Sabtu, 27 Desember 2014

World Press Photo 2004 Gelar Pameran di Jogja

Jogjakarta, Kawit An Nur Slawi
Karya seni merupakan hasil karya manusia yang obyeknya tidak terbatas, mulai dari alam hingga makluk. Keberadaan hasil karya seni harus kita jaga dan terus kita lestarikan, terlebih karya seni foto jurnalistik.

Hal itulah yang sedang dilakukan oleh World Press Photo Foundation yang berpusat di Amsterdam Belanda. Organisasi yang dikelola negeri kincir angin itu bekerja sama dengan Pusat Kebudayaa Indonesia-Belanda Karta Pustaka Jogjakarta pada 10-18 Januari ini menggelar pameran foto di Museum Benteng Vredeburg Jogjakarta.

Dalam pembukaan pameran pada Minggu malam itu dibuka oleh Wali Kota Jogjakarta Herry Zudianto. Sebanyak 199 karya foto jurnalistik dunia yang dikemas dalam 111 bingkai, sudah terpampang. Foto-foto yang dipajang di gedung atas utara museum yang terletak di pusat kota Jogja itu merupakan hasil perlombaan yang di motori World Press Photo Foundation pada 2004 lalu.

Dalam lomba seluruh dunia itu diikuti 4.176 fotografer dari 124 negara dengan jumlah foto 63.093 buah. Sedangkan dari Indonesia, tercatat 54 peserta. Tarmizy Harva adalah salah seorang peserta Indonesia yang berasil mendapatkan penghargaan honorable mention untuk kategori spot news single. Tarmizy mengambil tema perang dengan menggambarkan kepedihan seorang ibu yang anak lelakinya mati dalam keadaan terikat di pohon dengan luka sayat di leher yang dilakukan oleh anggota GAM.

Anaknya tersebut seorang guru pesantren di sebuah dusun di Aceh. Kasih sayang ibu inilah yang mengantarkan roh anaknya kembali ke pangkuan Allah SWT. Tema-tema perang dengan sisi kemanusiaan masih kental dan mendominasi dalam karya Wolrd Press Photo 2004 itu. Pemenang pertama pada kompetisi tahun lalu ialah karya Jean Marc Boujou. Dalam foto Jean itu menampilkan seorang pria tawanan perang Irak dengan kepalanya sedang tertutup kantong yang dilakukan oleh tentara AS yang sedang memeluk dan menenangkan anaknya.

Foto itu membuat dewan juri memilihnya sebagai foto terbaik, karena foto itu menggambarkan betapa peperangan selalu membawa kepedihan dan ketakutan. ”Pesan yang mendalam dalam karya ini adalah hanya kasih sayanglah orang tua (ayah) yang mampu membendung ketakutan dari sang anak ketika perang berlangsung. Selain itu, foto itu juga menggambarkan, bahwa perang berdampak mengerikan pada kehidupaa, apapun alasan yang dipakai.” kata Ketua Dewan Juri Elisabeth Biodi yang dikutip dari bosur pameran tersebut.

Selain isu peperangan, masalah HIV/AIDS juga menjadi salah satu pemenang pada kontes ini. Sebuah karya Lu Guang dari Cina menceritakan soal 40 persen penduduk di desa-desa Provinsi Henan terjangkit AIDS. Penyebabnya, para petani yang menjual darah mereka karena butuh uang untuk membeli pupuk.

Proses pengambilan darah yang tidak steril inilah yang menjadi faktor utama mereka terjangkit penyakit mematikan itu. Sekian lama pula kasus AIDS itu tak pernah diketahui publik karena ditutupi pemerintah Cina.

Dalam pameran itu juga tampil karya foto yang bertemakan seni, olahraga, alam, dan lingkungan. Di bidang olahraga banyak foto yang menggambarkan foto para penyandang cacat fisik tapi sangat gigih mencetak prestasi sambil menikmati kebersamaan dalam berolahraga.

”Kami melihat betapa besarnya pesan yang disampaikan lewat karya-karya foto jurnalistik dunia itu, maka Karta Pustaka berusaha agar pameran ini dapat kembali hadir di Jogja. Harapan kami juga, pameran ini akan memacu dan memotivasi para fotografer Jogja untuk lebih peka lagi terhadap kekerasan yang masih mendominasi di sudut bumi ini,” kata Direktur Karta Pustaka Anggi Minarni, disela-sela acara kepada wartawan, kemarin.

Sekadar diketahui, World Press Photo ini berdiri pada tahun 1955 di Belanda. Tujuan utamanya adalah untuk mendukung dan mempromosikan karya para jurnalis foto profesional ke tataran Internasional. World Press Photo kini menjadi forum independen untuk jurnalisme foto dan kebebasan pertukaran infomasi. Organisasi ini mendapat perlindungan dari (almarhum) Pangeran Bernhard dari Belanda. Rencanya foto-foto itu akan dipamerkan keliling ke 40 negara dengan diterbitkan dalam 7 bahasa. (mar)

 

Kontributor Kawit An Nur Slawi Djogjakarta : Ahmad Riadi

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Makam, Sunnah Kawit An Nur Slawi

World Press Photo 2004 Gelar Pameran di Jogja (Sumber Gambar : Nu Online)
World Press Photo 2004 Gelar Pameran di Jogja (Sumber Gambar : Nu Online)

World Press Photo 2004 Gelar Pameran di Jogja

Minggu, 21 Desember 2014

Sambut Ramdhan, WNI Riyadh Istighotsahan

Riyadh, Kawit An Nur Slawi. Warga Negara Indonesia atau TKI yang berdomisili di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menghadiri istighotsah bersama dengan tema “Tarhib Ramadhan, untuk menjadikan hidup lebih baik bersama bulan suci Ramadhan 1436 H” pada 13 Juni 2015 lalu.

Sambut Ramdhan, WNI Riyadh Istighotsahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ramdhan, WNI Riyadh Istighotsahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ramdhan, WNI Riyadh Istighotsahan

Warga Negara Indonesia yang dari berbagai daerah serta dari berbagai macam profesi baik laki maupun perempuan telah memenuhi tempat yang telah disediakan tim pelaksana berkapasitas kurang lebih 250 orang.

Sembari menunggu istighosah dimulai, para jamaah mendengarkan taushiyah yang disampaikan Rais Suriah PCINU Riyadh Ust. Abdul Malik An-Namiri.

Kawit An Nur Slawi

Ustadz yang Ketua Forum Silaturrahim Warga Negara Indonesia berpesan untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Swt serta selalu menjaga martabat bangsa indonesia dengan mematuhi peraturan peraturan yang telah ditentukan pemerintah Arab Saudi.

Seusai taushiyah jamaah serentak membaca dzikir dan sholawat yang dipimpin Ust Ahmad Syafawi serta Ust Matruji Abdu Siyam sehingga acara selesai yang ditutup dengan doa bersama yang kemudian diwarnai dengan marawisan Aswaja Banjari Group. (Red: Abdullah Alawi)

Kawit An Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Halaqoh, Meme Islam, Budaya Kawit An Nur Slawi

Jumat, 12 Desember 2014

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman

PENGANTAR REDAKSI: Kawit An Nur Slawi akan memuat pemikiran-pemikiran tentang ilmu nahwu yang dikupas oleh Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jerman, Syafiq Hasyim. Tulisan yang direncanakan bersambung ini akan dimuat setiap hari Senin. Selamat membaca.

Nahwu, biasa dikenal oleh kalangan santri sebagai bagian ilmu alat, adalah ilmu yang sangat fundamental untuk dikuasai jika kita ingin mempelajari Islam dari literatur-literatur yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya, baik klasik maupun modern.

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman

Dikatakan sebagai alat karena kegunaan ilmu adalah sebagai perangkat membaca, memahami dan memaknai dari bahasa nativenya, bahasa Arab, ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya. Kalangan antropolog menyebutkan jika penguasaan bahasa asli adalah hal sangat penting dalam memperkuat kredibilitas sebuah hasil ilmu atau hasil riset. Mereka memasukkan masalah ini sebagai bagian dari the politics of nativeness. Dengan kata lain, ilmu Nahwu adalah was?’il menuju pengetahuan yang mendekati kepada kebenaran. Kenapa saya sebut sebagai “mendekati kebenaran,” karena kebenaran Nahwiyyah adalah kebenaran pengetahuan yang bersifat aturan kebahasaan, sementara masih ada jenis kebenaran lain yang didapatkan oleh ilmu atau cara lain juga.

Namun, jika kita beri peringkat, kebenaran yang dihasilkan oleh Nahwu adalah kebenaran yang sangat tinggi derajatnya karena dengan ilmu ini pemaknaan pertama atas sumber-sumber Islam –al-Qur’an dan Sunnah—bisa didapatkan. Meskipun sekolah-sekolah Islam juga mengajarkan

Kawit An Nur Slawi

Nahwu, namun ilmu ini diajarkan secara lebih mendalam di dalam lingkungan pesantren. Itupun masing-masing pesantren melakukannya secara berbeda-beda pula. Pesantren-pesantren tradisional (salaf) biasanya mengajarkan kitab-kitab Nahwu yang tingkatannya lebih rumit dan sulit dibandingkan dengan pesantren-pesantren modern (khalaf). Kitab-kitab nahwu yang diajarkan di pesantren tradisional misalnya mulai dari al-Jur?miyyah, Imri?, lalu Alfiyyah Ibn M?lik. Sementara pesantren modern biasanya mengajarkan kitab-kitab seperti Nahwu al-W?i?, J?mi?u al-Dur?s f? al-Lughat al-?Arabiyya, dan lain-lainnya.

Kawit An Nur Slawi

Dengan kata lain, referensi-referensi Nahwu yang diajarkan di pesantren salaf –biasanya dimiliki dan diasuh oleh kyai-kyai Nahdlatul Ulama-- biasanya adalah kitab-kitab lama (klasik), sementara pesantren khalaf lebih memilih kitab-kitab Nahwa baru, atau yang terkini.

Tapi baik belajar dengan kitab lama maupun baru sejatinya yang paling penting di sini adalah kemauan untuk belajar dan berusaha menguasai ilmu ini. Jika tidak menguasai seluruhnnya, sebagianlah yang perlu dikuasasi. Meskipun ilmu Nahwu sangat penting, banyak dari kalangan kita yang sudah mendedikasikan hidupnya menjadi santri, ustadz, pendakwah dan lain sebagainya, tidak memiliki pemahaman yang cukup akan ilmu ini.

Hal yang paling menyedihkan banyak pengajar Islam publik kita, di Mushalla dan TV-TV, yang awam dengan teori-teori Nahwu. Untuk berdakwah memang tidak diwajibkan untuk menguasai Nahwu, namun dalam dakwah diwajibkan untuk menyampaikan kebenaran meskipun pahit. Menyampaikan kebenaran dengan benar adalah jika sang penyampai mengerti alatnya. Perlu diingat di sini bahwa tidak semua orang yang bisa membaca aksara Arab seperti membaca al-Qur’an menguasai ilmu ini. Mampu dan tidaknya penguasaan ilmu Nahwu ini bisa dilihat dari bagaimana dia atau mereka mampu membaca dan memaknai kitab-kitab yang dalam bahasa keseharian kaum santri disebut kitab kuning.

***

Harus diakui bahwa ilmu Nahwu memang merupakan cabang yang susah selain ilmu-ilmu lain yang sejenis seperti ?araf, Balaghah, dan Mantiq. Untuk tahu ilmu ini, butuh kejelian, hafalan yang kuat, dan analisa yang mendalam. Masih ingat bahwa kita –saya dan teman-teman—di madrasah dulu sering menghindari dan berkeluh kesah tentang betapa sulitnya memahami apalagi menerapkan ilmu Nahwu untuk membaca kitab-kitab berbahasa Arab. Ada yang hafal di luar kepala teori-teori Nahwu, namun untuk menerapkan terkadang masih sulit. Bahkan ada yang bisa menghafal kitab Nahwu Alfiyah Ibn M?lik secara sungsang (dari belakang ke depan) namun tetap saja terkadang masih memiliki kesulitan untuk menggunakannya dalam membaca teks Arab terutama yang klasik.

Sebagaimana perlu diketahui bahwa menghafal sungsang adalah salah satu cara pamer kebolehan dalam mempelajari ilmu Nahwu. Namun, belajar Nahwu tidak cukup dengan menghafal, tapi harus memahami. Kalau boleh melakukan kritik, kelemahan pembelajaran Nahwu di pesantren adalah penitikberatannya pada model hafalan, bukan pemahaman. Meskipun tujuan pertama dalam penghafalan adalah untuk menuju pemahaman, namun seringkali karena terlalu banyak “load” menghafalnya sehingga aspek memahinya terkurangi bahkan terabaikan.

Hal ini terutama terjadi pada pesantren-pesantren yang sudah mengadopsi banyak mata pelajaran di dalam sistem kurikulum mereka. Namun kesulitan menguasai ilmu Nahwu tersebut sangat sepadan dengan fungsi dan manfaat ilmu ini sendiri dimana tanpa penguasaan atasnya hampir mustahil seseorang bisa memahami al-Qur’an, Sunnah dan sumber-sumber Islam secara keseluruhan dan mendalam. Penguasaan teori-teori rumit dalam kitab-kitab Nahwu yang diajarkan di pesantren tradisional memiliki garis sejajar dengan penguasaan masalah-masalah agama yang tercantum di dalam kitab Suci dan Sunnah Nabi serta peninggalan ulama-ulama masa lalu.

Kita tahu bahwa struktur gramatik bahasa Arab yang dipakai oleh al-Qur’an tidak akan cukup dibaca dengan kitab-kitab Nahwu yang simpel seperti al-Jur?miyyah ataupun Nahw al-W?i?. Penguasaan Nahwu juga menjadi parameter kadar keulamaan seseorang. Karenanya, jangankan ketahuan membaca kitab-kitab terjemahan, karena ini tindakan pemalas, seorang santri atau bahkan ustadz kredibilitasnya bisa runtuh gara-gara hanya salah membaca harakat (tanda baca) di akhir kata (i?rab) misalnya bagaimana misalnya membaca isim alam (nama-nama benda/alam) seperti kata Ibr?him atau isim taf?l (bentuk lebih atau paling) setelah huruf jer il? (huruf yang bisa menyebabkan bacaan kasrah pada Isim) dan kasus-kasus lain.

Hal seperti ini cukup bisa dipahami karena memang memahami al-Qur’an dan Sunnah Nabi harus dilakukan bukan dengan cara main-main (hawa nafsu), tanpa ilmu, namun harus secara ilmiah. Salah satu cara yang ilmiah itu adalah jika pemahaman akan sumber-sumber utama Islam tersebut didasarkan pada tradisi keilmuan (tur?th) yang mapan yang sudah dibangun secara panjang oleh kalangan ulama masa lalu.

***

Selain ilmu Nahwu, kedudukan ilmu lain juga penting dalam mengkaji Islam, namun jika seseorang ingin menjadikan atau mengaku dirinya sebagai ahli atau ?alim dalam Islam, mau tidak mau harus mau belajar, mengenal dan menguasai ilmu Nahwu supaya pemahamannya tidak separuh-separuh dan juga tidak sesat menyesatkan. Pemahaman teks-teks agama tanpa ilmu-ilmu yang memadai bisa menjerumuskan dirinya sendiri dan juga orang lain. Bahkan menafsirkan hal-hal penting dalam Islam seperti syariah, fiqih, akidah, dengan modal bahasa Arab yang pas-pasan atau apalagi modal terjemahan dan ilmu rungon (mendengarkan) bisa menyebabkan seseorang tersebut, meskipun itu ustadz atau pun pendakwah, jatuh pada sikap liberalisme (asal-asalan) pada satu sisi dan sikap fanatisme yang berlebihan pada sisi lainnya.

Hal yang menyedihkan, dalam konteks public sphere kita, adalah kenyataan dimana tidak hanya orang awam, namun ustadz, pendakwah, dan juga para aktivis Islam masa kini tidak tahu sama sekali apalagi memahami ilmu ini. Pengetahuan Islam mereka lebih banyak tergantung pada buku-buku terjemahan yang kualitas pengalihbahasaannya seringkali sangat rendah daripada pada sumber Islam yang asli yang berbahasa Arab. Fenomena yang lebih aneh lagi yang akhir-akhir ini menggejala adalah jika ada orang yang berusaha menjelaskan Qur’an atau wacana keagamaan Islam lainnya lewat pendekatan Nahwiyyah atau keilmuan lain yang memang sangat memungkinkan terciptanya tafsir-tafsir yang berbeda-beda, mereka atau aktivis-aktivis Islam yang masih awam tersebut sering menganggap penjelasan yang njelimet, rumit dan penuh perdebatan dari pelbagai analisis kebahasaan Nahwiyyah tersebut sebagai bentuk pemahamanan liberalisme Islam.

Padahal yang terjadi adalah mereka tidak mampu atau tidak memiliki alat untuk bisa sampai pada penjelasan-penjelasan Nahwiyyah tersebut. Gejala beragama cepet saji dan ingin simplenya saja ini sudah barang tentu sangat menyedihkan untuk masa depan pengembangan Islam sebagai ilmu. Islam itu bisa bertahan, jika agama ini tidak hanya ditopang oleh praktik keagamaan umatnya, namun juga oleh argumentasi yang rasional. Bahkan bisa dikatakan, tantangan Islam terbesar pada abad ini dan mendatang adalah kemampuan umatnya untuk menyediakan argument bahwa agama ini memang ?li? li kulli zam?n wa mak?n.

Berargumen dengan Nahwu adalah salah satu upaya untuk mempertahankan keislaman. Apa yang ingin saya tekan di sini adalah secara umum, fenomena pemahaman keagamaan yang instans dan simplistik tersebut itu terkait erat dengan krisis akan tingkat pengetahuan masyarakat Islam awam dan juga aktivis-aktivisnya secara khusus atas ilmu Nahwu pada satu sisi dan juga penurunan kualitas pewacanaan Islam di ruang publik secara umum pada sisi yang lainnya. Lihat saja bagaimana media kita yang cenderung simplistik dalam dalam menyajikan program agama dengan dalih apa saja misalnya “pemurnian.”

Padahal apa yang terjadi adalah mereka lebih senang mencari penceramah agama di TV-TV mereka yang berorientasi budaya cepat saji untuk memenuhi rasa dahaga atau lapar sementara yang menghinggapi kalangan sebagaian kalangan Muslim, terutama kalangan kota. Agama hanya dibicarakan pada sisi kepentingan peningkatan “piety,” tapi melupakan sisi keilmuan.

Hasil dari model pewacanaan keagamaan Islam yang demikian adalah keluaran masyarakat yang suka menyederhanakan dan memposisikan agama laksana obat gosok (panacea). Mereka ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahyu bahwa di dalam wacana agama ada juga ada perdebatan-perdebatan yang rumit dan sekaligus scientific yang perlu diketahui oleh masyarakat kebanyakan karena perdebatan inilah yang menjadi bagian penting dalam argumentasi agama.

Dengan mengetahui perdebatan-perdebatan Nahwiyyah, proses demokratisasi pemahaman agama juga akan terjadi di dalam masyarakat. Karenanya, apa yang bisa kita lakukan pada tradisi keagamaan Islam yang terlanju demikian seperti ini tidak ada kata lain kecuali melakukan perubahan. Intinya, jika ingin mendalam dalam penguasaan Islam, maka alatnya harus cukup dan ilmu Nahwu menduduki posisi utama dalam masalah ini. Salam.

SYAFIQ HASYIM, Rais Syuriah PCINU Jerman, Meraih Gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Santri, Ulama Kawit An Nur Slawi

Senin, 08 Desember 2014

Media Sosial dan Keadaban Publik

Oleh Wasid Mansyur?

Persoalan medsos ramai menjadi perbincangan publik di berbagai media massa. Hal ini disebabkan adanya fakta, betapa sulit membendung arus kabar bohong (hoax) atau ujaran kebencian yang hadir dalam ruang jejaring sosial dunia maya, baik melalui Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, dan sejumlah platform? lain.

Berbagai komunitas telah bergerak melakukan perlawanan agar medsos kembali ke habitatnya sebagai media yang bisa menghargai ruang sosial; setidaknya dengan melawan kabar hoax dan ujaran yang menyulut kebencian umat. Dari kerangka ini, tulisan dirancang sebagai ruang diskusi dan kontribusi untuk kesejukan bermedsos.

Media Sosial dan Keadaban Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Sosial dan Keadaban Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Sosial dan Keadaban Publik

Pastinya, kabar hoax dan ujaran kebencian melalui medsos banyak merugikan pihak lain. Bahkan, dalam ruang sosial nyata kabar model ini telah menyebabkan ketegangan sosial, untuk tidak mengatakan berujung konflik. Ada kesan, fenomena ini tidak ada kaitannya dengan nilai-nilai Islam yang secara teologis-etik mengajak umatnya untuk terus konsisten menjaga keramahan sosial, dimanapun dan kapanpun.

Kesan ini cukup beralasan sebab tidak sedikit orang mudah meniru (copy-paste) kabar dari pengujar pertama atau kedua, tanpa menggunakan daya kritisnya untuk menanyakan makna dan manfaat-mudharat bagi pihak lain. Akibatnya, kabar disebar kembali hingga menyebar luas dalam ruang publik baru (public new) medsos, meminjam istilah Widodo.?

Kawit An Nur Slawi

Sebagai bangsa religius sebagaimana tergambarkan dalam sila pertama Pancasila, melihat fenomena ini cukup meresahkan batin sebab menggambarkan kualitas individu kita sebagai penganut agama. Betapapun Islam, secara khusus, mendidik penganutnya untuk terus membumikan keimanan secara holistik bukan parsial, yakni keimanan yang tidak hanya berhubungan dengan ketuhanan, tapi sekaligus menyentuh pada hubungan peneguhan kebajikan (amal shaleh).

Dengan begitu, maka maraknya kabar hoax dan ujaran kebencian dalam ruang baru medsos harus didasari kepandaian lebih dari penggunanya. Maksudnya, pandai menggunakan fasilitas aplikasi smartphone yang setiap saat berkembang memanjakan penggunanya di satu sisi dan pandai memanfaatkannya untuk menjaga keramahan sosial di dunia maya di sisi yang berbeda. Tanpa, bertindak pandai, maka kerumuhan dalam ranah medsos akan lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya.

Keadaban publik?

Makna terpenting dari perlunya keadaban publik adalah terwujudnya tatanan sosial berkehidupan yang dibangun dalam bingkai saling menghargai, menghormati serta menjaga hak orang lain dengan tidak mudah menyakiti. Oleh karenanya, kebutuhan medsos sebagai ruang sosial baru terhadap nilai-nilai keadaban publik menjadi keniscayaan. Bukan untuk apa-apa, tapi agar pengguna dan penikmat medsos menghargai ruang publik. Termasuk pengguna itu adalah pemerintah agar juga meng-share kebijakannya dalam ranah medsos dengan penuh pertimbangan manfaatnya bukan kemudharatannya.

Ada dua nilai teologis-etik yang layak diamalkan bagi penggguna medsos agar tidak terjebak pada penyebaran atau menyebarkan hoax dan ujaran kebencian. Pertama, perlunya mengembangkan tradisi klarifikasi (tabayyun) dalam menerima kabar, QS. Al-Hujurat ayat 6. Etika ini penting digunakan dalam rangka menanyakan kembali kabar yang diterima, baik dalam bentuk teks atau gambar yang telah dipermak dengan tulisan (meme). Bisa dilakukan kepada pengirimnya atau bisa langsung kepada individu yang merasa dirugikan dari kabar tersebut.?

Kawit An Nur Slawi

Klarifikasi dilakukan agar kita tidak mudah ikut menyebarkan, sebelum mengetahui betul kebenaran dan manfaat kabar yang dimaksud. Praksisnya, penegasan kabar ini bertujuan agar kita tidak mudah turut melakukan dosa sosial, apalagi orang yang dirugikan dengan kabar itu belum tentu mengenal kita. Betapapun dosa sosial dalam Islam diyakini sebagai salah satu penghambat utama kesalehan sejati kita beragama, bila kita tidak dengan tegas meminta maaf kepada yang dirugikan kabar hoax dan ujaran kebencian.?

Kedua, medsos harus mengutamakan pesan kejujuran. Pesan kejujuran sebagai etika kenabian ini berlaku bagi siapapun, dari individu, kelompok swasta hingga pemerintah. Kenapa medsos harus jujur? Sebab kebohongan medsos menjadi perusak tata nilai dan cara pandang bersosial. Sulit membedakan mana hak dan batil, padahal kabar memiliki efek positif dan negatif, sekalipun pengujarnya berdalih iseng.

Kejujuran bermedsos juga bisa dilakukan dengan menampilkan pemahaman keagamaan yang beragam dan kritis, tidak satu pendapat yang kaku. Kejujuran model ini diharapkan dapat memahamkan perbedaan sebagai sebuah kenyataan bukan malah menjadi lahan bagi pembibitan radikalisme dan terorisme sebab kurang jujurnya dalam mewartakan pesan agama di satu sisi, khususnya tentang memaknai Jihad, dan di sisi yang berbeda tidak jujur pada dirinya yang tinggal di negeri penuh ragam; suku, agama, dan etnis.

Akhirnya, upaya yang dilakukan pemerintah dan beberapa aktivis di negeri ini untuk melawan hoax dan ujaran kebencian harus didukung bersama. Sekalipun lebih dari itu, gerakan ini harus tetap kritis dalam semangat keadaban berdemokrasi yang menghargai kebebasan berbicara yang bertanggung-jawab, pastinya. Jangan dibuat media untuk menakut-nakuti, apalagi menumpulkan daya kritis pengguna dan penikmat medsos.

Penulis adalah Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya, Pengurus Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hadits, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 06 Desember 2014

Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat Lajnah Falakiyah

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Sekitar 30 peserta dari Jakarta dan sekitarnya mengikuti pembukaan Pelatihan Hisab dan Rukyat yang diselenggarakan oleh Lajnah Falakiyah PBNU di masjid An-Nahdliyah lantai dasar kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Rabu (3/4) malam.

Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat Lajnah Falakiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat Lajnah Falakiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat Lajnah Falakiyah

Pembukaan dan materi pertama disampaikan langsung oleh KH Ahmad Izzuddin, Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kemenag RI yang juga pengurus Lajnah Falakiyah PBNU, bersama Ismail Fahmi dari Subdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat, dan staf Lajnah Falakiyah PBNU, Maftuhin.

“Saya merasa senang. Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, masih ada yang mau belajar ilmu falak. Ini merupakan ilmu yang langka, makanya saya ini juga disebut mahluk langka,” katanya bergurau.

Kawit An Nur Slawi

Selain memberikan pengantar, Izzuddin memberikan semangat kepada para peserta untuk rutin mengikuti pelatihan yang bertajuk “Pelatihan Hisab Rukyat Al-Khawarizmi Lajnah Falakiyah PBNU”.

Katanya, materi hisab-rukyat yang akan disampaikan hingga setahun ke depan sudah dalam bentuk yang praktis dan mudah sehingga dijamin para peserta akan bisa mengikuti setiap sesi materi dan praktik dengan baik.

Kawit An Nur Slawi

Rencananya pelatihan akan digelar satu bulan sekali di tempat yang sama. Namun tidak menutup kemungkinan Lajnah Falakiyah juga akan menyelenggarakan pelatihan dalam bentuk paket di luar Jakarta.

Busyairi, peserta dari Banten dalam sesi dialog meminta tim pelatih Lajnah Falakiyah PBNU untuk bisa memberikan pelatihan hisab-rukyat di Banten.

Pelatihan perdana ini berlangsung akrab. Izzuddin sendiri juga menyelingi materi dengan canda tawa. Seorang peserta juga sempat menanyakan kaitan antara ilmu falak dengan astrologi atau ramalan dan dijawab dengan sangat meyakinkan.

Pelatihan dilanjutkan dengan petunjuk teknis seperti cara penggunaan kalkulator saintifik dengan beberapa tipe yang akan digunakan selama pelatihan. Tim pelatih juga dalam kesempatan itu menyiapkan beberapa alat pendukung dari yang klasik hingga modern.

Penulis: Mahbib Khoiron

?

Foto: peserta antusias memperagakan Mizwala Qiblat Finder, perangkat untuk menentukan arah kiblat



Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Warta, IMNU Kawit An Nur Slawi