"Mengingat penggunaan kekuatan yang tidak proporsional yang dilakukan oleh pasukan keamanan, Uni Eropa dan negara-negara anggotanya akan menunda undangan ke panglima tertinggi angkatan bersenjata Myanmar/Burma dan perwira militer senior, serta meninjau semua kerja sama pertahanan praktis," bunyi sebuah surat kesepakatan yang dilihat AFP seperti dilansir, Rabu (11/10).
| Krisis Rohingya, Uni Eropa Putus Hubungan Militer dengan Myanmar (Sumber Gambar : Nu Online) |
Krisis Rohingya, Uni Eropa Putus Hubungan Militer dengan Myanmar
Surat tersebut mendapat persetujuan dari Duta Besar Uni Eropa dan rencananya bakal ditandatangani pada pertemuan para menteri luar negeri, Senin. Surat ini juga menyebut tindak kekerasan pemerintah Myanmar sebagai sesuatu yang disengaja untuk mengusir minoritas.Uni Eropa saat ini melarang ekspor senjata dan peralatan yang dapat digunakan untuk "represi internal". Bahkan, ia membuka kemungkinan sanksi jika krisis kemanusiaan tersebut tidak kunjung membaik.
Sebuah laporan yang dikeluarkan kantor hak asasi manusia PBB menyatakan, serangan terhadap Rohingya di Myanmar menunjukkan adanya strategi untuk menanamkan ketakutan dan trauma yang meluas dan mencegah mereka untuk kembali ke rumah mereka.
Kawit An Nur Slawi
Laporan yang dirilis pada Rabu ini didasarkan pada 65 wawancara dengan orang Rohingya, baik secara individu maupu kelompok, pada pertengahan September dengan Rohingya.Kawit An Nur Slawi
Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa serangan terhadap Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar utara, oleh pasukan keamanan dan massa Buddhis terkoordinasi dan sistematis. Tujuannya pun jelas, tidak hanya mengusir penduduk Myanmar tapi juga mencegah mereka untuk kembali. (Red: Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id
Kawit An Nur Slawi Berita Kawit An Nur Slawi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar