Senin, 04 April 2016

Dari Petani, Jadi Pedagang Peci

Tegal, Kawit An Nur Slawi 

Ramadhan 1433 H berjalan beberapa hari. Seperti biasa, kawasan Ruko Slawi yang merupakan pusat perbelanjaan masyarakat Tegal dipadati para pedagang tiban. Salah satu favorit para pedagang adalah peci atau kopiah yang menjadi sarana ibadah umat Islam di bulan Ramadhan.

Dari Petani, Jadi Pedagang Peci (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Petani, Jadi Pedagang Peci (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Petani, Jadi Pedagang Peci

Pantauan Kawit An Nur Slawi dari H-1 Ramadhan, pedagang peci tiban itu sudah memenuhi kawasan Ruko Slawi, dan biasanya pedagang-pedagang itu akan berakhir hingga H+ 3 hari raya Idul Fitri. Mereka hanya menggelar dagangannya diatas tanah dengan alas seadanya.

“Saya sudah biasa dagang di sini tiap datangnya bulan Ramadhan,” kata salah satu pedagang Mughni (41) warga Adiwerna  saat di temui Kawit An Nur Slawi sambil menunggu pembeli, Rabu (25/7) .

Kawit An Nur Slawi

Mughni yang setiap hari beraktifitas sebagai petani itu merubah profesinya secara musiman. “Kalau musim puasa saya jualan mas, pekerjaan di rumah saya tinggal dulu. Kalau saya tetap bertani kan terlalu berat  karena sedang puasa. Lagipula hasilnya juga lumayan bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup walaupun tidak terlalu banyak," jelasnya.

Kawit An Nur Slawi

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal, Ustadz Sono Sugiarto, membenarkan, banyak warga beralih profesi di bulan Ramadhan.

“Tidak masalah. Yang penting masih halal dan bisa bermanfaat. Apalagi yang dijualnya merupakan sarana ibadah, seperti peci tadi, ini juga mulia. Jadi tidak salah apa yang lakukan mereka,” tuturnya 

“Ini kan juga merupakan berkah Ramadhan,” lanjut Ustadz Sono. Namun, ia mengingatkan, para pedagang juga harus senantiasa menjaga puasa mereka agar tetap bersih dan terpelihara secara baik. 

“Jangan sampai membohongi para pembeli. Ada pedagang mengatakan ‘Ini dari sananya juga tidak boleh segitu,’ padahal itu bohong. Hal-hal yang demikian harus dihindari,” pintanya 

Redaktur   : A. Khoirul Anam

Kontibutor: Abdul Muiz        

Dari Nu Online: nu.or.id

Kawit An Nur Slawi Nusantara, Anti Hoax Kawit An Nur Slawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar