Menurut KH Abdurrahman Wahid dalam salah satu tulisannya menjelaskan; ludruk digunakan sebagai sarana dakwah sekaligus komunikasi para kiai dan masyarakat. Hal ini terlihat pada penampilan lakon yang tidak menghadirkan sosok perempuan. Sosok perempuan digantikan oleh sosok lelaki yang bermacak perempuan.
| Tukang Ludruk, Pendiri NU, dan Gambus Al-Misri (Sumber Gambar : Nu Online) |
Tukang Ludruk, Pendiri NU, dan Gambus Al-Misri
Tersebut Asmuri, tokoh ludruk di masa lalu. Ia santri Hadratussyekh KH Hasyim Asyari. Karena terlalu sering meludruk, Asmuri pun ditegur oleh kiai pendiri NU tersebut agar membuat seni variasi yang lain.Kawit An Nur Slawi
Asmuri, santri yang cerdas dan memiliki rasa estetika tinggi tersebut, lalu meracik seni gambus Al-Misri.Kawit An Nur Slawi
Pada penyambutan Ekspedisi Islam Nusantara Senin, (19/4/2016) di Pendopo Bupati Kabupaten Jombang, seni gambus Al-Misri tersebut ditampilkan.Menurut KH Agus Sunyoto, gambus Al-Musti itu asli kreasi santri pesantren Tebuireng. Saat itu, Asmuri yang ayah Asmuni, pelawak Srimulat yang terkenal itu, ditegur Hadratussyekh, "Ri, awakmu akui dojo melirik ae."
Dan, konon sejak kecil, Gus Dur gemar dengan gambus Al-Misri itu. (Syakdillah/Abdullah Alawi)
Dari Nu Online: nu.or.id
Kawit An Nur Slawi Nahdlatul Ulama, Bahtsul Masail Kawit An Nur Slawi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar