Sabtu, 27 Desember 2014

World Press Photo 2004 Gelar Pameran di Jogja

Jogjakarta, Kawit An Nur Slawi
Karya seni merupakan hasil karya manusia yang obyeknya tidak terbatas, mulai dari alam hingga makluk. Keberadaan hasil karya seni harus kita jaga dan terus kita lestarikan, terlebih karya seni foto jurnalistik.

Hal itulah yang sedang dilakukan oleh World Press Photo Foundation yang berpusat di Amsterdam Belanda. Organisasi yang dikelola negeri kincir angin itu bekerja sama dengan Pusat Kebudayaa Indonesia-Belanda Karta Pustaka Jogjakarta pada 10-18 Januari ini menggelar pameran foto di Museum Benteng Vredeburg Jogjakarta.

Dalam pembukaan pameran pada Minggu malam itu dibuka oleh Wali Kota Jogjakarta Herry Zudianto. Sebanyak 199 karya foto jurnalistik dunia yang dikemas dalam 111 bingkai, sudah terpampang. Foto-foto yang dipajang di gedung atas utara museum yang terletak di pusat kota Jogja itu merupakan hasil perlombaan yang di motori World Press Photo Foundation pada 2004 lalu.

Dalam lomba seluruh dunia itu diikuti 4.176 fotografer dari 124 negara dengan jumlah foto 63.093 buah. Sedangkan dari Indonesia, tercatat 54 peserta. Tarmizy Harva adalah salah seorang peserta Indonesia yang berasil mendapatkan penghargaan honorable mention untuk kategori spot news single. Tarmizy mengambil tema perang dengan menggambarkan kepedihan seorang ibu yang anak lelakinya mati dalam keadaan terikat di pohon dengan luka sayat di leher yang dilakukan oleh anggota GAM.

Anaknya tersebut seorang guru pesantren di sebuah dusun di Aceh. Kasih sayang ibu inilah yang mengantarkan roh anaknya kembali ke pangkuan Allah SWT. Tema-tema perang dengan sisi kemanusiaan masih kental dan mendominasi dalam karya Wolrd Press Photo 2004 itu. Pemenang pertama pada kompetisi tahun lalu ialah karya Jean Marc Boujou. Dalam foto Jean itu menampilkan seorang pria tawanan perang Irak dengan kepalanya sedang tertutup kantong yang dilakukan oleh tentara AS yang sedang memeluk dan menenangkan anaknya.

Foto itu membuat dewan juri memilihnya sebagai foto terbaik, karena foto itu menggambarkan betapa peperangan selalu membawa kepedihan dan ketakutan. ”Pesan yang mendalam dalam karya ini adalah hanya kasih sayanglah orang tua (ayah) yang mampu membendung ketakutan dari sang anak ketika perang berlangsung. Selain itu, foto itu juga menggambarkan, bahwa perang berdampak mengerikan pada kehidupaa, apapun alasan yang dipakai.” kata Ketua Dewan Juri Elisabeth Biodi yang dikutip dari bosur pameran tersebut.

Selain isu peperangan, masalah HIV/AIDS juga menjadi salah satu pemenang pada kontes ini. Sebuah karya Lu Guang dari Cina menceritakan soal 40 persen penduduk di desa-desa Provinsi Henan terjangkit AIDS. Penyebabnya, para petani yang menjual darah mereka karena butuh uang untuk membeli pupuk.

Proses pengambilan darah yang tidak steril inilah yang menjadi faktor utama mereka terjangkit penyakit mematikan itu. Sekian lama pula kasus AIDS itu tak pernah diketahui publik karena ditutupi pemerintah Cina.

Dalam pameran itu juga tampil karya foto yang bertemakan seni, olahraga, alam, dan lingkungan. Di bidang olahraga banyak foto yang menggambarkan foto para penyandang cacat fisik tapi sangat gigih mencetak prestasi sambil menikmati kebersamaan dalam berolahraga.

”Kami melihat betapa besarnya pesan yang disampaikan lewat karya-karya foto jurnalistik dunia itu, maka Karta Pustaka berusaha agar pameran ini dapat kembali hadir di Jogja. Harapan kami juga, pameran ini akan memacu dan memotivasi para fotografer Jogja untuk lebih peka lagi terhadap kekerasan yang masih mendominasi di sudut bumi ini,” kata Direktur Karta Pustaka Anggi Minarni, disela-sela acara kepada wartawan, kemarin.

Sekadar diketahui, World Press Photo ini berdiri pada tahun 1955 di Belanda. Tujuan utamanya adalah untuk mendukung dan mempromosikan karya para jurnalis foto profesional ke tataran Internasional. World Press Photo kini menjadi forum independen untuk jurnalisme foto dan kebebasan pertukaran infomasi. Organisasi ini mendapat perlindungan dari (almarhum) Pangeran Bernhard dari Belanda. Rencanya foto-foto itu akan dipamerkan keliling ke 40 negara dengan diterbitkan dalam 7 bahasa. (mar)

 

Kontributor Kawit An Nur Slawi Djogjakarta : Ahmad Riadi

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Makam, Sunnah Kawit An Nur Slawi

World Press Photo 2004 Gelar Pameran di Jogja (Sumber Gambar : Nu Online)
World Press Photo 2004 Gelar Pameran di Jogja (Sumber Gambar : Nu Online)

World Press Photo 2004 Gelar Pameran di Jogja

Minggu, 21 Desember 2014

Sambut Ramdhan, WNI Riyadh Istighotsahan

Riyadh, Kawit An Nur Slawi. Warga Negara Indonesia atau TKI yang berdomisili di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menghadiri istighotsah bersama dengan tema “Tarhib Ramadhan, untuk menjadikan hidup lebih baik bersama bulan suci Ramadhan 1436 H” pada 13 Juni 2015 lalu.

Sambut Ramdhan, WNI Riyadh Istighotsahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ramdhan, WNI Riyadh Istighotsahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ramdhan, WNI Riyadh Istighotsahan

Warga Negara Indonesia yang dari berbagai daerah serta dari berbagai macam profesi baik laki maupun perempuan telah memenuhi tempat yang telah disediakan tim pelaksana berkapasitas kurang lebih 250 orang.

Sembari menunggu istighosah dimulai, para jamaah mendengarkan taushiyah yang disampaikan Rais Suriah PCINU Riyadh Ust. Abdul Malik An-Namiri.

Kawit An Nur Slawi

Ustadz yang Ketua Forum Silaturrahim Warga Negara Indonesia berpesan untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Swt serta selalu menjaga martabat bangsa indonesia dengan mematuhi peraturan peraturan yang telah ditentukan pemerintah Arab Saudi.

Seusai taushiyah jamaah serentak membaca dzikir dan sholawat yang dipimpin Ust Ahmad Syafawi serta Ust Matruji Abdu Siyam sehingga acara selesai yang ditutup dengan doa bersama yang kemudian diwarnai dengan marawisan Aswaja Banjari Group. (Red: Abdullah Alawi)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Halaqoh, Meme Islam, Budaya Kawit An Nur Slawi

Jumat, 12 Desember 2014

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman

PENGANTAR REDAKSI: Kawit An Nur Slawi akan memuat pemikiran-pemikiran tentang ilmu nahwu yang dikupas oleh Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jerman, Syafiq Hasyim. Tulisan yang direncanakan bersambung ini akan dimuat setiap hari Senin. Selamat membaca.

Nahwu, biasa dikenal oleh kalangan santri sebagai bagian ilmu alat, adalah ilmu yang sangat fundamental untuk dikuasai jika kita ingin mempelajari Islam dari literatur-literatur yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya, baik klasik maupun modern.

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman

Dikatakan sebagai alat karena kegunaan ilmu adalah sebagai perangkat membaca, memahami dan memaknai dari bahasa nativenya, bahasa Arab, ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya. Kalangan antropolog menyebutkan jika penguasaan bahasa asli adalah hal sangat penting dalam memperkuat kredibilitas sebuah hasil ilmu atau hasil riset. Mereka memasukkan masalah ini sebagai bagian dari the politics of nativeness. Dengan kata lain, ilmu Nahwu adalah was?’il menuju pengetahuan yang mendekati kepada kebenaran. Kenapa saya sebut sebagai “mendekati kebenaran,” karena kebenaran Nahwiyyah adalah kebenaran pengetahuan yang bersifat aturan kebahasaan, sementara masih ada jenis kebenaran lain yang didapatkan oleh ilmu atau cara lain juga.

Namun, jika kita beri peringkat, kebenaran yang dihasilkan oleh Nahwu adalah kebenaran yang sangat tinggi derajatnya karena dengan ilmu ini pemaknaan pertama atas sumber-sumber Islam –al-Qur’an dan Sunnah—bisa didapatkan. Meskipun sekolah-sekolah Islam juga mengajarkan

Kawit An Nur Slawi

Nahwu, namun ilmu ini diajarkan secara lebih mendalam di dalam lingkungan pesantren. Itupun masing-masing pesantren melakukannya secara berbeda-beda pula. Pesantren-pesantren tradisional (salaf) biasanya mengajarkan kitab-kitab Nahwu yang tingkatannya lebih rumit dan sulit dibandingkan dengan pesantren-pesantren modern (khalaf). Kitab-kitab nahwu yang diajarkan di pesantren tradisional misalnya mulai dari al-Jur?miyyah, Imri?, lalu Alfiyyah Ibn M?lik. Sementara pesantren modern biasanya mengajarkan kitab-kitab seperti Nahwu al-W?i?, J?mi?u al-Dur?s f? al-Lughat al-?Arabiyya, dan lain-lainnya.

Kawit An Nur Slawi

Dengan kata lain, referensi-referensi Nahwu yang diajarkan di pesantren salaf –biasanya dimiliki dan diasuh oleh kyai-kyai Nahdlatul Ulama-- biasanya adalah kitab-kitab lama (klasik), sementara pesantren khalaf lebih memilih kitab-kitab Nahwa baru, atau yang terkini.

Tapi baik belajar dengan kitab lama maupun baru sejatinya yang paling penting di sini adalah kemauan untuk belajar dan berusaha menguasai ilmu ini. Jika tidak menguasai seluruhnnya, sebagianlah yang perlu dikuasasi. Meskipun ilmu Nahwu sangat penting, banyak dari kalangan kita yang sudah mendedikasikan hidupnya menjadi santri, ustadz, pendakwah dan lain sebagainya, tidak memiliki pemahaman yang cukup akan ilmu ini.

Hal yang paling menyedihkan banyak pengajar Islam publik kita, di Mushalla dan TV-TV, yang awam dengan teori-teori Nahwu. Untuk berdakwah memang tidak diwajibkan untuk menguasai Nahwu, namun dalam dakwah diwajibkan untuk menyampaikan kebenaran meskipun pahit. Menyampaikan kebenaran dengan benar adalah jika sang penyampai mengerti alatnya. Perlu diingat di sini bahwa tidak semua orang yang bisa membaca aksara Arab seperti membaca al-Qur’an menguasai ilmu ini. Mampu dan tidaknya penguasaan ilmu Nahwu ini bisa dilihat dari bagaimana dia atau mereka mampu membaca dan memaknai kitab-kitab yang dalam bahasa keseharian kaum santri disebut kitab kuning.

***

Harus diakui bahwa ilmu Nahwu memang merupakan cabang yang susah selain ilmu-ilmu lain yang sejenis seperti ?araf, Balaghah, dan Mantiq. Untuk tahu ilmu ini, butuh kejelian, hafalan yang kuat, dan analisa yang mendalam. Masih ingat bahwa kita –saya dan teman-teman—di madrasah dulu sering menghindari dan berkeluh kesah tentang betapa sulitnya memahami apalagi menerapkan ilmu Nahwu untuk membaca kitab-kitab berbahasa Arab. Ada yang hafal di luar kepala teori-teori Nahwu, namun untuk menerapkan terkadang masih sulit. Bahkan ada yang bisa menghafal kitab Nahwu Alfiyah Ibn M?lik secara sungsang (dari belakang ke depan) namun tetap saja terkadang masih memiliki kesulitan untuk menggunakannya dalam membaca teks Arab terutama yang klasik.

Sebagaimana perlu diketahui bahwa menghafal sungsang adalah salah satu cara pamer kebolehan dalam mempelajari ilmu Nahwu. Namun, belajar Nahwu tidak cukup dengan menghafal, tapi harus memahami. Kalau boleh melakukan kritik, kelemahan pembelajaran Nahwu di pesantren adalah penitikberatannya pada model hafalan, bukan pemahaman. Meskipun tujuan pertama dalam penghafalan adalah untuk menuju pemahaman, namun seringkali karena terlalu banyak “load” menghafalnya sehingga aspek memahinya terkurangi bahkan terabaikan.

Hal ini terutama terjadi pada pesantren-pesantren yang sudah mengadopsi banyak mata pelajaran di dalam sistem kurikulum mereka. Namun kesulitan menguasai ilmu Nahwu tersebut sangat sepadan dengan fungsi dan manfaat ilmu ini sendiri dimana tanpa penguasaan atasnya hampir mustahil seseorang bisa memahami al-Qur’an, Sunnah dan sumber-sumber Islam secara keseluruhan dan mendalam. Penguasaan teori-teori rumit dalam kitab-kitab Nahwu yang diajarkan di pesantren tradisional memiliki garis sejajar dengan penguasaan masalah-masalah agama yang tercantum di dalam kitab Suci dan Sunnah Nabi serta peninggalan ulama-ulama masa lalu.

Kita tahu bahwa struktur gramatik bahasa Arab yang dipakai oleh al-Qur’an tidak akan cukup dibaca dengan kitab-kitab Nahwu yang simpel seperti al-Jur?miyyah ataupun Nahw al-W?i?. Penguasaan Nahwu juga menjadi parameter kadar keulamaan seseorang. Karenanya, jangankan ketahuan membaca kitab-kitab terjemahan, karena ini tindakan pemalas, seorang santri atau bahkan ustadz kredibilitasnya bisa runtuh gara-gara hanya salah membaca harakat (tanda baca) di akhir kata (i?rab) misalnya bagaimana misalnya membaca isim alam (nama-nama benda/alam) seperti kata Ibr?him atau isim taf?l (bentuk lebih atau paling) setelah huruf jer il? (huruf yang bisa menyebabkan bacaan kasrah pada Isim) dan kasus-kasus lain.

Hal seperti ini cukup bisa dipahami karena memang memahami al-Qur’an dan Sunnah Nabi harus dilakukan bukan dengan cara main-main (hawa nafsu), tanpa ilmu, namun harus secara ilmiah. Salah satu cara yang ilmiah itu adalah jika pemahaman akan sumber-sumber utama Islam tersebut didasarkan pada tradisi keilmuan (tur?th) yang mapan yang sudah dibangun secara panjang oleh kalangan ulama masa lalu.

***

Selain ilmu Nahwu, kedudukan ilmu lain juga penting dalam mengkaji Islam, namun jika seseorang ingin menjadikan atau mengaku dirinya sebagai ahli atau ?alim dalam Islam, mau tidak mau harus mau belajar, mengenal dan menguasai ilmu Nahwu supaya pemahamannya tidak separuh-separuh dan juga tidak sesat menyesatkan. Pemahaman teks-teks agama tanpa ilmu-ilmu yang memadai bisa menjerumuskan dirinya sendiri dan juga orang lain. Bahkan menafsirkan hal-hal penting dalam Islam seperti syariah, fiqih, akidah, dengan modal bahasa Arab yang pas-pasan atau apalagi modal terjemahan dan ilmu rungon (mendengarkan) bisa menyebabkan seseorang tersebut, meskipun itu ustadz atau pun pendakwah, jatuh pada sikap liberalisme (asal-asalan) pada satu sisi dan sikap fanatisme yang berlebihan pada sisi lainnya.

Hal yang menyedihkan, dalam konteks public sphere kita, adalah kenyataan dimana tidak hanya orang awam, namun ustadz, pendakwah, dan juga para aktivis Islam masa kini tidak tahu sama sekali apalagi memahami ilmu ini. Pengetahuan Islam mereka lebih banyak tergantung pada buku-buku terjemahan yang kualitas pengalihbahasaannya seringkali sangat rendah daripada pada sumber Islam yang asli yang berbahasa Arab. Fenomena yang lebih aneh lagi yang akhir-akhir ini menggejala adalah jika ada orang yang berusaha menjelaskan Qur’an atau wacana keagamaan Islam lainnya lewat pendekatan Nahwiyyah atau keilmuan lain yang memang sangat memungkinkan terciptanya tafsir-tafsir yang berbeda-beda, mereka atau aktivis-aktivis Islam yang masih awam tersebut sering menganggap penjelasan yang njelimet, rumit dan penuh perdebatan dari pelbagai analisis kebahasaan Nahwiyyah tersebut sebagai bentuk pemahamanan liberalisme Islam.

Padahal yang terjadi adalah mereka tidak mampu atau tidak memiliki alat untuk bisa sampai pada penjelasan-penjelasan Nahwiyyah tersebut. Gejala beragama cepet saji dan ingin simplenya saja ini sudah barang tentu sangat menyedihkan untuk masa depan pengembangan Islam sebagai ilmu. Islam itu bisa bertahan, jika agama ini tidak hanya ditopang oleh praktik keagamaan umatnya, namun juga oleh argumentasi yang rasional. Bahkan bisa dikatakan, tantangan Islam terbesar pada abad ini dan mendatang adalah kemampuan umatnya untuk menyediakan argument bahwa agama ini memang ?li? li kulli zam?n wa mak?n.

Berargumen dengan Nahwu adalah salah satu upaya untuk mempertahankan keislaman. Apa yang ingin saya tekan di sini adalah secara umum, fenomena pemahaman keagamaan yang instans dan simplistik tersebut itu terkait erat dengan krisis akan tingkat pengetahuan masyarakat Islam awam dan juga aktivis-aktivisnya secara khusus atas ilmu Nahwu pada satu sisi dan juga penurunan kualitas pewacanaan Islam di ruang publik secara umum pada sisi yang lainnya. Lihat saja bagaimana media kita yang cenderung simplistik dalam dalam menyajikan program agama dengan dalih apa saja misalnya “pemurnian.”

Padahal apa yang terjadi adalah mereka lebih senang mencari penceramah agama di TV-TV mereka yang berorientasi budaya cepat saji untuk memenuhi rasa dahaga atau lapar sementara yang menghinggapi kalangan sebagaian kalangan Muslim, terutama kalangan kota. Agama hanya dibicarakan pada sisi kepentingan peningkatan “piety,” tapi melupakan sisi keilmuan.

Hasil dari model pewacanaan keagamaan Islam yang demikian adalah keluaran masyarakat yang suka menyederhanakan dan memposisikan agama laksana obat gosok (panacea). Mereka ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahyu bahwa di dalam wacana agama ada juga ada perdebatan-perdebatan yang rumit dan sekaligus scientific yang perlu diketahui oleh masyarakat kebanyakan karena perdebatan inilah yang menjadi bagian penting dalam argumentasi agama.

Dengan mengetahui perdebatan-perdebatan Nahwiyyah, proses demokratisasi pemahaman agama juga akan terjadi di dalam masyarakat. Karenanya, apa yang bisa kita lakukan pada tradisi keagamaan Islam yang terlanju demikian seperti ini tidak ada kata lain kecuali melakukan perubahan. Intinya, jika ingin mendalam dalam penguasaan Islam, maka alatnya harus cukup dan ilmu Nahwu menduduki posisi utama dalam masalah ini. Salam.

SYAFIQ HASYIM, Rais Syuriah PCINU Jerman, Meraih Gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Santri, Ulama Kawit An Nur Slawi

Senin, 08 Desember 2014

Media Sosial dan Keadaban Publik

Oleh Wasid Mansyur?

Persoalan medsos ramai menjadi perbincangan publik di berbagai media massa. Hal ini disebabkan adanya fakta, betapa sulit membendung arus kabar bohong (hoax) atau ujaran kebencian yang hadir dalam ruang jejaring sosial dunia maya, baik melalui Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, dan sejumlah platform? lain.

Berbagai komunitas telah bergerak melakukan perlawanan agar medsos kembali ke habitatnya sebagai media yang bisa menghargai ruang sosial; setidaknya dengan melawan kabar hoax dan ujaran yang menyulut kebencian umat. Dari kerangka ini, tulisan dirancang sebagai ruang diskusi dan kontribusi untuk kesejukan bermedsos.

Media Sosial dan Keadaban Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Sosial dan Keadaban Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Sosial dan Keadaban Publik

Pastinya, kabar hoax dan ujaran kebencian melalui medsos banyak merugikan pihak lain. Bahkan, dalam ruang sosial nyata kabar model ini telah menyebabkan ketegangan sosial, untuk tidak mengatakan berujung konflik. Ada kesan, fenomena ini tidak ada kaitannya dengan nilai-nilai Islam yang secara teologis-etik mengajak umatnya untuk terus konsisten menjaga keramahan sosial, dimanapun dan kapanpun.

Kesan ini cukup beralasan sebab tidak sedikit orang mudah meniru (copy-paste) kabar dari pengujar pertama atau kedua, tanpa menggunakan daya kritisnya untuk menanyakan makna dan manfaat-mudharat bagi pihak lain. Akibatnya, kabar disebar kembali hingga menyebar luas dalam ruang publik baru (public new) medsos, meminjam istilah Widodo.?

Kawit An Nur Slawi

Sebagai bangsa religius sebagaimana tergambarkan dalam sila pertama Pancasila, melihat fenomena ini cukup meresahkan batin sebab menggambarkan kualitas individu kita sebagai penganut agama. Betapapun Islam, secara khusus, mendidik penganutnya untuk terus membumikan keimanan secara holistik bukan parsial, yakni keimanan yang tidak hanya berhubungan dengan ketuhanan, tapi sekaligus menyentuh pada hubungan peneguhan kebajikan (amal shaleh).

