Rabu, 02 Agustus 2017

NU-Muhammadiyah Bertemu, Bahas Upaya Penyatuan Lebaran

Jakarta, Kawit An Nur Slawi. Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, Selasa (2/10), bertemu di kantor pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, untuk membahas upaya-upaya penyatuan pandangan mengenai penentuan awal bulan pada penanggalan Hijriyah, terutama dalam penentuan hari raya Idul Fithri (lebaran).

Pertemuan antara Lajnah Fakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) dan Majelis Tarjih Muhammadiyah itu dihadiri oleh Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Menteri Agama RI Maftuh Basyuni, dan dipandu oleh KH Nazaruddin Umar, Dirjen Bimas Islam Departemen Agama yang juga Katib ‘Am PBNU.

NU-Muhammadiyah Bertemu, Bahas Upaya Penyatuan Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-Muhammadiyah Bertemu, Bahas Upaya Penyatuan Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-Muhammadiyah Bertemu, Bahas Upaya Penyatuan Lebaran

Dalam sambutannya sebagai shahibul bait (tuan rumah) KH Hasyim Muzadi mengatakan, pertemuan antara para ahli falakiyah NU dan Muhammadiyah bermaksud untuk salimg memperoleh kejelasan informasi metode penentuan awal bulan yang ada di organisasi masing-masing. “Kita ini agree in disagreement,” kata Kiai Hasyim.

Dirinya berharap perbedaan? tidak meluas menjadi pertentangan. “Ini persoalan khilafiyah atau alternatif-alternatif dari syariah, bukan persoalan ta’arudiyah,” katanya.

Dalam pertemuan tertutup yang berlangsung hingga dua setengah jam, NU dan Muhammadiyah sepakat untuk mengadakan pelatihan hisab dan rukyat bersama-sama yang tidak hanya melibatkan para ahli falakiyah tetapi juga para pengambil kebijakan pada kedua organisasi. Menteri Agama Maftuh Basyuni pada kesempatan itu menyatakan, Departemen Agama siap memfasilitasi pelatihan bersama itu.

Kawit An Nur Slawi

Pertemuan itu merekomendasikan agar sistem penanggalan hijriyah diajarkan di sekolah-sekolah umum sebagai bagian dari pengetahuan ilmiah, bukan sekedar persoalan ubudiyah. Pertemuan juga mengusulkan adanya kelender Hijriyah yang terpisah dari kalender Masehi seperti yang ada saat ini.

Ditambahkan, pertemuan dua organisasi itu tidak dalam kapasitas untuk mengambil keputusan final mengenai sikap NU dan Muhammadiyah. Sementara ini NU dan Muhammadiyah masih berbeda pandangan dalam penentuan awal bulan Hijriyah, bukan pada persoalan hisab dan rukyat, tapi pada soal definisi "hilal" sebagai penentu awal bulan sebagaimana dalam teks hadits Nabi Muhammad SAW.

Dalam waktu dekat akan diadakan pertemuan lanjutan di Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta untuk membincang lebih lanjut mengenai kemungkinan-kemungkinan penyatuan pandangan itu.

Kawit An Nur Slawi

?

Pertemuan dua organisasi besar itu juga tidak dalam kapasitas untuk memberikan keputusan final tentang penentuan hari lebaran. “Soal kepastian lebaran baru akan kita putuskan dalam sidah itsbat nanti yang dihadiri oleh seluruh ormas Islam,” kata KH Nazaruddin Umar.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Humor Islam, Nusantara, AlaNu Kawit An Nur Slawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar