi.

Jejak langkah Azizah tidak hanya berkutat menularkan ilmunya di MAN saja. Tetapi bersama Kantor Ketahanan Pangan, Dinas Sosial, Darma Wanita Kabuapaten Brebes tanpa henti mensosialisasikan dan menularkan ilmunya kepada warga masyarakat. “Saya setiap saat menjadi tutor dan juri diberbagai kesempatan,” ucapnya.

Kawit An Nur Slawi

Untuk menambah penghasilannya, dia membuka kafe kupat blengong di Jogja Mall Brebes. Ditempat itu juga dibuka konsultasi tentang berbagai menu tradisional bagi yang ingin mengembangkannya.

“Yang penting saya berbuat yang terbuat untuk kesejahteraan bersama,” pungkasnya. (Wasdiun)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Fragmen Kawit An Nur Slawi

Senin, 27 November 2017

Maulid, Ratusan Siswa MI Ihyauddiniyah Dikenalkan Tradisi NU Sejak Dini

Probolinggo, Kawit An Nur Slawi - Madrasah Ibtida’iyah (MI) Ihyauddiniyah di Desa Duren Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo memperingati maulid Nabi Muhammad SAW, Ahad (25/12) malam. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan siswa didampingi para orang tuanya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini diisi dengan Safari Maulid Riyadlah 40 hari Al Waly. Acara ini dihadiri penceramah Pengasuh Pesantren Zainul Hasan KH Hasan Ahsan Malik selaku Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Kraksaan.

Maulid, Ratusan Siswa MI Ihyauddiniyah Dikenalkan Tradisi NU Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid, Ratusan Siswa MI Ihyauddiniyah Dikenalkan Tradisi NU Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid, Ratusan Siswa MI Ihyauddiniyah Dikenalkan Tradisi NU Sejak Dini

“Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ini dilakukan dalam rangka agar para siswa MI Ihyauddiniyah maupun masyarakat mampu meneladani perjuangan dan sikap yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sehingga nantinya mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Kepala MI Ihyauddiniyah Siti Nur Tamami.

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ini juga diisi dengan sejumlah lomba yang diikuti oleh seluruh siswa PAUD, RA, MI dan MTs Ihyauddiniyah. Di antaranya, lomba menghafal Asmaul Husna dengan artinya, menghafal tokoh NU dan mewarnai kaligrafi NU oleh siswa PAUD.

Kawit An Nur Slawi

Selanjutnya, lomba menghafal Asmaul Husna dengan artinya, menghafal tokoh NU, mewarnai kaligrafi NU, dan lomba cerdas tangkas oleh siswa RA. Kemudian lomba kaligrafi NU, menghafal istighotsah, Asmaul Husna, lari cepat pasang bendera NU, sepeda lambat, kelompen lima orang tiap kelompok, cepat tepat tulis di papan untuk siswa MI.

Kawit An Nur Slawi

Lalu, menghafal tahlil, Surat Yasin, juz amma, cerita tokoh NU, diba’iyah, lomba lari karung, sepak bola api, bulu tangkis, dan mengambil koin untuk siswa MTs. “Semua lomba ini diadakan dalam rangka untuk memeriahkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

Sementara Pengasuh Yayasan Ihyauddiniyah K A Nor Hasan Asy mengharapkan agar dengan kegiatan ini siswa mampu mengetahui sejarah perjuangan Rasulullah SAW sekaligus mampu mengenal para tokoh-tokoh NU.

“Dengan demikian siswa mampu mengambil uswatun hasanah dari tokoh NU yang dikenalnya. Di samping juga meneladani perjuangan Rasulullah SAW,” katanya. (Syamsul Akbar/Alahfiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Pekik Kemerdekaan dari Dalam Pesantren

Demak, Kawit An Nur Slawi - Tak seperti malam biasanya, khusus menyambut peringatan hari kemerdekaan ke-72 RI kegiatan pondok? diliburkan. Sekitar 500-an santri berkumpul di halaman pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, Jawa Tengah, memakai sarung, baju lengan panjang, dan peci hitam pada Rabu (16/8)

Mereka membentuk barisan layakanya tentara. Menghadap kiblat. Beberapa lampu pondok sengaja dipadamkan. Hanya ada satu sumber cahaya, yaitu sebuah lampu yang digantung di pohon kelapa di muka barisan.

Pekik Kemerdekaan dari Dalam Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekik Kemerdekaan dari Dalam Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekik Kemerdekaan dari Dalam Pesantren

Di tengah-tengah halaman, sebuah bambu berdiri ditopang segitiga bambu yang menyerupai tripod dengan tali pengerek bendera menjulur. Di sebelah utara barisan berdiri sekelompok santri dengan seragam sarung, jas, dan peci hitam. Mereka adalah pasukan paskibraka pondok. Di samping mereka, berdiri secara terpisah komandan upacara, petugas pembaca undang-undang, dan pengiring inspektur.

Kawit An Nur Slawi

Petugas pun memulai upacara. Sang komandan memasuki lapangan. Semua santri tampak tenang dan khidmat. Angin malam berembus sepoi-sepoi, menyapu daun, lalu menimbulkan bunyi sayup-sayup. Menambah khusyuk suasana.

Kawit An Nur Slawi

Segenap pengurus dan dewan asatidz pondok pun turut serta di dalamnya. Berbaris di sebelah selatan berhadapan dengan pasukan paskibraka pada jarak kurang lebih 20 meter. Salah satu pengurus, Kang Ahmad Sahal, bertindak sebagai inspektur upacara.

Begitu dipersilakan, Kang Sahal memasuki lapangan menaiki meja kecil yang sudah dipersiapkan. Sang komandan lalu mengintruksikan hormat pada inspektur dan seluruh peserta mengikutinya.

Suasana menjadi semakin hening ketika petugas paskibraka bergerak. Saat bendera telah siap dan semua pasukan mengambil sikap hormat, semua santri bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mereka tampak bersemangat, suaranya melengking tinggi, seolah-olah ingin didengarkan oleh makhluk seantero jagad.

Pekik kemerdekaan menggema ketika inspektur upacara menyampaikan amanat. "Merdeka! Merdeka! Merdeka!" Semua santri memekik dengan tangan mengepal. Dalam amanatnya, Kang Sahal menekankan pentingnya mensyukuri kemerdekaan.

"Sebagai santri, cara mensyukuri kemerdekaan adalah dengan mengaji, mengaji, dan mengaji," ucapnya dengan lantang.

Kang Sahal juga mengingatkan bahwa NKRI adalah harga mati. Ia menuturkan bahwa sekarang banyak ormas yang tidak mencintai tanah airnya, tidak segaris dengan konstitusi.

"Kita harus mencintai tanah air, karena hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman)." tegasnya.

Upacara itu diakhiri dengan penyalaan petasan kembang api di beberapa sudut pesantren. Kembang api itu membubung tinggi ke langit, menciptakan cahaya yang indah dan bunyi-bunyi yang meriah.

Upacara kemerdekaan merupakan tradisi rutinan di pondok pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, sebagaimana di Pesantren-pesantren yang lain.

"Setiap malam tanggal 17 Agustus kami selalu melakukan upacara kemerdekaan. Bagi kami ini juga bagian dari mengamalkan hubbul wathan minal iman," ucap Kang Solihul Hadi, salah satu pengurus Futuhiyyah. (Muhammad Salafuddin/Ben Zabidy/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Daerah, Lomba, Fragmen Kawit An Nur Slawi

Semangat dan Berani, Pesan Banser Tertua di Pra-Muktamar Medan Ini

Medan, Kawit An Nur Slawi. Muhammad Sinaga (74) adalah anggota Banser tertua yang tetap tegar dan semangat dalam mengamankan jalannya kegiatan Pra-Muktamar ke-33 NU di Pesantren al-Akbar al-Kautsar, Medan Sumatera Utara, Ahad (17/5).?

Pria yang lahir tahun 1941 ini tidak terlihat letih sedikitpun dengan usia yang tak muda lagi. Namun demikian, dia ingin memberikan pesan secara langsung dan tidak langsung kepada generasi muda Ansor dan Banser agar tetap semangat dan berani dalam mengabdi kepada umat dan bangsa.

Semangat dan Berani, Pesan Banser Tertua di Pra-Muktamar Medan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat dan Berani, Pesan Banser Tertua di Pra-Muktamar Medan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat dan Berani, Pesan Banser Tertua di Pra-Muktamar Medan Ini

“Harus selalu berani dan tetap semangat, mungkin dulu saya pernah menghadapi ganasnya G30S/PKI. Nah, generasi sekarang juga sama, gerakan radikal yang mengancam kedaulatan negara harus selalu kita waspadai,” tegasnya saat diwawancari Kawit An Nur Slawi di sela-sela tugasnya menjaga arena Pra-Muktamar Medan.

Kawit An Nur Slawi

Pria asli dari Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara ini selanjutnya menceritakan pengalamannya saat Banser bekerja sama dengan TNI mengadakan Pembinaan Mental, Fisik, dan Disiplin (Bintalfisdis) di Rindam Jaya, Condet, Jakarta Timur.?

“Sekarang, Banser dan TNI sudah menjadi mitra. Dalam diklat tersebut, kami juga dilatih menggunakan senjata, dan lain-lain,” terang Sinaga yang aktif di Banser sejak 1960-an.

Kawit An Nur Slawi

Jadi, ketika negara dalam keadaan genting, imbuh bapak dua orang anak dan tiga cucu ini, Banser diperbolehkan menggunakan senjata-senjata tersebut.

“Diantara senjatanya yaitu Air Softgun. Tentu kami dalam menggunakan senjata-senjata itu sesuai dengan komando TNI setempat, tidak sembarangan,” jelasnya.

Dalam kegiatan Pra-Muktamar di Medan ini, seperti biasa, Banser juga setia dan waspada dalam melayani dan menjaga para kiai yang hadir. Dari panggung ke panggung, dari jalan ke jalan. Tanpa komando pun mereka dengan siap dan sigap menjaga kiai-kiai. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sejarah Kawit An Nur Slawi

Ini Pesan Ketum PBNU kepada Dubes Indonesia untuk Aljazair

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj mengungkapkan rasa bangganya atas terpilihnya Hj Safira Machrusah, tokoh wanita NU, sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Republik Demokratik Rakyat Aljazair.

Ini Pesan Ketum PBNU kepada Dubes Indonesia untuk Aljazair (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Ketum PBNU kepada Dubes Indonesia untuk Aljazair (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Ketum PBNU kepada Dubes Indonesia untuk Aljazair

Hal itu disampaikan saat Kang Said saat memberikan pidato sambutan sekaligus pembekalan kepada Hj Safira Machrusah, Sabtu (27/2/2016) di Gedung PBNU Jakarta Pusat.

Kang Said berharap agar Safira dapat membangun hubungan antara Indonesia dengan Aljazair. Apalagi kedua negara tersebut sama-sama memiliki jumlah penduduk Islam yang besar. Beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang belajar di Aljazair juga dapat dirintis.?

Menurut Kang Said, mahasiswa Indonesia yang berada di negara yang orang Indonesia-nya sedikit, itu lebih bagus. Kang Said mengatakan bahwa di Mesir, misalnya ada sekitar 3000-an mahasiswa Indonesia. ? “Tetapi, bahasa Arab-nya tidak bisa karena sama-sama dari Indonesia, akhirnya lebih banyak memakai Bahasa Indoenesia,” tutur Kang Said.?

“Di Cairo, Bahasa Arab mahasiswa Indonesia juga mentah karena mereka hidup mengelompok,” tambah Kang Said.

Kawit An Nur Slawi

Kepada Safira yang sering dipanggil Mbak Rosa, Kang Said juga mengharapkan supaya dapat mempromosikan pariwisata Indonesia bagi masyarakat Aljazair. “Nanti (di Kedutaan Besar Indonesia di Aljazair) bisa diperbanyak foto-foto pegunungan, pantai, atau air terjun yang ada di Indonesia,” ungkap Kang Said.

Kang Said mengingatkan bahwa warga Aljazair suka makan daging kambing. Ini bisa membahayakan bagi kesehatan, karena konsumsi daging kambing yang berlebihan dan kurang olahraga, dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah.?

Kawit An Nur Slawi

“Selamat bertugas. Semoga Mbak Rosa diberi kekuatan dan mendapatkan ketenangan, dapat membangun pertemanan yang baik. Jaga kesehatan. Jangan makan (daging) kambing terus,” kata Kang Said di akhir sambutannya yang disusul tepuk tangan hadirin. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Doa, Ubudiyah, Syariah Kawit An Nur Slawi

IPNU NTB Dukung Pergub Wisata Halal

Mataram,Kawit An Nur Slawi. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajara Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (NTB) menilai Peraturan Gubernur (Pergub)? Nusa Tenggara Barat? No 51 tahun 2015 tentang wisata halal dinilai sebagai kebijakan tepat. ?

IPNU NTB Dukung Pergub Wisata Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU NTB Dukung Pergub Wisata Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU NTB Dukung Pergub Wisata Halal

Oleh karena itu, IPNU NTB juga mendukung wisata halal di daerah yang dikenal seribu masjid ini. "Kami dukung wisata halal di Lombok," kata Syamsul di hadapan Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata NTB H. Lalu Moh. Faozal di sela-sela pertemuan di Kota Mataram, Jumat (4/3).

IPNU NTB lanjut Syamsul, akan mempromosikan program gubernur tersbut ke wisatawan-wisatawan baik asing maupun domestik. Tak hanya itu, juga akan disampaikan ke pondok pesantren, madrasah, sekolah negeri maupun swasta sebagai basis utama IPNU.

Kawit An Nur Slawi

Mendengar hal itu, Faozal langsung menjadwalkan pertemuan dengan IPNU NTB untuk membahas teknis lanjutan. "Kalau begitu, nanti kita meeting kecil pada hari Senin (7/3) sore mendatang," katanya.

Kawit An Nur Slawi

Dia juga meminta pengurus inti PW IPNU juga ikut dalam pertemuan mendatang. "Silakan bawa beberapa pengurus inti saja ya," pintanya.

Pergub NTB tentang Wisata Halal pasal 10 menerangkan bahwa setiap biro perjalanan wisata halal wajib menyediakan informasi wisata halal dan desnitasi islami serta menyelenggarakan paket perjalanan/wisata yang sesuai dengan kreteria umum wisata halal yang ditetapkan tanggal 29 Desember 2015 untuk diberlakukan mulai tahun 2016. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pertandingan, Quote, Pendidikan Kawit An Nur Slawi

Minggu, 26 November 2017

Bagaimana Sikap Muslim Terhadap Hadits Dhaif dan Hadits Palsu?

Hadits dhaif (kalau merujuk pada ilmu Musthalah Hadits) merupakan tingkatan hadits paling rendah setelah hadits sahih dan hasan. Hadits ini dikatakan dhaif hanya karena penisbatannya yang tidak begitu meyakinkan kepada Rasulullah SAW.

Sebabnya antara lain adalah silsilah sanadnya yang terputus, rawinya yang kurang kuat ingatannya, dan lain sebagainya. Namun apakah hadits ini bisa sama dengan hadits maudhu (palsu)? Hal ini akan dijelaskan dalam tulisan sederhana ini.

Bagaimana Sikap Muslim Terhadap Hadits Dhaif dan Hadits Palsu? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Sikap Muslim Terhadap Hadits Dhaif dan Hadits Palsu? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Sikap Muslim Terhadap Hadits Dhaif dan Hadits Palsu?

Syekh Khalil bin Ibrahim dalam sebuah karyanya Khuthuratu Musawatil haditsid Dhaif bil Maudhu menjelaskan secara panjang lebar terkait perbedaan itu. Ia mengecam sebagian kalangan yang menyamakan hadits dhaif dengan hadits palsu. Keduanya mempunyai perbedaan yang sangat jauh. Menyamakan keduanya termasuk suatu kesalahan fatal dalam beragama.

Kawit An Nur Slawi

Syekh Khalil menjelaskan, di antara perbedaan hadits dhaif dan maudhu adalah sebagai berikut.

Kawit An Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Hadits dhaif pada dasarnya tetap dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW, berbeda dengan hadits maudhu yang merupakan kebohongan yang diada-adakan (atas nama Nabi SAW).

Selain itu, penyebab dhaifnya sebuah hadits adalah keterputusan sanadnya, atau kelemahan-kelemahan yang bersifat manusiawi dari para perawinya seperti lemahnya daya ingat, sering ragu ataupun tersalah dalam menyampaikan sesuatu. Sedangkan hadits maudhu adalah hadits yang tidak bersumber sama sekali dari Nabi Muhammad SAW. Kemudian hadits dhaif boleh diriwayatkan secara ijmak, sedangkan hadits maudhu tidak boleh diriwayatkan sama sekali kecuali dengan menjelaskan kepalsuannya.

Selanjutnya, hadits dhaif tetap diamalkan berdasarkan ijmak ulama dalam hal-hal yang berkaitan dengan keutamaan (fadhail), anjuran kebaikan, dan larangan keburukan. Sedangkan hadits maudhu haram diamalkan. Serta hadits dhaif akan naik derajatnya menjadi hasan li ghairihi ketika ada sanad lain yang memperkuat kebenarannya. Sedangkan hadits palsu tidak akan mengalami kenaikan status sekalipun mempunyai puluhan ataupun bahkan ratusan hadits pendukung dari jalur yang berbeda-beda.

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Ad-Durrul Mandhud sebagaimana yang dikutip juga oleh Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki dalam karyanya Ma Dza fi Sya’ban menyebutkan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Para imam dari kalangan ahli hadits dan ahli fikih telah sepakat, sebagaimana yang disebutkan juga oleh Imam An-Nawawi dan lainnya, tentang kebolehan beramal dengan hadits dhaif dalam hal fadhail (keutamaan-keutamaan), anjuran kebaikan dan ancaman keburukan. Tidak dalam perkara yang berkaitan dengan hukum halal dan haram, selama tingkat kedhaifannya tidak terlalu parah.”

Melihat sejumlah perbedaan itu, maka sangat naif kalau ada seseorang yang begitu entengnya membuang hadits dhaif seolah-olah itu bukan (tidak tergolong) sebagai perkataan Nabi sama sekali. Sementara itu di sisi lain, tidak terhitung banyaknya ulama yang mengamalkan hadits-hadits dhaif selama kedhaifannya tidak terlalu parah dan tidak mempunyai hadits pendukung dari jalur atau sanad yang lain.

Berikut ini kutipan beberapa pendapat ulama terkait hal tersebut. Pertama, Imam Nawawi dalam Fatawa-nya menyebutkan adanya konsensus (ijmak) di kalangan ulama terkait kebolehan mengamalkan hadits dhaif untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan akidah dan hukum halal dan haram.

Kedua, boleh mengamalkannya secara mutlak dalam persoalan hukum ketika tidak ditemukan lagi hadits sahih yang bisa dijadikan sebagai sandaran. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad dan Abu Daud. Selain itu Imam Abu Hanifah dan Ibnul Qayyimil Jauziyyah juga mengutip pendapat tersebut.

Ketiga, hadits dhaif boleh diamalkan jika ia tersebar secara luas dan masyarakat menerimanya secara umum tanpa adanya tolakan yang berarti (talaqqathul ummah bil qabul). Keempat, boleh mengamalkannya ketika hadits dhaif tersebut didukung oleh jalur periwayatan lain yang sama atau lebih kuat secara kualitas darinya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam At-Tirmidzi dalam karyanya. Wallahu a‘lam. (Yunal Isra)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nahdlatul, Pahlawan, RMI NU Kawit An Nur Slawi

Pelajar NU Brebes Ramai-ramai Galang Dana untuk RKB di Aceh

Brebes, Kawit An Nur Slawi

Ratusan pelajar NU Kabupaten Brebes, kini tengah dikerahkan ke berbagai tempat keramaian untuk menghimpun dana Rp1000 untuk membangun Ruang Kelas Baru (RKB) di Aceh. Program tersebut sebagai perwujudan atas imbauan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar NU (IPNU) terkait donasi gerakan Rp1000 untuk Aceh. Donasi tersebut nantinya akan digunakan untuk pembangunan RKB di lokasi gempa, Kabupaten Pidie, Aceh.

Ketua PC IPNU Kabupaten Brebes Riko Junaedi menjelaskan, sejak diterimanya surat imbauan pada 16 Januari lalu, pelajar NU Brebes langsung bergerak. Setelah dirapatkan, gerakan social pendidikan ini, disambut antusias pelajar NU Brebes. Terbukti, tiap Pimpinan Anak Cabang serentak bergerak untuk menghimpun donasi.

Pelajar NU Brebes Ramai-ramai Galang Dana untuk RKB di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Brebes Ramai-ramai Galang Dana untuk RKB di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Brebes Ramai-ramai Galang Dana untuk RKB di Aceh

“Gerakan sosial nasional ini menjadi nilai lebih bagi pelajar atas sumbangsih yang nyata,” kata Riko.?

Lewat gerakan ini, lanjutnya, Pelajar NU Brebes tergugah rasa empati, kesetiakawanan dan jiwa social yang tinggi bagi saudara saudara di Aceh yang mengalami kesulitan dalam belajar akibat gempa.

Riko menuturkan, pengumpulan dana akan dilakukan sampai 23 Januari 2017 oleh 9 PAC se-Kabupaten Brebes. Dan hasil donasi setelah dikumpulkan segera ditransfer ke rekening PP IPNU Jakarta.

Kawit An Nur Slawi

Sebagaimana dilakukan pengumpulan dana di Tol Exit Brebes Timur (Brexit) pada Jumat (20/1) hingga kini telah terkumpul donasi sebesar Rp 4.433.000. Perkembangan selanjutnya belum kami dapatkan laporan dari 9 PAC yang bergerak. “Kami akan melaporkan perolehan hingga 23 Januari mendatang,” kata Riko saat ditemui Kawit An Nur Slawi di Gedung NU Jalan Yos Sudarso Brebes, Ahad (22/1/17).

Hal serupa disampaikan Ketua PC IPNU Kabupaten Tegal Ahmad Misbahul Munir. Dia telah menindaklanjuti himbauan dari PP IPNU beserta jajaran PAC di 17 Kecamatan untuk bergerak. “Kami sudah memberi rambu rambu untuk mengumpulkan dana di rumah-rumah warga, persimpangan jalan, pasar dan pusat keramaian lainnya,” tutur Misbah saat ditemui di arena Raker I LP Maarif NU Tegal, Sabtu (21/1/17) kemarin. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Daerah Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

Kiai Syaifudin Amsir Bercerita Kiai dan Santri Betawi

Pesantren kiai Betawi di Jakarta dinilai tidak mampu bertahan lama. Sejak dahulu para kiai Betawi memang gemar mendirikan pesantren dengan bangunan asrama yang sangat sederhana. Namun, usia pesantren mereka cukup singkat. Bertahan sampai dua puluh tahun, para kiai Betawi itu sudah terbilang sukses.

Untuk itu, KH. Saifuddin Amsir, Rais Syuriyah PBNU asal Betawi ini bercerita kepada Alhafiz Kurniawan dari Kawit An Nur Slawi terkait usia dan masalah pesantren Betawi di Jakarta. Dialog berlangsung di ruang Syuriah PBNU lantai empat, Gedung PBNU, Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Selasa (6/11) sore.

Kiai Syaifudin Amsir Bercerita Kiai dan Santri Betawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Syaifudin Amsir Bercerita Kiai dan Santri Betawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Syaifudin Amsir Bercerita Kiai dan Santri Betawi

Mengapa kultur kiai Betawi dan kiai Jawa agak berbeda dalam menangani pondok pesantren?.

Kawit An Nur Slawi

Pendirian pondok pesantren itu mudah. Tetapi merawatnya, itu yang agak sulit. Kultur pondok pesantren itu sudah membenam kuat di kalangan kiai Betawi. Tetapi kultur itu kan tidak berdiri sendiri. Kultur itu dihadapkan pada kenyataan-kenyataan di sekitarnya. Kiai Betawi bikin (pesantren, red.) juga. Tetapi nasib dari kelanggengan pesantren itu tidak sama antara Jakarta dengan daerah lain.

Kenyataan model apa yang menjadi tantangan tradisi pesantren di Jakarta?.

Kawit An Nur Slawi

Antara lain ya urusan keduniaan. Keduniaan menuntut orang tua di Jakarta untuk mengubah orientasi pendidikan anak mereka. Dari situ, pendidikan sistem pondok, kurang dilirik oleh orang tua.

Itu pula yang mengubah perilaku masyarakat Betawi. Mereka dihadapkan untuk menyaingi jangkauan-jangkauan orang kafir yang ada di Betawi. Yang bila dia tidak ikut menyusul, maka dia akan tersisihkan, teralienasi dari kehidupan Jakarta. Itu yang mesti disadari.

Berbeda dengan yang ada di Jawa. Daerah yang terpajang maju itu, hanya ada pada lapis depannya saja. Untuk ke belakangnya, kalau bukan hutan ya tentu sawah. Lain dengan Jakarta. Pada zaman kolonial, Jakarta sudah punya metropol, kapitol, gedung bola Harmoni yang dikunjungi orang-orang dunia saat itu.

Sekarang rumah bola Harmoni sudah nggak ada itu. Yang jadi Duta Merlin, saya pernah membaca alquran di situ, di hotel jaman dulu. Masih kita melihat lantainya dari kayu jati yang mungkin tebalnya sejengkal untuk berdansa. Dan NU pun pernah hadir di situ. NU mentradisikan sesuatu yang belum pernah menjadi tradisi di Jakarta. 

Habis pengajian, mereka menyetel musik. Itu terjadi pada tahun 1969. Saat itu saya masih suka membaca Al-Quran.

Lalu bagaimana reaksi para kiai melihat kenyataan demikian?. Kiai Betawi menolak. ‘Jangan kata kiai, ustad-ustad sederhana aja kagak mau bikin begini (mencampur tradisi agama dalam pesta-pesta),’ kata saya dalam hati. Dan itu bukan ulama Betawi. Ulama Betawinya pada mundur. Itu sudah terjadi sejak zaman pak Idham Cholid. Dia ketua Tanfidziyah NU waktu itu. Dia paham menyanyi, paham ini, paham itu. Dia cerdas dan piawai dalam berceramah. Dia politisi juga.

Saya mengerti itu karena dahulu saya suka mengikutinya lantaran saya suka diminta buat membaca Al-Quran. Emang (kualitas membaca Al-Quran, Red) tidak sebaik yang sekarang. Kalau sekarang kan emang dipelajarin. Kalau dahulu sih, bisa saja udah untung (Kiai Saifuddin tertawa lebar). 

Jakarta terbilang unik. Di daerah yang menjadi pusat keduniaan baik dari segi ekonomi maupun kekuasaan, terlahir banyak kiai di dalamnya. Mereka umumnya menggali ilmu agama di kota Mekkah dengan sistem pondok pesantren. Tetapi ada juga kiai Betawi yang belajar dari guru-guru alumni Mekkah.

Mereka kemudian menerapkan sistem pondok di daerahnya. Namun, kehidupan metropolitan menuntut warganya untuk mengubah model pondok pesantren menjadi sekadar majelis taklim. Tidak seperti di Jawa atau Sunda, pondok pesantren di Betawi umumnya berumur singkat karena kurang dukungan dari warganya.

Kita bisa menyebut pondok pesantren yang didirikan oleh Guru Marzuki, pendiri pertama NU Jakarta, di bilangan Jatinegara, Jaktim, dan pondok pesantren Guru Makmun, ayah KH. Abdurrazak Makmun, Katib Syuriah PBNU 1967, Kuningan, Jaksel.

Kedua pesantren ini di tahun 1930-an sangat berkontribusi bagi pengembangan kaderisasi keulamaan. Kiai Betawi generasi berikutnya banyak berhutang budi kepada dua pondok pesantren tersebut. Karena, banyak kiai-kiai tangguh Betawi dibesarkan oleh pengajaran dan keberkahan dua pondok tersebut. KH Abdullah Syafi‘I adalah satu dari sekian banyak santri pondok pesantren Guru Marzuki.

Negosiasi tradisi pesantren dan gaya hidup metropolitan menghasilkan sistem baru dalam pendidikan keagamaan di Betawi. Sistem pondok berubah menjadi model madrasah. Sebut saja madrasah Raudlatul Muta‘alllimin, Kuningan Jaksel, yang digagas pada tahun 1950-an.

Madrasah ini mengakomodir santrinya tanpa harus bermukim di asrama. Di dalamnya kurikulum pesantren diterapkan. Selebihnya, para santri pulang ke rumah. Di luar madrasah, para santri membekali diri dengan aneka keterampilan sebagai tuntutan hidup di kota metropolitan.

Meskipun pesantren di Jakarta timbul-tenggelam, kiai Betawi generasi berikutnya tidak jera untuk mendirikan pesantren. Kita bisa mendapati sejumlah pondok. Mereka antara lain Pesantren Miftahul Ulum Gandaria Jaksel oleh Guru Ishaq Yahya, Pesantren Asy-Syafi‘iyah Pondok Gede oleh KH Abdullah Syafi‘i, Ma’had Ali Al-Arbain, Al- Asyirotus Syafi‘iyyah Kebayoran Lama oleh KH Syafi‘I Hadzami.

Para kiai Betawi mengambil posisi seperti apa?. Kiai di kampung-kampung itu sebelnya setengah mati. Anda bayangkan saja! Masya Allah, habis membaca Alquran, para undangan di sebuah hotel itu dangdutan. Terang aja, para kiai kampung di Betawi ini, jengkel. Mereka bilang, “Gua kagak nyangka ada kiai (Idham Cholid) nyang model begitu”. Jadi pada waktu itu, ya begitu adanya. 

Jadi Anda bayangkan NU yang dari belakang, dalam, dari ini, dari pinggiran, dari Amuntai seperti pak Idham Cholid harus mentolerir itu kehidupan keagamaan di kota.

Bagaimana bisa menjelaskan hal seperti itu, Pak Kiai?. Hal ini sesungguhnya pernah terjadi pada zaman sahabat Rasulullah di Madinah dan di negeri Syam. Umar bin Khattab pernah menegur gubernurnya yang ada di perbatasan, “Lasta amiran, bal anta malik.” Ente ini bukan pemimpin, ente ini raja. Itu ucapan yang diberikan kepada Muawiyah bin Abi Sofyan dan kepada Amr bin Ash yang di Mesir. Karena, mereka ada pada garis demarkasi, berhadapan langsung dengan (tradisi agama dan budaya, Red) orang lain. Nah, Jakarta begitu kebanyakan, nggak kuat kalau dibandingkan dengan keikhlasan orang Jawa.

Apakah kiai Betawi kurang ikhlas pak kiai?. Bukan begitu maksudnya.

Jadi bagaimana memandang para kiai Betawi?. Kiai Betawi ya, dia masih ada di sini (Jakarta) saja, sudah syukur alhamdulillah. Dia mau saja begini (mengajar kitab kuning di majelis taklim), itu nggak dapat keuntungan apa-apa. Dia ada cuma untuk agamanya. Hartanya, dia bikin habis. Kalau kamu mau bikin pesantren di Jakarta, siapa yang mau mondok di Jakarta. Usianya nggak bakalan lama. Itu kan terjadi berulang-ulang. Orang dulu di sini yang udah alim-alim, kalau sekadar mengajar ngaji saja tanpa menyediakan makanan, juga nggak dikunjungi orang. Jadi ilmu juga, ya (keluar) duit juga. (kiai Saifuddin mengumbar tertawa cukup lama).

Tetapi, pada zaman itu saya lihat khidmat orang desa Betawi dan para kiainya luar biasa. Mereka tetap semangat dalam mengembangkan pendidikan agamanya baik dengan model pesantren atau pun sistem majelis taklim.

Ini berkaitan dengan keseriusan kiai Betawi dalam mengelola pesantren?. Kalau para kiai Betawi di Jakarta dinilai kurang serius mendirikan pondok, sepertinya harus dipertimbangkan. Dan ini terjadi di kota-kota besar, bukan hanya di Jakarta.

Buktinya, mereka tetap serius kok menyebarkan ilmu pesantren. Coba lihat, guru saya delapan tahun di Mekkah. Sampai karomahnya sudah kelihatan. Dia mengajar di banyak majelis taklim. Tapi Istrinya kalau pagi menjual pisang goreng karena dia mempertahankan tradisi pesantren. Dia tidak mau masuk ke dalam gaya hidup metropolitan. Selain ilmu pesantren, dia juga mempertahankan kezuhudan di tengah silang-menyilang kehidupan keduniaan di tengah kota.

Ulama kayak gitu itu banyak di Jakarta. Makanya ketahuan oleh masyarakat kalau dia itu kiai besar, ketika ulama Jawa sudah bertemu dengan mereka. Gus Dur kan pernah minta berhenti mobilnya di tengah perjalanan, “Sebentar dulu saya mau ketemu teman saya yang lagi jalan kaki.”

Kiai Saifuddin Amsir adalah kiai masyhur Betawi, asal Kampung Berlan, Matraman, Jakarta Pusat. Dia pernah berguru kepada KH Syafi’I Hadzami, Rais Syuriyah PBNU 1994-1999, pendiri pesantren Ma‘had Ali Al-Arbain Al-Asyirotus Syafi‘iyah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Kiai Saifuddin juga pernah berguru cukup lama kepada KH Abdullah Syafi‘i, pendiri perguruan Asy-Syafi‘iyyah, Tebet dan Pondok Gede. Selain pada keduanya, Kiai Saifuddin juga menimba ilmu agama dari para kiai Betawi di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur.

Kini, dia mengajar di sejumlah majelis taklim di Jakarta. Antara lain, dia mengajar tafsir Ibnu Katsir pada majelis taklim Ahad pagi di Masjid Ni’matul Ittihad, Pondok Pinang, dan kitab Ihya Ulumiddin pada Masjid Taman Puring, Gandaria, Jakarta Selatan, Senin malam. Dalam kesehariannya, Kiai Saifuddin tercatat sebagai dosen tetap di Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sunnah, Hadits Kawit An Nur Slawi