Selasa, 30 November 2004

Menyapa Warga NU di China dan Hongkong

Sejumlah nahdliyin atau warga NU tersebar di beberapa negara. Mereka ternyata sangat haus akan informasi dari para warga yang ada di tanah air. Kesempatan bertemu dimanfaatkan untuk saling berbagi informasi.

Selama seminggu, yakni dari tanggal 9 hingga 16 Mei lalu, Drs H Farmadi Hasyim, MAg mengunjungi Hongkong dan China. Kegiatan ini sebagai upaya menyapa komunitas muslim di sana yang kebanyakan adalah para buruh migran yang juga dikenal sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Menyapa Warga NU di China dan Hongkong (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyapa Warga NU di China dan Hongkong (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyapa Warga NU di China dan Hongkong

“Ini adalah kepercayaan sekaligus undangan dari sejumlah majlis taklim yang berada di Hongkong serta China,” kata Ustadz Farmadi, sapaan akrabnya. Sebelumnya, Ketua 1 Pengurus Wilayah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PW LDNU) Jawa Timur ini telah melangsungkan kegiatan serupa. “Ini kunjungan kesekian kalinya dan akan berlanjut pada periode berikutnya,” katanya (16/5).

Selama berada di China dan Hongkong, sejumlah kegiatan telah menanti kandidat doktor UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Di antaranya tabligh akbar bersama komunitas muslim yang merupakan perwakilan dari sejumlah halaqah. “Acara diawali dengan istighatsah, pembacaan tahlil serta surat Yasin berjamaah,” terang Kepala Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama Kota Surabaya ini.

Kawit An Nur Slawi

Demikian juga pertemuan sekaligus pendalaman materi keagamaan dilakukan di KJRI atau Konsulat Jenderal Republik Indonesia Hongkong. “Kami juga menyapa para pejabat KJRI dan sejumlah masyarakat muslim Hongkong,” tandas penceramah di sejumlah radio ini.

Kawit An Nur Slawi

Semangat Warga

Yang juga tidak kalah penting adalah silaturahim dengan para fungsionaris Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Hongkong. “Kita saling berbagi pengalaman dalam pengelolaan organisasi,” katanya. Demikian juga keluhan dari para pengurus dalam mengelola NU di sana menjadi hal menarik didiskusikan. “Prinsipnya kami sangat salut dengan dedikasi dan khidmat para pengurus NU yang dengan tanpa lelah melayani dan menfasilitasi sejumlah kebutuhan nahdliyin di sana,” terangnya.

“Kita mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana kesulitan yang dialami warga NU saat berada di luar negeri,” ungkapnya. Demikian juga bagaimana rasa bangga dan berterimakasih dari beberapa warga yang telah dibantu selama berada di luar negeri.

Dari diskusi keorganisasian yang juga dihadiri Ketua Tanfidziyah PCI NU Hongkong, Bapak Zal Abdi itu akhirnya diharapkan akan ada intensitas silaturahim antara pengurus NU di sejumlah kawasan, termasuk tentu saja yang dari Tanah Air. “Apapun tujuan para pengurus NU dari Indonesia saat ke Macau, hendaknya dapat dimanfaatkan untuk konsolidasi organisasi,” ungkap bapak satu anak ini. Karena banyak persoalan yang bisa diselesaikan baik yang menyangkut kemanusiaan maupun persoalan ibadah dan organisasi.

 

Saat di China, ustadz Farmadi juga menyempatkan ziarah ke makam sahabat Sa’ad bin Abi Waqash. Di sana disamping tabarrukan, juga ada kegiatan tabligh akbar yang diselenggarakan masyarakat muslim Tanah Air.

Kepada sejumlah jamaah yang hadir, alumnus Pondok Pesantren al-Khoziny Buduran Sidoarjo ini mengingatkan bahwa bekerja di luar negeri sebagai bagian dari ibadah. “Karena ibadah, maka sejak persiapan, keberangkatan, saat berada di sini hingga kepulangan nanti adalah ibadah yang tidak ternilai,” katanya.

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa selama berada di luar negeri diupayakan untuk hidup hemat. “Jangan boros, apalagi menggunakan uang yang telah diraih dari kerja keras untuk kegiatan dan kebutuhan tidak bermanfaat,” terangnya.

Lebih baik upah yang telah didapat untuk ditabung dan dikirim ke Indonesia. “Itu jauh lebih bermanfaat daripada untuk kegiatan konsumtif,” lanjutnya. Karena bagaimanapun juga keberadaan di negeri orang adalah sementara dan pada akhirnya akan kembali ke Tanah Air.

Suami dari Ana Mustafidah ini sangat salut kepada beberapa TKI yang memiliki lembaga binaan di kampung halaman. “Ada dari mereka yang memiliki Taman Pendidikan Al-Qur’an, lembaga penampung yatim piatu, mushalla, masjid dan semacamnya,” terangnya.

Dan ketika ada pertemuan atau halaqah majelis taklim antar anggota yang nota bene adalah para buruh migran, maka secara bergilir mereka mengumpulkan donasi untuk setiap lembaga sosial dan keagamaan yang ada. “Kala itu tinggal ditanyakan, lembaga miliki siapa yang mendapat giliran untuk dibantu?“ sergahnya. Dan dengan penuh semangat, masing-masing anggota menyisihkan gaji yang ada untuk disampaikan kepada yang bersangkutan. Dan dalam tempo yang sangat singkat, sejumlah dana terhimpun untuk disalurkan ke beberapa lembaga di tanah air.

“Kita sangat mendorong kesadaran sosial dan keagamaan bisa tumbuh dari para penyumbang devisa negara ini,” lanjutnya. Oleh karenanya, dalam setiap pertemuan dengan para buruh migran, tidak henti-hentinya diingatkan akan pentingnya komitmen sosial dan keagamaan tersebut.

Akan tetapi yang sangat mendesak adalah bagaimana pemerintah daerah tempat mereka berada hendaknya dapat memberikan peluang usaha yang lebih menjanjikan. Kemudahan ijin usaha dan pendampingan agar bisa lebih bisa bersaing. Juga menciptakan rasa aman dan nyaman dari sejumlah usaha yang dikelola masyarakat.

“Kalau ini bisa dilakukan pemerintah kabupaten dan kota di Tanah Air, maka keinginan masyarakat untuk ke luar negeri tentu dapat dicegah,” kata Ustadz Farmadi. Tingginya angka tenaga kerja yang mencoba keberuntungan ke luar negeri lantaran adanya iming-iming gaji tinggi dan permainan sejumlah pihak yang hanya ingin mendapat keuntungan materi. Padahal tidak jarang, para tenaga kerja yang berangkat ke sejumlah negara ternyata tidak dilengkapi surat resmi dan tanpa keterampilan.

Ya, satu minggu mungkin waktu yang terlampau singkat untuk menggambarkan kondisi masyarakat muslim dan bagaimana warga NU bisa bertahan dengan kegiatan keagamaan. Namun hal membanggakan adalah ternyata mereka memiliki kepedulian dan punya semangat tinggi dalam bekerja dan memanfaatkan hasil jerih payah untuk kegiatan positif. Sisa waktu berupa libur ternyata juga dimanfaatkan dengan kegiatan sosial maupun keagamaan. Ini tentu akan memberikan warna berbeda saat mereka pulang ke Indonesia. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Tegal, Warta, Pertandingan Kawit An Nur Slawi

Sabtu, 17 April 2004

KKN IPMAFA Pati Lakukan Pemberdayaan Berbasis Pesantren

Pati, Kawit An Nur Slawi. Peran mahasiswa semakin luas di tengah masyarakat. Selama melaksanakan tugas kuliah kerja nyata (KKN), hal terpenting adalah mahasiswa berkewajiban menjadi motor pemberdayaan dan terlibat penuh dalam membangun masyarakat di desa. Mahasiswa juga harus menjaga sikap dan prilaku yang sesuai dengan nilai-nilai pesantren. 

KKN IPMAFA Pati Lakukan Pemberdayaan Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
KKN IPMAFA Pati Lakukan Pemberdayaan Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

KKN IPMAFA Pati Lakukan Pemberdayaan Berbasis Pesantren

Demikian disampaikan KH Abdul Ghaffar Rozin, Rektor Institut Pesantren Mathaliul Falah Pati (IPMAFA) saat menerjunkan 198 mahasiswa KKN di Pendopo Kabupaten Pati, Jawa Tengah (1/7).

"KKN IPMAFA selama ini selalu meninggalkan prestasi yang baik dalam pemberdayaan masyarakat. Diharapkan mahasiswa ketika KKN tidak membawa cat atau papan nama tetapi membawa metodologi dan terobosan yang memajukan kondisi masyarakat sekitar," jelas Ketua RMI PBNU ini. 

Penerjunan diterima langsung oleh Bupati Pati Hariyanto yang sekaligus mendelegasikan kepada para Kepala Desa tempat berlangsungnya KKN untuk menfasilitasi dan mengarahkan mahasiswa dalam membantu program pemberdayaan desa. KKN yang berlokasi di dua Kecamatan Tlogowungu dan Gembong dan tersebar di 26 desa ini dihadiri Bapeda Pati, Camat dan para Kepala Desa.

Sementara Bupati Pati Haryanto menegaskan bahwa tugas mahasiswa KKN bukan pada pembangunan fisik, tapi hal-hal yang terkait dengan pemberdayaan. "Kalaupun ada program fisik, hanya bersifat menunjang. Yang terpenting dari KKN ini adalah memaksimalkan apa yang ada di desa, untuk desa dan dikembalikan lagi kepada desa," tuturnya.

Kawit An Nur Slawi

Program KKN mengangkat tema "Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Masyarakat Berbasis Potensi Lokal Melalui KKN yang Berkelanjutan" dan berlangsung selama sebulan lebih dari 1 Agustus 2016-17 September 2016 mendatang. Fokus KKN IPMAFA terdiri dari 4 pilar utama meliputi pendidikan, ekonomi, lingkungan dan kesehatan yang berbasis nilai-nilai pesantren.

Sebelum melaksanakan KKN, mahasiswa melakukan observasi selama sebulan untuk menggali data dan informasi terkait masalah dan potensi desa, kemudian mereka melakukan FGD dengan masyarakat. Dari FGD tersebut ditarik menjadi program kerja masing-masing kelompok sehingga program KKN yang dijalankan sesuai dengan masalah dan potensi yang ada di desa. KKN IPMAFA didesain cukup matang supaya proses KKN dapat berjalan lancar dan efektif sesuai misi utamanya yaitu pemberdayaan masyarakat. (Isyrokh Fuaidi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi

Kawit An Nur Slawi Sejarah, Pesantren Kawit An Nur Slawi

Kamis, 29 Januari 2004

Sembako Setengah Harga di Pasar Ramadhan Ludes Terjual

Brebes, Kawit An Nur Slawi. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti membuka pasar Ramadhan di halaman masjid Nurul Hidayah desa Karangsembung, Songgom, Brebes, Ahad (5/7) sore. Sementara sebanyak 175 paket sembako di mana setiap paketnya bernilai Rp.80.000 yang dijual panitia seharga Rp.40.000, habis terjual sesaat setelah pembukaan.

Pembukaan pasar Ramadhan ini bertepatan dengan kegiatan safari ‘Sajadah’ yang digelar Bupati Brebes bersama Wakil Bupati dan Forkompinda serta pejabat lainya untuk mengunjungi desa-desa hebat.

Sembako Setengah Harga di Pasar Ramadhan Ludes Terjual (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembako Setengah Harga di Pasar Ramadhan Ludes Terjual (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembako Setengah Harga di Pasar Ramadhan Ludes Terjual

Camat Songgom Gunarto menjelaskan, pasar Ramadhan diperuntukan bagi kaum dhu’afa di Karangsembung dan sekitarnya. Sebanyak 175 paket sembako yang dijajakan di pasar Ramadhan, ludes terjual.

Kawit An Nur Slawi

Paket sembako terdiri atas beras, gula, mie instans, minyak goreng, dan teh. “Walau sembako ini senilai Rp.80 ribu, tetapi kami jual Rp.40 ribu. Kekurangannya didanai dari pemerintah kabupaten,” terang Gunarto.

Kawit An Nur Slawi

Dalam kesempatan ini juga dibagikan zakat yang bersumber dari Bazda Brebes. Zakat dibagikan kepada 200 orang fakir miskin di kecamatan Songgom.

Sementara safari ‘Sajadah’ diisi dengan buka puasa bersama, shalat Maghrib, Isya dan Tarawih berjamaah. Dalam ceramah agama, ulama setempat Mujibul ghufron antara lain menjelaskan pentingnya menumbuhkan kasih sayang kepada sesama manusia dan seluruh makhluk di muka bumi.

Hidup saling mengasihi, menurut Mujibul Ghufron, bisa menjadi jalan ke surga. “Termasuk pemimpin yang menyayangi rakyatnya, orang kaya yang mengasihi orang miskin, juga guru ngaji yang membuktikan kasih sayangnya kepada generasi penerus.” (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nasional Kawit An Nur Slawi