Dengan begitu, maka maraknya kabar hoax dan ujaran kebencian dalam ruang baru medsos harus didasari kepandaian lebih dari penggunanya. Maksudnya, pandai menggunakan fasilitas aplikasi smartphone yang setiap saat berkembang memanjakan penggunanya di satu sisi dan pandai memanfaatkannya untuk menjaga keramahan sosial di dunia maya di sisi yang berbeda. Tanpa, bertindak pandai, maka kerumuhan dalam ranah medsos akan lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya.

Keadaban publik?

Makna terpenting dari perlunya keadaban publik adalah terwujudnya tatanan sosial berkehidupan yang dibangun dalam bingkai saling menghargai, menghormati serta menjaga hak orang lain dengan tidak mudah menyakiti. Oleh karenanya, kebutuhan medsos sebagai ruang sosial baru terhadap nilai-nilai keadaban publik menjadi keniscayaan. Bukan untuk apa-apa, tapi agar pengguna dan penikmat medsos menghargai ruang publik. Termasuk pengguna itu adalah pemerintah agar juga meng-share kebijakannya dalam ranah medsos dengan penuh pertimbangan manfaatnya bukan kemudharatannya.

Ada dua nilai teologis-etik yang layak diamalkan bagi penggguna medsos agar tidak terjebak pada penyebaran atau menyebarkan hoax dan ujaran kebencian. Pertama, perlunya mengembangkan tradisi klarifikasi (tabayyun) dalam menerima kabar, QS. Al-Hujurat ayat 6. Etika ini penting digunakan dalam rangka menanyakan kembali kabar yang diterima, baik dalam bentuk teks atau gambar yang telah dipermak dengan tulisan (meme). Bisa dilakukan kepada pengirimnya atau bisa langsung kepada individu yang merasa dirugikan dari kabar tersebut.?

Kawit An Nur Slawi

Klarifikasi dilakukan agar kita tidak mudah ikut menyebarkan, sebelum mengetahui betul kebenaran dan manfaat kabar yang dimaksud. Praksisnya, penegasan kabar ini bertujuan agar kita tidak mudah turut melakukan dosa sosial, apalagi orang yang dirugikan dengan kabar itu belum tentu mengenal kita. Betapapun dosa sosial dalam Islam diyakini sebagai salah satu penghambat utama kesalehan sejati kita beragama, bila kita tidak dengan tegas meminta maaf kepada yang dirugikan kabar hoax dan ujaran kebencian.?

Kedua, medsos harus mengutamakan pesan kejujuran. Pesan kejujuran sebagai etika kenabian ini berlaku bagi siapapun, dari individu, kelompok swasta hingga pemerintah. Kenapa medsos harus jujur? Sebab kebohongan medsos menjadi perusak tata nilai dan cara pandang bersosial. Sulit membedakan mana hak dan batil, padahal kabar memiliki efek positif dan negatif, sekalipun pengujarnya berdalih iseng.

Kejujuran bermedsos juga bisa dilakukan dengan menampilkan pemahaman keagamaan yang beragam dan kritis, tidak satu pendapat yang kaku. Kejujuran model ini diharapkan dapat memahamkan perbedaan sebagai sebuah kenyataan bukan malah menjadi lahan bagi pembibitan radikalisme dan terorisme sebab kurang jujurnya dalam mewartakan pesan agama di satu sisi, khususnya tentang memaknai Jihad, dan di sisi yang berbeda tidak jujur pada dirinya yang tinggal di negeri penuh ragam; suku, agama, dan etnis.

Akhirnya, upaya yang dilakukan pemerintah dan beberapa aktivis di negeri ini untuk melawan hoax dan ujaran kebencian harus didukung bersama. Sekalipun lebih dari itu, gerakan ini harus tetap kritis dalam semangat keadaban berdemokrasi yang menghargai kebebasan berbicara yang bertanggung-jawab, pastinya. Jangan dibuat media untuk menakut-nakuti, apalagi menumpulkan daya kritis pengguna dan penikmat medsos.

Penulis adalah Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya, Pengurus Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hadits, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 06 Desember 2014

Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat Lajnah Falakiyah

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Sekitar 30 peserta dari Jakarta dan sekitarnya mengikuti pembukaan Pelatihan Hisab dan Rukyat yang diselenggarakan oleh Lajnah Falakiyah PBNU di masjid An-Nahdliyah lantai dasar kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Rabu (3/4) malam.

Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat Lajnah Falakiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat Lajnah Falakiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat Lajnah Falakiyah

Pembukaan dan materi pertama disampaikan langsung oleh KH Ahmad Izzuddin, Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kemenag RI yang juga pengurus Lajnah Falakiyah PBNU, bersama Ismail Fahmi dari Subdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat, dan staf Lajnah Falakiyah PBNU, Maftuhin.

“Saya merasa senang. Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, masih ada yang mau belajar ilmu falak. Ini merupakan ilmu yang langka, makanya saya ini juga disebut mahluk langka,” katanya bergurau.

Kawit An Nur Slawi

Selain memberikan pengantar, Izzuddin memberikan semangat kepada para peserta untuk rutin mengikuti pelatihan yang bertajuk “Pelatihan Hisab Rukyat Al-Khawarizmi Lajnah Falakiyah PBNU”.

Katanya, materi hisab-rukyat yang akan disampaikan hingga setahun ke depan sudah dalam bentuk yang praktis dan mudah sehingga dijamin para peserta akan bisa mengikuti setiap sesi materi dan praktik dengan baik.

Kawit An Nur Slawi

Rencananya pelatihan akan digelar satu bulan sekali di tempat yang sama. Namun tidak menutup kemungkinan Lajnah Falakiyah juga akan menyelenggarakan pelatihan dalam bentuk paket di luar Jakarta.

Busyairi, peserta dari Banten dalam sesi dialog meminta tim pelatih Lajnah Falakiyah PBNU untuk bisa memberikan pelatihan hisab-rukyat di Banten.

Pelatihan perdana ini berlangsung akrab. Izzuddin sendiri juga menyelingi materi dengan canda tawa. Seorang peserta juga sempat menanyakan kaitan antara ilmu falak dengan astrologi atau ramalan dan dijawab dengan sangat meyakinkan.

Pelatihan dilanjutkan dengan petunjuk teknis seperti cara penggunaan kalkulator saintifik dengan beberapa tipe yang akan digunakan selama pelatihan. Tim pelatih juga dalam kesempatan itu menyiapkan beberapa alat pendukung dari yang klasik hingga modern.

Penulis: Mahbib Khoiron

?

Foto: peserta antusias memperagakan Mizwala Qiblat Finder, perangkat untuk menentukan arah kiblat



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Warta, IMNU Kawit An Nur Slawi

Jumat, 14 November 2014

PCNU Kabupaten Bogor Siap Gelar Madrasah Kader Penggerak NU

Bogor, Kawit An Nur Slawi



PCNU Kabupaten Bogor akan menggelar Madrasah Kader Penggerak Nahdlatul Ulama di Wisma DPR RI Cisarua Bogor Jawa Barat. Menurut Ketua Panitia Lukmanul Hakim hal itu ? sebagai ikhtiar menjaring kader muda NU untuk dilatih ke NU an dalam menghadapi tantangan zaman ke depan.

PCNU Kabupaten Bogor Siap Gelar Madrasah Kader Penggerak NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kabupaten Bogor Siap Gelar Madrasah Kader Penggerak NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kabupaten Bogor Siap Gelar Madrasah Kader Penggerak NU

Meskipun waktu pelaksanaan menunggu jadwal dari PBNU, kata dia kepada Kawit An Nur Slawi pada Rabu (15/3), tetapi proses pendaftaran dan seleksi telah dimulai.

Ketua Lazisnu Kabupaten Bogor itu menambahkan, kegiatan tersebut dikhususkan bagi kader muda yang berusia 25-45 tahun dan serius serta harus menghasilkan kader NU yang handal dalam menyebarkan dakwah Islam Ahlusuunah wal-Jamaah.

“Kegiatan ini di khususkan bagi kader muda yang berusia 25-45 tahun dan harus menghasilkan kader NU yang handal dalam berdakwah,” imbuhnya.

Kawit An Nur Slawi

Lebih Lanjut ia mengajak kepada kader terbaik Nahdlatul Ulama Kabupaten Bogor melalui pengurus, PCNU, Banom, Lembaga, MWCNU dan Ranting untuk mendaftarkan diri kepada Panitia.?

Adapun pendaftaran dibuka 5 sampai 24 Maret 2017. Seleksi tahap awal pada 25 Maret di Gedung Dakwah PCNU Kabupaten Bogor Jl. Bina Citra No. 5 Cipayung Kelurahan Tengah, Kecamatan Cibinong.

Kawit An Nur Slawi

“Kami mengundang kepada kader terbaik NU untuk ikut dalam kegiatan ini melalui Struktur yang ada di NU,” pungkasnya. (Dhamiry Al-Ghazali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi IMNU, Berita Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 25 Oktober 2014

Gerakan 5 Jari untuk Pelajar Lebih Baik

Rembang, Kawit An Nur Slawi. Ratusan pelajar NU di Desa Kumbo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah mengadakan karnaval peringatan HUT RI ke-71.

Namun berbeda halnya dengan karnaval di tempat lain, para kader muda NU ini membentangkan banner dan poster ajakan untuk melakukan gerakan 5 jari agar santri dan pelajar Indonesia lebih baik.

Gerakan 5 Jari untuk Pelajar Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan 5 Jari untuk Pelajar Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan 5 Jari untuk Pelajar Lebih Baik

Wakil Ketua PC IPNU Kabupaten Rembang Aan Ainun Najib mengatakan, upaya ini dilandasi atas keresahan para pelajar NU melihat kondisi dunia pendidikan di Indonesia saat ini.

"Baru saja kita dihebohkan dengan pengeroyokan guru yang dilakukan orang tua dan siswa. Ini menjadi keprihatinan bagi kami pelajar NU yang peduli terhadap masa depan dunia pendidikan di Indonesia," terangnya saat mengikuti karnaval, Senin (22/8) pagi.

Gerakan 5 jari santri dan pelajar Indonesia ini berisikan lima point ajakan agar santri dan pelajar Indonesia dapat santun dalam bertindak. Kelima point yang disampaikan adalah, ajakan menolak radikalisme, menolak kekerasan pada guru, menolak narkotika, menolak aliran sesat, dan terakhir ajakan menjaga ekosistem alam.

Kawit An Nur Slawi

"Menurut kami, kelima point penting yang kami sampaikan ini akan mewakili betapa santun dan berbudinya para pelajar Indonesia apabila mau melakukannya," tegasnya.

Pihaknya juga berupaya menghimpun kekuatan dalam sosialisasi gerakan 5 jari santri dan pelajar Indonesia lebih baik dalam media sosial. Dengan hashtag #gerakan5jari yang nantinya bakal diisi oleh para pengguna media sosial yang peduli terhadap dunia pendidikan di Indonesia dengan berfoto sambil menunjukkan telapak tangan dengan diberi keterangan kata-kata santun dan motivasi bagi pelajar Indonesia.

"Saya harap dengan langkah kecil ini akan lebih memotivasi para generasi muda khususnya santri dan pelajar untuk santun dalam belajar, hormat kepada guru, selalu menjaga ekosistem alam, dan tentunya menerapkan rasa cinta terhadap tanah air," tutup Aan. (AA Najib/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi PonPes, Ulama Kawit An Nur Slawi

Minggu, 12 Oktober 2014

Alumni Santri Pesantren Nahdlatul Muta’alimin Safari Maulid Nabi

Probolinggo, Kawit An Nur Slawi

Sebagai upaya mempererat tali silaturahim sekaligus memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, alumni santri Pondok Pesantren Nahdlatul Muta’alimin Desa Kropak Kecamatan Bantaran Kabupaten Probolinggo melakukan Safari Maulid Nabi sekaligus Safari Santri di Desa Resongo Kecamatan Kuripan, Rabu (14/12).

Kegiatan yang melibatkan seluruh santri dan alumni Pondok Pesantren Nahdlatul Muta’allimin ini dilakukan secara bergantian. “Selain itu menjalin silaturahim antara santri dan alumni, kegiatan ini bertujuan sebagai media dakwah di tengah masyarakat,” kata Sekretaris Pondok Pesantren Nahdlatul Muta’allimin Indra Subiantoro.

Alumni Santri Pesantren Nahdlatul Muta’alimin Safari Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Santri Pesantren Nahdlatul Muta’alimin Safari Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Santri Pesantren Nahdlatul Muta’alimin Safari Maulid Nabi

Menurut pengurus Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Provinsi Jawa Timur ini, kegiatan ini bertujuan untuk menjalin keakraban antara alumni, santri dan pondok pesantren agar tidak sampai putus. Disamping juga dakwah untuk pondok pesantren sekitarnya.

Kawit An Nur Slawi

“Melalui kegiatan ini kami berharap agar bisa menjalin komunikasi dan keakraban antara alumni, santri dan pondok pesantren tidak putus di tengah jalan. Sebab biasanya antara alumni dan santri ini jarang bertemu. Inilah bentuk kebersamaan yang terlihat diantara keluarga besar Pondok Pesantren Nahdlatul Muta’allimin,” jelasnya.

Kawit An Nur Slawi

Indra Subiantoro menegaskan bahwa selama ini pondok pesantren yang diasuh oleh KH Abdul Ghoni Badlowi selalu berupaya agar setelah santri lulus bisa tetap berkomunikasi. “Jadi selain untuk meneladani sifat dan perilaku Nabi Muhammad SAW, kegiatan ini juga untuk memantapkan bahwa santri itu kuat kalau bersatu,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nasional, Internasional, Meme Islam Kawit An Nur Slawi

Jumat, 03 Oktober 2014

Dukung KTT Luar Biasa OKI

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. KTT Luar Biasa OKI ke-5 ini merupakan KTT pertama yang mengangkat secara khusus isu Palestina dan Al-Quds Al-Syarif. KTT akan dihadiri oleh 57 negara anggota OKI dan 4 negara pengamat (observer) OKI.

KTT ini dirancang untuk menghasilkan resolusi yang akan memuat pernyataan politik negara anggota OKI serta mencanangkan Jakarta Declaration yang memuat sejumlah rencana aksi penyelesaian isu Palestina dan Al-Quds Al-Syarif.? Kedua dokumen penting tersebut disiapkan oleh Indonesia selaku negara tuan rumah dan Palestina.

?

Dukung KTT Luar Biasa OKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Dukung KTT Luar Biasa OKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Dukung KTT Luar Biasa OKI

Penyelenggaraan KTT ini menunjukkan konsistensi Pemerintah Indonesia berada pada garda terdepan dalam mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina. Selain itu menjadi elemen penting dalam pelaksanaan politik luar negeri Indonesia. Dukungan tersebut sejalan dengan amanat UUD 1945 yang menempatkan kemerdekaan sebagai hak segala bangsa dan agar Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia.

KTT Luar Biasa OKI 2016 merupakan terobosan untuk mengaktifkan kembali proses perdamaian di Timur Tengah yang selama ini tertunda dan berlarut-larut. Selain dalam bentuk political support atau political statement, namun diharapkan melalui KTT itu dihasilkan satu deklarasi yang isinya adalah action oriented sehingga nanti akan dapat ditindaklanjuti dengan aksi nyata dalam Deklarasi Jakarta (Jakarta Declaration).

Kawit An Nur Slawi

Dukungan Warga

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki peran besar dalam menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial sesuai dengan amanat Konstitusi.

Kawit An Nur Slawi

Indonesia telah sukses menyelenggarakan KTT Asia Afrika pada tahun 2015 lalu. Tentu penyelenggaraan KTT Luar Biasa OKI ini akan menjadi peluang untuk membuktikan peran Indonesia. Semua elemen pemerintah daerah terutama DKI Jakarta, jajaran pemerintah pusat, serta masyarakat dapat mendukung KTT OKI.

Penyelenggaraan KTT Luar Biasa OKI ini akan menjadi peluang untuk membuktikan peran Indonesia. Semua elemen pemerintah daerah terutama DKI Jakarta, jajaran pemerintah pusat, serta masyarakat dapat mendukung KTT OKI. Sebagai tuan rumah yang baik, Indonesia harus memberikan pelayanan yang baik terhadap seluruh delegasi dan peserta KTT Luar Biasa OKI 2016.?

Salah satu kontribusi yang dapat diberikan adalah ikut serta menjadi bagian dari upaya menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang aman, warganya ramah sehingga menarik untuk dikunjungi dan dikenal sebagai warga yang cinta perdamaian.

*Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Internasional, Pendidikan, Warta Kawit An Nur Slawi

Rabu, 24 September 2014

PCNU Pringsewu Luncurkan Agenda Hari Santri 2017

Pringsewu, Kawit An Nur Slawi



PCNU Kabupaten Pringsewu meluncurkan agenda Hari Santri Nasional (HSN) 2017 di aula gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (8/10). Peluncurakan dihadiri Bupati Sujadi dan disaksikan pengurus dan warga NU.

Bupati berharap, seluruh warga NU dapat mewarisi perjuangan para ulama yang telah menjadi inisiator pergerakan perjuangan dengan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

PCNU Pringsewu Luncurkan Agenda Hari Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pringsewu Luncurkan Agenda Hari Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pringsewu Luncurkan Agenda Hari Santri 2017

"Kita harus mampu mewarisi semangat KH Hasyim Asyari melalui Resolusi Jihadnya yang merupakan embrio perjuangan 10 November di Surabaya," ajaknya. 

Alumnus Pondok Pesantren Kalibeber Jawa Tengah ini mengingatkan kepada para santri untuk mewarisi semangat perjuangan para ulama, khususnya di Kabupaten Pringsewu yang pada tahun ini akan diziarahi bersama pada saat Kirab Hari Santri.

Kawit An Nur Slawi

Tahun ini, panitia telah menetapkan kirab akan dilaksanakan dari Pendopo Pringsewu menuju makam ulama kharismatik Kabupaten Pringsewu yaitu KH Abdullah Sayuti yang berjarak lebih kurang 5 km.

Ketua Panitia Pelaksana HSN Kabupaten Pringsewu H. Munawir mengatakan bahwa dalam ziarah tersebut nantinya akan diisi dengan istighotsah dan penjelasan riwayat perjuangan KH Abdullah Sayuti semasa hidupnya sampai mampu mendirikan Pondok Pesantren Nurul Huda di Pringsewu.

"Semoga kirab dan ziarah ini mampu membangkitkan kesemangatan para santri untuk terus mengabdi dengan ikhlas seperti yang sudah dicontohkan oleh Mbah Kiai Sayuti," harapnya.

Kawit An Nur Slawi

Lebih lanjut, pria yang akrab dipanggil Gus Nawir ini menjelaskan, agenda kegiatan HSN yang sudah ditetapkan di antaranya Semaan Quran, Perlombaan Islami, Seminar, Perkemahan, Bazar, Bakti Sosial, pembacaan Shalawat Nariyah dan Upacara HSN.

Ia mengajak kepada seluruh masyarakat Kabupaten Pringsewu, khususnya keluarga besar NU Pringsewu untuk dapat menyukseskan rangkaian agenda tersebut.

Pada saat peluncuran, peserta diajak menerikkkan yel-yel NU dan menyanyikan Ya Lal Wathan. Acara ditutup dengan doa KH Hambali yang merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Halaqoh Kawit An Nur Slawi

Selasa, 02 September 2014

Ansor Surabaya Kumandangkan Jihad Lawan Narkoba

Surabaya, Kawit An Nur Slawi. Guna mengantisipasi dan mencegah bahaya narkoba serta dalam rangka mewujudkan lingkungan yang bersih dari peredaran gelap narkoba di Kota Surabaya, GP Ansor Surabaya yang diwakili oleh pengurus Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) melakukan audensi dengan Satuan Reserse Narkoba (Sat Reskoba) Polrestabes Surabaya, Senin (4/9) siang.

Silaturahmi yang dikomandoi oleh Kepala Baanar Khoirul Roziqin digelar di Malporestabes Surabaya dan diterima oleh Kasat Reskoba AKBP Roni Faisal beserta jajarannya. 

Ansor Surabaya Kumandangkan Jihad Lawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Surabaya Kumandangkan Jihad Lawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Surabaya Kumandangkan Jihad Lawan Narkoba

Dalam kesempatan tersebut, AKBP Roni berterima kasih atas kunjungan sahabat-sahabat GP Ansor Surabaya. "Ini menjadi awal yang baik untuk saling berkerja sama dalam melakukan pencegahan dan sosialisasi terhadap bahaya narkoba ke seluruh lapisan masyarakat," katanya.

Pria asli Surabaya ini melanjutkan, dengan jaringan yang meliputi tingkat kecamatan hingga kelurahan dan juga komunitas pesantren, Ansor Surabaya memiliki peran strategis dalam melakukan upaya pencegahan terhadap bahaya narkoba. 

Kawit An Nur Slawi

"Lebih baik kita memaksimalkan sosialisasi dan pencegahan daripada penindakan. Menggandeng komunitas-komunitas pesantren untuk bekerjasama dalam sosialisasi pencegahan bahaya narkoba. Jihad melawan Narkoba perlu dikumandangkan oleh kita bersama," tegasnya. 

Sementara itu, Kepala Baanar Khoirul Rozikin mengatakan, GP Ansor siap menjadi mitra Polrestabes Surabaya dalam upaya pencegahan bahaya narkoba. 

"Generasi muda adalah aset bangsa yang akan meneruskan estafet kepemimpinan di masa depan. Tapi hari ini, sangat rentan terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba. Ini menjadi tantangan kita," tandasnya. (Red: Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi News, Internasional, Kajian Islam Kawit An Nur Slawi

Minggu, 24 Agustus 2014

Turnamen Voli GP Ansor Mayong untuk Pererat Pemuda Antarkampung

Jepara, Kawit An Nur Slawi?

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor kecamatan Mayong, Jepara menyelenggarakan Turnamen Bola Voli antar-Ranting se-kecamatan Mayong yang berlangsung di lapangan desa Mayong Lor, Ahad-Rabu (09-12/04).?

Turnamen Voli GP Ansor Mayong untuk Pererat Pemuda Antarkampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Turnamen Voli GP Ansor Mayong untuk Pererat Pemuda Antarkampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Turnamen Voli GP Ansor Mayong untuk Pererat Pemuda Antarkampung

Turnamen itu diikuti10 tim yang berasal dari club kampung yang mewakili ranting masing-masing. Thoha Mansur, ketua panitia, mengatakan, kegiatan turnamen termasuk program kerja bidang seni dan olahraga. ? “Tujuan kegiatan ini untuk memperat persaudaraan antarpemuda se-kecamatan Mayong juga dalam Harlah NU ke-94 dan GP Ansor ke-83,” kata Thoha.?

Dalam kegiatan yang memperebutkan juara 1, 2, 3 dan harapan 1 itu secara resmi dibuka ketua MWCNU Mayong, K. Mughis Nailufar. Usai pembukaan Ahad – Senin (09-10/04) adalah babak penyisihan, Selasa (11/04) babak perempat final dan Rabu (12/04) babak final.?

“Untuk uang pembinaan juara I 1.250.000, juara II 750.000, juara III 500.000 dan harapan I 250.000. Beserta diberikan piala dan piagam di masing-masing juara,” tambahnya.?

Ketua PAC GP Ansor Mayong, Ahmad Kholas Syihab menambahkan, turnamen itu memperoleh antusiasme yang luar biasa dari masyarakat luas. “Dalam setiap pertandingan kami menyiapkan sekitar 250 tiket masuk dengan harga Rp.3000. Alhamdulillah habis di setiap partai pertandingan,” sebut Syihab, bangga.

Kawit An Nur Slawi

Sarjana Psikologi Unissula Semarang itu berharap kegiatan bisa menyatukan pemuda desa se-kecamatan Mayong. “Kedepan bisa berprestasi lewat bidang olahraga,” harapnya lagi.?

Ketua MWCNU Mayong, K. Mughis Nailufar mengapresiasi kegiatan turnamen tersebut. Karena menurutnya Ansor mengisi kegiatan pemuda dengan hal yang positif. “Ansor kedepan bisa ngaji ya juga bisa voli, kan cakep,” seloroh kiai muda ini. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Doa, Pertandingan Kawit An Nur Slawi

Rabu, 20 Agustus 2014

Fatayat NU Bojonegoro Bertekad Berdayakan Perempuan

Bojonegoro, Kawit An Nur Slawi. Ketua Pimpinan Cabang Fatayat NU Bojonegoro Jawa Timur Ifa Khoiria Ningrum bertekad memberdayakan perempuan di semua sektor. Fatayat akan memperjuangkan hak-hak dasar perempuan, termasuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lainnya.

Fatayat NU Bojonegoro Bertekad Berdayakan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Bojonegoro Bertekad Berdayakan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Bojonegoro Bertekad Berdayakan Perempuan

"Sehingga perempuan harus menjadi berdaya," katanya pada pelantikan pengurus Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Bojonegoro di hotel Aston pada Ahad (11/1).

Menurutnya, Badan otonom (Banom) perempuan muda NU itu harus berdaya dan mampu mengakses sumber daya strategis, baik kesejahteraan pendidikan, kesehatan dan yang lain. Perempuan kemudin bisa berguna dimana saja dan menjadi apa saja.

Kawit An Nur Slawi

Kata dia, tugas perempuan selain menjadi istri, juga kewajiban fungsi kodrati yang melahirkan generasi-generasi dan kholifah di bumi. "Karena seorang perempuan mempunyai tugas penting, sehingga harus berdaya," terangnya.

Kawit An Nur Slawi

Ditambahkan, melalui Fatayat ini dengan mengikuti organisasi, keluarga bisa senang dan bangga karena mempunyai keterampilan yang belum tentu dimiliki perempuan lainnya.

Prosesi pelantikan, dipimpin langsung ketua Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU Jawa Timur Hikmah Bafaqih. Selain dihadiri pengurus ranting dan PAC Fatayat sekabupaten Bojonegoro, juga dihadiri pengurus PCNU Bojonegoro maupun banomnya. Serta forum pimpinan daerah (forpimda) nampak dalam pelantikan tersebut.

Setelah pelantikan yang bertema Menjadi wanita hebat, Fatayat NU berprestasi dan menjadi inspirasi dilanjutkan dengan seminar islamic parenting yang disampaikan seorang psikolog lulusan Universitas Gajah Mada (UGM), Hartatik.(M. Yazid/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Ahlussunnah, Amalan Kawit An Nur Slawi

Senin, 14 Juli 2014

Nikmatnya Segelas Kopi Usai Shalat Tarawih

Solo, Kawit An Nur Slawi. Menikmati suasana Ramadhan di Kota Solo memberikan pengalaman yang berbeda dengan kota maupun daerah lainnya. Meski kota ini bukan termasuk "kota santri", namun di beberapa sudut kota masih dapat kita jumpai beberapa aktivitas serta tradisi keagamaan yang diadakan selama bulan puasa.

Di beberapa titik kota, seperti daerah Mangkuyudan, Kauman, Jayengan, Pasar Kliwon dan lainnya dapat kita temukan beberapa kekhasan seperti tradisi pembuatan bubur samin, malem selikuran, grebeg poso, dan lain sebagainya.

Pada momentum malam pertama Ramadlan di Kota Bengawan, Redaktur Kawit An Nur Slawi memilih tujuan awal di daerah Pasar Kliwon, tepatnya di Masjid Jami’ As-Segaf untuk melaksanakan shalat isya dan tarawih.

Nikmatnya Segelas Kopi Usai Shalat Tarawih (Sumber Gambar : Nu Online)
Nikmatnya Segelas Kopi Usai Shalat Tarawih (Sumber Gambar : Nu Online)

Nikmatnya Segelas Kopi Usai Shalat Tarawih

Salah satu jamaah yang kami temui, Danang Pramudya, warga Sangkrah Pasar Kliwon, mengaku memilih shalat di Masjid As-Segaf, disamping rakaat tarawihnya berjumlah 20, juga waktu pelaksanaannya yang cukup longgar.

“Jadi setelah selesai berbuka dan habis shalat maghrib, tidak langsung terburu-buru pergi ke masjid untuk shalat tarawih,” ungkap dia

Sekitar pukul 19.00 WIB, adzan berkumandang dari menara Masjid As-Segaf. Jamaah pun mulai berdatangan. Namun, waktu pelaksanaan Shalat Isya baru dimulai sejam setelahnya atau sekitar pukul 20.00 WIB. Sembari menunggu waktu iqamah, dibaca ratibul haddad secara berjamaah.

Kawit An Nur Slawi

Lanjut Ngopi.

Kawit An Nur Slawi

Waktu tepat menunjukkan pukul 20.00. Iqamah pun dikumandangkan. Ruangan masjid hingga lantai dua penuh sesak dengan jamaah. Shalat Isya berakhir dengan pembacaan wirid dan doa.

Sang bilal kemudian megumandangkan seruan: Shollu sunnata at-tarawih....! para jamaah bergegas berdiri untuk mengikuti shalat tarawih yang dipimpin Habib Jamal bin Abdul Qadir As-Segaf.

Setelah seluruh rangkaian shalat tarawih dan witir dilaksanakan, masih dalam keadaan duduk di tempat para jamaah disuguhi segelas kopi rempah, dan kurma dengan diiringi alunan qasidah.

Kebetulan pada malam itu, qasidah dilantunkan oleh Habib Syech dengan penuh haru dan kegembiraan : Marhaban Ya Ramadhan/ Marhaban Syahrus Shiyam/ Marhaban Ya Ramadhan / Marhaban Syahrul Qiyam//? Marhaban Ya Ramadhan/ Marhaban Syahrul Qur’an/ Marhaban Ya Ramadhan / Marhaban Syahrul Ghufran//.





(Ajie Najmuddin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian, Anti Hoax, Kajian Sunnah Kawit An Nur Slawi

Minggu, 29 Juni 2014

PMII Komisariat Untan Sosialisasi ke BPUN di Kalbar

Kubu Raya, Kawit An Nur Slawi. Menghadapi SBMPTN, dan SMPTN, sejumlah pelajar dari kalangan NU diberikan fasilitas berupa bimbingan selama satu bulan, yakni dari bulan Mei sampai dengan bulan Juni. Fasilitas Pengajaran ini bernama Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) kerjasama antara Ansor dan Mata Air. Di Kalbar Sendiri ada dua tempat BPUN, diantaranya kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya.?

PMII Komisariat Untan Sosialisasi ke BPUN di Kalbar (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Komisariat Untan Sosialisasi ke BPUN di Kalbar (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Komisariat Untan Sosialisasi ke BPUN di Kalbar

Pada Kamis (21/05), kali kedua PMII Komisariat Untan melakukan sosialisasi di BPUN tepatnya di BPUN Kabupaten Kubu Raya, Musholla LKSA Darul Falah. setelah sebelumnya melakukan sosialisasi di BPUN Kota Pontianak.

Sosialisasi dikemas dengan santai, dipandu oleh Moderator yang bernama Abdul Wesi, dan selanjutnya materi disampaikan oleh Khairul Mulyadi selaku Ketua Komisariat PMII Untan.?

Kawit An Nur Slawi

Pada pembukaan penyampaian moderator, peserta yang akan masuk ke dunia kampus diingatkan untuk menyiapkan mental dan semangatnya. Karena mereka akan menghadapi dinamika mahasiswa yang memiliki banyak sekali ideologi dan pemikiran berbeda-beda.?

Kawit An Nur Slawi

Khairul Mulyadi menyampakan “Ketika lulus, kuliahlah kalian dengan penuh semangat, tetapi jangan hanya sekedar kuliah pulang, kuliah pulang. karena budaya seperti itu tidak akan bisa melatih mental kalian untuk bersosial,” Kharul Mulyadi yang juga alumni BPUN menambahkan ?

“Berorganisasilah kalian, karena di Untan banyak sekali organisasi-organisasi, baik dari intra kampus dan ekstra kampus,”

Ustad Abdul Aziz Selaku Koordinator BPUN Kab Kubu Raya merasa sangat senang dengan hadirnya PMII ke tempat bimbingan yang sedang ia bina itu. Ia menyampaikan, “PMII memang wadah yang tepat untuk calon-calon mahasiswa ini ketika akan terjun ke dunia kampus, selain tergolong keluarga besar Aswaja, Alumni BPUN juga banyak yang ikut berperan aktif untuk PMII dan begitupun sebaliknya.” red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Sunnah, Nahdlatul Kawit An Nur Slawi

Kamis, 26 Juni 2014

Lama Vakum, PMII Sambas Gelar Pelatihan Kader Dasar

Sambas, Kawit An Nur Slawi. Sekitar 40 mahasiswa Institut Agama Islam (IAI) Sambas, Kalimantan Barat mengikuti Pelatihan Kader Dasar (PKD) yang berlangsung di Gedung Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Sambas, Jumat sore (5/12)

Lama Vakum, PMII Sambas Gelar Pelatihan Kader Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Lama Vakum, PMII Sambas Gelar Pelatihan Kader Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Lama Vakum, PMII Sambas Gelar Pelatihan Kader Dasar

Ketua Panitia PKD (Pelatihan Kader Dasar), Juliardi melaporkan PKD ini merupakan pelatihan perdana setelah sekian lama PMII di Kabupaten Sambas vakum.

Kegiatan ini, lanjut Juliardi, terlaksana atas dasar dukungan dari semua pihak. "Kami segenap panitia mengucapkan terima kasih atas semua upaya dukungan yang dilakukan baik berupa materil maupun moril," ucapnya.

Kawit An Nur Slawi

Ketua Komisariat IAI Sambas, Uray Very Sabana mengatakan peran mahasiswa sekarang cenderung pragmatis. Mahasiswa lebih memilih apatis pada persoalan sosial hingga memuncak menjadi hedonis. Dia mengajak agar mahasiswa kembali pada jalurnya sebagai salah satu agen kontrol sosial.

Kawit An Nur Slawi

Uray menambahkan, bahwa pelatihan ini adalah langkah awal bagi kader untuk mengasah kreativitas dan social responsibility.

"Jika kita memaknai hari ini sebagai hari yang biasa, maka kita keluar sebagai orang yang biasa-biasa saja. Akan tetapi, jika kita memaknai hari ini sebagai hari yang luar biasa, maka kita akan keluar menjadi orang yang luar biasa pula," tegas Uray mengutip ungkapan salah satu mantan Ketua Umum PB PMII, Muhammad Rodli Kaelani.

Pengurus Besar PMII, Ainur Hamidi menyambut baik pelaksanaan PKD di Kabupaten Sambas. Menurutnya, para sahabat panitia pelaksana merupakan para pelopor.

"Mereka sebagai orang-orang yang merevitalisasi kaum gerakan di Bumi Serambi Mekkah (julukan Sambas), kendati dulu Cabang Sambas pernah terbentuk," jelasnya.

Kegiatan yang rencananya diselenggarakan mulai dari 5-7 Desember 2014 ini dibuka langsung oleh Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Kalbar, Ali Fauzi.

Ali dalam sambutannya menyampaikan, telah terbentuk 220 Cabang dan 24 PKC yang tersebar di seluruh penjuru negeri ini. Dengan sekian banyak cabang, lanjutnya, peran para kader pada bangsa ini pun banyak ditorehkan.

Seperti baru-baru ini, Rahmat Batubara, salah satu kader PMII Cabang Jakarta Selatan telah mengharumkan nama bangsa dengan menjuarai Musabaqah Hifdzil Quran di kancah internasional, Arab Saudi.

"Saya berharap, kedepan bermunculan kader-kader berprestasi dan itu dari Sambas," tukas Ali. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kyai Kawit An Nur Slawi

Harlah Ke-70 Muslimat NU di Surakarta, Ini Harapan Pemkot

Solo, Kawit An Nur Slawi

Wakil Walikota (Wawali) Surakarta, Ahmad Purnomo, hadir dalam acara puncak peringatan hari lahir (Harlah) Ke-70 Muslimat NU yang diselenggarakan di Rumah Dinas Wawali Surakarta, akhir pekan lalu.

Dalam sambutannya, Purnomo berharap Muslimat NU di usianya yang ke-70 menjadi lebih baik. “Semoga Muslimat NU semakin jaya dan sejahtera!” kata dia.

Harlah Ke-70 Muslimat NU di Surakarta, Ini Harapan Pemkot (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-70 Muslimat NU di Surakarta, Ini Harapan Pemkot (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-70 Muslimat NU di Surakarta, Ini Harapan Pemkot

Keberadaan Banom wanita NU itu senantiasa dinantikan kiprahnya di Kota Surakarta. “Muslimat juga terus andil dan ikut berperan, dalam proses pembangunan kota, terutama pada program-program yang berkaitan, seperti program Kota Layak Anak,” ujarnya.

Ditambahkan Purnomo, para kader Muslimat, sebagai seorang ibu, diminta pula untuk ikut mengawasi putra-putri mereka. “Sekarang ini, para orang tua mesti mewaspadai paham radikalisme, adapula LGBT. Jangan sampai lengah perhatian kita kepada putera. Mesti tahu siapa temannya,” tutur dia.

Kawit An Nur Slawi

Sementara itu, selain acara di Rumah Dinas Wawali tersebut, momentum Harlah Muslimat NU di Kota Surakarta diperingati dengan berbagai kegiatan.

“Kegiatan sudah dimulai sejak tanggal 5 Maret, diadakan lomba kolase dan kaligrafi tingkat TK. Kemudian acara santunan, kunjungan ke LP Perempuan, dan donor darah,” papar Ketua Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kota Surakarta Nyai Nur Hidayah Idris. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi RMI NU Kawit An Nur Slawi

Jumat, 06 Juni 2014

Gelar Diklatsar, Banser Jaktim Galang Kebersamaan Cegah Terorisme

Jakarta, Kawit An Nur Slawi - Satuan Koordinasi Cabang Barisan Ansor Serbaguna (Satkorcab Banser) Jakarta Timur akan menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) di Pesantren Assalam, Bogor, pada Jumat-Ahad (12-14/8). Selama tiga hari mereka memanfaatkan waktu untuk membahas sejumlah maslaah penting perkoataan.

"Diklatsar kali ini kita ambil empat poin utama demi kemaslahatan bersama," kata Kasatkorcab Banser Jaktim Firdaus Ibond, Kamis, (11/8).

Gelar Diklatsar, Banser Jaktim Galang Kebersamaan Cegah Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Diklatsar, Banser Jaktim Galang Kebersamaan Cegah Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Diklatsar, Banser Jaktim Galang Kebersamaan Cegah Terorisme

Poin ini, lanjut Ibond, adalah bentuk ikhtiar Banser dan GP Ansor Jakarta Timur. Empat poin yang dimaksud meliputi pencegahan terorisme, narkoba, membangun kebersamaan dalam keberagaman suku yang ada di jakarta, dan membentuk karakter santun namun tegas.

Senada dengan itu, Ketua GP Ansor Jakarta Timur H Mahmud Muzoffar menyambut baik ikhtiar sahabat Banser.

Kawit An Nur Slawi

"Semoga Diklatsar kali ini lancar, dan menghasilkan kader yang berkualitas. Insya Allah pasca-Diklatsar, kita juga buat PKD yang dilaksanakan anak cabang GP Ansor se-Jaktim," kata H Mahmud. (Doni Rao/Alhafiz K)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hadits Kawit An Nur Slawi

Musafir yang Bebas Shalat Jumat

Pada dasarnya shalat jum’at hukumnya adalah wajib bagi setaip muslim laki-laki. Hal ini berdasar pada firman Allah swt dalam surat Al-Jumu’ah ayat 9:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Musafir yang Bebas Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Musafir yang Bebas Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Musafir yang Bebas Shalat Jumat

Demikianlah shalat jum’at menjadi salah satu momentum pertemuan antara umat muslim dalam sebuah komunitas tertentu. Diharapkan pertemuan fisik ini dapat menambah kwalitas ketaqwaan dan keimanan umat muslim. Karena itulah shalat jum’at didahului dengan khutbah yang berisi berbagai mauidhah. Di samping itu secara sosiologis sholat jum’at hendaknya menjadi satu media syi’ar Islam yang menunjukkan betapa besar dan kuwat persatuan umat.

Adapun syarat-syarat shalat jum’at seperti yang terturils dalam kitab Matnul Ghayah wat Taqrib karya Imam Abu Suja’

? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ?

Kawit An Nur Slawi

Syarat wajib jum’at ada tujuh hal yaitu; Islam, baligh, berakal sehal, merdeka, laki-laki, sehat dan mustauthin (tidak sedang bepergian) 

Dari ketujuh syarat tersebut, tiga syarat pertama Islam, baligh dan berakal dapat dianggap mafhum. Karena jelas tidak wajib shalat jum’at orang yang tidak beragama Islam, yang belum baligh, apalagi orang gila. Sedangkan mengenai empat syarat yang lain Rasulullah saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Daruquthny dan lainnya dari Jabir ra, Nabi saw bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka wajib baginya shalat jum’at kecuali perempuan, musafir, hamba sahaya dan orang yang sedang sakit.

Pada praktiknya, shalat jum’at sama seperti shalat-shalat fardhu lainnya. Hanya ada beberapa syarat khusus yang harus dipenuhi yaitu pertama  hendaklah diadakan di negeri, kota atau desa. kedua jumlah orang tidak kurng dari 40, dan ketiga masih adanya waktu untuk shalat jum’at, jika waktu telah habis atau syarat yang lain tidak terpenuhi maka dilaksanakanlah shalat dhuhur.

Kawit An Nur Slawi

Dengan demikian shalat jum’at selalu dilakukan di masjid. Dan tidak boleh dilakukan sendirian di rumah seperti shalat fardhu yang lain. Hal ini tentunya menyulitkan mereka yang terbiasa bepergian jauh. Entah karena tugas negara atau tuntutan pekerjaan. Oleh karena itulah maka shalat jum’at tidak diwajibkan bagi mereka yang sedang sakit atau berada dalam perjalanan (musafir).

Khusus untuk musafir atau orang yang sedang berada dalam perjalanan ada beberapa ketentuan jarak tempuh. Tidak semua yang bepergian meninggalkan rumah bisa dianggap musafir. Sebagian ulama berpendapat bahwa seorang dianggap musafir apabila jarak perjalanan yang ditempuh mencapai 90 km, yaitu jarak diperbolehkannya meng-qashar shalat. Itupun dengan catatan agenda perjalanannya bersifat mubah (dibenarkan secara agama, tidak untuk ma’syiat ) dan sudah berangkat dari rumah sebelum fajar terbit.

Bolehnya meninggalkan shalat jum’at oleh musafir ini dalam wacana fiqih disebut dengan rukhshah (dispensasi). Yaitu perubahan hukum dari sulit menjadi mudah karena adanya udzur. Bepergian menjadi udzur seseorang untuk menjalankan shalat jum’at karena dalam perjalanan seseorang biasa mengalami kepayahan. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup seseorang, tidak jarang mereka harus melakukan bepergian. Dan seringkali seseorang masih dalam perjalanan ketika waktu shalat jum’at tiba.

Akan tetapi keringanan –rukhshah- ini tidak berlaku jika status seorang musafir telah berbah menjadi mukim. Yaitu dengan berniat menetap ditempat tujuan selama minimal empat hari. Misalkan jika seorang dari Surabaya pergi ke Jakarta lalu niat menginap di rumah sanak famili selama lima hari, maka tidak berlaku lagi baginya keringanan bepergian –rukhsah al-safar-. Maka dia tidak diperbolehkan meninggalkan shalat jum’at, jama’ atau qashar shalat. Begitu pula jika seseorang berniat mukim saja tanpa tahu batas waktunya secara pasti, maka hukumnya sama dengan bermukim empat hari. Contohnya ketika seseorang dari Jawa Timur merantau ke Jakarta, dengan niat mencari pekerjaan yang dia sendiri tidak tahu pasti kapan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. Maka dalam kacamata fiqih ia telah dianggap sebagai mukimin di Jakarta dan wajib mengikuti shalat Jum’at bila tiba waktunya.   

Lain halnya jika orang tersebut berniat untuk tinggal di Jakarta dalam jangka waktu maksimal tiga hari, maka baginya masih berlaku rukhshah. Hal mana juga berlaku bagi seseorang yang sengaja bermukim demi satu keperluan yang sewaktu-waktu selesai dan ia akan kembali pulang, tanpa mengetahui persis kapan waktunya selesai. Maka status musafir masih berlaku baginya dan masih mendapatkan rukhshah selama delapan belas hari.

Oleh karena itu untuk menentukan seorang sebagai musafir perlu ditentukan beberapa hal. Pertama jarak jauhnya harus telah mencapai masafatul qasr (kurang lebih 90 km). Kedua, tujuannya bukan untuk ma’syiat. Ketiga, mengetahui jumlah hari selama berpergian sebagai wisatawan yang hanya singgah satu atau dua hari, ataukah untuk studi atau bekerja yang lamanya sudah barang tentu diketahui (1 semester, 2 tahun dst) ataukah untuk satu urusan yang waktunya tidak diketahui dengan pasti. Semua ada aturan masing-masing. Demikian keterangan dari beberapa kitab Al-Madzahibul Arba’ah, Al-Hawasyiy Al-madaniyah dan Al-Fiqhul Islami)

(Red. Ulil H)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Cerita, Pendidikan, Tokoh Kawit An Nur Slawi

Rabu, 04 Juni 2014

LPBINU Semarakkan Hari Peduli Sampah dengan Lomba Foto dan Tulisan

Jakarta, Kawit An Nur Slawi



Dalam rangka menyemarakkan Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada 21 Februari, Pimpinan Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) mengadakan lomba foto dan tulisan bagi masyarakat umum dengan tema “Ubah Sampah Jadi Berkah”.

LPBINU Semarakkan Hari Peduli Sampah dengan Lomba Foto dan Tulisan (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Semarakkan Hari Peduli Sampah dengan Lomba Foto dan Tulisan (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Semarakkan Hari Peduli Sampah dengan Lomba Foto dan Tulisan

Selasa (23/2), pukul 10.00-15.00 WIB, PP LPBINU akan menyelenggarakan “Sosialisasi Pengelolaan Sampah dan Pameran Produk Kerajinan Hasil Daur Ulang” di halaman parkir kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.

Peserta lomba dapat mengambil foto di arena kegiatan tersebut, sedangkan lomba tulisan bisa dilakukan dari tempat lain, kemudian mempublikasikannya ke media sosial untuk diperlombakan.

Kawit An Nur Slawi

Pengambilan foto dalam lomba kali ini bisa menggunakan kamera telepon seluler, kamera DSLR, kamera digital, maupun perangkat lain. Peserta dan/atau pemenang lomba tidak dikenai biaya apapun. Untuk informasi lebih detail, para calon peserta dapat membaca syarat dan ketentualnya di situs resmi LPBINU (lpbi-nu.org). (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Nahdlatul Kawit An Nur Slawi

Rabu, 28 Mei 2014

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris”

Rembang, Kawit An Nur Slawi

Puluhan pelajar NU yang tergabung dalam Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Rabu (9/3) sore memperingati Hari Lahir (Harlah) IPNU-IPPNU ke-62 dan 61, di balai pertemuan Desa Purworejo Kecamatan Kaliori.

Ketua PAC IPNU Kaliori, Muhammad Lilik Wijanarko mengungkapkan, acara ini sebagai upaya hormat terhadap hari lahir Ke-62 IPNU dan Ke-61 IPPNU. "Selain acara Harlah, kami juga mengemas acara tersebut dengan Rapat Kerja Anak Cabang (Rakerancab) PAC IPNU-IPPNU Kaliori," terangnya.

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris” (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris” (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris”

Para perwakilan setiap Ranting yang turut hadir dalam acara tersebut berupaya untuk menyampaikan gagasan terhadap program kerja yang akan dijalankan dalam masa khidmah 2015-2016.

Agenda terdekat, lanjut Lilik, melaksanakan "Pekan Madaris" yang akan kami laksanakan di Desa Dresi Kecamatan Kaliori pada 9-10 April depan. "Kami berharap dengan banyaknya kegiatan yang akan kami lakukan tetap membuat para kader solid dan semangat dalam berjuang," harapnya.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir Wakil I PC GP Ansor Rembang Ahmad Najih, Ketua MWCNU Kaliori KH Ali Armani , Ketua PC IPNU Rembang Ahmad Humam, Ketua PC IPPNU Rembang Afaf Muniroh Atid, dan beberapa pengurus harian PC IPNU-IPPNU Rembang.

Kawit An Nur Slawi

Ketua MWCNU Kaliori KH Ali Armani dalam sambutannya mengatakan, bagi pelajar NU harus bisa memilih siaran televisi yang tepat. Bukan hanya menikmati siarannya saja, tetapi harus bisa mengambil hikmah dari apa yang disiarkan. 

Kawit An Nur Slawi

"Kita sebagai warga nahdliyin bukan malah menonton MTA tv, tetapi menonton siaran Ahlussunnah wal Jamaah seperti TV9 dan Aswaja TV," pesannya.

Rangkaian acara tersebut diakhiri dengan meniup lilin dan pemotongan tumpeng oleh Ketua PAC Kaliori dan diberikan kepada Ketua PC IPNU-IPPNU Rembang. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama dengan para peserta. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kajian Kawit An Nur Slawi

Senin, 26 Mei 2014

KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis

Pasuruan, Kawit An Nur Slawi. Tidak banyak kiai yang memiliki waktu dan kemampuan dalam menulis buku. Tapi kiai ini tidak semata menuangkan gagasan keagamaan lewat buku, juga membagikan karyanya secara cuma-cuma kepada masyarakat.

KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis

Dialah KH Sholeh Bahruddin, Pengasuh Pondok Pesantren Ngalah, Sengonagung, Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur. Baginya, menulis buku adalah sebagai panggilan jiwa sekaligus ingin meniru tradisi agung yang telah dilakukan para ulama terdahulu.

"Saya ingin meniru pengarang kitab Fathul Qarib, Fathul Muin dan lain-lain," katanya kepada sejumlah Pengurus Wilayah Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (PW LFNU) Jawa Timur.

Kawit An Nur Slawi

Penegasan ini disampaikan Kiai Sholeh, di sela-sela acara Pendidikan dan Latihan (Diklat) falakiyah akhir pekan lalu yang diikuti ratusan peserta dari PC LFNU, utusan pesantren, pejabat kementerian agama, serta dosen sejumlah perguruan tinggi di pesantrennya.

Ia menandaskan, para pengarang kitab atau muallif tempo dulu tidak sekedar menulis kitab, juga tidak berkenan menerima dan meminta royalti dari karya yang telah dibuat. "Justru dengan tidak meminta royalti seperti ini, maka manfaat karya-karya mereka bisa bertahan ratusan tahun bahkan hingga sekarang," tandas  Mustasyar PCNU Kabupaten Pasuruan ini.

Kawit An Nur Slawi

Kepada setiap peserta diklat falakiyah, Kiai Sholeh memberikan secara gratis buku berjudul Ensiklopedi Fikih Jawabul Masail Bermadzhab Empat. Buku setebal 572 halaman dan dicetak dengan hard cover ini disusun bersama para santri. Isinya adalah tentang tanya jawab hukun Islam terhadap berbagai masalah berdasarkan sudut pandang keagamaan. Mulai dari masalah internasional, kebangsaan, politik, sosial, ekonomi, akidah, hinga persoalan amaliah ibadah sehari-hari.

Menurut Kiai Sholeh, buku-buku hasil karangannya memang sengaja dicetak dan dibagi-bagikan secara gratis. Bahkan  sudah didownload di situs pesantren dan dapat dimanfaatkan oleh siapapun tanpa batas. "Yang penting asas manfaat. Boleh diperbanyak dan tidak perlu izin," ungkapnya. Ia menandaskan, kalau hendak diterbitkan lagi maka identitas Pesantren Ngalah sebagai penerbit bisa dihilangkan.

Kiai Sholeh dan pesantren yang diasuhnya telah mentradisikan kegiatan menyusun, menerbitkan dan membagikan buku secara gratis sejak lama. Judul dan bahasan dari buku yang dihasilkan juga bervariasi. "Saya mendidik para santri agar memiliki kemampuan menulis dengan baik," ungkapnya. 

Tidak hanya itu, kepada seluruh pengurus PW LFNU Jatim saat itu, Kiai Sholeh juga menghadiahkan satu buku dengan judul Sabilus Salikin. Buku setebal 791 halaman tersebut berisi tentang ensiklopedi tarekat yang berjumlah 31 aliran. Selain itu, di bagian awal dan akhir buku dijelaskan tentang esensi tasawuf dan tarekat serta tanya jawab masalah tarekat.

"Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi jawaban atas berbagai tuduhan terhadap tasawuf dan pengamal tarekat, semakin banyak yang memanfaatkan buku tersebut tentu kian baik,” pungkas kiai yang juga mursyid tarekat ini. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nasional, Sholawat, Khutbah Kawit An Nur Slawi

Kamis, 08 Mei 2014

Semangat UU Desa Dorong Partisipasi Warga

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Arah Undang-Undang Desa tidak bisa lagi mengacu pada cara lama yang bersifat instruktif, atas-bawah. Dengan cara demikian, pedesaan sekadar menjadi objek kebijakan pusat semata. Orientasi UU Desa mesti menempatkan warga desa sebagai pemegang otoritas dalam pembangunan.

Semangat UU Desa Dorong Partisipasi Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat UU Desa Dorong Partisipasi Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat UU Desa Dorong Partisipasi Warga

Demikian disampaikan anggota Komisi II DPR RI Abdul Malik Haramain di hadapan sedikitnya 30 peserta diskusi Perencanaan Pembangunan Nasional dalam Perspektif Pedesaan di Gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164 Jakarta Pusat, Rabu (16/7) sore.

Sebagai contoh sistem atas-bawah pembangunan desa, sulitnya membangun sinergi antara gubernur dan bupati-walikota, bupati-walikota dan camat. Belum lagi kalau gubernur dan bupati berlainan partai.?

Kawit An Nur Slawi

Menurutnya, paradigma penyusunan UU Desa mesti diubah. “Kita tidak ingin membangun-desa di mana desa menjadi objek. Tetapi, dengan paradigma desa-membangun perencanaan nasional menempatkan pemangku kepentingan di desa sebagai subjek pembangunan yang mengerti kebutuhannya.”

Kawit An Nur Slawi

Undang-Undang Pembangunan Desa diatur dalam UU nomor 25 tahun 2004.

Menurut Haramain, substansi pembangunan desa tidak bisa dianggap selesai pada penganggaran dan pelaksanaan program. “Inti keberhasilan pembangunan desa bisa diukur dari relevansi program dengan potensi desa itu sendiri.”

Relevansi ini yang mesti dikawal. “Berapa banyak gubernur dan bupati yang membuat program kerja di luar potensi geografis wilayahnya. Lahan pertanian sedikit, mereka mengalokasikan anggaran besar buat pertanian misalnya. Ini sama sekali tidak sambung. Ada lagi gubernur dan bupati yang menjanjikan saat kampanye program pendidikan dan kesehatan gratis. Padahal APBD-nya tidak mencukupi.”

Karenanya, untuk mewujudkan ketercapaian pembangunan desa, warga mesti terlibat dalam perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan, tandas Haramain. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi RMI NU, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Jumat, 25 April 2014

PBNU-Spanyol Jajaki Kerja Sama Redam Radikalisme Agama

Jakarta,Kawit An Nur Slawi

Wakil Duta Besar Spanyol Rodrigo de la Vina Muhlack bersama seorang seorang staf bertamu ke PBNU Jakarta Pusat, Rabu, (20/1). Ia ditemui Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Bendahara Umum H Bina Suhendra, dan Wakil Sekretaris Jenderal Imam Pituduh.

Menurut Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Rodrigo de la Vina Muhlack mengungkapkan keprihatinannya atas perkembangan radikalisme agama dan terorisme. Hal itu juga yang terjadi di negaranya. Kedua belah ada keinginan untuk meredamnya.

PBNU-Spanyol Jajaki Kerja Sama Redam Radikalisme Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU-Spanyol Jajaki Kerja Sama Redam Radikalisme Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU-Spanyol Jajaki Kerja Sama Redam Radikalisme Agama

Di Sapanyol, diperkirakan ada sekitar 500 orang yang ikut Islamic State of Iraq and Shiria (ISIS). “Ada kesamaan keprihatinan antara Indonesia dan Spanyol terkait menjamurnya radikalisme agama dan terorisme,” kata Marsudi.

Kawit An Nur Slawi

Untuk mengatasi hal itu, akan kedua belah pihak akan menjajaki kerja sama pertukaran pelajar atau pemuka agama. “Dalam kesempatan itu, PBNU menyebutkan bahwa NU megembangkan Islam Nusantara yang damai, Islam yang meragkul bukan memukul, Islam membina tidak menghina, Islam ramah yang tidak marah-marah,” tambahnya.

Kawit An Nur Slawi

Menurut Marsudi, NU menerangkan wakil Spanyol, bahwa budaya Islam Nusantara berbeda dengan Timur Tengah dan dan di Eropa. Kelebihan Islam Nusantara adalah wataknya yang moderat, tasamuh, tawazun, taadul.

“Mereka khawatir banyak radikalisme di negara mereka. NU dianggap tepat untuk bisa bersama-sama mendorong Islam yang moderat ini ke Eropa,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Doa Kawit An Nur Slawi

Minggu, 13 April 2014

Tujuh Ormas Keagamaan Sampaikan Seruan Moral Terkait Pilkada DKI Putaran Kedua

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan enam ormas keagamaan lainnya menyampaikan seruan moral terkait Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran ke-2 pada Rabu, 19 April 2017.

Menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Seruan moral ini dalam upaya menyikapi situasi akhir-akhir ini di beberapa daerah dan khususnya Jakarta yang cukup memanas, dan menurutnya, seruan moral ini tidak ada kepentingan politik.

Tujuh Ormas Keagamaan Sampaikan Seruan Moral Terkait Pilkada DKI Putaran Kedua (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Ormas Keagamaan Sampaikan Seruan Moral Terkait Pilkada DKI Putaran Kedua (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Ormas Keagamaan Sampaikan Seruan Moral Terkait Pilkada DKI Putaran Kedua

“Sebagai ormas non-politik, ormas bukan partai politik, kami punya tanggung jawab besar menjaga keutuhan, kekuatan, persatuan, dan kesatuan republik Indonesia yang kita cintai ini,” kata Kiai Said di Gedung PBNU Jakarta, Senin (17/4) sebelum seruan moral dibacakan.

Adapun seruan moral Ormas Keagamaan terkait Pilkada DKI Jakarta putaran kedua adalah sebagai berikut:

1. Tetap bersikap tenang, tidak takut, dan berpikir jernih dalam menyikapi keadaan. Kita wajib mendukung segala upaya pemerintah untuk mensukseskan Pilkada DKI Jakarta putaran ke-2 serta menjaga keamanan dan kedamaian demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kawit An Nur Slawi

2. Mengingat pentingnya Pilkada DKI Jakarta putaran ke-2 untuk masa depan bangsa, maka kami mengajak kepada seluruh umat beragama yang mempunyai hak pilih, memberikan prioritas waktu untuk datang ke TPS-TPS dan menggunakan hak pilihnya. Setiap warga negara yang baik, wajib berpartisipasi dalam Pilkada ini sebagai suatu wujud pengorbanan yang nyata bagi masa depan bangsa.

3. Dalam menentukan pilihan sesuai dengan suara hati setiap umat beragama harus mengedepankan nilai-nilai Kebangsaan dan Kebhinekaan yang diharapkan member makna positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Kawit An Nur Slawi

4. Mari kita terus berdoa agar Tuhan selalu menjaga bangsa dan negara kita; agar para pemimpinnya senantiasa diberi hidayah dan terang kebijaksanaan sehingga melalui proses ini kita bersama-sama dapat menuju Indonesia yang semakin adil, makmur dan beradab.

5. Mari kita semua menjaga dan menjamin masa tenang yang sedang berlangsung seraya menghindari berbagai bentuk intimidasi serta politisasi agama.

Jakarta, 17 April 2017

Kami para pemimpin organisasi-organisasi keagamaan.

1. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama , Prof Dr. KH . Said Aqil Siraj, MA.

2. Ketua KWI/Uskup Agung Jakarta, MGR. I. Suharyo

3. Ketua Umum PGI, Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang

4. Ketua Umum NSI, Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja

5. Ketua Umum PHDI Wisnu Bawa Tenaya?

6. Ketua Umum MATAKIN, Uung Sendana

7. Sekjen LPOI, Lutfi Attamimi

(Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Internasional Kawit An Nur Slawi

Perangi Radikalisme dan Kekerasan Seksual, Pagar Nusa Bentuk Laskar Anti Kekerasan

Lampung Timur, Kawit An Nur Slawi. Ketua Umum Pimpinan Pusat Pencak Silat NU (PSNU) Pagar Nusa Ajengan Mimih Haeruman menegaskan komitmen para pendekar NU untuk memerangi radikalisme, terorisme, kekerasan atasnama agama dan kekerasan seksual yang marak terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.

“Sejak dulu NU selalu menjadi garda terdepan untuk membentengi negeri ini dari berbagai ancaman. Kini, Pagar Nusa sebagai pendekarnya NU membentuk Laskar Anti Kekerasan. Kami siap membentengi bangsa dan negara yang kini sedang terancam oleh berbagai bentuk kekerasan. Baik kekerasan struktural, kekerasan vertikal maupun horizontal,” kata Mimih usai mengikuti apel 10.000 pendekar dan pengajian akbar di Lapangan Merdeka, Sribhawono, Lampung Timur, Selasa (31/5).

Perangi Radikalisme dan Kekerasan Seksual, Pagar Nusa Bentuk Laskar Anti Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perangi Radikalisme dan Kekerasan Seksual, Pagar Nusa Bentuk Laskar Anti Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perangi Radikalisme dan Kekerasan Seksual, Pagar Nusa Bentuk Laskar Anti Kekerasan

Pembentukan Laskar Anti Kekerasan, menurut Pimpinan Padepokan Santri Manuk Heulang Tasikmalaya itu, bukan bermaksud mengambil peran negara dan aparat pemerintahan, dari sipil maupun militer. Tetapi Laskar Anti kekerasan yang dibentuk Pagar Nusa ini justru menjadi mitra aparat dalam melakukan pencegahan dini, pendampingan serta mendorong aparat untuk tegas dalam menegakkan keadilan.?

“Laskar anti kekerasan ini akan dibentuk di tujuh provinsi. Selanjutnya pengurus wilayah dan pengurus cabang, kita intruksikan membentuk hingga di berbagai titik. Agar masyarakat mendapat pencerahan dalam mencegah terjadinya kekerasan dalam bentuk apapun. Sementara para korban, kita lakukan pendampingan agar terobati dari trauma,” papar Mimih.

Sebagai bentuk pencegahan dini terhadap maraknya aksi kekerasan seksual misalnya, Laskar Anti Kekerasan dari pendekar perempuan akan memberi latihan bela diri. Di samping itu, laskar ini juga akan mengajak kepada tokoh masyarakat setempat untuk memahami berbagai bentuk kekerasan. Masyarakat, menurut Mimih, perlu diberi penyuluhan agar menghentikan sikap diskriminatif dan kekerasan dalam bentuk apapun.

Kawit An Nur Slawi

“Meski terdiri dari para pendekar, Laskar Anti Kekerasan tidak akan mengerahkan kekuatan fisik, keuali terpaksa. Laskar ini bergerak dengan penuh cinta. Menjunjung nilai kemanusiaan. Ini juga merupakan perwujudan nilai Pancasila. Tidak hanya mendorong penghapusan kekerasan seksual. Kekerasan atasnama negara atau atasnama agama sekalipun, harus dihentikan,“ tandasnya.

Sementara, Bupati Lampung Timur, Chusnunia mengaku bersyukur daerahnya dijadikan titik awal pembentukan laskar anti kekerasan. Karena itu, pihaknya berkomitmen untuk mengupayakan terbentuknya desa ramah dan mendukung Pagar Nusa Lampung Timur, untuk membentuk laskar anti kekerasan hingga ke desa-desa.

“Kami akan membentuk desa ramah anak sebagai komitmen untuk mendorong penghapusan kekerasan seksual dan kekerasan atasnama apapun,” ujarnya.

Kawit An Nur Slawi

Hal sama diungkap Sekjend PBNU, Helmy Faishal Zaeni, yang mendorong terbentuknya rekonsiliasi nasional atas sejumlah tragedi kebangsaan yang pernah mewarnai sejarah negeri ini. “Tapi kami juga mendesak pemerintah agar tegas terhadap sejumlah kelompok dan organisasi yang mengancam eksistensi negara,” imbuhnya. (Abdul Malik/Zunus) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Humor Islam Kawit An Nur Slawi