Minggu, 05 Desember 2010

Begini Harapan Kiai Maruf Amin dalam Dzikir Kebangsaan di Istana Negara

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Semoga masyarakat Indonesia mendapatkan Himayah, Wiqoyah, dan Riayah dari Allah SWT. Sehingga Indonesia mendapatkan perlindungan Allah dari segala macam malapetaka yang merusak bangsa dan tetap utuh.

Demikian disampaikan Rais Aam PBNU KH Maruf Amin saat memberikan taushiyah dalam acara Dzikir Kebangsaan dengan tema Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Indonesia di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (1/8).

Begini Harapan Kiai Maruf Amin dalam Dzikir Kebangsaan di Istana Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Harapan Kiai Maruf Amin dalam Dzikir Kebangsaan di Istana Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Harapan Kiai Maruf Amin dalam Dzikir Kebangsaan di Istana Negara

Dzikir kebangsaan ini, lanjut Kiai Maruf, juga diharapkan bisa membuka pintu berkah dan rahmat dari Allah semakin luas lagi. Menurut dia, selama ini Indonesia sudah mendapatkan berkah dan rahmat dari Allah, yaitu dengan diberikannya bangsa Indonesia tanah air yang subur dan makmur.

"Rahmat ini semakin terasa bermakna karena Indonesia memiliki dasar negara yang dapat mempersatukan seluruh elemen bangsa, yaitu Pancasila," jelasnya.

Ketua Umum MUI Pusat itu menambahkan, meminta berkah dan rahmat kepada Allah adalah salah satu ikhtiyar yang harus dilakukan oleh setiap manusia karena apa yang manusia raih di dunia ini bukan semata-mata atas hasil kerjasanya sendiri, tetapi juga atas ridlo Allah.

Kawit An Nur Slawi

"Mudah-mudahan Allah SWT mengabulkan apa yang negara kita inginkan," harapnya. 

Kawit An Nur Slawi

Bahkan, tegas Kiai Maruf, kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah adalah berkat rahmat Tuhan. Hal itu tertuang di dalam Pembukaan UUD 1945. 

Ia berharap agar dzikir kebangsaan ini bisa rutin dilaksanakan setiap tahunnya pada bulan Agustus sebagai pembuka dari rangkaian acara Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Khutbah, Sunnah, Syariah Kawit An Nur Slawi

Jumat, 05 November 2010

Membangun Kesalehan Bersama Surat Yasin

Selain Al Fatihah, Al Ikhlas dan Al Muawwidzatain, mungkin surat Yasin adalah surat yang paling banyak berinteraksi dengan kaum Muslim. Yasin dibaca dalam setiap pertemuan kaum Muslim, ketika tahlilan, ziarah kubur, bahkan dijadikan amal wasilah demi terkabulnya hajat. Yasin menjadi perekat sosial secara horizontal dan media berdialog dengan Allah secara vertikal. Disinilah urgensi Yasin menjadi penting. Hakikatnya yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat baik individu maupun sosial menjadikan Yasin begitu dibutuhkan bukan cuma sebagai ayat suci dalam relasi khalik dan makhluk tapi ayat sosial dalam relasi masyarakat.

Karenanya, menjadi wajar dan begitu urgen kalau surat Yasin dihaturkan ke hadapan masyarakat dengan disertai pemahaman. Misi agar Yasin menjadi nilai-nilai hidup dalam masyarakat inilah yang mengilhami penulis, KH Abd Basith AS menghadirkan buku ini. Surat Yasin yang telah melembaga dalam batin masyarakat akan lebih bernilai jika dia hidup, lebih-lebih jika amanat dalam surat Yasin menjadi perilaku teladan masyarakat kita.

Membangun Kesalehan Bersama Surat Yasin (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Kesalehan Bersama Surat Yasin (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Kesalehan Bersama Surat Yasin

Buku ini terbagi dalam 4 bab dengan menyajikan Yasin secara per kelompok mengikuti sistematika ayat yang tematik. Rujukannya sudah lebih dari cukup untuk menyajikan Yasin dari berbagai perspektif. Beberapa kitab muktabarah dijadikan rujukan dalam buku ini sehingga warna intelektualnya begitu mewarnai. Perspektif ilmu Tafsir dan Ulumul Quran tercermin dari referensi Tafsir Jalalain, Tafsir Al Maraghi, Hasyiyatul Allamah As Shawi Ala Tafsiril Jalalain, Tafsiru Surat Yasin Syekh Hamami Zadah, juga Qabas min Nuril Quran Muhammad Ali Asshabuni. Sementara tasawuf dan pendidikan adab menggunakan rujukan Ihya’ Ulumuddin, Sirajut Thalibin dan Mau’idhatul Mu’minin.?

