Minggu, 27 Desember 2015

Ketua GP Ansor Sambiyan Sepuluh Tahun Lebih Muda

Rembang, Kawit An Nur Slawi. Setelah menjalani rapat anggota untuk menentukan Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Ranting Desa Sambiyan, akhirnya Yanto terpilih untuk memimpin organisasi pemuda NU itu satu tahu ke depan.

Pemilihan yang dilaksanakan di Mushola Al Barkah, Desa Sambiyan, Kecamatan Kaliori Rembang, Jawa Tengah, Rabu malam (18/12) tersebut muncul tiga kandidat calon ketua. Mereka adalah Yanto, Ismail, dan Ramsani. Usia mereka rata, 30 tahun.

Ketua GP Ansor Sambiyan Sepuluh Tahun Lebih Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua GP Ansor Sambiyan Sepuluh Tahun Lebih Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua GP Ansor Sambiyan Sepuluh Tahun Lebih Muda

Pada pemilihan Yanto dari kedua kandidat lain. Dari 60 hak suara yang hadir dan menentukan pilihan, Yanto berhasil memperoleh 40 suara, Ismail 9 dan Ramsani 11 suara.

Kawit An Nur Slawi

Salah seorang panitia, Fatoni menerangkan, sesuai intruksi Ketua Anak Cabang GP Ansor Kaliori beberapa waktu lalu, ketua Ansor harus berusia 30 puluh ke bawah.

Kawit An Nur Slawi

“Alhamdulillah Ketua Ansor kali ini, sepuluh tahun lebih muda dari Kasturi, Ketua Ansor periode yang lalu,” kata Fatoni.

Lebih lanjut Fatoni menambahkan, selain lebih muda, Yanto juga aktif untuk mengikuti kegiatan Anak Cabang di setiap pertemuan, meski belum menjabat sebagai ketua. Selain itu, terpilih harus cerdas dan berdedikasi tinggi dan komitmen terhadap arganisasi.

Yanto saat ditemui menjelaskan, dirinya bersama tim formatur akan segera melengkapi struktur kepengurusan, meski sempat terbentuk beberapa bagian di saat pemilihan itu. Pihaknya juga akan segera mengajukan permohonan pengesahan sebagai legalitas dan keapsahan sebagai ketua GP Ansor.

Ketua Ranting Nahdlatul Ulama Desa Sambiyan Yatman, mengimbau, agar generasi Pemuda Ansor selangkah lebih maju. Dengan usia lebih muda dari yang sebelumnya, saya berharap Ansor Desa Sambiyan lebih maju daripada yang kemarin. (Ahmad Asmu’i/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi RMI NU Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 26 Desember 2015

Gus Rozin: LSN Hasilkan Talenta Bola Profesional dan Patriotik

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan Asosiasi Pesantren NU se-Indonesia atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU menyelenggarakan Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 pada tanggal 14-16 Juni 2017 di Hotel Menara Peninsula Jakarta.?

Dalam sambutannya di acara pembukaan Bimtek, KH Abdul Ghaffar Rozin selaku Ketua Pengurus Pusat RMI NU dan sekaligus CEO LSN 2017 mengapresiasi pemerintah dan PSSI yang telah mendukung penyelenggaraan Liga Santri.

Gus Rozin: LSN Hasilkan Talenta Bola Profesional dan Patriotik (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Rozin: LSN Hasilkan Talenta Bola Profesional dan Patriotik (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Rozin: LSN Hasilkan Talenta Bola Profesional dan Patriotik

"Sebagai bagian terbesar bagi dunia pendidikan di Indonesia dan sekaligus sub-kultur bangsa ini, sudah seharunya kita berharap ke depan Liga Santri ini menjadi bagian resmi dari liga di lingkungan PSSI. Sepakbola adalah milik rakyat Indonesia, dan pesantren sebagia bagian terbesar dari bangsa ini tentu ingin berkontribusi di dalamnya," ujar Gus Rozin.

Dalam sambutan Bimtek yang diikuti perwakilan 32 region seluruh Indonesia itu Gus Rozin menyatakan, Menurut UU ? No. 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional menyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk melakukan kegiatan olahraga, memperoleh pelayanan dalam kegiatan olahraga, memilih dan mengikuti jenis dan cabor yang sesuai bakat dan minatnya, memperoleh pengarahan dukungan, bimbingan, pembinaan dan pengembangan dalam keolahragaan, menjadi pelaku olahraga dan mengembangkan industri olahraga.

Kawit An Nur Slawi

?

Sebagai elemen sah yang turut memperjuangkan dan mendirikan Negara ini, Gus Rozin menambahkan, pesantren tidak saja akan berhenti dengan mencetak kader bangsa yang memegang teguh nilai-nilai kebangsaan dan ke-Indonesia-an, melainkan juga berkewajiban mempersembahkan insan-insan terbaik di semua lini kehidupan bangsa, termasuk di bidang sepak bola.

Lebih-lebih, tidak ada olahraga yang lebih populis dibanding sepakbola. Sportivitas, universalitas dan insklusifitas tidak berkontradiksi dengan ajaran pesantren, bahkan sangat in-line dengan nilai-nilai pesantren yang mengedepankan kejujuran, moderatisme, toleransi, dan kesetaraan/keadilan.?

"Dengan bertemunya prinsip-prinsip kebangsaan dan kepesantrenan tersebut, kami haqqul yaqin kedepan kita hanya menghasilkan pemain bola profesional di negeri ini, melainkan lebih jauh kami akan menghasilkan pemain bola yang profesional, patriotik, yang mencintai negaranya melebihi sekat-sekat sektarianisme dan primordialisme. Inilah yang menjadi diferensiasi kami," pungkas putra almaghfurlah KH Sahal Mahfudz tersebut.

Kawit An Nur Slawi

Hadir dalam acara ? tersebut antara lain Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Isnanta, Asisten Deputi Olahraga Tradisional dan Layanan Khusus Kementerian Pemuda dan Olahraga, Bayu Rahadiyah dan perwakilan dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Direktur Kompetisi, Efraim Ferdinand Bawole.

Seperti diketahui LSN tahun ini akan dimulai dengan kick-off Agustus 2017 dan ditutup dengan babak final pada bulan Oktober 2017. Pagelaran ini akan melibatkan seribu lebih pesantren dari Sabang hingga Merauke dan diikuti oleh 1.024 kesebalasan, 22.528 pemain, 990 pertandingan yang terdistribusi kedalam 32 region. (Ali/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Doa Kawit An Nur Slawi

Jumat, 20 November 2015

LTN PBNU Rilis Versi Beta Web Layanan Nahdiyin

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Mengambil momentum hari Assyura pada 10 Muharram 1439 ini, Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU merilis versi beta laman www.nahdlatululama.id. 

“Portal tersebut menjadi solusi kebutuhan Nahdliyin dengan layanan yang disediakan,” kata Ketua LTN PBNU, Hari Usmayadi, Ahad (1/10).

LTN PBNU Rilis Versi Beta Web Layanan Nahdiyin (Sumber Gambar : Nu Online)
LTN PBNU Rilis Versi Beta Web Layanan Nahdiyin (Sumber Gambar : Nu Online)

LTN PBNU Rilis Versi Beta Web Layanan Nahdiyin

Ia menyebut, layanan disiapkan meliputi Kalkulator Zakat, Cari Ustadz, Info Pesantren, Sekolah, Perguruan Tinggi, Buku dan Koleksi Perpustakaan PBNU, Aplikasi Islami, Mesin Pencari NU, dan biografi Ulama serta info Ziarah, serta Tuntunan Ibadah. 

“Layanan Kalkulator Zakat memberikan kemudahan bagi kalangan awam untuk menghitung zakat yang harus dikeluarkan untuk selanjutnya diarahkan untuk membayar zakat ke LAZISNU sebagaimana arahan dari Ketua PP LAZISNU Syamsul Huda.” terangnya.

Sementara Cari Ustadz berkolaborasi dengan Lembaga Dakwah NU menampilkan data profil ustadz sesuai wilayahnya. 

Kawit An Nur Slawi

“Sementara ini profil ustad yang tersedia berada wilayah Jawa dan Bali, sehingga memberikan kemudahan bagi perkantoran yang mencari ustadz untuk keperluan seperti khatib Jumat dan kajian keislaman,” lanjut pria yang akrab disapa Cak Usma. 

Mesin pencari memberikan kemudahan dan jaminan keselamatan pencarian artikel keislaman, karena hasil pencarian yang bersumber dari Google sudah disaring sedemikian rupa untuk keselamatan Nahdliyin. 

Kawit An Nur Slawi

Cak Usma menegaskan web juga menyajikan lebih dari 6.000 judul buku yang selama ini tersimpan di Perpustakaan PBNU, sehingga memberikan kemudahan bagi para pencari literatur keislamaan ahlussunnah wal jamaah annahdliyah.

“Semoga layanan ini dapat bermanfaat bagi Nahdliyin meskipun masih rilis versi beta,” ungkapnya.

Pengembangan aplikasi lainnya dan pengayaan data, Cak Usma mengatakan masih terus berjalan dan menjadi project yang berkesinambungan. (Red Kendi Setiawan)









Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pendidikan Kawit An Nur Slawi

Rabu, 18 November 2015

Ke Luar Kampung, GP Ansor Jatinegara Tegal Rapat Kerja di Kawasan Dieng

Tegal, Kawit An Nur Slawi - Ada yang berbeda dari gelaran Rapat Kerja Anak Cabang (Rakercab) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal. Rapat Kerja biasanya digelar di daerah sendiri, kali ini dalam suasana yang berbeda yakni sekaligus berwisata di kawasan wisata Dieng Kabupaten Wonosobo, Sabtu (11/11).

Rombongan PAC GP Ansor Jatinegara, Tegal di bawah pimpinan Abdul Aziz  berangkat  dari daerah asal pada Jumat (10/11) malam dengan menggunakan 4 mobil menuju kawasan Dieng. "Rombongan terdiri dari semua pengurus Ansor dan pembina dengan total sebanyak 30 orang," terang Pengurus PAC GP Ansor Jatinegara, Amar Budimas saat dihubungi Kawit An Nur Slawi.

Ke Luar Kampung, GP Ansor Jatinegara Tegal Rapat Kerja di Kawasan Dieng (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke Luar Kampung, GP Ansor Jatinegara Tegal Rapat Kerja di Kawasan Dieng (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke Luar Kampung, GP Ansor Jatinegara Tegal Rapat Kerja di Kawasan Dieng

Menurut Amar Budimas, GP Ansor adalah motor penggerak NU sekaligus wadah kaderisasi para calon pemimpin pemimpin NU. Oleh karena itu, Ansor harus intens berkomunikasi, menjalin silaturrahmi kepada para sesepuh NU dan seluruh stakeholder di semua tingkatan.

"Bahkan komunikasi dengan pemerintah setempat harus dimaksimalkan. Ini dalam rangka turut serta menjaga dan membangun NKRI tercinta," tandasnya.

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Jatinegara Abdul Aziz mengatakan, rakerancab ini sebagai langkah awal GP Ansor Jatinegara dalam mewujudkan gerakan.

"Sebagaimana tema yang kami angkat, kebersamaan dan kekompakan seluruh kader PAC GP Ansor Jatinegara, harus tetap terjaga dari awal hingga akhir masa khidmah 2021 nanti," ujarnya.

Geliat organisasi GP Ansor Jatinegara, Tegal seakan lagi tinggi-tingginya, pascatiga bulan lalu dilantik di MDT Rhoutlotul Muttaqin Desa Sumbarang Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal.

Hal itu terbukti, usai acara Raker Anak Cabang rombongan Ansor Jatinegara langsung menuju Kajen, Kabupaten Pekalongan untuk turut menyuksekan gelaran Konferwil GP Ansor Jawa Tengah yang dihelat pada Ahad (12/11). (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Syariah, Budaya Kawit An Nur Slawi

Jumat, 13 November 2015

Setiap Pekan, NU Care Nganjuk Santuni Dhuafa dalam Jumat Berbagi

Jakarta, Kawit An Nur Slawi - NU Care Lazisnu Nganjuk membuat program menarik dalam berbagi dengan kaum dhuafa. Bekerja sama dengan Radio Tasma FM, NU Care Lazisnu Nganjuk secara rutin menggelar Jumat Berbagi. Mereka membagikan nasi bungkus kepada kalangan dhuafa di jalanan.

Jumat Berbagi dari NU Care Lazisnu Nganjuk digelar di lokasi yang berbeda setiap pekannya. Pada Jumat (20/1) pagi, NU Care membagikan nasi bungkus di tiga titik, yaitu di Pasar Kertosono, perempatan Jalan Kertosono, dan Stasiun Kertosono.

Setiap Pekan, NU Care Nganjuk Santuni Dhuafa dalam Jumat Berbagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Setiap Pekan, NU Care Nganjuk Santuni Dhuafa dalam Jumat Berbagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Setiap Pekan, NU Care Nganjuk Santuni Dhuafa dalam Jumat Berbagi

“Pada acara tersebut dibagikan sedikitnya 250 nasi bungkus. Dana yang dihabiskan sekitar 1,5 juta,” kata Ketua NU Care Lazisnu Nganjuk Subhan melalui pesan tertulis kepada Kawit An Nur Slawi.

Aksi ini melibakan para relawan dari Lazisnu Nganjuk, kru Radio Tasma FM, dan mahasiswa Praktik Pengelolaaan Zakat (PPZ) yang sedang menjalankan praktik di Lazisnu Nganjuk.

Kawit An Nur Slawi

Pria yang juga Direktur Radio Tasma FM itu mengatakan, ke depan pihaknya berharap agar program tersebut menjadi kekuatan untuk berbagi di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

“Mekipun jumlah sumbangan tidak banyak, yang menerima juga merasa senang,” kata Subhan.

Kawit An Nur Slawi

Jumat Berbagi berjalan atas partisipasi dari donatur Lazisnu Nganjuk, dan para pendengar Radio Tasma FM. Informasi donatur, lokasi kegiatan, dan proses kegiatan disiarkan oleh Tasma FM. Radio Tasma FM sendiri merupakan salah satu radio komersial yang cukup mencolok menyiarkan ke-NUan. Selain menyiarkan Jumat Berbagi, Tasma FM juga menyiarkan acara interaktif dengan menghadirkan ustadz atau kiai NU.

Masyarakat yang ingin berpartisipasi dapat memberikan nasi bungkus atau uang tunai yang nantinya dipergunakan untuk membeli nasi bungkus.

Ari (55), salah satu penerima nasi bungkus dari kegiatan ini mengatakan dirinya merasa senang, karena bisa mengurangi jatah makan paginya. Ia yang bekerja sebagai tukang berpenghasilan hanya sekitar Rp.40.000 setiap harinya.

Sementara H Nurhan (65) yang turut menjadi donatur berharap agar program ini bisa diteruskan.

“Program ini sangat bagus, semoga bisa diteruskan di wilayah lain. Dan tidak hanya sebulan dua bulan,” kata H Nurhan yang menyalurkan bantuan karena informasi yang ia dengar melalui Radio Tasma FM.

Nurhan menyarankan nasi bungkus yang akan dibagikan bisa mengambil dari setiap kecamatan tempat dilaksanakannya kegiatan. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Cerita Kawit An Nur Slawi

Senin, 09 November 2015

Sesuaikan Kebutuhan, PCNU Bangkalan Bina Kader Dai Zaman Now

Bangkalan, Kawit An Nur Slawi - PCNU Bangkalan melalui Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) menggelar pelatihan dai di halaman Pondok Pesantren Syichona Moh. Bangkalan, Rabu (3/1).

Kegiatan yang bertema PCNU Bangkalan Bina Kader Dai Zaman Now ini mengundang dai dan daiyah se-Kabupaten Bangkalan. Tidak kurang dari 500 undangan telah disebarkan melalui MWCNU di 18 kecamatan dengan peserta minimal 25 orang tiap MWCNU.

Sesuaikan Kebutuhan, PCNU Bangkalan Bina Kader Dai Zaman Now (Sumber Gambar : Nu Online)
Sesuaikan Kebutuhan, PCNU Bangkalan Bina Kader Dai Zaman Now (Sumber Gambar : Nu Online)

Sesuaikan Kebutuhan, PCNU Bangkalan Bina Kader Dai Zaman Now

Pembinaan diisi oleh Pengurus PW LDNU Jawa Timur yaitu Ustadz Sururi  dan Gus Ahmad Najib AR Selaku Ketua LTN NU Jawa Timur. Sururi menjelaskan banyak hal tentang perkembangan media dakwah kekinian, “Dakwah itu tidak hanya melalui ceramah, tapi juga bisa melalui tulisan, audio, maupun visual di mana kita sebagai warga NU masih minim dalam mengembangkan sarana dakwah selain dakwah bil lisan.”

Gus Najib mengatakan, warga NU hari ini hanya sebagai penikmat media bukan pelaku. Bahkan mirisnya adalah, bahwa dari dominasi penikmat media di Indonesia warga sebagai konsumen bukan produsen.

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

Ketua PCNU Bangkalan Ra Makki menekankan pentingnya inovasi strategi dakwah serta keterampilan dai sesuai kebutuhan zaman. Ia mengutip sebuah hadits Rasulullah SAW, “Jangan kaupaksakan pola pendidikan kepada anak-anak kalian sebagaimana pola pendidikan kalian karena anak kalian dilahirkan di zaman yang berbeda dengan zaman kalian.”

“Selain pintar ceramah, dai zaman now setidaknya bisa menulis karena sasaran dakwah sudah sangat akrab dengan dunia literasi,” imbuhnya.

Ra Makki mengapresiasi beberapa pengembangan dakwah melalui media literasi di lingkungan warga NU Bangkalan. “Alhamdulillah, di Bangkalan sudah ada media al-Ummah baik berupa buletin maupun media online ditambah lagi sekarang ada Tabloid WargaNU,” katanya. (Ahrori Dlofir/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ulama, PonPes, Daerah Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 07 November 2015

Akhirnya, PMII Jabar Miliki Sekretariat Permanen

Bandung, Kawit An Nur Slawi?

Setelah melewati penantian panjang, akhirnya Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Barat memiliki sekretariat permanen.

Akhirnya, PMII Jabar Miliki Sekretariat Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhirnya, PMII Jabar Miliki Sekretariat Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhirnya, PMII Jabar Miliki Sekretariat Permanen

Hal itu dibuktikan dengan serah-terima sertifikat dari pemilik rumah yang berukuran 149 meter persegi yang terletak di Jalan AH. Nasution, Kampung Lio Utara, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Kamis (8/12/2016).

Ketua Panitia Pembelian Sekretariat PKC PMII Jawa Barat Ade Mahmudin mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada semua pihak sehingga pembelian sekretariat tersebut bisa terlaksana.

"Terutama kepada Pak Bukhori, sebagai salah seorang tokoh alumni PMII di Jawa Barat yang juga sebagai Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat yang telah menghibahkan tempat ini. Terima kasih juga kepada seluruh senior dan alumni yang telah turut membantu," ujar Ade.

Kawit An Nur Slawi

Sementara, Ketua Pengurus Koordinator Cabang PMII Jawa Barat Abdul Nasir merasa bangga karena selama 56 tahun PMII berkiprah di Jawa Barat, baru kali ini memiliki sekretariat secara permanen yang sebelumnya selalu berpindah dari kontrakan satu ke kontrakan yang lain.

"Jadi, untuk ke depannya para penerus PKC PMII Jawa Barat tidak pusing lagi mencari tempat untuk ngontrak. Mudah-mudahan apa yang menjadi dedikasi selama ini bisa dijadiakan motivasi untuk kader-kader PMII di Jawa Barat," pungkasnya.

Kawit An Nur Slawi

Turut hadir dalam serah terima sertifikat tersebut, pemilik rumah diwakili Ryan Yudistira Dirgantara, perwakilan dari pemberi hibah, Yusuf dan disaksikan langsung Sekretaris Majelis Pembina Daerah (Mabinda) PKC PMII Jawa Barat, Dudang Ghozali. (Dhamiry Alghazaly/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pahlawan, Daerah Kawit An Nur Slawi

Minggu, 18 Oktober 2015

Banyak Penulis Berita Abaikan Kode Etik Jurnalistik

Bandar Lampung, Kawit An Nur Slawi - Kemajuan teknologi memudahkan setiap orang untuk mengakses berbagai berita dan informasi. Kemajuan teknologi bisa melahirkan banyak jurnalis, atau penulis berita yang aktif mengirim rilis ke media massa. Tetapi banyak pula penulis berita itu yang kurang memperhatikan kode etik jurnalistik.

Demikian dikatakan Ketua Lembaga Ta`lif wan Nasyr ( LTN) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung Ila Fadilasari saat menyampaikan materi pelatihan jurnalistik untuk pelajar putra-putri NU Lampung.

Banyak Penulis Berita Abaikan Kode Etik Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Penulis Berita Abaikan Kode Etik Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Penulis Berita Abaikan Kode Etik Jurnalistik

Kegiatan yang bertajuk Ma`had Sohafiyah, Jurnalisme untuk Syiar Islam Aswaja itu digelar sehari penuh di Kantor PWNU, Jalan Cut Mutia Bandar Lampung, Ahad (4/6).

"Sekarang banyak orang dengan mudah menjadi penulis berita atau jurnalis, tetapi kurang atau bahkan tidak memperhatikan etika jurnalistik," katanya.

Kawit An Nur Slawi

Ia berharap pelatihan jurnalistik untuk pelajar NU ke depan akan mampu melahirkan insan-insan jurnalis yang memahami kode etik serta kaidah jurnalistik sehingga apa ditulis dan di-share ke publik bukan sebuah kebohongan dan merugikan masyarakat.

Kawit An Nur Slawi

"Kode etik itu sesuatu yang sangat penting bagi seorang jurnalis, karena kode etik tersebut menjadi sandaran utama dalam menulis berita atau membuat rilis," kata mantan jurnalis salah satu media arus utama di Jakarta.

Sementara itu Ketua Panitia Erzal Syahreza Aswir mengharapkan kader-kader IPNU-IPPNU dari berbagai kabupaten dan kota di Lampung itu mampu mempublikasikan kegiatan lembaganya di media massa, atau setidaknya di website PWNU Lampung.

"Selain itu kader IPNU-IPPNU diharapkan mampu menulis artikel yang bisa mewarnai pemikiran orang banyak dan memanfaatkan media publikasi Islam sebagai sarana dakwah yang damai," katanya.

