Selasa, 29 Maret 2016

Seragamkan Jurus, Pagar Nusa Sukoharjo Latihan Bersama

Sukoharjo, Kawit An Nur Slawi. Pencak Silat Pagar Nusa NU Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah menggelar latihan bersama di halaman kantor Pemerintah Daerah (Pemda) Sukoharjo, Ahad (16/11). Latihan tersebut diikuti ratusan anggota dari berbagai daerah anak cabang.

“Ratusan peserta yang hadir datang dari Pagar Nusa Anak Cabang Polokarto, Tawangsari, Kartasura, Bulu, dan Kota Sukoharjo,” terang wakil ketua PC Pagar Nusa Sukoharjo, Muhammad Hasyim.

Seragamkan Jurus, Pagar Nusa Sukoharjo Latihan Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Seragamkan Jurus, Pagar Nusa Sukoharjo Latihan Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Seragamkan Jurus, Pagar Nusa Sukoharjo Latihan Bersama

Lebih lanjut Hasyim menerangkan, kegiatan latihan bersama ini bertujuan untuk menyeragamkan jurus.

Kawit An Nur Slawi

“Inti dari kegiatan ini, disamping silaturahim antar anggota, juga untuk menyeragamkan jurus. Sebab di Sukoharjo ini, ada beberapa cabang pencak silat Pagar Nusa, antara lain Gasmi dan Pagar Nusa Nasional,” paparnya.

Sementara itu, Ketua PCNU Sukoharjo H.M. Naqib Sutarno yang hadir dalam acara tersebut, menceritakan sejarah Pagar Nusa dan memberikan semangat kepada para pendekar NU tersebut.

Kawit An Nur Slawi

Menurutnya Pagar Nusa menjadi bagian penting dalam tubuh NU, “Saya harapkan para anggota Pagar Nusa di Sukoharjo, juga dapat ikut nguri-nguri (menjaga) NU,” ujarnya. (Ajie Najmuddin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kiai Kawit An Nur Slawi

Kamis, 24 Maret 2016

Bela Muslim Cina, Cendekiawan Uighur Dipenjara Seumur Hidup

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Pengadilan di Cina menyatakan seorang cendekiawan Uighur bersalah atas separatisme dan dipenjarakan seumur hidup, kata pengacaranya.

Bela Muslim Cina, Cendekiawan Uighur Dipenjara Seumur Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)
Bela Muslim Cina, Cendekiawan Uighur Dipenjara Seumur Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)

Bela Muslim Cina, Cendekiawan Uighur Dipenjara Seumur Hidup

Ilham Tohti, mantan akademisi universitas ini, telah menyuarakan kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap kaum minoritas Muslim Uighur di wilayah bergolak Xinjiang.Tohti, yang menyangkal tuduhan terhadap dirinya, telah ditahan sejak Januari.Demikian dilaporkan olah BBC Indonesia.

Uni Eropa, Amerika Serikat dan PBB menyerukan agar Tohti dibebaskan.

Kawit An Nur Slawi

Pengacara Tohti, Li Fangpin, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa dia berencana untuk mengajukan banding atas putusan tersebut.

Kawit An Nur Slawi

Tohti ditahan setelah dia mengkritik reaksi Beijing atas serangan mobil bunuh diri di dekat Tiananmen Square. Pemerintah menyalahkan insiden itu pada separatis dari Xinjiang.

Promosikan Dialog

"Tentu saja, hukuman seumur hidup ini terlalu banyak," kata Li. "Tapi dia telah mengatakan bahwa tidak peduli apa hasilnya, ini tidak harus mengarah pada kebencian. Ia selalu mengatakan ia ingin menciptakan sebuah dialog dengan China Han", seperti dikutip dari situs aljazeera.?

Jaksa di Xinjiang mengatakan Tohti telah mempromosikan kemerdekaan bagi wilayah tersebut di websitenya.?

Namun menurut Li, Tohti mengatakan kepada pengadilan pekan lalu ia mendirikan website untuk mempromosikan dialog antara Uighur dan Han dan bahwa ia telah menentang separatisme dan kekerasan publik.?

Tohti telah menolak bukti penuntutan dan mengatakan laporan terhadap dirinya yang dibuat relawan mahasiswa yang telah bekerja pada website dibuat di bawah tekanan dari pemerintah.?

Amerika Serikat, Uni Eropa dan kelompok hak asasi manusia telah menyerukan pembebasan Tohti setelah penahanan sembilan bulan secara luas dilihat sebagai bagian dari tindakan keras pemerintah pada perbedaan pendapat di Xinjiang, di mana ketegangan antara Uighur dan mayoritas Han China telah menyebabkan kekerasan.?

Beberapa aktivis mengatakan kebijakan represif pemerintah, termasuk kontrol pada Islam, telah memicu kerusuhan.?

Tohti, yang mengajar di Universitas Minzu Beijing, yang mengkhususkan diri dalam studi etnis minoritas, mengatakan dia tidak pernah terkait dengan organisasi teroris atau kelompok asing berbasis dan memiliki "hanya bergantung pada pena dan kertas untuk upaya diplomatis" hak asasi manusia dan hak-hak hukum bagi warga Uighur. (mukafi niam) Foto BBC

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Khutbah, Fragmen, Olahraga Kawit An Nur Slawi

Selasa, 22 Maret 2016

Soal Idul Adha, Habib Syech Anjurkan Ikuti Pemerintah

Klaten, Kawit An Nur Slawi. Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama telah menetapkan Hari Raya Idul Adha atau tanggal 10 Dzulhijjah, jatuh bertepatan pada tanggal 24 September 2015. Meskipun, ada beberapa Ormas Islam yang telah menetapkan tanggal lain untuk pelaksanaan Idul Adha.

Soal Idul Adha, Habib Syech Anjurkan Ikuti Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Idul Adha, Habib Syech Anjurkan Ikuti Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Idul Adha, Habib Syech Anjurkan Ikuti Pemerintah

Berdasarkan penetapan itu, Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa, Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf menganjurkan para jamaahnya untuk mengikuti ketetapan yang telah diambil pemerintah tersebut.

Menurutnya, pemerintah dalam memutuskan berbagai persoalan keagamaan, seperti penetapan Idul Fitri dan Idul Adha masih merujuk dan melibatkan pendapat dari para ulama.

Kawit An Nur Slawi

“Agar selalu mengikuti jejak para Kiai, Ulama, dan Habaib, atau istilahnya ngelmu nunut. Termasuk untuk ikut pemerintah dalam penetapan jatuhnya Hari Raya Idul Adha. Karena saat ini, pemerintah kita masih merupakan pemerintah yang baik dan patut untuk diikuti,” kata Habib Syech, di depan puluhan ribu jamaah yang mengikuti kegiatan Klaten Berdzikir dan Bersholawat, yang dilaksanakan di Glodokan Klaten, Ahad (13/9) malam lalu.

Meski demikian, Habib Syech menyampaikan pesan untuk senantiasa menghormati perbedaan yang ada.

Kawit An Nur Slawi

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak untuk mendoakan para korban jama’ah haji yang telah wafat, karena musibah kecelakaan jatuhnya crane di Masjidil Haram Mekah.?

“Kita turut prihatin atas adanya musibah yang menimpa jama’ah haji di Makkah. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT,” ujarnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Kiai, PonPes Kawit An Nur Slawi

Senin, 21 Maret 2016

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis

Di suatu daerah terdapat seorang yang dalam waktu cukup lama dikenal sebagai ahli ibadah (‘abid). Suatu hari sekelompok orang datang kepadanya seraya memberi tahu bahwa di sekitar tempat itu ada segolongan orang yang menyembah pohon, bukannya menyembah Allah. Mendengar informasi demikian, Sang ‘abid marah. Kemudian dia mengambil kapaknya dan pergi menuju pohon dimaksud untuk menebangnya.

Tetapi Iblis yang menampakkan dirinya sebagai seorang Syekh menghadang langkah si ahli ibadah.

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis

"Ke mana kamu akan pergi,” tanya Iblis.

"Aku akan menebang pohon yang disembah itu,” kata si ahli ibadah.

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi

"Apa kepentinganmu dengan pohon itu? Kamu telah meninggalkan ibadah dan kesibukanmu dengan dirimu sendiri, lalu kamu meluangkan waktu untuk selain itu,” selidik Iblis.

"Ini adalah bagian dari ibadahku juga,” jawab si ‘abid.

"Kalau begitu aku tidak akan membiarkanmu untuk menebangnya."

Lalu Iblis menyerang sang ahli ibadah. Tanpa kesulitan sang ‘abid berhasil mengalahkan Iblis, membantingnya ke tanah dan akhirnya dapat menduduki dadanya.

"Lepaskanlah aku, agar aku dapat berbicara kepadamu,” pinta Iblis.

Sang ‘abid pun berdiri. Lalu Iblis berkata:

"Wahai si ‘abid, sesungguhnya Allah telah melepaskan urusan ini darimu dan tidak mewajibkannya atasmu. Kamu tidak akan menanggung dosa orang lain. Allah pun mempunyai para nabi di segala penjuru bumi. Seandainya Allah menghendaki, niscaya dia akan mengutus mereka kepada para penyembah pohon ini dan memerintahkan mereka untuk menebangnya."

"Aku tetap harus menebangnya,” tutur ahli ibadah bersikukuh.

Iblis pun kembali menyerang si ‘abid. Namun kembali dengan mudah si ‘abid dapat mengatasi perlawanan Iblis, dibantingnya ke tanah lalu diduduki dadanya. Akhirnya Iblis tidak berdaya dan berkata kepada sang ‘abid:

"Apakah kamu mau menerima penyelesaian antara aku dan kamu yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagimu.

"Apa itu?” Tanya sang ahli ibadah.

"Lepaskanlah aku suapaya aku dapat mengatakannya.”

Sang ‘abid pun melepaskannya. Lalu iblis berkata:

"Kamu adalah seorang laki-laki miskin. Kamu tidak memiliki apa-apa. Kamu hanyalah beban yang memberatkan manusia. Barangkali kamu akan berbuat baik kepada kawan-kawanmu, membantu tetangga-tetanggamu, dan tidak lagi membutuhkan orang lain.

"Benar,” si ‘abid mengiyakan.

"Pulang dan tinggalkanlah urusan ini. Setiap malam aku akan meletakkan dua dinar di bawah kepalamu. Saat pagi hari kamu bisa mengambilnya lalu membelanjakannya untuk dirimu dan keluargamu, serta menyedekahkan untuk teman-temanmu. Hal itu akan lebih bermanfaat bagimu dan bagi kaum muslimin ketimbang menebang pohon yang disembah ini. Apabila kamu menebangnya, hal itu tidak akan membahayakan mereka dan tidak pula memberi manfaat atas teman-teman muslim kamu,” ujar Iblis menjelaskan.

Sang ‘abid merenungkan apa yang diucapkan Iblis, lalu berkata, "Syekh ini benar. Aku memang bukanlah seorang nabi sehingga aku tidak wajib menebang pohon ini. Lagi pula Allah pun tidak memerintahkan aku untuk menebangnya sehingga aku tidak akan berdosa apabila membiarkannya. Dan apa yang disampaikannya memang lebih banyak manfaatnya.”

Setelah itu, Iblis bersumpah dan berjanji kepada sang ‘abid akan memenuhi komitmennya itu. Sang ‘abid pun pulang ke tempat ibadahnya. Pada pagi harinya dia melihat dua dinar di bawah kepalanya. Dia pun mengambilnya. Begitu pula pada keesokan harinya. Tetapi pada pagi hari ketiga dan pagi hari setelahnya dia tidak mendapati sesuatu apa pun. Merasa kecewa atas kejadian itu, ahli ibadah menjadi marah dan mengambil kapaknya. Iblis kembali menghadangnya dalam bentuk seorang Syekh.

"Mau ke mana kamu?”

"Aku akan menumbangkan pohon itu.”

"Demi Allah, kamu tidak akan mampu melakukannya. Dan kamu tidak akan mendapatkan jalan menuju pohon itu.”

Sang ‘abid menyergap Iblis sebagaimana ia melakukannya pada kejadian pertama.

"Tidak mungkin,” kata iblis.

Lalu Iblis membekuk sang ‘abid dan membantingnya. Dalam sekejap dia menjadi seperti burung kecil di antara dua kaki Iblis. Iblis duduk di atas dadanya dan berkata, "Berhentilah dari urusan ini. Apabila tidak, aku akan membunuhmu.”

Kini sang ‘abid tidak memiliki kekuatan untuk melawan Iblis.

"Wahai Syekh, kamu sekarang telah mengalahkanku. Lepaskanlah aku dan beritahukanlah kepadaku mengapa dulu aku bisa mengalahkanmu, tapi sekarang kamu yang mengalahkanku,” tanya ahli ibadah.

"Karena pada kali pertama kamu marah, kamu melakukan itu karena demi Allah, dan niatmu adalah akhirat sehingga Allah menundukkanku untukmu. Tetapi kali ini kamu marah demi dirimu sendiri dan demi dinar-dinar yang aku hentikan untukmu,” pungkas Iblis.

Demikian kurang lebihnya (bukan terjemahaan harfiah) salah satu cerita israiliyat yang dilansir oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumid Din jilid empat ketika sang Hujjatul Islam itu memaparkan tentang "Keutamaan Ikhlas" dengan analogi cerita. Bila kini banyak orang berusaha mengambil pelajaran dan iktibar melalui jalan membaca cerita-cerita fiksi yang dikarang para sastrawan, maka dengan tujuan yang sama kisah israiliyat juga tidak dapat dianggap remeh apalagi yang disajikan oleh tokoh sekaliber Imam Al-Ghazali yang kami yakini lebih hebat daripada para sastrawan-penyair masa kini . (M. Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi News Kawit An Nur Slawi

Jumat, 18 Maret 2016

PBNU Buka Pendaftaran Mudik Gratis

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. PBNU melalui Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) tahun ini menggelar “Mudik Bareng NU 1433 H”. Pendafaran mulai dibuka hari ini, Jumat (27/7), di Gedung PBNU lt 4, Jl Kramat Raya 164, Jakarta Pusat.

PBNU Buka Pendaftaran Mudik Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Buka Pendaftaran Mudik Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Buka Pendaftaran Mudik Gratis

PP LTMNU sedang menyiapkan 40 bus ber-AC yang akan mengantarkan ribuan pemudik ke berbagai kabupaten dan kota di Pulau Jawa. Program bertema “Mudik Aman, Nyaman, dan Menyenangkan Bersama NU” ini akan menurunkan para pemudik, antara lain, di Tegal, Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Purwokerto, Semarang, Pati, Mojokerto, Surabaya, Jembatan Suramadu, Lamongan, Banyuwangi, dan Jember.

“Yang ikut pulang kampung bisa muadzin, tukang sapu, marbot musala atau masjid, tapi tidak mengecualikan masyarakat umum yang ingin dekat dengan NU,” kata Koordinator Program, Mujahidin, di Jakarta.

Kawit An Nur Slawi

Untuk pendaftaran, peserta disyaratkan menyerahkan fotokopi KTP dan pengisian formulir yang disediakan. Setelah penukaran tiket pada 5 Agustus, para pendaftar dapat menunggu pemberangkatan pada 14 Agustus 2012 dari halaman Gedung PBNU.

Sedikitnya 99 masjid NU akan menjadi posko mudik untuk sekadar melepas lelah dan bersembahyang sepanjang perjalanan. “Masyarakat (sekitar masjid, red) biasanya ada yang menyiapkan makanan-makanan ringan, karena mereka merasa akan kedatangan tamu,” tambah Mujahidin.

Kawit An Nur Slawi

Tahun lalu, PP LTMNU bersama Bank Mandiri dan Kemenakertrans juga menyelenggarakan program yang sama dengan memberangkatkan 22 bus yang menampung sekitar 1.100 pemudik. “Kita ingin tingkatkan terus pelayanan kepada umat yang kesulitan mendapat tiket,” tandasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Makam, Jadwal Kajian, Pesantren Kawit An Nur Slawi

Selasa, 15 Maret 2016

Muhammadiyah Itu NU! Dokumen Fiqih yang Terlupakan

‘Tembok Berlin’ yang selama ini memisahkan Muhammadiyah dan NU membuat jarak yang cukup lebar. Tembok ini sejatinya bukanlah masalah yang besar, hanya saja tembok yang dimaksud adalah khilafiyyah pada masalah  furu’ yang sering menjadi kambing hitam persoalan dalam masyarakat muslim Indonesia. Sehingga pada kondisi-kondisi tentu kedua ormas tersebut nampak sulit untuk mencapai kata bersatu.

Ratusan juta orang yang bernaung dalam ormas Muhammadiyah dan NU barangkali bakal berubah dan tergugah seiring diterbitkannya buku “Muhammadiyah itu NU: Dokumen Fiqih yang Terlupakan”. Buku yang ditulis oleh Mochammad Ali Shodiqin ini benar-benar suara dari dalam Muhammadiyah sendiri, bukan intervensi atau kepentingan dari pihak-pihak tertentu.

Muhammadiyah Itu NU! Dokumen Fiqih yang Terlupakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muhammadiyah Itu NU! Dokumen Fiqih yang Terlupakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muhammadiyah Itu NU! Dokumen Fiqih yang Terlupakan

Bahwa pada dasarnya, dulu Muhammadiyah itu sama persis dengan NU, demikian pula sebaliknya. Namun berita besar ini menyimpan dilema, sebab jika disampaikan akan menurunkan hujah fitnah yang dapat menyuburkan benalu perongrong ukhuwah. Kalau tidak disampaikan, seolah menggelapkan kebenaran yang sepatutnya didakwahkan kepada yang berhak. Jadi dilema ini bagaikan makan buah simalakama (hlm. 2). 

Kawit An Nur Slawi

Bermula ketika penulis mendapatkan kitab Fiqih Muhammadiyah 1924 dari tokoh Muhammadiyah di Yogyakarta. kemudian ia merasa terpanggil untuk menyampaikan sejarah tersebut, lalu  berinisiatif untuk menerbitkannya menjadi sebuah buku.

Kitab Muhammadiyah 1924, yang aslinya ditulis dengan bahasa Jawa dan huruf Arab pegon. Bahasa Jawa memang tak bisa dihindari kalau membahas periode awal Muhammadiyah di pusat kebudayaan Jawa, yaitu Kesultanan Yogyakarta (hlm. vii).

Kitab Fiqih Muhammadiyah 1924 yang dikarang dan diterbitkan oleh Bagian Taman Pustaka Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1924 sesungguhnya bukan hanya warisan berharga kaum Muhammadiyah saja, melainkan juga bagi NU. Kitab itu juga kitabnya NU. Isinya sama dengan kitab-kitab pesantren yang banyak diajarkan dalam dunia NU (hlm. 12). Masalahya hanyalah satu hal, bahwa di tahun 1924 itu, NU belum lahir, karena NU lahir tahun 1926. Dua tahun setelah kitab itu terbit. Dan hingga hari ini, isi ajaran fiqih yang diajarkan kitab itu masih terpelihara sebagai amalan orang NU. Amalan itu pula yang telah turun-temurun sejak ratusan hingga ribuan tahun lalu di perairan Nusantara ini, yaitu fiqih mazhab Syafi’i. Jadi walaupun NU belum lahir, namun ulama-ulama pesantren yang kemudian mendirikan NU itu tiap harinya mengamalkan ajaran fiqih, sebagaimana yang ada di dalam kitab Fiqih Muhammadiyah 1924 (hlm. 13).

Kawit An Nur Slawi

Muhammadiyah adalah gerakan dakwah, yaitu menyampaikan ajaran Islam yang sudah ada kala itu di Kesultanan Yogyakarta yang menganut mazhab Syafi’i, bukan berdakwah dengan mengarang ajarannya sendiri dari mulai nol. Pertanyaan mengapa bisa demikian? Dalam buku ini dijelaskan bahwa setelah meninggalnya Kiai Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammmadiyah pada tahun 1912, generasi Muhammadiyah pada beberapa masa selanjutnya tercampur dengan paham Wahabi imbas dari kebijakan-kebijakan pemerintahan Ibnu Saud di negeri Arab pada saat itu. Untuk itu, pada tahun 1926 NU lahir untuk merespon pemerintahan yang membawa paham Wahabi tersebut.

Metamorfosis Muhammadiyah setidaknya dapat dibagi menjadi empat masa, yaitu Masa Syafi’i tahun 1912-1925; masa pembauran Syafi’i-Wahabi tahun 1925-1967; masa Himpunan Putusan Tarjih (HPT) tahun 1967-1995; dan masa pembauran HPT-Globalisasi tahun 1995 hingga kini (hlm. 16).

Penerbitan HPT cetakan ke-1 dilakukan oleh Kiai Badawi tahun 1967. Penerbitan HPT ini sekaligus memulai babak baru sejarah (tarikh tasyri’) fiqih Muhammadiyah yaitu pada masa Himpunan Putusan Tarjih. Hingga cetakan ke-4, yakni pada tahun 1974 di dalamnya memuat 9 buah putusan Muktamar Tarjih 1972 di Pekalongan yang memuat salah satunya adalah penghapusan qunut (hlm. 82). Tidak dimuatnya qunut ini dimaksudkan untuk menghilangkan keraguan, sekaligus untuk perbaikan menurut putusan Muktamar Tarjih tahun 1972. Dengan demikian, seiring hilangnya keraguan dan adanya keyakinan umat serta kebiasaan shalat subuh tanpa qunut maka terhapus pula sejarah bahwa di masa lalu Muhammadiyah pernah melaksanakan qunut sebagaimana qunut-nya umat Islam lain (hlm. 119).

Masih banyak lagi hasil Himpunan Putusan Tarjih, di antaranya masalah menyentuh lawan jenis, niat membaca “ushalli”, shalawat tanpa Sayyidina, mengacungkan jari saat duduk tahiyat, zikir setelah salam, azan Jum’at satu kali, shalat ‘Id di lapangan, dan lain-lain.

Sementara itu, isi kitab Fiqih Muhammadiyah 1924 memuat bab-bab ubudiyah, misalnya Bab Bersuci yang rinciannya meliputi persoalan air, najis, dan tata cara penyuciannya. Bab shalat yan cakupannya meliputi waktu shalat, rukun, sunnah, pembatalan. Bab Jama’ah yang membahas makruhnya jamaah, dan bab-babnya lainnya.

Guna menghadirkan cita rasa sejarah asli masa kiai Dahlan itu, bagi pembaca luar Jawa dan juga generasi Jawa masa kini yang sudah tidak nyambung dengan Jawanya. Maka buku ini disuguhkan dengan tidak  menghilangkan bahasa Jawa, melatinkan teks Arabnya, kemudian mengindonesiakannya. Jadi komposisi bahasa Jawa sekitar 20 persen, dan bukti keaslian ajaran Kiai Dahlan yang bertutur bahasa Jawa dalam kesehariannya.

Yang jelas, buku ini tujuannya bukan untuk menyalahkan satu sama lain. Namun untuk memadamkan api yang selama ini membakar jarak antara Muhammadiyah dan NU. Harapannya masing-masing dapat memahami perbedaan untuk melahirkan persatuan yang lebih erat bagi Indonesia.Judul : Muhammadiyah Itu NU! Dokumen Fiqih yang Terlupakan

Penulis : Mochammad Ali Shodiqin

Penerbit : Noura Books (PT. Mizan Publika)

Cetakan : I, Februari 2014

Tebal : xxii + 310 halaman

ISBN : 978-602-1306-01-1

Peresensi : Muhammad Zidni Nafi’, alumni Ma’had Qudsiyyah Kudus, Ketua CSS MORA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN SGD Bandung 2013-2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Hadits Kawit An Nur Slawi