Dimulai dengan tafsir ayat pertama Surat Yasin yang sifatnya diskursus. Penulis nampaknya memilih pendapat jumhur ulama ahlusunnah untuk menyerahkan penafsiran lafal Yasin di pembuka surat pada Allah. Meski penulis juga menyebutkan penafsiran Yasin menurut sejumlah ulama. Aspek keragaman nampak diperhatikan, meski penulis hanya menyebutkan arti Yasin menurut Ibnu Katsir dan Jalalain. Keragaman pemaknaan lafal Yasin yang disebut penulis, sebenarnya ditemukan sejak tafsir Abdullah bin Abbas, Qatadah, Ikrimah, Al Mawardi dan Tafsir Al Kasyaf. Selain itu, pada bab pertama ini penulis menyebut identitas penyantun sebagai manifestasi rahmah dalam Islam. Sebuah upaya tak terputus untuk menyambungkan aspek sakral Al Rahim pada ayat kelima Yasin dengan aktivitas sosial.

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

Pemilihan referensi sebagai rujukan nampaknya jitu dan mengena. Ambil contoh, dalil tentang keesaan tuhan yang dirujuk dari As Shabuni menyebutkan bahwa tanda-tanda di alam semesta sejak relasi bumi dan hujan, siang dan malam, peredaran bulan dan matahari serta fakta transportasi (19-23). Pemilihan tema ini sifatnya mengena karena bersifat identifikatif-observasif bagi setiap Muslim. Artinya setiap Muslim pasti menjumpai fenomena alamiah di atas sehingga tadabbur lebih mudah diaktifkan sesuai tingkat keilmuan masing-masing individu.?

Selain aspek intelektual, sosial dan tauhid, buku ini juga menyertakan kekhasan sebagai buku warga NU. Di awal buku dicantumkan dalil tentang fadhilah Yasin yang mungkin bagi kalangan Wahabi bersifat problematik serta tak lupa di akhir buku penulis mencantumkan doa populer surat Yasin karya Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Walhasil, buku ini ternyata tak sesederhana tampilannya. Meski hanya 54 halaman, ilmu yang dituangkan Kiai Abd. Basith menjangkau jauh lebih banyak dari sekedar 54 halaman. Ada kalimat-kalimat tak tercetak yang disuguhkan penulis yang hanya bisa dipahami jika buku ini dibaca dengan penuh penghayatan dan ghirah untuk menghidupkan kesalehan. Sesuai misinya, buku ini cocok dibaca sejak lapisan elit, intelektual sampai masyarakat bawah.

Judul Buku: Surah Yasin: Menghadirkan Nilai-nilai Al Quran Dalam Kehidupan

Penulis: KH Abdul Basith AS

Penerbit: LTN NU Sumenep dan Muara Progresif

Halaman: XII dan 53 Halaman

Tahun terbit: Juni 2013

ISBN: 978-602-17206-5-3

Peresensi:Syarif Hidayat Santoso, pustakawan, warga NU Sumenep.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hikmah, Ulama Kawit An Nur Slawi

Senin, 04 Oktober 2010

Inilah Kriteria 155.200 Orang Pengisi Kuota Haji Reguler 2016

Jakarta, Kawit An Nur Slawi - Pemerintah Republik Indonesia (RI) menetapkan kuota haji regular tahun 1437 H/2016 M tidak lebih dari 155.200 orang calon jamaah haji. Melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI, pemerintah mengatur pengisian kuota jamaah haji reguler tahun 1437 H/2016 M dalam dua tahapan.

Pengumuman ini disampaikan Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin yang didampingi Dirjen PHU Prof Dr H Abdul Jamil di Kantor Kemenag RI Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4, Jakarta, Selasa (17/5) siang.

Inilah Kriteria 155.200 Orang Pengisi Kuota Haji Reguler 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Kriteria 155.200 Orang Pengisi Kuota Haji Reguler 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Kriteria 155.200 Orang Pengisi Kuota Haji Reguler 2016

Pemerintah memberlakukan ketentuan pengisian kuota jamaah haji reguler tahun 1437 H/2016 M tahapan pertama untuk jamaah haji yang telah memiliki nomor porsi dan masuk dalam alokasi kuota provinsi atau kabupaten/kota tahun 1437 H/2016 M.

Kawit An Nur Slawi

Mereka yang berhak mengisi tahapan pertama kuota jamaah haji reguler tahun 1437 H/2016 M adalah calon jamaah lunas tunda tahun 1436 H/2015 M dan tahun 1435 H/2014 M, calon jamaah yang belum pernah menunaikan ibadah haji, calon jamaah yang sudah berusia 18 tahun atau sudah menikah terhitung pada 9 Agustus 2016, dan calon jamaah haji nomor porsi berikutnya sebanyak 5% yang berstatus belum haji dan masuk daftar tunggu pada tahun 1438 H/2017 M dari jumlah kuota provinsi dan kabupaten/kota yang bersangkutan.

Sementara pengisian tahapan kedua kuota jamaah haji reguler tahun 1437 H/2016 M dilaksanakan bila sampai akhir pelunasan tahapan pertama masih terdapat sisa kuota haji yang belum terpenuhi.

Kawit An Nur Slawi

Sedangkan mereka yang berhak mengisi tahapan kedua kuota jamaah haji reguler tahun 1437 H/2016 M adalah calon jamaah yang mengalami gagal sistem pelunasan pada tahapan pertama, calon jamaah yang pernah menunaikan haji dan masuk kuota tahun 2016, calon jamaah lansia 75 tahun, pendamping jamaah lansia yang masuk dalam pelunasan tahapan pertama, dan penggabungan mahram.

Berdasarkan ketentuan, lansia dapat didampingi oleh suami/istri/anak kandung/adik kandung. Pendamping lansia dan penggabungan mahram disyaratkan sudah mendaftar sebelum 1 Januari 2014. Verifikasi data dilakukan oleh Kankemenag Kabupaten/Kota dan Kanwil setempat. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Daerah, Pertandingan, IMNU Kawit An Nur Slawi

Jumat, 01 Oktober 2010

Waktu Sidang Isbat 1 Syawal akan Lebih Panjang

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Pemerintah akan menggelar sidang isbat atau penetapan 1 Syawal 1434/2013 pada hari Rabu, 7 Agustus 2013 di Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta. Waktu sidang akan lebih lama dari biasanya.

Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengatakan, sidang isbat akan dimulai pada pukul 13.30 dengan agenda sidang pra isbat, bukan 17.00 seperti biasanya. Alasannya, kata Menag, sidang isbat menarik perhatian masyarakat luas, yang selalu mempertanyakan mengapa awal Ramadhan dan 1 Syawal selalu berbeda.

Waktu Sidang Isbat 1 Syawal akan Lebih Panjang (Sumber Gambar : Nu Online)
Waktu Sidang Isbat 1 Syawal akan Lebih Panjang (Sumber Gambar : Nu Online)

Waktu Sidang Isbat 1 Syawal akan Lebih Panjang

Selain itu, masyarakat selama ini beranggapan bahwa tanggal 1 Syawal sebenarnya sudah bisa ditetapkan bahkan sampai 100 tahun mendatang.

Kawit An Nur Slawi

"Ada pertanyaan apakah ilmu hisab itu sejalan dengan astronomi, apakah rukyah itu sejalan dengan ilmu astronomi, apakah pemerintah itu merupakan ulil amri," ungkap Menag.

Kawit An Nur Slawi

Dengan panjangnya waktu sidang isbat, diharapkan akan mampu mempertemukan pandangan-pandangan yang selama ini berselisih.

Dalam siding isbat itu, kata Menag, pemerintah juga akan meminta pandangan dari tokoh-tokoh negara sahabat, dalam menetapkan awal Ramadhan dan 1 Syawal.

Sidang isbat 1 Syawal nanti, kata Menag, juga akan menghadirkan kelompok-kelompok yang selama ini kerap berbeda pandangan, seperti misalnya Muhammadiyah, Satariyah di Medan, Naqsyabandiyah, An Nasir dari Sulawesi Selatan.

Dalam sidang, kata Menag, pemerintah mengundang kelompok-kelompok ahli untuk menjelaskan kriteria yang menjadi dasar perhitungan tinggi hilal (bulan).

"Syukur-syukur tahun depan kita akan menyatukan kriteria itu menjadi satu kriteria saja. Selama kriterianya masih berbeda-beda maka potensi perbedaan dalam menetapkan awal bulan itu masih terbuka lebar," kata Menteri Agama.

Menteri Agama Suryadharma Ali lebih lanjut berharap pemerintah mendapatkan mandat penuh dari umat Islam di Indonesia.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaNu, Sunnah, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 26 Juni 2010

Santri Kempek Bangga Jadi Relawan PBNU

Cirebon, Kawit An Nur Slawi

Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdllatul Ulama (PBNU) yang berlangsung 23-25 Juli 2016, selain melibatkan panitia dari PBNU, juga menyertakan panitia lokal yang berasal dari tempat digelarnya kegiatan, yakni Pondok Pesantren KHAS Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat.

Dari panitia lokal terjun sebagai relawan di antaranya adalah para santri dan siswa Madrasah Aliyah KHAS Kempek. Para siswa yang terpilih terbagi dalam beberapa kelompok tugas, yakni penerima tamu, bagian registrasi, kebersihan ruangan dan lingkungan acara, serta pengantar makanan bagi para tamu.

Santri Kempek Bangga Jadi Relawan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Kempek Bangga Jadi Relawan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Kempek Bangga Jadi Relawan PBNU

Ahmad Ali, siswa kelas X yang bertugas sebagai pengantar makanan, mengungkapkan kepada Kawit An Nur Slawi rasa senangnya terlibat sebagai relawan kegiatan ini.

Kawit An Nur Slawi

“Saya senang dengan menjadi relawan karena dapat berkhidmah kepada para kiai dari seluruh Indonesia termasuk dari Jakarta,” tutur Ali, Sabtu (23/7) malam.

Ali menambahkan rasa bangganya karena di antara para kiai yang datang pada? kegiatan ini adalah Kiai Said Aqil Siroj, yang juga Ketua Umum PBNU.

Kawit An Nur Slawi

“Kiai Said adalah adik kandung dari (almarhum) Abuya Jakfar Aqil Siroj, salah satu pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Kempek periode sebelumnya,” kata Ali.

Santri lainnya, Ahmad Ridwan yang duduk di kelas XI mengungkapkan hal senada. Ridwan menyampaikan bawah kesibukan santri relawan dimulai sejak Jumat, sehari sebelum penyelenggaraan acara. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Khutbah Kawit An Nur Slawi

Selasa, 20 April 2010

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan

Amaliyah yang gampang dikerjakan dan mendatangkan pahala yang besar itu sebenarnya banyak. Seperti Yasinan, Tahlilan, Ziarah Kubur, Shalawatan, dzikir, dan lain-lain. Amaliyah yang demikian mayoritas warga NU yang mengamalkan. Namun dewasa ini, dari beberapa amaliyah yang gampang itulah ternyata menuwai banyak kritik dari berbagai golongan. Bahkan kritikan terkadang datang dengan sedikit keras. Meraka terlalu gampang menyalahkan seseorang, mensyirikkan seseorang, bahkan mengkafirkan seseorang. Memang sebuah ironi. Mereka seakan lupa bahwa Islam itu sebagai agama yang rahmatal lil’alamin.

Zaman sudah dipola sedemikian rupa. Yang benar terkadang jadi salah dan yang salah terkadang jadi benar. Baik dalam konteks pemerintahan maupun agama. Beragam aliran baru dalam beragama bermunculan. Akhirnya, hal inilah yang menggoyah jalannya organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) itu. Sebagian ulama NU mengatakan bahwa sekarang keadaan NU sama dengan waktu dulu semenjak NU baru dilahirkan. Kondisi NU sekarang lebih pada mempertahankan diri.

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan

Bagi warga NU yang pengetahuan agamanya sudah luas, mungkin problematika yang seperti ini tidak sampai menimbulkan permasalahan atau murusak amaliyahn yang sudah mentradisi dalam NU. Namun, bagi warga NU yang hanya mengamalkan amaliyahnya tanpa tahu dalil-dalil yang menjelaskan tentang amaliyahnya, disinilah bahayanya. Saya mengibaratkan hal ini dengan orang yang berjalan yang hanya berjalan. Ia tidak tahu atas dasar apa ia berjalan dan ia tidak mengerti mengapa ia berjalan. Maka, orang itu bisa jadi ditengah perjalanan nanti akan mengalami kejenuhan, bosan, dan malas. Apalagi dalam perjalanan itu ada orang yang mengolok-olok bahwa perjalanan yang sedang dijalani itu membawa kesesatan. Kemungkinan besar orang yang melakukan perjalanan itu kembali pulang dan akhirnya dia tidak mau melakukan perjalanan lagi.

Kawit An Nur Slawi

Nah, terbitnya buku yang berjudul Dalil-dalil Praktis Amaliyah Nahdliyah (Ayat dan Hadits Seputar Amaliyah Warga NU) itulah seolah menjadi cahaya yang menyinari amaliyah-amaliyah  warga Nahdlatul Ulama (NU). Dengan cahaya itu, dasar-dasar atau dalil-dalil tentang amaliyah NU menjadi tampak dan jelas. Sehingga bisa dipahami bahwa amaliyah yang dilakukan oleh warga NU tidak asal buat. Semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.

Beberapa amaliyah yang ditentang keras oleh beberapa golongan antara lain adalah seperti Tahlilan, Shalawatan, Ziarah Kubur, dan Maulid Nabi, juga di sajikan penjelasannya dalam buku yang setebal 245 itu. Misalnya tentang Tahlilan, Zainuddin Fanani, MA dan Atiqa Sabri Daila, MA mengungkapakan bahwa Tahlilan itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keagamaan umat Islam. Tahlilan adalah media yang sangat penting untuk dakwah dan penyebaran Islam. Dari segi sejarah, Tahlilan sudah ada sejak dahulu sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Perbedaan dan pertentangan dalam tradisi Tahlilan hanya terjadi di antara pemimpin intlektual NU dan Muhammadiyah. Sementara umat mengamalkan tradisi ini.

Tradisi Tahlilan memiliki dua aspek, ketuhanan (hubungan dengan Allah) dan kemanusiaan (hubungan sesama manusia). Tahlilan adalah masalah khilafiyah, maka tidak boleh menjadi penghalang persatuan dan kesatuan umat Islam setelah mengesahkan Allah. (hal 198)

Kawit An Nur Slawi

Yang menarik, permaslahan yang terjadi setiap tahun seperti penetapan awal Ramadan  dan Syawal (hal 126), bahkan  ringkasan kitab Risalah Ahlusunnah wal Jama’ah (Karya Hadratus Syaik Muhammad Hasyim Asy’ari) juga ada dalam buku yang ditulis oleh ketua PCNU kota Malang itu. (hal 179). 

Dari sisi lain, membaca buku yang ditulis oleh KH. Marzuqi Mustamar itu mencerminkan bahwa beliau mempunyai tanggung jawab besar dalam membantengi dan menjaga warga NU. Menjaga bagaimana Warga NU tetap dalam jalan yang telah dibina oleh NU. Beliau takut warga NU menghentikan langkah dan tidak mau meneruskan lagi perjalanannya. Maka dari itulah, buku yang ditulis oleh dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim itulah sangat dianjurkan untuk dibaca oleh semua masyarakat terutama warga NU. Wallahu a’lam.

Data buku

Judul : Dalil-dalil Praktis Amaliyah Nahdliyah (Ayat dan Hadits Pilihan Seputar Amaliyah Warga NU)

Penulis : KH. Marzuqi Mustamar

Penerbit : Muara Progresif Surabaya

Cetakan : I, Maret 2014

Tebal : xi + 245 hal. 14,5 x 21 cm

Peresensi : Moh. Sardiyono, alumnus PP. Nasy-atul Muta’allimin Gapura  Sumenep Madura dan Mahasiswa di UIN Sunan Ampel Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Humor Islam Kawit An Nur Slawi

Selasa, 13 April 2010

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah

Oleh Munawir Aziz*

Selama ini, dakwah yang digunakan untuk mengampanyekan nilai-nilai Islam sangat terkait dengan media. Penyampaian pesan-pesan keagamaan melalui media konvesional terbukti efektif sebagai agenda dakwah. Model-model dakwah dalam forum kajian, majelis taklim maupun acara-cara seminar mampu mempengaruhi perspektif kaum muslim agar memahami nilai-nilai agama secara lebih utuh.

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah

Akan tetapi, saat ini media mengalami revolusi dalam spektrum baru berupa media digital. Bagaimana merespon revolusi media dalam kerangka strategi dakwah? Bagaimana menampilkan model dakwah yang baru di tengah percepatan teknologi? Tentu saja, dakwah di era digital perlu menggunakan strategi-strategi baru untuk merespon ekosistem media digital yang berbeda dengan media konvensional.

Pertumbuhan media digital menemukan momentumnya dengan pertumbuhan kelas menengah muslim. Jika geliat kelas menengah dimulai dari tahun 1980an, yang kemudian menemukan akses luas pasca reformasi, tentu hal ini tidak bisa dilepaskan dari iklim politik dan kebebasan di ruang publik untuk mengekspresikan identitas. Kelas menengah muslim dianggap sebagai ceruk penting yang memiliki potensi luar biasa, dari akses ekonomi, gaya hidup, pengetahuan hingga keberpihakan politik. ?

Kawit An Nur Slawi

Dalam hal ini, kelas menengah muslim adalah ceruk komunitas yang terus membesar, seiring pertumbuhan ekonomi dan akses pendidikan. Robisan mencatat, bahwa “dalam kelas menengah, terdapat sejumlah akademisi, kaum cendekiawan, reformis, intelektual, pengusaha muda, pengacara, tokoh politik, aktifis kebudayaan, kaum teknokrat, aktifis LSM, juru dakwah, publik figur, presenter, pengamat ekonomi dan sejenisnya” (Robison 1993: 30)

Kawit An Nur Slawi

Untuk itu, Vatikiotis mengungkapkan bahwa kelas menengah muslim lebih banyak berada di perkotaan, karena mudahnya akses media dan jaringan pengetahuan. “Di Indonesia, kebangkitan kembali kepada semangat keagamaan tahun 1980an dan 1990an adalah fenomena khas kelas menengah di wilayah-wilayah perkotaan – segmen masyarakat yang paling banyak tersentuh oleh pembangunan ekonomi dan perubahan sosial. Fenomena ini berpengaruh luas pada meningkatnya ketaatan beragama padaorang-orang Islam yang sedang menikmati kemakmuran sebagai kelasmenengah” (Vatikiotis, 1996: 152 – 53). Akan tetapi, pandangan Vatikiotis ini perlu direvisi karena pertumbuhan media digital.

Seiring meningkatnya akses informasi melalui media digital, tentu pembagian demografi dalam pandangan Vatikiotis akan sedikit mengalami revisi. Ruang fisik semakin meluas tidak hanya di kota-kota besar semata, karena hal ini akan ditembus oleh akses ekonomi, media informasi dan perkembangan teknologi. Sekarang ini, sangat mungkin menemukan pengusaha muslim yang memiliki produk hijab skala menengah yang bermukim di pelosok Banyuwangi, namun memiliki kantor cabang di Jakarta dan Surabaya. Perkembangan teknologi, media sosial dan kemudahan akses infrastruktur memungkinkan fenomena ini terjadi.

Sirkulasi Ekonomi

Tumbuhnya kelas menengah muslim, juga ditunjang oleh tren positif pasar ekonomi syariah. Meningkatnya sirkulasi ekonomi dengan dalam pasar berlabel syariah, dapat dilacak pada perkembangan pesat bank syariah di Indonesia. Rintisan perbankan syariah yang dimulai pada 1991 oleh Bank Muamalat, tumbuh mencapai 40 % tiap tahunnya. Penetrasi ini melebihi bank konvensional yang tidak sampai kisaran 20%. Meski belum mencapai 5% dari total aset perbankan, akan tetapi geliat pasar ekonomi syariah sangat menjanjikan. Setidaknya, dari data awal 2014, sudah ada sekitar 11 Bank Umum Syariah (BUS), 23 Bank syariah dalam bentuk Unit Usaha Syariah (UUS), dan 160 Bank perkreditan rakyat syariah (BPRS). Dari jumlah ini, bank-bank syariah memiliki 2.925 kantor cabang dan memiliki lebih dari 12 juta akun nasabah dengan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai lebih dari 175 triliun rupiah (Yuswohadi, 2015).