Pelatihan jurnalistik yang digelar LTN NU Lampung itu diikuti oleh 35 peserta perwakilan pengurus IPNU-IPPNU dari beberapa daerah se-Lampung. Kegiatan ini juga menghadirkan dua narasumber yaitu ketua LTN NU Ila Fadilasari yang menyampaikan pengantar jurnalistik dan teknik menulis berita. Satu pembicara lagi yaitu Safwanto, editor website nu-lampung.or,id? yang menyampaikan materi teknik menulis artikel. Di akhir materi, peserta juga mengikuti sesi praktik atau menulis berita. (Suna/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ahlussunnah, Pendidikan, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Minggu, 27 September 2015

Pilkada Serentak, Gunakan Hak Pilih Sesuai Hati Nurani

Medan, Kawit An Nur Slawi - Pimpinan Pusat GP Ansor berharap, pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang akan digelar di 101 daerah di Indonesia pada 15 Februari mendatang tetap mampu mengikat masyarakat dan elemen bangsa dalam satu kepentingan bersama, pembangunan dan masa depan Indonesia.

"Terkait dengan pelaksanaan pilkada serentak, hendaknya tidak ada prasangka terhadap pemerintahan dan penyelenggara pilkada. Berikan amanah dan dukungan seluas-luasnya kepada mereka untuk kesuksesan pilkada serentak mendatang," kata pengurus Lembaga Hubungan Kelembagaan Ormas Kepemudaan dan Lintas Agama PP GP Ansor Ahmad Jabidi Ritonga, di Medan, Ahad (12/2).

Pilkada Serentak, Gunakan Hak Pilih Sesuai Hati Nurani (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilkada Serentak, Gunakan Hak Pilih Sesuai Hati Nurani (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilkada Serentak, Gunakan Hak Pilih Sesuai Hati Nurani

Ia mengatakan, GP Ansor mendukung Polri untuk menindak tegas para pelaku yang mencoba membuat suasana negara atau pilkada tidak kondusif atau usaha mencederai proses pilkada.

Kawit An Nur Slawi

"Kami juga meminta Panwas dan KPU sebagai penyelenggara pilkada harus menindak para pelaku kecurangan proses vote politik tesebut, agar tidak merusak pilihan nurani rakyat Indonesia," kata Jabidi.

GP Ansor mengimbau masyarakat yang memiliki hak pilih menggunakan hak pilih dengan asas langsung, sesuai dengan kehendak hati nurani. Hak pilih yang dilindungi undang-undang jangan sampai tercederai atau terpengaruh oleh satu kepentingan atau intervensi dari manapun.

"Menyalurkan hak pilih bagi masyarakat dilindungi undang-undang. Karenanya, tidak seorang pun yang dapat menghalangi masyarakat untuk menyalurkan hak pilihnya," kata Jabidi.

Kawit An Nur Slawi

Menurutnya, dinamika politik dan hukum belakangan ini menyita perhatian banyak orang, tidak hanya masyarakat Indonesia, tapi juga dunia. Ada kelompok-kelompok yang terus melakukan manuver politik dengan berbagai cara guna mempengaruhi pemilih secara nasional.

Namun diyakini, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cerdas dan dewasa. Masyarakat yang cerdas itu bertindak secara konstitusional, bukan emosional, dan tidak mudah terprovokasi.

Menurutnya, pendidikan politik yang sehat itu adalah mencerdaskan, memberikan kesejukan dan pemahaman yang luas, bukan berkobar-kobar menyebarkan kebencian serta kemarahan, dengan berbagai isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

"Waspada benalu politik yang numpang dan coba mengambil keuntungan dalam situasi saat ini," kata Jabidi. (Hamdani Nasution/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pondok Pesantren Kawit An Nur Slawi

Kamis, 03 September 2015

PBNU Kaitkan Doa Bersama di Monas dan Kesenjangan Ekonomi

Jakarta, Kawit An Nur Slawi - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) melihat doa, zikir, dan Jumatan bersama di lapangan Monas pada Jumat (2/12) sebagai gejala dari masalah kesenjangan ekonomi. Kang Said memandang bahwa kecemburuan ekonomi terhadap kelas sosial, etnis tertentu, dan non-Muslim tidak bisa dilepaskan dari doa, zikir, dan Jumatan bersama di Monas kemarin.

Demikian disampaikan Kang Said kepada Kawit An Nur Slawi di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (2/12) malam.

PBNU Kaitkan Doa Bersama di Monas dan Kesenjangan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kaitkan Doa Bersama di Monas dan Kesenjangan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kaitkan Doa Bersama di Monas dan Kesenjangan Ekonomi

Gejala itu, kata Kang Said, terindikasi dari banyaknya masyarakat di luar Jakarta yang ikut doa, zikir, dan Jumatan bersama di lapangan Monas.

Kawit An Nur Slawi

“Tetapi kenapa banyak orang dari luar Jakarta yang berdemostrasi? Saya yakin pemerataan ekonomi dan kesejahteraan masih menjadi masalah mendasar. Demonstrasi ini lebih didasari motif kecemburuan sosial dan ekonomi yang dimonopoli oleh etnis tertentu dan non-Muslim,” kata Kang Said.

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini menyampaikan rasa syukur PBNU karena Allah masih berkenan memelihara keutuhan NKRI. “Alhamdulillah sampai sekarang Allah masih turun tangan dalam menjaga keutuhan Indonesia.”

Kawit An Nur Slawi

Menurutnya, doa bersama di Monas merupakan bentuk akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.

“Pemerintah harus membuat kebijakan terkait ekonomi yang langsung menyentuh rakyat banyak secara merata agar kesenjangan ekonomi teratasi. Ini jelas akumulasi kekecewaan,” kata Kang Said. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi AlaSantri, Berita, Makam Kawit An Nur Slawi

Jumat, 14 Agustus 2015

Kurang Sehat, Kang Said Tetap Ngajar Al-Barzanji

Jakarta, Kawit An Nur Slawi - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) tengah beristirahat di kediamannya. Ia dikabarkan sedang kurang sehat. Kendati demikian, Kang Said tetap menjalankan aktivitasnya mengasuh santrinya di Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan.

“Bapak kurang enak badan. Besok bapak menjalani general check up di rumah sakit,” kata Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, istri Kang Said kepada Kawit An Nur Slawi via telepon, Selasa (9/2) malam.

Kurang Sehat, Kang Said Tetap Ngajar Al-Barzanji (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurang Sehat, Kang Said Tetap Ngajar Al-Barzanji (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurang Sehat, Kang Said Tetap Ngajar Al-Barzanji

Aktivis PP Muslimat NU ini mengharapkan doa agar suaminya cepat pulih dan dapat beraktivitas kembali di tengah warga NU.

“Bapak hanya kurang enak badan biasa. Sekarang bapak lagi nonton Aswaja TV. Saya mohon doanya agar bapak cepat pulih,” tandas Hj Nurhayati.

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

Sementara salah seorang pengajar di Pesantren Ats-Tsaqafah Ulinnuha menerangkan bahwa Kang Said masih menjalani aktivitasnya membimbing para santri di Pesantren Ats-Tsaqafah.

“Kemarin bapak masih ngajar di pesantren. Bapak ngajar kitab Al-Barzanji. Ia menerangkan isi Al-Barzanji kepada para santri mulai dari kosakata hingga sejarahnya,” kata Ulinnuha. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pahlawan Kawit An Nur Slawi

Senin, 10 Agustus 2015

Kedudukan Cairan Keputihan dalam Syariat Islam

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi, saya mau tanya tentang hukum keputihan pada wanita? Apakah najis atau tidak? Terima Kasih. Wassalamu alaikum wr. wb. (Ghufran/Karawang).

Kedudukan Cairan Keputihan dalam Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kedudukan Cairan Keputihan dalam Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kedudukan Cairan Keputihan dalam Syariat Islam

Jawaban

Wa‘alaikumus salam wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Keputihan memang hampir dialami oleh setiap wanita. Keputihan adalah cairan atau lendir yang keluar dari vagina. Lendir yang normal umumnya berwarna bening hingga keputih-putihan dan tidak berbau. Jika tidak berciri demikian, maka lendir tersebut dikategorikan tidak normal, yaitu ada perubahan pada warna dan kekentalan di mana jumlah lendir yang berlebihan dan bau lendir yang tajam.

Kawit An Nur Slawi

Penyebab keputihan juga beragam. Salah satunya adalah karena kurang menjaga kebersihan vagina dengan baik. Lantas bagaimana hukumnya keputihan pada wanita tersebut, apakah najis atau tidak?

Sebelum mengetahui najis atau tidaknya keputihan, maka sebaiknya kita menganalisa terlebih dahulu keputihan ini termasuk dalam kategori cairan apa. Di dalam Islam dikenal tiga jenis cairan yang keluar dari qubul (jalan depan). Pertama, mani/sperma. Kedua madzi, yakni cairan putih, bening, dan lengket yang keluar disebabkan bersyahwat atau saat bermain-main birahi antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan di antara keduanya dapat dilihat dari (1) baunya. Umumnya mani ketika basah beraroma seperti bau adonan roti dan tepung. Ketika mengering ia berbau seperti bau telor. (2) mani keluarnya memuncrat. (3) mani ketika keluar terasa nikmat dan setelah itu melemahkan dzakar dan syahwat. Sedangkan madzi tidak muncrat serta tidak melemahkan dzakar.

Kawit An Nur Slawi

Cairan ketiga adalah wadi, yaitu cairan putih yang lebih kental. Ia keluar sesudah air seni (menurut kelaziman) atau ketika memikul beban yang berat (letih) sebagai keterangan yang kami pahami dari kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz II, halaman 141-142.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Dari tiga jenis cairan ini, dua yang terakhir yakni madzi dan wadi adalah berhukum najis . sedangkan mani berhukum suci sebagaimana telah dijelaskan oleh Imamus Syafi’i dalam Kitab Al-Umm.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Setiap kencing, madzi, wadzi atau sesuatu yang tidak diketahui atau diketahui yang keluar dari penis (kemaluan bagian depan) maka semua hukumnya najis kecuali mani.”

Dari penjelasan di atas, kami simpulkan bahwa cairan keputihan yang dialami oleh perempuan termasuk ke dalam jenis cairan yang ketiga, yaitu wadi. Ia sesuai dengan ciri-ciri dari wadi, yakni cairan keluar biasanya setelah kencing, atau karena kecapekan, dan tidak mengandung ciri dari mani maupun madzi yang lengket dan bersyahwat.

Simpulan kami, cairan keputihan juga berhukum najis. Ia harus dibersihkan terlebih dahulu dari kemaluan sebelum berwudhu dan melaksanakan shalat. Jika cairan ini mengenai benda lain yaitu pakaian atau lainnya, maka harus dicuci dengan cara dibasuh dengan air sampai hilang bau, warna, dan rasanya.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Annisa Nur Hasanah)Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ubudiyah, IMNU Kawit An Nur Slawi

Jumat, 31 Juli 2015

Safari Ramadhan di Pringsewu Diiringi Khotmil Qur’an

Pringsewu, Kawit An Nur Slawi. Suasana berbeda nampak terlihat dari Kegiatan Safari Ramadhan Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu yang digelar tahun ini. Kegiatan tahunan di setiap Ramadhan kali ini nampak khidmah dan sejuk seiring lantunan ayat Quran yang dibaca oleh para jamaah.

Safari Ramadhan di Pringsewu Diiringi Khotmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Safari Ramadhan di Pringsewu Diiringi Khotmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Safari Ramadhan di Pringsewu Diiringi Khotmil Qur’an

Sebelum Acara Safari dilaksanakan, setiap desa di Kecamatan yang mengadakan acara tersebut mengirimkan 30 jamaah yang akan menghatamkan Al-Qur’an. Kegiatan ini merupakan kegiatan kolaborasi antara MUI Kabupaten Pringsewu dan Tim Penggerak PKK Kabupaten Pringsewu.

Kegiatan pertama pada Safari yang dilaksanakan di Masjid Al-Muttaqin Kedaung Kecamatan Pardasuka, Kamis (9/6) tersebut diikuti oleh lebih kurang 500 orang jamaah yang terdiri dari Ibu Ibu Muslimat dan Pengurus MUI Kecamatan Pardasuka.

Dalam Kegiatan tersebut, Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pringsewu Ibu Nurrohmah Sujadi nampak langsung memandu Jamaah serta ikut membaca dan menghatamkan 1 juz Al Quran yang sudah diberikan.

Kawit An Nur Slawi

Menurut KH Hambali, kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memohon barakah dan ridho dari Allah SWT agar cita cita Pringsewu yang Agamis dapat benar benar terealisasi di Kabupaten dengan Motto Bersenyum Manis tersebut.

"Kita akan laksanakan kegiatan Tahtimul Quran di sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Pringsewu mengiringi Kegiatan Safari Ramadhan Pemda. Semoga Allah memberkahi kegiatan ini dan memberkahi Kabupaten Pringsewu," harap KH Hambali yang juga sesepuh JQH NU Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi IMNU, Cerita, Makam Kawit An Nur Slawi

Jumat, 10 Juli 2015

HPN Canangkan Program Pembangunan Desa

Jakarta, Kawit An Nur Slawi

Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) berkomitmen turut membangun desa-desa di Indonesia yang hingga kini dinilai masih jauh dari idaman. Tekad ini diwujudkan melalui kerja sama antara HPN dan Yayasan Absindo Desa Emas yang fokus dalam bidang pemberdayaan desa.

HPN Canangkan Program Pembangunan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
HPN Canangkan Program Pembangunan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

HPN Canangkan Program Pembangunan Desa

Kesepakatan kerja sama ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Ketua Umum HPN Abdul Kholik dan Ketua Yayasan Absindo Desa Emas Aries Mufti di Auditorium Lantai 5 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu (30/11). Kedua lembaga ini berharap masing-masing pihak bisa saling melengkapi dengan potensi yang dimiliki.

Abdul Kholik menilai, kesenjangan antara kaum kaya dan miskin masih tinggi di Indonesia. Hal itu tergambar dengan melihat perbedaan yang tajam antara kondisi kota dan desa, meskipun warga kota tak selalu kaya begitu juga sebaliknya.

Kawit An Nur Slawi

Ia menyinggung soal makin langkanya lapangan pekerjaan di desa-desa. Sektor pertanian makin banyak ditinggalkan seiring dengan kian tidak menjanjikannya keuntungan yang didapat dari komoditas perdamaian. HPN ingin warga NU yang mayoritas berada di desa-desa mendapatkan peluang untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Kawit An Nur Slawi

“HPN tak bisa membantu Nahdliyin untuk menjadi kaya. Yang bisa kita lakukan adalah memberi kesempatan yang equal,” ujarnya dalam forum yang dirangkai dengan diskusi terbatas tentang tetang pemberdayaan ekonomi desa itu.

Sementara Aries dalam kesempatan itu berbagi pengalamannya di forum internasional Global Saemaul Undong di Korea Selatan, yang diikuti berbagai negara seperti China, Thailand, Malaysia, dan Jepang. Ia juga pernah berkunjung langsung ke desa terkaya di dunia, Huaxi di China.

Huaxi, kata anggota Komisi Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) ini, bisa menjadi contoh ideal bagi strategi pembangunan desa. Sebanyak 361 kepala keluarga yang semula dalam kondisi sangat miskin mengalami kemajuan signifikan setelah mereka bangkit dan bergotong royong membangun koperasi atau sejenis usaha bersama.

Hadir pula Dianta Sebayang, dosen Universitas Negeri Jakarta, yang berbicara tentang UMKM. Menurutnya, saat ini 90 persen usaha di Indonesia masuk kategori UMKM, dan mayoritas ada di desa utamanya di sektor pertanian. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Olahraga, Bahtsul Masail, Quote Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 04 Juli 2015

Jalan Panjang Terbentuknya "IPNU Putri"

Solo, Kawit An Nur Slawi. Pada tulisan sebelumnya, lahirnya organisasi yang sekarang bernama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) ini berawal dari gagasan hasil diskusi para pelajar putri di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta.

Gagasan ini menjadi semakin matang dengan diusulkannya pembentukan sebuah tim kecil oleh Ahmad Mustahal Masyhud, ketua IPNU cabang Surakarta saat itu, yang juga secara rajin memantau perkembangan gagasan nahdliyyat muda tersebut untuk membuat draf resolusi pendirian IPNU Putri.

Jalan Panjang Terbentuknya IPNU Putri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan Panjang Terbentuknya IPNU Putri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan Panjang Terbentuknya "IPNU Putri"

Tim yang diketuai Nihayah dan sekretaris Atikah Murtadlo ini menyusun draf resolusi di kediaman Haji Alwi di daerah Sememen-Kauman-Surakarta dan memutuskan untuk memberitahukan adanya rencana resolusi tersebut kepada PP IPNU yang ? berkedudukan di Yogyakarta.

Kawit An Nur Slawi

Tim juga menetapkan dua orang anggotanya yaitu Umroh Machfudzoh dan Lathifah Hasyim sebagai utusan untuk menemui PP IPNU di Yogyakarta. ? Selanjutnya utusan tersebut berangkat ke Yogyakarta dan diterima langsung oleh Ketua Umum PP IPNU, M. Tolchah Mansoer.

Dalam pertemuannya, Umroh menyampaikan permintaan tim resolusi IPNU Putri agar PP IPNU dapat menyertakan cabang-cabang yang memiliki pelajar-pelajar putri untuk menjadi peserta/wakil putri pada Kongres I IPNU di Malang. Selanjutnya disepakati pula dalam pertemuan tersebut bahwa peserta putri yang akan hadir di Malang nantinya dinamakan IPNU Putri.

Kawit An Nur Slawi

Dalam Kongres di Malang, yang dilaksanakan pada tanggal 28 Februari - 5 Maret 1955, ternyata keberadaan IPNU putri masih diperdebatkan secara alot. Rencana semula yang menyatakan bahwa keberadaan IPNU putri secara administratif menjadi departemen dalam organisasi IPNU. Namun, hasil pembicaraan dengan pengurus PP IPNU telah membentuk semacam kesan eksklusifitas IPNU hanya untuk pelajar putra.

Melihat hasil tersebut, pada hari kedua kongres, peserta putri yang terdiri dari lima utusan daerah (Yogyakarta, Surakarta, Malang, Lumajang dan Kediri) terus melakukan konsultasi dengan jajaran teras Badan Otonom NU yang menangani pembinaan organisasi pelajar yakni PB Ma’arif (KH. Syukri Ghozali) dan PP Muslimat (Mahmudah Mawardi).

Dari pembicaraan tersebut menghasilkan keputusan yakni IPNU putri secara organisatoris dan secara administratif terpisah dari IPNU. Untuk menjalankan roda organisasi dan upaya pembentukan-pembentukan cabang selanjutnya ditetapkan sebagai ketua yaitu Umroh Mahfudhoh dan sekretaris Syamsiyah Mutholib.

Maka, sejak tanggal 2 Maret 1955 M/ 8 Rajab 1374 H, yang kemudian diperingati sebagai hari kelahirannya, organisasi pelajar putri NU itu resmi berdiri. Sedangkan Pengurus Pusat (PP) IPNU putri pada saat itu berkedudukan di Surakarta, Jawa Tengah. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Sumber: Wawancara terpisah dengan Umroh M., Nihayah Ahmad Siddiq, dan Mahmudah Nachrowi/ KMNU Mesir.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Budaya Kawit An Nur Slawi

Minggu, 28 Juni 2015

Pesantren Al-Hidayah Doa Bersama di Ujung Tahun

Grobogan, Kawit An Nur Slawi. Pondok Pesantren Al-Hidayah Desa Selo, Grobogan, Jawa Tengah menggelar istighosah. Kegiatan tersebut sebagai doa penghujung tahun 2013. Kegiatan yang berlangsung di pesantren tersebut pada Rabu (25/12).

Pesantren Al-Hidayah Doa Bersama di Ujung Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Hidayah Doa Bersama di Ujung Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Hidayah Doa Bersama di Ujung Tahun

Rangkaian doa istighosah sama persis dengan kalimat yang biasa dilantunkan KH. Asrori Al-Ishaqi, pemimpin jamaah Al-Khidmah, Kedinding, Jawa Timur.

“Istighasah yang dibacakan adalah istighasah karya Kiai Asrori Kedinding,” ujar Pengurus Pondok Al-hidayah, Darul Ulum, (25/12).

Kawit An Nur Slawi

Istighasah tersebut dipimpin langsung pengasuh pondok pesantren Al-Hidayah, KH Imron Hasani. Disamping istighosah, ia juga menyampaikan taushiyah kepada para hadirin.

Kawit An Nur Slawi

Kegiatan tersebut bertujuan memohon kepada Allah supaya selamat dari berbagai cobaan. Selain itu, bertujuan untuk menjalin ukhuwah islamiyyah di antara warga.

Peserta yang hadir bukan hanya dari santri Al-hidayah dan warga sekitar saja, namun warga dari desa lain yakni Gatak, Gentan, Ngantru dan Ngrukem.

Doa bersama menjadi acara penutup diantara beberapa rangkaian acara dan dilanjutkan saling bersalaman satu dengan yang lain dengan harapan dosa-dosa sesama muslim dapat gugur dan dapat diampuni. (Asnawi Lathif/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Pertandingan Kawit An Nur Slawi

Rabu, 24 Juni 2015

PKPT IPNU-IPPNU Unsuri Gelar Unsuri Bersholawat

Sidoarjo, Kawit An Nur Slawi. Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU-IPPNU Universitas Sunan Giri (Unsuri) Sidoarjo, Jawa Timur menggelar acara Unsuri Bersholawat. Acara tersebut digelar di aula Rektorat Unsuri, Ahad (10/1) lalu dan diikuti oleh ratusan mahasiswa Unsuri, perwakilan PAC IPNU-IPPNU se-Sidoarjo, dan PMII Unsuri.

"Unsuri bersholawat ini dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhamad SAW. Dengan adanya Unsuri bersholawat, semoga prestasi kami selalu didampingi berkah bulan maulid dan mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW. Semoga semangat dalam menyiarkan sholawat agar menyholawatkan masyarakat dan memasyarakatkan sholawat," kata ketua PKPT IPNU Unsuri, M Asrori Bahiruddin.

PKPT IPNU-IPPNU Unsuri Gelar Unsuri Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)
PKPT IPNU-IPPNU Unsuri Gelar Unsuri Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)

PKPT IPNU-IPPNU Unsuri Gelar Unsuri Bersholawat

Ketua PKPT IPPNU Unsuri Imroatul Mufidah menambahakan, dengan adanya Unsuri bersholawat ini, diharapkan mampu menanamkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.?

Kawit An Nur Slawi

"Semoga PKPT IPNU-IPPNU Unsuri lebih maju dari sebelumnya dan untuk semuanya semakin cinta kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW," harap Mufidah.

Kawit An Nur Slawi

Rektor Unsuri Sidoarjo, H Soenarjo mengapresiasi atas terselenggaranya acara tersebut. Pihaknya meminta kepada IPNU-IPPNU untuk terus melakukan kegiatan yang bersifat positif terutama bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. "Teruskan kegiatan semacam ini," ucapnya singkat. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Quote, Internasional Kawit An Nur Slawi

Rabu, 10 Juni 2015

Hadapi PP 109, ISNU Kudus Gelar Ngaji Kretek

Kudus, Kawit An Nur Slawi. Akhir abad ke-IX, H. Jamhari, warga Kudus, dengan sesadar diri bereksperimen membuat lintingan klobot berisi tembakau dan cengkeh untuk diisapnya. Ini bukan untuk dikomersilkan, melainkan demi mengobati penyakit yang dideritanya saat itu, batuk asma.

Hadapi PP 109, ISNU Kudus Gelar Ngaji Kretek (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi PP 109, ISNU Kudus Gelar Ngaji Kretek (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi PP 109, ISNU Kudus Gelar Ngaji Kretek

Rupanya eksperimen ini berhasil, dan H. Jamhari sembuh. Lalu terkenallah rokok obat itu sampai ke para tetangga, hingga masyarakat luas. Hingga sekarang rokok itu bernama rokok kretek, karena saat dinikmati rokok itu keluar bunyi “kretek-kretek”. Ini rokok khas Nusantara, bukan yang lain.

Ironis, jika kini pemerintah justeru melegalkan peraturan tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi Kesehatan. Apalagi, kini perusahaan rokok menjadi salah satu tombak perekonomian di Nusantara. Di Kudus, industri rokok menjadi penopang ekonomi hampir dari separuh warganya.

Kawit An Nur Slawi

Menghadapi hal ini, Jumat (8/8) kemarin, Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kudus mengadakan workshop “Ngaji Kretek” di hotel Home Kudus. Pengajian ini mengusung tema “Kretek; dari Diskriminasi hingga Telikungan Kepitalisme Global”.

Narasumber dalam Ngaji Kretek ini adalah Djoko Herryanto (Devisi Riset dan Development PT. Djarum), Zamhuri (Deputi Riset Masyarakat Pemangku Kepentingan Kretek Indonesia/MPKKI), Hasan Aoni Aziz (Gappri), H. Ahmad Faiz, LC. MA. (Dosen Selcuk Univeristy, Konya, Turki).

Kawit An Nur Slawi

Acara ini membahas kontroversi rokok dari berbagai ranah yang melingkupinya. Antara lain segenap anasir kebudayaan yang ada, sejak politik ekonomi, tradisi, agama, sejarah. Pembahasan juga diarahkan pada kesejahteraan warga NU.

“Hampir separuh dari warga Kudus memenuhi kebutuhan hidupnya dari perusahaan rokok, dan mereka itu mayoritas adalah warga NU. Jadi permasalahan tentang rokok ini memang sudah menjadi tugas NU dan Banomnya. Kita menyayangkan PP 109 bukan untuk membela para pengusaha rokok, melainkan untuk membela rakyat buruh,” ujar Zamhari.

Menurutnya, rokok menjadi produk Nusantara yang paling diurus oleh banyak pihak karena di dalamnya mengandung banyak peluang.

“Lihatlah, Nusantara sebagai salah satu penghasil sekaligus penikmat tembakau terbesar di dunia, tidak kemudian mengalami angka kematian tinggi bersebab penyakit yang katanya bersumber dari tembakau itu. H. Jamhari membuktikan, rokok sebagai obat. Berarti perusahaan farmasi juga berkepetingan merebut pasar tembakau dari pabrik rokok. Tembakau punya potensi uang yang besar. Ia punya harga yang mahal. Satu-satunya produk kita yang begitu banyak diurus oleh pelbagai pihak ya rokok, sebab ada banyak kepentingan politik di sana. Politik ekonomi, utamanya, sebagai ganti dari lakon imperialisme,” penulis buku Republik Kretek; dari Kudus untuk Dunia (2013) ini bertutur.

Acara Ngaji Kretek dihadiri oleh para aktivis mahasiswa, persatuan pengusaha rokok, politisi, akademisi, pegiat sosial, serta segenap pengurus banom NU Kudus.[Istahiyya/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hikmah Kawit An Nur Slawi

Rabu, 27 Mei 2015

GP Ansor Surabaya Siap Perangi Kelompok Penyebar Hoaks Sejenis Saracen

Surabaya, Kawit An Nur Slawi - Ketua GP Ansor Kota Surabaya H Faridz Afif (Gus Afif) yakin masih banyak kelompok lain serupa dengan Saracen yang suka menebar ujaran kebencian.

"Mereka bukan hanya Saracen. Masih banyak kelompok-kelompok penebar ujaran kebencian dan konten SARA yang masih belum ditangkap. Ideologi mereka membahayakan yang bisa memecah belah bangsa ini," ujar Gus Afif, Rabu (29/8).

GP Ansor Surabaya Siap Perangi Kelompok Penyebar Hoaks Sejenis Saracen (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Surabaya Siap Perangi Kelompok Penyebar Hoaks Sejenis Saracen (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Surabaya Siap Perangi Kelompok Penyebar Hoaks Sejenis Saracen

Ia juga meminta partisipasi masyarakat melawan kelompok yang menebarkan ujaran kebencian seperti Saracen di media sosial.

"Mereka menggunakan media sosial sebagai tempat berperang. Kader Ansor Surabaya juga siap melawan mereka melalu tim cyber kami. Tapi, kita gunakan ini untuk sisi positif, bukan seperti mereka," tambah Gus Afif.

Kawit An Nur Slawi

Koordinator Cyber Ansor Surabaya Sufaat mengapresiasi kepolisian atas penangkapan sindikat penyebar kebencian, isu SARA, dan berita hoax bernama Saracen.

Kawit An Nur Slawi

"Ini sejalan dengan kita yang juga memerangi para kelompok penebar kebencian, SARA, dan hoaks," katanya.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menerapkan 3 S saat berselancar di dunia maya. Tiga S adalah saring sebelum sharing.

"Jangan terburu-buru menyebar informasi yang mengandung ujaran kebencian. Kita harus setia melakukan pengecekan terhadap setiap informasi yang kita dapatkan," tandas Sufaat. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ulama, Kiai, Sejarah Kawit An Nur Slawi

Selasa, 19 Mei 2015

Pemenang Lomba MWC dan Ranting NU Sehat Dapat Dana Pembinaan 39 Juta

Pringsewu, Kawit An Nur Slawi. Dalam rangka mewujudkan organisasi yang berkualitas serta meningkatkan motivasi pengurus untuk terus berkhidmah di NU, PCNU Pringsewu menggelar Kegiatan Lomba MWCNU dan Ranting NU Sehat Se-Kabupaten Pringsewu.

Setelah dilakukan Proses Penilaian oleh Tim Khusus terhadap 9 MWC dan 131 Ranting selama lebih kurang 3 bulan, para pemenang lomba diumumkan pada Kamis (19/1) dibarengkan dengan Pringatan Hari Lahir NU ke 91 tingkat Kabupaten Pringsewu di Gedung NU setempat.

Pemenang Lomba MWC dan Ranting NU Sehat Dapat Dana Pembinaan 39 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemenang Lomba MWC dan Ranting NU Sehat Dapat Dana Pembinaan 39 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemenang Lomba MWC dan Ranting NU Sehat Dapat Dana Pembinaan 39 Juta

"Ada tiga MWC dan tiga Ranting dari setiap Kecamatan yang kita pilih sebagai Juara. Dan mereka berhak mendapatkan Thropi, Hadiah serta dana Pembinaan dari PCNU Pringsewu," Jelas Ketua Tanfidziyyah H. Taufiqurrohim disela-sela pengumuman lomba tersebut.

Mas Tas Taufik, begitu Ia biasa disapa menjelaskan bahwa dana untuk pembinaan pemenang lomba tersebut mencapai 39 juta. "Kita berharap kedepan Jamiyyah NU di Kabupaten Pringsewu terus meningkatkan kualitas organisasi dan pengurus akan lebih serius lagi dalam mengurus ummat," harapnya.

Kawit An Nur Slawi

Ia menjelaskan pula bahwa beberapa indikator Tim penilai dalam memberikan nilai antara lain adalah ketertiban administrasi, kuantitas dan kualitas realisasi program kerja dan kelengkapan organisasi. Setelah penilaian dengan langsung terjun ke daerah tersebut dilaksanakan akhirnya terpilih MWC NU Kecamatan Adiluwih menjadi Juara I Lomba tingkat Kecamatan. Untuk Juara II diraih oleh MWC NU Pringsewu dan Juara III diraih oleh MWC NU Pagelaran.

Selain itu Tim Penilai juga memberikan penghargaan kepada beberapa MWC yang menonjol dalam kategori tertentu. Diantara Kategori tersebut adalah Kelengkapan Badan Otonom dan Lembaga, Keaktifan Lembaga Pendidikan Maarif, Kekompakan dengan Banom dan beberapa kategori lain.

Kawit An Nur Slawi

Sementara untuk Pemenang Lomba Ranting NU Sehat sebagai berikut: Kecamatan Adiluwih. Juara I Ranting NU Bandung Baru, Juara II Ranting NU Tri Tunggal Mulyo dan Juara III Ranting NU Srikaton. Kecamatan Pringsewu. Juara I Ranting NU Fajar Agung Barat, Juara II Ranting NU Fajaresuk dan Juara III Ranting NU Margakaya.

Kecamatan Pagelaran. Juara I Ranting NU Sumberejo , Juara II Ranting NU Patoman dan Juara III Ranting NU Tanjung Dalam. Kecamatan Ambarawa. Juara I Ranting NU Jati Agung , Juara II Ranting NU Ambarawa dan Juara III Ranting NU Sumberagung . Kecamatan Banyumas . Juara I Ranting NU Mulyorejo , Juara II Ranting NU Banyumas dan Juara III Ranting NU Sri Rahayu.

Kecamatan Pagelaran Utara. Juara I Ranting NU  Margosari, Juara II Ranting NU Gunung Raya  dan Juara III Ranting NU Fajar Mulya. Kecamatan Gading Rejo . Juara I Ranting NU Tegalsari, Juara II Ranting NU Klaten dan Juara III Ranting NU Gadingrejo.

Kecamatan Pardasuka. Juara I Ranting NU Pujodadi, Juara II Ranting NU Rantau Tijang  dan Juara III Ranting NU Pardasuka. Kecamatan Sukoharjo . Juara I Ranting NU Waringin Sari Barat, Juara II Ranting NU  Panggungrrjo Utara dan Juara III Ranting NU Siliwangi.

Hadiah bagi Pemenang MWC NU Sehat diserahkan langsung oleh Mustasyar PCNU Pringsewu KH. Sujadi didampingi oleh Jajaran Jajaran Syuriyah dan Tanfidziyyah PCNU Pringsewu. Sementara untuk Lomba Ranting NU Sehat penyerahan diberikan oleh setiap Ketua MWC masing-masing. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian, Santri, Ubudiyah Kawit An Nur Slawi

Kamis, 07 Mei 2015

Pendekatan Dakwah untuk Kaum Dluafa

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Dalam mengatasi kemiskinan, dakwah setidaknya bisa ditempuh melalui dua jalan. Pertama, memberi motivasi kepada kaum muslimin yang mampu untuk menumbuhkan solidaritas sosial. Akhir-akhir ini, di kalangan umat Islam, ada kecenderungan solidaritas sosial menurun. Kedua, yang paling mendasar dan mendesak adalah dakwah dalam bentuk aksi-aksi nyata dan program-program yang langsung menyentuh kebutuhan. Ini sering disebut orang dengan dakwah bil hal.

Dakwah dalam bentuk yang kedua ini, sebenarnya sudah banyak dilaksanakan kelompok-kelompok Islam, namun masih sporadis dan tidak dilembagakan, sehingga menimbulkan efek kurang baik, misalnya dalam mengumpulkan dan membagikan zakat. Akibatnya lalu, fakir miskin yang menerima zakat cenderung menjadi orang yang thama (dependen). Itu hanya karena teknis pembagian zakat yang tidak dikelola dengan baik. Dalam hal ini ada beberapa pesantren yang sudah mencoba melembagakan atau mengatasi masalah itu.

Pendekatan Dakwah untuk Kaum Dluafa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendekatan Dakwah untuk Kaum Dluafa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendekatan Dakwah untuk Kaum Dluafa

Pendekatan untuk mengatasi masalah kemiskinan ini seperti disebutkan di atas adalah pendekatan basic need approach (pendekatan kebutuhan dasar). Tentu saja dalam hal ini tidak bisa dilaksanakan dengan menggeneralisasi. Kita harus membagi masyarakat miskin menjadi beberapa kelompok dengan melihat kenyataan yang berkembang dalam lingkungan masyarakat miskin itu sendiri. Apa kekurangan mereka? Apa yang menyebabkan mereka miskin? Bisa jadi mereka miskin karena kebodohan atau keterbelakangan. Dalam hal ini kita harus berusaha agar mereka dapat maju, tidak bodoh lagi. Bisa juga karena kurangnya sarana, sehingga mereka menjadi miskin atau bodoh. Untuk mengatasinya, adalah dengan cara melengkapi sarana tersebut.

Karena gerakan yang sporadis dan tidak dikelola dengan baik, akhirnya fakir miskin cenderung menjadi orang thama’. Maksud saya, pengembangan masyarakat miskin tidak begitu caranya. Kita jangan memberi ‘ikan’ terus menerus, tapi harus memberi kailnya. Tetapi dengan memberi kail saja tentu tidak cukup, karena mereka juga harus diberitahu, cara mengail yang baik, lahan yang baik dan bagaimana ia dapat menggunakan kail untuk mendapatkan ikan.

Berarti mereka tidak hanya cukup dengan diberi modal, tetapi mereka juga harus diberi keterampilan. Inilah yang saya maksudkan dengan pendekatan itu. Masalah yang dihadapinya, keterbelakangan atau kebodohan harus diatasi dengan memberikan keterampilan, dan baru kemudian modal. Ini juga belum bisa meyakinkan sepenuhnya, sepanjang belum ada uji coba.

Kadang-kadang, masyarakat miskin di kampung lebih menyukai hal yang paling praktis, maunya mencukupi tapi juga mudah dan praktis. Untuk itu di samping kita memberi keterampilan dan modal, kita harus meyakinkan atau memberikan motivasi hingga fakir miskin itu memiliki kemauan berusaha dan tidak hanya menanti dan boros.

Kawit An Nur Slawi

***

Menurut pandangan Islam, secara formal zakat yang diberikan langsung oleh muzakki (pembayar zakat), idak melalui imam yang dalam hal ini adalah pemerintah, harus dibayarkan dalam bentuk harta zakat itu, tidak boleh ditukar dengan bentuk yang lain. Zakat langsung harus dalam bentuk mal. Dan harta itu bisa dijadikan modal.

Sebaliknya menurut apa yang saya ketahui dari petunjuk-petunjuk dalam fiqih, zakat yang dikelola pemerintah justru dibayarkan bukan dalam bentuk uang. Kalau si mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) punya keterampilan menjahit, maka berilah mesin jahit. Kalau keterampilannya hanya mampu mengemudikan becak, berilah becak. Tetapi itu sebenarnya bisa diatur. Saya sudah mencobanya.

Kawit An Nur Slawi

Ada tiga desa yang saya coba dengan memberikan motivasi kepada masyarakat desa itu. Kemudian, zakat di desa itu dilembagakan. Salah satu di antaranya dilembagakan dalam bentuk koperasi. Panitia (bukan amil) bertugas hanya sekadar mengumpulkan zakat dan mengatur pembagiannya. Hasilnya tidak langsung dibagikan dalam bentuk uang, tetapi diatur demikian rupa supaya tidak bertentangan dengan agama. Mustahiq diserahi zakat berupa uang, tetapi kemudian ditarik kembali sebagai tabungannya untuk keperluan pengumpulan modal.

Dengan cara ini, mereka menciptakan pekerjaan dengan modal yang dikumpulkan dari harta zakat. Ternyata berhasil. Meskipun kita tidak bisa melenyapkan atau menghapuskan kemiskinan sama sekali, paling tidak kita telah berhasil menguranginya.

Pernah suatu kali, saya mencobanya terhadap seorang pengemudi becak di kota Pati. Saya lihat dia memang tekun mangkal di pasar untuk bekerja sebagai tukang becak. Pada saat kesempatan pembagian zakat tiba, saya zakati dia. Hasil zakat bulan Syawal itu, berupa zakat mal, zakat fitrah dan infaq, dikumpulkan dan saya salurkan dengan membelikan untuknya, sebuah becak. Sebelumnya dia hanya pengemudi becak milik orang non-pribumi. Namun sekarang dia telah memiliki dua buah becak.

Usahanya ini berkembang, dan sehari-harinya ia tidak harus mengemudikan becak dengan mengejar target setoran. Dengan mengemudikan becak hingga jam tiga sore, hasilnya sudah cukup untuk makan dan menjaga kesehatan. Setelah itu ia bisa kumpul-kumpul mengikuti pengajian. Dengan cara ini, meskipun dia tidak menjadi kaya, tetapi jelas ada perubahan sosial.

Untuk lebih jelasnya, apa yang saya kembangkan di tiga desa itu adalah sebagai berikut. Zakat dari pihak muzakki diberikan kepada panitia, yang kebetulan salah seorang atau beberapa di antaranya memang ada yang pantas menerima zakat (mustahiq). Pembagiannya diatur sedemikian rupa, sehingga apa yang diterimanya itu dijadikan modal. Kepentingan-kepentingan sosial lainnya, seperti keperluan lembaga, tentu saja juga diberikan bagiannya.

Untuk lebih menyebar luaskan gagasan seperti itu, tentu saja lembaga-lembaga sosial keagamann dapat mengambil peran. Kalau kita berbicara mengenai peran para ulama dalam hal pembangunan dan khususnya dalam mengatasi masalah kemiskinan ini, mereka dapat berperan sebagai inisiator, bisa pula sebagai motivator dan sekaligus bisa menjadi fasilitator, tergantung kemampuan dan kenyataan lingkungan di daerahnya masing-masing.

Dalam hal ini saya tidak membicarakan peranan Majelis Ulama, tetapi ulama. Sedangkan bagi MUI sendiri, menurut hasil Munas ketiga, masalah itu sudah dibicarakan. Keputusan Majelis Ulama menyinggung masalah-masalah yang berkenaan dengan kemiskinan, kebodahan dan sebagainya. Lalu tugas majelis adalah koordinasi di antara ormas-ormas Islam yang mempunyai lapangan dan basis.

Kini, masalahnya adalah bagaimana Majelis Ulama mampu dengan kredibilitas yang dimiliki, mengatasi perbedaan-perbedaan yang berkembang di masing-masing ormas Islam. Tentu saja hal itu tidak sulit dilakukan. Namun, apa yang sebenarnya menjadi masalah, saya sendiri tidak tahu, karena tidak terlibat dalam Majelis Ulama Pusat.

***

Sudah jelas, bahwa ajaran Islam tidak menghendaki kemiskinan. Berbagai macam komponen ajaran Islam sendiri menunjang pernyataan itu. Namun harus diakui, hingga sekarang masalah itu belum mendapat perhatian serius dari kaum muslimin. Menurut ajaran Islam, memberi nafkah kepada golongan fakir miskin adalah kewajiban kaum muslimin yang mempunyai kemampuan, dan itu memang relatif. Ajaran seperti itu belum pernah disinggung, apalagi dijabarkan, dan bahkan hal itu kurang disadari.

Berkenaan dengan infaq, kalau ada keinginan untuk melembangakannya, kita harus mampu menginventarisasi, paling tidak menyensus ekonomi kaum muslimin. Sehingga, kita mempunyai data, siapa yang disebut mampu dan siapa pula yang tidak mampu. Terhadap yang mampu, dikenakan kewajiban memberikan nafkah bagi orang yang tidak mampu, sesuai dengan ajaran fiqih. Tetapi hingga sekarang kita tidak mempunyai bait al-mal yang teratur. Bait al-mal-nya saja belum ada, apalagi teratur. Jadi di luar zakat dan sedekah, masih ada kewajiban umat Islam yang mampu, hukumnya wajib bagi orang-orang muslim yang mampu untuk memberi rafkah kepada fakir miskin, dalam keadaan tidak adanya bait al-mal al-muntadhim (yang teratur). Inilah jalan Islam.

Kewajiban zakat itu, persuasif atau tidak, ini juga masalah, karena kecenderungan turunnya solidaritas sosial (takaful al-ijtimai) di kalangan umat Islam. Tetapi menurut pandangan saya, gagasan yang terakhir ini sangat mungkin dilakukan. Sekarang organisasi-organisasi Islam banyak memiliki ahli dalam bidang penelitian. Kita tinggal menambah dengan baberapa spesialis lainnya yang juga banyak dimiliki umat Islam, bagaimana mengadakan sensus ekonomi dan bagaimana desain ekonomi untuk menentukan si Polan ini miskin dan si Polan itu mampu. Apakah yang mampu sudah memenuhi kewajiban? Apakah dibayarkan langsung atau tiidak? Sekarang sudah saatnya kita membicarkan masalah konsep tersebut.

Kalau kita tetap menginginkan pola ekonomi itu, ini tidak terlepas dari. Undang-undang Dasar dan Pancasila, di mana pasal 33 menyebutkan bahwa ekonomi (melalui koperasi) adalah usaha bersama dan kekeluargaan. Tentu saja perlu dijabarkan dalam bentuk peraturan-peraturan koperasi. Bahwa koperasi harus berkembang, tidak bisa ditolak. Nah sekarang, sebenarnya kita harus terpanggil untuk mempertanyakan konsepnya bagaimana? Bagaimana koperasi menurut Islam?

Belum seorang pun membicarakan konsep koperasi menurut Islam. tetapi sudah keburu, lembaga-lembaga Islam mendirikan koperasi, sesuai dengan aturan dari luar. Mereka menggunakan anggaran dasar sedemmian rupa. Tetapi praktek-praktek koperasi yang dijalankan kelompok-kelompok Islam, tidak pernah dipersoalakan apakah sesuai dengan muamalah yang harus kita patuhi? Sesuaikah dengan ajaran Islam? Ini belum pernah dijabarkan.

Masalahnya adalah karena kita belum membuat konsep. Saya sendiri belum mempunyai suatu konsep tertulis dan matang, tetapi pikiran-pikiran seperti di atas sudah lama muncul dan saya lontarkan di forum-forum tertentu, terutama di kalangan NU, setelah muktamar (1984). Terkadang dengan terlalu berani saya munculkan di forum-forum Syuriyah NU; Sekarang ini kita perlu mengurangi pembicaraan tentang masalah-masalah yang hanya menjawab halal dan haram! Ini bukan berarti kita tidak menyetujuinya.

Kalau kita sudah menyetujuinya sebagai yang halal, kita juga harus membicarkan pendekatan konseptualnya untuk umat. Kalau haram, kita diharuskan membicarakan bagaimana pemecahannya agar umat tidak menyimpang dari nilai-nilai Islam. Untuk itu perlu konsep. Konsep seperti apa? Kalau kansep itu bersifat individual tentu tidak mungkin diterapkan secara massal, sebelum diterima umum.

Uji coba yang sedang saya kembangkan belum sepenuhnya berupa koperasi. Saya masih membatasinya pada usaha bersama (UB). Sebab, saya telah mencoba membuat proposal untuk mengadakan diskusi mengenai pembangunan koperasi dalam bentuk qiradl. Tetapi hingga sekarang proposal itu belum ada yang setuju, sehingga dengan demikian saya belum bisa menerapkan koperasi sesuai dengan konsep yang sudah matang.

Keinginan saya, kalau ini bisa, hasil diskusi itu bisa dibukukan dan akan bermanfaat bagi anggota masyarakat yang membutuhkannya. Sekarang kita harus dapat menyusun konsep-konsep aktual. Masyarakat memang menerima bentuk koperasi. Namun apakah itu syirkah atau qiradl, itu soal lain. Tetapi akan ngawur saja, kalau bekerja tanpa memiliki konsep yang jelas. Kelompok-kelompok cendekiawan muslim dari berbagai sangat dibutuhkan keterlibatannya, karena itu tentu saja tidak bisa dengan biaya dan upaya individual.

Meskinya, gagasan itu tumbuh dari ormas-ormas Islam. Mengharapkan terjadinya pertumbuhan secara alami, akan sulit terjadi. Barangkali dalam hal ini, MUI bekepentingan berperan sebagai inisiator, untuk menumbuhkan gagasan itu dan melemparkannya kepada ormas Islam yang ada. Kalau perlu, bahkan mengeormas tersebut hingga mempunyai gagasan serupa. Kumpulkan cendekiawan-cendekiawan berdasarkan kelompok tertentu. Tetapi pertemuan itu tentu saja tidak berakhir begitu saja. Pertemuan itu harus diakhiri dengan perumusan suatu keputusan yang konseptual dan utuh.

Hasil seminar yang pernah kita lakukan, selalu tidak diikuti dengan implementasi. Hal itu bisa jadi karena konsep seminar berorientasi pada ilmu pengetahuan bukan beroritentasi pada strategi. Kita harus membedakan antara konsep yang berorientasi pada ilmu dan konsep yang berorientasi pada strategi. Namun konsep apapun harus dirumuskan dan implementabel.

Berkenaan dengan gagasan mewujudkan lembaga bait al-mal al-muntadhim, saya berpendapat, lembaga itu adalah wewenang pemerintah. Dalam hal ini dana yang dapat dijadikan sumber adalah infaq dan shadaqah bisa pula ghanimah (harta rampasan perang). Namun masalah yang akan muncul kemudian adalah masaIah manajemen.

Yang terpenting adalah, soal kesamaan wawasan. Potensi umat Islam secara kuantitatif dan kualitatif dapat mendukung dan mengatasi masalah di atas. Saya melihat kenyataan itu. Di Jawa Tengah, kelompok pengusaha menengah muslim sangat banyak, bahkan ada di antaranya yang dapat dikategorikan sebagai kelompok atas. Jelas mereka mampu, tetapi wawasan dan kecenderungan belum ada titik singgung di antara kita. Titik temu itu perlu diusahakan. Tetapi siapa yang harus memprakarsai?

***

Masalah kemiskinan sangat terkait dengan masalah lingkungan. Sebelum berbicara soal lingkungan menurut konsepsi Islam, lebih dahulu harus diklasifikasi masalah lingkungan dari segi fisik dan non-fisik. Dari segi non-fisik, ajaran Islam memang tidak menghendaki terjadinya kerusakan. Katakanlah kerusakan moral, tidak dikehendaki Islam.

Saya melihat, kaum muslimin sekarang ini sedang dihadapkan pada tantangan perubahan. Perubahan-perubahan yang terjadi telah mengiring masyarakat dari orientasi pada nilai-nilai Islam kepada orientasi pada nilai-nilai ekonomi. Ini berbahaya. Dewasa ini setiap kegiatan akan diperhitungkan sesuai dengan untung-rugi berdasarkan nilai ekonomi. Perbuatan apa pun dilakukan, tanpa memperhitungkan resikonya terhadap moral masyarakat, tapi didasarkan pada pertimbangan untung rugi secara ekonomi.

Berkenaan dengan lingkungan fisik, kita harus kembali kepada manusia untuk menggunakan dan memanfaatkan apa yang ada di alam ini, disertai upaya melestarikan lingkungan hidup. Sudah baran tentu, kalau manusia tidak memanfaatkannya, itu adalah mubazir dan bisa mencelakakan. Intinya bahwa penggunaan alam harus harus didasarkan pada manfaat dan maslahat.

Menurut ajaran Islam, kebutuhan dapat dibagi menjadi; pertama yang bersifat dlaruri (primer) atau sifat haji (mendasar) dan kedua yang bersifat sekunder. Manfaat dan maslahat memang sulit diukur, tetapi itu bisa dirasakan dan dilihat. Semuanya harus diarahkan pada kepentingan hidup, kepentingan bersama, kepentingan agama dan lain-lain. Tidak perlu membagi-baginya menurut kepentingan ukhrawi, kepentingan moral atau akhlak, kepentingan dunia dan lain sebagainya, karena tentu saja kepentingan ukhrawi tidak mungkin tanpa adanya kepentingan-kepentingan duniawi.

Selama ini majelis-majelis taklim, nampaknya belum menyentuh masalah-masalah seperti itu, belum menyentuh masalah-masalah riil dalam masyarakat. Masih berkisar pada masalah moral atau akhlak. Namun para ulama, saya kira tidak bisa disalahkan, karena antara ulama dan umara yang berwenang masih sering terjadi miskomunikasi. Masalah yang timbul seharusnya diinformasikan kepada para ulama. Kalau dalam masalah lingkungan, ulama masih bersikap statis, itu 1ebih disebabkan karena ketidaktahuan.

Belum adanya partisipasi mereka dalam hal ini, karena mereka tidak banyak mengelola masalah lingkungan. Itu sebabnya mereka masih terbatas pada masalah-masalah moral. Kalau mereka tahu, tanpa perlu diimbau, mereka akan berpartisipasi. Untuk itu komunikasi dan informasi masalah ini perlu digalakkan, karena masalahnya memang terletak di sana.

***

Sudah jelas, Islam mendorong orang untuk bekerja. Ada hadits yang mengatakan, "Asyaddu al-naas azaban yauma al-qiyamah al-maghfiy al-bathil" (Siksaan paling berat pada hari kiamat, adalah bagi orang yang hanya mau dicukupi orang lain dan hidup menganggur). Al-Quran juga menyebutkan, "Apabila kamu telah selesai menunaikan shalat Jumat, menyebarlah untuk mencari rezki Tuhanmu”.

Ada banyak hal yang menyebabkan terjadinya pengangguran. Faktor pendidikan yang rendah, keterampilan kurang memadai, di samping kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja terbatas. Anak-anak sekarang hanya menunggu pekerjaan, bukan mencari dan menciptakan pekerjaan. Yang saya maksudkan menunggu pekerjaan, adalah mencari pekerjaan pada lapangan kerja yang sudah mapan dan jelas. Sedangkan mencari kerja, adalah orang tidak hanya terfokus pada satu sasaran pekerjaan, namun berusaha secara kreatif menciptakan lapangan kerja.

Dalam mengatasi kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja, imbauan saya kepada kelompok muda adalah, jangan cepat putus asa. Sebab dengan putus asa, kreativitas mandeg. Bagaimana kecilnya kreativitas itu, ia akan selalu tumbuh dan berkembang.

?

? *) Tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Mimbar Ulama. Juga bisa ditemukan di buku KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS), dengan judul yang sudah diubah, “Dakwah untuk Kaum Dlu’afa”.



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Quote Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 02 Mei 2015

Pengelola Zakat di Masjid Harus Miliki Legalitas Amil

Pringsewu, Kawit An Nur Slawi - Pengurus Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Pringsewu KH Munawir berharap koordinasi dan sinergitas program kerja dapat terjalin baik antara BAZNAS dan Lembaga Amil, Zakat, Infaq dan Shadaqah NU atau LAZISNU di kabupaten tersebut.

Hal itu disampaikannya saat memberikan pengarahan pada Rapat Kerja Perdana LAZISNU yang diselenggarakan di aula STMIK Pringsewu, Kamis (11/5).

Pengelola Zakat di Masjid Harus Miliki Legalitas Amil (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengelola Zakat di Masjid Harus Miliki Legalitas Amil (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengelola Zakat di Masjid Harus Miliki Legalitas Amil

Sinergitas program dua lembaga tersebut adalah maksimalisasi pengumpulan dan penyaluran amal, shadaqah dan zakat. "Sebagai Mitra BAZNAS, LAZISNU dapat membantu BAZNAS dalam penyaluran sehingga bisa tepat sasaran dan bermanfaat," katanya.

Kawit An Nur Slawi

Ia juga berharap LAZISNU Kabupaten Pringsewu untuk terus berkiprah dan berkhidmah memaksimalisasikan lembaga tersebut dengan memperkuat sumber daya manusia dan struktur organisasi sampai pada Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan amil zakat di masjid dan mushala.

Kawit An Nur Slawi

"Secara hukum Islam, amil di masjid dan mushala harus mendapatkan legalitas dari pemerintah dalam hal ini BAZNAS atau Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang diakui oleh BAZNAS. Dan LAZISNU merupakan LAZ yang sudah diakui serta memiliki legalitas untuk membentuk amil zakat sampai dengan masjid dan mushala," terang Gus Nawir, begitu kiai muda ini biasa disapa.

Gus Nawir berharap LAZISNU Kabupaten Pringsewu ikut mensosialisasikan hal tersebut kepada para takmir di masjid dan mushalla untuk melegalkan pengelola zakat mereka sehingga secara syari, mereka sah disebut amil zakat.

Selain legalitas, Gus Nawir juga berharap manajemen administrasi pelaporan dapat dilakukan dengan baik dan transparan untuk meningkatkan tingkat kepercayaan muzakki dan orang yang beramal.

"Pelaporan dari amil zakat di bawah LAZISNU sampai dengan masjid dan mushala harus dilaporkan dan diteruskan sampai dengan LAZISNU pusat," harapnya.

Rapat Kerja perdana LAZISNU yang dilaksanakan sehari itu diikuti seluruh pengurus dan perwakilan dari 9 kecamatan. Pada Raker tersebut dihadirkan beberapa pemateri dari BAZNAS Kabupaten Pringsewu dan PW LAZISNU Provinsi Lampung. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Cerita, Tokoh, Aswaja Kawit An Nur Slawi

Rabu, 29 April 2015

Ancam NKRI, Pagar Nusa Siap Bubarkan Konferensi HTI

Tasikmalaya, Kawit An Nur Slawi. Pimpinan Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat siap membubarkan Konfereni Islam dan Peradaban yang akan dilaksanakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Asia Plaza Kota Tasikmalaya pada Ahad 1 Juni 2014 besok. Konferensi tersebut rencananya akan dihadiri anggota HTI se-Priangan Timur.

“Jika aparat, baik pemerintah Kota Tasikmalaya, Polri maupun TNI tidak mampu membubarkan Konferensi HTI tersebut, maka kami PC Pencak Silat NU Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya siap membubarkan acara tersebut dengan segala resikonya,” tegas Yoga Arif Maulana, salah seorang koordinator aksi saat melakukan aksi pembubaran Konferensi Peradaban Islam HTI di Tugu Adipura Kota Tasikmalaya tadi siang.

Ancam NKRI, Pagar Nusa Siap Bubarkan Konferensi HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ancam NKRI, Pagar Nusa Siap Bubarkan Konferensi HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ancam NKRI, Pagar Nusa Siap Bubarkan Konferensi HTI

Aksi pembubaran acara HTI tersebut dilakukan, lanjut Yoga, karena jelas mereka merupakan aliran yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan membiarkan acara tersebut berlangsung, katanya, berarti kita membiarkan mereka merongrong keutuhan bangsa.

Kawit An Nur Slawi

“Ya jelas, mereka itu melakukan makar terhadap keutuhan NKRI dan persatuan bangsa. HTI ingin merubah dasar negara kita, mereka tidak mengakui Pancasila, UUD 45. Maka, sudah merupakan kewajiban kita sebagai penerus perjuangan para ulama pendiri bangsa untuk mengusir dari bumi Indonesia,” paparnya.

Yang paling menyakitkan, dia menambahkan, pelaksanaan konferensi tersebut bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila. “Ini bentuk pelecehan terhadap bangsa. Ini ada apa? Masa aparat pemerintah, TNI maupun Polri membiarkan para pelaku makar melakukan acara tepat di hari kelahiran Pancasila, 1 Juni. Apakah mereka tidak mengetahui perjuangan para pahlawan pendiri bangsa kita,” ucap Yoga.

Kawit An Nur Slawi

Ditemui di sela-sela aksi, Ketua Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya, Moch An’am Nazily menambahkan, jika HTI tetap melaksanakan acara tersebut, maka Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya akan turun lagi dengan jumlah pasukan lebih banyak. “Harap dicatat, aksi hari ini tidak akan berhenti sampai di sini. Target kita acara HTI harus bubar. Selamatkan NKRI, selamatkan Pancasila dan kita selamatkan Aswaja,” tegasnya.

Sementara itu, dalam aksi tersebut, peserta aksi memasangkan spanduk penolakan bertuliskan “Bubarkan Hizbut Tahrir Indonesia” di lokasi aksi dan Asia Plaza, tempat yang akan dijadikan lokasi acara HTI tersebut. (Asep Sufian Sya’roni/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Tokoh, Tegal Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 11 April 2015

Kiai Romly Tamim, Penyusun Doa Istighotsah

Kata "Istighotsah" (?) adalah bentuk masdar dari Fiil Madli Istaghotsa (?) yang berarti mohon pertolongan. Secara terminologis, istigotsah berarti beberapa bacaan wirid (awrad) tertentu yang dilakukan untuk mohon pertolongan kepada Allah SWT atas beberapa masalah hidup yang dihadapi.

Istighotsah ini mulai banyak dikenal oleh masyarakat khususnya kaum Nahdliyyin baru pada tahun 1990 an. Di Jawa Timur, ulama yang ikut mempopulerkan istighotsah adalah Almarhum KH Imron Hamzah (Rais Syuriyah PWNU Jatim waktu itu). Namun di kalangan murid Thariqah, khususnya Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, Isighotsah ini sudah lama dikenal dan diamalkan.

Bacaan istighotsah yang banyak diamalkan oleh warga Nahdliyyin ini, bahkan sekarang meluas ke seluruh penjuru negeri sebenarnya disusun oleh KH Muhammad Romly Tamim, seorang Mursyid Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah, dari Pondok Pesantren Rejoso, Peterongan, Jombang. Hal ini dibuktikan dengan kitab karangan beliau yang bernama Al-Istighatsah bi Hadrati Rabb al-Bariyyah" (tahun 1951) kemudian pada tahun 1961 diterjemah ke dalam bahasa Jawa oleh putranya KH Mustain Romli.

Kiai Romly Tamim, Penyusun Doa Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Romly Tamim, Penyusun Doa Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Romly Tamim, Penyusun Doa Istighotsah

KH Muhammad Romly Tamim adalah salah satu putra dari empat putra Kiai Tamim Irsyad (seorang Kiai asal Bangkalan Madura). Keempat putra Kiai Tamim itu ialah Muhammad Fadlil, Siti Fatimah, Muhammad Romly Tamim, dan Umar Tamim.

KH Muhammad Romly Tamim lahir pada tahun 1888 H. di Bangkalan Madura. Sejak masih kecil, beliau diboyong oleh orang tuanya KH. Tamim Irsyad ke Jombang. Di masa kecilnya, selain belajar ilmu dasar-dasar agama dan Al-Quran kepada ayahnya sendiri juga belajar kepada kakak iparnya yaitu KH Kholil (pembawa Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Rejoso).

Setelah masuk usia dewasa, beliau dikirim orang tuanya belajar ke KH. Kholil di Bangkalan, sebagaimana orang tuanya dahulu dan juga kakak iparnya belajar ke beliau. Kemudian setelah dirasa cukup belajar ke Kiai Kholil Bangkalan, beliau mendapat tugas untuk membantu KH Hasyim Asyari mengajarkan ilmu agama di Pesantren Tebuireng, sehingga akhirnya beliau diambil sebagai menantu oleh Kiai Hasyim yaitu dinikahkan dengan putrinya yang bernama Izzah binti Hasyim pada tahun 1923 M. Namun pernikahan ini tidak berlangsung lama karena terjadi perceraian.

Setelah perceraian tersebut, Mbah Yai Romly, begitu biasa dipanggil, pulang ke rumah orang tuanya, Kiai Tamim di Rejoso Peterongan. Tak lama kemudian beliau menikahi seorang gadis dari desa Besuk, kecamatan Mojosongo. Gadis yang dinikahi tersebut bernama Maisaroh. Dari pernikahannya dengan Nyai Maisaroh ini, lahir dua orang putra yaitu Ishomuddin Romly (wafat tertembak oleh tentara Belanda, saat masih muda), dan Mustain Romly.

Kawit An Nur Slawi

Putra kedua Kiai Romly yang tersebut? terakhir ini kemudian menjadi seorang Kiai besar yang berwawasan luas. Hal ini terbukti saat beliau menjadi pengasuh di Pondok Pesantren DarulUlum Rejoso, beliau mendirikan sekolah-sekolah umum di dalam pesantren disamping madrasah-madrasah diniyah yang sudah ada. Sekolah-sekolah umum itu di antaranya SMP, SMA, PGA, SPG, SMEA, bahkan juga memasukkan sekolah negeri di dalam pesantren yaitu MTs Negeri dan MA Negeri. Sekolah-sekolah tersebut masih berjalan hingga sekarang.

Di samping menjadi Ketua Umum Jamiyyah Ahli Thariqoh Mutabaroh dan Mursyid Thariqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah pada saat itu, Dr. KH. Mustain Romly yang kemudian menjadi menantu KH. Abdul Wahab Chasbullah Tambakberas ini juga merupakan satu-satunya Kiai pertama di Indonesia yang mendirikan sebuah Universitas Islam yang cukup ternama pada saat itu (tahun 1965), yaitu Universitas DarulUlum Jombang.

Kemudian setelah Nyai Maisaroh wafat, Mbah Yai Romly menikah lagi dengan seorang gadis putri KH. Luqman dari Swaru Mojowarno. Gadis itu bernama Khodijah. Dari pernikahannya dengan istri ketiga ini lahir putra-putra beliau yaitu: KH Ahmad Rifaiy Romli (wafat tahun 1994), beliau adalah menantu Kiai Mahrus Ali Lirboyo, KH A. Shonhaji Romli (wafat tahun 1992), beliau adalah menantu Kiai Ahmad Zaini Sampang, KH. Muhammad Damanhuri Romly (wafat tahun 2001), beliau adalah menantu Kiai Zainul Hasan Genggong, KH. Ahmad Dimyati Romly (menantu Kiai Marzuki Langitan), dan KH. A. Tamim Romly, M.Si. (menantu Kiai Shohib Bisri Denanyar).

KH. Muhammad Romly Tamim, adalah seorang Kiai yang sangat alim, sabar, sakhiy, wara, faqih, seorang sufi murni, seorang Mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dan pengasuh Pondok Pesantren DarulUlum Rejoso, Peterongan, Jombang.

Kawit An Nur Slawi

Di antara murid-murid beliau yang terkenal dan menjadi Kiai besar ialah KH. Muhammad Abbas (Buntet Cirebon), KH. Muhammad Utsman Ishaq (Sawahpuluh Surabaya), KH. Shonhaji (Kebumen), KH. Imron Hamzah (Sidoarjo).

KH. Muhammad Romly Tamim, disamping seorang mursyid, beliau juga kreatif dalam menulis kitab. Di antara kitab-kitab karangannya ialah: al-Istighotsah bi Hadrati Rabbil-Bariyyah, Tsamratul Fikriyah, Risalatul Waqiah, Risalatush Shalawat an-Nariyah. Beliau wafat di Rejoso Peterongan Jombang pada tanggal 16 Ramadlan 1377 H atau tanggal 6 April 1958 M.

Tata Cara Istighotsah

Melaksanakan istighotsah, boleh dilakukan secara bersama-sama (jamaah) dan boleh juga dilakukan secara sendiri-sendiri. Demikian juga waktunya, bebas dilakukan, boleh siang,? malam, pagi, atau sore. Seseorang yang akan melaksanakan? istighotsah, sayogianya ia sudah dalam keadaan suci, baik badannya, pakaian dan tempatnya,? dan suci dari hadats kecil dan besar.

Juga tidak kalah pentingnya, seseorang yang mengamalkan istighotsah menyesuaikan dengan bacaan dan urutan sebagaimana yang telah ditentukan oleh pemiliknya (Kiai Romly). Hal ini penting disampaikan, sebab tidak sedikit orang yang merubah bacaan dan urutan istighotsah? bahkan menambah bacaan sehingga tidak sama dengan aslinya. Padahal urutan bacaan istighotsah ini, menurut riwayat santri-santri senior Kiai Romli adalah atas petunjuk dari guru-guru beliau, baik secara langsung maupun lewat mimpi.

Diceritakan, sebelum membuat wirid istighotsah ini, beliau Kiai Romli melaksanakan riyaddloh dengan puasa selama 3 tahun. Dalam masa-masa riyadlohnya itulah beliau memperoleh ijazah wirid-wirid istighotsah dari para waliyulloh. Wirid pertama yang beliau terima adalah wirid berupa istighfar, dan karena itulah istighfar beliau letakkan di urutan pertama dalam istighosah. Demikian juga urutan berikutnya adalah sesuai dengan urutan beliau menerima ijazah dari para waliyyulloh lainnya. Oleh karena itu? ? sebaiknya dalam mengamalkan istighotsah seseorang menyesuaikan urutan wirid-wirid istighotsah sesuai dengan aslinya.

Setelah siap semuanya, barulah seseorang menghadap qiblat untuk memulai istighotsah dengan terlebih dahulu menghaturan hadiah pahala membaca surat al-Fatihah untuk Nabi, keluarga dan shahabatnya, tabiin, para wali dan ulama khususnya Shahibul Istighatsah Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Romly Tamim. (Ishomuddin Ma’shum, dosen Universitas Darul Ulum Jombang)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Anti Hoax, Santri Kawit An Nur Slawi