Rabu, 28 September 2011

Pentingnya Penulisan Ensiklopedi Pemikiran Politik Ulama Nusantara

Jakarta, Kawit An Nur Slawi?

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Karakter dan sikap keberagamaan umat lslam di republik ini juga berbeda dengan muslim di wilayah lain. Misalnya, kawasan Timur Tengah, Asia Selatan atau Afrika, yang kesemuanya masih kalah dalam jumlah.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi ‘Pemetaan Pemikiran Politik Ulama Nusantara’ yang diinisiasi Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Balitbang Diklat Kemenag RI di Hotel Sofyan Betawi, Jl Cut Meutia No 9 Menteng Jakarta, Selasa (6/6).

Pentingnya Penulisan Ensiklopedi Pemikiran Politik Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Penulisan Ensiklopedi Pemikiran Politik Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Penulisan Ensiklopedi Pemikiran Politik Ulama Nusantara

Kepala Puslitbang Lektur, Choirul Fuad Yusuf, dalam arahannya menyatakan pentingnya penulisan Ensiklopedi Pemikiran Politik Ulama Nusantara. Pasalnya, meski dengan jumlah penduduk muslim mayoritas, Indonesia tidak menjadi negara Islam atau menjadikan Islam sebagai dasar negara.

“Tetapi justru Pancasila sebagai hasil renungan dan refleksinya. Keputusan bangsa ini tentu bukan berarti tak memiliki pijakan historis dan dialektis tentang pemikiran politik, khususnya politik kenegaraan. Tetapi justru melalui pergumulan pemikiran yang terus berlangsung hingga hari ini,” ujar Fuad.

Adik kandung tokoh NU Slamet Effendi Yusuf ini menambahkan, dalam pemikiran politik kenegaraan, bahkan terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka. Pemikiran politik kenegaraan mulai Wali Songo di Jawa hingga Tuanku Imam Bonjol di Sumatera membuktikan bahwa Nusantara tak kosong dari pergumulan pemikiran seperti juga terjadi di negara lain.

Kawit An Nur Slawi

“Pada awal kemerdekaan, para pemikir politik kenegaraan seperti Cokro Aminoto, Bung Karno, Bung Hatta, Hadratussyekh KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim, telah menghiasi pergumulan tersebut. Lalu KH Achmad Shiddiq dan Gus Dur hingga yang paling modern seperti digagas Cak Nur. Kesemuanya diwarnai politik Islam. Inilah alasan wajib penulisan ensiklopedi ini,” paparnya.

Diskusi yang dimoderatori Nurman Kholis ini menghadirkan para akademisi dari berbagai kampus. Dekan FISIP UIN Jakarta, Prof Dr Dzulkifli, yang didaulat sebagai narasumber memberi catatan bahwa Pemikiran Politik Ulama Nusantara tidak hanya menyangkut sejumlah konsep dalam teori politik Barat modern seperti pemerintahan dan negara.

“Namun menyangkut juga etika para pemimpin dan yang dipimpin. Pemikiran Politik Ulama Nusantara tidak bisa dipahami hanya semata berdasar teori politik Barat. Jadi, harus dipahami berdasarkan integrasi antara yang sakral dan profan,” ujar Dzulkifli.

Selaku koordinator kegiatan, Nurman Kholis menyebut tujuan penulisan ensiklopedi ini antara lain memperkenalkan pemikiran politik kenegaraan Ulama Nusantara secara komprehensif, menjadi sumber informatif bagi masyarakat tentang pemikiran politik kenegaraan Indonesia, dan menunjukkan kreativitas muslim Indonesia pada dunia.

Kawit An Nur Slawi

Ensiklopedi ini, kata Nurman, akan ditulis dengan entri-entri terpisah agar mudah dipahami masyarakat. Buku yang disusun berdasar entri terpilih tersebut akan disusun secara periodik, bukan alfabetis agar pembaca memahami kronologi pemikiran para ulama.

?

“Para ulama dan ahli di bidang ini akan kami undang sebagai kontributor tulisan. Kami berharap ensiklopedi ini nantinya menjadi media kajian lebih lanjut tentang pemikiran politik kenegaraan di Indonesia,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Meme Islam, Lomba, Pesantren Kawit An Nur Slawi

Senin, 26 September 2011

IPNU-IPPNU Harus Siap Jadi Tonggak Penerus Perjuangan

Rembang, Kawit An Nur Slawi

Pimpinan Cabang (PC) ? Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Kamis sore (18/2/2016) mengadakan peringatan Hari Lahir (Harlah) IPNU-IPPNU ke-62/61 di aula MA YSPIS Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang.

IPNU-IPPNU Harus Siap Jadi Tonggak Penerus Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Harus Siap Jadi Tonggak Penerus Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Harus Siap Jadi Tonggak Penerus Perjuangan

Ketua MWCNU Sedan Muhtar Nur Halim yang hadir dalam kesempatan itu mengatakan, bahwa pemuda saat ini akan menjadi penerus perjuangan para sesepuh di masa depan. "Kalau nanti pengurus MWCNU telah wafat, maka IPNU-IPPNU harus siap jadi tonggak penerus perjuangan," jelasnya.

Acara harlah sekaligus pelantikan Komisariat IPNU-IPPNU MA YSPIS Gandrirojo, Sedan, tersebut juga turut dihadiri oleh pengurus harian PC IPNU-IPPNU Kabupaten Rembang, pengurus MWCNU Sedan dan juga para tamu undangan dari beberapa sekolah sekitar.

Lebih lanjut Muhtar menceritakan diangkatnya Musailamah al-Kazzab oleh Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin pembasmian pemberontakan di Syria yang saat itu baru berusia 18 tahun.

Kawit An Nur Slawi

"Kata Nabi, saya tunjuk anakku (Musailamah al-Kazzab) untuk memimpin pembasmian pemberontakan di Syria," kutip Muhtar.

Cerita Ashabul Kahfi, tambah Muhtar, itu juga termasuk cerita tentang anak-anak muda yang gigih dalam berjuang. "Selain kita dapat mengambil hikmah dari beberapa cerita tersebut, anak-anakku juga jangan lupa tetap hormat dan berbakti kepada orang tua dan bapak/ibu guru," pungkasnya.

Kawit An Nur Slawi

Sementara itu, Ketua PC IPNU Rembang Ahmad Humam mengatakan, pihaknya mengapresiasi atas terbentuknya Komisariat MA YSPIS Gandrirojo. "Komisariat MA YSPIS Gandrirojo merupakan satu-satunya komisariat di Kabupaten Rembang yang berhasil mengubah badge OSIS menjadi IPNU-IPPNU," pungkas Humam.

Sebagai penutup acara penampilan drama kolosal dan musikalisasi puisi yang disajikan oleh para pelajar dari MA YSPIS Gandrirojo. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Olahraga, Anti Hoax Kawit An Nur Slawi

Selasa, 20 September 2011

Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija

Jember, Kawit An Nur Slawi - NU tidak cuma dakwah dengan kata-kata, tapi dakwah dengan kepedulian sosial yang nyata. Hal itu dilakukan salah satu lembaga NU, Lesbumi kepada Mbok Marija, warga Desa Karangharjo, Silo, Jember, Jawa Timur. Perempuan renta ini hidup sebatangkara, rumahnya berdinding gedek reyot dimakan usia, mendapat ularan tangan dari lembaga seni dan budaya tersebut.

Pengurus Cabang Lesbumi Jember mengirimkan bantuan berupa 1 kwintal beras dan uang 1 juta kepadanya. “Terima kasih banyak atas bantuannya,” kata Mbok Marija dengan bahasa Madura saat menerima bantuan itu, Selasa (9/8).

Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija (Sumber Gambar : Nu Online)
Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija (Sumber Gambar : Nu Online)

Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija

Bantuan tersebut diserahkan H. Fathurrosi, tokoh masyarakat Silo, didampingi Ketua PC Lesbumi Jember H. Rasyid Zakaria dan Wakil Ketua NU Cabang Jember H. Misbahus Salam. Menurut H. Fathurrosi, rumah Mbok Marija hanya salah satu contoh dari sekian banyak rumah tak layak huni yang bertebaran di pelosok desa.

Kendati pemerintah sudah lama mempunyai program bedah rumah, tapi masih cukup banyak rumah orang miskin yang tidak tersentuh program tersebut. Atau, kalaupun dapat bantuan bedah rumah, tapi yang dipermak hanyalah rumah bagian depan saja. Sedangkan badan rumahnya tidak tersentuh, meskipun? sudah lapuk.

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

“NU harus berperan, memberikan atau mencarikan sumbangan, betapapun kecilnya. Ini agar NU rahmatan? lil’alamin. Karena itu, kita ucapkan terima kasih kepada NU Jember, khususnya Lesbumi yang telah berkenan memberikan bantuan,” ucapnya.

Sementara itu, H. Misbahus Salam berharap agar bantuan tersebut dapat merangsang para aghniya’ (kaya) atau instansi untuk turut serta menyalurkan bantuan bagi wanita tersebut. Menurutnya, masalah sosial yang terkait dengan nestapa kehidupan warga miskin sejatinya cukup banyak, tapi tak pernah terekspos ke luar.

Hal tersebut, katanya, tentu tidak bisa dipasrahkan kepada pemerintah semata. Sebab, anggarannya juga terbatas. “Karena itu, semangat gotong royong harus diabangun, dan kepedulian para aghniya’ juga perlu terus didorong,” ungkapnya kepada Kawit An Nur Slawi. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Lomba Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 10 September 2011

KH Hasyim, Ulama yang Satukan Islam dan Kebangsaan

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Kiai Hasyim Asy’ari merupakan ulama yang berhasil menggabungkan antara nilai keislaman dan kebangsaan. Inilah yang mampu melahirkan Indonesia seperti yang ada saat ini dengan NU sebagai salah satu penopang utamanya dalam menjaga Islam dan kebangsaan ini.?

KH Hasyim, Ulama yang Satukan Islam dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim, Ulama yang Satukan Islam dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim, Ulama yang Satukan Islam dan Kebangsaan

“Kalau di Eropa, nasionalisme jadi ideologi. Kalau kita, ideologinya ahlusunnah wal jamaah spiritnya nasionalisme, ruhnya wathaniah, tapi ideologi kita aswaja,” kata Kiai Said Aqil Jum’at (3/7).

Ternyata rumusan tersebut sangat luar biasa dalam mewujudkan Indonesia yang damai. Di Timur Tengah ada perang saudara, sama Islamnya, sama mazhabnya tetapi mereka tidak punya komitmen nasionalisme.?

Kawit An Nur Slawi

Kiai Said menjelaskan dalam sebuah seminar di Jerman, para peserta ? pada keheranan bagaimana umat Islam di Indonesia mampu menggabungkan antara ketuhanan dan keadilan sosial. Dimata mereka, ketuhanan merupakan urusan pribadi sementara keadilan menjadi urusan masyarakat.?

Dengan konsep integrasi Islam dan kebangsaa ini, meskipun ada konflik, mampu dilokalisir dan diminimalisir sebagaimana terjadi di Madura dan Puger antara Sunni dan Syiah, tetapi relatif bisa dilokalisir dan diselesaikan relatif cepat. Di Timur Tengah sampai saat ini, konflik yang melanda Irak, Suriah, Mesir, Yaman dan lainnya sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan tak jelas kapan bisa selesai.?

Kawit An Nur Slawi

“Kalau disana, kalau sudah konflik, bisa melebar dari ujung ke ujung karena fanatisme kesukuan masih sangat tebal. Belum menyatu dalam kebangsaan. Setiap ada konflik politik, pasti ada konflik suku seperti di Yaman sekarang.”?

Ia menilai kondisi damai di Indonesia salah satunya berkat visi kebangsaan dan keislaman moderat yang dimiliki oleh NU.

“Karena kita tidak hanya tekstual hadist saja, tetapi juga menerima argumen logis. Ini hasil ijtihad kreatifitas KH Hasyim Asy’ari sebelum membangun NU dan NKRI ini.” (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Fragmen, Sejarah Kawit An Nur Slawi