Saat ini, tren ekonomi syariah berdampak pada bisnis kreatif dengan pasar kelas menengah muslim, dari fashion, kuliner, hingga wisata. Di beberapa daerah, wisata berbasis syariah sudah mulai menggeliat dengan memunculkan paket-paket jelajah daerah dengan panduan khusus untuk melayani pasar kelas menengah muslim. Dari sisi bisnis, tumbuhnya kelas menengah muslim menjadi tren penting pada zaman sekarang. Dampaknya, sangat terasa pada volunterism, fundrising dan agenda-agenda dakwah beserta amal yang mengakses kelas menengah muslim.

Revolusi Media

Tumbuhnya kelas menengah muslim perlu diimbangi dengan strategi dakwah yang tepat dan efektif. Revolusi media dengan tampilnya media sosial menjadi bagian penting untuk menerapkan dakwah di era digital. Di Indonesia, pengguna internet semakin meningkat, dengan akses media sosial yang terintegrasi. Para pengguna media sosial, cenderung menyampaikan pesan, pikiran dan mengakses informasi dari media-media baru sebagai platform visioner.

Data yang dirilis WeAreSocial (2015), pengguna internet di negeri ini pada kisaran 72,7 juta. Dari data ini, sekitar 72 juta merupakan pengguna aktif media sosial, yang diakses dari 60 juta akun media dari mobile. Ini artinya, media sosial sangat efektif dalam penyampaian pesan, perspektif dan informasi terbaru. Di sisi lain, media digital sebagai medan dakwah di era sekarang sangat signifikan untuk mencapai target kelas menengah muslim. Dakwah untuk kelas menengah muslim, dipengaruhi oleh bagaimana strategi menggunakan media digital untuk menyampaikan informasi serta mengkampanyekan pesan-pesan tertentu.

Tentu saja, hal ini menjadi tantangan menarik bagi ormas-ormas muslim untuk merespon tumbuhnya kelas menengah dan revolusi media digital. Kelas menengah muslim yang terkoneksi dengan akses media digital membutuhkan sentuhan dakwah yang lebih interaktif, efektif dan mudah diakses. Sentuhan teknologi dan grafis sangat diperlukan untuk memperkuat content-content dakwah. Berbagai platform media sosial dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan karakter khas Indonesia. Dakwah yang ramah di era digital menjadi tantangan strategis bagi pelbagai ormas Islam di negeri ini.

* Peneliti media, Pengurus? Lembaga Ta’lif wan-Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU),Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaNu, Ubudiyah, Syariah Kawit An Nur Slawi

Minggu, 28 Maret 2010

UIN Malang Perkuat Jaringan dengan Aswaja NU Center

Surabaya, Kawit An Nur Slawi. Sejumlah mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Jawa Timur, mengunjungi Pimpinan Wilayah Aswaja NU Center Jatim di Surabaya. Diharapkan ada kerja sama antara kedua belah pihak dan rencana pendirian Forum Mahasiswa Aswaja atau Formas di kampus tersebut.

UIN Malang Perkuat Jaringan dengan Aswaja NU Center (Sumber Gambar : Nu Online)
UIN Malang Perkuat Jaringan dengan Aswaja NU Center (Sumber Gambar : Nu Online)

UIN Malang Perkuat Jaringan dengan Aswaja NU Center

"Rombongan yang berjunjung ke tempat kami dipimpin langsung oleh Bapak Kiai Rosidin yang juga dosen di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan kampus setempat," kata M Zunaidul Muhaimin kepada Kawit An Nur Slawi, Sabtu (28/11).

Wakil Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini menyampaikan, tujuan kunjungan adalah sebagai media silaturahim untuk memperkuat perjuangan dalam menyebarkan Aswaja di berbagai tempat, khususnya di kampus UIN Maliki. "Kita ingin ada kerja sama yang semakin intensif antara kami dengan kampus tersebut dan juga sejumlah kampus lain," kata kandidat doktor UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Kawit An Nur Slawi

Dalam pertemuan di salah satu ruangan rapat kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Al-Akbar Timur Surabaya tersebut, rombongan juga mengemukakan keinginan untuk memperdalam al-Quran dan Hadits dan penerapannya di masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, maka diharapkan di UIN Maliki nantinya dapat terbentuk Forum Mahasiswa Aswaja atau Formas sebagaimana di sejumlah kampus lain di Jawa Timur. "Karena hasil dari komunikasi dan kerja sama dengan sejumlah kampus tersebut akhirnya terbentuklah Formas atau Forum Mahasiswa Aswaja," terang dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ini.

Kawit An Nur Slawi

Di tempat terpisah, KH Abdurrahman Navis mengemukakan sangat mengapresiasi kunjungan tersebut. "Ini merupakan salah satu program kami untuk membentengi mahasiswa dari pengaruh sejumlah aliran serta meneguhkan Aswaja di berbagai kampus," katanya.

Selanjutnya, Direktur Utama PW Aswaja NU Center Jatim ini siap bekerja sama untuk menyelenggarakan kajian Aswaja di kampus setempat. "Bahkan bila memungkinkan,? kami juga siap hadir saat diselenggarakan daurah Aswaja demi memperkuat pemahaman para mahasiswa," kata Pengasuh Pesantren Nurul Huda Surabaya ini.

Kiai Navis juga berharap usai kunjungan akan ada tindak lanjut dengan didirikannya Formas agar silaturahim antara pegiat Aswaja dapat terjalin semakin intensif. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Foto: Wakil Direktur dan pengurus PW Aswaja NU Center saat menerima puluhan mahasiswa UIN Maliki di kantor PWNU Jatim

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi RMI NU, Berita, Habib Kawit An Nur Slawi

Jumat, 26 Maret 2010

GP Ansor Sumbar Siap Berikan Pendampingan Eks Anggota Gafatar

Padang, Kawit An Nur Slawi

Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat (Sumbar) siap memberikan pendampingan terhadap eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang dipulangkan ke daerah asalnya di Sumatera Barat. ? Pendampingan ini dimaksudkan agar eks anggota Gafatar bisa kembali menjalankan ajaran agama Islam yang benar di tengah umat dan lingkungannya. ?

GP Ansor Sumbar Siap Berikan Pendampingan Eks Anggota Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sumbar Siap Berikan Pendampingan Eks Anggota Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sumbar Siap Berikan Pendampingan Eks Anggota Gafatar

?

Hal itu diungkapkan Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sumbar Rahmat Tuanku Sulaiman, Jumat (5/2/2016), ketika membuka Rapat Koordinasi Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat dengan Pimpinan Cabang Ansor se-Sumatera Barat, di aula PWNU Sumbar, Padang. ?

?

Kawit An Nur Slawi

Menurut Rahmat, sebagai warga negara yang baik, eks anggota Gafatar jangan dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mereka juga bagian dari masyarakat kita yang membutuhkan hidup bermasyarakat. Oleh karena itu bagi eks anggota Gafatar yang sudah menyadari kekeliruaannya dan bersedia kembali ke jalan yang benar, sudah saatnya pula masyarakat menerimannya dengan baik.

?

"Tentunya mereka yang akan mendapatkan pendampingan sudah menyatakan bertaubat, bersumpah keluar dari Gafatar dan bersumpah untuk kembali ke jalan yang benar. Anggaplah ketika masuk Gafatar karena kekeliruan, setelah mengetahui adanya kekeliruan tersebut kembali ke jalan yang benar," kata Rahmat alumni Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman ini.?

?

Kawit An Nur Slawi

Selain itu, kata Rahmat, masyarakat harus belajar dari kemunculan Gafatar ini. ? Dimana masyarakat, terutama orangtua untuk memperhatikan anak-anak dan generasi mudanya jangan mudah terpengaruh oleh kelompok, paham dan ajaran baru yang tidak jelas sumbernya. Di zaman yang serba internet ini, banyak orang hanya bertanya kepada ‘mbah google’, ketimbang kepada ahlinya.

?

"Generasi muda yang pengetahuan dan pemahaman keagamaannya masih dangkal, akan mudah terprovokasi oleh paham, ajaran atau pemikiran yang diterimanya dari informasi media sosial. ? Pada akhirnya dapat merubah sikap, tingkah laku, pemikiran dan pola hidup seseorang yang tidak lagi sesuai dengan agama Islam yang sudah diyakini sejak dini," kata Rahmat Tuanku Sulaiman yang didampingi Sekretaris PW GP Ansor Arianto.

?

Selain itu, kata Rahmat, PW Ansor Sumatera Barat menghimbau kepada seluruh kader Ansor dan umat Islam untuk memperkuat kehidupan beragama di lingkungan masing-masing. Sehingga dengan memperkuat kehidupan beragama ? tersebut dapat mencegah masuk dan berkembangnya paham, ajaran atau pemikiran keagamaan yang tidak sesuai dengan apa yang sudah ada di daerah tersebut.

?

Rapat Koordinasi (Rakor) diawal dengan membaca Al-Fatihan dan diakhiri dengan membaca Shalawat Nabi Muhammad Saw. Rakor ? sekaligus menyampaikan surat-surat keputusan PP GP Ansor terkait dengan surat keputusan tentang pengesahan pengurus PC GP Ansor di Kabupaten dan Kota.

?

"Dengan keluarnya surat keputusan kepengurusan tersebut, diharapkan akan memberikan motivasi yang semakin tinggi bagi pengurus Ansor di Sumatera Barat untuk berbuat baik demi kemaslahatan umat," tuturnya. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Jadwal Kajian Kawit An Nur Slawi

Kamis, 25 Maret 2010

Hargai Perbedaan, Jangan Paksakan Persamaan

Bandar Lampung, Kawit An Nur Slawi 



Mustasyar PWNU Provinsi Lampung Prof. Muhammad Mukri mengatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT di muka bumi ini memiliki perbedaan masing-masing baik dari segi fisik, pemikiran maupun tingkah laku.

Hargai Perbedaan, Jangan Paksakan Persamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hargai Perbedaan, Jangan Paksakan Persamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hargai Perbedaan, Jangan Paksakan Persamaan

"Manusia itu ditakdirkan untuk berbeda," tegas Rektor UIN Raden Intan Lampung saat memberikan hikmah Halal Bihalal Keluarga Besar Universitas Lampung di Kampus Jl. Brojonegoro, Bandar Lampung, Selasa (11/7).

Namun, perbedaan yang sudah merupakan sunnatullah ini, jangan sampai dijadikan dasar untuk kemudian terpecah belah dan saling bermusuhan. Perbedaan yang dimiliki masing-masing individu manusia haruslah dimanfaatkan untuk saling dan tolong menolong.

Contoh nyata yang bisa dilihat saat ini adalah bagaimana bangsa Indonesia damai dan tetap eksis sampai dengan saat ini karena lebih mengedepankan untuk menghargai perbedaan dan tidak memaksakan persamaan. 

Hal ini berbeda dengan bangsa timur tengah yang selalu bergejolak dan terjadi peperangan dengan sesama saudara karena menginginkan semuanya sama.

Kawit An Nur Slawi

"Kita bangsa Indonesia harus banyak bersyukur dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah yang bergejolak karena lebih mengedepankan perbedaan tidak mencari persamaan," katanya di depan rektor, dekan dan para karyawan Unila.

Prof. Mukri mengajak seluruh ummat Islam untuk saling memberikan dan mengedepankan pengertian kepada sesama manusia. Apalagi dimomen Idul Fitri yang merupakan saat tepat untuk saling memaafkan. 

"Melalui halal bihalal ini mari kita saling memaafkan, kita perkuat iman kita setelah digembleng selama satu bulan dalam puasa Ramadhan," imbaunya. “Karena sejatinya manusia akan kembali pada penciptanya," ujarnya pada kegiatan yang bertema “Merajut Kebersamaan dalam Bingkai Keragaman”. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Kyai, Sejarah Kawit An Nur Slawi

Rabu, 10 Maret 2010

Munas-Konbes NU Sepakati Ahlul Halli wal Aqdi

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Wacana perubahan sistem rekrutmen pemimpin di NU yang bergulir belakangan ini akhirnya menemukan titik terang. Forum Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU 2014 menyepakati Ahlul Halli wal Aqdi sebagai alternatif sistem pemilihan Rais Aam PBNU.

Hal itu mengemuka dalam rapat pleno terakhir Munas-Konbes NU 2014 di gedung PBNU, Jakarta, Ahad (2/11). Rapat diikuti para kiai dan pengurus NU utusan Pengurus Wilayah NU (PWNU) seluruh Indonesia.

Munas-Konbes NU Sepakati Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)
Munas-Konbes NU Sepakati Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)

Munas-Konbes NU Sepakati Ahlul Halli wal Aqdi

Dalam sistem Ahulul Halli wal Aqdi, Pengurus Cabang NU (PCNU) tak dilibatkan secara langsung sebagaimana yang biasa berjalan, melainkan melalui beberapa orang terpilih yang dinilai layak menentukan pemimpin tertinggi di NU.

Kawit An Nur Slawi

“Untuk penjabaran teknis pelaksanaannya PBNU perlu membentuk tim yang bertugas merumuskan tata cara pemilihan,” kata Ketua PBNU H Imam Azis saat membacakan hasil diskusi Komisi Organisasi di hadapan forum.

Setelah mendapat masukan dari musyawirin, Ahlul Halli wal Aqdi disepakati untuk merujuk pada usulan PWNU Jawa Timur dan Jawa Tengah yang sudah menggodok terlebih dahulu sebelum Munas.

Kawit An Nur Slawi

Hasil ini menjadi bahan yang akan diajukan di Muktamar NU ke-33 sebagai forum tertinggi untuk masuk ke dalam butir Anggaran Dasar dan Rumah Tangga NU. Sebelumnya, sistem rekrutmen pemimpin model ini sempat akan diterapkan dalam pemilihan rais syuriah dan ketua tanfidhiyah PWNU Jatim, namun urung karena belum tertuang secara eksplisit dalam aturan organisasi.

Dalam sejarah NU, konsep Ahlul Halli wal Aqdi pernah teralisasi sejak NU berdiri tahun 1926 sampai tahun 1952 ketika NU menjadi partai politik. Kemudian berubah dan diterapkan kembali pada muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984 saat NU kembali ke khithah tahun 1926.

Munas-Konbes NU 2014 ditutup oleh Pejabat Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri dan dihadiri pengurus syuriah dan tanfidhiyah PBNU lengkap, para ketua umum badan otonom NU, serta segenap musyawirin yang terdiri dari para kiai dan utusan PWNU se-Indonesia.? (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ulama, Daerah Kawit An Nur Slawi